[WFT B] Taemin’s Super Secret Revealed

TAEMIN’S SUPER SECRET REVEALED

Title: Taemin’s Super Secret Revealed

Author: charleea

Main Cast (Tokoh Utama) : SHINee’s Taemin, OC a.k.a. Lee Minni

Support Cast (Tokoh Pembantu) : All SHINee members

Length : One Shoot

Genre : Fantasy, Romance

Rating : General

Summary :

“Keajaiban itu benar adanya. Hanya mungkin terlalu kecil dampaknya untuk disadari. Bahkan dalam hal kecil yang dapat melepaskan penat sesaat dan menghindari dunia yang sangat rumit.”

 TSSR

Prolog

~Satu masa~

“Taemin-ah, jangan lupa bentar lagi rehearsel di Mubank!”

“Taemin-ah, jangan lupa kencan kita Sabtu besok! <3”

Pikiran seorang mahasiswa semester 4 Seoul National Academy berpredikat member salah satu boyband yang sedang merajai pasar musik dunia, “SHINee”, melayang-layang mengingat segala perkataan yang baru-baru saja dia dengar. Membuatnya berjalan dengan linglung seperti zombie. Seketika semua ingatannya runtuh, seperti beribu hiasan dinding yang jatuh serentak saat seseorang menepuk bahunya.

“Taemin-ah, kau kenapa? Dari tadi kupanggil-panggil tak dijawab. Mau bergabung dengan kami di cafetaria?” Tanya orang tersebut sembari melirik kearah rombongan teman-temannya. Taemin yang masih sedikit bingung dengan perlahan menggelengkan kepala dan tersenyum sebisanya.

“Baiklah, sepertinya kau juga sedang sibuk. Jaga kesehatanmu Taemin, wajahmu terlihat sangat pucat!” saran temannya yang menangkap sinyal kelelahan dari raut wajah teman ‘superstar’nya itu.

Mereka pun pergi, menyisakan Taemin yang menatap sendu, diiringi hembusan angin yang cukup kuat dipertengahan tahun ini. Membuatnya menatap kearah angin itu, dari arah ‘timur’nya, mengamati sebuah pohon besar yang cukup tua ditinggalkan oleh semua orang yang berlalu lalang disekitarnya hanya karena termakan asumsi akan adanya hal gaib ataupun karena sudah begitu kuno untuk ada di dunia modern ini.

‘Cih! Manusia kolot!’ ejek Taemin sambil terkekeh. Sesaat kemudian dia telah berada di bawah pohon tersebut mencoba meneliti apa yang sebenarnya ada di sana. Rasa penasaran berhasil mengalahkan rasa lelahnya, membuatnya menyentuh setiap inci pohon yang bisa diraih, hingga membawanya pada sebuah lubang di dinding pohon yang lebih tren disebut ‘lubang tupai’ mungkin. Penasarannya beranjak ke level yang lebih tinggi hingga dia memasukkan tangannya mencari tahu apa isi lubang tersebut.

‘Bingo! Sudah kutebak, pasti ada sesuatu!’ batinnya girang. Sebuah buku tua, buku catatan tepatnya, tua & berdebu. Tapi sayang, ketika dibuka masih kosong melompong. “Hahhhh” desahnya perlahan setelah membuat dirinya nyaman di bawah pohon tersebut. Sedetik kemudian muncul pemikiran untuk mengisi buku tersebut.

[ ( First Day )

:: Hahh! Hallo dunia!
Bagaimana kabar hari ini? Aku…… buruk! Baru kali ini pikiran dan perasaanku sekacau ini.

Semoga saja, besok berbanding 180° lebih baik. Berdoalah untukku! ^^      T ]

‘Tidit… tidit…’ alarm Taemin menyadarkannya untuk kembali ke dunia nyata.

“Ok, kau baik-baik disini ya! Aku ada urusan, besok pasti aku datang lagi..” bisik Taemin pada buku itu dan menyimpannya di tempat semula.

‘Aku pasti sudah gila!’ Pikirnya sembari melangkah pergi dan sesekali terkekeh sendiri.

~Satu masa~

“Nona, jangan lupa setelah kursus memasak nanti masih ada kursus balet, dan malam nanti tuan besar ingin bertemu anda..” teriakan pelayan itu menghentikan langkah kaki seorang gadis.

“Ne, arasseo! Aku akan datang 5 menit sebelum semuanya dimulai..” balas gadis itu dengan teriakan yang tak kalah kerasnya, membuat sesosok wanita ¼ abad lebih mendatangi gadis tersebut.

“Minni-ah, apa lagi ini? Bukankah kau ikut kursus kepribadian? Dimana sopan santunmu? Apa sifatmu berubah karena wanita yang telah tiada itu? Kapan kau akan menerimaku Minni-ah?” Tanya wanita itu perlahan sembari mengusap rambut Minni.

“Jangan harap! Dan jangan pernah libatkan ommaku dalam pembicaraanmu yang tak penting itu!” buru-buru Minni menghempaskan tangan wanita itu dan pergi berlalu. Detik pertama langkahnya pelan, detik kelima dipercepat langkahnya, detik kesepuluh kakinya sudah berlari kencang, kemanapun asal tidak melihat wanita tadi dan mengingatkannya pada almarhum ommanya.

