[WFT B] Return [2.2]

Tittle                   : Return

Author                : Lee Hana

Main cast            : Lee Taemin and Kim Jangeun

Support cast       : Park Chanyeol

Genre                 : Hurt, Supernatural, Tragedy and Romance

Length                : Two Shot

Rating                 : PG

“… aku akan merengek pada Tuhan agar hidupmu selalu dibubuhi senyuman, seperti Jangeun yang selalu aku lihat diam-diam ….”

*Return*

Malam telah datang, dan jalan-jalan di sekitar rumahnya pun telah menjadi sangat sepi. Sesekali terdengar gonggongan anjing. Tetapi aku terus saja berbaring di atas kasur ini. Bantal yang menyanggah kepalanya telah dipenuhi dengan air mataku. Air mataku? Ya, ini air mataku, bukan air matanya. Air mata yang keluar melalui matanya dari hatiku. Pandanganku kosong. Aku tidak bisa berpikir. Aku terlalu sedih untuk itu. Tetapi tiba-tiba sebuah suara mendobrak kesadaranku untuk pulih. Itu suara ketukan pintu. Apa itu Eomma? Kenapa dia pulang jam segini?

Eomma? Ya, aku memanggilnya begitu, meski pada hakikatnya dia bukan benar-beanr ibuku. Tetapi ibu dari orang yang tengah aku masuki raganya, Jangeun.

Aku dengan malas beranjak dan membuka pintu. Tetapi mataku yang tengah sembab terbelalak kaget menatap seorang tua yang tengah berdiri dengan tersenyum kepadaku di depan pintu yang baru aku buka untuknya. Siapa orang ini? Tubuhnya bau. Pakaiannya compang-camping. Dan …, dia benar-beanr kotor, meski begitu aku membungkuk hormat kepadanya.

“Bolehkah aku meminta makan, Nak? Aku sangat lapar.”

Aku mengangguk lemah. Aneh, meminta makan malam-malam begini? Tetapi tetap saja aku membiarkannya masuk dan berlindung dalam rumah kecil ini. Tentu saja, aku yang sekarang tidak mungkin tega membiarkan angin malam menerpa tubuhnya yang kurus itu, dan tak tega juga perutnya bersenandung malam-malam begini. Bersenandung? Lucu sekali.

Aku membiarkannya duduk dan melayaninya layaknya seorang tamu. Memberinya makan seadanya, karena sebenarnya aku juga belum makan dan memasak. Ya, aku hanya memberinya semangkuk ramen besar, karena aku pikir dia benar-benar lapar. Dan benar, dia menghabiskannya dengan sangat lahap. Membuatku tertegun ketika melihatnya makan.

“Terima kasih atas makanannya,” ucap lelaki tua itu.

“Cheonmaneyo.”

“Baiklah. Sebagai tanda terima kasih aku akan memberimu satu permintaan.”

Aku mengernyit tak mengerti dalam duduk tenangku di atas bantal duduk.

“Katakan satu hal yang kau inginkan. Aku akan mengabulkannya,” sambungnya.

“Tidak perlu. Kau tidak mungkin bisa,” jawabku lemas.

Dia tersenyum lagi. “Kenapa tidak? Aku yang membuatmu masuk ke dalam tubuhnya, jadi mudah saja aku mengembalikanmu ke tubuh aslimu.”

Aku tersentak kaget. Kepalaku yang sejak tadi tertunduk segera mendongak ketika kata-kata aneh itu menggetarkan gendang telingaku. Mataku menajam ke arahnya beberapa saat dengan napas memburu. Tak lama aku beranjak dan memutari meja pendek ini demi mencengkeram kerahnya kuat dengan kedua tanganku yang sudah dipenuhi urat. Aku benar-benar terlihat seperti wanita gila. “A—apa? Coba ulangi lagi! Kau itu tidak waras, ya?! Kenapa? Kenapa kau lakukan ini padaku?!!”

“Karena Jangeun ingin kau berubah menjadi seperti dulu,” jawabnya cepat.

Cengkeramanku mengendur perlahan; tatapanku mulai berubah tenang dan penuh pikiran; kakiku pun mulai mundur menjauhinya, memberi jarak kecil. Aku pun terdiam.

