[WFT D] Lotus [2.3]

Tittle                   : Lotus

Author                : Lee Hana

Main cast            : Lee Taemin and Cha Yoonha

Support cast       : Kim Kibum

Genre                 : School Life, Hurt and Romance

Length                : Sequel

Rating                 : PG

*Lotus*

Sesungguhnya hatiku tengah dilanda gundah. Waktu berlalu dan beberapa hal sedikit demi sedikit telah berubah, begitu juga aku. Itu mungkin hal yang tak aku sadari dengan diri sendiri. Ya, begitu juga sikap teman-temanku terhadapku. Entah, aku tak yakin kami masih bisa disebut begitu. Tapi, aku tak ingin dengan Yoonha. Lalu bagaimana sekarang? Aku sudah melihat perubahan pada dirinya, terutama padaku. Dia menjadi aneh. Aneh karena dia tak bayak tersenyum seperti biasanya. Lebih banyak diam dari bicaranya. Padahal, aku paling suka dia bercerita tentang dirinya dan apa yang dia tahu tetapi aku tidak. Sekarang …, tawa sudah cukup sulit aku temui darinya. Sebenarnya ada apa? Sedang dia diam dan menutupinya. Menutupi dengan tawanya yang kosong tanpa arti. Yoonha, aku khawatir padamu.

Kini hentak langkah yang pelan mengiringiku melalui lorong sunyi dan kosong. Satu-satunya yang mau menemaniku dengan gemanya. Langkahku terus tertuju pada sebuah pintu yang di dalamnya selalu aku yakini ada seorang gadis berkerudung, Yoonha. Tetapi, tiba-tiba langkahku tercekat, sedang aku tersentak kaget dengan mata menerawang ke depan. Itu aku lakukan karena sebuah hantaman kecil menggetarkan gendang telingaku lebih keras, suara lain. Aku terdiam dan meyakinkan suara yang samar terdengar. Namun ketika aku sadar suara itu adalah suaranya, semua itu membuat wajahku memucat.

Aku berlari dengan penuh kekhawatiran. Tak sampai sepuluh meter langkahku berjalan sudah dapat kutemui pintu itu sedikit terbuka, dan sialnya suara tangis itu semakin lirih dan jelas kudengar. Yoonha …. Dan apa yang aku khawatirkan memang terjadi. Sosok yang biasanya di penuhi senyum kini meringkuk dengan tangisannya. Memeluk lutut sendirian dan menatapku dengan mata merah dan bengkaknya ketika ia mengatahui kehadiranku.

“Yoo—Yoonha,” jawabku lemas di ambang pintu. Rasanya hatiku mencelos dari rongganya ketika menangkap pemandangan di hadapanku. Kepalanya yang biasa ia lindungi dengan kerudungnya, kini rambutnya bisa aku lihat dengan bebasnya. Rambut panjang yang ia kuncir dengan ikat rambut yang pernah aku berikan padanya. Aku lemas seketika.

“Tae …. Hiks! Taemin ….” lirihnya dengan suara yang sudah benar-benar serak.

Aku segera menghampirinya dan duduk bersimpuh seraya memegang bahunya. Menatapnya dekat dengan penuh kekhawatiran.

“A—apa yang terjadi? Ke mana?! Ke mana kerudungmu?!” tanyaku panik.

Yoonha yang terus menangis kini menggeleng-geleng lemas, membuat tautan alisku tergurat dan membuat cengkeramanku pada bahunya menguat.

“Katakan sesuatu! Aku tak mengerti?”

“Molla,” jawabnya lemah hampir tidak terdengar sama-sekali.

“Mwo?”

“Tadi—tadi aku menjemurnya di sana,” ujarnya seraya menunjuk ke arah jendela yang terbuka lebar di atasnya.

“Lalu ke mana sekarang?”

“Molla, Taemin! Molla!! Aku hanya meninggalkannya ke kamar mandi sebentar!” Bentaknya frustasi lalu menangis lebih kencang dan menenggelamkan kepalanya dalam ringkukannya yang terus ia lakukan. Aku tak pernah melihatnya menangis dengan cara seperti ini. Yoonha yang aku kenal adalah Yoonha yang kuat. Ia tak pernah mau memperlihatkan air matanya di hadapan orang lain. Dan jika seperti ini …, aku yakin karena dia sudah mrasa sangat tersakiti. Jika dia sakit, aku juga sakit. Jika dia marah, aku juga kan marah. Siapa? Siapa manusia tak punya hati yang begitu tega pada teratai ini?