‘Sial! Kenapa di pertengahan tahun seperti ini, terasa dingin?’ langkah kakinya seketika terhenti saat dirasakannya hembusan angin menerpa tubuhnya yang hanya berbalutkan dress tipis, mengharuskannya menepi di salah satu pohon disana, tepatnya pohon yang terlihat lebih besar dan kokoh.

‘Sudah lama aku tak memanjat, hehe’ pikir Minnie yang sekejap kemudian sudah mengangkat ujung dressnya dan bersiap memanjat pohon tersebut. Tapi sedetik kemudian dia urungkan niat itu setelah melihat sebuah lubang dari ujung matanya.

“Wah…  buku siapa ini? Bagus sekali..” pekik Minnie setelah melihat buku yang baru saja diambilnya dari lubang itu. “Mari kita lihat, apa yang bisa aku lakukan dengan buku ini.” Dilihatnya sebuah ballpoint terjepit di pinggir buku yang mengganjal sebuah lembar yang telah tertulisi. Menit pertama, dia hanya membaca isi buku itu dengan tersenyum, menit berikutnya, tangannya sudah menulisi buku itu.

[ ( 1st Day … )

Hi there! Kalau kau menanyakan kabarku…. Buruk! Sama sepertimu, hanya saja untungnya aku masih bisa bernafas dan menulis. Okay, aku akan berdoa untukmu!

Oiya, aksen bicaramu sedikit aneh..     M ]

‘Hahh, andai saja aku bisa mengendalikan waktu..” gumam Minnie sembari melihat arloji di kantungnya. Kemudian bergegas mengembalikan buku itu di tempatnya dan kembali ke rumah. Bertemu dengan berbagai keharusan dan makhluk-makhluk yang bagaikan boneka di sana.

“Okay, kali ini akan kubuat guru nanti bersikap manis padaku” bisik Minni perlahan yang membuat sudut bibirnya seakan tersenyum.

===

~Today~

-Paris International Airport-

“.. Penerbangan Union de Transport Aeriens menuju Incheon akan take off dalam waktu 15 menit lagi. Bagi penumpang dipastikan telah berada dalam pesawat. Merci ..” suara pengumuman yang berkumandang, mengiringi langkah seorang wanita berusia 20-an yang setengah berlari hingga dilihatnya sebuah pintu pesawat yang dijaga oleh 2 orang pramugari.

‘Kuharap kalian menyambutku dengan baik’ batin wanita itu. Awalnya wanita itu memberi sinyal dengan tersenyum simpul, lalu seketika pramugari itu menyapanya ramah.

“Bienvenu, miss! Vous etes miss Lee (Permisi, nona! Apakah anda nona Lee) ?”

‘Haha.. mudah sekali’ pikir wanita itu. “Wi, Je suis Lee Minni. Vous peux porter mon sac (Ya, aku Lee Minni. Bisakah kau bawakan tasku) ?” Tanya Minnie sembari menyerahkan tas jinjingnya.

“Wi, along miss (Ya, bisa nona) !” kedua pramugari itu pun mengambil tas Minnie dan mengantarkannya ke tempat duduk.

“D’accord! Merci (Ok! Terimakasi)” ujar Minni manis seraya menyandarkan tubuhnya di tempat duduk. Sekilas diedarkannya pandangan ke sekeliling tempat duduk. Lalu mengeluarkan sebuah buku tua dari slip bag-nya, dibukanya perlahan buku itu, sampulnya yang seperti terbuat dari serat kayu, lalu halaman demi halaman telah dibukanya. Beberapa saat dia sempat berdiam menerawang saat-saat dia menulis dulu, ketika dia membuka beberapa halaman.

[ ( Second Day )

:: Kau benar-benar berdoa untukku?

Wah, kureom kamsa-haeyo! ^^. Kita lihat bagaimana hari ini, lollipop ini untukmu ya!   T ]

[ ( 2nd Day )

Ya, kenapa tidak? Aku pendoa yang manjur lho!

Bagaimana mungkin kau memberiku permen seperti ini, kau saja belum tahu aku perempuan atau laki-laki. Tapi, kamsa hamnida!”    M]

Kenangan itu kembali merasuk ke otaknya, saat dia pertama kali mendapat permen dari seseorang yang mungkin asing baginya. Apalagi dia ingat betul saat itu, dia baru saja mendapat tamparan di pipi kirinya dari ayahnya sendiri karena sikapnya yang terus-terusan memprotes keputusan ayahnya untuk menikah lagi. Ibaratkan oasis, permen itu bisa menghapuskan ¾ dari sakit di pipi dan hatinya.

Tangannya kembali membuka beberapa lembar ke depan, tepat saat itu tangannya kembali lagi bergetar….

[ ( Fifth Day )

:: Hey M! Bisakah besok kita datang bersamaan? Aku sangat ingin bertemu denganmu, lama-lama aku penasaran juga ^^! Aku kesini jam 10 pagi, ok?        T ]

[ ( 5th Day )

Benarkah? Haha.. okelah, aku juga tak mau hanya membayangkan wajahmu terus setiap hari.