“Kau sekarang sudah berubah. Taemin beberapa hari yang lalu mana mungkin mau mempersilahkan seorang pengemis masuk ke dalam rumahnya. Apa lagi mau susah-susah membuatkannya makanan,” sambungnya lagi membuatku benar-benar terpukul.

Ini semua demi aku?

“Cepat katakan apa yang kau inginkan! Waktumu tak banyak.”

“Jika benar-benar bisa, bisakah kau juga mengembalikan Jangeun?”

“Aku bilang satu. Kau atau Jangeun yang kembali. Pilihlah dengan bijak!”

Pilihan itu begitu sulit. Mana yang harus aku pilih? Aku begitu ingin kembali, tetapi aku tidak bisa mengorbankannya demi diriku sendiri. Aku tidak bisa melihatnya mati. Tetapi jika dia hidup maka aku akan mati. Lalu bagaimana dengan Appa dan Eomma?

“Aku …, memilih Jangeun hidup,” jawabku mantap setelah lama bergumul dengan pikiranku sendiri.

Dia tersenyum, pengemis itu tersenyum padaku, kemudian bertanya, “Kenapa?”

“Karena aku mencintainya, dan karena …, aku merasa bersalah telah melupakannya dan melukainya.”

“Tetapi Jangeun yang membuatmu seperti ini. Lagi pula dia tidak punya keinginan untuk hidup lagi.”

“Tapi aku ingin dia hidup dan bahagia.”

“Arraseoyo. Sepertinya keputusanmu sudah bulat. Kalau begitu aku akan melakukannya. Sebelum kamu tidur nanti kamu bisa menulis surat untuknya, siapa tahu dia membacanya, karena jika kamu mulai tertidur, maka kamu tidak akan bangun lagi,” ujarnya kemudian tersenyum padaku. Senyuman itu, benar-benar membuatku takut.

Setelah mengatakan itu, pengemis tua itu pergi dan menghilang dalam gelapnya jalanan malam. Setelah kepergiannya, malam terasa begitu sunyi dan menakutkan.

Aku kembali masuk ke dalam kamarnya dan mulai menulis surat. Setelah menulisnya, aku meletakkan tubuhnya di atas kasur. Di saat itu, aku merasa sangat takut. Seumur hidupku, aku tidak pernah setakut ini. Jantungku berdebar begitu keras dan tak bisa berhenti. Meski begitu, aku mulai mengambil napas dalam dan perlahan mulai menutup mataku dengan seluruh keberanian, meski itu justru membuat degupnya semakin kencang. Tak apa Taemin. Tak apa. Kau hanya ingin membayar penderitaannya. Toh, kau takkan merasakan sakitnya. Relakan saja dunia dan lihat dia  tersenyum dari atas sana. Akhirnya, tanpa aku sadari kesadaranku memudar dan mimikku dibubuhi dengan ketenangan. Aku tertidur, atau …, aku sudah mati.

____

Aku berjalan di sebuah jalan yang tidak aku kenal. Sebuah jalan setapak yang pada tepiannya di isi pohon-pohon dengan daun yang menguning. Mereka berguguran di sekitarku. Aku terus berjalan lebih dalam dan menemukan sebuah gerbang besar. Aku membukanya perlahan, dan muncul sebuah cahaya yang sangat terang dari sana, membuatku silau dan  membuatku menutup mata beberapa saat.

Terdengar suara anak-anak kecil berlarian. Mereka tertawa Riang. Beberapa di antara mereka saling menyapa. Cicit burung pun masih terdengar meski agak samar. Semua itu membuatku tergugah untuk kembali membuka mata. Kini, di hadapanku tampak sebuah gedung sekolah dasar serta anak-anak berseragam yang tengah berjalan memasukinya.

 Dari sekian banyak anak yang bisa aku tangkap dengan mataku, ada seorang anak laki-laki sedang berjalan mengambil perhatianku, entah kenapa. Tapi aku rasa aku pernah melihatnya. Di mana?

Aku mengikuti langkahnya dengan kakinya yang pendek bahkan ketika langkahnya tiba-tiba terhenti. Aku memperhatikan anak yang tengah berdiri diam itu. Ia menatap seorang anak perempuan yang sedang berjalan bersama teman-temannya sambil tertawa riang tak jauh darinya. Aku tersenyum melihat ekspresinya. Karena ekspresi itu, adalah ekspresi yang muncul ketika kau jatuh cinta.

