[WFT B] Marbleous – Part 3

Author             : dhila_kudou

Title                 : Marbleous

Main Cast        : Lee Taemin, Choi Minho

Support Cast   : Kim Kibum, Kim Jonghyun, Lee Jinki, OC

Genre              : Mystery, Crime, Life, Bromance

Rating              : PG-13

Type                : Alternative Universe (AU)

Length             : Sequel

Marbleous

==========================

PART 3

Seoul, 21 Juli 2013

Kembali Minho berada di sini. Rumah bertipe 81 ini cukup besar untuk ditempati oleh lelaki yang berkedudukan sebagai ketua perumahan tersebut. Ia mengusap bulir keringat yang sedari tadi meleleh akibat panas matahari yang menyala di siang ini. Satpam yang mengantarkannya telah pamit terlebih dahulu. Kini, ia menunggu si pemilik rumah membukakan pintu untuknya.

Minho kembali mengetuk pintu rumah Jonghyun. Cukup lama ia menunggu hingga akhirnya pintu terayun ke arah dalam. Ia pun disambut oleh lelaki berambut pirang itu dengan wajah kusut. Minho merasa tak enak.

“Ada apa, Detektif?”

 “Apa saya mengganggu istirahat sore Anda?”

Jonghyun tak menjawab pertanyaan Minho. Ia hanya membuka pintu lebih lebar dan berjalan ke kursi tamu. Itu pertanda bagi Minho untuk segera masuk ke dalam.

“Ada perlu apa?” tanya Jonghyun langsung. Sesekali ia tampak menguap.

“Saya ingin mengetahui siapa saja pengunjung perumahan ini. Terutama saat kejadian tersebut terjadi.”

“Oh, sebentar.”

Jonghyun kembali menyeret kakinya masuk ke dalam kamar. Tak butuh waktu lama, ia menyerahkan sebuah map biru kepada Minho. Minho langsung membolak-balikkan lembarannya sampai akhirnya ia melihat data pengunjung pada tanggal 18 Juli, saat kejadian itu terjadi.

“Kejadiannya sekitar jam 12 malam kurang 15 menit. Kendaraan terakhir adalah sebuah motor bernomor polisi ini,” kata Jonghyun sambil menunjuk sederet angka yang tertulis pada kertas tersebut, lalu kembali duduk di kursinya.

Minho mengangguk. Lalu ia teringat sesuatu.

“Apa benar polisi sudah mengambil buku ini sebelumnya?”

“Ya, saya  sudah memberikan copy-an ini kepada polisi amatiran itu. Kurang tahu juga apa dia sudah mencari orang-orang yang dicurigainya lewat laporan data pengunjung ini.”

Minho pun mendengus geram.

“Ada lagi yang ingin ditanyakan?” tawar Jonghyun sambil menyandarkan badannya ke sofa.

“Kalau boleh tahu, apa pemesanan villa di sini bisa secara online?”

Jonghyun menautkan alisnya. “Setahu saya tidak. Situs online villa ini hanya berfungsi sebagai media promosi. Yah, tentunya Anda tahu, pemesanan secara online berisiko tinggi. Bisa saja si pemesan memalsukan identitasnya, bukan?”

Minho menganggukkan kepalanya, berpikir sejenak. Ada yang tak beres. Dari mana Taemin tahu nama Lee Jinki kalau begitu? Apa hanya kebetulan? Tebakan? Aih, bodohnya lagi, Minho tak pernah sempat untuk mengecek situs Villa Seorae ini. Ia pun mengabaikan rasa penasarannya itu.

Minho ingin menanyakan lebih lanjut, tapi melihat wajah Jonghyun yang sudah terkantuk-kantuk, ia mengurungkan niatnya itu.

 “Ah, untuk hari ini, saya rasa sudah cukup. Saya pamit dulu. Maaf  mengganggu waktu Anda, Jonghyun-ssi.”