Aku tak bisa. aku benar-benar tak bisa melihatnya seperti ini. karena itu, kini aku beranjak dan berjalan menuju pintu dengan kepalan tangan yang kuat. Meninggalkan Yoonha sendirian yang tengah menangis. Tidak apa-apa. Aku yakin Yoonha tidak akan apa-apa. Yoonha bersabarlah! Setidaknya sampai aku bisa menemukan kerudung milikmu, bahkan jika aku harus menggeledah semua loker siswa di sini dan bertarung dengan mereka satu-persatu. Apapun aku lakukan deminya, asal aku tak melihatnya menangis. Asal, tawanya kembali pada wajahnya.

Satu demi satu pintu kelas aku buka dengan kasar. Satu demi satu anak-anak aku lntarkan pertanyaan. Namun, semua berujung sama. Tak ada yang bisa aku dapatkan. Berlari lorong demi lorong. Menajamkan mata mencari benda itu. Tidak! Meski lelah aku takkan berhenti. Tapi ke mana? Ke mana lagi aku harus mencari? Sedang aku sudah mengitari seluruh sekolah. Tidak! Belum! Tidak di halaman. Ya, itu satu-satunya tempat yang belum aku kunjungi.

Aku menginjakkan kakiku pada rumput di halaman sekolah. Atap yang melindungiku dari panasnya matahari tak lagi bisa aku rasakan. Kini aku mulai mengedarkan pandangan lagi ke seluruh tempat yang dapat terjamah mata. Ya! Itu! “Itu kerudung Yoonha!” pekikku semangat, ketika mata ini menatap sebuah kain putih yang menggantung pada ujung ranting kecil sebuah pohon besar.

Aku segera berlari arah sana. Tentu saja, aku akan memanjat. Aku tak takut pada ketinggian. Aku bahkan pintar memanjat. Yang aku takutkan adalah, ketika Yoonha tak bisa berhenti memangis dan aku tak bisa menemukan kembali cercah senyum dan binar kebahagiaan pada wajahnya yang semakin hari serasa semakin menyendu. Terlalu banyak beban yang ia tanggung dari kami, para lumpur.

Aku mulai memanjatnya. Satu persatu menaiki dahan sebagai tanjakan. Beruntung benda itu tak terlempar begitu tinggi hingga harus berada di pucak sang pohon. Aku sampai pada dahan besar itu berada. Memijaknya dan mulai berjalan. Di sana, aku bentangkan tanganku lebar—mencari keseimbangan—takut-takut jatuh dari sini. Jika aku jatuh, bukan hal yang mustahil tulangku akan remuk, sedang saat ini dahannya mulai bergoyang-goyang seperti ada angin besar yang menghantamnya kuat. Begitu juga tubuhku, beroyang.

“Taemin-ah!” Suara itu sampai ke telingaku. Ya, itu suara Yoonha, aku sangat mengenalinya hingga begitu mudah aku mengalihkan pandanganku ke arahnya. Tetapi itu benar-benar bodoh karena di saat yang sama itu membuat konsentrasiku buyar hingga terpeleset dalam pijakanku yang rapuh. Tetapi bukan! Bukan karena itu aku terjatuh, namun, karena aku terlalu terkejut akan penampilannya sekarang.

“Aaargh!!” Aku dengar teriakan-teriakan ketakutan darinya dan ia segera menutupi pandangannya dengan kedua tangan, juga beberapa orang yang menontonku di bawah. Ya, mungkin mereka menganggap ini adalah sebuah adegan sirkus yang patut untuk menjadi tontonan. Tapi aku, tidak! Tidak akan jatuh dengan mudah.

Aku menggelantung kayaknya seekor monyet hingga kemudian dengan sedikit susah payah kembali berada di atas dahan yang semakin jauh semakin berukuran kecil. Aku duduk di sana sebentar dan mulai berteriak, “Yoonha, kenapa kau keluar?!”

“Gwenchanayo! Cepat turun!” ujarnya seraya meletakkan kedua tangannya di samping mulut agar suaranya sampai pada telingaku.

“Aniyo! Takkan sebelum aku mendapatkan kerudungmu terlebih dahulu!”

“Andwe!! Aku lebih takut jika kau jatuh!”

Tidak! Aku tidak perlu mendengarkan Yoonha. Aku sudah sampai di sini, dan aku tak perlu takut lagi untuk jatuh kedua kalinya, meskipun, ranting ini semakin kuat bergoyang ketika semakin dekat aku dengan benda yang ingin aku dapatkan. Kini perhatianku tak ke mana-mana, hanya pada benda di ujung ranting. Ya, aku mulai mengulurkan tanganku ketika aku pikir tempatku sudah dekat dan tak ada lagi dahan kuat yang bisa aku jadikan pijakan. Mengulur sepanjang yang aku bisa, meski sulit.

“Aku harus mendapatkannya!” desisku seraya berusaha. “Yup, Dapat!” ujarku ketika kain itu sudah pada genggaman.

