[WFT B] Butterfly – Part 3

Title                 : Butterfly (3 of 5)

Author             : Bella Jo

Main Cast        : Lee Taemin (SHINee) | Kuroi Ageha (OC)

Support Cast   : Other SHINee members

Length             : Sequel

Genre              : Romance, Fantasy, Tragedy, Action, Supernatural

Rating                         : PG 15

Summary         :

“Kurang tepat juga jika dikatakan satu bulan lebih. Waktunya akan terhenti pada tanggal 18 Juli, terhitung dari tanggal 25 Mei itu hampir dua bulan,” tanggap Jonghyun, “Asalkan kita melaksanakan tugas tepat waktu dan segera membawa jiwa gadis itu pergi sebelum diganggu iblis, tidak akan jadi masalah.”

A.N                 :  the third part is out! Need your comment, please~

BUTTERFLY

BY BELLA JO

Ruangan gelap, hanya disinari beberapa batang lilin. Suasana kamar yang pengap membuat penghuninya butuh usaha lebih untuk dapat bernafas lega. Kepulan asap yang membumbung tinggi dari wadah berupa kuali besar dengan cairan menggelegak di dalamnya membuat udara semakin sesak. Kayu bakar berbara merah meradiasikan panasnya, membuat udara musim panas semakin panas. Kayu pengaduk besar diayunkan mengitari isi wadah, menebar aroma ramuan yang tak diketahui jelas isinya oleh manusia biasa.

Di samping wadah itu berdiri seorang penyihir muda yang sibuk mengayun pengaduk sambil membaca mantra. Bibirnya sibuk komat-kamit, matanya terpejam-pejam sesuai bacaan. Ia melakukannya dengan amat serius tanpa tau betapa lucu wajahnya saat itu.

“Ramuanmu bau~~!”

Lee Taemin, si penyihir muda itu langsung membuka mata. Di dekatnya muncul sosok iblis berkulit pucat dengan raut jahil. Lelaki muda itu mendecak keras, “Pergilah, hyung! Jangan ganggu aku!”

Keyx membaui aroma ramuan itu dan mencicip sedikit rasanya. Ia terkikik geli, “Ini ramuan penambah kuat daya sihir. Untuk apa kau membuatnya?”

“Bukan urusanmu! Pergilah!”

“Waaah… galaknya~~ Bukankah beberapa hari lalu kau sempat bersenang-senang dengan gadis Jepang itu? Seharusnya kau dalam keadaan baik sekarang ini,” rutuk si iblis dengan gaya mengejek. Taemin mendengus kesal, “Apa maksudmu dengan bersenang-senang? Biasa saja.”

Tiba-tiba Keyx sudah berada di samping Taemin, membisiki telinganya dengan suara rendah, “Aku tau kau senang, Taeminie. Kulihat bunga di antara kalian mulai mekar perlahan. Apa yang kau lakukan padanya? Merayunya? Cih, kau anak nakal.”

Taemin menghentak keras tangannya, mengusir Keyx dari sampingnya. Keyx tertawa-tawa keras sambil berguling-guling di udara, tentu ia berhasil meloloskan diri dari sabetan tangan Taemin. “Tidak ada bunga di antara kami, hyung! Aku tidak percaya pada cinta dan semacamnya!” bentak Taemin keras. Keyx melempar tatapan mengejeknya, “Kau munafik, Lee Taemin. Penyihir muda yang sok dan munafik!”

“Pergi! Tinggalkan aku sendiri!!”

“Kau mau menggugurkan bunga itu? Seharusnya lelaki yang hampir tak mengenal cinta sepertimu bersyukur dengan keberadaan bunga itu. Setidaknya kau harus sedikit senang sebelum melihat aku menggugurkan bunga itu di hadapanmu…”

Taemin terdiam, rencana licik Keyx mulai tercium olehnya. Iblis busuk itu, ternyata ia punya keinginan menghancurkan hubungan keduanya. Namun Taemin teringat kejadian di mana Ageha membalas dingin pesan yang dikirimkannya beberapa hari terakhir, padahal gadis itu selalu membalas tiap pesannya dengan hangat bahkan diselipi guyonan humor. Sejak kejadian siang itu Ageha berubah dingin padanya, bahkan terkesan melarikan diri darinya. Ageha juga jarang mengikuti kegiatan yang berkaitan dengan grup SHINee lagi, membuat intensitas pertemuan keduanya semakin jarang. Entah apa yang terjadi pada gadis itu.

Jujur, Taemin sendiri masih tidak ingin mengakui bahwa dirinya memang sudah menaruh perhatian pada gadis itu. Ia diikat gengsi dan masa lalu. Lelaki berjubah hitam itu kembali mendengus kesal, alisnya berkerut dalam. Ia mengaduk lagi ramuannya yang hampir jadi.

“Tidak ada bunga di antara kami. Kalaupun ada, serangga pengganggu sudah merusaknya dengan sempurna,” Taemin mendelik ke arah Keyx, “atau sedang merencanakannya.”

“Kau kira aku serangganya? Ckckck… kau salah. Yang menghalangi mekarnya bunga kalian bukan serangga, tapi bunga lain yang telah gugur. Kau tau maksudku, kan?”

