[WFT B] Marbleous – Part 2

Author             : dhila_kudou

Title                 : Marbleous

Main Cast        : Lee Taemin, Choi Minho

Support Cast   : Kim Kibum, Kim Jonghyun, Lee Jinki, OC

Genre              : Mystery, Crime, Life, Bromance

Rating              : G

Type                : Alternative Universe (AU)

Length             : Sequel

Marbleous

===================================

PART 2

Ilsan, 18 Juli 2003

 “Soora ssi, apa kamu bisa membuat presentasi untuk besok?”

Soora segera menoleh dan meletakkan benda purbakala yang tengah dibersihkannya. “Untuk besok?” ulangnya tak percaya.

“Iya, Hyorin tiba-tiba mohon izin untuk mengambil cuti besok, jadi mau tidak mau kamu saya minta untuk mempersiapkan segalanya. Saya tahu ini terlalu mendadak.”

Soora tampak berpikir sejenak. Ini sudah jam 10 malam dan dia sudah ada janji dengan anaknya. Melaksanakan tugas yang diberikan sama saja dengan pulang larut dan anaknya pun akan marah karena tak menepati janjinya. Ia pun menggeleng kuat.

“Tidak, Sajangnim. Saya tak begitu paham dengan detail setiap barang yang akan dipajang besok. Saya juga harus pulang cepat hari ini,” jawabnya perlahan.

Lelaki tua tersebut terdiam sejenak. Malam ini hanya ada dia dan Soora, anak buahnya. Esok adalah peresmian museum tempat dirinya bekerja. Dengan tenaga tetap yang hanya 3 orang, mereka harus mempersiapkan segalanya, seperti menyusun meja-meja dan merinci benda-benda purbakala apa saja yang dimiliki museum ini. Tentu saja tak semua benda yang dimiliki oleh museum itu dipamerkan ke publik. Mereka menyimpannya sebagian di ruang penyimpanan khusus.

Hyorin bertugas mencatat seluruh barang dan mencantumkannya dalam sebuah katalog. Dan Soora bekerja untuk membersihkan dan merawat seluruh benda-benda tersebut. Malam ini, semua persiapan untuk esok hari belum rampung sepenuhnya. Sebenarnya museum ini memiliki petugas lainnya, namun mereka sudah terlebih dahulu pulang. Tuan Jung pun kehabisan akal.

“Silakan bawa katalog itu ke rumah dan kerjakan dengan tenang. Besok, pagi-pagi sekali, kita berkumpul kembali. Semoga para anak magang bisa membantu kita besok. Yang terpenting adalah bahan presentasinya. Tenang, Hyorin sudah menyicilnya sebelum ia cuti. Saya mohon.”

Soora masih ragu. “Mengapa tidak yang lain saja, Sajangnim?”

“Kamu satu-satunya karyawan yang memahami seluk beluk museum ini. Yang lain baru seminggu bekerja dan tak begitu paham dengan segalanya. Kamu lulusan Arkeologi juga. Aku sangat bergantung kepadamu saat ini, Soora-ssi.” Tuan Jung mengurut hidungnya, berusaha membebaskan rasa penat dan kantuk yang menyerang wajahnya. Soora memang orang yang sedikit susah untuk ditaklukkan.

Melihat wajah memelas Tuan Jung, Soora menarik napas panjang. “Baiklah, Sajangnim, akan saya usahakan.”

Wajah Tuan Jung cerah seketika. Ia tersenyum lebar. Tuan Jung memukul ringan bahu Soora untuk menyalurkan semangat lalu berlalu dari hadapan Soora sambil menyandang tas besarnya.

“Bersiap-siaplah untuk pulang. Saya tunggu di luar.”

Soora menutup pintu kaca lemari penyimpanan, lalu membereskan barang bawaannya. Soora mencoba menerima tugas tersebut dengan seikhlas mungkin. Semoga saja saat anaknya sudah tertidur, dia bisa mencuri waktu untuk bergadang lagi.

Malam semakin larut . Mereka berdua pun keluar dari gedung museum. Tuan Jung memasang gembok, lalu menyimpan seluruh anak kunci di dalam tasnya.