Kini aku bisa bernapas lega setelah sejak tadi kutahan karena ranting yang terus saja bergoyang. Aku kini bisa tersenyum ke arah Yoonha dengan lepas, sedangkan gadis itu, dia terlihat menghela napas hingga pundaknya yang tegang kini melemas.

Aku turun dengan dahan-dahan itu dan berdiri di hadapannya. Tepat di bawah pohon besar ini. Menunjukkan senyumku dan rasa banggaku terhadap diri sendiri, juga mengulurkan benda yang berhasil aku dapatkan dengan susah payah. Tetapi dia, hanya mengambilnya dan merunduk diam.

Tiba-tiba aku mengingat sesuatu. Tepatnya …, seseorang yang benar-benar kurang ajar. Aku mulai menyapu pandanganku kepada orang-orang yang masih melihati kami. Melihatku yang terlihat seperti menjemput maut, dan melihat Yoonha yang seperti …, entah, mungkin badut. Dasar lumpur! Semua itu membuat kemarahan yang beberapa saat hilang kini kembali menguap lagi.

Aku mengepal tanganku kuat dan menusuk mereka dengan pandangan tajam, dan aku mulai berteriak, “Siapa di antara kalian yang mengambil kerudungnya dan melemparnya di sana?!!”

Tidak! Mereka bungkam. Kini tak ada yang berani menatap kami. Mereka membuang muka dan mulai saling berbisik. Baiklah, aku sudah hilang kesabaran. Dan ada sebuah nama yang tiba-tiba tersirat di otakku. Orang yang aku pikir adalah pelakunya. Lebih dari itu, dia pasti pelakunya, karena tak ada yang lebih membenci Yoonha darinya.

Aku menghentak langkah menuju ruang kelas, tepatnya kelasku. Di sana adalah tempat yang aku yakini tempat si berengsek itu bertengger. Hngeh, lihat jika mataku sudah menangkapnya! Aku takkan melepaskannya. Tetapi ketika aku sampai di depan kelas, orang itu bahkan tak terlihat batang hidungnya. Baiklah, kantin, bahkan jika aku harus mengelilingi sekolah ini.

Tetapi bahkan belum derapku memasuki kantin, aku telah menemukannya tengah berjalan memunggungiku dengan dua badut konyol yang terus mengikutinya ke mana-mana. Aku semakin berang meski hanya sebuang punggung yang kini bisa aku tangkap dengan indra penglihatku. Aku segera berjalan cepat ke arahnya dan menarik kuat bahunya hingga ia berbalik menghadapku cepat, dan seketika aku menghujaninya dengan tatapan permusuhan.

“Yah!” bentaknya seraya menepis tanganku dengan kasar.

“Kenapa kau mengambil kerudungnya?” tanyaku ketus.

Alisnya bertaut, tapi aku yakin dia hanya ber-ackting. “Siapa maksudmu?”

“Siapa lagi? Yoonha!!” bentakku keras membuat orang-orang yang tengah sibuk berlalu lalang segera memberikannya tatapan penasarannya kepada kami.

“Kau jangan asal menuduh, ya?” tiba-tiba seseorang ikut menyahut. Dasar, pembantu!

“Ka ….”

“Kau tak perlu ikut campur! Pergi sana!!” titahnya kasar kepada Jeongsun dan Leeyang. Membuat dua orang itu berdecak dan pergi seraya berlenggang kesal. Padahal baru saja aku yang ingin mengusirnya, tetapi itu bahkan ia lakukan dengan senang hati. Aku lihat mereka tak suka diperlakukan seperti itu, lalu kenapa mereka terus bertahan menjadi budaknya?

Tak berhenti di sana karena orang-orang masih memandangi kami dan ia mulai berteriak lagi. Kali ini tampangnya semakin kesal. “Apa yang kalian lihat?! Pergi kalian semua dari lorong ini!!” Dan dengan cepat orang-orang segera mengeluarkan gemuruhnya dan menghilang dalam sekejap mata bersama bisingnya yang mengikuti. Mereka benar-benar menurutinya. Kini tempat ini benar-benar sunyi dan kosong.

Kini tatapan Kibum tak lagi teralih pada hal lain, hanya padaku. Dia menatapku dengan tatapan merendahkan seperti biasanya, tetapi bukan berarti itu akan membuatku ciut. Dia terkekeh geli dan itu benar-benar membuatku ingin muntah.

“Baiklah, sekarang coba ulangi apa yang kau katakan tadi!”

Dia …. Dia benar-benar mau mengajakku bertengkar. Aku berdecak kesal. “Baiklah, aku sudah cukup bersabar padamu. Dan aku minta …, berhentilah cari perkara dengan Yoonha! Kau sudah keterlaluan dan kau mengganggu!!”

Dia terkekeh aneh hingga membuatku benar-benar geram. “Berhenti seperti itu! Aku serius!!” bentakku dengan mata melotot.