Sampai ketemu!           M]

Itulah rekaman terakhir percakapan mereka. Awalnya mereka memang berjanji bertemu di sana, dan Minni datang tepat waktu, tapi tak ditemuinya siapa-siapa. Padahal itu juga saat terakhir dia bisa berada di Seoul, sebelum akhirnya dia dipaksa untuk berangkat ke Paris dan menjalani serangkaian aktivitaas kehidupan selama bertahun-tahun yang dirangkai ayahnya dalam sebuah paket yang disebut “education trip”.

Hingga 20 tahun berlalu dan sekarang waktu untuknya kembali membalaskan segala rasa yang harus ditelan dengan terpaksa karena tak bisa dia muntahkan begitu saja. Rasa tercampakkan oleh ayahnya sendiri yang memilih menikahi wanita-entah dari mana itu- dan menghasilkan satu-satunya alasan mengapa dia harus dikirim ke Paris, yaitu karena cabang bayi yang dikandung wanita itu akan segera dilahirkan dan ayahnya tak ingin putri kandungnya membuat onar pada anak ‘baru’nya.

Belum lagi rasa dikhianati oleh teman pena-satu-satu-nya itu, di saat dimana dia ingin mencari perlindungan dan berbagi masalahnya sebelum dia dikirim pergi, orang berinisial T itu tidak pernah datang. Atau mungkin dirinya yang terlalu cepat datang waktu itu? Jika dia menunggu lebih lama, mungkinkah orang itu akan datang? Yah, pikiran itu terus-menerus datang di benaknya. Tidak ingin sepenuhnya menaruh benci apalagi dendam pada orang itu, teman yang perlahan mengambil sebagian ruang di hatinya.

Minni, gadis itu lalu memutuskan untuk menghabiskan sisa waktunya di pesawat untuk tidur, sembari membayangkan Seoul versinya nanti dimana yang ada hanyalah kebahagiaan untuknya dan pastinya inisial T yang bisa ditemukannya nanti.

***

~Seoul, today~

“Oke, sekian pertemuan kita hari ini. Saya harap tugas kalian selesai tepat pada waktunya. Selamat siang.” Seiring dengan suara penutup dari dosen dan langkah kakinya yang menuju ke pintu keluar, seluruh mahasiswa pun tumpah ruah mengikuti jejak dosen itu. Begitu pula dengan Taemin.

“Taemin-ah, jangan lupa ya kita langsung ngerjain tugas aja dulu di cafetaria. Mumpung baru jam segini dan jadwal manggungmu juga masih bentar malam kan?” seorang teman dengan cepat menarik lengan Taemin yang sudah akan mengambil jalan pulangnya ketika mencapai pintu keluar.

“Ahh, iya benar juga. Bolehlah, yuk!” mereka pun berjalan menyusuri lorong yang menuju ke cafetaria, dan juga mengharuskan mereka menikmati pemandangan taman luas yang dihiasi pohon kokoh ditengahnya yang terkesan tua itu, pohon yang menorehkan kenangan yang cukup bagi Taemin. Sembari melangkahkan kakinya, pikirannya pun ikut melayang ke beberapa minggu lalu dimana dirinya sangat bersemangat menunggu seseorang disana. Dirinya datang tepat waktu, mengosongkan jadwalnya sepanjang pagi-siang untuk menghabiskan waktu bersama orang berinisial M itu, yang dia yakin adalah seorang gadis. Dia ingat betul rasa deg-degan yang menghampirinya waktu itu, melampaui rasa deg-degan saat pertama kali berkencan dengan pacarnya, bahkan masih dapat dia rasakan sampai saat ini hingga membuat kepalanya sedikit pening saat mengingat hal itu.

Saat dirinya memutuskan untuk menghentikan memorinya yang terus berputar diluar keinginannya, tiupan angin kembali membelainya seperti waktu itu. Dan kali ini saat dirinya memalingkan wajah, dilihatnya seorang wanita di bawah pohon itu, dengan semi-dress yang dibaluti bolero, wajahnya yang tak terlalu jelas kelihatan karena ditutupi rambutnya yang setengah tergerai ditiup angin. Hati Taemin berdesir, seperti membisikkan pelan kata-kata “Itu dia!” namun pasti.

“Guys, kalian duluan ya. Aku mau ke sana sebentar, nanti aku nyusul kok” dengan senyum tipis, diyakinkannya teman-temannya itu. Lalu dengan cepat melangkah mendekati sosok di bawah pohon tadi. Semakin lama dipercepat langkah kakinya, tak ingin kehilangan untuk kedua kali. Hingga saat derap langkahnya semakin mendekat dan wanita itu berbalik, dengan raut terkejut di wajahnya.

“Nu.. nuguseyeo?” cantiknya, pikir Taemin.

“Aku bukan siapa-siapa, hanya sedang berkeliling disini saja. Apa aku mengenalmu?”

“Aniyeo, ah maksudku mungkin kita pernah bertemu. Mungkin kau ada janji bertemu seseorang di sini?” ‘duh kenapa jadi kacau begini kata-kataku’ umpat Taemin dalam hati.