“Ah, saya baru ingat. Jangan lupa bawa teko yang kemarin kamu bawa ke rumah. Sudah selesai kamu teliti, ‘kan?” kata Tuan Jung ketika hendak menuruni anak tangga.

“Astaga, sudah…saya sudah selesai menggunakannya. Maaf, Sajangnim, tadi pagi saya lupa membawanya.”

“Tak apa-apa. Hati-hati di jalan. Jaga katalog dan teko itu baik-baik. Kita tak punya duplikatnya, hahaha. Sampai jumpa esok hari!”

Tuan Jung menuruni undakan menuju parkiran. Ia membuka pintu mobil, melambaikan tangan kepada Soora sekilas, lalu masuk ke dalam mobilnya lagi. Soora berusaha untuk tersenyum di tengah rasa penat dan tugas baru yang baru saja diterimanya. Ia pun berjalan menuju mobilnya.

Baru saja ia hendak membuka pintu mobil, ponselnya berdering lembut. Sederet nomor asing tertera di layarnya. Soora mendesah berat. Ini sudah kesekian kalinya orang itu meneleponnya, tapi ia tak ingin berurusan dengan teman satu jurusan semasa ia kuliah itu.

Kali ini, ia pun mem-blacklist nomor tersebut. Lalu mengendarai mobil dengan tenang tanpa gangguan dari si penelepon itu lagi.

==================================

Seoul, 20 Juli 2013

Kibum menyusul Minho yang telah terlebih dahulu turun dari mobil polisinya. Rumah tempat kejadian perkara tersebut dijaga oleh dua orang bersenjata lengkap. Kibum tampak berbicara singkat kepada mereka sebelum melintas garis polisi. Mereka mengangguk mendengarkan sambil sesekali melirik Minho yang berdiri bersandar di sisi depan mobil. Minho berpura-pura tak mendengarnya. Setelahnya, Kibum berjalan ke arah Minho sambil membawa sarung tangan, masker, dan tanda pengenal.

“Kau bilang apa ke mereka?”

Kibum mengeratkan sarung tangannya. “Ada detektif jenius yang ingin melihat ke dalam.” Minho hanya terkekeh seperlunya.

Rumah itu sendiri tak terlalu luas. Berdesain lebih minimalis daripada rumah-rumah lainnya. Letaknya paling selatan perumahan menengah ini. Pekarangannya cukup asri, namun kurang terawat. Ditambah lagi dengan pecahan-pecahan bata dan kaca hasil ledakan dua hari kemarin.

Mereka melihat-lihat keadaan didalam rumah. Pintu depan dibiarkan terbuka. Beberapa bagian dinding retak. Pecahan kaca berserakan di lantai. Di dalam, mereka langsung disambut oleh ruang tamu yang begitu luas dan terhubung langsung dengan ruang tengah. Tampaknya pemilik rumah memilih lantai satu dibiarkan lepas sehingga ia bisa memajang berbagai benda dengan bebas. Dinding bagian dalam dicat dengan perpaduan warna krem dan putih gading. Sangat indah jika ledakan naas itu tak terjadi.

Minho bisa menilai si pemilik adalah orang yang begitu menyukai seni karena banyak lukisan-lukisan yang terpajang di dinding, walau kini posisinya sudah berubah dan bahkan ada yang sudah ada yang terkapar di lantai. Si pemilik juga memiliki berbagai benda antik di lemari pajangannya. Gelas-gelas berbahan dasar tanah liat, porselen, sampai kaca. Guci-guci berbagai ukuran, serta patung-patung. Minho melihat semuanya dengan wajah terpukau sekaligus heran. Darimana orang itu mendapatkan semuanya?

“Apa barang-barang ini dibiarkan saja tersimpan di sini? Tidak ada dari pihakmu yang akan menyelidikinya?” tanya Minho ketika menyentuh sebuah patung yang hampir sama tinggi dengannya. Tak lupa, ia membidik benda tersebut dengan kamera ponselnya.

