[WFT B] Definisi

DEFINISI

 [Oneshot] WFT_LiaraLi_B_Definisi-poster

Title                   :    Definisi

Author               :    Liara Li

Main Cast          :

  • Lee Taemin (SHINee Taemin)
  • Park Hayoon (OC)

Support Cast     :

  • Kim Jonghyun (SHINee Jonghyun)

Length               :    Oneshot

Genre                :    Romance, Life

Rating               :    PG-15

Summary           :    “Beritahu aku apa itu hijau, apa itu kuning, apa itu merah. Beritahu aku kapan aku harus berjalan, kapan aku harus berhati-hati, kapan aku harus berhenti.”

Disclaimer         :    Cast milik Tuhan, diri mereka sendiri, dan agensi. Saya tidak memiliki apapun kecuali alur dan OC.

 

“Masih tetap menyukai pelangi?” Taemin menoleh, menemukan Jonghyun sang sumber suara sedang memamerkan cengiran lebar. Tangannya terlihat penuh karena membawa dua cup−transparan dan tanpa tutup−berisi jus berbeda rasa.

“Masih menyukai film horror, hyung?” sahut Taemin. Membuat Jonghyun terkekeh sebelum mendudukkan diri disamping Taemin. Matanya ikut menatap langit barat daya, memperhatikan pelangi yang sedari tadi menghipnotis Taemin−setidaknya itulah persepsi Jonghyun.

“Begitulah,” ucap Jonghyun. Meletakkan cup jus ditengah-tengah mereka berdua. “Kau mau satu?” tawar Jonghyun, menunjuk cup jus menggunakan dagu. Taemin tersenyum.

“Terima kasih, hyung.” Jonghyun menggangguk sebagai balasan. Taemin mengambil satu cup setelahnya. Matanya kembali fokus pada langit barat daya.

“Kukira kau tidak menyukai jus melon,” gumam Jonghyun, tepat ketika Taemin akan meminum jusnya. Taemin mengangkat sebelah alis.

“Kurasa sekarang tidak masalah,” sahut Taemin. Menghabiskan setengah isi cup dalam sekali teguk. “Atau hyung ingin jus melon?” tanya Taemin. Sebenarnya terlambat, bukankah ia baru saja menghabiskan setengahnya?

“Tidak. Aku lebih suka jeruk,” jawab Jonghyun. Mulai meneguk jusnya sedikit. Jeruk, tentu saja.

Langit membentuk gerimis kecil setelah hujan deras berlalu. Taemin merasakan tetesan air terjatuh di rambutnya beberapa kali. Tidak apa, karena tubuhnya juga sudah mandi keringat. Hasil latihan dance−bersama keempat hyung-nya−selama berjam-jam. Ia sudah sangat ingin membersihkan diri, tapi pelangi tidak boleh ia lewatkan begitu saja.

Dari sudut mata, Taemin dapat melihat Jonghyun sibuk dengan ponsel miliknya. Entah sedang apa. Taemin mengernyit, bukankah lebih baik Jonghyun bermain ponsel didalam ruangan? Bukannya membiarkan dirinya terkena gerimis diatas bangku taman belakang gedung SM seperti ini. Ah, biarlah, Jonghyun memang mempunyai jalan pikiran yang sedikit unik−aneh.

“Taemin-ah, apa bagimu pelangi begitu menarik?” tanya Jonghyun. Taemin menoleh, tanpa sengaja melihat apa yang membuat Jonghyun sibuk. Sebuah halaman tumblr. Mungkin Jonghyun berburu foto-foto tampan yang menampilkan wajahnya. Atau bisa saja berburu ekspresi memalukan.

“Apa bagi hyung film horror begitu menarik?”

“Ya! Lupakan! Kau menyebalkan,” ucap Jonghyun sebal. Bibirnya bergerak-gerak aneh, sepertinya menggerutu. Taemin tertawa.