“Oh? Kenapa kau bisa tahu? Ya begitulah, dulu.. Dulu sekali, aku memang pernah berjanji dengan seseorang untuk bertemu disini. Apakah kau cenanyang?” tanya wanita itu dengan wajah polos. ‘menggemaskan’ pikir Taemin. ‘mungkinkah wanita ini..’ pikiranya mulai menebak-nebak.

“Haha, aku cenanyang? Yang benar saja. Tapi, hey! Kau benar-benar tidak mengenalku? Kau orang baru disini? Tapi mustahil kau tidak mengenalku, aku kan sudah konser sampai ke luar negeri.” Jelas Taemin terang-terangan tak terima.

“Oh, jadi kau artis? Apa yang kau lakukan?” tanya wanita itu polos.

“Hmm, masa iya aku harus memperkenalkan diriku seperti ini? Ck” omel Taemin sendiri. “Aku ini Taemin SHINee, yang baru-baru ngeluarin album Boys Meet U lho, duh!” wajah Taemin memeraah saat sadar dirinya terlalu konyol untuk melakukan hal itu. ‘Masa iya di zaman secanggih ini masih ada yang tidak mengenalinya? Dari abad berapa sih?’ pikirnya kesal.

“Oo, sebetulnya aku masih belum begitu mengenal siapa kamu. Tapi biarlah, sepertinya kau menarik.” Tanpa menunggu reaksi selanjutnya dari wanita itu, Taemin langsung menariknya menuju ke cafetaria bergabung bersama teman-temannya. Dia sebenarnya juga bingung kenapa tangannya dengan sigap langsung menarik wanita-yang belum diketahui namanya- itu seenaknya. Tapi satu yang dia tahu, dia tidak ingin wanita pergi dulu, perasaan saat kau sangat senang bertemu dengan orang baru, entahlah.

“Chingudeul, aku ajak temen aku ya? Tenang aja dia gak bakal ganggu kok hehe.” Dengan senyum mengembang di wajahnya, Taemin tak perlu repot-repot mendapat penolakan dari teman-temannya, “sekarang perkenalkan dirimu” bisik Taemin pelan pada wanita itu.

“Ah, ne.. annyeong hasseo cheoneun Lee Minni imnida, aku bukan mahasiswa disini, aku hanya sekedar berkunjung. Bangapseumnida!” ‘manisnya, ya Tuhan. Bolehkah aku berharap jika dia orang berinisial M itu? Sial! Siapa namanya tadi? Minni? M?’ perang batin Taemin semakin menjadi-jadi saat dia sadari teman-temannya sudah mulai berdiskusi dan dengan seenaknya menanyakan pendapat Minni tentang segala tugas mereka.

“Hya, hya! Apa-apaan ini? Kenapa kalian merepotkan temanku? Ya, kenapa kalian tidak mengajakku bergabung?” seketika Taemin pun bergabung bersama mereka, diam-diam mengamati gerak-gerik Minni dalam kedok ‘memberi dan mendengarkan pendapat temannya’.

Di satu sisi, Minni yakin ada yang salah dengan pertemuan mereka, perasaannya semakin tak tenang dan tangannya mulai berkeringat, apalagi kalau bukan tanda ini sudah ‘diluar kendali’nya. Dia semakin gelisah, dan samar-samar coba mengucapkan sesuatu dalam hati untuk mengambil alih kontrol akan dirinya dan juga orang-orang di sekitarnya, khususnya namja bernama Taemin itu. ‘kenapa semenjak bertemu dengannya, aku hilang kendali? Manusia macam apa dia?’ batin Minni dalam hati, untunglah bagi dirinya yang seorang ‘Eccedentesiast’ dia masih dapat menyembunyikan rasa sakit & gelisahnya dengan senyuman di wajahnya. Sambil terus-menerus menghitung dari 100 sampai 1 akhirnya dering ponselnya menyelamatkannya.

‘Maaf nona, tuan besar sudah memanggil anda agar segera menuju ke perusahaan’ begitu bunyi panggilan dari asisten yang menjemputnya di bandara tadi.

“Maaf sekali semuanya, aku harus segera pergi, masih ada urusan. Lain kali kita berjumpa lagi, senang bertemu kalian.” Tanpa menunggu reaksi dari teman-teman barunya, Minni langsung beranjak pergi sembari menyambar tasnya. Tapi dia tak sadar, ada hal yang sangat penting yang tertinggal olehnya disana. Sementara sepasang mata milik Taemin menangkap sesuatu berwarna coklat yang tertinggal oleh Minni di kursi cafe, sesuatu yang sepertinya akan menjadi jawaban sekaligus penawar getir hatinya karena sosok Minni yang pergi begitu saja tanpa bisa dia cegah.

“Hya, Taemin-ah! Kau jangan terlalu terpesona dengan wanita itu. Kau lupa pada chagi mu? Kali ini biarkan Minni jadi incaranku, eoh?” seorang teman dengan cepat menyampaikan maksudnya.

“Haha, yang benar saja kau. Aku ingat kok..” jawab Taemin diiringi tawa renyah diakhirnya. ‘Aku ingat kok kalau wanita itu bisa saja milikku..’ tawa Taemin semakin geli pada pemikirannya sendiri.

