[WFT B] Imprint [2.2]

IMPRINT [2/2]

 poster

Author: Nara

Main Cast: Lee Taemin, Han Ga In

Support Cast: Other SHINee’s member, Shin Min Ah

Length: Sequel

Genre: Romance

Rating: PG-15

Summary : “Aku benar-benar tidak menyangka ternyata kau ini psycho, Lee Taemin!”

A.N: Yang bagian ini kepanjangan, mianhaeyong~

 

Ga In berdiri dengan kalut sambil bertumpu pada meja kerja di kamarnya. Sebisa mungkin ia berdiri jauh-jauh dari pintu kamar, takut keluarganya menguping pembicaraannya dengan Lee Taemin.

Ya, ia terpaksa membawa Taemin ke kamar untuk meluruskan masalah ini BERDUA.

Awalnya Ga In pikir bocah itu bercanda, tapi Taemin bersikeras bahwa semua yang dia lakukan ini serius. Bocah itu bahkan mengenakan setelan jas terbaik, seolah meyakinkan orang tua Ga In bahwa dia serius dengan keputusannya. Keadaan ini benar-benar memaksa Ga In untuk menyelesaikannya dengan Taemin sebelum kekacauan ini makin kacau.

“Kacau…” gumamnya, sambil terus menggigit jarinya.

Ga In bingung harus mulai dari mana lagi untuk bicara pada Taemin. Bocah itu benar-benar keras kepala, seperti seseorang yang sedang mengalami gangguan. Dia terus menatap Ga In dengan tatapan aneh itu, seolah dunianya hanya milik Ga In.

“Kau ini kebiasaan, selalu menggigit jarimu kalau sedang bingung,” ujar Taemin santai namun menatap kagum pada susunan perabotan kamar Ga In.

“Taemin-ssi, tolong jelaskan apa kita saling mengenal? Aku benar-benar tidak ingat pernah dekat denganmu, bahkan orang tuaku pun hanya tahu bahwa kau anggota boyband terkenal!”

“Sudah kubilang aku sangat mengenalmu,” Taemin tersenyum dengan tenang, membuat Ga In semakin gemas ingin menghubungi siapapun psikiater di daerah ini. Bisa jadi Taemin sedang salah minum obat atau apa.

“Jjamkan…boleh aku menghubungi manajermu?” tanya Ga In.

“Oh, silahkan! Apa kau mau bertemu langsung? Dia ada di luar rumah ini, menunggu di dalam mobilnya.”

Ga In terperangah. Jadi benar bocah ini sudah mempersiapkan semua dengan matang?

Okay,” Ga In menarik nafas dalam-dalam. “Sekarang tolong ceritakan pertama kali kita bertemu, pertama kali kita berhubungan, dan dari mana kau tahu semua hal tentangku.”

Taemin tersenyum simpul. Matanya tak fokus seolah sedang merekam kembali ingatan di dalam otaknya.

“18 Juli 2005, ulang tahunku tepat delapan tahun yang lalu. Itu pertama kalinya kita bertemu.”

Ga In mengernyit, “Ne? Ku—kurasa kau benar-benar salah orang Taemin-ssi. Aku tidak pernah datang ke pesta seseorang bernama Lee Taemin beberapa tahun yang lalu dan—“

“Siapa bilang itu acara ulang tahun? Aku hanya sedang diajak jalan oleh keluarga Imo (Tante). Saat itu kita sedang sama-sama makan di restoran cepat saji.”

Taemin tersenyum, tangannya merogoh saku dan mengeluarkan ponselnya.

“Aku sudah dipanggil,” ia tersenyum sambil mengembalikan ponselnya ke tempatnya. “Waktuku sudah habis. Kurasa sampai di sini dulu pembicaraan kita.”

***

Ga In meronta-ronta, mencoba melepaskan tali yang mengikat tangannya ataupun semacam kain yang menutup kepalanya. Ia bingung, saat jalan dengan Min Ah, tiba-tiba dua mobil berhenti di samping mereka, dan banyak lelaki berperawakan besar menarik mereka untuk masuk ke dalam mobil masing-masing.

Dan kini, Ga In merasa dirinya dibawa ke dalam sebuah gedung, berdiri di atas lantai yang pastinya puluhan meter jauhnya di atas permukaan jalan.