Ia kembali berjalan, dan untuk kedua kalinya ia berhenti lagi. Kali ini di depan sebuah kelas. Di sana, ia mengintip dari jendela—melihat anak yang sama—dengan kaki berjinjit karena kakinya yang pendek. Aku pikir dia mirip denganku. Tetapi kejadian ini ….

Di kelasnya ia hanya menaruh tas, kemudian pergi lagi dan aku masih setia mengikuti. Di dalam perjalanannya yang entah ingin ke mana tiba-tiba ia bertabrakkan dengan seseorang. Tepatnya seorang anak perempuan yang aku yakini dia menyukainya. Buku anak perempuan itu jatuh berserakan. Melihat itu sekejap aku teringat diriku saat bertabrakkan dengan Jangeun, kemudian memakinya. Berbeda dengan anak laki-laki itu, ia berjongkok bersama anak perempuan itu— membantunya memunguti buku-buku itu—dan meminta maaf dengan sopan. Hingga pada akhirnya mereka berpisah kembali setelah senyuman manis diberikan si gadis kecil kepadanya.

Au teridam dan terpaku penuh pikiran. Wajahku menyendu dan aku menatap gadis kecil itu. “Jang—Jangeun …. Kenapa kau begitu berbeda sekarang?” gumamku lemas.

____

Aku membuka mataku perlahan. Putih. Ini …., ini kamarku? Aku bermimpi? Pandanganku menerawang pada atap putih di atasku dengan hiasan bola lampu yang masih menyala menerangi ruangan besar ini. Bahkan sepatu dan jaketku pun masih menempel di tubuhku setelah bermain di luar.

Aku menengok ke arah jam bekerku berada untuk melihat jam. Jam sebelas. Aku menatapnya dengan malas lalu menangkap sebuah surat tak jauh tergeletak dari ponselku berada, tepat di atas meja lampu. Aku mengernyit dan duduk. Mengambilnya dan mulai  membaca.

Keinginanmu sudah terkabul ….

Dadaku mulai berdebar lagi dan dengan tiba-tiba pula aku mengingat tanggal yang tertera pada tangal buku diary yang aku baca dan tersimpan jelas di dalam memori otakku, 18-07-2013. Tanggal di mana ia melakukan aksi bunuh dirinya yang bodoh.

Tanpa basa-basi aku segera berlari sekuat tenaga dan menyambar kunci mobilku keluar kamar dengan wajah pucat.

“Jangeun-ssi, tunggu aku …!”

aku berlari dan segera menuruni tangga panjang berbentuk setengah lingkaran dengan cepat dan penuh kepanikan. Semua aku lakukan penuh dengan rasa khawatir dan kepanikan, bahkan ketika aku mulai memasuki mobil sport-ku dan melajukannya pada jalan raya.

Jantungku berdegup-degup tak beraturan. Cepat dan rasanya benar-benar sesak. Berkali-kali aku melirik ke arah arlogiku dan selalu berdoa pada Tuhan agar aku tak pernah terlambat. Ya, aku tak boleh terlambat!

Deru mobilku yang terdengar halus namun keras menghantarkan debu-debu jalanan aspal kota Seoul untul terbang dan menyingkir dari jalanan ketika roda mobilku melewatinya. Beberapa daun yang sama-sama tergeletak di sana pun harus terhempas juga. Dan setiap orang yang aku lewati kendaraannya pun pasti akan brepikir yang menyetir adalah orang gila. Kenapa tidak? Aku menyela jalan mereka dan menekan pedal gas dengan sangat keras. Rasanya …, ini seperti mimpi yang tak kunjung selesai. Karena itu, aku ingin menyelesaikannya …, dengan happy ending.

Tiba-tiba suara dering ponsel terdengar. Itu sesaat membuyarkan konsentrasiku dan mengalihkan sedikit perhatian. Tetapi, dalam keaadaan seperti ini …, itu fatal!

Seseorang tiba-tiba saja muncul di depan mobilku hingga aku harus membuka mata lebar dan membanting setir ke arah ….

“AAAAARGH!!”

Bruk!! Bush!

…. Pagar pembatas jembatan besar ini hingga benda itu harus patah dan dengan berat hati membiarkanku—dengan mobil yang bagian depannya tak lagi rapi—harus menerjang air ke dalam danau besar di bawah kami. Membiarkan diriku basah dan tenggelam dalam dinginnya air, dan rasa sesak di dalam dadaku yang terus memanas. Mataku perlahan mengerjap dalam keadaan ingin membuka pintu mobil yang terasa sangat berat ….

