[WFT D] Lotus [3.3]

Tittle                   : Lotus

Author                : Lee Hana

Main cast            : Lee Taemin and Cha Yoonha

Support cast       : Kim Kibum

Genre                 : School Life, Hurt and Romance

Length                : Sequel

Rating                 : PG

*Lotus*

Author POV

Ia berjalan dalam tundukan yang berkelanjutan, dengan lunglai dan tanpa sedikit pun semangat. Hatinya terasa kosong. Hidupnya pun kosong. Terlalu berbeda. Baginya hidupnya sudah sangat berbeda. Ia merasa bersalah dan menderita. Bagaimana ia menahan keinginannya untuk tak tersenyum atau sekadar bertegur sapa dengan namja itu. Bagaimana ia bisa menjauh, sedangkan hati kecilnya berbisik agar ia selalu mendekat. Ia merasa bersalah. Taemin, jeongmal Mianhae. Aku hanya tak ingin kau terkucil sepertiku.

Dalam hentakkan lambatnya ia tak sadar bahwa ada seseorang yang sejak lalu telah menguntitnya. Berjalan dengan jarak di belakangnya. Bahkan ia tak sadar telah melewati dua orang yang melirik ke arahnya di gang sepi dan memandangnya begitu rupa. Ia hanya terus merunduk tanpa perlu memperhatikan apapun. Hanya terdiam dan melihat langkah sepatunya sendiri.

“Aaaaaargh!!”

Yoonha tersentak kaget. Tubuhnya menegak. Tatapannya menerawang ke depan. Itu jeritan siapa?

 

Tak lama kemudian pun ia mendengar lanjutannya, “Tolong! Kumohon, siapa saja tolong aku!”

Tanpa berpikir lagi gadis itu segera berbalik dan berlari ke  arah sumber suara. Tak jauh darinya—ketika ia telah berhenti berlari—di sana ia melihat seorang yeoja berwajah mungil tengah berusaha di seret oleh dua namja yang mungkin dalam ingatannya baru saja ia melewati.

“Yah, apa yang ingin kalian lakukan?”

Suara Yoonha mengalihkan seluruh perhatian itu. Mereka bertiga secara kompak menatap ke arah suara yang baru saja muncul. Dilihat mereka seorang yeoja dengan berbalut seragam panjang dan tertutup kepalanya dengan kerudung. Mimiknya tersirat kekhawtiran.

“Ada satu lagi,” ujar salah satu namja.

 

“Lepaskan dia! Kalian mau uang? Ambil saja uangku. Aku punya beberapa,” ujar Yoonha lantang.

Keduanya terkekeh aneh hingga salah satunya melepaskan genggamannya pada gadis yang tak Yoonha kenal dan menghampirinya, sedangkan ia yang merasa cemas segera membuka tasnya dan memberikan dompetnya sekaligus, dan orang yang baru saja berhenti melangkah tepat di hadapannya menatap si pemilik dompet.

“Ambil ini, lalu lepaskan dia!” pinta Yoonha.

Namja di hadapannya malah tertawa kecil lalu menarik paksa tangan Yoonha yang terulur karena berniat memberikan uangnya.

“Lepas!” titahnya tegas.

Orang itu sepertinya benar-benar tuli, karena itu Yoonha tak lagi banyak bicara dan lebih memilih banyak bergerak karena ia yakin orang di hadapannya tak akan mendengar. Dengan cepat ia mengerem langkah kakinya yang terseret dengan kuda-kudanya yang kuat; tangannya yang memanjang segera membuat gerakan memutar dan memegang lengan namja itu kuat; kakinyanya pun tak lagi mau diam, ia bergerak maju dengan lantang menerjang sepasang kaki di hadapannya hingga orang dihadapannya hilang keseimbangan dan terjatuh. Di saat itu pun Yoonha tak mau buang-buang waktu, segera sedikit menarik tangan yang masih ia genggam dengan kuat dan menguncinya ke belakang; kakinya pun tak tinggal diam—segera menginjak punggung tubuh yang tengah menelungkup serta mengerang kesakitan. Tangan yang bebas orang itu pun memukul-mukul aspal dengan kuat karena tak kuat menahan sakit karena tangannya yang sudah terkunci pun serasa ingin patah.

Tetapi karena itu pula Yooha tak bisa bergerak bebas, hingga ketika tiba-tiba salah seorang lagi siap menerjangnya ia tak bisa bersiap untuk melawan. Orang itu berlari ke aranya dengan wajah berang.

“Awaaas!!” teriak yeoja yang baru saja dilepaskan genggamannya itu.

