[WFT B] Marbleous – Part 1

Author             : dhila_kudou

Title                 : Marbleous

Main Cast        : Lee Taemin, Choi Minho

Support Cast   : Kim Kibum, Kim Jonghyun, Lee Jinki, OC

Genre              : Mystery, Crime, Life, Bromance

Rating              : G

Type                : Alternative Universe (AU)

Length             : SequelMarbleous

Author’s note : Annyeong yeorobun! Akhirnya setelah bertekad bulat, melawan segala kepesimisan, aku menyuguhkan cerita ini di hadapan pembaca sekalian untuk sekadar meramaikan event ultah Taemin ini. Sebenarnya aku gak yakin kalau cerita yang kuangkatkan ini sesuai dengan tema yang diminta oleh penyelenggara Write for Taemin-nya. Yah, apa boleh buat, ‘kan cuma meramaikan .___.’’

Ini adalah ff berbau detektif pertamaku yang kelar kubuat. Jadi, pasti banyak kekurangannya. Aku berharap masukan dari pembaca semua. Oya, trivia untuk cerita ini adalah perhatikan tempat dan tanggal tiap awal scene, biar nanti gak membingungkan, hehehe.

Semoga bisa dinikmati dengan baik ya😀

====================

PART I

Ilsan, 18 Juli 2002

“Selamat ulang tahun, Taemin-ah!”

Wanita paruh baya itu mencium kening bocah laki-laki di hadapannya. Taemin, nama bocah tersebut, tersenyum lebar. Ia memeluk wanita itu erat-erat.

“Terima kasih, Eomma!”

“Ayo, coba dibuka. Apa isinya?”

Ia kembali mengamati hadiah ulang tahun pemberian Ibunya. Kotak biru berukuran 15 x 15 cm itu tak terlalu besar, tapi cukup membuat Taemin terpukau. Tangan kecil Taemin terlihat terburu-buru menarik ujung pita bewarna putih tersebut. Ikatan pun terlepas dan tangannya segera mengangkat tutup kotak dengan semangat.

Perlahan, muncullah cahaya yang berasal dari dalam kotak kardus itu. Cahaya tersebut menyeruak, masuk ke dalam pupil mata lugu Taemin, diinterpretasikan di otak sebagai sebuah benda yang begitu disukainya.

Marbles!”

Dirinya segera menyentuh tiap butir kelereng beraneka warna tersebut. Darahnya berdesir hebat. Jantungnya berdegup kencang. Ia begitu menikmati sensasi aneh yang dirasakan tubuhnya kala menatap puluhan butir kelereng terhampar di depan matanya. Seperti saat ini.

Kali ini jumlahnya adalah 70 butir. Ibunya memang selalu memberikan hadiah kelereng sebagai ulang tahun Taemin sejak dirinya berusia 5 tahun. Setiap tahunnya, jumlah kelereng akan dikalikan 7, sesuai bulan kelahirannya. Hari ini, ia memasuki usia 10 tahun. Koleksi kelerengnya pun bertambah 70 butir. Ia melonjak kegirangan.

“Ayo, dimakan kuenya, Minho!” kata ibu Taemin.

Minho, sepupu Taemin, mengalihkan pandangannya dari komik di tangannya. Ia mengangguk ringan.

Pie coklat kesukaanmu. Kalian berdua, bersenang-senanglah,” ujar Ibu Taemin sambil tersenyum manis. Ia membelai rambut anak dan keponakannya itu.

Ibu Taemin pamit untuk membereskan taman di luar. Ulang tahun Taemin memang hanya dirayakan bersama Ibunya, dan terkadang oleh Minho, sepupu yang dianggap Taemin sudah seperti kakaknya sendiri. Mereka berdua sama-sama ditakdirkan sebagai anak tunggal, jadi tak sulit bagi keduanya untuk bersikap layaknya saudara kandung.

Minho melahap pie coklat tersebut sendiri. Ia tahu kalau Taemin tak akan suka dengan kue favoritnya itu. Pun dengan Minho yang tak begitu minat dengan kelereng kepunyaan Taemin. Mereka tak mempermasalahkan perbedaan minat yang cukup mencolok tersebut.

Namun, ketika Minho menyusul Taemin dan masuk ke dalam kamar bocah pecinta kelereng itu, ia tergelitik untuk bertanya sesuatu. Terutama saat ia melihat tumpukan kardus-kardus yang bertebaran di lantai. Sudah diduga isinya adalah kelereng-kelereng milik sepupunya.

“Taemin, kelereng sebegitu banyaknya mau kamu apakan?”

Taemin mengamati pendaran cahaya yang muncul dari pembiasan sinar matahari melewati kelerengnya itu. Ia sengaja membuka jendela lebar-lebar sehingga kamarnya – lebih tepatnya kelerengnya – bersinar lebih terang.

“Tetap menjadi koleksiku. Mungkin, bisa kujual. Atau, aku buat sendiri yang lebih banyak. Menurutmu?”

Minho menghampiri salah satu kotak kelereng Taemin yang transparan, sehingga tampak bertumpuk-tumpuk kelereng beragam warna di dalamnya. Ia mencoba menggenggam salah satu kelereng bewarna putih pekat.“Ide yang bagus.”