“Aku tak mengerti apa kau yang katakan,” jawabnya dengan begitu santai.

“Mwo?!” pekikku. “Kau—kau baru saja mengambil kerudungnya dan melemparnya di atas pohon!!” teriakku marah dan tak habis pikir. Bagaimana dia bisa setenang ini bahkan setelah ia sudah tertangkap basah?

Dia mengernyit. “Aniyo!” bantahnya cepat.

“Kau jangan bohong!”

“Aku bilang tidak, berarti tidak!”

“Hanya kau yang bisa melakukan hal semacam itu! Hanya kau satu-satunya orang yang membenci Yoonha hingga seperti itu! Jadi siapa lagi?! Kau bahkan memintaku menjauhinya karena kau tak suka dia memiliki teman, ‘kan?! Mengaku!!” tuduhku lagi, kali ini dengan tatapan yang menusuk.

“Itu karena aku menyukainya?!! Aku tak suka kau dekat dengannya!” teriak Kibum pada akhirnya.

Aku terdiam. A—apa?! Apa aku salah dengar? Aku salah dengar, ‘kan? Aku pikir dia sudah frustasi karena itu dia bicara ngawur.

“Mwo?” Aku mendengar suara lemah seorang wanita. Seseorang yang tengah berdiri tak jauh dari kami dalam diamnya. Itu Yoonha. Ia menatap Kibum dengan tatapan tak percaya. Sepertinya ia sama sulitnya mempercayai hal ini, sama sepertiku.

“Yoonha!!” pekikku, sedangkan Kibum terlihat mulai panik. Wajahnya memerah hampir terlihat seperti tomat yang masak.

“Apa yang baru saja kau katakan?” tanya Yoonha pada Kibum.

“A—aku …, aku tak mengatakan apapun,” jawabnya gugup lalu segera berjalan ke arah Yoonha dengan langkah cepat, lalu melewatinya. Sesaat bola mata Yoonha terus mengarah kepada Kibum, sebelum ia menghilang di balik tikungan koridor. Setelahnya, Yoonha menatapku.

“Taemin-ah, apa yang aku dengar itu benar? Dia—menyukaiku?”

Aku merengut. Benar-benar jelas mimik cemburu tergambar di sini, tapi entahlah, Yoonha dapat menangkap atau tidak. Aku hanya menjawab, “Kau percaya padanya? Itu hanya alasan!” dengan ketus.

“Tapi Taemin-ah, bukan dia orangnya. Bukan. Bukan namja. Dia yeoja, dan aku yakin dia cemburu. Mungkin …, dia kekasihmu, atau …, dia seseorang yang menyukaimu.”

Aku terdiam dan sedikit terkejut mendengar pengakuannya.

“Orang itu menulis surat untukku kemarin. Dia menyebutmu Oppa.”

 

“Oppa?”

 

____

Untuk yang kesekian kalinya Yoonha berjalan ke arah lokernya. Di sana, ia melihat orang-orang menutup hidung mereka dan melihatnya dengan tatapan tak suka. Ia tidak mengerti, meski begitu bau busuk itu pun tak luput dari indera penciumannya. Tetapi, semakin jauh melangkah bau itu semakin menyengat. Dan ketika berdiri tegak di depan lokernya, ia bahkan yakin dari sanalah bau itu berasal. Yoonha mengambil kunci miliknya dan memasukkannya pada lubangnya hati-hati. Perlahan pula ia membuka pintu lokernya, sedangkan orang-orang masih  menatapinya. Itu tidak nyaman dan itu benar-benar tidak menyenangkan, terlebih ketika tumpukan sampah terjatuh dengan tiba-tiba ke lantai ketika pintu lokernya sudah benar-bebar terbuka. Yoonha membatu dan orang-orang mulai bergunjing lagi dengan bisikan-bisakan keji mereka.

Yoonha menatap lokernya dan menghirup udara yang bahkan tak sedap aromanya, hanya sekadar menahan amarah dan tangisnya yang sudah ingin pecah lagi. Di sana—pada dinding lokernya yang kecil—tertempel sebuah aplop berwarna putih namun kotor dan bau, di dalamnya terdapat sebuah surat.

Yoonha mengambilnya. Yoonha membacanya. Seketika tubuhnya yang menegang oleh amarah melemas. Wajahnya berubah sedih. Di sana tak lagi tersirat kekesalan atau kedukaan atas diri sendiri. Ia hanya merasa terlalu bodoh, bahwa ia bahkan tak menyadari kedekatannya membuatku harus menjadi semenyedihkan dirinya. Bahwa aku harus terkucil dari dunia, seperti kaumnya di sini.

