[WFT B] Dark Puzzle

Dark Puzzle

Beware Around…

Lee Taemin (SHINee) | Soyu (Sistar)

Author                  : syaraba

Genre                   : Mystery, Thriller, Horror, and Gore

Rating                   : R (Restricted) [pembaca yang berusia di bawah umur 17 th, diharapkan untuk mendapatkan pendampingan dari orang tua]

Length                  : Oneshot

Disclaimer           : All casts belong to God and themselves. Storyline belong to me, and thanks to Jiell for the awesome poster

Inspired by         : Detective School Q – The Collector (Comics)

Summary             : Satu persatu sudah mulai terkuak. Sayangnya kau terlalu jauh memandang, terlalu keras berpikir hingga tidak menyadari bahwa ‘dia’ sudah berada di dekatmu. Teka-teki ini akan terus menjadi suatu yang tak kan mungkin kau ungkap sebelum kau menyerahkan nyawamu.  Dan merelakan dirimu pergi ke neraka.

“Kita tidak mungkin bermain tanpa strategi yang matang. Dia bukan suatu barang yang bisa kau dapatkan dengan mudah. Kau harus membayar dengan nyawamu kalau perlu.” –DARK PUZZLE. Beware Around.

 dark-puzzle-02

-Dark Puzzle-

Hening mulai bergelayut pada malam yang mulai merangkak larut. Bumi yang begitu tenang mulai di selimuti mega sepi beratapkan langit hitam kelam tanpa bintang. Lampu baca kini menjadi satu-satunya teman yang berbaik hati menemani. Rintik-rintik air mulai tumpah, dari yang renggang menjadi rapat dan lebat. Membuat angin yang tadinya tidak terlalu dingin berubah menjadi tidak bersahabat, menusuk hingga ke tulang belakang.

Matanya tak kunjung sayu walaupun matahari sebentar lagi menjemput pagi. Ia tidak merasa sepi karena tawanya mengisi setiap inci ruang yang mengurungnya. Tangannya terus mengacak-acak kotak berisikan sumber pengisi perut.

Telinganya seakan ditulikan beberapa saat dari dunia sekitar dan hanya terfokuskan pada benda berbentuk balok yang dapat memancarkan cahaya berbentuk segerombolan manusia. Semua indranya hanya terfokuskan dengan apa yang ditampilkan balok bercahaya tersebut. Sesekali tangannya berpindah ke arah bagian tubuh tengahnya. Tertawa terus menerus membuatnya harus merasakan rasa sakit pada organ pencernaannya tersebut.

Hingga ia tidak menyadari bahwa sedari tadi pintu yang tertutup itu  mengeluarkan decitan teramat pelan. Suasana mulai berubah mencekam. Ia tidak terlalu menanggapi bulu romanya yang menegang, ia terlalu asyik mencerna setiap kata demi kata yang terdengar dari balok dihadapannya.

Sampai suara hembusan nafas yang memburu mengalihkan perhatiannya. Ekor mata hazel itu menangkap bayangan yang tidak pernah ia sangka pemiliknya. Sebelum sempat lensa mata itu menangkap adegan di belakangnya, suara ayunan benda tajam menutup indra pendengarannya. Dan ketika mata itu melihat segalanya. Ia tidak lagi berfungsi, semua organnya mati seketika, sampai-sampai jeritannya tertahan di tengah tenggorokan tidak mampu keluar lebih jauh lagi. Karena ajal telah menjemput perempuan ceroboh tersebut.

“Selamat jalan menuju neraka sayang. Semoga kau bahagia di sana.”  seseorang dengan topi hitam yang menutupi setengah wajahnya tertawa puas. Lidahnya dengan mudah menjilat pisau yang sudah berlumuran darah. Sebelah tangannya dengan setia terus memegang sebuah handycam yang menjadi saksi bisu betapa batin orang tersebut terpuaskan malam ini.

Kakinya berbalik meninggalkan jasad perempuan yang sudah tidak dapat terselamatkan lagi nyawanya. Layar handycam itu terus memutar bagaimana lihainya permainan tangan sang pemilik. Hidungnya menghirup dalam-dalam aroma anyir yang tertinggal pada pisau kesayangannya. Malam ini hasratnya terpuaskan sudah.