Jangeun …. Aku siap untuk kematian. Tapi …, kumohon! Hiduplah, demi kebahagiaanmu. Aku ingin melihatmu dengan senyuman, meski harus melihatnya dengan jarak yang terlalu jauh, yaitu langit. Meski aku hanya bisa bertemu kembali dengannya dengan bentuk yang tak terjamah, sebagaimana bayangan kosong yang tak terasa akan hadirnya, aku akan menerimanya. Aku sama fananya dengan perasaan cinta. Yang terlihat namun benar-benar ada, dan aku harap kau bisa merasakanku Jangeun. Merasakan ketulusanku …, bagaimana aku bisa begitu mencintaimu … di sana.

____

Seorang gadis tengah menatap tali yang menggantung di hadapannya, dengan mata sembab dan merahnya. Ia baru saja menangis. Dan ia tak mau menangis lagi, karena ia sudah terlalu sakit dan ingin mati. Ya, gadis itu mulai menaiki sebuah kursi panjang yang berdiri tepat di bawah tali tambang itu, dan berdiri di atasnya dengan tangan bergetar.

Jantung-nya berdegup-degup. Tetapi penderitaan hidup membuat tak memberikan sedikit pun kesempatan pada keraguan agar terbersit di dalam hatinya yang sudah penuh dengan luka dan goresan. Dengan sangat berani ia mulai meraih tali itu dan mendekatkannya pada kepalanya.

Tok! Tok! Tok!

Gadis itu menegang kaku dan berhenti bergerak. Tetapi ia tidak segera bergeser dari tempatnya dan hanya diam—dalam pandangan kosongnya yang dipenuhi kesedihan—hingga beberapa saat kemudian.

Tok! Tok! Tok!

Ketukan kedua terengar, tetapi kali ini ia lebih memilih untuk acuh. Tidak! Dia tidak ingin semuanya berhenti di sini dan harus melanjutkan kesengsaraannya. Tidak!Karena itulah …, ia semakin berani untuk mendekatkan kembali tali yang sejak tadi di genggamnya.

Bruk! Derap langkah terdengar cepat dan ….

“Argh!” pekiknya ketika seseorang menarik tangannya hingga ia harus terjerembab di atas lantai kayu kamarnya sendiri. Ia mendongak menatap wajah marah si laki-laki.

“Apa yang barusan ingin kau lakukan? Apa kau ingin mati dan meninggalkanku?!!” teriaknya dan diakhiri dengan deru napas yang tersengal. Wajahnya merah, dan matanya terbuka lebar. Pada akhirnya mata itu pun harus berlinang dan meneteskan air matanya, sedang gadis itu masih tertunduk dalam keterpurukannya.

“Hiks! Hiks!” Suara tangis pun akhirnya pecah diiringi percikan-percikan kecil mutiara bening yang telalu sering keluar itu, dan begitu mudahnya keluar bagai sesuatu yang tak harus dilindungi.

Namja itu segera bersimpuh dan memeluknya. “Andwe! Jangan mati …, Jangeun-ssi!”

 

Ia melepaskan pelukannya dari si gadis dan melihat wajahnya yang terlihat lebih tenang.

“Tae—Taemin-ssi,” panggilnya dengan lemah lalu tersenyum.

Namja itu menatap terkejut ketika ia menyebut nama itu. Jantungnya melompat keras. Tetapi ia hanya diam dan tetap menatapnya dalam kesunyian dan cahaya temaram yang menyelimuti mereka.

“Taemin-ssi, tolong jangan lukai aku lagi!” gumamnya lemah dalam keadaan mulai hilang kesadaran. Matanya mulai mengatup dan ia harus rela tubuhnya tergeletak begitu saja di atas lantai dingin yang menusuk kulit.

“Jangeun-ssi!!”

____

Gadis itu membuka matanya perlahan. Semua terlihat sama. Perasaannya, atau apa yang kini ada di ruangan kecil itu, kamarnya. Sunyi, gelap, dan senyap …, serta rasa dinginnya.

“Mimpi,” gumamnya lemah.