============================

Sore itu juga, Minho bergegas menuju kantor polisi. Ia tak sabar untuk menginterogasi Kibum yang telah bermain-main dengan dirinya. Di sepanjang perjalanannya dengan taksi – ia menggunakan kendaraan tersebut selama penyelidikan kasus ini – ia terus memaki-maki ketidakefisienannya untuk bekerja sama dengan Kibum.

Minho membayar ongkos taksi tersebut terburu-buru. Dengan sedikit bantingan pintu, pria itu memulai langkahnya menuju gedung megah kepolisian tersebut. Namun, undakan kecil menuju lobi utama ikut-ikutan memusuhi dirinya. Ia tersandung.

“Ah, sial!” umpatnya. Minho merasa sedikit lega, karena ia sendiri sudah tak tahan menahan ratusan umpatan yang berkumpul di dalam raganya sedari tadi.

Detektif itu tak butuh energi lebih banyak, Kibum  ternyata sudah menunggunya di meja lobi. Minho langsung menyerbu Kibum dengan rasa kesal yang sudah dipendamnya. Gara-gara polisi tak beres di hadapannya ini, ia harus bolak-balik pusat kota dan pinggiran kota Seoul demi perkara ini. Ia kesal dengan sikap Kibum yang setengah-setengah menolongnya. Lebih baik detektif swasta itu mencari polisi di kantor ini untuk bekerja sama dalam urusan formal, lalu bertindak secara legal. Mendapatkan barang bukti secara legal, hasil penyelidikannya dianggap, dan seterusnya.

Namun, ia kembali mengelak hal itu. Dia sendiri lebih suka menyelidiki kasus secara individu. Hanya saja, karena ia butuh barang bukti, ia tak punya pilihan lain. Lagi-lagi, ia merutuki dirinya sendiri. Kenapa ia harus dipertemukan dengan polisi tanggung seperti ini?

 “Kau bohong soal data pengunjung itu kan?” tuding Minho sambil menatap wajah Kibum muak.

Kibum segera memasang muka bersalah sambil mengatupkan kedua telapak tangannya di hadapan wajahnya. “Mianhae!”

“Sekarang, apa yang telah kalian lakukan dengan data tersebut?”

Kibum menurunkan tangannya. “Hmm, kami baru saja membawa pemuda yang terakhir kali masuk ke villa itu beberapa menit sebelum kejadian. Kamu mau menginterogasinya? Soalnya kami sangat sibuk dengan urusan lain.”

Minho menggertakkan giginya. “Kenapa kau tidak bilang tadi?”

“Jangan marah dulu. Tenang. Dia baru saja dibawa ke sini. Aku ingin memberitahukannya langsung padamu, tapi aku tak punya nomor ponselmu, Detektif,” jawab Kibum santai.

“Dan ini untuk laporan penyelidikanmu lagi?” selidik Minho.

Kibum kembali mengangguk dengan wajah tanpa dosa. Minho menghembuskan napas kesal.

“Oke, saya tak punya jalan lain. Cepat antarkan saya ke orang itu.”

Kibum menjerit girang, “Gomawo!”

============================

Kibum menggeser pintu ruangan interogasi untuk Minho. Bak pengawal kerajaan, ia mempersilahkan Minho masuk sambil tersenyum ke arahnya. Minho membuang muka, ia masih dongkol. Tapi, untuk saat ini, ia harus bersikap profesional. Setidaknya di hadapan orang yang akan diinterogasinya ini.

“Namanya Kim Jongin. 19 tahun. Mahasiswa.”

Setelah memperkenalkan pemuda tersebut kepada Minho, Kibum menghempaskan topinya ke atas meja. Ia tampak bersemangat. Jongin, pemuda itu tetap bergeming walau hentakan topi itu cukup mengejutkan. Setidaknya, Minho yang tengah duduk berseberangan dengan Jongin bisa sedikit tersentak dari kursinya.

“Bagaimana? Kamu masih tak mau mengaku kalau kamu itu penyelundup, hah! Barang apa yang sudah kamu bawa ke luar negeri?” bentak Kibum di awal interogasi ini. Minho memutar bola matanya.