Kepala Yoonha bergerak, mencoba melirik ke belakangnya dan dalam sekejap matanya membulat.

“Bruk!!” terdengar debuman keras selanjutnya ketika namja itu kini harus jatuh dengan kasar ke samping. Ia memegangi telingannya yang terasa sakit dan berdengung keras. Di sana terlihat cairan merah segera meluncur keluar, sedang mulutnya yang merintih-rintih tak bisa lagi terdengar dengan jelas suaranya oleh sang pemilik karena tendangan di sisi kanan kepala yang tak siap ia terima.

Yoonha melihat ke arah seorang namja yang kini tengah berdiri gagah di hadapannya. Itu …, Kim Kibum.

“Ki—Kibum-ssi?

Kibum tersenyum kaku ke arah Yoonha.

“Oppa!” gadis yang tadi hanya diam dalam ketakutannya kini memekik dan segera memeluk Taemin yang berdiri tak jauh berada di sana. Ia menangis sesegukan di dalam pelukannya yang mengerat.

“Oppa, aku takut,” ujarnya lagi.

“Tae-in, apa yang kau lakukan di sini?”

“A—aku …. Aku ….”

“Taemin, berhentilah berpelukan seperti itu! Kita harus segera membawa orang-orang ini ke kantor polisi. Tak mungkin Yoonha terus menahan orang itu terus,” seru Kibum cepat dengan nada tegas di dalamnya, membuat Taemin segera melirik Yoonha yang masih saja menahan namja itu di atas aspal.

“Mi-anhae.”

 

____

Empat orang berseragam serupa keluar dari sebuah gedung bertulisakan ‘police office’ dengan tulisan yang besar di atas gedung itu. Mereka berempat berjalan dalam diam, dan begitu banyak guratan dalam langkah mereka, tetapi yang pasti salah satunya adalah kelehan yang menggunung.

Tiba-tiba langkah Taemin tersekat. Ia berhenti dalam mimiknya yang terlalu kesal, membuat yang lain memperhatikannya.

“Oppa, kenapa berhenti? Ayo pulang!” ajak Tae-in dengan lembut.

“Kau tak ada yang ingin dibicarakan?” tanya Taemin pada adiknya.

“Bicara apa?”

“Apa saja …, pada Yoonha,” ujarnya tegas, membuat Yoonha sedikit terkejut namanya dibawa-bawa. Sedangkan Tae-in, gadis itu memucat. Benar-benar takut, sebab itulah ia mulai merunduk malu, karena kakaknya sudah tahu kenakalannya, atau bahkan mungkin sudah tak bisa lagi disebut nakal oleh Taemin.

“A—aku?”

“Katakan sesuatu! Apa yang kau lakukan pada loker teman kakakmu?”

“Em …, A—anu. Mi—an …, Mianhae!!” Tae-in segera membungkuk dalam dengan ucapan keras setelah beberapa lama ia bicara tak jelas.

“A—aku …. Aku yang memercikan cat merah di lokermu! Aku yang mengotori kerudungmu dan melemparnya ke pohon! Aku yang memenuhi lokermu dengan sampah! Aku juga yang menulis surat-surat bodoh itu! Kumohon maafkan aku!” akunya dengan berani dan lantang.

“Gwenchanayo,” jawab Yoonha lembut membuat tiga orang yang mendengarnya seketika membatu.

Tae-in terdiam dalam bungkukkan dalamnya. Rasanya …, baginya itu tak mungkin. Bagaimana orang bisa sangat mudah memaafkan?

“Kau pasti sangat menyayangi Taemin, ya?” sambung Yoonha membuat kepala Tae-in terangkat dan melukis rasa bersalah yang dalam pada wajahnya.

“Aku sangat sayang Oppa,” jawabnya serak. Terlihat matanya mulai berkaca-kaca.

“Aku senang mendengarnya. Tapi …, jika kau tak menyukaiku bisakah kau bicara saja? Itu akan lebih mudah dimengerti,” ucap Yoonha yang tersirat nada kecewa di dalamnya.

“Mianhae. Aku benar-benar menyesal melakukannya. Aku hanya takut Oppa akan berubah lebih jauh. Aku takut dia akan dijauhi teman-teman. Aku bangga dengannya yang terkenal dikalangan teman-teman perempuanku. Tapi karena dia berteman denganmu dia jadi aneh dan aku cemburu. Aku kecewa dengannya karena waktunya selalu untukmu.”

Yoonha tersenyum. “Kau harus lebih memperhatikan adikmu, Taemin.”