“Kelereng ini akan merubahku menjadi lebih baik. Juga dunia ini, tentunya,” gumamnya polos.

=============================

 Ilsan, 19 Juli 2013

Pagi ini, kota Ilsan diguyur hujan. Sedikit rezeki diturunkan Tuhan di tengah-tengah amukan sinar matahari yang tengah berkuasa di musim panas kali ini. Minho menguncupkan payungnya dan menyandarkannya di sebuah kursi yang berada di beranda luar. Ia mengibas-ngibaskan tangannya, menghalau butiran air yang belum sempat meresap pada pakaiannya. Setelah memastikan bahwa pakaiannya belum terlalu basah, Minho pun duduk di kursi lainnya. Pemuda itu merogoh saku celananya dengan tergesa, mencari sesuatu yang harus ia miliki untuk masuk ke dalam rumah.

Sial, ia lupa membawa duplikat kunci. Ia baru teringat kalau minggu kemarin, terakhir kalinya ia menginjakkan kaki di rumah ini, sepupunya yang menguncikan pintu untuknya saat ia pergi. Kali ini ia mencoba menghubungi sepupunya tersebut dengan telepon genggam miliknya.

“Taemin, kau di mana? Aku terkunci di luar.”

“Ah, iya, …sebentar.”

Telepon masih terhubung ketika Minho mendengar putaran kunci pintu dan bunyi grendel pintu yang digeser. Minho langsung mengayun langkah masuk ke dalam rumah.

“Kamu mau kubuatkan apa?” tanya Taemin yang ternyata sudah memakai apron. Minho mencoba mencuri pandang ke arah dapur.

“Kamu sedang memasak?”

“Baru menyiapkan bahan-bahan.”

“Hmm, terserah saja. Ada koran?”

“Tuh, di lemari banyak. Mau cari kasus, ya?”

Minho hanya membalasnya dengan hembusan napas berat.

Taemin tersenyum. Dugaanya tepat, sepupunya belum juga menemukan kasus hangat untuk digarap. Dengan cepat, Minho mengambil 3 koran nasional sekaligus edisi hari ini dari rak lemari paling atas, lalu mencari tempat duduk yang nyaman.

Lembar demi lembar ia baca secara skimming dan tak butuh 5 menit ia sudah beralih ke koran kedua. Sama, hasilnya nihil. Tak ada kasus yang greget untuk digarap. Masuk ke koran ketiga, ia mencoba membaca lebih lambat dari sebelumnya.

Minho menjerit kegirangan.

“Kenapa kamu, Ho?” tanya Taemin yang merasa konsentrasinya di dapur terusik akibat teriakan tersebut.

“Kamu masuk koran! Nama kamu Taemin!”

Taemin mengecilkan api kompornya sebentar, lalu bergegas menuju ruang tengah. Di sana ia disambut oleh senyuman lebar Minho yang tengah menunjuk-nunjuk sebuah kolom berita di halaman pertama dengan semangat.

-A Young Entrepreneur, Reaches the Popularity Through “Marbleous”-

“Ini, bisnis kamu, ‘kan?”

Taemin tersentak, lalu mengangguk. “Sebenarnya aku sudah baca berita serupa seminggu yang lalu di internet, Minho. Aku tak menyangka kamu baru tahu sekarang.”

Minho yang sedang menyengir lebar langsung menguncupkan senyumnya. Taemin bergegas ke belakang, menghindari reaksi penolakan dari sepupunya itu.

“Ya, aku tahu … aku gagap teknologi. Masalah?” balas Minho tak terima.

Taemin terkekeh dan suaranya terdengar oleh Minho yang berjarak 6 meter dari dapur. Minho makin naik pitam, sekaligus malu.

“Yah, bagaimana bisa kamu menemukan kasus seru kalau hanya mengandalkan media cetak, Minho? Kamu juga tidak berlangganan koran.”

Wajah Minho tertekuk-tekuk. Ia mencoba melirik koran sebelumnya, dan kali ini ia lebih serius membacanya ulang. Ia harus menemukan kasus baru.

Dirinya menyesal mengapa tak bisa masuk ke kepolisian, padahal nilainya semasa kuliah terbilang cemerlang. Dan kini ia harus puas menjadi detektif swasta yang hanya mendapat order di saat-saat tertentu. Terkadang Minho gerah sendiri karena orderan kasus tersebut benar-benar tak menantang.

Apa susahnya mencari anjing peliharaan yang hilang? Dan itu adalah kasus terbanyak yang dijalaninya. Ia bosan.

“Minatmu… di kasus kriminal, ‘kan?” tanya Taemin tiba-tiba.

Minho membuyarkan lamunannya. Matanya masih menatap barisan kata di koran yang sebenarnya sudah tak fokus ia baca.

“Di koran ketiga, halaman kedua. Coba baca di sana.”

Walau masih sakit hati karena sepupunya menyindir ketidaktahuannya dengan berita terbaru, Minho menurut. Ia mulai membaca tiap kolom berita yang tersaji di sana.

“Itu kasus kemarin malam. Beruntung masih belum digarap lebih lanjut, sepertinya. Dan beruntung kamu ke rumahku hari ini.”