“Sudah berapa kali saya bilang? Saya bukan penyelundup!” tukas pemuda itu kesal.

“Lalu apa tujuan kamu untuk ke perumahan itu? Kamu ke rumah Jinki kan? Kamu mengantarkan barang selundupan ke sana?” tuduh Kibum lagi.

“Saya. Bukan. Penyelundup!”

“Lalu apa?”

Minho menghentikan dialog yang tak jelas itu dengan decakan keras. Kibum tak terima.

“Kibum, kau di akademi kepolisian diajarkan cara interogasi yang benar, tidak?”

Kibum menatap Minho tajam. “Apa maksudnya?”

“Sudah, kau keluar sana, lihat bagaimana aku melakukannya. Sepertinya kau perlu latihan lebih banyak.”

Belum sempat Kibum membantah, Minho sudah mendorongnya keluar ruangan, menutup pintu, lalu berbalik badan. Minho merapikan tatanan bajunya sebelum akhirnya kembali duduk di kursi semula.

“Maaf, dia masih polisi baru. Maklum saja.”

Jongin melempar tatapan curiga kepada Minho. “Lalu Anda siapa?”

“Choi Minho. Apa sebaiknya kita berjabat tangan terlebih dahulu?” tawar Minho sambil mengulurkan tangannya ke arah Jongin. Jongin tak membalasnya, tetapi detektif itu tak ambil pusing.

“Anda  kenal Lee Jinki? Korban ledakan itu?”

“Hanya sebatas nama.”

“Dari mana?”

“Dia salah satu pelanggan tempat kerja saya.”

“Anda bekerja di mana?”

Jongin diam.

“Saya hanya butuh jawaban dari Anda. Bukan tatapan membunuh. Jawab secara jujur, maka Anda akan terbebas dari ruangan ini. Ingat, dari ruangan ini.”

“Ilsan.”

Minho merasa tertarik. Ilsan, kampung halamannya, tak sulit untuk dikenali.

“Anda bekerja di mana? Maksudku, secara lebih spesifik. Perusahaan, atau kafe, misalnya?”

 “Pertanyaan lain?” Jongin balik bertanya, mencoba untuk mengelak.

“Anda bekerja sebagai apa?”

Jongin mengedikkan kepalanya. “Kurir, pengantar barang, yah, seperti itulah.”

“Malam  itu, Anda berada di mana?” Minho berusaha menutupi rasa kesalnya. Pemuda yang berada di hadapannya ini cukup sulit untuk ditaklukkan.

“Di Seoul. Saya … emm, bermalam di kampus. Ada proyek yang harus saya selesaikan.

Pemuda itu menatap Minho datar, tetapi Minho bisa menangkap sekelebat ekspresi gelisah yang terlihat dari mata Jongin saat menjawab pertanyaannya barusan.

Minho tak bisa menahan dirinya untuk tersenyum geli. Ia merogoh saku kanan celananya, lalu meletakkan sebuah kelereng hitam yang terbungkus plastik bening di atas meja.

“Anda tahu barang itu?”

Jongin mengerutkan dahinya saat memperhatikan barang yang diletakkan oleh Minho, tetapi sedetik kemudian, ia bersikap biasa-biasa saja, seolah tak mengenal kelereng itu.

“Entahlah. Saya tidak tahu.”

“Benarkah?

Tepat di saat Jongin akan menjawab pertanyaan Minho, bunyi dering ponsel memecah kesunyian di ruangan itu. Minho merasa terusik dengan dering itu, tetapi ketika ia melihat siapa yang meneleponnya kala itu, wajahnya menjadi rileks kembali.

“Sebentar.”  Minho meminta izin untuk mengangkat panggilan tersebut sambil membelakangi Jongin. “Ya, ada apa Taemin?”

“Kamu tidak ke Ilsan hari ini? Kalau iya, jangan terlambat, ini sudah sore.”

Minho mengusap dahinya. “Ehm, nanti kupastikan lagi. Kamu tunggu saja di sana,” jawab Minho sambil melirik Jongin. Ia masih belum selesai menginterogasi anak ini. Tapi…

…mengapa Jongin menatapnya seperti itu?