Taemin tersentak, ia tidak akan menyangka akan ditegur dengan cara seperti ini oleh gadis yang ia sukai. Ia tidak menyangka akan disalahkan juga. Meski begitu ia hanya diam, karena ia tahu, yang Yoonha bicarakan bukanlah kesalahpahaman atau kesalahan.

“Ne,” jawab Taemin.

“Geomaweo, Eonnie. Terimakasih atas maafmu. Terima kasih karena pertolonganmu. Sekarang aku tak keberatan kau dekat-dekat dengan Oppa. Bahkan jika lebih dari teman, itu juga tidak apa-apa,” ucap Tae-in seraya melirik ke arah kakaknya yang memelototinya tiba-tiba.

“Tae-in, terima kasih juga. Aku senang bisa berteman lagi dengan Taemin. Kau itu sangat manis jika bersikap baik,” puji Yoonha pada akhirnya.

Tae-in tersenyum senang sedangkan Yoonha melihat ke layar ponselnya. Lebih tepatnya jam yang tertera pada layar. “Kalian, sekarang hampir pagi. Aku harus pergi karena Appa sudah memintaku pulang. Aku akan telat sahur jika terus berbincang di sini dengan kalian. Kalian juga harus tidur, ‘kan? Sampai jumpa,” pamitnya lalu melangkah, tetapi tiba-tiba ia berhenti lagi dan memutar tubuhnya ke arah Kibum yang sejak tadi diam dan terus mencoba terlihat acuh.

“Aku sampai lupa mengatakan ini. Terima kasih Kim Kibum, kau sudah menjadi pahlawan dari dua gadis malam ini. Dan terima kasih juga karena hatimu terbuka untuk tak lagi mem-bully-ku. Sampai nanti,” ucapnya lalu benar-benar pergi dengan sebuah taksi yang menghampirinya kala tangannya melambai. Wujudnya hilang di sana …, dalam laju roda empat yang berputar cepat.

Kibum membatu di tempatnya. Entah, rasanya wajahnya memanas dan jantungnya berdentum-detum seperti ia baru saja berhenti berlari dari jarak yang cukup jauh. “A—apa? Apa yang kalian lihat!” bentak Kibum ketika ia sadar dua orang adik kakak melihatnya hingga begitu rupa.

“Jelas sekali dia menyukai Yoonha Eonnie,” gumam Tae-in dalam cemberutnya lalu menatap kakaknya lalu berbicara dalam hati, lalu bagaimana dengan Oppa-ku?

“Jangan tatap aku begitu!” bisik Taemin dalam pandangannya yang lurus.

Flashback

“Oppa!” panggil Tae-in riang yang baru saja sampai di ambang pintu kelas Taemin. Tetapi di sana …, kosong.

Tae-in mengedarkan pandangannya ke penjuru kelas itu. Namun yang bisa ia temukan hanya beberapa orang siswi dan siswanya yang tengah berbincang atau mengerjakan kesibukan mereka sendiri-sendiri.

“Noona! Gang-eun Noona!” panggilnya ketika ia menemukan seseorang yang ia kenal. Setidaknya gadis yang ia panggil noona itu pernah mendekatinya karena ingin mendekati Taemin.

Tae-in berjalan ke arah gadis yang ternyata tengah membicarakan Taemin. “Noona, kau lihat Oppa-ku?”

“Taemin? Tentu saja dengan anak aneh itu.”

“Anak aneh? Maksudmu anak yang memakai pakaian tertutup itu?”

“Ne. Siapa lagi? Mereka itu seperti amplop dan perangko. Rumornya mereka bahkan pacaran, kau tak tahu?”

“Pa—pacar? Lalu—lalu di mana mereka sekarang?”

“Molla. Kau kan adiknya. Asal tahu saja, mereka selalu hilang kalau ada waktu luang. Taemin itu sama anehnya dengan Yoonha.”

“Dengar, ya! Jangan katakan Taemin Oppa aneh, dasar noona jelek!!” teriaknya marah.

Flashback End

Yoonha memasuki gerbang sekolahnya. Pagi ini ia berdoa agar hatinya terasa lebih tenang, dan berdoa semoga tak ada hal buruk yang terjadi hari ini. Tetapi Tuhan sepertinya berkehendak lain, bahkan baru satu langkah ia memasuki kelasnya—tepat ketika ia membuka pintu—sesuatu jatuh di atas kepalanya. Meski tak berbau busuk tetapi cairan kental itu telah mengotori seluruh bagian kerudungnya yang panjang.