“Sudah kubilang jangan kasar begitu! Perlakukan mereka baik-baik!” suara dingin seorang lelaki terdengar menyambut mereka.

Ga In merasa kenal suara itu.

“Chaseonghamnida, mereka sangat melawan. Kami hanya berusaha memastikan mereka tidak kabur,” sahut salah seorang dari gerombolan itu.

“Kalau terjadi apa-apa dengan calon istriku, awas kalian!”

DEG.

 “CALON ISTRI?! Siapa calon istri Anda?! Saya rasa Anda salah orang—benar kan, Ga In-ah?” racau Min Ah.

Matta!

Ga In sama sekali belum menceritakan tentang Taemin pada Min Ah. Ia belum siap dan tidak mau. Sejak hari itu Ga In terus meyakinkan dirinya bahwa yang ia alami hari itu hanya mimpi.

“Jadi kau belum cerita?” Taemin bertanya—yang pastinya ditujukan pada Ga In. “Ah, mianhaeyo. Hei kalian, buka semua pengikatnya itu!”

Ga In dan Min Ah mulai lega ketika mata mereka bisa kembali melihat cahaya. Tapi kelegaan itu berlangsung sebentar karena keberadaan Taemin membuat mata Ga In membesar dan nafas Min Ah tertahan.

Min Ah terkesiap, “Taemin?! SHINee Lee Taemin? Kenapa ada—“

“Aku benar-benar tidak menyangka ternyata kau ini psycho, Lee Taemin!” potong Ga In. “Aku kasihan pada fansmu di luar sana—tertipu dengan wajah polosmu itu! Setidaknya jangan bawa-bawa temanku!”

“Ga In-ah…” Min Ah menoleh tak percaya pada Ga In. “Kau mengenal Taemin?”

Tak ada satupun yang menjawab pertanyaan Min Ah. Taemin dan Ga In hanya saling fokus pada kehadirannya berdua.

Taemin menghela nafas berat, “Kau yang polos sekali. Dunia entertainment tidak sesimpel yang kalian kira. Masing-masing kami memiliki bodyguard dan spy—organisasi yang rumit, sekali kau tenggelam ke dalamnya. Dan aku terpaksa menculikmu, Ga In-ssi… lagipula aku membawa temanmu supaya kau merasa lebih nyaman.”

“NYAMAN?” sinis Ga In.

Taemin melirik para pria di belakang Ga In dan Min Ah, memberi suatu isyarat pada mereka. Para bodyguard itu lalu pergi, meninggalkan mereka bertiga di atas atap salah satu gedung entah di mana.

Taemin mendekati Min Ah, dan tersenyum, lalu membungkuk.

“Annyonghaseyo, maaf kita bertemu dengan cara seperti ini. Lee Taemin imnida,” Taemin menyodorkan tangannya pada Min Ah. “Maaf jika anak-anak itu tadi memperlakukan kalian dengan kasar.”

Min Ah menyambut jabatan Taemin, “A—aniyeyo. Aku hanya terkejut diculik begitu.”

“Ne, chaseonghamnida,” Taemin menoleh pada Ga In. “Aku terpaksa, karena kau tidak pernah mengangkat teleponku. Setiap aku datang ke rumahmu pun, kau tidak mau menemuiku. Kau benar-benar tidak mau diajak bekerja sama, jadi aku terpaksa memakai cara paksaan begini—“

“Sudah kubilang aku tidak mau!” bentak Ga In.

“Kkaman…” Min Ah terkejut. “Jadi, wanita yang akan Taemin-ssi nikahi itu…”

Taemin menunduk, “Ne, —“

“ITU KEPUTUSANNYA SENDIRI!” Ga In menunjuk Taemin dengan berang.

“Daebak,” Min Ah menghembuskan nafas. “Daeeeebak…”

“Min Ah-ya, kau salah paham. Aku tidak pernah menyembunyikan apapun darimu, aku tidak pernah berpacaran dengan Taemin, aku—“

“Jadi kau benar-benar mau memberiku sepuluh juta won?!” mata Min Ah membulat penuh harapan.

Ga In tercengang, “O—oh?”

“Sepuluh juta won?” Taemin mengernyit. “Maksudnya?”

Ga In teringat dengan ucapannya beberapa hari yang lalu, dan memukul keningnya sendiri, “Aish… waktu itu aku tidak tahu kalau aku yang dilamar Taemin!”

