[WFT B] Butterfly – Part 4

Title                 : Butterfly (4 of 5)

Author             : Bella Jo

Main Cast        : Lee Taemin (SHINee) | Kuroi Ageha (OC)

Support Cast   : Other SHINee members

Length             : Sequel

Genre              : Romance, Fantasy, Tragedy, Action, Supernatural

Rating                         : PG 15

Summary         :

“Memutar waktu hanya membuat kekacauan seperti ini….”

A.N                 :  the fourth part is out! Need your comment, please~

BUTTERFLY

BY BELLA JO

Malam mengalirkan angin dingin, sedikit berbanding terbalik dengan udara panas siang. Taemin menatap jauh ke atas langit dari atap apartemennya. Sudah sangat lama sejak terakhir ia menginjakkan kaki ke tempat itu. Ia ingat berbagai kenangan di tempat itu. Salah satunya adalah saat di mana ia mengetahui identitas Key sebagai iblis bernama Keyx. Lelaki itu menenggak bir yang ada dalam genggamannya. Ia butuh angin untuk menyegarkan isi kepalanya dan kamar bukanlah tempat yang tepat untuk itu. Pemandangan kota Seoul tak terlalu tampak jelas dari sana, namun kilau cahaya masih dapat terlihat. Ia tersenyum kecut.

“Oh, kau ada di sini?”

Taemin menoleh ke arah asal suara dan mendapati seorang Kin Kibum tengah berjalan ke arahnya. Pakaian Key tetap trendi seperti biasa walau si empunya sendiri mengatakan bahwa itu hanyalah piyama untuk tidur. Taemin tersenyum kecil dan menyahut, “Kau rupanya, hyung…”

“Bir?” tawar Taemin. Ia memunculkan sekaleng bir dalam sekejap. Key meraihnya dan berkata, “Thanks.”

Keduanya menatap langit yang mulai menunjukkan tanda-tanda berawan. Angin semakin dingin dan Taemin merapatkan jaket yang membalut tubuhnya. Pikirannya melayang bersama arus angin, tak tau ke mana. Tatapannya kosong ke arah pemandangan kota sementara bibirnya menghisap isi kaleng birnya sesekali. Key meliriknya namun tak berkomentar. Ia dapat merasakan energi negatif Taemin.

Hyung…,” panggil Taemin pelan, “dari mana kau tau tentang Gaehwa noona ?” Matanya masih memandang sendu pemandangan kota. Key menyesap birnya, ia menjawab, “Dari pikiranmu. Tapi aku masih belum tau sepenuhnya, hanya berupa kepingan memorimu yang belum tersusun sempurna.”

“Oh…”

“Kupikir itu tidak lagi penting untukmu yang sekarang. Apa aku salah?”

Taemin tercenung, ia berpikir sesaat lalu berujar, “Entahlah, aku juga tidak tahu. Gaehwa noona tidak pernah lepas dari pikiranku…” Taemin berbalik, menyandarkan tubuh pada pagar pembatas sementara sikunya bertumpu pada pagar pembatas. Ia menatap langit kelam yang terbentang luas. “Dia orang pertama yang memperlihatkan betapa besar rasa cinta yang dapat dimiliki untuk orang lain, untuk kekasih yang disayang. Ia selalu tersenyum bangga saat bercerita tentang hubungan romansanya, seakan ingin membuat iri setiap pendengarnya. Dia noona yang paling kusayang, noona yang paling kucinta. Noona yang selalu kedoakan kebahagiaannya….”

Key menatap miris kondisi adik sekelompoknya itu. Ia ikut bersandar diri seperti Taemin, “Dan sepertinya ia mencintai orang yang salah?”

“Ya, tebakanmu benar, hyung…,” Taemin menatap lantai tempatnya berpijak. Ia menggeram menahan gejolak emosi yang muncul. Dari sela-sela giginya ia berujar, “Ia benar-benar mencintai laki-laki yang salah…

“Gaehwa noona rela memberikan apapun untuk menopang usaha laki-laki itu, mulai dari uang tabungan hingga perhiasannya. Ia juga rela melakukan banyak pekerjaan sambilan agar memenuhi jumlah uang yang dibutuhkan lelaki sialan itu. Alasannya klise, demi masa depan mereka. Hahaha… noona sudah benar-benar terhanyut bujuk rayu busuknya. Mungkin saat itu noona masih terlalu muda, makanya ia masih berlaku polos seperti itu….

“Di sela kegiatannya noona menyempatkan diri belajar sihir, ajaran yang sudah turun-temurun di keluarga kami. Ia penyihir yang hebat. Namun sihir manapun tak bisa menciptakan uang ataupun mengubah hati manusia. Sihir merupakan kemampuan mencipta yang terbatas. Gaehwa noona mulai berkenalan dengan salah satu iblis, menjalin hubungan saling menguntungkan dengan si iblis. Si iblis membantunya meningkatkan kemampuan sihir, sementara Gaehwa noona memberikan energinya untuk menjadi makanan iblis itu…

Taemin mengepal erat telapak tangannya. Ia merasa amat marah saat mengingat hal yang selanjutnya terjadi. Kaleng bir yang ia genggam remuk begitu saja, menumpahkan isinya yang masih tersisa. Dan ia melepmpar kasar kaleng minuman itu begitu saja.