Di sana, sekejap kepalanya terasa dingin dan lengket. Sekarang, Yoonha yang tengah terkejut dan merasakan jantungnya yang berdegup-degup hanya bisa membatu di tempat. Tubuhnya kaku, tetapi sesaat kemudian gemuruh tawa menggema kencang menyakiti telinga dan hatinya seketika. Semua teman-temannya menertawainya seakan bahagia melihat sebuah lelucon dan menjadikannya tak ubah bagai badut sirkus. Itu sangat menyakitkan.

Yoonha merunduk pelan. Air matanya begitu saja menetes deras. Tak mungkin ia tahan sedangkan hatinya terasa tertusuk. Jatuh dan jatuh begitu saja. Percikan kecil membasahi lantai kelas dan semakin banyak. Pada akhirnya tawa itu pun tak kunjung hilang meski ia sudah berdiri di sana beberapa lama, dan ia harus pergi sekarang juga sebelum ia terus di jadikan lelucon lebih lama, meskipun ia akan mendapatkan banyak tatapan dari orang-orang yang dilewatinya. Ini menyakitkan. Sedangkan Yoonha sendiri tak menyadari seseorang tengah tertawa terbahak dalam hatinya meski tak ada senyum tergurat dari wajah mungilnya ketika melihat betapa menyedihkan dirinya sekarang, ketika mereka berpapasan.

“Rasakan! Salah sendiri kau tak mau dengar. Tapi ini bukan akhirnya, Noona Aneh.”

Flashback End

 

Aku berdiri seraya bersandar pada tiang besar gerbang yang terbuka lebar. Di sana, aku segera menegak ketika senyum ceria Yoonha datang kembali dalam hidupku. Doaku tak sia-sia. Tuhan mendegarnya. Sekarang aku yakin, Tuhan memang benar ada. Meski butuh perjuangan dan jerit-tangis, bukankah pada akhirnya aku bisa bersamanya lagi? Dia memunculkan senyumku lagi.

“Yoonha-ya!” panggilku seraya melambai tinggi ke arahnya dengan riang.

Aku lihat dia berlari kecil ke arahku, dan berdiri di hadapanku tak lama kemudian. “Apa yang kau lakukan di sini, Tae?”

“Menunggumu tentu saja. Dan …, ingin memberikanmu ucapan selamat datang.”

Yoonha tertawa kecil. Di benar-benar manis ketika tertawa.

“Geomaweo.”

“Selamat datang …, di dunia yang baru. Selamat datang sebagai teratai yang sudah mekar.”

Aku lihat alis Yoonha bertaut, sedangkan aku tetap tersenyum tanpa berkata.

“Apa yang kau bicarakan?”

“Nanti kau juga tahu sendiri. Ayo kita ke kelas!” Ajakku semangat.

“Ne.”

Kami berdua berjalan seperti biasa. Perpakaian seperti biasa. Tak ada yang aneh atau berbeda kecuali keanehan itu sendiri yang aku pikir sudah tak bisa lagi disebut keanehan, karena mereka sudah terbiasa dengan perbedaan ini. Tetapi mata-mata itu melirik dan bibir-bibir itu berbisik. Semua itu membuat Yoonha mulai ketakutan sekaligus keheranan.

“Tae, kenapa mereka melihat kita terus?”

“Karena mereka sudah sadar kau adalah sebuah teratai. Aku pikir mereka sudah mengerti.”

“Mengerti tentang apa?”

“Tentang dirimu.”

“Mwo?”

“Yoonha-ssi! Yoonha-ssi!” tiba-tiba segerombolan siswi datang dan berdiri mengitarinya, membuatku terdorong dan harus sedikit menjauh dari Yoonha. Yah! Gadis-gadis ini …, menyebalkan.

“Yoonha, kami baca berita, katanya kau menolong adiknya Taemin dari percobaan pemerkosaan, ya?” tanya Eunseok.

“Ne. Katanya kau mengalahkan salah satu dari mereka,” imbuh Jieun menggebu-gebu.

“Aku tak menyangka kau sangat hebat!” decak Yoonhwa tak kalah ribut. Tetapi semua itu membiaskan senyum indah dan malu-malu di wajah Yoonha, begitu juga wajahku. Kini dia sudah bisa diterima oleh teman-temannya.

“Tidak sehebat itu. Di sana ada Taemin dan Kibum juga yang membantuku.”

“Tetap saja itu hebat.”

“Bisakah kau mengajari kami sedikit gerakan beladiri? Setelah mendengar berita itu aku jadi takut pulang sendirian.”

“Ne, aku juga. Aku pikir pemerintah benar-benar berlebihan mengharuskan kita belajar hingga malam. Itu ‘kan berbahaya. Atau jika tidak, setidaknya mereka harus menyewa polisi untuk mengawal kita pulang, benar tidak teman-teman?”