Taemin tercenung. Tentu ia paham maksud Keyx. Ya, iblis bayangan itu membicarakan tentang kakak sepupunya yang hanya tinggal nama, si bunga yang layu sebelum mekar indah. Lee Gaehwa.

“Sebelum kau mengusir para serangga, pangkas dulu perasaanmu pada bunga layu itu. Bunga kalian akan mekar indah setelahnya,” tutur Keyx bijak. Entah apa yang mengubah kelicikan iblis itu menjadi kata-kata mutiara yang bermanfaat. “Kau akan jadi sangat menyesal jika terlambat menyadarinya, saat kau tau tidak mungkin lagi memilikinya.”

“Apa maksudmu, hyung?”

“Ini tentang waktu yang selalu kau permainkan. Kau akan belajar sesuatu tentangnya.”

Taemin terdiam memikirkan ucapan Keyx, tangannya tetap sibuk dengan ramuannya. Perlahan ia menuang ramuan tersebut ke dalam beberapa wadah dan menutup serta menyegelnya sempurnya. Keyx menatap ramuan itu penasaran.

“Aku tidak yakin kau bisa meminumnya,” ujar Keyx, tangannya menunjuk ramuan tersebut, “It’s suck.”

Taemin kembali mendelik ke arahnya dengan tatap tajam. Enak saja iblis itu menghina ramuan buatannya. Keyx tertawa melihat ekspresi Taemin dan hilang dalam gulungan asap hitam.

“Iblis sialan.”

Taemin merebahkan tubuhnya ke atas kasur. Kamarnya tak diterangi cahaya lampu, hanya cahaya bula yang mengintip dari balik jendela. Selesai meracik ramuan hari ini, ia ingin bermain-main untuk melepas rasa bosan. Namun ia tidak tau apa yang dapat diperbuatnya. Lelaki itu menjatuhkan pandangan pada sapu terbang miliknya yang ada di sudut ruangan. Jika ia memakai mantra penghilang wujud, ia bisa mengitari kota Seoul dengan leluasa malam itu. Atau mungkin ia bisa mengintip Kuroi Ageha, mencari tau apa yang sedang dilakukan gadis itu malam ini. Ah, tidak, tidak! Kenapa dia malah memikirkan hal memalukan seperti itu?

Tapi Taemin tak bisa memikirkan hal lain lagi. Tiap kali memejamkan mata yang terbayang olehnya adalah senyum Ageha dan perasaannya entah kenapa nyaman dengan hal itu. Yang ingin dilihatnya sekarang adalah senyuman Ageha, yang dimimpikannya adalah senyuman Ageha, dan yang membayangi pikirannya adalah senyum Ageha. Sungguh, Taemin juga tidak tahu kenapa ia seolah-olah ketagihan akan senyum gadis itu.

Taemin menghela nafas panjang. Ia tak bisa terus begini. Ia meraih sapunya lalu bergerak ke dekat jendela. Tanpa sengaja matanya menangkap sosok Jonghyun dan Minho tengah berjalan dari arah apartemen mereka. Rasa penasaran Taemin mencuat. Ingin sekali dia mencari tahu apa yang akan dikerjakan kedua hyung-nya itu. Akhirnya Taemin membisikkan mantra penghilang wujud dan terbang keluar mendekati keduanya.

“Kibum sempat meminta catatan tentang dia dariku…,” suara Minho terdengar berat dan rendah. Bisa dipastikan hanya Jonghyun yang dapat mendengarnya, namun ternyata Taemin juga dapat mendengarnya. Jonghyun menatap lurus jalanan di depannya, kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku jaket, “Lalu, kau memberikan catatan itu?”

“Tidak, aku hanya memberi tahu tanggal dan waktunya…,” jawab Minho lagi. Jonghyun sempat melirik lelaki bertubuh tinggi itu sekilas lalu menggumam pelan, “Aku paham. Tidak ada yang bisa melawan bocah satu itu. Lalu, di mana catatanmu sekarang?”

“Ini,” jawab Minho sambil memnunjukkan sebuah buku catatan hitam berukuran sedang yang tadinya ia masukkan ke saku dalam jaketnya, “Aku tetap membawanya. Bisa saja dia nekat mengambilnya jika benda ini kutinggalkan di rumah.”

“Entah apa yang ada dalam pikiran rubah satu itu.”

Taemin sama sekali tidak paham isi pembicaraan keduanya. Jarang sekali kedua hyung-nya tampak bercengkrama membicarakan hal serius selain pekerjaan. Ia terus mengikuti keduanya dengan penuh tanda tanya, terutama mengenai buku catatan Minho. Buku itu berukuran sedang dengan cover hitam, ada tulisan asing di bagian depannya –tulisan yang membuat oang merinding hanya dengan melihatnya. Minho kembali meletakkan buku itu dalam jaketnya, membiarkan benda itu tergantung pada pakaian yang dikancing longgar itu.

“Kalau tidak salah, sudah satu bulan lebih kejadian itu berlalu,” ucap Minho, “Kalau saja Lee Taemin tidak memutar waktu setelah kecelakaan itu, gadis itu akan terbaring koma selama satu bulan lebih, sampai akhirnya dia meninggal di rumah sakit.”

Eh?