“Baiklah, hati-hati ya.”

Minho menutup panggilannya dengan Taemin. Ia segera mengawasi gerak-gerik Jongin setelah pemuda itu menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.

“Kenapa? Anda ingin menjelaskan sesuatu?”

Jongin meremas tangannya. “Itu…Taemin Hyung?”

“Hah?”

Jongin menadahkan tangannya ke arah Minho. “Bisa kulihat gantungan ponsel Anda?”

Minho hendak bertanya lebih jauh, namun tangannya tetap menuruti kehendak Jongin. Ia menunjukkan gantungan ponsel berbentuk kelereng bewarna hijau toska miliknya. Jongin langsung menggerakkan matanya gelisah.

“Sepertinya saya telah dipertemukan oleh orang yang tepat,” gumam Jongin sambil memainkan jari-jarinya. “Saya hanya ingin menjelaskan semuanya pada Anda, Minho-ssi.”

Minho kaget sekaligus senang. “Silakan.”

“Perihal kelereng hitam itu, sepertinya saya mengenalnya. Karena kelereng yang ukurannya sebesar itu hanya diproduksi oleh toko tempat saya bekerja.”

Jongin memberi jeda sejenak, lalu memajukan badannya ke depan. “Saya bekerja di Marbleous, sebuah bisnis kelereng di Ilsan.”

Napas Minho langsung tercekat. Sekelebat memori tentang Ilsan berlarian di alam pikirnya. “Jadi, Anda tahu dengan Lee Taemin?”

“Ya, dia adalah atasan saya.”

Minho mengatupkan kedua tangannya sambil menopang dagunya. “Lanjutkan.”

“Saya bekerja sebagai pengantar barang produksi kepada pemesan. Dan benar, Lee Jinki pernah memesan barang ke tempat saya bekerja, dan saya yang mengantarkan pesanan itu ke rumahnya. Tapi itu sudah hampir sebulan yang lalu.”

“Tadi Anda mengatakan bahwa hari Kamis kemarin, Anda sedang berada di Seoul, bukan?”

Jongin berpikir keras. “Ini mungkin sulit untuk dipercaya. Tapi, saya hanya tahu bahwa sore hari saya di Ilsan, dan pukul satu malam saya sudah berada di lobi kampus. Saya membawa motor saat itu, tapi saya tak bisa mengingat apa yang telah saya tempuh dari Ilsan hingga sampai di kampus. Saya merasa tak pernah ke rumah Jinki pada malam itu. Saya tahu persis di mana rumahnya, dan itu cukup jauh dari kampus saya. Makanya saya heran, mengapa nomor plat motor saya ada di data pengunjung perumahan itu.”

“Anda pergi ke kampus untuk apa?”

“Saya ada tugas makalah kelompok. Niat saya saat itu belajar di kampus. Tapi saya baru sadar kalau itu sudah jam satu pagi ketika satpam menyapa saya. Barulah saya menelepon teman saya yang kontrakannya kebetulan di dekat kampus untuk menumpang menginap di sana.”

“Sebentar. Anda benar-benar tak mengingat apa yang Anda lewati hingga sampai di kampus?”

“Tidak, sama sekali tidak. Saya berani bersumpah.”

Minho menyandarkan punggungnya. Benang merah hampir terhubung, tapi fakta mengenai Jongin yang tak mengingat kejadian itu membuat benang itu kusut kembali.

“Anda di Ilsan tinggal bersama siapa?”

“Saya dan paman saya.”

“Lalu, Anda mempunyai kontrakan di Seoul?”

“Tidak, saya pulang pergi Ilsan-Seoul untuk kuliah sambil bekerja.”

“Apakah dari Ilsan Anda membawa sesuatu?”

“Iya, dan itu hanyalah tas ransel berisi pakaian saya untuk bermalam di Seoul.”

“Tidak ada paket?”

“Seingat saya, saya hanya membawa ransel. Itu saja.”

Minho menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ini benar-benar sulit untuk dicerna.