“Ah, dia bilang, dia akan memberimu sepuluh juta won kalau menikah denganku?” Taemin tersenyum geli.

“Ne! Dia mengatakannya setelah kutebak ‘wanita’ itu adalah Ga In-nie, yah sewaktu Taemin-ssi menyebut nama Ga In lewat twitter,” jelas Min Ah.

“Aku bisa meminjamkan, Ga In-ssi, atau bahkan memberikan uang itu padamu untuk diberikan pada Min—“

“SIKKEURO! TIDAK AKAN PERNAH KARENA AKU TIDAK MAU MENIKAH DENGANMU!”

“YA! Bicara yang halus pada calon suamimu! Aku akan mencoba untuk maklum, kalau kau terpaksa menyembunyikan hubungan kalian…” celoteh Min Ah.

“Aniya… Kami bahkan pertama kali bertemu di malam jumpa pers itu!” jawab Ga In.

“Di rumah orangtuamu,” tambah Taemin.

“Ah… jadi kalian memang dijodohkan?” jawab Min Ah.

Ga In mencoba menjelaskan, “Ani—“

“Delapan tahun yang lalu, 18 Juli 2005,” Taemin mengambil tempat Ga In. “Ketika aku sedang makan bersama Imo dan sepupuku di sebuah restoran cepat saji, aku melihat dua orang gadis. Tapi mataku hanya tertuju pada satu orang. Gadis itu… entah kenapa menarik mataku. Mataku tidak bisa lepas darinya.

Lalu setahun kemudian, 18 Juli 2006, aku mentraktir teman-teman sekolahku di bakery. Dan aku melihat dua gadis, tidak mengerti kenapa aku begitu penasaran dengan salah satunya. Lalu aku mengajak teman-temanku duduk lebih dekat dengan gadis itu. Lama memperhatikan, aku baru sadar ternyata gadis itu gadis yang sama, yang kulihat setahun sebelumnya. Lalu kubilang pada teman-temanku, “Geu yeojareul naekkoya (gadis itu milikku)”. Tentu saja teman-temanku terkejut dan heran kenapa aku mengatakan hal itu. Rasa penasaran mereka sama besarnya dengan keingintahuan tentang gadis itu. Makanya selama di bakery itu mereka terus menatap gadis itu.”

Taemin tertawa geli, “Pasti tidak nyaman ya, selama satu jam dipandangi anak-anak sekolahan seperti mereka?”

Ga In terperangah, “Maksudmu, gadis itu aku?”

Pandangan Taemin menerawang dan tersenyum, lalu mengangguk, ”Mungkin kau tidak mengingatnya, tapi ingatan itu masih jelas untukku. Memang terdengar tidak masuk akal. Aku sendiri tidak mengerti, tapi sebanyak dua kali melihatmu hatiku terasa… Molla… Seolah aku yakin kau orangnya. Ah, kau tahu imprint? Istilah dalam novel Twilight yang terkenal itu… Ketika seorang werewolf tertarik pada lawan jenis untuk selamanya, meskipun mereka baru bertemu pertama kali. Aku rasa aku memang werewolf.”

Taemin tertawa geli, kemudian berjalan mendekati sebuah papan besar yang disorot penerangan yang sangat besar, namun ditutup kain hitam. Ia menyibakkan kain itu, memperlihatkan bentuk hati yang sangat besar.

“Bwajjyo (lihat kan)? Nae maeum (hatiku)…” ujarnya sambil berbalik menatap Ga In.

“Ga In-ah…” Min Ah menarik-narik lengan baju Ga In. “K—kau… semuanya kau… Gambar itu… Foto-fotomu…”

Ga In memfokuskan matanya pada bentuk hati itu, dan terkesiap menyadari bahwa hati itu terdiri dari susunan-susunan foto Ga In, puluhan, bahkan mungkin lebih dari seratus.