Taemin membelalakkan matanya, ia mulai mengerti apa yang tengah dibicarakan keduanya. Tubuhnya seakan membeku saat bayangan seseorang muncul dalam benaknya. Kuroi Ageha.

“Kurang tepat juga jika dikatakan satu bulan lebih. Waktunya akan terhenti pada tanggal 18 Juli, terhitung dari tanggal 25 Mei itu hampir dua bulan,” tanggap Jonghyun, “Asalkan kita melaksanakan tugas tepat waktu dan segera membawa jiwa gadis itu pergi sebelum diganggu iblis, tidak akan jadi masalah.”

“Ah, tentu. Lucifer saja ada di pihak kita, tidak akan ada iblis lain yang berani mengganggu…”

Mata Taemin semakin membulat mendengar isi pembicaraan itu. Ia tak lagi menatap jalan yang ia lalui, ia hanya menatap kedua hyungnya -yang malam ini memakai pakaian serba hitam itu- bergantian. Mulutnya terbuka tak percaya. Secepat itukah Kuroi Ageha akan meninggal? Padahal ia baru saja dekat dengan gadis Jepang itu dan mereka harus dipisahkan takdir secepat itu? Dan yang paling ironis, pada hari ulang tahun Taemin yang hanya tinggal seminggu lagi? Selama ini Taemin selalu menantikan hari ulang tahunnya, menantikan segudang ucapan selamat dan hadiah mahal dari para fansnya. Namun kali ini ia mengutuk hari itu, rasa benci mulai menjalar di hatinya. Ada rasa yang menusuk-nusuk hatinya, rasa yang masih ia belum tau penjelasannya.

Tidak, tidak, tidak

Ia tidak dapat percaya begitu saja. Lee Taemin baru akan percaya saat ia melihat bukti di depan mata. Ia tidak bisa percaya begitu saja manusia bisa mengetahui jadwal kematian seseorang, walau di sudut hatinya ia memang menyadari ada berbagai keganjilan dari pembicaraan Jonghyun dan Minho. Pertama, mereka tahu bahwa Taemin memutar waktu saat itu. Kedua, sepertinya mereka berdua juga tau kalau Key adalah iblis. Dan yang ketiga, mereka menyebut lucifer, pemimpin kaum iblis yang dipercaya dapat menghancurkan semua iblis jika ia dihancurkan. Tidak mungkin Jonghyun dan Minho adalah manusia biasa.

“Kupikir sudah saatnya,” ujar Jonghyun tak berapa lama.

“Ya.”

Taemin tak perlu menuntut penjelasan lebih jauh. Bersamaan dengan cahaya terang dari keduanya, muncul sepasang sayap di punggung masing-masing dari mereka. Taemin terperangah tidak percaya. Pakaian mereka memang tidak banyak berubah, namun aura mereka jelas menunjukkan perbedaan yang amat besar. Taemin menggeleng tidak percaya, tetap tidak mau menelan seluruh kenyataan yang ia dapatkan dengan begitu mengejutkan malam itu. Dengan laju penuh penyihir muda itu melesat menembus dinginnya udara malam kota Seoul.

“Kau juga tau dia ada di sana?”

Minho mempertanyakan hal yang mengganggu pikirannya sejak tadi. Kedua mata bulatnya menatap Jonghyun yang memperlihatkan raut sedih. Malaikat berwajah keras itu mengangguk pelan seraya berkata, “Apa kita terlalu kejam memberitahunya dengan cara seperti ini?”

“Tidak, tidak juga. Semakin cepat akan semakin bagus. Taemin tidak perlu jatuh cinta lebih jauh pada gadis itu. Jika itu terjadi, maka kemungkinan terburuk dia akan….,” Minho menerawang, membayangkan berbagai hal buruk yang dapat menimpa kehidupannya sebagai manusia selama menumpang tinggal di dunia.jonghyun menggleng pelan, “Itu tidak boleh sampai terjadi. Keyx sudah cukup memberi pelajaran padanya, dan pelajaran itu akan segera berakhir saat gadis itu meninggal.”

“Lagipula gadis itu tidak pantas untuk Taemin. Dia…”

Minho terpaksa menghentikan kalimatnya saat Jonghyun sudah terbang mendahuluinya. Ya, saat ini Taemin tidak perlu mengetahui segalanya. Cukup anggota lain saja yang mengetahui kenyataan di balik bunga Taemin-Ageha.

Taemin menghentikan laju sapunya di atas Namsan Tower. Tempat itu sudah tutup dan tidak ada lagi orang yang berkeliaran di sana. Dari atas menara yang dipenuhi gembok tersebut Taemin dapat melihat pemandangan malam Kota Seoul yang tak pernah mati. Ia melafalkan mantra pengembali wujud dan ia kembali mampu dilihat kasat mata. Lelaki muda itu menatap kosong berbagai gembok warna-warni aneka bentuk yang terpasang di pagar pembatas menara tersebut. Ia meraih salah satunya, membaca kata cinta yang terukir di sana tak peduli kalimat tersebut masih terwujud sampai sekarang atau tidak.

Ia teringat datang kemari bersama anggota grupnya di awal debut mereka. Saat itu Lee Taemin masih remaja yang begitu polos, yang masih belum mengenal benar dunia yang ia tinggali. Ingatannya beralih pada memori setahun setelahnya, saat dia menyadari pahitnya hidup, pahitnya cinta.