“Tapi…,” Jongin menyambung penjelasannya, “…beberapa jam setelah saya sampai di kontrakan teman, Taemin Hyung menelepon saya. Lalu mengucapkan terima kasih. Kemudian, ia memberi tahu kalau jika saya bertemu dengan orang yang memiliki gantungan ponsel yang sama dengan yang ia miliki, jangan sungkan-sungkan untuk bercerita apa yang saya ketahui tentangnya.”

Minho menaikkan alis. Ini aneh. “Kenapa?”

“Taemin Hyung tak ingin kepribadian dan kebiasaannya diketahui oleh orang lain selain saya dan pemilik gantungan ponsel yang sama dengannya. Itu perjanjian yang saya lakukan saat diterima kerja di sana.”

Minho terdiam. Mengapa ia tak mengetahui kalau sepupunya ternyata orangnya seperti ini. Taemin yang tertutup adalah fakta yang baru ia ketahui. Sejak kecil, mereka selalu bermain bersama. Namun, sejak Minho memilih melanjutkan pendidikan sekolah menengahnya di Seoul, ia semakin jarang ke rumah Taemin.

Hingga akhirnya setelah tamat kuliah, lalu bekerja, ia sering ke rumah sepupunya itu untuk menginap sambil menumpang makan. Dan itu menjadi rutinitas setelah kedua orang tua Minho telah tiada.

Tapi, dia benar-benar tak menyadari sisi Taemin yang seperti ini.

“Anda kenal dengan Taemin hyung pastinya. Jika tidak, mengapa gantungan ponsel itu bisa anda miliki?” tanya Jongin tiba-tiba.

Minho bergeming. Lalu ia mengalihkan pembicaraan. “Anda tahu di mana lokasi pabrik pembuatan kelereng itu?”

“Anda tak tahu?” tanya Jongin balik.

“Taemin tak pernah memberitahukannya kepada saya.”

Jongin mengerutkan keningnya, lalu ia mengeluarkan selembar kertas kecil dari balik jam tangannya. Ia menyodorkan kertas tersebut ke arah Minho. Sejurus kemudian, Minho membulatkan matanya tak percaya saat melihat coretan denah yang tergambar di kertas tersebut.

Ini, bukannya rumah yang tak terurus di sebelah rumah Taemin?

“Anda punya kunci rumah ini?”

“Tidak. Saya tak pernah masuk ke dalam sana. Saya hanya diminta menunggu di kursi luar rumah saat Taemin Hyung mengambil paket yang harus saya antar. Dan saya juga tak tahu menahu dengan isi paket yang saya antarkan itu.”

“Lalu, darimana Anda tahu kalau kelereng hasil produksi Marbleous itu berbeda dari yang lainnya?”

“Pernah suatu kali Taemin Hyung menunjukkan salah satu kelerengnya dan memberikannya kepada saya. Juga salah satu pembeli pernah membuka paketnya di hadapan saya. Makanya saya bisa tahu.”

Minho mencerna seluruh informasi yang ia dapatkan. Sangat sulit diterima, tapi jiwa detektifnya sudah yakin dengan jawaban teka-teki yang terpikirkan oleh otaknya. Jongin yang berada di hadapannya ini sepertinya bukan pembohong. Ada kejujuran yang terpancar dari manik matanya dan juga penuturannya. Mahasiswa itu sudah terlibat dalam kasus besar ini tanpa disadarinya. Tanpa disadari dalam makna denotatif.

Minho langsung menyimpan kertas itu, lalu berjalan keluar ruangan sambil meninggalkan Jongin yang masih terheran-heran. Minho berlari di koridor, hendak keluar dari kantor polisi ini segera. Ia tak sabar untuk bertanya lebih lanjut kepada dalang kasus ini.

Di jalan, ia bertemu dengan Kibum yang sedang berjalan dari arah berlawanan. Melihat Minho, Kibum langsung teringat tentang tugas interogasi tadi.

“Bagaimana, Detektif?” tanya polisi tanggung itu sambil menyamakan langkahnya dengan Minho.