“Baiklah baiklah. Pelangi itu indah, tidakkah hyung berpikir begitu? Pelangi membuat dunia terasa berbeda,” kata Taemin pada akhirnya. Taemin sebenarnya tidak begitu yakin apa yang membuatnya berpikir bahwa pelangi indah. Setidaknya, sebagian orang memang menganggap pelangi indah, menyenangkan untuk ditemui setelah guyuran hujan lebat. Yang Taemin tahu, ia menyukai pelangi karena Park Hayoon. Gadisnya yang menggilai−tidak segila itu juga−berbagai warna, yang pernah mengatakan pada Taemin bahwa ia ingin menjadi pelangi. Melihat pelangi membuat Taemin mengingat Hayoon. Menyenangkan. Tapi alasan ini tidak untuk dibagi dengan Jonghyun.

“Kau benar,” respon Jonghyun. Taemin melirik kesamping, Jonghyun mengangguk kecil sebelum kembali berkutat dengan ponsel. Kali ini membuka twitter. Taemin dapat melihat logo burung biru di pojok atas layar. Oh, mungkin sebentar lagi Jonghyun akan mengunggah selca narsis seperti hari-hari lalu.

Dalam tiga menit selanjutnya, Taemin dapat mendengar Jonghyun terkekeh, bergumam tidak jelas, dan juga melotot. Sedang apa? Taemin tak mau ambil pusing apalagi susah-susah berspekulasi. Membaca mention dari fans, men-stalk akun orang lain, atau menemukan foto editan ter-aib. Ah, Taemin baru saja membuat spekulasi.

Selca bersama ya?” ajak Jonghyun tiba-tiba. Taemin menoleh penuh, menggeleng-geleng ringan.

“Tidak-tidak. Terima kasih, cukup hyung saja.”

“Tidak seru,” kata Jonghyun, Taemin nyengir. Taemin berpikir Jonghyun akan mulai mengambil selca-nya sendiri. Tapi tidak−Jonghyun menyimpan ponsel kedalam saku celananya. Meraih cup jus jeruk yang telah diabaikan untuk kembali meminum isinya.

Gerimis baru saja berhenti. Benar-benar berhenti dan langit mulai terang. Taemin mendesah pelan ketika menyadari pelangi nyaris menghilang. Bangku kayu yang diduduki Taemin berderit ketika beban yang ditanggungnya berkurang. Jonghyun berdiri, jus jeruknya sudah habis, menyisakan cup kosong yang sekarang digenggam Jonghyun.

“Sebaiknya kau berganti pakaian sekarang, Taemin-ah.”

Hyung dulu saja. Nanti aku menyusul.”

“Baiklah, cepat masuk ya? Lagipula pelangi sebentar lagi hilang,” ucap Jonghyun sebelum melangkahkan kakinya memasuki gedung SM. Menyempatkan diri untuk berhenti didepan sebuah tempat sampah. Membuang cup kosong bekas jus jeruk.

Taemin kembali memandang pelangi yang tampak semakin samar. Badannya memang lengket, tapi ia merasa sedikit malas untuk beranjak dari duduknya. Terlanjur nyaman. Tiba-tiba Taemin merasakan getaran tanpa henti di saku celananya. Getaran ponsel. Taemin merogoh saku celananya dalam dua detik. Mendapati sebuah panggilan masuk.

Hayoon-ie memanggil.

“Halo,” sapa Taemin setelah panggilan tersambung. Park Hayoon. Gadis mungil yang sudah bersamanya selama satu setengah tahun kebelakang.

‘Ayo putus.’

Taemin melongo. Hanya dua kata dan panggilan berakhir. Terdengar bunyi tuut panjang setelahnya. Apa? Putus? Jangan bercanda.

Pelangi benar-benar menghilang. Dan Taemin berlari cepat, mencoba mencari apapun yang dapat membawanya ke tempat Hayoon sekarang juga.

Setelah belasan menit penuh teriakan−Taemin tidak begitu pandai menyusun kata, jadi ia hanya meluapkan apa yang ada dalam pikirannya−didepan pintu apartemen Hayoon, mereka berakhir terduduk bersebelahan di atas karpet beludru putih. Meluruskan kaki dan menyandarkan punggung pada tembok ruang tengah apartemen.