Taemin membiarkan kening dan tubuhnya tersandar pada kumpulan gembok tersebut. Sebuah rasa yang menyesakkan dada kembali datang. Ia menggenggam gembok-gembok tersebut, mengutuk semua kata cinta yang tertulis di sana. Ingin sekali ia menangis saat ini, tapi ia masih belum paham alasannya. Satu-satunya hal yang mampu mengalihkan pikirannya dari sosok Kuroi Ageha hanyalah memorinya tentang Lee Gaehwa.

Noona… Mianhae…,” bisiknya pelan, “Aku selalu berusaha mengubah kenyataan agar aku tetap bisa melihat senyummu… Mianhae, aku tidak berhasil. Takdir tetap tak bisa dilawan walau aku mencoba sekuat tenaga sekalipun…”

Taemin mulai terisak pelan, genggamannya pada gembok-gembok tersebut semakin erat. Semua emosinya tumpah ruah begitu saja tanpa bisa ia tahankan. Nafasnya semakin sesak saat ia ingin mengendalikan suaranya. Ia tidak tahu kenapa ia begitu sedih. Ia juga tidak tahu harus mengungkapkan kesedihannya ini pada siapa. Ia hanya ingin melepaskan semua rasa yang menekan jantungnya itu. Beban perasaan yang ia tanggung selama empat tahun itu pecah begitu saja. Tubuhnya merosot begitu saja ke atas lantai, air mata mengalir di kedua belah pipinya.

Noona, jika dirimu yang sempat mengagung-agungkan cinta saja harus mengakhiri hidupmu karena penderitaan yang disebabkan olehnya, bagaimana denganku? Aku masih belum bisa melepaskan kepergianmmu hingga detik ini. Bagaimana bisa aku melepaskan Ageha padahal aku belum menghabiskan waktu terbaikku bersamanya? Aku masih begitu ingin melihat senyumnya…aku masih ingin merasakan kehangatan yang ia pancarkan, kebahagiaan yang ia berikan lewat hangat senyumnya.”

Malam menjadi saksi bisu derita batin yang tumpah di tempat itu. Semilir angin yang mengalir dingin seakan memeluk si empunya tubuh, hendak menghiburnya. Namun lelaki itu tak lagi mampu merasakan apapun. Ia harap hatinya sebeku tubuhnya saat ini.

Dari kejauhan di atas langit dua makhluk serba hitam tengah memperhatikannya. Salah seorangnya menghela nafas sementara seorang lagi hanya menatap datar. Salah satunya berkata, “Sepertinya pelajaran yang aku berikan padanya akan segera berakhir. Sayang sekali, aku baru bermain-main sedikit dengan gadis itu…”

“Tidak, pelajarannya masih cukup panjang. Kita harus memberikan pelajaran penuh agar ia benar-benar paham. Sama seperti yang kuberikan pada kakak sepupunya.”

Lawan bicaranya tertawa geli, “Tuanku, aku mencium rencana lain darimu. Aku tau energi negatif yang dihasilkannya amat lezat. Apa kau masih merasa kurang?”

Ucapan itu tak berbalas, matanya tertuju pada sesosok manusia yang tampak mencurigakan, manusia yang memandang Taemin dari kejauhan. Dapat dipastikan manusia itu laki-laki, tapi ia terlihat berwajah asing. Laki-laki itu mengeluarkan benda panjang dari balik mantelnya, benda yang bersinar di bawah terang bulan. Kelihatannya ia hendak mencabut benda itu dari sarungnya namun niatnya urung ia lakukan setelah matanya menangkap sosok yang memperhatikannya sedari tadi. Dengan gerak cepat laki-laki itu melompati pagar Namsan Tower dan ia pun menghilang tanpa jejak.

“Ah, para anjing sudah mengikuti ekornya ke mari…”

“Aku pikir ini karena kau terlalu asyik menggoda ekornya.”

“Sebelum kugoda juga ia sudah bertahan. Entah apa yang membuatnya melunak. Tuanku, apa menurutmu kita saja yang langsung bertindak?”

Hanya segaris senyum yang mewakili jawabannya. Dalam sekejap kedua makhluk itu menghilang ditelan gelap malam.

Tangis Taemin terhenti saat ponselnya berdering. Ia menghapus air mata yang membasahi pipinya dan berusaha untuk terdengar normal. Tanpa melihat siapa yang menelpon, ia langsung menekan tombol hijau dan menjawab, “Yeobseo?”

O..omo… Yeobseo, Taemin?”

Ne, ini Taemin.” Taemin masih belum mampu mengembalikan pikiran jernihnya. Ia hanya merasa seperti mengenal suara itu. Lama tak terdengar sahutan balik dari seberang sana. Taemin mengerutkan alis dan berkata, “Yeobseo?”

“Ini…aku.”

Barulah Taemin mengingat siapa pemilik suara jernih itu. Namun ini bukan saat yang tepat untuk menerima telpon darinya. Mata Taemin membulat kaget tanpa tau harus berkata apa. Sebuah dehaman pelan terdengar dari sana bersamaan dengan lonceng yang familiar di telinga Taemin. Nafas lelaki itu kian sesak.