***

‘Cepatlah pulang’ dibaca berulang-ulang pun bunyi smsnya akan tetap sama, tak ada yang berubah. Dan sekarang Taemin sudah mengambil taksi paling cepat menuju ke rumah kediamannya. Tak habis dipikir, bisa-bisanya dengan bunyi pesan sesingkat itu, appa bisa mengendalikan semua keadaan, bahkan hati dan pikirannya sekarang sudah naik level menjadi ekstra gelisah, karena sebelumnya masih berada satu tingkat di bawah berkat kejadian tadi siang.

“Wanita itu.. Minni..” kembali dirinya meremas buku di genggamannya, buku yang sangat familiar bagi Taemin. Setelah pertemuan tadi siang dengan Minni, Taemin langsung penasaran dengan buku itu. Dan benar saja, fakta yang dia dapat adalah wanita berinisial M itu adalah Minni, ‘mungkinkah sekarang dia kembali untuk bertemu denganku dan meminta maaf?’ tapi sebelum berkembang menjadi liar, dia putuskan untuk menghentikan saluran pikirannya yang terkadang sangat cerewet.

“Ajusshi, setelah gerbang biru itu menepi ya..” kali ini Taemin tak habis pikir mengapa rumah appanya sangat ramai dipenuhi dengan berbagai jenis mobil mewah dan beberapa bodyguard sudah ditempatkan di beberapa titik. Saat mereka melihat sosok Taemin, langsung saja dia dibawa masuk ke dalam ballroom di gedung utama rumah tersebut. Dan seakan appanya mendapat sinyal akan kedatangan dirinya, pria paruh baya itu segera mengangguk dan tersenyum kearah pembawa acara.

“Nah, langsung saja kita sambut Miss Lee Minni, putri pertama dari Tuan Besar Lee yang akhirnya kembali dari studinya selama bertahun-tahun di Paris. Miss Lee, welcome back!” seturut dengan berdirinya sosok wanita cantik yang anggun, seluruh tepuk tangan riuh pun bermunculan, dan senyum bangga muncul di setiap wajah para tamu. Sementara kepala Taemin terlalu pening dengan desakan saluran ‘ngiiiingg’ yang mengudara.

“Gomapseumnida. Cheoneun Lee Minni imnida, semoga kita dapat bekerja sama di masa mendatang. Sekali lagi, terima kasih atas sambutannya.” Dan menutupi salam singkatnya itu, senyuman anggun mempermanis malam itu, membuat Taemin terbuai sesaat dalam pesona wanita itu, tapi tiba-tiba seakan sebuah tamparan keras mendarat di wajahnya dan sebilah pisau menyayat tajam hatinya. Hatinya sakit dan otaknya tak dapat menyerap semua hal sejernih biasanya.

Lee Minni. Putri pertama appanya? Studi di Paris? Lalu apa lagi? Hati Taemin semakin kacau dan menggebu-gebu saat dilihatnya wanita itu beranjak menuruni panggung. Segera diambilnya langkah panjang, menerobos beberapa tamu, hingga akhirnya berhasil meraih lengan Minni, yang ternyata tingkat kehalusannya membuat Taemin ragu untuk mempererat genggamannya.

“Ikut aku.” dengan cepat Taemin membawa mereka sampai di balkon salah satu ruangan yang ternyata memiliki scenery langsung ke lautan lepas yang sedang bermandikan cahaya bulan. ‘Sial, ini terlalu indah untuk malam yang separuhnya menyakitkan’ umpatnya.

“Kau, maksudku, coba jelaskan apa sebenarnya yang terjadi? Dan apa kau masih ingat tentang buku ini? Ayolah, jangan bilang kalau kau juga tak mengerti apa yang sedang terjadi!” tanya Taemin setengah frustasi sambil mengacak rambutnya pelan setelah menunjuk-nunjuk buku di tangannya.

“Jadi kau Taemin.. kau benar-benar adikku ya? Hmm… mana mungkin aku mengerti semuanya dengan rinci termasuk rencana Tuhan dari atas sana? Sejujurnya, aku juga baru saja tiba hari ini dari Paris, dan aku langsung mengunjungi rumah lama kami, maksudku dulu rumah lama kita bertempat di kampus itu sebelum akhirnya appa membangun sebuah sekolah dan membuat kita pindah ke sini setelah aku berangkat 20 tahun lalu. Dan yah, aku masih ingat jelas tentang buku itu, makanya aku memohon pada appa untuk tidak merusak pohon keramat disana sedikit pun.”

“Apa kau bilang? 20 tahun lalu? Baru kembali dari Paris? Kita kan janjian bertemu di bawah pohon baru beberapa minggu yang lalu? Bagaimana bisa? Ayolah, kapan timing munculnya ucapan ‘Selamat kamu kena prank’-nya muncul? Ini pasti bercanda!” genggaman Taemin pada pagar pembatas balkon menguat.