“Aku sendiri juga kurang tahu. Tapi, setahuku, yang lain sudah menghubungi museum yang bersedia menampung semua barang-barang ini,” jawab Kibum yang berdiri tak jauh dari Minho.

Beberapa menit kemudian, Kibum merasa bosan. Ia melirik ke arah Minho yang masih sibuk dengan penyelidikannya. Ia mendengus tak sabar. Permintaannya akan hasil pertemuan Minho dengan Jonghyun, tugas utamanya, belum sempat ia tagih. Tak mau berlama-lama, Kibum mencoba mengalihkan kesibukan Minho.

“Ruangan sumber ledakan berada di lantai atas. Ingin melihatnya sekarang?” ajak Kibum ketika Minho baru saja menutup laci lemari pajang. “Kamu sudah selesai?”

Minho menaikkan alisnya. Ia tersenyum tipis. Ini ajakan yang ia tunggu-tunggu sejak tadi. “Baiklah.”

Tangga rumah berada di sebelah kiri rumah, tapi tetap terlihat dari pintu utama. Belasan foto berbingkai menghiasi keramik anak tangga karena terjatuh dari posisi awalnya yang berada di dinding sisi kiri tangga. Minho mengambil salah satu foto. Tampak empat orang dengan gaya perlente tersenyum ke arah kamera. Ada satu orang yang tampak paling muda di antara lainnya. Mereka saling berangkulan.

“Kamu tahu mana pria yang bernama Lee Jinki itu?” tanya Kibum sambil mendekati Minho. Tanpa menunggu jawaban Minho, Kibum langsung menunjuk orang yang berdiri di urutan paling kanan.

“Ini dia orangnya. Umurnya masih 34 tahun. Kami masih mencari-cari siapa orang yang bersama dengannya di foto ini.”

Minho menelisik detail foto tersebut. Terlihat spanduk yang sempat terbidik oleh kamera. “Hongkong?”

“Dia sering berpergian ke luar negeri. Itu info yang aku coba simpulkan setelah membaca berbagai bill yang disimpannya,” komentar Kibum sambil berkacak pinggang. Ia meneruskan langkahnya ke lantai teratas.

Benar dugaan Minho, ruangan lantai atas lebih berantakan dari pada lantai dasar. Tak hanya karena ledakan naas itu, tapi juga di sinilah berbagai perabotan khas rumah ditumpuk. Dapur juga berada di lantai atas. Kamar utama juga terletak di lantai tersebut.

Tapi ada satu ruangan terbuka yang tampak lebih besar dari yang lainnya. Di sanalah ruang kerja Jinki. Minho mendekati daerah yang ditutupi oleh debu hitam lebih dari lokasi lainnya. Sepertinya di sinilah ledakan itu terjadi.

Minho berjongkok, mencoba mengamati puing-puing yang berada di sekitar lokasi tersebut. Semuanya tampak sama, hitam dan sudah menjadi serpihan. Tapi dari sekian serpihan itu, Minho menemukan suatu benda yang tak biasa. Ia menyusuri lantai di sekelilingnya. Masih ada beberapa benda yang serupa. Ia sedikit heran mengapa polisi membiarkan benda seperti ini tetap tercecer di tempat kejadian.

Diam-diam, ia memungutnya.

“Oh iya, boleh minta hasil percakapanmu dengan Jonghyun tadi?” tanya Kibum tak sabar. Yang diminta masih sibuk dalam bidikannya.

“Sebentar.” Minho bangkit dan berjalan ke arah Kibum. “Aku merekam semuanya di dalam file ini. Bagaimana kalau kukirim saja ke smartphone-mu?”

Kibum mengeluarkan ponselnya, lalu ia berkata, “Bumkeyk.”

What?

“Nama perangkat bluetooth-ku.”

Minho membulatkan mulutnya membentuk huruf O. Tak lama kemudian, mereka sudah bertukaran file.

“Foto-foto dari seluruh dokumen brankas sudah aku copy-kan ke dalam flashdrive ini. Foto-foto brankas saat dibongkar pun ada, lengkap. Kamu tak perlu susah payah ke kantor. Bagaimana?”