“Apa aku mengganggumu? Maaf karena menelpon selarut ini…”

Tiba-tiba saja Taemin begitu merindukan suara itu, ia ingin terus mendengarnya tanpa tahu kapan ia akan merasa bosan, sebuah desakan untuk segera terbang menuju tempat di mana gadis itu berada begitu memenuhi perasaan dan pikirannya. Bibirnya hanya mampu menggumamkan pelan kalimat, “Tidak masalah. Aku juga belum tidur…” pikiran kacaunya mulai menyusun cara untuk segera menemui gadis itu secepatnya.

“Syukurlah kalau begitu. Ada hal yang ingin kusampaikan padamu…”

Ne?”

“Aku…minta maaf atas perilaku beberapa ini. Aku sadar telah bertingkah buruk padamu. Aku benar-benar mohon maaf….”

“Kenapa?” sahut Taemin, “Apa aku juga berbuat kesalahan hingga kau memperlakukanku seperti itu?” tanyanya. Suaranya terdengar lirih dan pedih. Di seberang sana si gadis terdengar gelagapan. Suaranya terdengar sangat bersalah saat menjawab, “Bukan, kau sama sekali tidak salah. Hanya saja, aku sedang labil. Kau tau, setiap gadis memiliki masa labilnya tersendiri di tiap bulannya. Itu bukan salahmu. Aku minta maaf….”

Taemin bosan mendengar kata maaf dari gadis itu. Ia menghela nafas panjang, terdengar frustasi. Dengan tubuh bersender sempurna pada pagar pembatas yang berhiaskan gembok-gembok kenangan itu, ia berkata dengan suara rendahnya, “Apa sekarang kau mau mendengarkanku?”

N..ne…,” jawab si gadis takut-takut. Entah apa hal yang akan diucapkan Taemin. Bisa saja laki-laki itu marah padanya, melebihi kelabilannya beberapa hari ini. Ada satu lagi tarikan nafas panjang yang terdengar. Si gadis semakin penasaran.

“Aku merindukanmu.”

Hanya satu kalimat sederhana yang mampu mengutarakan berbagai perasaan kalutnya saat itu. Setetes cairan bening muncul dari pelupuk matanya, jatuh bersamaan dengan suara paraunya tadi. Kepalanya mendongak menghadap langit sementara matanya memandang jauh entah ke mana. Ia menantikan jawaban dari seberang, namun tak kunjung terdengar suara.

“Ageha?”

“Aku…juga merindukanmu, Taemin…”

Dada Taemin semakin sesak mendengar penuturan suara lembut itu. Isakannya kembali terdengar, air matanya semakin deras. Ia tidak mengerti perasaannya yang berkecamuk di dalam dada. Ia ingin melindungi gadis itu, ingin menghindarkannya dari kematian yang sebentar lagi akan menjemput. Ia ingin melindunginya. Ia INGIN BERSAMANYA.

“Taemin, ada apa denganmu?” tanya Ageha panik dari seberang sana. Isak Taemin masih belum berhenti. Gadis itu menyuarakan kata-kata lembut yang menenangkan, justru membuat Taemin semakin tidak rela kehilangannya. Lelaki itu seperti anak kecil yang takut ditinggal orang tuanya, walau ia mengaku bahwa ia sudah dewasa sekalipun. Sebuah pertanyaan muncul dalam pikirnya. Ia berusaha meredakan isakannya, memperdengarkan suara rendahnya yang parau.

“Katakan padaku, Ageha, apa yang akan kau lakukan jika kau tau orang yang kau cintai tidak akan pernah bisa kau miliki untuk selamanya?

***

“Kenapa noona begitu mencintainya?”

Gadis itu tersenyum manis. Ia menghentikan kegiatannya merias diri dan beralih menatap remaja yang berdiri di belakangnya. Ia mengacak rambut remaja itu penuh sayang dan mencium pipinya sekilas. “Kau tau, Taeminie, kau tidak perlu alasan yang logis saat kau mencintai seseorang. Kau hanya butuh perasaanmu dan membiarkannya membimbingmu, sederhana, bukan?”

Gadis itu kembali berbalik dan meraih pelembab bibirnya. Hanya sedikit waktu yang ia miliki, ia harus bergegas. Namun pelukan remaja itu lagi-lagi menghentikan gerakannya. Remaja itu bertanya dengan suara kecil yang kekanakan, “Tapi aku masih belum bisa melepaskan noona begitu saja. Noona milikku~~”

“Itukan cuma janji masa kecil, Taeminie,” gadis itu kembali tertawa, “Percayalah, aku akan bahagia bersamanya. Alasannya sudah jelas, karena aku mencintainya…”

Gadis itu membalas rangkulan Taemin dengan hangat, dua pasang telapak tangan itu saling bertautan penuh kasih. Remaja itu memiliki tubuh yang lebih tinggi darinya membuat ia bersandar diri pada tubuh di belakangnya. Keduanya menatap bayangan mereka yang terpantul di atas cermin.

“Saat kau menemukan gadis yang menarik hatimu, yang membuatmu merasa ingin melindunginya, membuatmu nyaman saat bersamanya, yakinlah bahwa kau sudah memiliki salah satu alasan untuk bahagia bersamanya. Kau harus mengingat hal itu, Taeminie….”