Masalah mereka sama sekali belum selesai. Yah, bagaimanapun tidak akan bisa selesai jika keduanya hanya saling meneriaki satu sama lain. Hayoon terengah, akibat lengkingan panjangnya beberapa saat lalu yang dibalas gertakan keras seorang mahasiswa yang tinggal di apartemen sebelah. Jelas-jelas terganggu. Membuat Hayoon berpikir untuk membicarakan semua dengan cara baik-baik bersama Taemin.

“Apa masalahnya?” Taemin bersuara, tidak tahan dengan keheningan yang sebenarnya belum begitu lama tercipta.

“Sederhana. Kamu tidak membutuhkanku,” jawab Hayoon, tangan kecilnya memainkan benda berbentuk kubus berbagai warna. Sebuah rubik. Taemin tidak pernah tahu Hayoon mulai tertarik pada rubik. Oh, ia tidak bertemu Hayoon selama dua mingu. Tentu saja banyak yang terjadi dalam dua minggu.

“Jangan bercanda. Aku membutuhkanmu… aku sangat mencintaimu,” sahut Taemin, nada suaranya terdengar semakin lirih saat sampai pada akhir kalimat. Entahlah, hanya terasa menggelikan ketika dirinya harus mengungkapkan cinta. Taemin memang bukan orang romantis.

Badan Taemin sungguh lengket karena keringat. Ia belum membersihkan diri seusai latihan dance, ditambah tadi ia berlari sepanjang tangga darurat sebanyak tujuh lantai. Lantai tempat kamar apartemen Hayoon berada. Tidak−lift tidak rusak. Taemin bisa saja menggunakan lift jika ia mau menunggu semenit lebih lama. Otaknya sedang kacau, dan berdiam diri memandangi pintu lift yang tertutup membuat Taemin merasa dirinya akan gila.

Detik demi detik berlalu. Berlalu dan berlalu. Hayoon diam, sepertinya tidak berniat untuk membuka suara. Bunyi detakan jarum jam yang telah ratusan kali terdengar menyadarkan Taemin bahwa sudah terlalu lama Hayoon bungkam.

“Maaf karena aku tidak mempunyai waktu untuk berjalan-jalan denganmu. Maaf karena aku mengecewakanmu dengan nyaris melupakan ulang tahunmu bulan lalu. Maaf karena aku sering ingkar janji. Maaf karena aku tidak bisa menjadi kekasih yang sempurna,” ucap Taemin panjang, menyandarkan kepalanya pada pundak Hayoon. Hayoon tidak menolak. Tidak keberatan saat kaos yang dipakainya ikut lembab karena bersentuhan dengan rambut lembab Taemin.

“Apa definisi Park Hayoon bagimu?”

“Hayoon… segalanya. Bagiku kau segalanya,” ucap Taemin, tidak nyaring tapi tegas. Ia bersungguh-sungguh. Pandangannya menerawang menembus dinding ruangan. Hayoon tersenyum tipis.

“Lalu, berikan aku definisi pelangi,” pinta Hayoon.

“Entahlah, aku tidak terlalu mengerti tentang pelangi. Aku suka melihatnya…”−karena kau terobsesi menjadi pelangi.

Hayoon hanya memutar rubik. Taemin memperhatikan Hayoon yang menarik salah satu sisi rubiknya kekanan, memutarnya balik, kemudian menggesernya ke kiri. Mencoba menempatkan warna-warna senada di satu sisi.

“Aku mencintaimu, Park Hayoon. Tidak bisakah kau bertahan disampingku? Setidaknya sedikit lebih lama…”−atau sebenarnya Taemin harap selamanya.

“Maaf, Taemin-ah.”