Tangan Yoonha melemas dan ia merunduk bersamaan tangan yang jatuh di samping tubuhnya, begitu juga kertas yang ada di tangannya, itu tergeletak di samping kakinya. Sesaat kemudian ia pergi dari sana. Melewati mata-mata dan suara-suara yang terus saja tak henti mengarah padanya dengan seluruh kelemahannya.

“Maafkan aku, Tae.”

 

_______

Baiklah, bagaimana ini? Bagaimana ini? Aku frustasi. Sejak kemarin Yoonha selalu menghindar. Dia tak mau melihatku. Dia tidak mau lagi bersamaku. Apa dia marah padaku? Apa—apa dia benci padaku karena kejadian itu? Sebenarnya ada apa? Setidaknya dia mau bicara padaku. Setidaknya jika marah dia berteriak padaku. Kenapa dia menjauh?

Lihatlah, sekarang tempat yang sering kami gunakan untuk bersama di kala istirahat pun hanya terlihat seperti seonggok ruang kosong yang tak berarti lagi. Di sini banyak kenangan. Di sini banyak kejadian manis yang kami lalui bersama. Melihatnya tertawa, canda, dan …, tangis yang aku lihat pertama kali melalui matanya yang sendu. Tangis yang benar-benar melirihkan hatiku. Apa itu tak lagi berarti? Apa aku benar-benar tak berarti?

Aku tak mau begini. Aku tak suka begini. Mungkin ini salahku, tetapi, tetap saja, aku tak mau kehilangannya. Meski hanya teman. Meski orang yang baru kukenal. Tetapi dia …, dia satu-satunya wanita yang menawan hatiku; menawan perhatianku; menawan pikiranku. Sekarang aku takkan membiarkannya pergi. Aku kesal! Bukankah aku sudah katakan padanya gadis itu bukan siapa-siapa. Aku dan Yoonha tak tahu siapa dia. Dan kini, aku melihatnya tengah berjalan di lorong sepi ini.

“Yoonha!” panggilku seraya berlari ke arahnya. Aku mencoba tersenyum, meski pada kenyataan hatiku menangis.

Dia berhenti melangkah. Tetapi tetap berdiri memunggungiku. Ayolah! Apa kau tak mau melihatku?

“Yoonha,” panggilku lagi. Kali ini dengan nada yang merendah ketika aku telah berada tepat di belakang punggungnya.

Dia berbalik dan memerkan wajahnya yang tetlihat semakin sedih. Tatapannya …. Dia kenapa?

“Kau tak Shalat?”

“Sedang tidak.”

“A, aku kira kau sedang marah padaku. Aku melihat ruang latihan teater selalu kosong. Harusnya kau mampir ke kelasku.”

“Jangan begitu! Jangan dekat-dekat denganku!” pintanya lemah.

“Mwo? Wae?”

“Nanti dia cemburu.”

“Maksudmu gadis gila yang mengambil kerudungmu? Kau takut padanya? Aku di sini. Aku akan melindungimu, Yoonha. Jeongmal,” jawabku serius, sekaligus dengan nada yang melemah.

“Aniyo. Nanti kau akan melukainya, Tae.”

“Aku bahkan tak tahu siapa dia. Aku tak menyukainya.”

“Tapi dia menyayangimu. Aku—aku harusnya dari awal tahu diri. Aku tak pernah pantas bersanding denganmu, sebagai temanmu.”

“Kenapa kau begini?  Aku tak mengerti diriku. Aku tak mengerti dunia. Aku tak mengerti orang-orang, tapi …, tapi aku ingin mengerti kamu, Yoonha. Aku tahu dari awal kau berbeda. Lalu kenapa denganmu? Bukankah kau berkata mereka hanya tak mengerti?”

“Ani! Ani! Aku yang tak mengerti. Aku yang bodoh. Jauhi saja aku, ara? Jeongmal!”

Aku terdiam. Mencoba menahan rasa perihku. Dadaku serasa igin meledak layaknya bom waktu. Kini aku membuang napas perlahan setelah meraup seluruh oksigen yang memenuhi dadaku. Aku mengeluarkannya perlahan. Menghela dan berusaha bersabar.

“Kau membenciku?”

Dia terdiam, lalu menggeleng lemah. “Jangan pernah berpikir begitu.”

Aku tersenyum. “Aku terus berusaha untuk tidak membencimu, meski kau selalu membuatku bingung dan gila. Dari awal, aku tak bisa menerimamu. Dan aku berusaha untuk menerima perasaanku. Sekarang semuanya baik. Tetapi kenapa denganmu? Kau itu berharga. Bagiku kau adalah teratai, sedangkan aku merasa bagai lumpur yang menemani hidupmu. Salahkah aku? Salahkah lumpur menyukai teratai? Aku menyukaimu, Yoonha.”