Minho mengerutkan keningnya. Berita ini sebenarnya level berita online, tak begitu padat, tetapi penuh dengan spekulasi. Dulu, Minho juga mengikuti perkembangan berita online, tapi tidak lagi setelah ia gagal menjalankan misi karena hanya mengandalkan berita di dunia maya yang sumbernya tak jelas. Sejak itu dia tak mau berurusan dengan internet, walaupun untuk sekadar tahu perkembangan dunia luar.

Dia memilih untuk kembali ke zaman analog, yaitu surat kabar.

Naasnya lagi, Minho pun hanya mengandalkan koran gratisan di ruang tunggu stasiun atau koran langganan Taemin. Ia tak punya banyak uang dan merasa hal tersebut adalah pemborosan. Mau diapakan kertas koran langganan itu setelah dibaca?

“Kamu itu aneh. Berita online enggan, langganan koran tidak mau, takut koran-korannya menumpuk di rumah. Baca gratis, eh beritanya sudah basi. Yah, aku tidak bisa memberi masukan untukmu selain semangat dan makanan, ‘kan?” komentar Taemin seakan-akan sedang menanggapi apa yang tengah dipikirkan Minho. Taemin meletakkan minuman dan potongan buah segar sebagai kudapan. Lalu ia ikut mengambil tempat di seberang Minho.

Minho hanya menyandarkan punggungnya yang penat ke kursi. Ia menyesap latte hangat pemberian Taemin sambil menerawang nasibnya yang tak kunjung membaik. Berbeda dengan Taemin yang kini usahanya tengah naik daun dan memiliki untung berlipat-lipat.

“Kamu sudah baca?”

Minho kembali terduduk, ia lupa tujuan utamanya ke sini. “Oh iya… sebentar. Pencurian, kebakaran, korupsi, ledakan, bunuh diri, ah, berat-berat semua kasusnya. Mana bisa aku menyelesaikannya sendirian?”

Taemin menepuk jidat.

“Berita tentang ledakan, bagaimana?”

“Lah, tentang terorisme begini. Aku tidak mau repot.”

Taemin menarik napas berat. Keluguan sepupunya tak kunjung berubah.

“Kamu garap kasus itu, nanti aku yang bayar kamu.”

“Hah? Maksudnya?”

“Aku tidak tahan melihat kamu terlunta-lunta nyari kasus seperti ini, Minho. Kasus remeh-temeh tidak mau karena untungnya kecil, kasus menantang takut tidak bisa. Lalu kamu maunya apa?”

Minho terdiam.

“Maaf aku terlalu lancang. Kamu boleh abaikan kata-kataku tadi. Aku ambil sesuatu sebentar ke dapur.”

Pemuda itu memikirkan kata-kata Taemin yang benar adanya. Dia mengaku detektif, suka hal-hal misteri, lulusan jurusan Kriminologi pula, tetapi tak mau berkembang. Ia terkadang iri dengan Taemin yang bahkan tak berminat kuliah dan lebih memilih menggeluti bisnisnya. Bisnis kecil-kecilan dan bahkan berasal dari suatu benda yang tak terduga. Kelereng, butiran kaca kecil favoritnya.

“Ini, pie coklat kesukaanmu. Hitung-hitung kue ulang tahunku juga. Aku minta maaf, ya.”

Minho akhirnya tersenyum. Sepupunya yang dua tahun lebih muda darinya bahkan lebih dewasa darinya. Entah kenapa, untuk saat ini, ia merasa sangat bersyukur.

Gwenchana, terima kasih untuk nasihatnya. Kuenya juga, enak. Eh, sebentar… .Oya, kamu kemarin ulang tahun ya? Maaf, aku lupa beri selamat.”

“Biasa saja, aku sudah besar, tidak perlu menerima ucapan selamat ulang tahun lagi,” balas Taemin sambil membereskan koran-koran yang bertebaran di atas meja kaca pemisah dirinya dengan Minho.

“Balik ke masalah tadi, kamu mau menerima tawaranku, ‘kan? Tapi semuanya kamu yang usaha sendiri. Tenggat waktunya terserah, mau kerjasama dengan polisi kali ini terserah. Aku hanya menyumbangkan dana. Bagaimana?”

Minho masih ragu menerimanya.

“Kujamin kasus ini membuatmu lebih terkenal dan lebih dianggap. Atau kamu bisa diterima bekerja sebagai detektif tetap di kepolisian. Kurang apa lagi?”

Air muka Minho langsung berubah cerah. Taemin langsung mengulurkan tangannya, dan Minho membalas jabatan tangan tersebut.

Deal!” ujar Minho yakin.

Taemin terbahak. “Baru kali ini aku ‘deal’ di luar perkara bisnis.”

Minho mengulum senyum. Ia menatap Taemin lekat-lekat. “Terima kasih banyak, Taemin.”

“Iya, santai saja. Kita makan siang, yuk. Kamu belum menyentuh nasi sejak kemarin, ‘kan? Atau mungkin terakhir kali pas kamu di sini minggu kemarin? Hahahaha.”

Ledekan lagi-lagi menghampiri Minho. Minho tak terima.

“Ya udah, aku batal kasih kamu kado ulang tahun kalau begitu.”

Taemin berbalik arah. “Yah, maaf. Jangan marah ya, aku kan hanya bercanda.”