Dan sekarang …, lihatlah! Yoonha terkikik mendengar betawa cerewetnya teman-temannya.

“Yoonha!” panggil Kibum yang tiba-tiba saja datang dan seketika membuat perbincangan mereka berhenti. Baiklah, yang ini aku tak suka, karena itulah aku kembali ke sisi Yoonha dan menampakkan diriku di hadapan si menyebalkan itu.

“Bisakah kita bicara sebentar?” pintanya.

“Baiklah. Yoonha, kami pergi dulu, ya? Nanti kita lanjutkan perbincangan kita di kelas, oke?”

“Ne.”

Akhirnya tiga orang pergi dan menyisakan tiga orang di sini. Aku lihat Kibum melirik ke arahku. Tetapi aku tak lagi melihat mimik angkuhnya yang membuahku jengah, meski begitu, bukan berarti tampangnya yang ini juga terlihat baik, meskipun tak buruk. Dia melirik ke arahku seperti pikir-pikir dan ragu. Sepertinya ia ragu untuk membicarakan ini di hadapanku.

“Bicara saja. Aku tak apa-apa,” jawabku ketus.

“Baiklah. Aku— Aku ingin minta maaf padamu, Yoonha. Aku minta maaf karena sudah menyusahkanmu dan membuatmu menderita di sini. Apa kau mau memaafkan aku?”

Aku sedikit terkejut. Ini kejadian langka. Baru pertama kali seumur hidupku aku mendengar seorang Kim Kibum meminta maaf, belum lagi dengan bungkukan serta tampang bersalahnya. Ia benar-benar serius?

“Aku maafkan.”

Aku sudah tahu Yoonha akan bilang begitu.

“Bolehkah aku menjadi teman kalian?”

“Kau bicara apa? Bukankah sejak dulu kau memang teman kami? Hanya jika dulu kau teman yang buruk, namun sekarang kau teman yang baik. Kau sudah menolongku, tentu saja kita bisa jadi teman baik.”

“Huft! Ne, kalau bukan karenamu, mungkin dia juga akan dalam bahaya malam itu. Gomaweo,” imbuhku, tetapi sejujurnya aku cemburu. Kenapa tidak aku saja yang jadi pahlawannya?

“Jeongmal? Aku pikir kau memang sudah berubah, Taemin. Kau tidak seperti dulu lagi. Mungkin kau tak menyadarinya karena kau terlalu cuek, tetapi kau memang benar-benar berubah. Yoonha merubahmu dengan baik. Dan aku juga …, ingin berubah menjadi lebih baik dan terlihat lebih baik.”

Aku melotot ke arah Kibum. Apa maksudnya itu? Dia mau mengajakku berperang? Sedangkan dia mulai terkikik melihat ekspresiku. “Aku terlalu jengah dengan kehidupanku dan orang-orang yang mendekatiku. Mereka hanya menyukai statusku. Mereka hanya menyukai uangku. Aku tahu mereka tak suka padaku. Karena itu …, aku ingin berteman dengan kalian. Aku pikir, kalian orang yang tulus.”

Aku tertegun mendengar ucapannya. Dan aku pikir, dia akan segera menjadi bagian dari kami, dan menjadi sahabat yang akan muncul di kehidupan kami. Memberi warna yang baru. Kami akan saling bercerita tentang dunia. Dan mungkin aku harus menjadikannya rival di saat yang bersamaan.

____

“Tae, kau mau bawa aku ke mana?”

Aku yang berjalan lebih dulu tetap memandang ke depan dan terus melangkahkan sepatu putihku di atas jalan setapak ini. “Melihat sesuatu.”

“Apa?”

“Bunga.”

“Bunga? Sejak tadi kita melihat bunga,” ujarnya. Ya, tempat ini memang dipenuhi dengan bunga. Berbagai macam bunga dan berbagai warna bunga, karena ini adalah taman bunga.

“Tapi aku ingin melihat bunga yang itu. Bunga yang sama istimewanya denganmu. Bunga yang sangat indah.”

Aku melirik ke belakangku. Di sana, aku lihat Yoonha menunduk dan tertawa kecil. Aku pikir dia senang aku puji.

Sepertinya ia mengerti, karena itu ia tak bertanya lagi. Terus memandang punggungku dan mengikuti setiap langkah yang aku buat dalam sunyinya. Tak terlalu tampak senyum yang tergurat di bibirnya, tetapi aku bia melihatnya tanpa harus menatap wajahnya. Kini wajah Yoonha bukan lagi wajah dengan senyum sendu, namun wajah yang penuh dengan tawa dan kebahagiaan.