“Biar kutebak, laki-laki itu jahat, menipunya, mengambil uangnya, dan pergi begitu saja?” Key kembali mengeluarkan analisisnya. Cerita Taemin cukup untuk membuat sebuah perkiraan umum. Taemin menatapnya penuh amarah, “Bukan hanya itu! Saat Gaehwa noona mengejarnya untuk meminta penjelasan, ia malah bersenang-senang dengan gadis lain menggunakan uang yang dihasilkan noona! Ia memangil teman-teman bejatnya, membiarkan mereka memerkosa noonaku, sementara ia melihat semua kejadian itu sambil tertawa-tawa senang!!” Taemin mengeluarkan teriakan frustasinya dan kemudian ia jatuh terduduk di atas lantai. “Pria sialan… dia benar-benar menghancurkan noonaku hingga ke tulang-tulangnya… dia menghancurkan gadis yang penuh kebahagiaan itu dan membuangnya begitu saja…”

Dada Taemin begitu sesak saat menceritakan semua itu. Ia ingin sekali kembali ke waktu itu, menemui pria sialan itu, dan mencabik-cabik tubuhnya sebelum pria sialan itu mengenal noonanya. Noona yang ia sayang harus hancur di tangan pria rendahan seperti itu, sungguh memuakkan. Namun hal yang paling ia sesalkan adalah dia tidak ada di sana untuk menollong Lee Gaehwa saat itu…

“Jika dilihat dari keping memorimu, Gaehwa-ssi melakukan perjanjian dengan iblis? Tidak, bukan perjanjian biasa… perjanjian yang berbayar jiwa?”

“Ne, noona yang benar-benar hancur melakukan perjanjian dengan iblis itu. Ia meminta si iblis memberi penderitaan yang paling menyakitkan hidup si brengsek itu, penderitaan yang bahkan menembus kulit dan ulu hati terdalamnya hingga ia sengsara dan tamat di tangannya sendiri. Jiwa noona akan menjadi milik si iblis saat dia sudah mati, namun noona yang merasa tak ada gunanya lagi untuk hidup memilih untuk mengakhiri hidupnya. Ia merasa kotor dan tak berguna… noonaku yang malang… Ia memilih jalan itu karena cintanya sudah berubah benci, berubah menjadi dendam yang perlahan menggelapkan hatinya… Karena itulah aku tidak mau jatuh cinta… Aku tidak mau merasakan hal yang sama dengan Gaehwa noona…”

“Dari mana kau tau semua kejadian itu?”

“Aku membaca buku harian Gaehwa noona, selebihnya aku melihat sendiri dengan bantuan sihirku…”

“Oh,” hanya itu tanggapan dari Key. Matanya menyipit, merasakan keberadaan orang lain yang mengganggu pembicaraannya dengan Taemin. Genggamannya pada kaleng bir mengeras, meremukkan benda yang masih beriskan setengahnya itu. Taemin masih tampak terpuruk di tempatnya, tidak menyadari apapun yang kelihatannya akan segera terjadi.

Hyung, apa kau percaya pada cinta?” tanya Taemin, membalik pertanyaan yang sempat dilontarkan Key padanya dulu. Iblis berwujud manusia itu tersenyum tipis ke arahnya, perlahan matanya berubah merah. “Iblis tidak pernah mengenal cinta, Lee Taemin. Kami hanya mengenal obsesi dan nafsu, cinta sama sekali tak berharga untuk kami dan kami tidak ditakdirkan untuk merasakannya. Kami hanya menggunakannya sebagai salah satu cara untuk menjatuhkan manusia,” jawab Key dengan nada datar, terkesan dingin. Taemin mengernyit alis, tidak senang akan jawaban Key. Namun iblis itu melanjutkan, “Tapi sepertinya perasaan itu menarik untuk dicoba.”

DOR

Taemin terbelalak. Peluru itu melesat di depan matanya, walau meleset dan mengenai dinding dingin tempat Taemin bersandar. Key tampak maklum dengan keterkejutan lelaki muda itu, senyumnya semakin lebar. “Saatnya menggunakan bantuan sihirmu lagi, bukan?”

“Jangan bergerak!!” ucap sebuah suara parau. Tampak muncul beberapa orang dari balik dinding, melompati pagar dan berjalan pelan ke arah mereka. Mulut pistol yang mereka genggam mengarah tepat pada Key dan Taemin. Wajah mereka sangar tak bersahabat. Tiap langkah yang mereka ambil menghasilkan suara gemericing yang Taemin kenal.

Key tertawa cekikikan, seakan mendengar hal paling menggelikan sedunia. Ia memiringkan kepalanya dan menatap rendah kumpulan orang itu. “Kalian tahu, zaman sekarang ini peraturan dibuat untuk dilanggar. Jika kau berkata seperti itu, justru kami akan semakin melawan.”

“Diam kau, Iblis tengik!” ketus salah seorangnya. Mereka semua membawa pistol dengan jenis yang sama, Bloody Rose. Key malah semakin geli melihatnya, “Kalian salah membawa senjata untuk melawanku. Itu untuk melawan vampire, bukan iblis.” Iblis itu memandang wajah-wajah yang ada di sana dengan mata merahnya lalu ia berkata, “Ah, aku tau siapa kalian…”

“Kami hunters. Tugas kami untuk memburu iblis dan kawanannya, termasuk penyihir dan makhluk lain yang bersekutu dengannya. Dan kalian berdua, Lee Taemin, Kim Kibum, masuk ke dalam daftar buruan kami,” jelas salah seorangnya. Suara lelaki itu terdengar geram dan penuh tekanan. Taemin mengenali suara tersebut, suara pria yang menyerangnya tadi siang! Penyihir muda itu melangkah mundur perlahan.