=============================

Seoul – Kamis malam (18/7), salah satu perumahan tradisional di Bangbae-dong,  Seocho-gu dikejutkan oleh suara ledakan. Ledakan tersebut bersumber dari salah satu rumah berlantai dua yang terletak paling selatan di sebuah perumahan kelas menengah, Villa Seorae. Satu orang ditemukan tewas di lokasi kejadian. Korban saat itu sedang berada di dalam rumah, dan diduga adalah pemilik rumah itu sendiri. Beruntung, jarak rumah sumber ledakan dengan rumah sekitarnya sedikit berjauhan sehingga tak memakan korban dan kerugian yang lebih besar.

Kim Jonghyun, salah seorang saksi mata dalam kejadian tersebut, menyatakan suara ledakan terdengar sekitar pukul 11.45 malam dari rumahnya yang berjarak sekitar 200 meter dari lokasi kejadian. Ia segera menuju lokasi ledakan bersama tetangga lainnya. “Lantai dua rumah tampak hancur, debu dan asap bertebaran di sekitar lokasi kejadian. Beberapa di antara kami sempat masuk ke dalam rumah untuk mencari pemilik rumah, namun kami tak menemukan korban jiwa. Tapi saya yakin si pemilik berada di dalam rumah saat kejadian,” ujar Jonghyun (24).

Setelah melakukan penyisiran di lokasi kejadian, Polisi akhirnya menemukan sang korban berada di lantai dua rumah tersebut dalam keadaan tak bernyawa dan jasadnya sudah hancur. Korban langsung dibawa ke Rumah Sakit setempat untuk diautopsi.

Jonghyun mengakui bahwa si pemilik rumah cenderung tertutup. Tak banyak warga yang mengetahui bagaimana aktifitas sehari-hari si pemilik rumah tersebut.

Polisi masih terus menyisiri lokasi kejadian guna mencari sumber pasti ledakan. “Ledakan semacam ini bukan karena pipa gas ataupun aliran listrik, ini sepertinya berhubungan dengan bahan peledak. Tapi dugaan awal sementara, kasus ini kemungkinan berkaitan dengan sindikat terorisme,” jelas juru bicara kepolisian setempat.

=======================

Seoul, 20 Juli 2013

Pagi ini, Minho menyapa matahari dari balik jendela kereta. Ia berangkat dari Ilsan – kota tempat rumah Taemin berada – menuju Seoul guna memulai kasus perdananya pada bulan ini.

Tak lama kemudian, ia sampai di perumahan yang tercantum pada berita yang ia baca kemarin. Perumahan ini tampak sederhana, namun tak menanggalkan kesan mewah di dalamnya. Cukup asri untuk seukuran perumahan di kota padat penduduk seperti Seoul.

Matahari semakin terik. Ia berniat untuk melangkah masuk. Namun langkahnya terhenti.

Minho tak tahu harus memulai misi ini dari mana.

Ia terdiam di bawah bayang-bayang gapura mega di hadapannya. Berhubung dirinya tak mengantongi informasi yang lebih dari sekadar di mana perumahan itu berada. Kasus ini pun diperoleh dari orang yang tak memiliki hubungan apa-apa dengan pihak korban yang terlibat. Dia juga bukanlah detektif yang dimintai kerjasama oleh kepolisian.

Mengapa otaknya serasa buntu seperti ini?

“Siapa Anda?”

Minho tersentak kaget. Ia memindai orang yang baru saja menyapanya. Berseragam dan… ini adalah satpam keamanan perumahan ini. Minho merasa sedikit lega.

“Saya Minho. Apa saya bisa bertemu dengan Jonghyun di sini?”

“Jonghyun siapa?”

Minho kembali berpikir keras. Ia melirik notes kecil di tangannya. “Kim Jonghyun.”

“Oh, Anda mencari saya?”

Seorang pemuda datang kembali menghampiri Minho dari arah perumahan. Sekilas ia tampak ramah dan sederhana. Ia menyambut Minho dengan juluran tangan.

“Kim Jonghyun.”

Minho mendehem sebentar. “Choi Minho.”

“Anda dari kepolisian? Wartawan?”

Minho kikuk. “Bukan, saya hanya…”

Perkataan Minho terputus. Ia bingung harus mengaku dirinya sebagai siapa. Ia sempat merutuki dirinya sendiri kenapa otak detektifnya tak berjalan di saat-saat genting seperti ini. Di tengah kebingungannya itu, ponselnya berdering lembut. Bagus, kesempatan yang bagus untuk berpikir lebih lama.

From : Taemin

Ah, aku lupa memberitahukan ini padamu. Kamu pura-pura saja cari Lee Jinki. Aku tak sengaja mencari nama  pemesan rumah di sana. Siapa tahu ketemu.

Semoga tidak  dicurigai penduduk di sana ya😛

 

“Maaf.” Minho menyimpan ponselnya kembali. “Saya koleganya Lee Jinki. Saya berniat menemuinya hari ini untuk melihat-lihat rumah di sini. Kebetulan saya ingin membeli rumah.”

“Lee Jinki? Lee Jinki sudah meninggal dunia.”

“Hah?” Minho terperangah. Jadi korban ledakan itu namanya Lee Jinki, batinnya.