Yoonha menatap mataku yang menyiratkan keseriusan dan ketulusan di saat yang bersamaan. Dia terdiam dan senyumnya mengembang kecil, namun …, itu tak tersirat kebahagiaan. Matanya berkaca-kaca hingga kemudian ia meneteskan sebuah mutiara bening dari sana. Ia berlalu, sedang aku …. Aku hanya bisa terdiam melihatnya menjauh dan menghilang dalam kelokan. Yoonha, sungguh! Aku menyukaimu.

____

Aku terduduk di depan meja belajarku. Lampu belajar yang menyala terang sangar kontras dengan cahaya temaram yang menyelimuti diriku. Mungkin …, mataku menatap ke arah jilidan kertas itu. Mungkin tangan ini memegang setangkai pena. Tetapi, tidak. Tidak bisa! Aku tidak tenang. Wajahku menyendu. Sunyi senyap ini bahkan tak bisa meredam jerit tangis dalam dadaku. Pada akhirnya aku melempar buku dan penaku dalam bangkitku yang cepat, terbang hingga membentur tembok gelap dan terjerembab. Bunyi berdebum sangat jelas terdengar, tapi …, itu tak berarti karena yang ingin aku dengar hanya suaranya ketika matanya tersenyum padaku. Aku sangat ingat itu …, dalam otakku, dan aku merindukannya.

Aku terduduk karena kakiku tiba-tiba terasa sangat lemas. Aku merunduk dalam kegelapanku. Aku marah. Tapi marah pada siapa? Tiba-tiba aku mengingat kata-kata yang paling sering dia ucapkan, ‘Tuhan’.

Aku tak pernah mengerti kata itu, karena aku pun bingung kepada siapa aku harus berdoa. Tuhan? Aku pun tak pernah menyebut kata sedernaha itu dengan arti yang sesungguhnya. Keluargaku tak pernah mengenalkanku padanya, karena itu aku tak pernah mengenalnya dan aku tak pernah benar-benar yakin di mana keberadaannya. Atau …, atau memang dia benar-benar ada?

Tanpa perintah tanganku bergerak. Kepalan yang menyatu bersenada dengan kelopak mata yang mengatup. Aku terdiam beberapa saat dan merasakan gelap dan sunyi. Tetapi bukan itu yang terpenting, disana …, ada ketenangan.

“Tuhan, Jika kau memang benar ada, maka, kabulkanlah doaku. Biarkan Yoonha bahagia, dan buat selalu ukirkan senyum di bibirnya. Senyumnya yang bahagia kerena aku rindu melihatnya …, ketika di dekatnya.”

____

Mungkin lumpur ini harus kembali. Mungkin kolam kecil ini harus tak seindah kemarin karena tak terisi dengan bunga. Mungkin …, hatiku harus kosong lagi …. Teratai itu telah pergi, meninggalkan lumpur ini dalam kubangan dan terjebak dalam sepi dan sunyinya sendirian.

Aku kembali. Kembali dalam kehidupan yang lalu-lalu, seperti menatapnya dari kejauhan. Mungkin berbeda karena kini aku menyadari kerinduanku, dan ini menyiksa. Dulu aku mati-matian untuk acuh. Dulu aku seolah-olah berupaya untuk tak mengerti hatiku sendiri. Dulu aku menutup rapat telingaku dari bisik-bisikan cinta yang memabukkan. Tapi sekarang, ketika semuanya telah bisa kuterima, cinta itu yang menjauhinya. Membuat kehampaan dengan desir perihnya; membuat lecet-lecet luka pada permukaan hatiku. Itu perih.

Aku melihatnya, tetapi dia mengalihkan tatapannya. Satu langkah aku mendekat, dua langkah dia menjauh. Aku tersenyum padanya, berbalas tatapan kosong tak berarti. Aku bahkan lebih menyedihkan dari Cinderella. Setidaknya dia punya ibu perinya. Sekarang siapa yang mau jadi ibu periku? Tuhan? Tuhan ….

Dia yang membuat keyakinan itu bersemayam diotakku. Dia yang membertahu keberadaannya padaku. Dia berkata, “Tuhan sangat dekat denganmu, dia bahkan lebih dekat dari nadimu”. Lalu di mana Dia sekarang? Yoonha meracuniku dengan kata-kata lembutnya. Kini dia pergi tanpa memberiku penawarnya. Yoonha …. Yoonha …. Lirihan itu yang selalu terdengar dalam dengungan.

____

Malam ini aku keluar dari kelasku dalam tundukkan lemah. Bukan, bukan karena aku mengantuk, tetapi karena aku memang lemah. Lemah karena beberapa hari ini aku seperti kehilangan nyawa. Aku kehilangan hidup. Hanya seperti mayat berjalan dalam diamnya dan mengaum ketika marah.