Key membisikkan sesuatu pada Taemin dan lelaki bertubuh ramping itu pun menghentikan langkahnya. Ia memandang kawanan di hadapannya takut-takut. “Lalu apa yang kalian inginkan?” tanya Key lagi. Ia menarik tangannya ke belakang, menyentuh tangan Taemin yang telah menantinya. Taemin melukai jarinya dan menggambar simbol pentagon di tangan Key. Simbol itu mengeluarkan cahaya kemerahan.

“Nyawa kalian!” sahut kawanan hunters itu tajam. Sedetik kemudian mereka mulai menyerang. Key langsung kembali pada wujud iblisnya, melayang tinggi dan memajukan tangannya ke depan. Simbol pentagon itu berubah besar dengan cahaya kemerahan yang tampak jahat. Simbol itu mengalirkan kekuatan pada penyihir muda yang menggambarnya. Aliran energi itu menyeruak masuk ke tubuh Taemin, memenuhi raganya dan merasuki jiwanya. Key berteriak tak sabar, “Sekarang, Taemin-ah!!”

DOR DOR DOR

DOR DOR DOR

Rentetan suara tembakan terdengar ramai. Heningnya malam berganti riuh, membuat penduduk kota Seoul mempertanyakan asal suara itu. Namun peluru-peluru yang ditembakkan sama sekali tak menembus apapun, mereka tertahan udara yang bergenti mengalir. Taemin menangkupkan tangannya untuk menahan laju benda-benda kecil itu, ia menarik nafas dalam-dalam dan menghentakkan tubuhnya dengan keras. Peluru-peluru tersebut terlontar kembali pada si penembak, menyebabkan suara rintihan dan teriakan dari para hunters.

“Kau urus sebagian!” ucap Keyx dari kejauhan. Sebenarnya ia bisa saja menghabisi semuanya dengan sekali sapuan tapi tidak asyik jika tidak memberika rasa sakit yang dalam pada korbannya. Taemin menoleh cepat dan mengangguk tegas. Mulailah malam pertempuran mereka.

DUAR DUAR

Taemin melayangkan tinjunya ke udara, menyebabkan lawannya terbanting tak tentu arah. Ia mengarahkan tangannya pada air kolam kecil yang terletak di sudut atap. Tetesan air terangkat dari kolam dan berubah menjadi kristal-kristal tajam. Dengan mengarahkan tangannya pada lawan, kristal tersebut meluncur cepat menembus tubuh lawan, menyebabkan cipratan darah deras diseratai erangan memenuhi udara. Bau anyir menusuk hidung, mengatakan bahwa suasana kian panas.

DOR

Taemin langsung menghindar gesit. Ia menghentakkan kembali tangannya ke arah lawan, menyebabkan ledakan-ledakan kecil yang mampu melukai tubuh lawannya.

“Kau lengah, penyihir bodoh!”

Taemin membelalakkan mata, suara itu terdengar dari belakang punggungnya. Sebuah tebasan pedang tajam menyayat kulit punggungnya. Laki-laki itu jatuh tersungkur dan terseret beberapa meter. Taemin mulai berpikir, apa ini akhir segalanya?

Keyx sibuk menyerang lawannya dengan pedang hitam kesayangannya. Lama-lama ia bosan dengan suara dentingan pedang dari permainan yang dipermudahnya. Dalam sekejap ia mempercepat gerakannya dan lawannya jatuh tersungkur bersimbah darah. Beberapa orang lain tampak baru tiba, mereka melompati pagar pembatas dan langsung bersiap menghadapi Keyx. Iblis itu menguap lebar, pura-pura kaget melihat lawan-lawan barunya. “Oh, ada lagi? Kalian benar-benar mirip cicak, merayap di dinding hanya untuk merusak hariku.”

Keyx menyimpan kembali pedangnya, wajahnya memandang terang bulan yang menyinari malam. Wajah itu mulai ditutupi bayangan, meningalkan kilau mata merah dan taring tajam yang menyembul di balik bibir tipisnya. “Aku bosan dengan permainan ini. Kita akhiri saja.”

Cakar-cakar kehitaman memanjang dari ujung jari-jari iblis berpakaian elegan itu. Para hunters yang melihatnya menelan ludah menahan takut. Mereka berusaha untuk tidak gentar, namun di sisi lain mereka juga tau apa yang akan terjadi jika terkena goresan kuku-kuku itu. Keyx tersenyum menyeringai, semakin memamerkan taring-taringnya yang mengerikan. Bola matanya berkilat-kilat.

Bye bye.”

Cakar diayunkan dan suara gaduh semakin membelah malam. Angin bertiup tajam menyayat dan membelah semua hal yang menghalangi ruang geraknya. Daging tercabik, tumbuhan terbelah dan air memercik lirih. Batu-batu terlempar dan semakin hancur disayat angin. Tubuh lawan yang terkena dampak cakarnya membiru dan perlahan membusuk. Sementara itu si iblis tertawa lepas melihat lawannya yang sudah berjatuhan tanpa daya. Matanya melirik sisi yang sengaja tidak ia kenai dan di sana terbaring Taemin yang merintih perih menahan rasa sakitnya.

“Kau harus mengutuk takdir yang menjadikanmu sebagai penyihir, yang menjadikanmu target kami,” ucap pria hunter yang menyerang Taemin, pria yang juga menjadi pelaku penyerangan tadi siang. “Dan kau harus memohon maaf pada setiap orang yang berharga bagimu karena kau hanya akan membahayakan mereka saat kami mengejar dirimu.”