Taemin menebak mungkin Hayoon lelah berada disisinya. Tentu saja Hayoon membutuhkan seseorang yang dapat ditemuinya setiap hari, bukan hanya melalui ponsel. Tentu saja Hayoon menginginkan seseorang yang dapat diajak menghabiskan seharian penuh saat ulang tahun, bukannya seseorang yang mengucapkan selamat ulang tahun pada detik-detik terakhir pergantian hari. Tanpa cake, tanpa kado, tanpa kecupan manis. Tentu saja Hayoon jenuh dengan semua janji Taemin yang selalu tidak ditepati.  Hal-hal itu berputar di kepala Taemin, menariknya pada satu kesimpulan menyedihkan. Hubungannya dengan Hayoon memang tidak cukup baik.

Hayoon berhasil menyelesaikan salah satu sisi rubik. Meletakkan kubus itu di samping tubuhnya yang tidak bersebelahan dengan Taemin. Dalam satu gerakan pelan, Hayoon mendorong lembut kepala Taemin untuk menjauhi pundaknya. Taemin menghembuskan nafas, kecewa. Hayoon beranjak dari duduknya, melangkah menginjak hamparan karpet. Melewati Taemin begitu saja sebelum akhirnya sosoknya tidak terlihat karena terhalang tembok.

Dua atau tiga menit berlalu, Hayoon kembali dengan menempatkan dirinya berjongkok tepat dihadapan Taemin, membawa sebuah handuk putih besar. Mensejajarkan wajah mereka berdua. Tangannya terangkat, dan detik berikutnya Hayoon mengusap rambut lembab Taemin menggunakan handuk. Taemin membeku, tapi ada sedikit perasaan hangat yang menyusup−mengisi retakan-retakan samar dalam hatinya−ketika merasakan gerakan tangan Hayoon diatas rambut pirangnya.

“Sudah lama sekali sejak kita berada sedekat ini,” ucap Hayoon, matanya bergerak-gerak. Mencoba menatap apapun kecuali wajah Taemin.

“Maaf, salahku,” sahut Taemin, benar-benar menyesal. Taemin banyak mengatakan maaf hari ini.

“Bukan masalah. Lagipula kita akan mengambil jalan masing-masing setelah ini.” Taemin  membeku−kembali. Ada banyak sekali kalimat di pikirannya untuk membalas ucapan Hayoon. Berbagai opini yang menyatakan bahwa mereka tidak seharusnya berpisah. Tapi tidak−pada akhirnya Taemin membiarkan kalimat-kalimat itu menggantung begitu saja di tenggorokan.

“Jangan terlalu memaksakan diri, kau bisa jatuh sakit,” lirih Hayoon. Hayoon menurunkan telapak tangannya, membiarkan keberadaan handuk putih besar diatas kepala Taemin. Perasaan hangat itu menghilang sepenuhnya, menyisakan perasaan frustasi beku asing.

“Kau masih peduli?” tanya Taemin. “Hatiku sudah sakit. Lalu APA?”

Hayoon mundur selangkah bersamaan dengan lengkingan di akhir kalimat Taemin. Dalam sekejap mata, Taemin membawa gadis itu kedalam pelukan erat, membuat Hayoon merasakan bagaimana lengket dan lelahnya tubuh Taemin sekarang−dan juga bagaimana lelahnya hati Taemin sekarang. Taemin tidak pernah menyukai perpisahan. Terlebih jika ini Hayoon.

“Aku mencintaimu.” Taemin mencintainya. Taemin hanya terlalu mencintainya. Kali ini Taemin mengungkapkan dengan lantang, menggeser berbagai rasa yang menggelitik.

“Beritahu aku apa itu hijau, apa itu kuning, apa itu merah. Beritahu aku kapan aku harus berjalan, kapan aku harus berhati-hati, kapan aku harus berhenti.” Hayoon melepas pelukan Taemin.

“Aku tidak mengerti.”

“Kau tidak pernah mengerti. Jadi kita cukup sampai disini.”