“Bertahun-tahun aku menyangkal, dan tetap saja kau ‘menguasaiku’. Untung saja selama delapan tahun ini kau masih mengunjungi bakery yang sama. Dan akhirnya aku mendapatkanmu, membuntutimu, mencari tahu segala hal tentangmu. Bwajjyo? Foto-foto ini bahkan menunjukkan aku telah menjadi stalker yang handal, secara tidak langsung aku pun mengerti bagaimana rasanya menjadi pemuja dari jauh seperti para fans-ku,” Taemin menatap bangga pada kumpulan karyanya, membuat Ga In bergidik menyadari ia memiliki stalker selama bertahun-tahun. “Aku memang sempat terkejut mendapati ternyata kau bahkan tidak sebaya denganku. Aku juga patah hati melihat kau dekat dengan laki-laki, sampai pada saat kau putus hubungan dengan Kim Junho 2 tahun lalu, aku rasa aku tidak bisa kehilanganmu lagi. Dan kuputuskan untuk menikahimu. Mianhada.”

“Michyeosso (gila)…” Ga In terperangah mendengar penjelasan Taemin.

“Ne, michyeosso, neottaemune michyeosseo (aku gila karenamu). Jangan katakan aku tidak pernah berusaha melupakanmu. Selama ini aku juga bingung. Aku sudah berusaha Ga In-ssi, sampai pada titik menemui psikiater. Tapi cinta memang tidak bisa dibandingkan dengan akal sehat, kan?

Sekarang, aku memohon jawabanmu.”

Taemin melangkah menuju pinggiran atap itu, menampakkan kaki kanannya pada batas dinding dengan udara, “Ya atau tidak?”

“Taemin-ssi! Ga In-ah, terima saja… dia sepertinya sangat tergila-gila padamu,” Min Ah panik sambil mencengkeram lengan Ga In.

“Gila.. orang ini gila,” Ga In menangis bingung, tidak tahu harus berbuat apa.

“Satu…” hitung Taemin.

“Ga In-ah!” pekik Min Ah.

“Dua…” Taemin mulai mengangkat kaki kirinya.

“Andwae! Arasseo aku mau menikah denganmu!” pekik Ga In sambil menutup matanya.

***

Ga In menatap bayangannya di kaca, menghela napas dengan berat. Ia tak percaya ia sedang memakai baju pengantin ini, meski hanya baru fitting. Persiapan pernikahan mereka dikejar dalam waktu dua bulan—Taemin akan sangat sibuk di akhir tahun ini dan dia tidak ingin buang-buang waktu melepas Ga In.

Didengarnya samar-samar senandung Taemin di luar fitting room itu. Ga In masih terus menimbang-nimbang tentang keputusannya. Sambil menutup mata, ia mengingat perkataan orang tuanya.

“Jujur saja, Eomma  kaget anak  muda sepertinya berani mengambil keputusan ini untukmu. Tapi Eomma yakin dia anak yang baik. Eomma bisa melihat ketulusannya di matanya saat berjanji akan menjagamu baik-baik. Dia anak yang jujur, tidak menyembunyikan kemungkinan bahwa kita akan diteror para wartawan dan penggemarnya karena hal ini, dan dia meminta maaf karena membawa keluarga kita dalam masalah. Tapi ibu yakin dia bisa menjagamu, Nak, dia benar-benar lebih dewasa dari umurnya.”

“Ada yang bilang bahwa hanya lelaki yang bisa mengenal lelaki itu baik atau tidak. Dan Appa lihat, Lee Taemin itu lelaki yang baik. Ia tidak main-main denganmu, Nak. Dia serius dengan keputusannya. Sekarang semua terserah padamu. Eomma dan Appa yakin kau bisa mengambil keputusan yang baik.”

“Pengantin sudah selesai,” himbauan seorang pegawai butik mahal itu menyadarkan Ga In.

Perlahan, tirai fitting room itu terbuka, memperlihatkan Taemin dengan kedua matanya yang seperti tersihir menatap Ga In tanpa berkedip.

***

“Untuk apa kita ke sini?” Ga In terheran menatap Taemin yang baru saja ‘menculiknya’ di malam sebelum pernikahan mereka ke tempat ini—tempat Taemin hampir bunuh diri menunggu jawaban darinya.

“Kau akan tahu,” senyum Taemin, sambil terus melangkah mundur sampai punggungnya membentur dinding batas gedung itu.

Taemin berbalik, dan naik menuju tepian gedung.

“Tae—taemin-ssi, kau minta apalagi? Jangan bersikap kekanak-kanakan begini—setidaknya jangan rewel dengan cara mengancam seperti ini. Mengerikan,” Ga In menegang saat Taemin telah berdiri tegap di tepian.