“Hmm, jadi begitu. Beberapa minggu lalu ya? Berarti kita dipertemukan oleh Tuhan secara tidak sengaja. Apakah kau tahu? Saat aku menulis segala isi di buku itu, aku baru berumur 8 tahun. Jadi bisa di bilang saat itu kau berbalas pesan dengan anak berumur 8 tahun, hahahaha.” Tawa garing Minni mengudara dan menguap sejenak. “Aku juga minta maaf saat itu dengan segala keegoisan dan kelabilan emosiku, aku membawa pergi buku itu ke Paris, habisnya kau telat sih, duh kita kan memang tidak akan pernah bertemu waktu itu, terang saja kita berbeda zaman hehe. Singkatnya, kau anggap saja waktu itu kita menemukan sinyal khusus di bawah pohon itu yang membuat kita dapat menembus waktu untuk dapat berhubungan. Ambil sisi positifnya saja, setidaknya sekarang kita dapat bertemu dan kuharap kau tidak seperti kebanyakan dongsaeng-dongsaeng tiri di dongeng ya.” Jelas Minni panjang sambil mengusap rambut Taemin sejenak dan mengakhiri semuanya dengan senyuman ringan, dalam hati dia bersyukur menjadi seorang Eccedentesiast ternyata bermanfaat.

“Kau bercanda ya? Tidakkah kau merasakan hal yang sama denganku? FYI ya, aku ini sudah punya pacar, tapi setelah berhubungan denganmu lewat buku ini, aku cukup menaruh perhatian padamu! Sesanghae.. jangan bercanda! Aku benar-benar suka padamu, maksudku cinta! Kau tahu? Bahkan aku tidak pernah segugup waktu itu sebelumnya, kau mengendalikan hatiku!” sekarang Taemin sudah tidak seragu tadi untuk memegang kedua lengan Minni untuk meyakinkannya.

“Oh my God! Jangan bilang kau jatuh cinta padaku. Kita ini saudara Taemin, aku lebih tua darimu dan usiaku 28 tahun ini, walaupun kita berbeda ibu tapi tetap saja mustahil. Hahaha, sudahlah anggap saja itu hanyalah satu dari cinta labilmu!” Minni tahu iya sudah melakukan yang terbaik agar dongsaeng yang dicintainya juga itu tidak melakukan kesalahan dalam hidupnya. Sebagai seseorang yang bisa mengendalikan perasaan seseorang, dia sudah berusaha keras untuk dapat memudarkan perasaan cinta Taemin, karena mustahil baginya untuk benar-benar membuat Taemin mati rasa padanya. Tapi apa daya, malahan kekuatannyalah yang seakan memudar saat berada di dekat Taemin.

“Kurasa kita harus kembali ke dalam, appa pasti mencari kita” dengan cepat Minni melangkah dan berada sedekat mungkin dengan appa nya.

“Wah wah wah, kalian sudah saling bertemu ya? Padahal appa baru saja akan mempertemukan kalian..” ucap tuan Lee saat melihat kedua anaknya menuju kearahnya bersama-sama.

“Ne appa, bolehkah aku mengajak eonni tersayang untuk berdansa?” tanya Taemin dengan mata berbinar dan senyum nakalnya.

“Tentu saja! Usulmu juga sangat bagus, daripada hanya acara makan dan minum seperti ini. Baiklah kalian bersiaplah mengambil posisi, akan appa beritahu pada operator musicnya” tanpa bisa menolak sedikit pun Miini pasrah dan luluh pada keinginan Taemin dan juga hatinya yang sebenarnya juga ingin berada di sampinng Taemin, saat tangan Taemin melingkar di pinggangnya, Minni seperti coklat yang sedang meleleh tanpa bisa menolak.

Musikpun terdengar setelah pengumuman adanya acara tambahan –dansa- diumumkan, membuat semua tamu sibuk mencari pasangan berdansa. Tapi tidak menghalangi pandangan mata Taemin dan Minni yang sejak tadi telah intense bertemu, serta gerakan menari mereka yang mengalir dan menyatu bersama musik, dalam hati Minni berani bertaruh perempuan mana yang bisa menolak hangatnya sentuhan jemari Taemin di pinggangnya, sebagai pembelaan atas kelonggaran tekadnya untuk membuat Taemin benci padanya.

“Jauh di dalam hatimu, aku tahu kau juga suka padaku Minni..” sebuah senyum terkulum simpul di bibir Taemin. “Tak peduli dengan pikiran yang lain, tapi jujur aku hanya ingin bersamamu.” Taemin mengeratkan pegangannya di pinggang Minni. “Aku bisa membuatmu jatuh cinta padaku, singkatnya aku bisa membuatmu jadi milikku” bisik Taemin singkat sebelum mengelus lembut rambut Minni, tak peduli dengan pandangan orang di sekitarnya. Toh, mereka juga pasti akan menikmati pemandangan manis ini.

***

“Kau baik-baik saja hanya dengan kemeja itu? Ini memang pertengahan tahun, tapi dinginnya angin malam ini bisa menyamai angin musim semi di Paris” tanya Minni penuh khawatir pada Taemin yang menyandangkan jacket semi jas pada dirinya di balkon tadi.

“Tenanglah, aku baik-baik saja. Bahkan aku masih sangat merasa hangat hanya dengan begini, tidak percaya?” dengan cepat Taemin merengkuh tubuh Minni yang walaupun lebih tua dari tapi tetap saja lebih mungil darinya.