Langit sudah gelap−tentu saja, ini sudah pukul sebelas malam−dengan bintang bertabur menemani bulan sabit. Taemin terbangun dengan kepala pening−hal yang selalu terjadi saat ia terbangun di dalam van. Oh, Taemin sungguh benci ketika dirinya harus terjaga sedangkan perjalanan menuju dorm masih jauh. Ia hanya mengalami kesulitan untuk memejamkan mata kembali.

Taemin menoleh ke depan, samping, kemudian belakang. Jinki tertidur di jok depan. Manajer berkutat dengan setir dan jalanan. Kibum dan Minho tidur dengan cara berbagi selimut motif keroro di jok belakang. Jonghyun−yang sama-sama menempati jok tengah bersama Taemin−sedang menarikan jarinya menyapu layar sentuh ponsel. Huh, lihatlah betapa menempelnya Jonghyun dengan ponsel.

Hyung,” panggil Taemin, merasa butuh teman bicara.

“Hmm,” gumam Jonghyun, mengalihkan perhatian dari ponsel.

Hyung pernah patah hati?”

Hey hey, ada apa denganmu? Sesuatu terjadi antara kau dan Hayoon?” Tepat sasaran. Baiklah, pertanyaan Taemin sebelumnya memang mencurigakan. Taemin mengangguk kecil, Jonghyun melongo. Membiarkan ponselnya terabaikan di atas jok.

“Apa yang hyung lakukan jika pacar hyung meminta putus?”

“Aku tidak tahu. Maksudku, biasanya aku yang memutuskan mereka,” sahut Jonghyun. Tertawa cukup keras setelahnya. Berefek pada Minho yang mengigau karena tidurnya terusik. Taemin memutar bola mata. Sadar ini bukan waktu yang tepat untuk tertawa, Jonghyun refleks membekap mulutnya sendiri. Taemin sempat mendapati Manajer melirik kearah mereka sekilas.

Jonghyun memang cassanova. Terlebih saat mereka belum debut. Taemin tidak tahu jelas berapa jumlah mantan pacar Jonghyun. Yang Taemin tahu, Kibum pernah terkantuk-kantuk saat menjadi pendengar bagi cerita cinta Jonghyun, mulai mantan pacar pertama sampai mantan pacar terbaru. Menghabiskan waktu berjam-jam sehingga berubah menjadi lullaby di telinga Kibum. Kasihan Kibum. Lebih kasihan lagi gadis-gadis yang pernah terjerat oleh Jonghyun. Tapi belakangan−sebenarnya sudah agak lama−Taemin tidak mendengar Jonghyun memiliki pacar. Mungkin sudah mengubah sifat buruknya. Atau malah bertambah buruk. Misalnya Jonghyun memutuskan untuk menjalin hubungan tanpa status dengan banyak wanita. Hanya Jonghyun yang tahu.

“Jangan bilang Hayoon memutuskanmu,” ringis Jonghyun.

Taemin mengerjap. Bagaimanapun, tebakan Jonghyun seratus persen benar. Tapi Taemin tidak menyangka tebakan Jonghyun membuat hatinya berdenyut nyeri. Untuk yang kedua kali, Taemin mengangguk.

“Aku bahkan tidak tahu pasti apa masalahnya, hyung. Aku hanya menebak-nebak. Mungkin Hayoon lelah, mungkin Hayoon kecewa, mungkin Hayoon jenuh. Mungkin, dan mungkin,” ucap Taemin lemah.

“Bagaimana denganmu? Kau masih ingin bersamanya atau tetap seperti ini saja, Taemin-ah?”

Suara dengkuran halus terdengar dari jok depan. Taemin dapat melihat Jinki merapatkan jaket tebal yang dipakainya. Sedetik kemudian, Jinki menggeliat, mencoba mencari posisi nyaman yang akan mengantarnya bermimpi lebih dalam.

“Aku selalu ingin bersamanya, hyung,” jawab Taemin.

Well, mungkin kalian harus mencoba untuk lebih terbuka, saling jujur tentang perasaan masing-masing.” Jonghyun tersenyum diakhir kalimat, membuat Taemin ikut tersenyum. Pandangannya teralihkan dari Jonghyun, menyusuri gedung-gedung tinggi dari balik jendela. Jonghyun kembali memperhatikan ponselnya.