Taemin hanya tersenyum pada Ga In, sebelum berbalik menatap lurus ke bawah dan merentangkan kedua tangannya.

Detik selanjutnya, Taemin terjun ke bawah…

“TAEMIN-AH!!!!!!!!” pekik Ga In.

Pikiran Ga In kalut, dia berusaha menyusul tempat Taemin menjatuhkan diri, namun kakinya terlalu lemas. Ia jatuh terduduk, kedua tangannya bergetar, dan bertumpu pada lantai. Bahunya bergetar ditemani suara raungan tangisnya sendiri.

“Uljimaseyo (jangan menangis)…” suara berat menyapanya dari belakang.

Ga In menoleh, tatapan kaburnya mendapati siluet dua orang menghampirinya—yang satu bergambut pirang, membantunya berdiri, dan yang satunya lagi hanya berdiri kaku.

Ga In ingin bertanya siapa mereka namun suaranya hilang entah ke mana. Tatapannya kembali bertumpu ke titik di mana Taemin menghilang, tak mempedulikan kedua pria itu meski Ga In curiga mereka telah berdiri di atap ini sebelum ia dan Taemin datang.

“Ahhh! Cogho (lihat itu)! Aku benar-benar tidak mengerti!” satu lagi suara didengar Ga In, dan ia menyadari suara-ahjumma itu milik pria pirang yang kini menopang lengannya. “Minho-ya, bagaimana aku bisa mempercayakan dia memimpin keluarga, dia masih saja menyukai hal-hal ekstrim! Han Ga In, aku harap kau bisa merubahnya.”

Pandangan Ga In mulai jelas. Air matanya mulai berhenti menggenangi matanya, terkejut karena omelan pria di depannya. Ga In menoleh pada pria satunya lagi yang berpostur tinggi sedang memutar mata merespon perkataan temannya.

“Tidak bisakah kau memperkenalkan diri dulu?” pria itu menoleh dan membungkuk pada Ga In. “Annyonghaseyo, choum bakkeseumnida (salam kenal). Perkenalkan aku Choi Minho dan dia Kim Kibum. Maaf kami baru menemuimu, Jesu-ssi (adik ipar)—boleh kami memanggilmu begitu? Yah, kau kan calon istri uri magnae.”

Ga In tercengang, bukan hanya kemunculan Minho dan Key tiba-tiba, tapi juga karena santainya mereka menghadapi Taemin yang baru saja melompat dari ketinggian.

“Tae—taeminnie” isak Ga In sambil menunjuk tempat terakhir Taemin berdiri.

“Ah, masalah itu tenang saja, mari ikut kami,” Minho mempersilahkan Ga In mengikutinya.

“Apa kalian tidak cemas? Kenapa kalian santai saja?!” isak Ga In, masih tidak mempercayai reaksi di depan matanya, sementara tubuhnya didorong Key untuk mengikuti langkah Minho.

“Kau pikir kami tidak cemas? Sudah bertahun-tahun kami menasihati dia masalah ekstrim itu tapi tak di dengar!” omel Key, lalu melanjutkannya dengan gumaman seperti ahjumma. “Hah, apa tidak bisa dia jelaskan dengan kata-kata saja. Aku benar-benar tidak mengerti dengan bocah itu.”

Ga In terus mengikuti Minho dan Key turun namun berkali-kali kakinya hampir terpeleset di tangga.

“Anajulkkayo (mau kugendong)?” tawar Minho.

“YA!” Key menampar lengan Minho. “Kau bisa dibunuh kalau menyentuh wanitanya!”

“Aku justru akan dibunuh kalau membiarkan wanitanya luka-luka karena terjatuh di tangga! Lagipula ini hanya sampai lift dua lantai di bawah!” balas Minho ketus sebelum membawa Ga In.

Minho dan Key terus hening menemani isakan Ga In. Sesekali tubuh mereka menampakkan ketidaknyamanan, meski sebenarnya Ga In yang lebih tidak nyaman melihat sikap kedua member SHINee itu.

“Jjamkanmannyo,” Ga In menggenggam lengan baju Minho saat mereka berjalan di dekat pintu gedung. Ga In menatap Minho dengan pandangan takut dan memohon, “Aku tidak siap melihat keadaan dia. Kenapa kalian tidak memanggil ambulans?”