-Dark Puzzle-

Pemuda itu masih berkutat dengan beberapa kertas yang menumpuk setiap harinya. Sesekali ia menyesap cangkir di sudut kanan meja kerjanya. Pemuda itu masih terlalu muda untuk duduk di belakang meja besar dengan tumpukkan berkas dan satu set komputer diatasnya. Walau pekerjaan itu tidak mewajibkan untuk berdiam diri berjam-jam di sana. Namun kali ini ia memilih untuk menempatkan pantatnya pada kursi empuk, berkutat dengan segala macam berkas di hadapannya. Mengkaji kemudian menganalisisnya sehingga menghasilkan sebuah kesimpulan yang akurat.

Pintu di depannya terbuka, menampakkan siluet perempuan berambut pendek. Tangannya dengan kokoh menggendong beberapa tumpuk berkas yang kapan saja siap menjejalkan berkas-berkas tersebut pada pemuda di hadapannya kini. “Tuan Lee, kita kedapatan kasus lagi. Ini tentang collector.”

Mata pemuda itu seketika beralih menuju perempuan yang tidak beranjak dari tempatnya sekarang. “Collector? Video snuff maksudmu?” Kaki jenjang perempuan tersebut akhirnya membawanya lebih dekat dengan pemuda di balik meja besar.

Dengan gerakan sekali hentak, tangannya menghempaskan berkas-berkas tidak bersalah itu begitu saja ke lantai. Terkejut, pemuda yang dipanggil Tuan Lee itu hanya dapat menggelengkan kepala tidak percaya.

“Bukankah kasus itu telah ditangani oleh Detektif Kim?” Tanya Tuan Lee sembari kembali menyesap kopi hangatnya. Perempuan itu tertunduk lesu, badannya seketika lemas saat hendak memberi kabar yang tidak dapat dikatakan bagus kepada atasannya itu.

“Si collector sudah membunuh seluruh saksi, bahkan dia juga telah membunuh saksi ahli. Dia benar-benar mematikan langkah semua instansi kepolisian yang menangani kasus ini dari beberapa tahun silam. Dari sisi psikologis, dia benar-benar sempurna. Tidak ada satu celahpun yang dapat diendus. Semua permainannya rapi walaupun pada pembunuhan yang tidak terencana sekalipun.”

Tuan Lee mengangguk mengerti. Walaupun kini fokusnya tidak lagi pada perempuan bertubuh seksi itu tapi ia masih dapat mencerna baik-baik setiap kata yang dilontarkan asistennya tersebut.

“Jadi kau ingin aku mengambil alih kasus ini? Pamorku akan turun jika aku tidak dapat mendapat satupun bukti kuat yang dapat menjeratnya. Kau tahu sendiri dia bukan pembunuh biasa.” Tuan Lee kini beranjak dari kursi empuknya, lalu meremas kuat pundak sang asisten.

“Kita tidak mungkin bermain tanpa strategi yang matang. Dia bukan suatu barang yang bisa kau dapatkan dengan mudah. Kau harus membayar dengan nyawamu kalau perlu.” Setelah memberi nasehat yang cukup membuat bulu roma si asisten berdiri ia melangkah pergi. Sebuah smirk terlukis samar di wajah salah satu dari keduanya.

“Berikan berkas di mejaku kepada Inspektur Jang. Itu semua sudah selesai. Aku pulang dulu.” Detektif muda itu dengan dingin menutup pintu dan berjalan pergi.

-Dark Puzzle-

Malam itu mulai merangkak larut ketika derap kaki saling beradu di atas aspal hitam. Semakin lama semakin cepat mereka beradu. Lampu penerangan jalan tidak bekerja semestinya, membuat sang pemilik kaki tersebut harus berburu dengan rasa takutnya. Beberapa kali ia harus membenarkan letak stopmap besar yang berada di tangannya. Sesekali ia melirik ke dalamnya dan selalu saja raut wajahnya berubah jijik. Dalam hati ia mengutuk dirinya yang mau terjebak dalam pekerjaan yang menjadikan nyawa sebagai taruhannya.

“Gila! Kenapa selalu saja foto mayat yang sudah membusuk yang aku dapat setiap harinya?! Aku masih 21 tahun dan seharusnya aku memanjakan mataku dengan melihat foto para lelaki bertubuh atletis, berotot, dan memiliki abs yang indah. Bukannya foto jasad manusia yang telah digerogoti belatung serta di kerubungi lalat. Huh! Menjijikkan!”

Perempuan itu terus mengeluh sepanjang perjalanan hingga kakinya berhenti tepat di depan rumah -yang menurut sebagian orang menyeramkan. Namun, tiba-tiba saja sejuta pertanyaan muncul di dalam otaknya. Rumah itu tidak lagi berpenghuni -ini bisa diketahui dengan halamannya yang tidak terawat terlihat dari dedaunan basah yang tergeletak begitu saja di tanah.