“Boleh, tapi aku ingin melihat dokumen itu serta barang bukti lainnya langsung ke kantor. Itu ‘kan, perjanjian kita tadi?”

“Yah..kalau itu maumu, baiklah. Tapi kalau bisa kita segera ke kantor. Sebentar lagi aku ada rapat pembahasan mengenai kasus ini.”

“Boleh ikut?”

“Hanya untuk anggota kepolisian,” jawab Kibum sambil menyeringai kecil.

Minho memutar bola matanya kecewa. “Sayang sekali.”

==========================================

Seoul, 21 Juli 2013

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Minho sudah mendatangi kantor Kepolisian Metropolitan Seoul. Ia mencari Kibum di sana untuk mendapatkan keterangan lebih lanjut mengenai berita dari koran yang ia baca di stasiun kereta. Tak butuh waktu lama, Kibum menghampirinya.

“Jadi, kalian beranggapan ini murni kecelakaan?”

Kibum melepaskan topi polisinya sambil meminta Minho untuk duduk di salah satu kursi di sana. “Iya. Memangnya pendapatmu seperti apa?”

Minho berpikir untuk mengurungkan niatnya melanjutkan argumennya. “Ya, bisa jadi hal lain, bukan kecelakaan. Pembunuhan?”

“Kamu mau menyelidikinya sendiri? Aku harus mengurus kasus lain.”

Minho tersenyum kecut. Benar kata Jonghyun, polisi sekarang memang sering menyepelekan kasus yang terlihat ringan. Dan mengenai posisinya dalam kasus ini tak diperhitungkan, sepertinya Minho lebih memilih untuk menyimpan argumen miliknya dan tidak membaginya kepada pihak polisi. Ia tak mau penyelidikannya gagal hanya karena geraknya dibatasi oleh pihak kepolisian.

“Kalian punya data mengenai buku tamu perumahan Villa Seorae? Bisa kupinjam?”

“Tidak.”

Masa’?”

“Aku serius. Kenapa tidak kamu tanyakan saja langsung sama..ah, Jonghyun. Ya, Kim Jonghyun, si pirang angkuh itu. Barangkali orang itu mempunyai barang yang kamu minta.”

===============================

Ilsan, 18 Juli 2013

Soora memutar kunci rumahnya. Badannya benar-benar butuh istirahat sekarang. Tapi mengingat rencananya untuk merayakan hari ulang tahun anaknya yang ke 11, Soora merasakan semangatnya kembali terkumpul setelah seharian berkutat dengan benda-benda prasejarah di museum tempat dirinya bekerja.

“Taemin-ah! Eomma pulang!”

Hanya sepi dan gelap yang menyambut pandangan Soora. Ia merasa bersalah kepada Taemin. Apa jangan-jangan anak itu sudah menungguinya dan terlelap di ruang tengah? Bagaimana dengan perayaan ulang tahunnya? Bagaimana dengan 77 butir kelereng yang sudah disiapkannya? Taemin pasti akan marah dan menganggap Soora telah melupakan hari sakral itu.

Soora meletakkan barang bawaannya di atas sofa ruang tamu dengan hati-hati. Persis saat Soora meraba dinding di dekatnya untuk mencari saklar lampu, tiba-tiba sebuah api kecil menyala tak jauh dari tempatnya berdiri.

“Tada…nggak gelap lagi kan, Eomma?”

Soora terkejut melihat sosok yang hanya disinari oleh cahaya lilin tersebut. Darahnya berdesir. Tapi ia segera mengenalinya. “Taemin!”

Soora menekan saklar lampu dan berjalan menuju Taemin yang tengah duduk manis di sofa. Ia meletakkan kotak biru yang berisi hadiah untuk Taemin di sebelah kue tar yang telah disiapkan oleh Taemin sebelumnya. Ia membelai lembut rambut hitam anak semata wayangnya. “Kamu sudah bisa bikin kejutan ya untuk Eomma.”

“Hahaha, habis Eomma pulangnya lama sekali, sih.”