“Lihat!” ujarku ketika berhenti dan menunjukkan sebuah kolam padanya. Kolam yang tenang dengan airnya yang keruh.

Asli Yoonha bertaut, lalu ia menatapku dengan pandangan bingung. “Kolam?”

“Aniyo. Teliti dan lihat lebih cermat!”

Dia tak menjawab dan kembali mengalihkan pandangannya pada sang kolam yang berukuran sedang itu. “Teratai,” jawabnya lemah dan dilanjutkan dengan untaian senyum manisnya.

Aku terduduk di tepi kolam. Duduk di atas rumput-rumput hijau yang masih sedikit basah oleh embunnya. Aku memeluk lututku danmenyandarkan dagu padanya. Wajahnya terlihat begitu tenang melihat kolam tanpa riak air itu, hanya sedikit riak yang timbul sesekali ketika seekor ikan mengambil napasnya pada permukaan.

Yoonha duduk di sebelahku. Dia menatap apa yang aku tatap. Duduk dengan cara yang feminim. Tangan yang ia letakkan di atas pahanya dengan kaki yang ia tekuk ke samping. Dan kami terdiam beberapa waktu untuk menikmati suara alam yang rasanya bernyanyi bahagia. Gerak daun, embus angin yang tenang, kicau burung, dan riak air.

“Tae, bolehkah aku bertanya sesuatu?”

“Katakan saja.”

“Kenapa kau sangat suka teratai?”

“Karena aku sangat menyukaimu, karena bagiku kau itu teratai. Mirip dengannya,” ujarku seraya menunjuk kea rah satu-satunya bunga yang telah mekar sempurna di tengah kolam. Warna putih yang cerah dan indah.

“Ketika bunga-bunga lain hidup di atas tanah, kau hidup di atas air. Mungkin lebih tepat jika aku menyebutnya hidup di dalam kubangan lumpur. Lumpur itu tak enak dilihat, lumpur itu keruh dan kotor. Tetapi semakin keruh lumpur itu, maka akan semakin cantik dirimu.”

“Seperti kaca yang harus dibakar dalam tungku sebelum menjadi sebuah gelas kaca yang cantik,” ucapnya.

“Kau benar.”

Ya, hidup ini tak semudah yang dibayangkan orang. Hidup adalah bagian dari cobaan, karena saat hiduplah cobaan itu datang. Orang-orang yang tertawa mungkin berpikir dia tak dicoba, padahal mereka tak ubahnya dengan orang miskin atau orang-orang susah. Semua punya proses untuk mejadi  lebih baik. Seperti diriku. Aku tak bisa mengerti diriku di kala dulu, namun sekarang, aku pikir aku sudah sedikit mengenal diriku, dan mengenal apa itu dunia. Dan yang paling ingin aku kenal adalah …, Yoonha. Teratai putih yang sudah mekar sempurna. Mungkin sekarang, aku akan lebih banyak berdoa. Berdoa kepada-Nya agar suatu hari aku bisa bersanding dengan teratai ini. Ya, aku harap dan aku percaya Tuhan benar-benar mendengarku.

The End

Please yang nggak suka jangan tinggalin ff-ku gitu aja sebelum koment, oke! Kritik dan saran sangat membantu. Yang nggak suka itu kan yang tahu kekurangannya. Tapi masalah feel, yes I know. Jadi jangan sebut-sebut. Aku buruk di romance. Sekali lagi, buruk di romance. Aku nggak punya keyakinan ff ni akan banyak yang suka apa lagi di sebut bagus atau sempurna. Cuma mau sedikit berbagi pengetahuan gimana kehidupan muslim di luar dunia kita melalui ff aja, kok. Waktu yang minimalis dan keterpurukan feel membuatku nggak bisa kasih yang terbaik. Mianhaeyo!

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

28 thoughts on “[WFT D] Lotus [3.3]

  1. aaaaaaaaaa…. “Tapi masalah feel, yes I know. Jadi jangan sebut-sebut. Aku buruk di romance. Sekali lagi, buruk di romance. ” this is true… ujungnya kurang greget gimana gitu, hihihihi, kirain perlomabaannya antara key dan taem, ehh tnyata menolong orang lain dan yoonha nya jadi hero.. hehehehehe.. ayo diasah lagi romance nya, atau coba genre lain yang menurut kamu cocok.. hehehehe… hwaiting!!!