Jonghyun terdiam sejenak, lalu berbicara sejenak kepada satpam di sebelahnya. Satpam tersebut mengangguk lalu memberikan kartu tanda pengenal kepada Minho.

“Mari kita bicarakan hal ini di dalam rumah saya.”

Minho mengikuti Jonghyun dari belakang. Tanpa Jonghyun ketahui, ia tersenyum tipis. Ia dipertemukan oleh orang yang tepat, di waktu yang tepat, dan usaha yang tak terduga minimnya.

Lagi-lagi ia bersyukur,  Taemin ‘datang’ di saat yang tepat.

=================================

Minho berdiri di hadapan jendela besar yang berada di ruangan tengah rumah Jonghyun. Jendela tersebut mengarah ke timur, cukup silau dirasakan oleh Minho mengingat jam masih menunjukkan pukul 09.00 pagi. Matanya mencoba menjelajah hamparan rerumputan dan perumahan, yang menurut Jonghyun, hanya dari rumahnyalah orang bisa melihat lebih dari setengah pemandangan perumahan di sini.

Tentu saja ini sedikit menguntungkan Minho untuk mencari di mana lokasi rumah korban ledakan kemarin.

“Ah, maaf, saya hanya punya brosur tahun 2012. Yang terbaru sudah dibawa oleh orang lain. Harganya sekarang pasti berbeda dengan yang tercantum di sini.”

Minho berbalik arah, lalu kembali ke kursinya. “Oh, tak apa-apa. Yang penting adalah nomor dari pihak penjualnya.”

Jonghyun menyerahkan brosur tersebut kepada Minho. Minho memperhatikan setiap gambar yang tersaji di dalamnya, lengkap dengan ukuran, spesifikasi, dan harga masing-masing rumah itu sendiri.

“Ah, kalau boleh tahu, Jinki meninggal karena apa?”

Jonghyun yang tengah bersandar nikmat terdiam sebentar, lalu bertanya, “Anda benar-benar tidak tahu?”

“Tidak, saya kehilangan kontak sejak seminggu yang lalu,” jawab Minho asal.

“Dia meninggal karena ledakan malam minggu lalu di rumahnya.”

“Ledakan? Berarti rumah yang meledak di berita itu…rumah Jinki?”

Jonghyun mengangguk. “Polisi telah memastikan mayatnya kemarin. Dan, yah, sebenarnya saya malas berurusan dengan polisi dan antek-anteknya itu. Wartawan juga tidak berhenti mendatangi rumah saya. Berhubung saya ketua perumahan di sini, dan hanya saya yang pernah berkomunikasi dengan dia, jadi saya yang harus meladeni mereka.”

Minho terdiam mendengarkan. Jonghyun minta izin kepada Minho untuk menghidupkan rokok keduanya pagi ini.

“Lalu, Anda tahu apa yang dilakukan Jinki di rumahnya pada malam hari itu?”

“Hmm, seingat saya, dia hanya berdiam diri di dalam rumah.”

“Jadi, Jinki hanya sendirian tinggal di rumah dan dia tidak pernah berkomunikasi dengan yang lain selain Anda?”

“Iya, dia tinggal seorang diri. Tapi sebenarnya beberapa hari terakhir rumahnya sering didatangi mobil mewah. Mungkin keluarganya, atau teman kerjanya. Anda tidak tahu?”

“Dia tidak pernah menceritakan hal itu kepada saya.”

“Memangnya Anda temannya di mana?”

“Hmm, bisa dibilang hanya rekan bisnis, hanya sesekali berjumpa. Tidak begitu dekat.”

“Oh…”

Suasana hening kembali. Hanya terdengar suara desis rokok yang dihisap Jonghyun serta bunyi percikan tembakau yang dibakar di dalamnya. Minho mencoba bertahan di tengah kepungan asap rokok yang tak sengaja melayang ke arah wajahnya. Ia berpura-pura membaca lembaran brosur perumahan yang berada di genggaman tangan kanannya.

“Jinki sudah lama tinggal di sini?”

“Hmm, mungkin sekitar dua tahun yang lalu. Saya ingat waktu itu pertama kalinya ia menitipkan pesan kepada saya.”

“Pesan berupa apa?”

“Ya, seperti minta izin memakai alamat rumah saya sebagai alamat penerima paket selama dia berpergian. Sehabis itu, dia mengambilnya ke sini dan membayar jasa penitipan. Lumayan.”

Minho mengangguk sambil terbatuk kecil.

“Ah, diminum airnya, jangan sungkan,” tawar Jonghyun.

Ini karena asap rokokmu, Bodoh.

Minho meraih gelas minumnya. “Terima kasih.”

Saat Minho meminum minumannya, Jonghyun terus memperhatikan Minho. Minho merasa tidak enak.

“Ada apa?” tanya Minho.

“Ah, tidak. Tapi saya merasa kedatangan Anda ke sini bukan untuk membeli rumah.”

Minho spontan menjawab, “Memang benar. Saya hanya melihat-lihat terlebih dahulu. Belum langsung membeli. Karena Jinki tak ada, dan kebetulan saya bertemu dengan Anda, saya bisa melihat penawaran−.”

“Bukan, bukan itu maksud saya,” potong Jonghyun sambil tergelak. ”Anda detektif, ‘kan?”