“Tidak perlu,” sahut Key dan menarik Ga In cepat-cepat menuju ke luar gedung, ke bawah tempat Taemin tadi meluncur.

Ga In menutup matanya dengan takut. Di dalam pikirannya banyak pertanyaan mengapa Taemin tiba-tiba melakukan bunuh diri. Apa karena Taemin tahu cintanya tak berbalas?

Ga In merasakan tubuhnya berhenti ditarik Key yang berhenti berjalan, namun ia tidak mendengar apapun, bahkan pekikan dan bisikan orang-orang yang mungkin sudah mengelilingi jasad Taemin.

“Ga In-ssi, buka matamu.”

Ne? Apa Ga In salah mendengar suara yang mirip dengan suara Taemin?

Perlahan Ga In membuka mata, dan mendapati Taemin sedang duduk dengan santai di atas semacam balon kasur raksasa, tempat di mana para stuntman mendarat jika sedang bermain adegan berbahaya di film.

“Aku belum mati,” Taemin tersenyum, menatap mata polos Ga In yang membulat. “Kau lihat alat ini? Aku ingin jujur padamu, alat ini ada waktu malam itu. Para bodyguard ku sudah mempersiapkannya sewaktu mereka melepas kau dan Min Ah. Mereka siap menangkapku di bawah jika aku terjatuh saat mengancammu dengan pertanyaanku. Aku hanya ingin pernikahan kita dimulai dengan kejujuran. Aku bisa lihat kau masih ragu Ga In-ssi, aku hanya ingin mengatakan bahwa aku benar-benar mencintaimu. Meski aku tahu hal ini sangat aneh, tapi bisakah kau berpikir bahwa aku manusia biasa yang dianugerahi cinta, tanpa kendaliku sendiri?”

Ga In termenung, mencerna setiap kata Taemin meski dia masih shock dengan kejadian beberapa menit yang lalu.

“Sekarang, aku menyerah. Aku tidak ingin hidup denganmu tapi kau tidak bahagia. Aku menyerahkan keputusan padamu, melanjutkan pernikahan ini atau tidak. Apapun keputusanmu, aku akan tetap mendukung dan mencintaimu.”

***

Siang itu, sebuah pernikahan yang seharusnya sakral dan hening, mulai ternoda oleh kasak-kusuk di setiap titik. Semua tamu, baik yang diundang maupun para wartawan, mulai berbisik-bisik tentang mempelai wanita.

Sang pengantin wanita belum juga datang.

Lee Taemin mulai berjalan mondar-mandir, gelisah menunggu kekasihnya—bukan, wanita yang dicintainya datang. Sudah lewat lima menit dari waktu rencana pernikahan, bahkan Ga In harusnya sudah datang sejam sebelumnya untuk duduk di ruangan pengantin wanita.

Taemin menghentikan langkahnya dan menghela nafas, sepertinya tahu keputusan Ga In.

***

Seoul, 18 Juli 2014

Ga In sedang asyik memasak di dapur, bersenandung sambil mencelupkan beberapa bahan ke dalam kimchi jjigae buatannya. Ia berhenti dan tersenyum menatap buntalan besar di area perutnya. Ia mengelus perutnya yang membuncit besar. Ia hamil tua.

“Deullini (kau dengar)?” ujarnya seolah bisa berbicara dengan bayi di dalam perutnya. “Itu lagu kesukaan Appa-mu.”

GREP!

Sepasang tangan tiba-tiba melingkar di tubuh Ga In. Cukup sedetik terkejut sebelum Ga In mampu menjawab siapa si pelaku. Ia sudah kenal wangi tubuhnya.

“Noonaaaa~~~!”

Ga In tersenyum, mengetahui tebakannya benar.

“Noona tidak memasak Miyeokguk (sup rumput laut)?” tanya suara manja itu. “Ini kan hari ulang tahunkuuu!”

Ga In berbalik dan mendaratkan spatula di kening pria itu dengan kasih sayang, “Tentu saja! Kau ini cerewet sekali. Lee Taemin, sekali lagi kau panggil aku Noona, awas kau!”