DEG

Nafas Taemin tertahan. Ia kembali ingat kejadian tadi siang. Ageha, ia sudah membahayakan Ageha dengan membuat gadis itu turut lari bersamanya. Jikapun Taemin dapat menghindari kawanan hunter itu kali ini, tak ada jaminan ia dapat menghindari mereka di lain waktu. Bagaimana jika hunters itu menculiknya dan menjadikannya umpan untuk menangkap Taemin? Bagaimana jika itu sempat terjadi di sisa waktu hidupnya yang berharga? Jangan-jangan Ageha malah akan meninggal karena Taemin? Ia tak mau itu terjadi.

Bagaimanapun Ageha sangat berharga. Dan tiba-tiba Taemin sadar bahwa gadis itu juga terlalu berharga untuk ia miliki.

“Bersiap-siaplah memasuki neraka!!”

TIDAK! TIDAK SEKARANG!

Taemin mengeluarkan sisa-sisa tenaganya dan melompat berdiri sekuat tenaga. Kepalanya menghantuk keras tubuh pria itu hingga si pria jatuh tersungkur. Pedang pria itu lepas dari tangannya, terlempar beberapa meter tak jauh darinya. Taemin menghentakkan tangannya ke arah pedang itu dan benda tajam tersebut semakin terlempar jauh. Taemin menatap dingin pria yang sekarang akan menjadi korbannya. Perlahan ia mengarahkan kedua tangannya pada pria itu, mulutnya membacakan mantra-mantra dengan suara rendah. Tubuh pria itu terangkat ke atas, ia berontak keras dalam prosesnya. Taemin tak mempedulikan itu dan perlahan menggerakkan kembali tangannya. Tubuh pria itu terbungkus lapisan es, dan tubuhnya juga berubah sekeras es. Ia menatap Taemin penuh harap, meminta agar hidupnya diberi perpanjangan waktu. Taemin tak peduli. Ia menatap dingin wujud beku pria itu.

“Aku belum bisa masuk neraka sekarang ini, belum. Tapi kau harus segera menerima hukumanku karena telah membahayakan jiwa gadisku, bukankah begitu?”

Senyum dingin Taemin menghantarkan pria itu pada kehancuran begitu si penyihir mengepal tangan. Wujud kaku itu pecah begitu saja, meninggalkan butir-butir tajam kristal darinya. Angin meniup butiran-butiran itu, namun tetap tak bisa melawan hukum grafitasi alam. Saat menyentuh tanah, pecahan kristal itu meninggalkan suara berdebum keras yang memekakkan telinga. Mata Taemin memandang kosong pecahan kristal itu. Bibirnya berbisik, “Berkat dirimu, aku menemukan cara yang tepat untuk membuat gadisku bahagia? Apa aku perlu berterima kasih padamu?”

Terdengar derap langkah kaki beberapa orang dari arah pitu yang terhubung pada tangga utama. Taemin dan Keyx menoleh cepat, mereka dapat menduga siapa yang akan segera memasuki tempat itu. Security. Keyx segera melayangkan tubuhnya mendekati Taemin sementara Taemin mengangkat tinggi tangannya, berusaha meraih tangan Keyx. Begitu mereka sudah saling berpegangan, Keyx melayangkan tubuhnya di udara. Iblis itu menjentikkan jarinya sesaat agar mereka berdua tidak kasat mata.

Beberapa hunters yang selamat melarikan diri dengan cepat. Para penjaga keamanan menerobos pintu atap dengan kasar. Mereka terperanjat kaget melihat kekacauan yang telah terjadi di sana. Darah bercecaran, tubuh yang hampir tak berbentuk, mayat berserakan, bagian bangunan juga hampir hancur. Mereka menelpon polisi dan pihak lain yang berkaitan dengan cepat. Dapat diduga bahwa penyelidikan kejadian tersebut akan segera dimulai.

“Cih, aku belum sempat membereskan semuanya. Dasar anjing-anjing pemburu sialan!” umpat Keyx kesal. Ia segera menerbangkan tubuh mereka untuk kembali ke kamar asrama. Taemin memandang kosong tempat itu. Pikirannya tak lagi di sana, ia malah memikirkan kejadian barusan serta pemikiran yang masuk ke kepalanya. Ia tersenyum sesaat, membayangkan hal yang akan ia lakukan setelah ini.

TING

Terdengar suara lonceng yang Taemin kenal. Bunyi yang berasal dari salah satu pecahan kristal tadi. Ia menoleh sesaat, pandangannya menerawang saat berkata, “Mungkin aku terlalu merindukanmu sampai mendengar ilusi suara lonceng kecilmu…”

TING

***

“Sepertinya kau mengalami hari yang berat kemarin,” komentar Ageha sambil menyodorkan kopi pada Taemin. Mereka sedang berada di gedung SM Entertainment saat ini. Taemin menemani manajernya yang punya sedikit urusan di sana. Lelaki itu sendiri juga sempat berjanji untuk membantu Kai -salah satu personil band lain di bawah naungan agensi yang sama- untuk menciptakan koreografi dance yang baru. Tentu saja berjumpa dengan Ageha juga menjadi salah satu tujuannya.

Ia tersenyum kecut, “Yah, bisa dibilang begitu…”

“Ayo semangat, Lee Taemin paling tampan kalau tersenyum ceria. Ne?” Ageha berusaha menyemangati. Tapi ia hanya ditanggapi dengan senyum tipis. Gadis itu merasa aneh, Taemin jauh lebih murung dari biasanya. Ia mulai tampak khawatir, “Ada apa? Apa yang terjadi?”

“Tidak ada. Tidak ada…,” jawab Taemin lirih. Ia tampak menyembunyikan kesedihan yang dalam. Ia bertanya, “Apa kau bahagia? Dengan hidupmu yang sekarang, apa kau bahagia?”