Mata elangnya tidak bosan memperhatikan setiap bagian dari rumah -tak berpenghuni- yang menggelitik hatinya. Tangannya yang sedari tadi menggenggam erat tumpukkan stopmap plastik kini berpindah pada gerbang yang mulai berkarat. Suara decitan menyeramkan yang ditimbulkan dua besi karat yang lama tak terpakai tidak mengurungkan rasa penasaran di dadanya.

Seakan semua baik-baik saja, ia terus bergerak maju menapaki tanah yang didesain seperti jalan setapak. Dahinya berkerut banyak, ada yang aneh di sini. Rumah dan pekarangannya terlihat tidak terawat tapi jalan setapak ini terlihat rapi.

Rasa penasaran itu semakin membuncah dan akhirnya mendominasi sehingga membuat egonya menekan habis rasa takut yang mulai menyelusup. Ia mendesah panjang. Kini nalurinya lah yang mulai bergejolak, menolak setiap tindakan nekat yang kapan saja akan menerkamnya. Ego dan rasa penasaran itu terus memaksanya untuk segera masuk ke dalam rumah kosong di depannya.

Langit tiba-tiba menangis, membuatnya harus mempercepat langkah. Sejenak ia merasakan aura aneh dari arah rumah tersebut. Pandangannya kembali beredar hingga menangkap secercah cahaya di jendela bagian atas. Dahi semakin berkerut-terlihat pada kerutan yang bertambah- pertanda semakin banyak tanda tanya yang ada di pikirannya. Tanpa rasa ragu sedikitpun, ia mendorong pintu kayu tua dihadapannya.

Aura aneh kembali menyambutnya ketika pintu terbuka lebar. Suara tetesan air yang merembes dari bagian atap menjadi latarnya. Ia meneliti seisi ruangan tak bertuan itu, sampai lensanya berlabuh pada pintu yang tidak tertutup di atas sana.

Nafasnya mulai memburu akibat ketidak-stabilan debar jantungnya. Sehingga mengharuskannya untuk mendesah panjang berkali-kali. Indra penciumannya tiba-tiba mendapat kejutan, bau anyir darah seketika itu juga memenuhi ruangan. Sekali lagi ia meneliti setiap inci ruangan itu, berharap menemukan petunjuk tentang penyebab bau darah yang tiba-tiba saja mengangggu indra penciumannya.

Matanya membulat sempurna saat mendapati aliran darah yang mengalir tanpa henti dari lantai atas. Suara tetesannya berbaur bersama air hujan, membuat perempuan bernyali besar itu terlena untuk sesaat. Oksigen mulai menipis ketika derap sepatunya mengisi gendang telinga. Satu per satu anak tangga ia pijaki, walau terlihat reyot tangga ini masih kuat menopang berat tubuhnya.

Kaki itu tidak lagi menurut pada sang pemilik, ia terus bergetar hebat tanpa henti begitu sampai pada pintu yang celahnya menghasilkan cahaya. Ia dapat melihat aliran darah yang keluar dari bawah pintu tersebut. Perempuan ini tersenyum senang.

Tapi senyuman itu tidak bertahan lama. Senyum itu semakin lama berganti dengan raut takut dan tidak percaya. Matanya terus berusaha merekam apa yang ia lihat dari celah pintu tersebut. Collector. Ia sudah menemukan pelakunya.

Mulutnya bergetar, suaranya hilang ditelan bumi, nafasnya juga habis tidak bersisa. “Akhirnya kau mendapatkan bukti kuat untuk menangkap si collector, manis.” Air terus mengalir dari pelupuk mata elangnya,  ia tidak percaya dan tidak mau mempercayainya. Pemuda di balik pintu itulah pelakunya, ialah si collector tersebut. Tangannya seketika lemas dan tidak kuat membawa tumpukan stopmap. Semuanya jatuh berserakan di lantai yang penuh dengan darah.

“Aku pernah mengatakan padamu jika kau ingin mendapat bukti kuat untuk menjerat si collector, kau harus membayarnya dengan nyawamu bukan?” Pemuda itu membuka lebar pintu yang menutupi pandangan perempuan yang memergokinya.

Aura aneh kembali datang bersama kilatan cahaya yang terjadi akibat loncatan elektron di langit. Tangan pemuda itu masih menggenggam pisau yang berlumuran darah. Ia berjalan mendekati perempuan yang sudah ia perkirakan akan menjadi target selanjutnya.