 “Eomma ada keperluan penting, Taemin. Maafkan Eomma ya. Oya, ayo kita rayakan segera. Sebentar lagi jam 12, hari ulang tahunmu akan usai. Ayo!”

Saat Taemin memejamkan matanya, tiba-tiba bel rumah berdentang nyaring. Soora dan Taemin melongok ke arah jendela. Siapa tamu yang datang pada malam hari seperti ini?

“Lanjutkan saja Taemin. Ayo, ditiup lilinnya.”

Ting Tong.

“Make a wish!”

“Semoga Eomma panjang umur dan sehat selalu.”

Soora melebarkan tatapannya ke arah Taemin, “Kenapa Eomma? ‘Kan kamu yang ulang tahun hari ini?”

“Kalau Eomma panjang umur, Eomma akan terus ngasih Taemin hadiah kelereng tiap tahun. Dan kita akan bersama selalu.”

Tak sadar, Soora menitikkan air matanya, “Terima kasih, Taemin.”

Ting Tong.

Soora mendengus kesal. Tamu di luar sana benar-benar merusak perayaan kecil-kecilan ini. Dia berusaha mengabaikannya.

Eomma, buka saja pintunya. Kasihan dia kedinginan di luar,” ujar Taemin. Soora menatapnya lalu mengangguk. “Kalau itu maumu, baiklah. Kamu ke kamar duluan ya, nanti Eomma susul ke dalam. Bawa kue dan kado ini ke dalam kamar.”

Taemin mematuhinya dan langsung beranjak ke dalam kamar yang letaknya bersisian dengan ruang tamu. Sementara itu, Soora bergegas membukakan pintu. Semakin cepat dilayani, semakin cepat tamu itu akan pergi.

Pintu pun terbuka, dan seorang pria berkaus abu-abu lengan panjang menyambutnya. “Selamat malam, Soora-ssi!

Soora menatapnya tajam. Ini pria aneh yang telah mengganggunya seharian tadi. “Ada apa kamu ke sini?”

Pria asing tersebut terbahak. “Apa kamu sudah lupa? Baiklah, akan kuingatkan kembali.”

Sebuah liontin bermata kelereng perak mengayun di depan wajah Soora. Ayunan demi ayunan membius Soora perlahan. Tak butuh lama, Soora memejamkan matanya dan jatuh ke alam bawah sadar. Soora terhuyung ke belakang, namun dengan sigap pria itu membuatnya berdiri kembali.

“Ambilkan aku teko yang berumur 3000 tahun itu. Sekarang!” desisnya pelan ke arah liang telinga Soora. Ia tersenyum licik.

===============================

Seoul, 21 Juli 2013

Minho turun dari taksi sambil terus merutuki Kibum, polisi baru yang ternyata tak bersikap terbuka dengan dirinya. Ia merasa menyesal. Tapi mau bagaimana lagi, dia memang membutuhkan barang bukti yang sudah diselamatkan oleh kepolisian.

Ia berjalan menuju pos satpam Villa Seorae itu. Sebenarnya kalau dipikir-pikir kembali, villa ini lebih mirip seperti perumahan ketimbang sebuah villa. Ah, masa bodoh, pikir Minho.

“Permisi, selamat siang.”

“Iya, siang. Ada yang bisa dibantu?”

“Uh, saya yang kemarin datang ke sini. Saya Choi Minho. Saya bisa lihat data pengunjung yang masuk ke villa ini?”

Kedua satpam yang berada di dalam pos kecil itu saling bertatapan, bingung. “Maksudnya data yang seperti apa?”

Minho terdiam sejenak. “Ya, seperti nomor kendaraan, atau nama. Terserah.”

“Untuk apa? Penyelidikan?”

Minho mengangguk cepat. “Iya..iya..saya ingin menyelidiki kasus ledakan kemarin.”

“Bukannya kami sudah menyerahkannya kepada kalian? Kenapa diminta lagi?”

Minho memutar bola matanya. Benar dugaannya, Kibum berbohong soal data pengunjung villa yang katanya tidak dimiliki kepolisian. Ia berdecak kesal. Orang itu melibatkan dirinya hanya untuk memenuhi kepentingan sendiri.