“Hya! Tidak usah seperti ini, aku kan..”

“Ssstt…. tenanglah, atau kau ingin orang-orang melihat kita dengan posisi seperti ini dan menyadari semuanya?” anggukan kecil terasa di bahu Taemin. “Aku sudah tahu segala kemampuanmu sejak pertama kita bertemu tadi, seorang pengendali perasaan dan seorang Eccedentesiast. Tapi kau tak usah cemas aku tahu darimana dan tak usah takut aku akan membeberkan semuanya pada orang-orang, karena rahasiaku mungkin lebih berat dari punyamu.” Dapat dia rasakan perubahan Minni dari tenang menjadi tegang, tapi kemudian tangannya kembali mengelus rambut halus wanita itu.

“Aku cukup bingung awalnya dengan diriku, mulai dari suara-suara dari saluran aneh yang sering muncul di kepalaku, perasaan-perasaan bahagia dan ingin menyenangkan banyak orang yang tiba-tiba muncul, hingga akhirnya aku sadar bahwa aku terlahir sebagai setengah malaikat Minni. Dan belakangan ini, aku diberi kesempatan untuk memilih sepenuhnya menjadi manusia atau malaikat. Aku ingin sekali jadi sepenuhnya malaikat agar keegoisanku bisa hilang dan aku dapat menyenangkan banyak orang, apalagi appa yang masih saja tak setuju dengan keinginanku untuk berkarir bersama SHINee melainkan menyuruhku untuk melanjutkan bisnis perusahaan dan sekolahnya. Tapi hari ini, aku merubah keputusanku hanya karena dirimu. Karena jika aku memilih menjadi manusia, aku akan diberi kesempatan menyampaikan permintaan pertama dan terakhirku pada malaikat tingkat atas.” Terang Taemin masih sambil memeluk Minni.

“Jangan bilang salah satu permintaanmu..” senyum Taemin sudah merekah sebelum kata-kata Minni selesai terucap, membuat Minni tak percaya dengan sosok dihadapannya yang dia anggap hanya bocah labil biasa. Tapi kemudian ciuman manis mendarat lembut di keningnya, membuat Minni terpaku tak berdaya seakan seluruh kekuatannya selama ini lenyap diserap manusia setengah malaikat di hadapannya.

“Hmm.. sebentar lagi. Beberapa menit lagi hari akan berganti dan itu berarti hari ulang tahunku tiba, bertepatan dengan keputusan yang akan aku sampaikan. Apakah para malaikat senior diatas sana akan menyetujui permintaanku, entahlah. Yang penting keinginanku tulus dan murni, aku berharap banyak padamu Minni..” Taemin sudah melepaskan pelukannya dan memposisikan mereka duduk bersampingan. Suara Taemin yang meredup membuat Minni menatap wajahnya lama, dengan mata yang terpejam, dia baru sadar bahwa Taemin memang terlihat seperti malaikat. ‘Pantas saja dia hangat sekali, hangat yang khas’ pikir Minni.

Sesaat kemudian, genggaman tangan Taemin menguat, alih-alih mencari raut wajah kesakitan, malah senyuman damai yang dilihat Minni. “Kutunggu ucapan selamat ulang tahun darimu di kehidupan selanjutnya..” kata-kata itu adalah yang terakhir yang dapat ditangkap oleh pendengaran Minni sebelum cahaya menyilaukan menyelimuti Taemin dan membuatnya kehilangan kesadaran.

===

Epilog

Sinar mentari yang menyilaukan. Hangatnya selimut yang sangat nyaman. Dinginnya angin pagi yang entah muncul dari mana di pertengahan tahun ini.

‘Sepertinya semua terlalu normal’ pikir Taemin saat perlahan membuka matanya. Setelah mengumpulkan seluruh kesadarannya, dia meneliti tempatnya berada sekarang. Semuanya didominasi warna putih dan abu-abu serta beberapa warna pastel dan neon yang melengkapi, seperti sebuah kamar dorm yang selalu diinginkannya untuk SHINee tinggali.

“Hya, Jonghyun-ah! Jangan seenaknya terus-menerus mencicipi masakanku! Nanti sarapan apa kita hah? Cepat bersiaplah membangunkan Taemin! Aku tidak mau tahu, pokoknya surprise kita harus berhasil! Minho-ya, Onew hyung, bersiap di posisi kalian masing-masing!” terdengar teriakan Key dari arah luar kamar yang membuat Taemin tertawa geli karena sudah mengerti jalan ceritanya di kehidupan yang sekarang.

“Hana, dul, set… Saengil Cukhae Hamnida Uri Taemin! Tooottt tooott tuuutt!” segala keributan dari percampuran teriakan dan alat-alat tiup tumpah ruah di ruang kamar Taemin. Dengan perasaan terharu karena yakin salah satu keinginan terakhirnya terwujud, Taemin tersenyum. Yah, dia sempat memasukkan ‘dapat hidup bahagia dan bebas berkarya bersama SHINee dengan restu appa’ dalam list permohonannya. Setelah menyuruh Taemin membuat permohonan dan meniup lilin di kue ulang tahunnya, mereka pun melakukan ‘gather hug’ khas SHINee yang membuat semua shawol terharu jika melihatnya dan histeris membayangkan kalau mereka yang berada di tengah-tengah lingkar pelukan namjadeul itu.