Senyum itu merekah menghias wajah tampannya, bukan senyum yang dapat dinikmati. Senyuman ini cenderung mematikan seluruh sel yang ada di dalam tubuh.

“T-tuan Lee T-taemin? J-jadi k-kau-?” Perempuan itu terbata saat berucap, membuat pemuda tampan dihadapannya terkekeh melihatnya. Namun ekspresi itu seketika berubah serius, pisau yang ada di tangannya kini tengah menyusuri setiap lekuk wajah perempuan di hadapannya, meninggalkan bercak darah disana.

“Akulah pembunuh berdarah dingin tersebut. Aku yang selama ini kau cari.” Taemin meraih rambut perempuan didepannya lalu menariknya kuat, tidak menghiraukan desahan yang dikeluarkan perempuan itu untuk menahan sakit.

“Detektif paling terkenal di Seoul, Lee Taemin, adalah seorang pembunuh yang menamai dirinya collector. Akulah yang telah membunuh manusia-manusia malang dari beberapa tahun silam. Akulah pembunuh itu. Aku! Atasanmu Soyu-ah!” Taemin memamerkan smirk, matanya berkilat-kilat seperti mendapat mangsa yang akan dijadikannya makanan penutup malam ini.

“L-lepaskan aku Taemin!” Teriak perempuan bernama Soyu itu dengan kalap. Tubuhnya terus meronta dari dekapan Taemin yang menyakitkan sekaligus menakutkan. Taemin kembali tersenyum puas, pisaunya kini beralih pada hidungnya. Ia terus menghirup aroma darah yang menurutnya menenangkan, sesekali ia juga menjilati darah yang tertinggal pada wajah Soyu.

“Lepaskan aku. Ku mohon.”pinta Soyu lirih, ia sudah pasrah dengan semuanya. Ia berani berjanji atas nama Tuhan ia tidak akan membocorkan identitas asli si collector asalkan ia bebas dari sini.

“Kau terlihat ketakutan sayang. Apa kau gelisah? Hatimu pasti sedang tidak tenangkan?” Tanya Taemin, retoris. Soyu yang mulai lemas hanya dapat mengangguk, sungguh ia ingin bebas.

“Kalau kau takut bagaimana kalau aku antar pulang? Akan ku antar kau dengan selamat dan kau pasti akan tenang.” Taemin tertawa puas hingga menampilkan deretan giginya yang rapi dengan bercak darah yang menempel di sana. Soyu menutup matanya takut. Suara hujan yang lebat sudah tidak dapat ia dengar lagi. Yang dapat ia dengar kini hanya suara tawa detektif panutannya yang ternyata seorang pembunuh keji.

“Mari aku antar kau ke neraka.” Dengan gerakan cepat pisau itu berpindah tempat. Pisau itu kini sudah tertancap di tengah-tengah perut Soyu, membuat Soyu membuka matanya seketika. Ia memuntahkan banyak darah segar dari mulutnya yang akhirnya dengan senang dijilati oleh Taemin.

Mata Soyu berubah merah, rautnya berubah marah. “Terkutuklah kau Lee Taemin!” Ucapnya dengan nafas tersengal. Peluh keringat semakin mengalir, membasahi tubuhnya. Berbaur dengan darah yang terus mengalir dari perutnya.

Detik demi detik berlalu, seluruh indranya tidak dapat lagi berfungsi. Oksigen di sekitarnya mulai menipis dan beranjak habis tergantikan dengan partikel-partikel udara yang lain. Maka detik ini juga seluruh pandangannya berubah menjadi gelap.

Taemin menarik pisau kesayangannya dari perut Soyu. Ia menatap bengis tubuh Soyu yang tidak lagi bernyawa.

Setelah puas memandangi jasad-jasad korbannya, ia berjalan pergi dengan wajah yang telah berubah seperti biasa. Seakan ia tidak pernah melakukan sebuah tindakan keji.

Dengan santai ia terus menjilat pisaunya, merasakan betapa nikmatnya darah Soyu –yang tercampur dengan darah korban sebelumnya. Matanya terpejam merasakan betapa puasnya ia malam ini. “Selamat jalan Soyu-ah. Semoga kau senang berada di neraka sana.”

-END-

 

NOTE:

Video snuff        : rekaman video yang memperlihatkan adegan pembunuhan, baik dari potongan film atau rekaman asli

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

48 thoughts on “[WFT B] Dark Puzzle

  1. Aigoo.. gk nyangka taemin sejorok itu jilat jilat darah orang. Iiii… napsu bgt taem! -_-
    Taemin g cocok jd pembunuh, namja sebaik itu hrs jd psikopat penjilat darah (?) Ckckckck

    Kata katanya lumayan berat ya… smpe harus berulang ulang bacanya😄 atau emang aku yg lemot?