Secara tidak sadar kepalaku terangkat. Terangkat karena ada dia di sana. Dia—Yoonha—

tengah berjalan memunggungiku seperti biasanya. Tadi sempat aku lihat gurat air mukanya, sendu dan sedikit pucat. Tak berbeda denganku. Yoonha, tersenyumlah! Apa kau bisa mendengarku?

Kakiku mulai bergerak lagi. Mungkin karena terlalu seringnya melakukan, kini aku lakukan tanpa memerlukan seluruh kesadaran. Tatapanku kosong. Pikiranku kosong. Hanya berjalan mengikuti jejak langkahnya yang lemah. Melewati berisiknya lorong dan melewati gerbang besar sekolah. Semua baik, dan aku lewati tanpa ada sepatah kata yang terucap. Langkahku terhenti dan tatapanku teralih seketika. Semua itu karena dia—Kim Kibum—yang tiba-tiba menarik pundakku dan memaksaku untuk menatap wajahnya yang memuakkan.

“Aku perlu bicara.”

“Aku tidak,” jawabku Acuh.

“Aku perlu.”

“Aku harus pergi,” jawabku lalu melangkah lagi.

“Tidak sebelum kita bicara,” balasnya ketika tangannya bertaut pada lenganku. Ini cukup kencang.

“Akan kudengar,” ucapku lalu melepaskan genggamannya. “Apa? Kau mau bicara apa?”

“Apa yang kau lakukan pada Yoonha?”

“Jika aku tahu aku takkan sefrustasi ini. Tetapi, bukankah kata-kata itu lebih tepat diperuntukkan untukmu, Kibum? Orang yang suka mengganggunya.”

“Berhenti mengatakan itu. Aku sudah menyesalinya. Aku hanya khawatir padanya. Kau sama denganku, hanya bisa menyukai dalam diam. Tidak bisakah kita berdamai saja? Lagi pula kali ini bukan salahku. Mungkin kau tidak sadar, tetapi semua ini akibat ulahmu.”

Aku terdiam sebentar dan mencoba mencerna kata-katanya, meskipun berakhir dengan lontaran pertanyaan juga. “Maksudmu?”

“Beberapa hari lalu aku lihat lokernya dipenuhi sampah dan aku menemukan ini di bawah loker Yoonha. Ini sepertinya terjatuh,” ujarnya seraya memberikan secarik kertas padaku, dan aku membacanya.

“Kau tahu tulisan siapa itu?” tanya Kibum.

Aku tersentak kaget. Tulisan? Ya, tulisan. Aku kenal. Ini tulisan ….

 

‘Bukahkah aku sudah memperingatkanmu? Aku tak suka kau dekat-dekat dengan Oppa-ku. Orang-orang menjauhinya karena kau, Anak Aneh. Orang-orang membencinya sama seperti dia membencimu. Dulu dia namja yang popular dan keren, tapi sekarang dia jadi berbeda. Semua karenamu. Ini peringatanku yang terakhir. Kau jauhi Oppa atau aku akan membuatmu menyesal mengenalnya, ara?’

To be continued ….

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

23 thoughts on “[WFT D] Lotus [2.3]

  1. part ini intinya tentang perasaan ya..
    apakan bakan ada persaingan antara Taemin-Kibum?

    Yoonhanya kasian juga, dari awal dia udah dijauhin karena Agamanya, sekarang tambah dibully karena deket sama Taemin..😦

    Terharu sama doanya Taemin..🙂

    Mudah2an Happy ending ya..
    Ok Hana, ditunggu part akhirnya..🙂

    1. tunggu, ya eon. tapi jujur deh, kayaknya kau kurang feel dibagian dibullynya.
      ok, eon. pantengin terus, ya?

  2. Kibum suka yoonha? Kejutan bgt!😮

    Oh..taemin udh mulai suka nih… penasaran juga sapa tu yeoja yg ngajak ribut.

    Rupanya ada cinta segitiganya juga… btw ini hidupnuya yoonha pas disekolah miris bgt
    Di kerjain mulu, klu aku jdnya mah mending pindah sekolah or study home aja

    Oke, next partnya ditunggu ^^

    1. hem, terkadang suatu masalah emang harus dihadapi, bukan dihindari. masalah mah ada dimana-mana. belum tentu kamu pindah sekolah nggak akan muncul masalah. bener nggak?
      okelah, makasih komentarnya!

    1. siapa aja boleh. tunggu aja part selanjutnya, ya?
      jadi …, ya gtu suka sama yoonha. #hehehe
      ok, wajib tunggu! thx juga buat sesil.