Taemin tidak berpengalaman soal urusan cinta. Hayoon adalah cinta pertama, pacar pertama, ciuman pertama bagi Taemin. Segala yang pertama. Taemin tidak mau segala yang pertama berakhir menyedihkan. Taemin memang bukan Jonghyun, Taemin sama sekali tidak berbakat menjadi cassanova. Menggombal saja ia sangat payah.

Empat hari berlalu sejak Taemin keluar dari apartemen Hayoon dengan muka kelewat tertekuk. Taemin ingat Hayoon yang mengunci diri didalam kamar setelah pembicaraan mereka yang gadis itu anggap selesai. Taemin ingat penampilan mengenaskannya yang terpantul di dinding lift−yah, Taemin turun ke lantai dasar menggunakan lift. Celana training, kaos hitam kebesaran super kusut, rambut berantakan, penuh keringat, dan jangan lupa ekspresi muka mengenaskan. Lebih mirip gelandangan ketimbang bintang hallyu. Setdaknya Taemin harus bersyukur tidak ada paparazzi yang mengunggah fotonya hari itu ke internet.

Hari ini hujan deras kembali membasahi bumi, baru reda sepuluh menit lalu. Kembali menyisakan gerimis kecil untuk menemani Taemin menyaksikan pelangi di bangku belakang gedung SM. Kali ini Taemin memakai jaket dan sarung tangan. Udara memang sedang menusuk kulit. Dan kali ini tanpa Jonghyun beserta ponsel kesayangannya.

Taemin menyesap sedikit kopi panasnya. Rasanya lumayan. Taemin lebih suka cokelat panas sebenarnya, tapi mesin penjual otomatis di dalam gedung SM hanya menjual kopi. Hari ini pelangi mucul di sisi selatan langit, sekitar satu setengah kali lebih besar dari kemarin.

Pelangi mengingatkan Taemin pada Hayoon. Sekarang juga. Jika waktu-waktu lalu Taemin memandang pelangi dengan hati tersenyum, maka saat ini Taemin memandang pelangi dengan hati mencelos. Perasaannya campur aduk.

“Masih menyukai pelangi?” sebuah suara mengalihkan perhatian Taemin. Matanya membulat melihat Hayoon yang sedang mendudukkan diri disamping Taemin. Taemin merasa familiar dengan pertanyaan Hayoon. Kapan ia pernah mendengarnya ya?

“Masih mempedulikanku?”

“Tentu. Selalu,” jawab Hayoon ringan. Taemin mengernyit, Hayoon melukiskan sebuah senyuman lebar.

“Maaf, aku tidak bisa memberitahumu apa itu hijau, apa itu kuning, apa itu merah.” Taemin menghela nafas, mengambil jeda pada kalimatnya. “Aku bahkan tidak tahu, tidak dapat membedakan ketiganya. Bagiku… bagiku ketiganya abu-abu.”

“Terima kasih,” sahut Hayoon. Taemin menoleh, mendapati Hayoon yang masih bertahan dengan senyumnya. Sudah tidak lebar, senyum kecil yang terlihat manis sekaligus tulus bagi Taemin.

“Untuk?”

“Untuk membagi masalahmu padaku. Kau harus tahu, aku sudah menunggu lama untuk kejujuranmu ini.”

“Jadi kau sudah tahu?”

“Tentu. Aku mengenalmu sejak sekolah dasar. Kau tidak pernah bisa membedakan jus stroberi, jus alpukat, dan jus apel. Kau tidak pernah mewarnai buku gambarmu dengan benar. Kuning untuk langit, hiijau untuk laut.”

Taemin tertegun. Jemari kecil Hayoon menggenggam sebelah telapak tangannya. Terasa hangat, dibalik sarung tangan yang masing-masing kenakan. Tanpa sadar, Taemin tersenyum. Kembali memandang pelangi yang masih menggantung indah diatas sana. Dan Taemin yakin Hayoon melakukan hal yang sama.