    Sebenarnya gk nyangka bgt klu collector itu taemin, aku kira taemin yg akan melawan collector itu. Ini brtanda ff ini telah menipu reader -.-

    thor…aku suka bgt ff bergenre kyk gini, ditambah kata ktanya yg berat gitu, tp aku ttp merasa feelnya sediiikiiiiit kurang. Entah aku gk peka atau emang gk lemot feelnya dpet, tp msih dikit lg (?)

    Oke.. semuanya bagus bgt kok! Suka banget.. hehehe
    Keep writing and fighting !😀

    1. Taemin emang ga cocok jd pembunuh, aku yg buat agak sedih nulisnya… hehe sorry ya kalo bacaannya terlalu berat.-.
      Fyi, pas nulis aku jg kurang dapet feel sih, mungkin gara2 taemin disini jadi pembunuh.
      Tapi thanks banget yaa udah mau baca😀

  2. ya, ampuuun. ini-ini tragis!!
    cuma, kayaknya aku kurang srek dengan genre misterinya, coz ceritanya tahu-tahu ketawan aja. jadi nggak ada scene-scene di mana seseorang mencari tahu, atau pura-pura mencari tahu siapa pembunuh tersebut. misalkan dikasih clue-clue gtu. ya, cluenya cuma smirk gtu doang.
    tapi nggak papa. aku suka kok.

    1. Tragis gimana?
      Aku jg kurang srek smenre itu.-. Cause alurnya terlalu cepet menurutku.-.
      Thanks udah mau bacaaaa😀

  3. Aaaaaaaaaaaaaa!!!
    Baca judulnya, plus synopsis-nya, inspirasi dari collector pula, bikin aku semangat buat baca. Dan iya, narasinya tingkat tinggi nih, aku suka!
    Tap..Tap..Tap…eeh?
    jadi collector-nya si Taemin?! O.o
    Aigoo….

    Aku suka sama ceritanya. Menurutku – sama kayak yg dikomenin sama lee hana – kalo ini dibikin sequel, trus ada misi clue dan kawan2, mungkin ff-nya menjadi lebih cetaarr.. But, it’s okay! Ini cerita twist sebenernya, aku juga suka..
    #labil

    Semangat ya Syaraba-ssi. Potensi bikin cerita bergenre dark2 seperti ini udah kamu punya, kembangkan terus eaaa😀

    1. Waaaaaaa makasih udah baca dengan semangat pula bacanya. Aku jd gaenak /? .-.
      Narasi tingkat tinggi?:o ku kira narasinya bakalan bikin pusing.-. Niatnya sih mau dibikin twoshot tapi males, hehehe😀
      Okee aku akan selalu semangat buat bikin cerita dengan genre kayak gini🙂 Makasih udah mau bacaaa😀

  4. kebiasaan bacaku adalah dari tengah, klo ga ngerti aku bakalan baca dari awal, dan untuk kali ini, aku baca dari awal mpe 2 kali, alamak kamus katanya banyak banget, bervariasi, keren, tapi untuk konflik kurang dapet sedikit. klo dijadikan sequel tentu lebih bagus.. tanda baca dan penulisannya juga udah oke.. hehehehe… sebenernya si ga terlalu sadis ya, soalnya taeminnya udah kayak vampir minum darah *eh?? tapi overall okeyyy ^o^d

    1. waaa segbegitu susahnya kah bahasaku?
      iyaaa memang lebih bagus kalo dijadiin sequel, sayangnya yang nulis males /bicara sm diri sendiri/ ._.v
      thanks ya udah mau bacaaaa😀

  5. OOOIIIII
    Ini ff keren banget peeech T_T
    penulisan juga udah bagus (padahal udah baca dari belum di post)
    aku suka banget sama ide kamuuuu HAHAHAHAHAHA
    oke aku comment segitu aja yaaaa.
    -cencen

    1. CENCEN!!! Thanks banget ya ceennn, udh mau jd tempat penampungan keluh kesahku/?
      Thanks for everything, thanks bangeeettttt /tiuuuummmmm :***
      -ipech