Ageha mengerutkan alis, merasa ada yang tidak beres dengan pertanyaan lelaki yang lebih muda darinya itu. Gadis itu menarik tangan Taemin menuju tempat yang lebih sepi, bahkan tangan lelaki itu terasa amat dingin. Saat sampai ia langsung meraih wajah Taemin, memandanginya intens. “Apa yang sebenarnya terjadi Lee Taemin? Kau benar-benar aneh…”

“Kalau saja kau tidak pernah mengenalku, apa kau akan lebih bahagia?” Taemin malah kembali melontarkan pertanyaan yang sulit dijawab. Ageha kehilangan kata-kata untuk menanggapinya. Taemin kembali tersenyum, bibir tebalnya melengkung sendu, “Mungkin kau memang lebih bahagia jika tidak pernah bertemu denganku…”

“Taemin! Jangan mengatakan hal yang bodoh!” ucap Ageha setengah membentak. Tapi hal itu sama sekali tidak mempengaruhi lelaki di hadapannya. Taemin memainkan jari-jarinya dengan hiasan pada T-shirt kelabu yang ia kenakan. Matanya menatap ke bawah, seperti menyembunyikan sesuatu. Ageha tampak tidak sabar. Ia mulai merasa betapa sulitnya menghadapi lelaki yang lebih muda darinya, seperti berhadapan dengan anak kecil. Ageha menghela nafas panjang, “Kau bicara seakan-akan mengharapkan perpisahan kita. Apa ada kesalahan yang kuperbuat? Ada yang membuatmu merasa tidak senang?”

“Ada,” jawab Taemin pelan, “Aku.”

“Hah?”

“Tidak apa, kau tidak perlu menghiraukannya.” Lelaki itu meraih jemari Ageha dan menggenggamnya penuh perasaan. Ageha merasakan aliran lembut kasih sayang Taemin pada dirinya. Gadis itu juga bisa merasakan nafasnya yang mulai sesak karena berusaha keras mengendalikan detak jantungnya yang berdebum hebat. Pikirannya yang masih mempertanyakan jawaban Taemin tadi langsung teralihkan begitu Taemin menautkan jari-jari mereka. Lelaki yang bertubuh lebih tinggi daripada Ageha itu mendekatkan kening mereka, membuat keduanya dapat merasakan suhu tubuh satu sama lain.

“Kau harus bahagia, ne?” suara Taemin terdengar rendah. Ia menampakkan senyum manisnya.

“Kau juga harus bahagia,” sahut Ageha, masih bingung dengan ucapan Taemin. Lelaki itu tertawa pelan, “Aku selalu bahagia tiap melihatmu tersenyum. Itu saja cukup untukku.” Taemin mempererat tautan tangannya. Ia ingin waktu terhenti untuknya sekarang, membiarkannya menikmati kebersamaan mereka lebih lama lagi. Ia ingin merasakan kehangatan itu selalu, meraih gadis itu selalu, memeluknya selalu. Namun semua hasrat itu harus ia tahan jika tak mau menghancurkan dirinya sendiri. Ia harus menghadapi kenyataan, Ageha tidak akan bersamanya dalam waktu lama. Dan Taemin juga tidak mau dirinya merupakan alasan gadis itu kehilangan nyawanya tiga hari lagi.

“Ageha…”

“Hmm?”

“Untuk sementara ini, bisakah kau menjauh dariku mulai sekarang? Aku…tidak bisa terus bersama denganmu…”

Ageha langsung menjauhkan wajahnya dari Taemin. Matanya membulat tidak percaya, alisnya berkerut samar. Taemin tidak sanggap melihat ekspresi itu, ia berpaling.

“Apa maksudmu, Lee Taemin? Baru kemarin kita…”

“Aku tidak bisa mempunyai hubungan khusus dengan siapapun, termasuk dengan staf yang bekerja denganku. Fans bisa mengamuk saat mengetahuinya…,” jelas Taemin klise. Sebenarnya ia hanya tidak ingin gadis itu terlibat bahaya lebih jauh lagi. Terutama jika para hunters itu hendak menjadikan Ageha tawanan untuk memancingnya. Ia tak bisa membiarkan hal buruk terjadi pada gadis itu karena dirinya. Dan perpisahan adalah satu-satunya jalan terbaik. Taemin berusaha menunjukkan senyum terbaiknya. “Tidakkah kau pikir selama ini juga cukup menyenangkan? Sudah saatnya kita mengakhirinya.”

Taemin melepaskan tangan Ageha. Ia berbalik, hendak melangkah meninggalkan gadis itu. Ageha masih memandangnya tidak terima. Punggung lelaki itu semakin lama semakin menjauhinya. Gadis itu hanya mampu bergumam dengan suara datar, “Lee Taemin, semua berakhir semudah ini?”

Namun Taemin tak menanggapi. Gadis itu tertunduk lemas. Berakhirnya secepat dimulainya. Ia tak mengira semua akan jadi seperti ini. Setitik air mata turun dari pelupuk matanya, namun bibirnya tetap bisu. Semua ucapan Taemin berputar-putar dalam kepalanya dan ia merasa kepalanya sangat sakit karena hal itu. Namun jika itu yang bisa membuat Taemin senang, ia harus menerimanya. Karena ia pernah berkata mau mengorbankan apapun demi kebahagiaan orang yang ia cintai. Apakah ini saat yang tepat untuk merealisasikannya?