“Kau ke mana saja? Kau tak memperhatikan interogasiku di sana?” serang Minho tanpa sedikit pun menoleh kepada manusia di sisi kirinya.

Kibum salah tingkah. “Err, tadi aku ke toilet sebentar.”

Minho menghela napas berat. “Beri tahu temanmu untuk mengawasi Kim Jongin di dalam ruangan. Kita berangkat ke Ilsan sekarang pakai mobilmu. Kau punya mobil pribadi?”

“Punya, tapi mengapa tak memakai mobil polisi saja?”

“Mobilmu sendiri! Cepat!”

 “Hah?!”

Langkah Minho tiba-tiba terhenti. Lalu ia berbalik menatap Kibum tajam. “Jangan beritahu siapapun bahwa kita akan mengejar informasi penting ke Ilsan malam ini! Jika tidak, hasil interogasi itu kutahan dan aku akan bersaksi di hadapan atasanmu kalau informasi yang telah kau dapatkan itu sebenarnya adalah hasil kerjaku. Mengerti?”

Mulut Kibum semakin menganga lebar.

=====================================

 

Ilsan, 21 Juli 2013

Pukul sembilan malam, setelah  kebut-kebutan di jalan raya, Minho dan Kibum akhirnya sampai di daerah tempat rumah Taemin berada. Minho meminta Kibum memarkirkan mobilnya di persimpangan jalan agar Taemin tak mencurigainya.

“Ingat, kau hanya boleh tunggu di sini. Aku akan segera kembali. Kau siagakan ponselmu! Aku akan menghubungimu kalau terjadi apa-apa.”

Kibum yang masih belum tahu ujung pangkal masalah ini hanya bisa menurut. “O..Oke.”

Minho menutup pintu mobil. Ia berjalan menyusuri jalan setapak yang sudah sepi. Kawasan rumah Taemin memang sepi. Hanya ada beberapa rumah yang berdiri di sini.

Tak butuh waktu lama, Minho sampai di rumah yang tercantum pada denah yang diberikan oleh Jongin tadi. Ia merasa harus mengamati isi pabrik mini kepunyaan sepupunya ini. Siapa tahu, ada barang bukti yang bisa ia selidiki.

Baru saja ia hendak memikirkan bagaimana cara untuk masuk ke dalam rumah dengan tangan kosong, pintu rumah terbuka pelan.

Taemin menyambutnya dari dalam, dengan senyuman.

“Sudah aku duga kamu akan ke rumah kosong ini, Minho. Masuklah, kita bicarakan semuanya di dalam.”

Taemin masih mempertahankan senyumnya ketika berbalik arah dan berjalan mendahului Minho. Berbanding terbalik dengan Minho yang memasang wajah penasaran. Apa lagi yang ingin anak ini lakukan terhadapnya? Jebakan apa yang telah dipersiapkannya?

Pemuda yang kini berusia 21 tahun itu menarik sebuah kursi dan mempersilakan Minho untuk mendudukinya. Minho masih menatap Taemin was-was. Malam musim panas kali ini menjadi sangat dingin bagi Minho. Karena, walau Taemin masih tersenyum padanya, sorot matanya benar-benar dingin.

Inikah sisi lain Taemin yang belum pernah dikenalnya?

“Silakan, apa yang hendak kamu tanyakan, Minho?”

“Jelaskan apa yang kamu ketahui tentang kasus ini. Aku ingin mendengarnya dari pelakunya langsung.”

=================================


Seoul, 10 Juli 2013

Jinki mondar-mandir di ruang kerjanya. Ia menunggu teleponnya agar diangkat oleh orang dari seberang.

“Halo?”

“Ah, iya. Halo. Selamat pagi. Apakah ini toko Marbleous?”

“Iya, benar. Saya sedang berbicara dengan siapa saat ini?”

“Saya Lee Jinki, yang kira-kira dua minggu yang lalu pernah memesan kelereng di sini.”

Percakapan terjeda sejenak. “Ah, Tuan Jinki. Ya, saya mengingatnya. Bagaimana dengan pesanannya?”