Minho menelan ludah. “Tidak.”

“Oh, ya sudah. Tapi saya sebenarnya tak masalah ditanya-tanya oleh seorang detektif. Daripada dari kepolisian.”

Minho tertawa. “Anda sepertinya benci sekali dengan polisi.”

“Tentu saja. Kerjaan mereka tak pernah beres.”

Minho mendelik sedikit, lalu tertawa. “Hati-hati, nanti ketahuan sama mereka.”

“Tak masalah. Mereka memang seharusnya tahu akan hal ini.”

Bel rumah berbunyi nyaring. Perbincangan mereka pun terhenti sejenak.

“Sebentar.”

Jonghyun mematikan rokoknya, lalu bergegas menuju pintu utama. Minho mencuri kesempatan itu untuk membalas pesan singkat dari Taemin.

 

From : Taemin

Bagaimana?

To : Taemin

Aman, Jonghyun orangnya terbuka selain kepada polisi dan wartawan (laugh)

Minho menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku rompinya. Di saat yang bersamaan, ia mendengar suara keributan dari depan rumah. Ia pun tertarik untuk mengamatinya langsung.

“Sudah kubilang, cari orang lain. Aku ‘kan sudah menerangkan semuanya.”

“Tapi,  Kim Jonghyun ssi, saya hanya meminta Anda untuk datang ke kantor sebagai saksi. Tak kurang tak lebih.”

“Kau mencurigaiku?”

“Bukan. Ini hanya meminta keterangan lebih lanjut saja.”

“Saya sudah bosan ditanya hal-hal remeh seperti ini. Apalagi dari, oh tidak, kau masih baru di kepolisian, ‘kan? Mana seniormu?”

“Saya hanya ditugaskan sendiri untuk menjemput Anda, Kim Jonghyun ssi.”

Minho mencoba menengahi. “Ada apa ini?”

“Nah, seperti yang kau lihat, aku sedang ada tamu. Kau mengganggu waktuku,” kata Jonghyun yang berusaha memanfaatkan keberadaan Minho di rumahnya, “Bagaimana Minho ssi? Anda sudah selesai membacanya?”

“Ah, iya. Saya hendak pamit. Maaf mengganggu Anda sebelumnya, Jonghyun ssi. Nanti, kalau saya berminat, saya akan datang ke sini lagi.”

“Nah, Kim Jonghyun ssi, tamu Anda telah memohon pamit pulang. Anda sekarang tak keberatan,  ‘kan?”

Jonghyun memukul daun pintu di sisi kirinya, lalu kembali menghardik, “Sudah kubilang, aku tak mau dipaksa. Keluar dari sini sekarang juga!”

Mereka terkejut. Marah Jonghyun bukan main-main. Minho segera menarik Kibum untuk segera menjauh.

“Saya permisi dulu. Terima kasih untuk hari ini, Jonghyun ssi,” ujar Minho saat menoleh untuk terakhir kalinya kepada Jonghyun.

Jonghyun langsung tersenyum. “Ya, sama-sama, Detektif Muda.”

Sekali lagi Minho menelan ludahnya. Tapi ia tetap melayangkan senyum sopan kepada Jonghyun. Jonghyun membalasnya, tapi ketika ia melirik Kibum, senyumnya pudar seketika.

Pintu rumah pun tertutup dengan sedikit dibanting oleh si tuan rumah.

=================================

Kini, Minho harus berurusan dengan polisi baru di sebelahnya.

“Sudah, jangan dipaksa lagi,” kata Minho menenangkan.

“Aku hanya menjalankan tugasku. Apakah itu salah?” balas Kibum sambil meremas topi polisinya.

“Tapi tidak untuk pagi ini. Sebaiknya kalau mau ke sini, bawa atasanmu. Biar sekalian tangan orang itu diborgol lalu diseret ke kantor polisi,” canda Minho. Kibum terkekeh singkat.

“Ngomong-ngomong, kamu detektif, bukan?”

“Maksudnya?”

“Kamu detektif, ‘kan? Namamu…Choi Minho, right?”

“Kau tahu darimana?”

“Aku melihatmu saat kemarin menyerahkan kasus ke kantor. Sepertinya kamu detektif yang hebat.”

“Terima kasih atas pujiannya.”

“Nah, bagaimana kalau kita kerjasama?” tawar Kibum tiba-tiba.

“Maksudnya?”

“Ya, kamu menggali informasi dari Jonghyun. Dan aku akan membagi informasi mengenai barang bukti yang didapatkan dari kepolisian. Ada dua brankas yang isinya dokumen penting milik Lee Jinki. Aku yakin kamu pasti berminat.”

“Kau mau menawarkan hasil barang bukti kepadaku demi mendapatkan info dari Jonghyun ssi?”

“Ya.”

Minho terbahak. “Kau tak takut dimarahi oleh atasanmu?”

Kibum menghela napas. “Polisi sebenarnya sah-sah saja bekerja sama dengan seorang detektif swasta. Hanya masalah gengsi. Lagipula, tugasku di kasus ini hanya mencari tahu informasi mengenai Jinki dari penduduk rumah di sini, dan Kim Jonghyun adalah orang yang tepat. Tapi sejak kemarin dia tak ingin diganggu. Deadline-nya esok hari. Bisa-bisa aku dapat tugas yang lebih berat dari ini,” jelas Kibum panjang.