Taemin meninju dinding terdekat saat yakin Ageha tak lagi mampu melihatnya. Ia merasa kesal, pada dirinya sendiri dan pada keadaan yang mengikatnya. Ingin sekali ia berteriak sekarang. Namun itu bukanlah waktu yang tepat. Dan akhirnya ia menyadari sesuatu.

“Jangan-jangan ini yang ingin disampaikan Key hyung saat itu…,” bisiknya, “ini semua terjadi karena aku memutar waktu. Kalau saja aku tidak memutar waktu, aku tidak akan terlalu mengenalnya, tidak akan berusaha melindunginya, tidak akan dekat dengannya, tidak akan mengenal lebih jauh senyumnya…” Tubuh Taemin kian merosot hingga ia terduduk di atas lantai, bisikannya semakin lirih, “…tidak akan jatuh cinta padanya, dan tidak akan sedih saat kehilangan dirinya seperti ini…

“Jika memang ini yang ingin Key hyung sampaikan, aku sudah menerimanya dengan baik… Namun tak ada lagi yang dapat kuubah. Kalaupun aku kembali memutar waktu dan membiarkannya tertimpa lampu panggung, itu takkan mengubah perasaanku padanya…”

Taemin menangkup wajahnya frustasi. “Memutar waktu hanya membuat kekacauan seperti ini….”

***

Senyum itu menyendu, tidak lagi indah seperti sedia kala. Sepasang mata coklat itu pun tidak lagi bercahaya seperti biasa. Bibir penuh itu pun tak lagi menebar senyum yang dapat membuat pipi merona. Wajah itu semakin pucat, membuat si empunya tubuh tampak rapuh.

Taemin menghela nafas panjang. Ageha tampak jauh lebih buruk. Lelaki itu hanya dapat memandang si gadis dari kejauhan. Saat ini pun Taemin berusaha keras menghadapi hunters yang semakin sering menyerangnya di saat ia sendiri. Hunters itu benar-benar keras kepala. Taemin terus bertanya-tanya apakah kumpulan orang itu dapat merasa jera atau tidak. Namun ia bersyukur, Ageha sudah lepas darinya. Ia takkan membuat gadis itu dalam bahaya lagi.

DUAR DUAR

Taemin kembali meledakkan lawan dengan hentakan tangannya. Ruang hampa sihir yang ia ciptakan untuk menjebak lawannya membuat suara ledakan itu tak terdengar ke luar. Nafasnya mulai terengah-engah. Lawannya tak ada habisnya. Ia harus segera keluar dari ruang hampanya dan berkumpul bersama anggota lain. Selain jadwal selanjutnya tengah menunggu, ia juga yakin hunters takkan mengejarnya di tempat umum.

Ruang hampa itu ia tutup. Dengan cepat ia melompat turun dari atap gedung tempatnya bertarung. Ia berlari kencang, para hunter masih mengejar dirinya. Gedung studio itu memiliki gang-gang sempit dan Taemin masih berusaha keluar dari tempat tersebut.

Ageha menghela nafas ringan. Ia membawa kotak berisikan peralatan yang akan digunakan untuk syuting variety show hari ini. Langkahnya terasa berat, membuat suara lonceng yang tergantung di pergelangan tangannya. Sudah dua hari sejak saat itu. Sudah saatnya ia melupakan semua hal romansa yang menghubungkan dirinya dengan sosok Lee Taemin. Ia kembali menarik nafas panjang, entah untuk yang keberapa kalinya hari ini.

Ageha menghentikan langkahnya di salah satu bibir gang yang terbentuk dari himpitan dua gedung studio. Ia memasuki gang tersebut, mendudukkan diri sesaat di salah satu kardus yang tertumpuk di sana. Ia menggenggam lonceng kecil yang tak pernah lepas darinya. Dalam hati ia memberikan sugesti untuk dirinya sendiri, sugesti-sugesti yang mampu menyemangatinya.

“Ingat, Ageha… Sudah saatnya ini semua berakhir. Sudah saatnya kau memfokuskan dirimu kembali pada tujuan awalmu berada di negara ini. Kau harus bisa menata hatimu!!!” Ia menggumam pada diri sendiri. Tangannya menepuk_nepuk pipi, untuk menyadarkan dirinya. Dan dengan tepukan keras terakhir ia mengembalikan cahaya matanya. Suara lonceng terus mengiringi suara tepukan di pipinya. Ia harus bisa hidup tanpa Taemin, harus bisa kembali fokus pada tujuannya.

Terdengar suara derap langkah dari dalam gang saat Ageha hendak berdiri. Gadis itu menoleh, mendapati seorang Lee Taemin tengah berlari ke arahnya. Laki-laki itu tampaknya juga menyadari keberadaan gadis itu. Ia mengembangkan senyum leganya.

“Ageha, biarkan aku menambah tenagaku!” ujar Taemin cepat. Ageha memandangnya tidak mengerti namun lelaki itu menubruk keras tubuhnya, menenggelamkan tubuh gadis itu dalam pelukan kedua lengannya. Si gadis hanya mampu terdiam, merasakan deburan nafas dan aroma tubuh lelaki itu membalut erat dirinya. Taemin menghirup rambut panjang gadis itu dalam-dalam, menyimpan aromanya dalam salah satu bilik memori. Merasakan kehangatan gadis itu setelah lama waktu bergulir membuatnya semakin rindu. Entah kenapa ia jadi tidak ingin melepaskan gadis itu lagi.

“T..Taemin…?”

“Kau harus bahagia.”