“Oke, kalau begitu, bisakah saya bertemu dengan Jonghyun-ssi?”

Satpam tersebut kembali berdiskusi singkat. Tak lama, salah satu dari mereka keluar dari persembunyiannya.

“Oke, akan saya antar Anda ke sana.”

====================================

Ilsan, 18 Juli 2003

Berhasil, pria asing itu berhasil menghipnotis Soora. Soora pun berjalan dengan langkah kecil ke dalam kamarnya, tempat Taemin kini berada.

“Teko..teko…”

Soora terus menggumamkan kata tersebut di setiap langkahnya. Sampai akhirnya ia membuka pintu kamar dengan pandangan kosong. Taemin heran melihat ibunya yang tampak bagaikan patung berjalan itu.

Eomma kenapa? Siapa yang datang?”

“Teko…teko…”

Eomma, Eomma baik-baik saja?” Kali ini Taemin meninggalkan kasurnya dan menghampiri Ibunya yang sedang tak sadar. Soora mengenyahkan Taemin dan membuat Taemin jatuh tersungkur. Soora terus berjalan ke arah lemarinya.

Eomma,” lirih Taemin yang hampir menangis. “Eomma kenapa?”

Soora terus berjalan sambil membawa teko peninggalan sejarah itu dan kembali keluar kamar. Taemin serta-merta berdiri dan mengintip tamu itu dari balik pintu kamar. Taemin mencoba mengenali wajah pria itu, tetapi terlalu asing baginya.

“Ini,” ucap Soora dengan nada datar ketika menyerahkan teko antik yang dipinjamnya dari museum kemarin.

Pria itu menyambutnya, lalu mengucapkan terima kasih kepada Soora. Ia berbalik arah dan saat itulah, Soora kehilangan keseimbangan.

Eomma!” pekik Taemin. Ia berlari sekencang mungkin untuk menyelamatkan tubuh Eomma-nya yang hampir menyentuh lantai. Dirinya terus memanggil-manggil Eomma-nya agar kembali sadar.

“Bangun Eomma, bangun!”

Tak berhasil, Taemin mencari jalan lain. Ia berlari mengejar pria asing itu keluar rumah. Beruntung si pria berjalan lambat karena terlalu bahagia misinya berhasil.

“Kembalikan teko itu, Pencuri!” teriak Taemin nyaring sambil menyambar ujung kaos pria tersebut saat dirinya sudah berada tak jauh di belakangnya.

Pria itu mengibaskan tangannya dan mendorong Taemin ke belakang. “Tahu apa kamu, Bocah?”

Taemin tersungkur ke jalan. Namun, ia tak menyerah begitu saja. Ia merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan beberapa butir kelereng miliknya. Kemudian, kelereng itu disebarkannya ke jalan yang dilalui oleh pria tersebut.

Sukses. Pria itu tak sengaja menginjaknya, tergelincir, lalu terjatuh dengan posisi menelentang. Teko tersebut terlepas dan terpelanting ke arah rerumputan di sisi kiri jalan. Taemin langsung mengejar teko tersebut.

“Hei!” panggil pria itu. “Jangan ambil, Bodoh!”

Taemin berhasil mengambilnya. Karena jarak antara posisi Taemin dan dirinya kini cukup jauh, ia mengeluarkan sebuah senjata dari balik kaosnya.

“Lepaskan benda itu, anak manis! Atau kamu ingin mencoba peluru pistol ini?” ancamnya sambil mengarahkan mocong pistol tangannya ke arah Taemin.

“Tidak!”

“Lepaskan!”

“Tidak mau!” teriak Taemin sambil terus berlari menuju rumahnya. Tak ada jalan lain, tiga tembakan pun akhirnya dilepaskan ke udara.

BANG! BANG! BANG!

Orang yang dibidiknya pun terjatuh. Pria tersebut lantas terbahak. Ia menghampiri teko tersebut lalu mengambilnya.

“Nah, seperti ini kan lebih baik.”