    1. kayaknya lebih congdong ke mistery deh. mungkin juga action? aku paling suka genre itu.
      klo latihan pasti bisa. mungkin aku nggak bikin romance lagi kali ya #kapok.
      wah, makasih masih koment walau kurang greget #smile

  2. aaaah…jadi cewek pengganggu itu..adiknya Taemin?
    Aww, pengen punya kakak laki2 juga😦
    unyu juga sih kalo aku bayangin. berasa cerita romance sekolah di dorama jepang, feel romance-nya ringan gitu, tapi sweet-nya cukup kerasa.😉

    Kibum jadi lunak gitu..LOL Tapi suka deh endingnya.😀
    Permohonan si Taemin aku aminin deh..wkwkwkk..

    keep writing y kak Hana! ^o^/

    1. ya. pasti banyak yang mikir itu fansnya taemin. apakah Ia juga? #hehehe
      really? #sok ingris. jadi seenggaknya ada yang bisa nyangkut gitu feel-nya #elus dada
      makasih dah mampir lagi nih. walau terlalu banyak kekurangannya.
      thx lagi!!!

    1. wah makasih deh ya pujiannya. mungkin lain kali Hana akan berusaha lebih keras. jujur Hana ajah kurang srek sama endingnya, tapi ada yang suka, alhamdullilah ya #ala syahrini
      thx!!!

  3. Huaahhh.. ternyata langsung di post besoknya… aku suka endingnya walaupun agak kecewa gara2 yoonha ga pacaran ma taem.. tp aku suka ma kata2nya.. kata2nya itu ngepas bgt di hati #tssaahh… kaya aku.. klo aku niatnya bikin comedy jadinya romance ancur gmna gitu.. -_- #curhat #biarkan.. Pokonya falling in love ma ff ini deh.. keep writing.. kamu g jelek di romance ko, bagus bgt penuturan katanya.. mungkin endingnya aja yg hrs diasah lagi.. kebayakan ya komennya?? huheeee.. mian deh *ditendang* *menghilang brg minho* keep writinggggggg…

    1. yes, the ending. aku bener-bener nyadar itu #hehehe
      bener nggak jelek di romance? yakin?
      kata-kata yang mana? jadi penasaran nih.
      kamu nggak panjang kok. biasa ajah. bahkan banyak yang lbih panjang meski nggak dibagian ini sih.
      Hwating!!

  4. Kirain secret admirer-nya Taemin yang gangguin Yoonha, ternyata adiknya sendiri, toh.
    Horeee…Kibum insaf *eh* maksudnya bertekad untuk berubah ke arah yang lebih baik. Kalau romance berbunga-bunga sih, mungkin bukan ff ini, kali ya? Tapi sejauh ini aku suka dengan pengakuan Taemin dari awal sampai cerita ini selesai, terkesan tulus banget.
    Ciee…Taemin saingan sama Kibum ya? Hihi, nggak boleh lho, Taem, saingan sama Eomma sendiri😀

    1. salah tebak, ya? #hihihi
      tulus? iya, bias aku kan memang baik hati tidak sombong dan rajin menabung, hehehe
      kenapa nggak boleh? anda iri kah? saya juga. #pengakuan terdalam.
      thx dah mampir lagi.

  5. Hanaaaa, ini ff pertama loh yg aku baca di draft. Aku langsung kepincut cerita awalnya. Tapi sayang, part 2 ama 3nya sedikit berantakan, mulai typo, tanda baca, diksi, ama scene2nya. Aku ga inget apanya aja yang aneh, udah lama sih bacanya.

    Udah gitu… sejujurnya aku ngerasa aneh ama endingnya. Entah di Korea sana gimana, tp klo di Indo, orang2 berjilbab agak lebar mah biasanya ga akan mau dua-duaan ama cowo, sekalipun dalam rangka menuntut dan berbagi ilmu. Paling engga bakal minta ditemenin ama orang ketiga gitu. Engga gitu penting sih opiniku ini, bisa diabaikan aja, hhehe

    Berkarya terus ya!

    1. bukan membela diri nih ya. udah jadi aja udah syukur banget eon. wah, perjuangan buat ini, rasanya pengen ngebunuh orang, eon. #setres berat sampe pengen nangis loh.
      aku terlalu fokus sama feel dan ceritanya, tapi akhirnya gini-gini juga. lupa pula sama tanggal pengirimannya. tahu-tahu. lah kok tanggal segitu. ya, udah langsung bablas. jadi rada ancur begini deh. nggak sempet edit-edit banyak #hela nafas panjang

      sebenernya Yoonha nggak sampe segitunya kok. dia masih pakai kerudungnya biasa aja. nggak sampe panjang hingga menutup lengan, atau sampe di pergelangan tangan. kayak anak indo sekolah aja gtu.

      aku juga kepikiran masalah itu, tapi begini, berhubung mereka temenan cuma berdua, emang siapa lagi yang mau diajak di sekolah eon? mereka kan emang udah berdua-duaan terus pas mereka udah kenalan kan? #pada lari semua. lagi pula, yang nggak di perbolahkan itu kayaknya pas diruangan tertutup deh.
      buktinya seorang wanita boleh ngobrol berdua sama laki-laki yang bukan muhrimnya, asal nggak di dalam rumah. mereka kan ngobrol di ruang terbuka. di taman. sekian penjelasannya. #wawlahualam.