“Saya suka, sangat suka. Dan saya ingin memesannya lagi,” jawab Jinki bersemangat.

“Baiklah, motifnya mau seri yang mana? Anda sudah mencatatnya terlebih dahulu bukan?”

“Er, saya ingin meminta kelereng dengan motif tersendiri. Apa kita bisa bertemu?”

 “Untuk motif Anda bisa mengirimkan contohnya ke email yang tercantum di website kami.”

“Tapi saya ingin sekali membicarakannya langsung dengan Anda.”

Jeda panjang lagi. Jinki mulai tak sabar. “Halo?”

 Tak kunjung dijawab, Jinki pun berusaha meyakinkan lawan bicaranya. “Bagimana kalau bayarannya saya tambah? Lima kali lipat dari pesanan biasa?”

“Anda ini siapa? Maksudnya, bekerja di mana?”

“Saya pecinta seni, suka mengoleksi barang-barang bernilai seni yang tinggi, dan hidup dari seni. Dan saya menemukan bakat seni yang tinggi dari kelereng buatan Anda. Sebentar, saya berbicara dengan pembuat kelerengnya ‘kan?”

“Iya, benar. Oke, baiklah. Kalau begitu, kapan? Di mana?”

Jinki mengepalkan tangannya di udara. Ia berhasil kali ini. “Besok pagi di rumah saya bagaimana? Di villa Seorae. Alamatnya masih sama dengan yang lama. Atau saya bisa menjemput Anda di mana?”

“Tidak perlu, biar saya saja yang ke tempat Anda.”

Jinki bernapas lega. “Oh, Baiklah. Kalau begitu saya tunggu Anda besok. Terima kasih banyak.”

Telepon itu pun ditutup. Jinki merentangkan tangannya lega. Satu langkah lagi, ia akan mendapatkan kelereng dengan motif langka. Lalu ia akan lelang di situs jual beli benda purbakala, dan  ia jual dengan harga tinggi sambil membual kalau itu adalah kelereng etnik asli yang berkualitas.

Ia beruntung menemukan perajin kelereng di Korea ini yang bisa diajak kerjasama. Begitu juga dengan lawan bicara di teleponnya semenit yang lalu, yaitu Taemin.

Karena Taemin memiliki firasat aneh mengenai Lee Jinki saat ini. Dirinya juga penasaran dengan orang yang mengaku penggila seni ini. Mendadak, ia teringat dengan mendiang Ibunya dahulu.

======================

Ilsan, 21 Juli 2013

Taemin berjalan menyusuri lemari-lemari tempat kelereng hasil karyanya dipajang. Butiran kaca bermotif itu ditempatkan dalam beberapa gelas kaca dengan urutan gradasi warna yang beragam, memukau.

Minho mengenal beberapa kelereng di antaranya. Sepertinya Taemin juga memajang kelereng koleksi hadiah ulang tahunnya di lemari yang sama.

“Lee Jinki memintaku untuk mendesain kelereng dengan motif sesuai keinginannya. Aku menyetujuinya.”

“Kamu ke rumahnya?”

“Ya. Aku ke sana dengan Kai.”

Kening Minho berkerut. “Siapa itu Kai?”

“Kai itu panggilan yang yang kuberikan kepada pegawaiku, Jongin. Kamu pasti baru saja bertemu dengan anak itu, makanya kamu bisa ke sini.”

Minho menyilangkan kakinya. “Jadi kamu bertemu dengannya?”

“Ya.”

“Mengapa kamu membunuhnya?”

“Karena dia juga membunuh ibuku. Sederhananya, balas dendam.”

“Kamu punya bukti kalau orang itu yang membunuh Soora ahjumma?”

Air muka Taemin sedikit berubah. “Aku melihat teko itu di lemari pajangnya. Itu menguatkan ingatanku tentang wajah seorang pemuda yang melayangkan tembakan ke arah Ibuku sepuluh tahun yang lalu. Seolah-olah teko itu menegaskan garis wajah yang kulihat di bawah temaram lampu jalan saat kejadian itu, dan meyakinkan diriku kalau pemilik garis wajah itu adalah  Lee Jinki.”