Pria itu melenggang pergi membawa teko yang diincarnya tersebut dan masuk ke dalam sedan-nya. Sementara itu, Taemin membuka matanya perlahan. Jantungnya berdegup kencang ketika ia melihat Ibunya yang sudah terkapar di hadapannya.

Eomma!

Taemin mengejar Eomma-nya yang tergeletak bersimbah darah di rerumputan. Ibunyalah yang menjadi perisai bagi Taemin saat tembakan berlangsung.

Eomma! Bangun Eomma! Bangun!” pekik Taemin sambil terus-menerus mengguncang tubuh ibunya.

Tepat di ulang tahunnya yang ke 11, Taemin menjadi yatim piatu, selamanya. Dan 77 kelereng itu adalah hadiah terakhir dari Eomma kebanggaannya.

=================================

Taemin tersentak dari mimpi buruknya. Ia terbangun dalam keadaan berkeringat dingin. Lagi-lagi ingatan akan masa lalunya kembali. Ia mengatur napasnya sambil melirik meja kecil di sebelah tempat tidurnya. Ada pesan yang baru masuk ke ponsel biru metalik itu. Sejurus kemudian, ia tersenyum.

From : Minho

Taemin, buatkan aku pie coklat sore ini ya. Aku akan ke sana sekarang. Seoul benar-benar memuakkan.

================================

 To be continued…

2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

20 thoughts on “[WFT B] Marbleous – Part 2

  1. aku tau siapa yang bunuh ibunya… dan siapa yang bunuh Mr. Lee Jinki.. huuurrr…
    apakah tebakan saya benar??

    ibunya di bunuh sama Jinki, abis itu Taemnya bales dendam deh ke Jinki.. pikiran aku sih bgitu… waiting for next part!!!!!

  2. Jadi eommanya taem udh dibunuh? Hmmm… Part yg ini bikin penasaran…
    Yg bunuh eommany Taem siapa, yang bunuh Jinki siapa… Apa aku yg g isa nebak yah? #plak

    ditunggu nextnya eon😉

  3. pikiran aku tuh sama kayak Hyeoseok. tapi aku juga mau sekadar ngasih tahu:
    Eomma Taemin -> eomma Taemin.
    Ibunya -> ibunya.
    ceritanya sih nggak terlalu berat, cuma klue-klue yang diberikan belum terlalu berarti jadi aku hanya bisa kasih tebakan mentah. sebenernya ada apa, ya? Taemin mau bales dendam gtu? kayaknya masih ada hubungannya sama tuh teko, ya.
    okeh, lanjuuuut!!!

    1. iya kak… Ini cerita detektif level ringan, newbie.. Jadi pembaca bkal bisa nebak dari awal kykx. ._.
      Oke kak, silakan buktikan tebakanx plus rasa penasaranx d part berikutny ya… Makasi bnyak y kak Hana udah komen d sini..😀

  4. hyaa penasaran lanjutannya
    tapi disitu ada typo dikit ya thor, yg waktu taemin ulang tahun kan harusnya 18 juli 2003 hehe
    btw itu yg scene terakhir taemin tersenyum waktu dapet sms dari minho, kya soswit xD

    1. Yippi…penasaran? Sabar menunggu ya chingu *panggilnya apa nih biar enak? :)*
      Eh? Typo ya? Aku gak ngeh…gak bisa diubah juga sih..makasi ya kritiknya😀
      HAHAHAHA…aku juga greget pss ngetik scene yg itu.. >~<
      Makasi banyak ya keyyeoja udah mau gabung di part ini😀

  5. jadi ibunya Taemin kerja di musium, agak bingung di waktu kejadian ibunya Taemin meninggal.

    si Key licik juga disini, katanya mau berbagi hasil penyelidikan sama Minho.
    Mana ‘Bumkeyk’-nya gk ketinggalan..😉

    si Jinki penggila seni ya, sampe banyak gitu dirumahnya. Perbedaan umur Taemin-Jinki disini lumayan jauh ya, 21 dan 34 tahun, udah Om2 banget tuh si Jinki..😛