  6. Duh suka bgt sm ceritany. Ide,diksi narasiny GREAT!
    Sayang kpendekan,pdahal msh pengen bc lg -,-
    tp kalo dpanjgin feel dr judulny kgak sampai ya,jd sepertiny pendk gini emang cocok haha. Mantap deh
    authorny br ngirim ff skali ya k sni? Cra nulismu bkin sy ingat Zakey,sdkt mirip sih ya.
    Semangat ya nulisny, kalo perlu doain dpt juara buat menang deh hoho

    1. Waaa makasih atas pujiannya🙂 makasih, makasih bangeeett😀
      Aku usahain deh ngirim ff kesini lg, kalo ga sibuk wkwkwk😄
      Amiin, amiinnn makasih banget ya udah mau bacaaa😀

  7. Seorang Lee TaeMin berubah menjadi pembunuh berdarah dingin, hal itu jelas sangat menakutkan. Bagaimana dia bertindak bagaikan, dia tidak melakukan hal yang buruk.
    TaeMin yang telah menjadi TaeMan, ternyata sangat keren kalau berada di FF dengan karakter seperti itu. Dibayangkan saja sangat keren, tapi jangan pernah sampai menjadi kenyataan. Hal itu terlalu mengerikan.
    Membunuh = dosa. TaeMin = innocent.
    Karakter yang bertolak belakang.
    Keren banget author, entah aku yang rasa FF ini pendek banget.
    Intinya keren teramat keren. (งˆ▽ˆ)ง

    1. yaampun makasih banget, aku terharu baca komenmu T_T makasih banget, sekali lagi makasih banget🙂
      makasih udah mau baca dan makasih atas pujiannya😀 :”)

  8. ekspresiku😯

    pembunuh berdarah dinginnya ternyata detektif paling terkenal di seoul, well…🙄 gak yakin bisa ditangkep😆

    ceritanya keren, diksinya keren.. manteeepp🙂

    beberapa aja aku koreksi, soalnya pas baca ada yang berasa janggal:
    – Hening mulai bergelayut pada malam yang mulai merangkak larut.
    – Semua indranya hanya terfokuskan dengan (pada) apa yang ditampilkan balok bercahaya tersebut.
    – Dan ketika mata itu melihat segalanya.(,) Ia (ia) tidak lagi berfungsi,(.) s(S)emua organnya mati seketika, sampai-sampai jeritannya tertahan di tengah tenggorokan(,) tidak mampu keluar lebih jauh lagi.
    Walau pekerjaan itu tidak mewajibkan untuk berdiam diri berjam-jam di sana. Namun kali ini ia memilih untuk menempatkan pantatnya pada kursi empuk, …
    – Malam itu mulai merangkak larut ketika derap kaki saling beradu di atas aspal hitam.
    – Senyum itu merekah menghias wajah tampannya,(.) b(B)ukan senyum yang dapat dinikmati.(,) S(s)enyuman ini cenderung mematikan seluruh sel yang ada di dalam tubuh.
    – Ku mohon (kumohon)
    – “Kau terlihat ketakutan(,) sayang. Apa kau gelisah? Hatimu pasti sedang tidak tenangkan?” T(t)anya Taemin,(gak pake koma) retoris.
    – Yang dapat ia dengar kini hanya suara tawa detektif panutannya yang ternyata seorang pembunuh keji. (kalo gak salah inget, dulu guru bahasa indo-ku pernah bilang, kata pembukan gak boleh pakai yang) .___.
    – “Terkutuklah kau(,) Lee Taemin!” U(u)capnya dengan nafas tersengal.
    – “Lepaskan aku. Ku(-)mohon.(,)” pinta Soyu lirih.

    keep writing😉 kirim2 ff lagi yaaa, ffnya baguuusss…

    1. kak lumiiii makasih atas koreksinya.. sangat bermanfaat, sangat membangun, dan saya sangat berterima kasih karena telah dikoreksi.. T_T sekali lagi makasih banyak kak lumii😀
      makasih udah mau baca ff abalku🙂
      oya kak, kata pembukan itu apa? aku belum diajarin ._.
      tp makasih udah mau baca dan udah mau repot2 ngoreksi😀

      1. itu pembuka maksudnya, kelebihan “n”😆
        dulu, guru bahasa indo-ku kayaknya pernah bilang, kata “yang” gak boleh dipakai untuk kata pertama dalam sebuah kalimat.. alasannya, aku lupa😆