Taemin tersentak dari lamunan yang bagaikan mimpi baginya. Setitik air mata mengalir dari pelupuk matanya. Kenapa ia bisa melupakan kenangan indah bersama Gaehwa yang satu itu? Bagaimana bisa ia melupakan senyum indah kakak sepupunya itu? Ia bahkan masih bisa merasakan kehangatan yang dialirkan gadis berambut panjang itu saat mereka saling berpelukan, saat mereka saling tersenyum bersama. Namun kemudian ia kembali muram saat ia ingat alasan dari semua pertanyaannya. Kenangannya tadi merupakan saat terakhir bagi Taemin melihat senyum bahagia itu.

Ia menatap Kuroi Ageha yang tengah membeli es krim dari kejauhan. Gadis itu tetap menebar keceriaannya pada tiap orang yang ia temui. Bahkan Taemin melihat ekspresi bahagia dari si penjual es krim saat gadis itu mengucapkan terimakasih. Segaris senyum terbentuk di bibir Taemin, senyum bahagianya. Namun matanya tetap menunjukkan kesedihan. Pikirannya berkutat pada satu hal, Bagaimanapun aku harus melepaskannya

Menghabiskan waktu sepuluh sepuluh hari bersama gadis itu di sela kesibukannya yang padat bahkan bolak-balik ke luar negri bukanlah hal yang mudah bagi Taemin. Terlebih lagi untuk merahasiakannya dari para fans. Tetapi Taemin sudah berjanji dalam hatinya, ia akan memberikan saat-saat terbaik bagi gadis itu bahkan jika harus membuat gadis itu amat sedih saat harus meninggalkannya. Ia tidak mengatakan cinta sekalipun, hatinya pun masih meragukan rasa sakral itulah yang ia rasakan. Yang ia tahu hanyalah ia ingin membahagiakan gadis itu.

TING

Taemin otomatis memasang senyum, mengira gadis itu telah berada dekat. Ia menggeser maskernya sedikit, ingin menunjukkan senyum indah yang telah terpatri di bibirnya. Namun yang ia dapati bukan gadis itu, melainkan seorang pria berbusana kasual yang menggenggam benda aneh di tangannya. Taemin berjengit saat pria itu tersenyum ganjil ke arahnya.

“Kau Lee Taemin?” tanya lelaki itu dengan suara rendah, suara yang kurang sesuai dengan senyum di wajahnya. Taemin membelalakkan mata, merasa gawat karena identitasnya ketahuan. Namun yang lebih mengejutkan adalah ucapan lelaki itu selanjutnya, “Kau masuk daftar buruan kami, penyihir muda.”

SIAL!

Taemin bangkit dari tempat duduknya dan langsung berlari. Lelaki itu terlihat menodongkan senjata ke arahnya dan Taemin tahu itu apa, pistol. Saat benda itu ditembakkan dengan bantuan penyadap suara, mau tak mau Taemin mengeluarkan mantranya menghadapi serangan itu. Udara seakan terhenti, begitu pula dengan waktu. Dengan sekali hentakan, peluru yang hampir mengenai tubuh Taemin itu hancur begitu saja.

Lelaki itu tertawa melihatnya, “Ternyata kau memang benar-benar ahli sihir, anak muda.” Taemin tak mempedulikan ucapannya. Ia segera menggapai tangan Ageha yang bingung melihat kepanikannya dan segera berlari secepat mungkin.

DOR

DOR

DOR

Taemin kembali berbalik, membisikkan mantra yang sama dan kembali menghancurkan peluru-peluru tersebut. Ageha yang menyaksikan kejadian itu membulatkan mata tidak percaya. Ia menutup mulutnya yang terbuka tanpa sadar.

“T…Taemin…”

“Maaf, ini bukan saat yang tepat untuk menjelaskannya.”

Laki-laki tadi terus mengejar mereka. Taemin mendecak kesal dan langsung meraih pinggang Ageha. Istirahat siangnya yang sangat terbatas malah hancur begitu saja karena ulah pria sialan itu. Sebelum peluru si pria asing berhasil menembus tubuh Taemin, pasangan itu menghilang begitu saja. Pria itu mengumpat kesal, namun tetap berusaha mengontrol emosinya agar tidak mengundang banyak mata ke arahnya. Ia meraih ponselnya dengan cepat lalu melapor pada siapapun yang ada di sebrang sana, “Gagal.”

Nafas Taemin terengah-engah saat keduanya muncul di lokasi syuting di mana seharusnya ia berada. Sudut yang sepi membuat tak seorang pun melihatnya sebagai kejadian yang ganjil. Taemin sempat terbatuk beberapa kali. Sudah lama ia tidak menggunakan sihir beruntun secepat itu, benar-benar sangat menguras tenaga. Warna kulitnya memucat, bahkan batuknya mengeluarkan darah. Ia sempat tertegun namun tetap berusaha tenang.

“Bisa kau jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?” tuntut Ageha kemudian. Taemin tersenyum penuh sesal ke arahnya. Ia meraih rambut panjang gadis itu dan mengecupnya sesaat. Begitu ia menjentikkan jari, gadis itu tak sadarkan diri. Gadis itu jatuh ke pelukan Taemin begitu saja. Taemin menyentuh wajahnya dengan penuh kehati-hatian, seakan takut gadis itu dapat hancur hanya dengan satu sentuhan.