Minho menghentikan langkahnya. “Kau yakin?”

Kibum menaikkan sebelah alisnya. “Kenapa tidak?”

“Baiklah, aku setuju. Tapi kau yang bertanggung jawab kalau mereka tak ingin ada kehadiranku di kasus ini.”

“Tenang saja, aku akan melobi atasanku.”

Kibum membuka pintu mobil dinasnya. Sebelum tertutup sempurna, ia menyampaikan sesuatu kepada Minho.

“Berminat untuk melihat-lihat TKP? Kita berangkat ke sana dengan mobil ini.”

Minho tersenyum kecil. “Penawaran yang bagus.”

=======================

Taemin menyusun butiran kelereng hasil kerjanya di dalam sebuah kotak. Kelereng ini hendak dijualnya ke pedagang toko mainan di kota tempat ia bekerja. Cukup banyak, tetapi  ia tak menjadikan hal itu sebagai beban. Ia hanya mempekerjakan satu orang pegawai, dan itu pun bertugas hanya dibidang pengantaran barang ke alamat pemesan. Soal produksi dan pemasok bahan baku, dia yang mengusahakan sendiri. Taemin tak pernah mengeluh karena sudah sejak kecil, ia belajar mandiri lewat ibunya yang pekerja seni, sekaligus menjadi orang tua tunggal bagi dirinya.

“Yosh, selesai!”

Taemin mematikan keran gas yang menghasilkan api sebagai pemanas kaca pembuat kelereng. Ia menenteng kotak kardus berlapis plastik itu keluar ruang kerjanya. Tak lupa, ia mengunci ruang kerjanya sebelum dirinya menghampiri meja di luar, tempat pekerjanya menunggu.

“Ah, Kai. Maaf terlalu lama.”

“Tak apa-apa, Hyung,” balas Kai sambil menyambut uluran kotak yang diberikan Taemin kepadanya.

“Ini alamatnya. Jangan lupa beritahu orang ini agar jangan memberikan deadline terlalu cepat. Aku yang susah jadinya.”

Kai tertawa. “Kalau seperti ini, Hyung masih yakin bekerja sendiri?”

“Aku sulit untuk terlalu percaya sama orang lain, Kai. Apalagi masalah kelereng ini. Terlalu berharga untuk ditangani oleh sembarang orang,” jawab Taemin sambil tersenyum.

“Ngomong-ngomong, Tuan Shin ini ingin sekali bertemu dengan Hyung,” kata Kai sambil menunjuk alamat yang tertempel di dinding atas kardus.

“Bilang saja, aku sibuk.”

Kai kembali tertawa. “Alasannya kenapa lagi, Hyung?” Sebenarnya Kai tahu, Taemin bukan pengusaha biasa. Ia benar-benar berusaha menutupi identitasnya sendiri. Dan itu sebabnya Kai merupakan satu-satunya pekerja di sini. Tujuannya, agar Taemin tak berkomunikasi langsung dengan pembelinya.

“Aku tak ingin menjadi terkenal terlalu cepat,” jawab Taemin ringan.

“Lalu, Hyung tak keberatan dengan berita di koran kemarin?”

“Kalau itu masalah lain. Hitung-hitung promosi tak langsung, order kita akan bertambah, ‘kan?” jawab Taemin. Kai menyetujuinya. Ia mengangguk sambil memasang tali pengaman helm-nya.

“Sudahlah, ayo pergi sana. Nanti keburu hujan.”

=================================

To be continued…

2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

27 thoughts on “[WFT B] Marbleous – Part 1

  1. there’s something… between the cast and taemin….eaaaa… sok jadi detektipp… dari mana Taem bisa tau smuanya??

    Key pasti ganteng pake baju polisi deh yah.. * bayangin..
    lanjooootttt

  2. woow.. Taemin jadi pengusaha kelereng..
    udah lama bangat gak ngeliat mainan dari kaca itu..
    boleh juga idenya Dhila..😉

    itu si Jinki, cuma nongol nama aja. si Minho perannya jauh dari realita, biasanya kan pantang menyerah. si Jjong jadi pak RT ya, tapi saya bisa ngebayangin Key pake seragam polisi yang keren, seperti pakaian yang dia pakai waktu live Medusa, apalagi kalau pakai sepatu bootnya..😛

    agak penasaran dengan kaitan antara Taemin yang pengusaha kelereng dengan meninggalnya Jinki yang katanya teroris..