Ia menyibak selimut tipisnya dan mulai berjalan dengan langkah gontai seraya memegangi kepalanya yang terasa berdenyut. Ia pergi ke kamar mandi dan bersiap untuk melanjutkan hidupnya yang melelahkan.

Gadis berwajah sendu itu menatap dirinya yang tengah mengikat dasinya di leher. Menatap dirinya yang sama saja menyedihkannya pada cermin panjang di hadapannya. Tetapi ….

Deg’

Pantulan yang tak seharusnya ada muncul di sana—tepat di belakang samping dirinya—sambil tersenyum. Ia segera berbalik dan melihat ke belakangnya. Namun …, tak ada siapapun. Jantungnya mulai berdegup tak normal. Tenggorokannya pun mulai terasa tercekat. Ia terdiam sambil menelusuri isi kamarnya dengan matanya dan mulai khawatir.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pintu mengalihkan perhatiannya. Ia menepis pikiran yang tak mungkin, dan lebih memilih keluar dari kamar dan pergi menuju pintu rumahnya yang terbuat dari kayu polos itu. Di sana, ia melihat seseorang tengah tersenyum ke arahnya. Ia menatap wajah itu dengan terkejut.

“Selamat pagi!” sapanya riang.

“Park—Chanyeol?” ujarnya hampir tidak terdengar.

“Kau sudah baikan?”

“Mwo?”

 

“Coba sini aku lihat!” ucapnya lalu menyentuh dahi Jangeun bersamaan dengan sentuhan tangan yang lain pada dahinya sendiri. Dia terdiam dalam posisi itu  beberapa detik sebelum gadis berwajah sendu itu menepisnya dengan kasar.

“Apa yang kau lakukan?” tanyanya kasar.

“Mi-mianhaeyo. Aku hanya mengecek suhu tubuhmu saja. Tadi malam kau demam, meski sekarang sudah membaik. Tapi, apa baik-baik saja jika kau pergi ke sekolah hari ini?”

“Mwo?”

Jangeun terdiam dalam tatapannya yang penuh pikiran ke arah wajah manis di hadapannya. “Jadi, tadi malam aku tidak bermimpi?”

“Mimpi? Mimpi apa?”

Dia tidak menjawab dan terus sibuk terdiam.

“Hari ini kau jangan berangkat dengan sepeda, ya? Aku takut kau akan jatuh di jalan. Aku akan menemanimu naik bus.”

____

Jangeun masih saja membuka bukunya dalam diam, bahkan ketika tubuhnya bergoyang-goyang akibat guncangan dari trasportasi beroda empat yang ia tumpangi dengan seorang namja di sampingnya. Ia menutup bukunya kemudian, ketika mereka telah sampai pada halte tujuan.

Dalam langkahnya ia tetap saja diam. Dan ketika memasuki pekarangan sekolah, pandangannya terlihat bingung. Karena …orang-orang itu.

“Jangeun …,” panggilku lemah.

Ia yang terdiam di tempatnya segera memasuki kelasnya. Di sana—di ambang pintu—matanya membulat lebar ketika ia menangkap fotoku terpampang jelas di atas meja di depan papan tulis. Hatinya yang rapuh pun mulai terpukul lagi karena telinganya yang mendengar tangisan dari beberapa anak di sana. Tak luput matanya, karena semua orang itu mengenakan pakaian hitamnya. Sedangkan aku yang berada di sampingnya hanya bisa mantapnya sendu dengan wajah pucatku.

“Jangeun …,” panggil kulirih. Tidak! Sekali pun aku berteriak tak ada yang bisa mendengarku.

“Taemin …,” lirihnya, kemudian terisak dalam tangis yang kembali pecah.

Tubuhnya melemas, dan seketika ia terjatuh dari tempatnya. Bruk!

“Jangeun!!” pekik seseorang di sampingnya yang sedari tadi hanya memandangi pemandangan memilukan hati ini dengan mimik keterkejutannya.

Ia segera berjongkok dan memegangi kedua bahu Jangeun yang sudah naik turun, dan mengatakan kata-kata lembut yang membuat aku cemburu. Sedangkan aku …, hanya tetap berdiri di sampingnya dan mulai menangis mengikuti hatiku yang menagis lebih dahulu.

“Jangeun …, Jangeun …, Jeongmal! Jeongmal, jangan menangis! Jangan menangis lagi karena aku! Jeongmal Mianhae!” pintaku lirih.