  9. ffnya bagus banget mbak, diksinya keren sekalii~. Tapi konfliknya kurang dapet gitu (mungkin buat saya) soalnya part pas Taemin bilang “Kita tidak mungkin bermain tanpa strategi yang matang. Dia bukan suatu barang yang bisa kau dapatkan dengan mudah. Kau harus membayar dengan nyawamu kalau perlu. Setelah memberi nasehat yang cukup membuat bulu roma si asisten berdiri ia melangkah pergi. Sebuah smirk terlukis samar di wajah salah satu dari keduanya.” Aku langsung nangkep kalau itu pasti Taemin, jadinya aku gak ada waktu buat mikir ‘ini sebenarnya siapa??’. ini kalau dijadiin sequel terus clue-cluenya ditambah dari yang paling samar sampe yang paling jelas pasti bagus banget~~
    keep writing yaa diasah sampe jadi jagoan hehe😀

    1. mbak? kamu line berapa? aku 98line kok, hehehe…
      ff ini aku bikin gampang dan ga aku kasih clue biar ga ribet, muehehehe… /alibi._.v
      but, thanks udah mau bacaa yaaa… makasih banget😀

      1. hahaha masi adik-adik yaa hehehe😛. aku emang suka aja manggil siapapun pke embel2 mbak hoho~ diriku 96line, okok samasama😀

  10. bahasa nya enak buat film (?)
    oy oy oy pendeskripsian taem jilat jilat darah jadi malah laper .-.
    ahahaha kata aku muka taemin pas kok kan sekarang dikutuk jadi ganteng jadi gak ad problemlah,,, keren bangeudthlah aku jga 98 line belom bisa bikin narasn ini🙂
    jjang , salam kenal yaaa

    1. Haloo sonyakyu.-. Aku manggil sonya aja yaaa…
      Wkwkw aku jg pas lg laper bikin scene yg jilat2 darah itu.-. Kamu juga 98line? Pasti kamu bisa kok bikin narasi kayak gini, banyak latihan aja😀
      Makasih udah mau bacaaa.. salam kenal jugaa😀

  11. keyeeeen’-‘)b aku suka nih sama ide ceritanya dan juga tiap kata-katanya… walau yg komen diatas bilangnya berat, tetapi aku tetep suka karena emang aku suka (?) *semacam novel lah* *eaaa*
    okke cuman mau nambah dikit aja, walau sebenernya aku gak rela Taemin jadi seorang pembunuh tetapi dia adalah aktor fanfiction yg pro (?) dan aku kurang setuju nih kalo ceritanya langsung berakhir bertemu si pembunuh-_-
    aku pengennya dia pura-pura kasih alibi gitu bahwa pembunuhnya itu soyu apa siapa gitu mungkin, aku teman dekatnya._.v *aku gak mau mengaku jadi istrinya karena di iklan seorang wanita harus berusia 21 untuk menikah, biar kb gitu XD*
    tapi semuanya udah oke punya! yg kurang cmn setitik.-. kurang alibi (?)
    terus berkarya, jangan setop sampe disini aja’-‘)b TETAP CEMUNGUUUDDH!!!😄

  12. Psikopatnya Taemin? *krik krik*
    Tapi nggak papa deh._.v Critanya kece ‘-‘)b Kata2 yang kau pake kayak novelist profesional sumpah :0
    Kalo menurutku ya, ff bunuh2an nggak seru kalo nggak ada adegan gitu gitunya (?) xD
    Gapapa! Kapan kapan buat lagi ya, kalo udah jadi bilang ntar tak baca wkwkwkwk😀

    1. Kata2nya kayak novelist profesional? Amiiinn🙂 doain aja beneran jd novelist profesional…
      Hayoo gitu2 apa???? Wkwkwkwk😄 okeee kalo ada bikin lg nanti bilang ke kamuuu😀
      Thanks udh mau bacaaa eaaaaaaa:D

  13. Hallo, syaraba-ssi. remember me? .kekek.
    akhirnya baca juga ini ff-nya stelah penasaran waktu liat request posternya di blog Jiell.🙂

    Ini terinspirasi dari Detective Q yang The Collector yaa? aku lupa2 inget, kalo g salah ceritanya itu pembunuh yang merekam palajar2 yang jadi korbannya yaa? trus ternyata pelakunya itu salah satu dari pelajar yang jadi korban terakhir di video itu yg dipukul pake botol bir. *maaf kalo salah, udah lupa bgt ^^v*

    Menurutku ffmu ini menarik dan bahasanya oKEY punya. Cuma ada beberapa kalimat yang harus kubaca beberapa kali baru ngerti maksudnya *maaf, rada lemot baca yang diksinya bagus2 ^^v*
    u/masukkan cara penulisan, ada beberapa dariku. Tapi ternyata sudah ada yang bahas di atas.hhe.
    Terus nih, menurutku ceritanya kurang gregetan dan ga nyampe klimaks gitu. Mungkin bakalan lebih oKEY kalo dibuat two shots dan disisipkan scene2 d mana Soyu melakukan penyelidikan kasus collector ini, dan bukti2 mulai mengarah sama orang lain. Saat Soyu hampir menemukan pelaku, tiba2 terjadi pembunuhan lain yang bikin semua temuan Soyu kabur dan ga berlaku. Di saat semuanya makin membingungkan, Taemin akhirnya turun tangan, pura2 mencari kebenaran akan kasus ini, padahal dia merencanakan u/membunuh Soyu.