Seorang pria pendek, anggota SHINee yang lainnya bernama Kim Jonghyun, tiba-tiba muncul berusaha melepaskan tangan Taemin dari perut Ga In, “Aga-yaaa(nak)! Appa baru ingat kemarin Appa membeli kado untukmu. Cepatlah lahir sayang~!”

“Jonghyunnie Hyeong! Sudah kubilang jangan sebut dirimu Appa! Kasihan nanti dia bingung! Ini bukan acara Hello Baby, ini anak kandungku! Appa-nya hanya AKU!” raung Taemin mengeratkan pelukannya pada Ga In.

“YAYAYAYA!” suara berat yang menggelegar mengejutkan mereka. Choi Minho sedang berdiri tak jauh dari mereka, matanya menatap tajam sebagai Flaming Charisma. “Lee Taemin! Jesu-ssi! Tidak bisakah kalian berhenti bermesraan begitu di depan kami!?”

“Keuraeeeee! Sudah cukup kau merebut Taeminnie, sekarang kau merebut dapurku, Han Ga In!” omel Key layaknya seorang mertua.

“Keterlaluan! Dia magnae tapi dia yang duluan menikah, dan sebentar lagi dia duluan yang menjadi ayah!” gerutu Jonghyun meninggalkan dapur.

“LA!” teriak Onew dengan tatapan hampa pada Ga In dan Taemin.

Krik.Krik.Krik.

“Sangtaenya kumat lagi,” Key mendelik pada Onew.

*END*

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

9 thoughts on “[WFT B] Imprint [2.2]

  1. Taemin bener2 cinta mati ma Gain, sampe yang ekstrem seperti di wonderfullday dilakuin.. Taemin bener jadi TaeMan..😉

    suara aujuma milik pria pirang, pasti Key. yang berdiri kaku, pasti Minho. seorang pria pendek anggota shinee yg lain, ketebak banget kalo itu si Jjong. Jinki nongolnya cuma kesangtaeannya aja. Memang pas dengan ciri khas masing2 😛

    Saya suka ceritanya Nara, ditunggu karya lainnya ya..🙂

    1. Ahahaha. cr ekstreme itu emg gara2 acr Wonderful Day itu. xD

      *Aku diomelin Key* Kurang ajar ngatain gw ahjummmaaaa!
      *dicekek Minho* Berdiri kaku apanyaaaa, gw kn jago olahragaa(?)
      *ditendang Jjong* Heh! Tinggi kita kan sama! Pendek ngatain pendek!
      *ditepuk Jinki* Gw leader, knp jatah cuma satu kata!?
      Krik.krik…
      Okeh garing ^^”

      Waaaa~ makasiii🙂

  2. Cara yang ekstrim untuk memulai pernikahan, sungguh menakutkan.
    ◦”̮◦нαнα◦”̮◦нαнα◦”̮◦‎​​ ternyata tinggal di dalam dorm, magnae tapi duluan dapat pasangan ◦”̮◦нαнα◦”̮◦нαнα◦”̮◦‎​​

    1. Haha. ekstreme ini gara2 wonderful day *nyalahin Taemin*
      Soalnya ingat kt2 Key, “Dia cm anak bawel yg menganggap hal ekstrim spt itu cm hal yg biasa.”😀
      aduh efek buru2 nih, udh byk typo Indonesia dan hangul, ada yg ketinggalan. Mksd aku sih, itu pas acr ultah Taemin aja di dorm SHINee… Crita aku ga nyampe ya ._.
      Makasiiii

  3. hahahahaa… ketawa ngakak bacanya,… mana bacanya sambil dengerin lagunya Boys Meet U… tambah ngakak *apa hubungannya? jelaskanlah sendiri* Jamongg… mengkaya nikah kalau mau jadi appa… keep writing😀

  4. LHAAAAA, ini kt pengantar aku yg d ats pendek bgt yaaaa. kkkk

    Okeh, sblmnya mhn maaf bwt yg kecewa dg critanya. Aku liat byk yg nyangka ini crita fantasi, nyatanya gaje. Kkkkkkk
    Intinya aku cm terinspirasi dr pengalaman pribadi yg ngingetin aku sm mslh Imprint yg di novel tetralogi Twilight (krn aku g pnah nntn filmnya. Kkkkk).

    Tapi makasiiii bwt yg udh bc FF pendatang br ini. N makasih jg bwt admin. ^^d

    May I post another fiction another day? *ditendang*

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s