“Maaf, tapi kenyataan ini dapat merusak hari-hari terakhirmu. Biarlah aku yang menanggungnya sendiri….,” bisiknya pelan.

***

Key sibuk membalik halaman majalah saat Taemin memasuki ruang make-up. Ia melirik lelaki itu sesaat, tersenyum dan menepuk kursi di sebelahnya. Taemin menurut saja, melepas lelah yang menusuk tulang-tulangnya. Key menyodorkan botol minuman tanpa merk ke arahnya lalu kembali membaca majalah yang ia pegang. Taemin meraihnya dan mengenali isinya. Ia langsung menenggak habis isi minuman itu. Ia membisikkan beberapa mantra dan ia bisa kembali merasakan sendi-sendinya bergerak normal.

“Terima kasih, hyung.”

Key tidak menyahut. Keduanya tahu apa yang telah terjadi dan ramuan penguat sihir yang diminum Taemin tadi dapat langsung memulihkan kondisinya. Heran juga, kenapa Key bisa membawa minuman itu? Tapi Taemin tak mau mempertanyakannya. Ia hanya mensyukuri hal itu.

Key menatap tajam ke satu titik, menyesali hasil tindakannya. Dalam hati ia bergumam, “Mereka mulai bergerak. Saatnya kita bertindak.”

Taemin mengembangkan senyum khasnya saat pekerjaan hari itu selesai. Ia menelpon Ageha setelah mengucapkan terima kasih atas kerja keras semua orang hari itu. Sudut yang sepi, tempat yang tepat baginya. Begitu tersambung, terdengar sahutan dari gadis itu. Kecemasan Taemin langsung hilang karenanya. Senyum Taemin semakin terkembang lebar.

“Kau tau, staf lain mengatakan kalau aku pingsan saat menyusun kostum kembali pada tempatnya. Benar-benar aneh,” ujar gadis itu. Suaranya yang kekanakan membuat Taemin terkekeh, “Tapi sepertinya kau sehat-sehat saja. Bahkan terlalu bersemangat.”

“Aku hanya ingin membagi semangat dan kebahagiaan pada orang lain. Tidak salah, bukan?” jawab Ageha bersungut-sungut, merasa ucapan Taemin seperti sindiran untuknya. “Aku ingin semua orang di sekelilingku bisa bahagia, semua orang harus menjalani hidup ini dengan kebahagiaan. Dan karena aku bahagia, aku harus membagi kebahagiaabku pada orang lain.”

“Kau terlalu baik…”

“Makanya karena itu, aku ingin semua orang baik sepertiku!”

Taemin tergelak pelan mendengar jawaban narsis itu. Ageha ikut tertawa di seberang sana. Begitu tawa mereka reda, hening menghampiri.

“Apa kau baik-baik saja? Sejak tadi kau terdengar tidak bersemangat…,” ucap Ageha kemudian. Pandangan mata Taemin semakin sendu. Ia tidak baik-baik saja. Kondisinya sangat hancur sekarang. Dimulai dari masa lalu yang masih belum bisa ia hapuskan, kesibukan yang terus menumpuk, orang aneh yang mengejarnya, serta kenyataan bahwa ia akan kehilangan gadis itu dalam waktu singkat. Bisa dibilang ia begitu frustasi sekarang, tapi ia tak bisa mengatakannya. Taemin hanya dapat mengambil nafas panjang, tubuhnya tersender pada dinding dingin.

“Ageha, katakan padaku bahwa semua akan baik-baik saja…,” ucap Taemin tertahan, nadanya terdengar frustasi. Ageha menjawab ucapannya dengan bait kalimat polos, “Semua akan baik-baik saja…”

“Katakan padaku bahwa kau bahagia sekarang…”

“Aku sangat bahagia sekarang…”

“Katakan padaku bahwa kau akan menemaniku hidup lebih lama…”

“Aku akan menemanimu hidup lebih lama…”

“Katakan padaku bahwa kau mencintaiku…”

“Aku mencintaimu…”

Tubuh Taemin membeku, tak menyangka jawaban gadis itu akan mengalir begitu saja. Ia ingin mendengar kalimat itu sekali lagi, sekedar memastikan bahwa tadi bukanlah sebuah mimpi ataupun candaan belaka. Sayang suara Taemin tak lagi mampu keluar, ia tak bisa merangkai kata yang tepat.

“Aku mencintaimu, Lee Taemin, sangat mencintaimu…”

Oh, Tuhan. Taemin terlalu bahagia saat ini. Namun di saat bersamaan ia juga jatuh ke dasar jurang yang paling dalam. Suaranya tercekat dan nafasnya mulai sesak. Ingin sekali ia berteriak senang sekaligus menangis sedih. Ia tahu takdir tak dapat dilawan, dan ia sudah mebuktikannya berkali-kali. Seberapa inginnya pun ia bersama Ageha, gadis itu takkan bisa ia miliki selamanya. Takdirlah yang akan memisahkan mereka berdua.

Hanya rentetan kalimat, “Aku juga mencintaimu,” yang dapat Taemin katakan untuk gadis itu saat ini.