Aku di sini untuk melihatmu tersenyum dan tertawa, bukan seperti ini. Sekarang, bagaimana bisa aku meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini? Katakanlah, wahai Jangeun! Apa yang harus aku lakukan agar kau merasa bahagia?

____

Jangeun terbaring dalam sebuah ruangan yang menutupinya dari pandangan orang karena tirai putih di sisi ranjang yang ia tiduri. Matanya merah dan sembab, tak lagi mengeluarkan air mata meski diam kembali hadir dalam dirinya.

“Taemin …,” lirihnya lagi.

“Andai kau bisa mendengarku, Jangeun,” ujarku yang kini tengah berdiri tepat di sampingnya. Dengan ragu-ragu tanganku yang dingin mulai mengulur dan secercah harapan muncul ketika kucoba meraih kepalanya—berharap bisa memberikan usapan lembut—meskipun pada akhirnya pupus juga. Tangan bodoh ini, bahkan tak bisa menjamahnya. Hanya menembus bagai angin yang tak berarti.

Sreeek! Suara terdengar beriringan dengan tirai yang terbuka dan bergeser ketika seseorang menyibaknya dengan tangan kiri. Sedangkan tangan yang lain sibuk memegang segelas minuman, Jangeun masih belum tersadar dalam muramnya.

Namja itu duduk di tepi ranjang dan mulai memegang dahinya lagi. “Agak hangat,” gumamnya. Dan untuk kali ini, dia tak lagi menepisnya. Memang seharusnya begitu, meski nyeri di dadaku. Tapi seharusnya memang begitu, kau harus membiarkan orang lain menjagamu. Aku tahu …, dia memang tulus menyukaimu.

“Ayo, bangun! Aku sudah bawakan obat untukmu. Kau harus minum, ara?”

“Biarkan saja aku sendiri, Chanyeol! Aku ingin sendirian.”

“Aniyo. Kau harus minum obat. Kau harus sehat,” sanggahnya.

“Tak usah peduli padaku.”

“Bagaimana bisa …? Jangeun, seberapapun kau terluka karena kepergiannya, kau tak boleh menyiksa dirimu sendiri. Seberapapun kau mencintainya, tak boleh kau lebih mencintainya dari dirimu sendiri. Karena …, karena hidup akan terus berlanjut. Dan …, karena tak hanya dia yang mencintaimu di dunia ini,” ujar Chanyeol lalu terdiam sesaat dalam tundukkannya yang muram.

Tak lama, ia segera menatap Jangeun lagi yang ternyata tertegun karena ucapannya. Anak laki-laki itu menampakkan senyum tipis dan manisnya seperti biasa—agar tampak tegar—meski aku tahu, hatinya telah patah berkeping-keping. Anak ini …, dia sangat baik. Bahkan lebih baik dari yang seharusnya. Dia lebih baik dariku.

“Ayo, mium obat!” pintanya lagi dengan nada riang.

Jangeun bangkit dari tidurnya dan terduduk, dan Chanyeol membantunya. Dia menyanggah punggung lemahnya dengan tangan kiri, dan memberikan minum dengan tangan kanannya. Aku lihat dia tersenyum tipis. Senyum yang miris.

“Kenapa bukan aku …?” gumamku lagi, lalu wajahku semakin menyendu. Aku pun lebih memilih pergi dan menghilang di sana.

“Gomaweo.”

 

“Cheonmaneyo,” jawab Chanyeol dengan segurat rasa syukur dalam mimiknya.

“Chanyeol-ssi, boleh aku bertanya?”

“Ne?”

“Malam itu, kenapa kau bisa di rumahku?”

“A, ne! Aku hampir lupa! Ini,” ucapnya lalu segera memberikan secarik surat yang ia simpan pada saku kemeja putihnya. Meski ragu dan bingung, Jangeun mengambilnya.

“Malam itu ada seorang Ahjussi datang ke rumahku. Dia berpakaian lusuh seperti pengemis. Dia memintaku memberikan surat itu padamu saat itu juga.”

Jangeun tak berucap, lebih memilih segera membuka secarik kertas itu dengan sedikit penasaran, dan ia mulai membaca ….