“Terima kasih.”

“Tidak perlu berterima kasih. Karena aku mencintaimu.”

“Benarkah? Seingatku kau ingin kita mengambil jalan masing-masing, Hayoon-ie…”

“Oh, aku hanya menggertak. Aku kesal padamu yang tak pernah jujur.” Taemin melongo. Menggertak? Yang seperti kemarin dibilang menggertak? Hati Taemin nyaris jatuh berkeping-keping kemarin. Hayoon bahkan mengabaikan ratusan pesan singkat, ratusan telepon dari Taemin selama empat hari penuh. Astaga.

Hayoon terkekeh. Kekehan nyaring kesukaan Taemin yang entah kenapa selalu berhasil membuat hatinya sejuk. “Aku hanya ingin membuatmu sadar. Jika kau benar-benar membutuhkanku, maka jangan pernah ragu untuk bersandar padaku.”

“Aku baik-baik saja dengan jadwal super padatmu, dengan intensitas kencan kita−yang kelewat jarang. Aku baik-baik saja ketika harus menunggu tiga jam di café walaupun pada akhirnya kau tidak datang. Aku baik-baik saja dengan sifat pelupamu yang membuatmu nyaris melupakan hari ulang tahunku. Setidaknya kau berhasil mengingatnya di ujung hari, itu lebih baik.” Hayoon tertawa. “Tapi aku tidak baik-baik saja ketika kau ragu berbagi masalahmu padaku.”

“Terima kasih.”

“Sekali lagi kau mengucapkan terima kasih, aku akan menendang pantatmu,” sahut Hayoon. Mereka berdua tertawa.

Telapak tangan mereka masih bertaut. Pelangi masih menampakkan diri di atas sana. Taemin menyesap kopi panasnya yang sudah berubah menjadi hangat. “Kau mau?” tawar Taemin, melirik cup kopi yang masih terisi tiga perempat. Hayoon menggeleng.

“Tidak, aku lebih suka milkshake,” jawab Hayoon. Tentu, strawberry milkshake buatan kedai ujung jalan gedung apartemen Hayoon. Selalu menjadi moodboster bagi gadis ini apapun yang terjadi. Taemin kelewat hafal. Dan hatinya merasa senang karena ia menghafalnya.

Hayoon membuka ritsleting tas kecil yang sedari tadi dibawanya. Oh, Taemin baru sadar Hayoon membawa tas. Mengeluarkan sebuah kubus kecil dari dalam sana. Rubik.

 

“Kau berhasil menyelesaikannya?” ucap Taemin setengah takjub. Ia yakin Hayoon masih pemula−benar-benar pemula. Dan menyelesaikan keenam sisi membuat Taemin sedikit terkejut.

 

“Tidak. Aku kesal, jadi aku membeli sebuah rubik baru. Belum tersentuh,” jawab Hayoon ringan. Taemin gemas setengah mati. Hayoon tetaplah Hayoon. Membuat solusi pintas dengan caranya sendiri. Masih lebih baik daripada jika Hayoon mengecat sisi-sisi rubik itu dengan cat tembok.

 

“Ini putih, ini kuning, ini hijau, ini merah, ini biru, dan ini hitam,” ucap Hayoon, menunjuk satu persatu sisi rubik. Taemin memutar-mutar cup kopi.

“Itu putih, itu hitam, dan empat lainnya abu-abu.” Buta warna total. Dunia Taemin hanya hitam dan putih, serta beragam tingkat kepekatan abu-abu. Tidak ada yang tahu−kecuali orang tua Taemin. Ia tidak pernah menceritakannya pada orang lain, Hayoon yang pertama. Taemin merasakan genggaman tangan Hayoon semakin kuat.