Dengan kalimat singkat itu Taemin berusaha menyadarkan dirinya dan langsung melepas pelukannya. Ia kembali berlari, kepalanya sempat menoleh sekali lagi dan bibirnya membentuk lengkungan senyum manis. Ageha dapat melihat rambut halus Taemin yang berkibar dihempas angin serta dirinya yang seakan terbang, seakan yang dilihat Ageha adalah sesosok malaikat bersayap. Ia mendesah ringan, berbagai perasaan campur aduk dalam hatinya.

“Bagaimana aku bisa melupakan semua hal yang telah kita lalui jika kau terus bersikap seperti itu?” ucapnya setengah berbisik.

Bunga di antara mereka malah semakin mekar dengan indahnya, walau badai menghempas keras dan tanah berguncang kencang...

***

Langit malam tampak kelam. Angin berhembus kencang, menerbangkan dedaunan kering yang meranggas di tengah panas. Dahan-dahan pohon melambai ringan, mengucapkan selamat tinggal pada jiwa-jiwa yang dijemput takdir malam itu. Langit semakin tertutup awan gelap, dan angin semilir semakin dingin. Siang panas berganti dengan malam beku.

Di salah satu ruang luas yang pengap, berkumpul beberapa orang dengan tujuan yang sama. Foto-foto teman mereka yang telah mendahlui mereka terpajang di depan ruang, bersamaan dengan hamparan bunga putih sebagai tanda belasungkawa. Mereka menundukkan kepala. Pikiran mereka memutar ulang memori yang telah diukir bersama sebelum ajal menjemput paksa. Namun mereka mati dengan rasa bangga, nyawa mereka terkorbankan dalam perjuangan.

“Kawan-kawan kita sudah pergi mendahului kita, namun bukan berarti semangat kita pergi bersama mereka. Kita harus melanjutkan usaha mereka! Kita harus membunuh iblis-iblis itu!!”

“YA!! Benar!!”

“Habisi mereka!!”

Riuh sahutan dari hunters yang lain. Namun ada pula yang hanya berlipat tangan sambil mendengarkan dengan baik. “Namun kita harus bisa memancing mereka,” sahut salah seorang hunter, “kita mulai dari penyihir bocah itu. Aku yakin mereka semua berkomplot dan kalau kita bisa menawan penyihir itu, kita bisa mendapatkan iblis-iblis sialan itu juga! Saat itulah kita hancurkan mereka semua!!”

“YAAA!!!”

“Ini saatnya rencana puncak. Bukan begitu, ketua?”

Orang yang dipanggil ketua hanya memandang dingin kelompoknya. Ia merasakan nyala semangat mereka, bersamaan dengan riuh satu suara yang menyatukan mereka. Dengan suara datar ia menjawab, “Benar, ini saatnya rencana puncak.”

***

Key berjalan mondar-mandir kamarnya dengan gundah. Ia merasa firasat yang tidak baik. Hari ini ia enggan keluar rumah karena yakin ia akan segera diserang kawanan hunters lagi seperti yang terjadi siang tadi. Dan ia juga harus memastikan tidak ada masalah yang akan menimpa anggota lainnya, terutama Taemin. Penyihir muda itu memang masih hijau dan meminum ramuan penguat sihir terus-menerus seperti beberapa hari ini dapat merusak tubuhnya. Key masih ingin menikmati kehidupan manusianya lebih lama dan ia tidak mau ada yang menghancurkan kenikmatan hidupnya. Siapapun, termasuk dirinya sendiri.

“Kau tampak tidak tenang…”

Key langsung membungkuk hormat, tunduk pada sosok berbusana serba hitam yang duduk santai di atas kasurnya. “Tuanku…,” ujarnya pelan.

“Kau membuat kekacauan yang cukup gawat. Bukankah begitu, Keyx?”

“Saya mohon maaf. Saya tidak menyangka semua berkembang di luar kembali…,” sesal Key. Situasi sekarang memang sangat gawat. Jalan satu-satunya adalah menghancurkan kaum manusia yang mengetahui identitasnya, tapi itu sangat berisiko.

“Kau tau kenapa kita menggoda dan membuat kekacauan secara sembunyi-sembunyi seperti sekarang ini? Itu semua untuk mempermudah kita. Manusia makhluk bodoh yang tergoda dengan mudah selama mereka tidak sadar dan merasa tidak tahu. Tapi kalau mereka sudah tahu bahwa kita jelas berada di depan mereka, tentu mereka akan semakin sulit digoda.”

“Ya, Tuan. Saya mohon maaf…”

“Tidakkah menurutmu kita harus segera keluar dari persembunyian kita ini?”

Ucapan yang dibarengi senyuman licik itu membuat Key menatapnya tak percaya. Key terbata saat bertanya, “Maksud Tuan, kita…”

“Ya, jika semua berjalan semakin kacau. Saatnya kita menunjukkan diri kita. Sudah saatnya kita menyingkirkan manusia-manusia sombong itu dari muka bumi, menjadikannya sebagai waktu jaya kita dan kita bisa menyerang mereka dengan lebih leluasa!! Kita jatuhkan mereka ke jurang kehancuran paling dalam, jurang kegelapan paling pekat! Dan dunia ini akan menjadi milik kita!! Bagaimana menurutmu, Keyx?”

“Aku…,” Key ragu menjawab pertanyaan Tuannya. Itu berarti dia akan menghancurkan semua hidup yang susah payah ia bangun selama ini. Itu berarti dia akan kehilangan semua pujian dan cinta dari para fans setianya. Itu berarti dia tak bisa lagi hidup sebagai lelaki bernama Kim Kibum.

“Aku melihat keraguan di matamu, Keyx….”