Jangeun, aku minta maaf karena aku sudah banyak melukaimu. Dan, jangan mencoba untuk bunuh diri lagi, ara? Hiduplah dengan senyuman. Aku yakin kebahagiaan akan segera datang padamu. Mungkin, aku sudah terlambat mengatakan ini, dan mungkin aku tak punya kesempatan untuk mengatakannya di hadapanmu. Bicara dan tersenyum padamu. Maaf …. Maaf karena aku sudah melupakanmu. Maaf juga, karena aku telah menghancurkan hatimu. Sejujurnya, sejak dulu aku telah jatuh cinta padamu, Kim Jangeun. Jatuh cinta bahkan sebelum aku bisa benar-benar mengenalmu …, enam tahun yang lalu. Selamat tinggal dan bersabarlah hingga kebahagiaa itu datang. Di sana, aku akan merengek pada Tuhan agar hidupmu selalu dibubuhi senyuman, seperti Jangeun yang selalu aku lihat diam-diam enam tahun yang lalu.

Jangeun terdiam dan ia mulai meremas dadanya yang nyilu. “Sakit!” lirihnya.

“Jangeun-ssi, gwenchanayo?!” tanya Chanyeol mulai panik, tetapi Janguen masih terdiam dalam tundukkannya.

____

Appa, tadi malam aku bermimpi aneh. Tadi malam aku bermimpi Taemin mencintaiku. Dia bilang ‘saranghaeyo’ sambil tersenyum seperti dulu. Tangannya yang menggenggam tanganku terasa sangat hangat bagai rajutan benang yang halus di dalam dinginnya malam. Seperti api unggun di musim dingin. Pada akhirnya dia berkata ‘maaf’ berulang kali, lalu menangis dan menangis. Lalu menghilang lagi. Appa, apa sekarang dia ada bersamamu di sana?

………………

Jangeun terjongkok seraya menyanggah dagunya di atas lutut. Matanya terus saja menatap ke arah nisan yang mencatut namaku pada permukaannya, tapi kali ini dia tidak lagi memangis. Hanya diam dalam raut muka muram. Dia pun tak berkata barang sepatah. Hanya terus di sana dalam beberapa lama.

“Jangeun …. Jangeun-ssi,” panggilku.

Seketika kepala Jangeun terangkat. Matanya bergerak-gerak seperti menebak-nebak, sedetik kemudian ia segera berbalik menghadapku. Kini, tatapannya berubah, menjadi tak percaya. Seperti takjub. Ia melihatku tengah berdiri di hadapannya dalam jarak yang cukup jauh.

“Jangeun-ssi!” panggilku lagi. Kali ini lebih keras dan lebih riang.

“Tae—Taemin-ssi …,” jawabnya lemas lalu bangkit menghadapku. Berdiri dalam tatapannya penuh kepadaku.

Aku tersenyum kepadanya. Tersenyum dengan lebar, seakan memberitahu bahwa aku taka pa-apa. Bahwa aku bahagia. “Jangeun-ssi, gwenchanayo?”

“Gwenchanayo?” gumamnya.

Aku mulai melangkah mendekat hingga jarak itu bisa memungkinkanku untuk meraihnya. “Gwenchanayo? Katakan kalau kau bak-baik saja!”

Dia tidak menjawab, meski pada dasarnya itu adalah jawaban, bahwa ia tidak baik-baik saja. Ia menjawanya dengan tundukkan lemah.

“Mianhaeyo ….” Lirihku sakit lalu mulai meneteskan air mataku. Itu tidak cukup. Dia masih diam. Dia mendiamiku.

“Mianhaeyo …,” pintaku lagi, dan kali ini pun dia memberikan respon yang tak jauh berbeda.

“Jeongmal mianhaeyo!” ungkapku dengan penuh penekanan dan hampir terdengar seperti teriakan. “Jeongmal mianhaeyo …, Jungeun-ssi! Saranghaeyo ….”

“Hiks! Hiks!” Aku hampir tak mendengar tangisannya, tapi dengan begitu jelas aku lihat bahunya yang naik turun.

“Pabo …. Pabo …. Mianhaeyo,” ujarnya hampir seperti membentak lalu ia menunjukkan wajahnya yang basah oleh air matanya yang terus saja meluncur cepat pada permukaan kulitnya. Seperti air terjun yang mustahil untuk berhenti, bahkan ketika kemarau datang.

“Saranghayeo,” lanjutnya lirih.