***

_TBC_

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

13 thoughts on “[WFT B] Butterfly – Part 3

  1. hehe.. iy, Taem ngenes bgt dsini…
    iy, mino ama jong tuh malaikat pencabut nyawa gt, makanya tau kapan waktuny Ageha. keyx ama tuanny juga tau, lho…

    oke, oke
    gomawo, yongie~~

  2. Member SHINee sangat misterius.
    Key itu Keyx
    Onew itu Lucifer
    TaeMin ternyata penyihir
    MinHo dan JongHyun entah apa perannya?
    Semakin seru, ditunggu kelanjutannya

    1. haha… versi cerita ini sih bgt. key n onew tuh iblis *bagi yg baca devil’s game pasti tau, d*
      taemin penyihir, jong n minho malaikat pencabut nyawa. g bs dibayangin d mereka bner2 gt… hahahaha…

      yak, lanjutanny udh keluar~~

  3. akhirnyaaaa Taemin bilang cinta juga..😛
    dari baca part sebelumnya sedih banget karna Taeminnya gk mau jatuh cinta..

    cara Taemin minta Ageha buat ngikutin apa yang Taemin ucapin itu bikin saya agak deg2an deh, kenapa gak Taemin langsung bilang aja klo dia cinta sama si Ageha

    kok dibilangin klo Taemin gk tahu siapa si Ageha sebenarnya..
    Jangan2 semua member shinee n Ageha bukan bener2 manusia ya..

    Ok Bella, penasaran sama lanjutannya, ditunggu ya..🙂

    1. iy, nih. setelah penantian yg cukup lama akhirnya Taemin blg cinta juga. hahaha…

      jawabanny ada di part selanjutnya, kok…

      gomawo, eonni~~

    2. haha… versi cerita ini sih bgt. key n onew tuh iblis *bagi yg baca devil’s game pasti tau, d*
      taemin penyihir, jong n minho malaikat pencabut nyawa. g bs dibayangin d mereka bner2 gt… hahahaha…

      yak, lanjutanny udh keluar~~

  4. Hiks…hiks…hiks… Sedih banget,eonni bagian Taemin dan Agehany….
    Dan DAEBAK!! ternyata Jjong dan Minho bukan manusia biasa…

    Sorry,ya eon kelamaan ngo-mentnya…😦
    lanjutin cerita.. ^^

  5. jadi sebenernya itu yahh key sayang sama taemin, tapi karena iblis, bawaanya ajah kayak gitu, penasaran niii.. dubuya jadi apa?? malaikat?? *ngakak klo dubu jadi malaikat wkwkwkwkw… lanjuuuttttt!!!!! ^o^d

  6. Eciyeeehhh…… jadian nih Taemin sama Ageha ceritanya? .hhe.
    ga nyangka juga setelah kedekatan singkat mereka taemin kaya yang langsung kesemsem begitu sama Ageha.

    Tapi masih banyak misteri nih di sini. Kenapa Lee Gaehwa mati masih bkin penasaran, terus makhluk yang mau menghunuskan pedang di namsan tower itu siapa? dan si Tuan-nya Keyx udah muncul yaa, tapi masih misteri. Lucifer kaah? *teringat Devil’s game*

    “Aku tidak yakin kau bisa meminumnya,” ujar Keyx, tangannya menunjuk ramuan tersebut, “It’s suck.” <– Jjeng..jjeng… ini guling2 banget bayangin Key bilang “It’s suck.” dengan mukanya yang seolah minum sesuatu ga enak gitu.

    Hemmm, ternyata Jjong sama Minho juga kawanan dari kaum2 di luar manusia *?* yaa?
    Penasaran banget. oKEY, langsung cuss ke part berikutnya. Di sini Devil's game-nya udah mulai terasa. Tinggal menantikan kemunculan Liana *plaaakkk* ^^v

  7. Key iblis. Minho sama jjong malaikat. Taemin penyihir. Onew apa dong?
    Lucu aja ngebayangin taemin naik sapu terbang😀
    Ceritanya ngalir banget deh. Bikin sedih + deg deg’an diwaktu bersamaan.

  8. Minholand udah ngerekap tokoh2ya…
    Aku ulang deh…
    Taemin penyihir, Key iblis, Jong mInho malaikat…
    Onew Lucifer… kekekekekeeee…. *ngaco…?

    Pert ini juga seru, Bella. Penyajiannya juga bagus banget.
    Aku bener2 gak bingung lagi bacanya, spt di part 1
    good job…

    Si pemburu tuh, maksudnya pemburu apaan?
    Dia mengincar Taemin atau Ageha?

    Kapan dong abang ayamku dapet peran sama line???

  9. Ihh taemin koq miris sihh..aku sepertinya tau ap yg akn trjdi..semoga perkiraanku slh😦

    Ya ampunnn jd member shinee it g ad yg manusia biasa yaa?! taemin si bocah penyihir, jjongho sepertinya malaikat maut, key si iblis, dan onew lucifer kn?! wahhh…

    Aku pikir key it punya niat jahat lohh..mengingat dia iblis..tp trnyata dia mmg cm.mau ngasi plajaran ke taemin..
    Jd gaehwa it kakak sepu2 taemin.. dan dia menukar jiwa nya demi org yg dia cintai? gt kn yaa?!
    Mkin seru….lanjut dulu

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s