Dalam satu gerakan cepat yang tidak pernah Taemin duga, Hayoon mengecup pipi kiri Taemin. Taemin mengerjap, hanya sebuah kecupan kelewat kilat memang. Tapi wajahnya menghangat sempurna. Taemin menoleh, mendapati mata bulat Hayoon sedang menatapnya lekat. Cup kopi yang dipegang Taemin terjatuh. Meninggalkan noda besar cukup jelas di celana Taemin−bagian lutut− sebelum akhirnya menggelinding, menumpahkan semua isinya di atas rumput hijau. Tidak ada yang benar-benar mempedulikan keadaan celana Taemin, apalagi  keadaan cup kopi.

“Park Hayoon adalah segalanya. Kau harus tahu.”

“Aku tahu, kau sudah mengatakannya tempo hari, Taemin-ah.”

“Aku memang tidak bisa membedakan merah, kuning, dan hijau. Tapi aku akan memberitahumu kapan harus berjalan, kapan harus berhati-hati, dan kapan harus berhenti. Jadi, jangan pernah berhenti bersamaku.”

Taemin melepas genggaman tangan mereka. Hatinya menuntun Taemin untuk menarik pelan tengkuk Hayoon−yang terbalut syal hijau pastel−menggunakan kedua telapak tangannya. Taemin dapat melihat Hayoon menutup mata ketika nafas Hayoon mulai terasa menyapu wajah Taemin. Hayoon merona, dan rona merah muda menjadi semakin pekat saat Taemin mulai menyapu bibir mungil Hayoon dengan bibir tebal miliknya. Mengecupnya berkali-kali. Terasa lembut dan menyenangkan. Jantung Taemin berdetak kencang, tak beraturan. Ia tak menutup matanya, ekspresi manis Hayoon saat ini tidak boleh dilewatkan. Ketika dada Taemin terasa sesak, ia sedikit mengutuk mengapa manusia butuh bernafas. Dan Taemin mengakhiri ciuman mereka dengan sebuah lumatan lembut.

“Apa yang membuatmu suka memandangi pelangi, Taemin-ah?” tanya Hayoon. Wajahnya merah padam.

“Karena kau ingin menjadi pelangi.”

Hayoon ingin menjadi pelangi. Itu benar, tapi Taemin tidak pernah tahu satu hal. Hayoon ingin menjadi pelangi bagi Taemin. Hanya bagi Taemin. Menciptakan warna-warna indah di dunia hitam-putih milik Taemin.

“Tinggallah disisiku selamanya, maka aku akan membuatmu memahami indahnya pelangi, Taemin-ah.

−FIN−

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

23 thoughts on “[WFT B] Definisi

  1. Aku suka bgt ma jalan ceritanya… awalnya kasian ma taemin pas diputusin, eh taunya cma gertakan doang… aigooo kereeenn.. aku suka.. terutama ma summarynya. aku kirain Jjong g bsa liat, eh ternyata taem yg buta warna -__- keep writing yaahhh

    1. hu um, disini ceritanya taem buta warna ._.v pelangi emang enak buat diliat ya😀 tapi sayangnya saya jarang bgt nemu(?) pelangi -_- hahaha
      makasih udah baca+komen ^^

  2. ternyata taemin buta warna toh kasian ya taemin😦
    ceritanya bagus, unik pokoknya. keren! keep writing thor~

  3. keren bangetttt~~~~~~
    ternyata taem-nya buta warnaTT_______TT
    nice story~~~~ jjang^^!

    tp kenapa jjong digambarinnya kek gituu.. -____,-

    1. iya, taeminnya buta warna😥
      hehehehe ga tau kenapa waktu ngetik ff ini, tiba2 ngalir aja jjong jadi begitu ._.v *ditimpuk
      makasih ya chingu udah mampir+komen ^^

  4. Liaraaaaaaaa, aku suka banget sama tulisanmu yang ini. Sederhanaaaaaa banget, tapi bagusss.
    Udah ah, top pokoknya, sweet juga nih.

    Maafkan daku baru ngomen di sini, telat baca

  5. This is TOO sweet! Aku suka banget sama relationship yang dijalanin Taemin sama OC disini🙂 Cara kamu nulis juga aku suka! Marked as favorite!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s