Aku segera melangkah maju dan memeluknya dalam tangisku dan tangisnya. Aku mengenggelamkan kepalaku pada bahunya. Mencium aromanya sekuat yang aku bisa. Aku mendekapnya sekuat yang aku bisa. Sebelum, aku harus benar-benar pergi menghilang darinya …, seperti angin.

Jangeun membuka matanya beberapa saat kemudian—setelah ia tak bisa merasakan apapun menyentuh tubuhnya lagi. Atau rasa hangat yang dirasakan hatinya. Semua kembali menjadi dingin …. Meski pada musim sekarang matahari harusnya sangat royal akan teriknya.

Dia—orang yang sangat kucinta—hanya terdiam menerima sengatannya. Jangeun, bisakah kau hidup dengan bahagia? Aku akan merengek pada Tuhan agar kau selalu mendapatkan kebahagiaan, dan mendekap kuat tangan appa-mu ketika ia terlau rindu padamu, meski pun aku tahu, kerinduan ini takkan pernah habis sebelum kau juga bisa berkumpul bersamaku di sini …, suatu hari nanti, meski dengan sosok yang renta dengan rambut putihmu.

The End

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

16 thoughts on “[WFT B] Return [2.2]

  1. Sedih…😥 ujung2nya Taem meninggal. Hiks.

    Masih byk typo sih, hehe. Oh iya, sedikit masukan. Kalau habis tanda ‘…’ itu ga pake tanda koma setauku. Yah, g tau lagi deh, aku g terlalu ngerti eyd wkwk #plak

    Keep writimg ya😉

  2. mati juga akhirnya .___.
    aku tinggal komentarin ceritanya, ya.. soalnya kan soal penulisan udah dikomen di part sebelomnya dan kurang-lebih sama dengan yang part ini..
    ceritanya agak membingungkan.. banyak bagian yang bolong di tengah, jadi kayak gak bisa nangkep keseluruhan.. well, taemin emang pernah suka jangeun, tp lantas dia langsung berubah drastis, cinta sampai rela nyawanya dituker🙄 IMHO, pertama, agak susah diterima secara realistis, kedua, kurang penjabaran tentang alasan taemin sampai mau ngelakuin itu..🙄 terus entah kenapa aku gak dapet feel “hurt” yang ada di genrenya.. malah aku berasanya, bagian yang pas taemin udah mati, kayak dipaksa menimbulkan kesan sedih..😕 entah karena ada yang kurasa dituliskan berlebihan atau karena aku gak bisa fokus dengan kesedihan yang mau disampaikan..
    well, keep writing, hana🙂

    1. ih, eon, sebenernya ini cerita sequel. memang terlalu banyak hal yang aku ubah-ubah dari cerita aslinya. jadinya begini deh. maaf, ya eon. Ya, maksudku itu Taemin begitu karena rasa bersalah, cinta, dan sifat jangeun yang udah ubah dia hingga dia merasa berhutang budi. entah itu nyampe nggak sama eonnie. masalah feel, aku itu cacat. khususnya romance. jadi aku nggak bisa komentar masalah feel klo genre itu sendiri romance, selain itu mungkin bisa.
      thx ya eon masukkaannya.
      oh, ya. masalah eyd itu. emang bener. tapi aku emang niatin bagian yang titik empat itu adalah akhir kalimat. akhir kalimat kan nggak harus berakhir pada ujung paragraf kan? ya, itu sih pemikiran aku sendiri sih. aslinya kurang tahu.
      makasih dah mampir.

    1. mengharukan? #eh.
      ya udahlah, sekali lagi aku nggak bisa komentar masalah feel. maaf.
      tapi makasih dah komentar ya.

    1. apa yang dilanujutkaaa? udah selesai.
      mungkin di lain cerita. baca ceritaku yang lain, ya? #ff maksudnya. (lotus)

  3. Omo taemin nya meninggal😥
    Sedih ending nya tapi sweet nya dapet. Pengorbanan untuk seseorang yg kita sayangi dan untuk menghapus penderitaan yang sebagian adalah karna kita. Nyampe banget itu feel nya ke aku eon.

    Keep fighting yaa eon ! Lee Hanna jjang !!!!

    1. ya, ampuuuun! ff abal-abal kayak gni bisa bikin nangis orang?
      maaf, ya buat kamu nangis.
      makasih pujiannya, makasih juga komentarnya.

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s