    Ok Dhilla, ditunggu part selanjutnya ya..🙂

    1. haha, iyaa..itu juga dapet inspirasi dari tayangan spotlite plus hasil obrolan sama kakak..hehehee..😀

      klo di part 1 Jinki emang numpang lewat, tpi part berikutnya liat aja..xD
      pak RT!!! iyaa! tapi di korea la gatau istilahnya apaan, jadi nama status si Jjong itu rada ngasal sih sbnrnya..xD

      okee, disimpen dulu rasa penasarannya buat next part ya kak yaa. smoga ntar gak mengecewakan😀
      makasi y kak yaa udah ninggalin komen di sini ^o^/

  3. kayaknya ada apa apanya ni taemin.. kok dia tau? terus dia ngapain susah2 nyariin informasi? kan udah ada minho?
    ya sudahlah pokoknya part selanjutnya ditunggu yaa😀

    1. heheheee…bener banget! tunggu aja di part selanjutnya yaa…
      Semoga aja di cerita berikutnya bisa menjawab rasa penasarannya dan gak membingungkan + gak maksa ._.”
      makasi banyak ya Fitriyana udah mau gabung komen di cerita ini ^o^/😀

  4. aaakk 2miin *salah fokus
    penasaran, itu siapa yang ngeledakin ya? taemin-kah? atau taemin masih ada hubungam sama jinki?
    lanjut lanjut lanjut x3

    1. anda tak salah fokus saay, emang genre utama cerita ini selain detektif juga bromance..xDDD
      maklum, aku juga gak pernah bisa lepas dari 2min klo bikin cerita xD

      naah, silakan disimpen dulu yaaa rasa penasarannya. smoga aja part berikutnya memuaskan..hehee..😀
      makasi yaa chingu udah ikutan komen di cerita ini ^o^/😀

  5. haiii, Ia. nggak papa, yah dipanggil begitu? #nyengir.
    di part ini lebih banyak ceritain Minho, ya? tapi kayaknya kasus ini ada hubungannya sama Taemin #cuma nebak loh.
    cerita paling aku tunggu adalah genre misteri. kayak detektif-detektifan gtu, crime and action. nah nie nongol jadi wajib baca lah. ditunggu part selanjutnya!!!

    1. hhaa, iyaa..gapapa😀 dhil, la, dhila itu sama aja xD
      Iya kak, Taemin ntar nongolnya kapan-kapan *?*
      Ada hubungannya sama Taemin? Ada, pastinyaa..tapi hubungan yang seperti apa? Naah, nanti di part berikutnya akan diceritakan..xD

      Hehe, tapi gatau juga nih kak, apakah kadar genre cerita ini sesuai dengan yg kakak inginkan, soalnya la masih nyoba2 bikin, belum ahli ._.” Moga2 ttp suka sampai akhir cerita ya😀
      Oke okee, kayaknya gak bakal lama nunggunya😀
      Makasi y kak Hana udah ikutan komen di cerita ini ^o^/

  6. aaaaaak, moso td sore udah komen panjang2 tp ga masuk T___T

    Laaaaa, aku beneran suka banget part ini. Slain ceritanya menarik, penulisannya rapi, tenang, ah pokoknya aku ga bs protes apa2 lagi. Kece!

    Btw mian blom bls emailmu. Aku baru turun kereta jam 9 td dan blom nyari2 jawabannya. Aku bales klo udah tau la

    1. iya kak? ToT
      gapapa, di next part ato part akhir aja dipuas2in komennya..xDDD

      alhamdulillah klo kakak suka. Klo utk part 1 emang la masih fokus n enjoy ngetiknya kak, tpi buat part2 berikutnya rada berkurang feelnya. smoga aja utk next part gak mengecewakan banget ya ._.

      oh, iya gak papaa…hehe..Makasi y kak Bibib udah sempatin komen (plus balesin email la) yaaa ^o^/😀

  7. Ciee, Taemin ini pasti bukan pengusaha biasa deeh. Tau darimana cobaa soal begituan, haha. Si Minho-nya juga menurutku awalnya terkesan bego banget yak .__. Dia detektif sungguhan nggak sih? Malah dibantuin sama Taemin .____.

    Oke, oke. Lanjut ke next paaart ^^

    1. haha, yoi! Taemin emang kubikin pengusaha yg unpredictable jalan pikirannya, wkwkwk..
      Minho detektif beneran, tp trlalu males sama yg ribet2, plus masih ga bisa lepas dari Taemin..😄😆 bisa dikatakan Taemin itu sisi lemahx Minho gtu..😀
      oke Zak! Makasi bnyak yaa udah mampir ke sini😀

  8. jarang2 nemu ff tntng pekerjaan detektif kyk gini.. kl nemuin ff bertema detektif aq salut ama authornya. bisa dpt ide dr mana sih? apa authornya sering baca komik conan ya, sampe ngerti hal2 berbau gituan wkwk

    sama kyk orng2 yg komen diatas, ngebayangin key pake baju polisi kyk gimanaa gitu.. kece bgt kali ya wkwk. jgn2 taem kenal bgt ama jjong. aku kepo ama taemnya loh.

    otak lngsng blank ngebayangin jjong ngerokok ckck. cuma satu hal yg aq krng suka dgn ff ini. bromance? aigoo agak2 gk enak gitu baca kata gitu. ok lanjut!

    1. aku cuma ngandalin beberapa drama yg beraliran detektif aja Hana, kalau conan cuma baca beberapa chapter doang..hahaha…
      yoii, key emang keren😉

      haha, bromance ff ini yg kalem kok *?*, aku juga ga demen sama yg bromance beneran..haha…
      okee, silakaaan ^o^/

  9. Di awal cerita aq curiga kalau Jjong itu tersangka peledaknya, tapi di akhir kenapa Taemin jadi mencurigakan yah,,
    Nice FF chingu, bikin reader mikir dan penasaran,,
    Keep Writing:)

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s