Key menguatkan tekadnya, mengembalikan keiblisan hatinya sekali lagi. Ia kembali menunduk hormat seraya berkata, “Jika itu memang keinginanmu, tentu aku akan mendukung dengan senang hati…”

“Bagus. Kita lihat bagaimana kelanjutannya sekarang…”

Sepasang mata berbeda warna itu berkilat-kilat penuh semangat. Warna merah dan biru yang menggambarkan surga dan neraka. Warna yang bersinar di tengah kelamnya kegelapan yang meliputi diri si pemilik mata.

****

Taemin menatap ke luar apartemennya dari balik jendela. Aneh, tidak ada tanda-tanda hunters malam ini. Tapi ia justru merasa akan ada hal yang buruk nantinya. Ia tak tahu mengapa. Mungkin karena hari kematian Kuroi Ageha adalah besok, walau Taemin masih belum bisa menebak penyebab kematian gadis yang sampai sekarang masih terlihat sehat itu.

Tiba-tiba matanya menangkap satu sosok yang ia kenal di luar sana. Sosok gadis yang sampai sekarang masih memenuhi pikirannya, Kuroi Ageha. Gadis itu tampak berjalan ragu hendak memasuki apartemen besar itu namun ia menghentikan langkahnya berkali-kali. Apa mungkin Ageha hendak bertemu dengannya? Taemin memandang gadis itu dari balik kaca dengan semakin lekat. Lapisan pelindung yang dibuat Key di sekeliling apartemen mereka membuat Taemin kesulitan melihat gadis itu. Tiba-tiba ponsel Taemin berdering.

Yeobseo?” sambar Taemin langsung, mengetahui bahwa penelponnya adalah si gadis Jepang itu. Dari seberang sana terdengar suara bening Ageha, membuat Taemin tersenyum bahagia mendengarnya. “Yeobseo, Taemin-ah?”

Ne?”

“Aku…aku ada di depan apartemenmu. Apa kita bisa bertemu sekarang? Ada yang ingin aku bicarakan…”

“Oh, tentu. Kenapa kau tidak masuk saja?” tawar Taemin, mengingat betapa marahnya Key jika Taemin ketahuan melanggar perintahnya untuk tetap di dalam.

“Tidak bisa… Aku tidak mau memancing skandal dengan menemuimu di dalam…”

Taemin menghela nafas panjang. Ia baru ingat alasan yang ia berikan pada Ageha saat mereka berpisah. Ia melihat kembali kondisi di luar, meyakini bahwa tidak masalah untuk keluar malam itu. Tidak ada hunters. Lagi pula, ini mungkin menjadi pertemuan terakhirnya dengan Ageha sebelum gadis itu meninggal besok. Perasaan sentimentil Taemin terpancing. Ia berusaha kuat dan tersennyum saat berkata, “Baiklah. Tunggu aku di dekat gerbang apartemen, hmm?”

Taemin segera beranjak meraih jaketnya dan berlari meninggalkan asrama tempatnya dan anggota SHINee yang lain tinggal. Dalam hati ia sempat berkata, “Maafkan aku, hyung…”

_TBC_

 

Hayoo… Devil’s Game-nya udah mulai muncul niiiih…. eottae?

Next part is the ending. I hope I won’t disappoint you, guys~~

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

8 thoughts on “[WFT B] Butterfly – Part 4

  1. si Taemin sama Key malah kerjasama buat nyingikiri para hunter, padahal di awal2 part mereka selalu berselisih..
    apa si Key udah bertindak sebagai Hyung bukan sebagai iblis lg?

    masih penasaran sama ketua hunters dan Tuannya si Keyx..

    Ok Bella, ditunggu part selanjutnya..🙂

    1. key itu iblis yg agak beda, ia pny rasa sayang tersendiri pd org2 tertentu tanpa menyadarinya. termasuk k Taemin. awal perselisihan mereka karena key mau ngasih pelajaran kl perbuatan taemin itu salah. nah, bgt taemin dapat masalah krn berhubungan dgn diriny, ia jd ikt bertindak. *ppoppo key*

      oke, oke…. gomawo, eonni~~

  2. keren abis,dah nih cerita…. Terutama bagian Keyx dan Taeminnya disini….
    Sebenarny siapa,sih ketua para huntersnya??? dan siapa tuannya Keyx??
    makin penasaran,nih >< di tunggu endingnya….^^

  3. dubuuuu!!!! penasaran dubu itu jadi apa??? dari kemaren dubu ga ikutan andil disini… firasat gw juga buruk Key, mending balik ke negara asalmu ajah, trus ntar kita nikah deh… *eh?? ga nyambung.. lanjuuttt!!!

  4. Kerasa banget Devil’s game-nya di part ini. Berarti udah ketebak yaa, Tuan-nya Keyx itu siapa? .eheheh. ^^v
    Tapi Jjong sama Minho ga nongol lagi nih di part ini. ke mana yaa mereka?
    Terus, pemimpin hunters itu juga masih misterius. jangan…jangan… dia itu…
    wah, aku no comment deh u/part ini. Mau langsung lanjut aja ke part akhirnya biar semuanya clear.hhe. Good job, Bella b^^d

  5. Sosok key dan onew dsini beda bgt yaa dg d.devil’s game ._.a di devil’s game onew g nunjukin sisi lucifernya/seingatku/
    Di ff ini aku sangat tdk suka dg hunters -_- jgn2 mrka sngja mncing taemin dgn memanfaatkan ageha.. dan taemin dg mudahnya trpancing…aigo taem hrs nya kw mndengarkn kata hyung iblismu…
    Trs rencana taemin…semoga g sesuai dg perkiraanku…

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s