  6. telat baca nih Hana..

    Menurut saya keseluruhan ide cerita ini bagus, apalagi di part awal.
    Saya sebagai pembaca agak penasaran, bakal dibawa kemana akhir cerita ini oleh authornya.
    Bukannya pesimis ya Hana, tapi kita semua tau masalah keyakinan emang sensitif, takut nyinggung yang lain..

    Sejujurnya, saya jg gk ngarep bgt cerita yg terlalu berat, dengan akhir yang begini, yg akhirnya semua castnya bersahabat dan saling bertoleransi dengan keyakinan masing2 udah bisa bikin saya bersyukurlah..🙂

    Ok Hana, semoga kamu bisa membuat karya2 yang ide ceritanya tidak biasa lagi ya, dan saya suka sama ff ini…🙂

    1. Ah, nggak papa lah eon. yang penting kan tetep komentar.
      tidak biasa=luar biasa #banzaiiii!! #sintingnya balik lagi.
      wah makasih eon. lain kali mampir lagi ya di ff aku. srek ngak srek tetep koment, ya? #rada maksa.

  7. iya emang bener sih endingnya kurang dapet feel-nya ._.v
    tapi secara keseluruhan ff ini menarik! aku suka sama ide ceritanyaa~~
    ditunggu karyamu yg selanjutnya ya Lee Hana eonnie🙂

    1. iya, makasih.
      eee, kamu panggil aku eonnie? aduh jadi makin sering disebut eonnie. #berasa tua.
      aku kan masih tujuh belas #ngawur
      makasih dah mampir Minnie

  8. Eonni siapa bilang feelnya gak dapet? Dapet banget kali…
    Seneng akhir kibum mau ikutan berubah. Tapi rada bingung eon, yg ada flashback itu. Kenapa flashback end nya dua kali terus kenapa yoonha dipanggil noona sama tae-in padahal sblmnya manggil eonni. Aku bingung dipart itu , hasilnya jadi bolak-balik baca tapi tetep gak ngerti.

    Overall semuanya bagu eon. Aku mau dong baca karya eonni yg lainnya. Keep writting Lee Hanna !!!!!

    1. ehehehe #gauk-garuk kepala sambil meringis.
      typo, sayang. maaf. aku baru nyadar loh #dasar.
      harusnya eonie, tulisnya noona.
      dan …, setelah aku cek lagi, beneran flashback end-nya ada dua. jeongmal mianhae!! #bowing.
      aku payah nih. bener-bener minta maaf atas semua typo-nya ya?
      makasih dah mampir minholand …, lagi.

  9. Nahh aku mau nanya itu jg td..tp trnyata udh d.tanyain sama minholand-ssi..

    Aahh~ dugaan prtama yg bener.. trnyata emg ade nya taemin yg cemburu krn kakaknya lbh deket dg org lain..
    Emm romance nya emg g kerasa sihh lebih berasa friendship nya..tp ini bagus bgt trlepas dr typo nya, aku suka temanya aku suka jln ceritanya…Dan aku puas sama ending nya🙂
    Good job author!! ^^)b

  10. Wah gak nyangka ternyata yg jd sasaeng fans taemin adek nya dia sendiri. Aku suka ceritanya friendship gitu lah. Berasa school 2013.

  11. sumpah ya ini bener-bener keren bgt!!!!
    cocok bgt dijadiin film , idenya bnr”luar biasa .aku sampe nangis bacanya , huhu😥
    SERIBU JEMPOL BUAT FF INI KAK!!
    pilihan diksinya ringan dan manis bgt , i’m so love it
    btw kenalin kak,aku sisca,shawol jakarta.sbnrnya aku pengen bgt jd author kyk kaka disini,tapi nyeseknya banyak kendala , keyboard laptopku rusak
    tp skrng udh bener,hehehe #gak nanya -_-
    tp aku skrng lebih fokus ke buat novel,hihihi
    pgn bgt curhat dan minta saran idecerita dari kakak .
    minta id line dong,apa kek terserah,huhu sebenernya malu bgt komen kekk gini
    ohiya,lowongan buat jd authorv disini masih ada gk kaak?aku mau gabung insyaAllah

    pliss reply T_T

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s