    Mulai agak nebak2 saya, kaitan antara Jinki-Taemin, tapi dari pada salah tunggu lanjutannya aja ya Dhila..🙂

    1. Nah… La juga wanti2 bakal ada yg kebingungan pas baca scene yg itu..la gak bakat bikin scene yg mencekam soalnya. Maunya mencekam, malah terlalu terburu2😐 maaf y kak…

      Haha, iyaa…aku gak sengaja setting dia kyk gitu, awalnya gak gitu2 amat sbnrnya.. Itu krna dia keranjingan update akun instagramnya sih ==”
      Iya, si Jinki emang dibikin paling tua di sini..hahahahaa..

      Oke kaaak, silakan disimpan dulu tebakannya.😉
      Makasi banyak y kak Lydia masih ttp ON ngasih komen di sini🙂

  6. Hooh, pantesan. Tadi kirain Taemin pengusaha sukses di usia 11 tahun, ternyata typo ya =_=””

    Ini.. jangan2 Taemin jadi semangat soalnya kematian ibunya masih ada hubungannya sama Jinki. Cieee, hayo ngaku deh :3

    Senyum sendiri pas baca sms Minho. Jangan romantis gitu deh, iri nih, hahaha. Next part ditunggu, Dhil;😀

  7. Hubungan kematian ommanya TaeMin, apakah akan saling sangkut menyangkut dengan kematian JinKi?
    Dibagian awal terasa sangat membosankan tapi dibaca terus menerus menjadi makin seru. Mengerikan, baru saja dia make a wish agar ommanya panjang umur, mendadak ommanya meninggal di depan matanya.
    Aku berpikiran yang sama dengan Lee Hyo Seok. Mari lihat di part-part selanjutnya.

    1. apakah benar dugaan Imelia? Mari kita liat d part slanjutnya ya😀

      iya, di awal emang rada low tensionnya, kyknya aku harus belajar gmna bkin prgantian part yg bener, hehe🙂

      makasi banyak y Imelia udah ngasih kritik plus komen d sini, silakan tnggu ya😀

  8. eh? Ada yg longgar ya d deskripsinya? ._. Maaf y Zak udah dbkin bngung sesaat..

    Hahaha, ayo ngaku Taemin!😄
    aku padahal bkin smsnya dadakan buat pergantian partnya, hahaha😆 gak nyangka klo bisa bikin iri sebagian orang..

    Siplah Zak, aku juga nunggu, mga2 d nextpart gak mngcewakan bget ya.. Makasi bnyak ya Zak ya..😀

  9. kataku yg bunuh eomma taem itu jinki. dilihat dr umurnya menurutku. disitu umur jinki udh tua kan? 34 tahun, dan taemnya msh kcl. trus yg bunuh jinki itu taem bkn? semacam balas dendam? tp kenapa melibatkan minho? apa sengaja mengandalkan minho, biar minho bisa nyelidikin sekaligus membela taem. ah molla, pokokna makin seru deh thor!

    oh ya td aq nemu typo. di tahun waktu taem ultah ke 11 itu tertulis 2013. kupikir tahun yg skrng umur taem msh 11 thn, tp gk mungkin kan? dah itu aja yg bisa ketemu. lanjut!

    1. nah..nah..nah..silakan dibuktikan pendapatnya di part berikutnya yaa ^o^/
      iyaa, itu typo-nya fatal banget -_-” maaf yaaa..makasi juga buat koreksinyaa…😀

      silakaaan ^o^/ makasi banyak ya Hanaa ^o^/

  10. Sad story, ternyata Minnie punya something yang menyedihkan semacam itu, kasian sama Taemin sayang#hug taemin
    Tapi kenapa saya malah tambah curiga sama Taemin yah^^

  11. Serius aku deg-deg’an baca ff ini.
    Nah loh dr sini kalau aku pikir orng yg menghipnotis soora itu jinki. Terus karna dendam taemin ngirim kelereng yg sebenernya bahan peledak itu kerumah jinki. Dan baaaam ! Jinki nya gosong deh😀

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s