    .hhi. itu menurutku aja looh ya, mudah2an ga keberatan dengan masukannya.
    overall, ini ceritanya bagus. Tetap semangat buat menulis yaa. Mudah2an menang di lomba ini ^^

    1. of course! i remember u😀
      iyaa itu yg ceritanya si ryu ditugasin cuma berdua sm meg /? aku sukaaaa pas cerita itu😄
      makasih atas sarannya yaaa em…kak? akan ku perbaiki di ff selanjutnya😀 /?
      ga keberatan sama sekali kok, malahan seneng ada yg mau ngasih saran dll, hitung2 buat intropeksi diri /?😀
      amiiinnn, makasih atas doanya dan makasih udah mau bacaaa😀

      1. Wah, jadi aja ak pgn ntn lagi Detective Q. aku paling suka yang “The Conclusive Moment! The Corpse that Disappears into the Sky” yang kasus Desa Kamikakushi itu *curcol*
        sama2, tetap semangat yaa. terutama dalam menulis ff yang misteri2 begini. aku pasti baca.hhe. ^^

  14. Telat ga ya kalo baru comment sekarang, ga telat kan ya? Semangat terus nulisnya! Ceritanya as always selalu menarik di mata gue, karena emang cinta sama bahasa yang berat kali ya-_-a btw lainkali gantian hibur gue pake ff ya. Wkwk

    -namja ganteng, moon

  15. Aku kira ada adegan kayak detektif conan. Berharap gitu.. ternyata langsung ketahuan.. –”
    Btw, Taemin sadis amat.. O.o

  16. Baru nemu ada yang bikin thriller buat WFT
    two thumbs up d(^ ^)b
    Pilihan bagus buat gunain banyak narasi daripada percakapan biar lebih thrilling. Sayangnya, dari awal udah ketahuan kalo Taem itu si collector dari smirk-nya. Kayaknya sih kalo model thriller begini minimal dibikin 2 shot biar reader ada geregetnya. Udah bagus kok tapi, tenang aja.
    Oiya menurutku ada bagian yang berasa agak kurang enak di sini :

    Mata Soyu berubah merah, rautnya berubah marah. “Terkutuklah kau Lee Taemin!” Ucapnya dengan nafas tersengal. Peluh keringat semakin mengalir, membasahi tubuhnya. Berbaur dengan darah yang terus mengalir dari perutnya.

    Itu misalnya lebih enak kalo yang marahnya nggak langsung ditembak marah, misalnya rahangnya mengeras gitu udah nunjukkin kalo si Soyu cukup marah karena ulah Taem. Terus peluh sama keringat itu sama aja ya, jadi enakan salah satu aja misal : Peluhnya mengalir semakin deras. Sebaiknya yang berbaur dengan darah etc itu disambungin aja sama kalimat depannya karena berasa nggak ada subjeknya kalo berdiri sendiri.

    Komennya kebanyakan deh kayaknya ini hehehe. Mampir di lapak sebelah yak, aku juga ikut WFT btw (what I found in my locker). Keep writing!

    1. Waaaa makasih atas kritik dan sarannya😀 amat sangat bermanfaat sekaligus membantu ‘-‘)b
      Maaf kalo fiction ini mengecewakan, baru pertama kali nulis ff dark soalnya.-.v /curcol T_T
      Oya kak, aku udh mampir ke lapaknya kakak, aku jg udah meninggalkan jejeak. Tapi karena human eror yaitu aku lupa masukin id, yg keluar tulisannya anonymus.-. Jd kalo menemukan anonymus di komen kaka itu berarti aku .-.v
      Ohya thanks udah mau bacaaaaaa😀

  17. Twisted plot di bagian akhir itu sesuatu hahahahaha. Ini bagus, bikin tegang, dan unik. Unik karena different theme yang Author-nim suguhkan, buat aku tertarik untuk nge-bacanya, even berkali-kali! Okedeh, keep the good job Author!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s