  3. waaaw!!!
    oke..oke..akhirnya si Kibum mau diajak damai #fiyuuuh
    trnyata, ada cewek pengganggu lagi? siapa dia? siapa?

    btw, la emg nemu bbrapa typo kak, tp gppa krna mgkn emang buru2 bikinnya..hehe..

    aku suka pas bagian si Taemin menyadari ada Tuhan krna Yoonha. Dia sendiri pun di kehidupan yg asli juga trmasuk org yg taat dalam agamanya😀
    oke..oke..penyelesaiannya ditunggu😀

    1. typo, itu penyesalan terberat aku, dhil. setiap inget berasa putus asa.
      but, komentar seperti oksigen. yup! jadi semangat lagi.
      thx buat tetep eksis sampai part ini, ya?

  4. Aaahhh..ternyata bukan hanya karena Kibum, ada pihak lain yang mengganggu Yoonha juga
    Aku suka dengan deskripsi adegan dan perasaan Taemin di sini, menghanyutkan, seakan-akan aku ikut jadi pengamat dalam cerita ini.
    Aih, ternyata Kibum juga suka Yoonha, dan somehow aku ngerasa dialognya Kibum di bagian akhir part ini dewasa banget, hihi, akhirnya dia mau merelakan perasaannya untuk dinikmati diam-diam.
    Kutunggu lanjutannya😀

    1. begitukah? tapi … aku kok nggak terlalu ngerti maksud dari kata ‘dia mau merelakan perasaannya untuk dinikmati diam-diam?’
      wah, makasih komentar positifnya. semoga nggak down baca part selanjutnya …

  5. Halooo, aku udah nyolong2 baca ini sejak masih di draft…

    Aku suka banget ama inti ceritanya, meski ada bagian2 yang bikin aku bingung bacanya. Dan endingnya, eh, ntar aja aku komen di part akhirnya ya, hehe

    1. wah, eonnie nakal pake nyolong segala #hihihi
      ya, setelah saya baca berulang-ulang ternyata kalimat yang mungkin Eonnie bingung itu rancu. jadi nggak usah dipusingin, key?
      iya dong eon, jadi buka-bukaan di sini. jadi kurang seru.
      makasih ya eon dah mampir #nyengir-nyengir

  6. bentar lagi taem n Key nyebut 2 kalimat syahadat ni kayaknya.. behahahahah,,,
    ayo Key, kamu pasti bisa dapetin saya, toonha nya buat taem ajah dehh… *eh??

    wait for next chapter

    1. yaaaaaaaaakin?
      hehehe, dasar ya, maunya. seribu jalan menuju roma irama. #hehehe sangtae
      ok wait …. yang sabar ya!

  7. Nae pembaca baru ^^
    Hehe…
    Bagus eon ff nya😉
    Kapan dilanjut eon? Udah penasaran sm lanjutannya. Sapa tuh yg jahat sana Yoonha?

    Kajja ^^

  8. Pokoknya sukaas.. aigooo kibun klo ska lgsg ngomong, jgn dipendem ntr g kesampean looo… *wetss pengalaman* *abaikan* disini semuanya taemin pov kan? pengutaraan perasaan taemin disini jelas bgt, trtma aku ska perumpamaan antara lumpur ma teratai itu.. cewe yg neror yoonha itu yg manggil taemin ‘oppa’ di part 1 kan? hehee . mian sok tau.. cepetan di publish dong yg part 3, g sabar nihhhh

  9. Lee hana eoni , ceritamu selalu sukses buat aku greget, gemes, marah, kesel, sedih mengikuti alur ceritanya.
    Eonni daebak banget. Bakalan aku jadiin author favoritku deh😀
    Maaf dipart sblmnya gak komen *bow

    1. jinja?! ada feel, gtu? #masa sih?
      wah makasih. klo gtu mampir ke ffku yang lain dong. boleh saran? The Misterious Gee, like a mirror dan Kutukan natal. cari di search aja biar cepat. aku paling suka cerita itu.
      makasih mampir lagi.

  10. Udah aku duga Kibum suka sama Yoonha huahaha *gelindingan* #readernya gila saking senengnya baca nihh ff xD
    Nahh siapa yeoja itu? sepertinya bkn cm sekedar fansnya Taemin.. Adeknya Taemin yg menderita brother compleks? atau yeoja yg emg kenal dkt dengan Taemi plus tergila2 sama Taemin? cwe dsana kn suka frontal klo org yg mrka suka deket sama cwe lain -_-

    Btw,
    ” Ia hanya merasa terlalu bodoh, bahwa ia bahkan tak menyadari kedekatannya membuatku harus menjadi semenyedihkan dirinya.” <– errr aku bingung dgn kalimat ini '-')?
    Part depan udh end kn?! okehh lanjut dulu….

    1. hahaha, kamu suka banget gelindingan.
      yoja itu … siapa ayo?
      pokoknya intinya Taemin ngerasa kalau dia menydihkan karena dijauhi teman-temannya sepreti Yoonha. mungkin yang bikin ada typo,, tapi saya cari kalimat itu nggak nemu. eh, sebenarnya mels nyarinya. hehehe
      makasih komentarnya!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s