“Ting … tong ….” bunyi bel yang menggema membuat seluruh member kecuali Taemin menghambur kearah pintu karena mereka sudah tahu siapa yang akan datang. Tanpa menghiraukan kejanggalan itu, Taemin asyik mulai membayangkan akan memotong kue tersebut dari sebelah mana. Dan tiba-tiba saja, semuanya menjadi terlalu hening…

“Saengil cukhae hamnida… saengil cukhae hamnida… saranghaneun Taeminieyeo, saengil cukhae hamnida~~”  suara nanyian itu halus dan manis terdengar di telinga Taemin, dengan suara yang sedikit bergetar di akhir nyanyiannya, suara itu mampu membuat Taemin melihat kearah pintu kamarnya.

“Mi.. Minni-ah?” setelah mengerjapkan mata berkali-kali, Taemin langsung mengambil langkah panjangnya untuk segera memeluk Minni, wanita yang menjadi alasan terkuatnya memutuskan untuk menjadi manusia seutuhnya.

“Hey, Saengi Cukhae Taeminie! Hehe.. kau sepertinya sangat merindukanku ya? Kau kan Cuma beberapa hari ke Jepang untuk JAT Concert mu itu..” ucap Minni pelan. “Taemin-ah, peluknya jangan kencang-kencang dong, aku sedikit sesak” tapi apa daya, Taemin seakan tak peduli dan malah semakin mempererat pelukannya pada wanita yang sangat dicintainya itu.

“Berapa usiamu sekarang Minni-ah? Menurutmu, di kehidupan sebelumnya kita pernah bertemu?” ‘Kuharap ingatannya tentang masa lalu juga hilang’ bisik Taemin dalam hati.

“Hya! Tidak sopan menanyakan umur seorang wanita Taemin, aku ini kan masih 19 tahun, 2 tahun lebih muda darimu Tuan Super Duper Pelupa!” jawab Minni sambil memukul kecil dada Taemin. ‘Persis seperti yang aku mohon.. apa ya? Ah iya, kulitnya masih sehalus waktu itu, dalam takaran yang terlalu halus’ batin Taemin.

“Lagipula pertanyaan macam apa itu? Aku tidak tahu di kehidupan sebelumnya kita pernah bertemu atau tidak, yang penting aku sudah bersama denganmu sekarang dan aku akan selalu berdoa pada Tuhan agar kita dipertemukan lagi di kehidupan selanjutnya” ujar Minni pelan namun terkesan sungguh-sungguh. Kemudian membuat Taemin melonggarkan sedikit pelukannya.

“Bolehkah aku minta hadiahku?” disambut dengan tatapan polos Minni, membuat Taemin semakin gemas..

“Ah, mianhaeyeo Taemin-ah. Aku lupa membawa kado..”belum selesai Minni berucap, Taemin sudah mendaratkan ciuman ringan di bibir pink-peach gadis itu. Setelah melihat senyum malu dan rona merah di wajahnya, Taemin pun mendaratkan sekali lagi ciuman yang lebih manis di bibir itu. Gadisnya.

Onew, Jonghyun, Key, dan Minho yang memperhatikan dari celah pintu pun berdesak-desakkan tak tenang dan jatuh mendorong pintu kamar itu.

‘Hahaha.. mengganggu saja’

-End-

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

11 thoughts on “[WFT B] Taemin’s Super Secret Revealed

  1. Author masih ada typho
    Jadi ceritanya TaeMin mengubah jalur cerita hidupnya, yang seharusnya menjadi dongsaeng Minmi. Bukankah itu berarti dia menghilang.
    Keren”

    1. wah iya, maaf ya author juga masih sering salah. akan aku perbaiki di karya2 selanjutnya🙂
      ne, begitulah. jadi dari yang dulunya setengah malaikat gitu chingu ^^
      kamsahamnida udah baca + commentnya!

  2. Wahhh kereenn aku sukaaa… jadi taemin itu setengah malaikat?? ya! taemin-a! sampai srkg pun kau adlh malaikat! tak pakai setengah-setengah *rada iklan -__-* pertamanya rada bingung, klo taem itu adenya minni, knpa bsa ketemuan pas minni kecil, kan taemin msh di ambang sana -_- tp akhirnya ngerti jgaaa… keerreeenn.. mian komennya kebayakan *ditendang*

    1. gomawo chingu udah mau baca ^^
      yup! begitulah, hehe.. emang dia kan malaikat abadi (?) hihi..
      iya chingu, maaf ya kalo agak rumit dingertiin, next time pasti di permudah lagi segi penulisannya🙂
      gak papa kok chingu, semakin banyak masukan bisa semakin membangun,
      kamsahaeyeo~

  3. wuaaa kereen~~~~~
    aiya taemin kan sering dapet julukan fairy~~ terus da selalu bilang dia itu human being haha~~
    nie story^^~~ jjang!!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s