Minho terkesiap mendengarnya.

“Jadi benar, kalau kamu yang meledakkan rumah Lee Jinki?”

Taemin mengangguk mengiyakan. Ia masih berjalan ke arah lemari lainnya, lalu mengambil sebatang kaca bewarna perak dari dalam sana.

“Aku menceritakannya sambil membuat ini, ya?” ujarnya meminta izin. Ia lalu duduk di sebuah kursi lainnya, memutar keran gas, dan muncullah api dari ujung selang yang terpasang di sisi meja kerjanya.

Ia menggunting kaca tersebut, menusuknya dengan sebuah besi panas, lalu mulai membentuk kelerengnya.

“Ceritanya sedikit panjang. Kuharap kamu tak bosan mendengarnya.”

============================

To be continued…

2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

18 thoughts on “[WFT B] Marbleous – Part 3

  1. Eaaa, beneran Taemin ini pelakunya? Nyante amat ngaku ke Minho. Hmm… kayaknya masih ada yang disembunyikan deh :s

    btw aku baru sadar peran Minho di sini mirip sama di Salamander Guru. Yah, jadi mudah ngebayannginnya sih, hoho

    Lanjut ke part berikutnyaa ^^

    1. Aaah…Zaky! Aku terharu kamu dateng pertama.. :”
      Iyaaa…beneran Taemin pelakunya. Sebenarnya aku pengen pembacanya dibawa keliling2 dulu, tspi krna batas maksimalnya 5 part, plus aku juga udah telat banget ngirimnya, makanya aku ajak ngebut aja ceritanya. _. Dan yaah, tara, Taemin udah ngaku di part ini..hahahahaa

      Iyaaa, aku juga bayangin minho yg di salamander guru. Pas Zak🙂

      Okedokeee! 🙂 makasi banyak y Zak yaaaa🙂

  2. Ooo… Ternyata Taem ngebunuh Jinki, Jinki juga bunuh eomnanya Taem. Oh… Ngerti…

    Sama kayak zaky eon. Aku ngerasa kok taem gampang bgt ngakunya.

    Ditunggu nextpartnya…

    1. Iyaa..hehehee..
      Ooh, kalau yg masalah itu emang aku sengaja, soalnya settingnya kan emang Taemin yg pengen Minho cari tau kalau pelakunya itu dia. Maksa ya? ._.a *nyengir*

      oke Sesil!!! Makasi banyak yaa udah ninggalin jejak di part ini😀

  3. sudah kuduga. tebakanku bener. #hehehe (meringis ria)
    Ia, tapi ini bener loh. di sini berasanya yang jadi pemeran utama justru Minho bukan Taemin.
    menurutku ini cukup fatal. bagian Minho jauh lebih banyak dari Taemin sendiri. dan inti ceritanya sendiri lebih mengarah ke Minho yang tengah menyelidiki.
    Em, mungkin dari awal seharusnya kamu tuker aja cast-nya. aku suka begitu, sesuai keperluan penulis, trus aku ubah sifat mereka sedikit, dan mungkin juga bisa merubah sedikit ceritanya.
    yah, cuma saran aja sih. Hwaiting ya Ia!!!

  4. sudah kuduga, Taemin pelakunya #hehehe (meringis ria)
    boleh, kritik? menurutku di sini Taemin berasa jadi cast pembantu dan Minho yang jadi Main cast-nya. scene Minho jauh lebih banyak dari Taemin. Inti cerita ini sendiri lebih bercerita bagaimana Minho menyelidiki. aku ngerasa Taemin jadi objek. #entahlah
    saran aku, em… mungkin lain kali kamu tuker aja castnya, sesuai kebutuhan dan karakter si tokoh bisa kamu ubah sesuai karakter wajah si pemeran itu sendiri, atau kamu tetep pertahanin karakter main cast itu sendiri. kamu juga bisa ubah sedikit alur atau scene asal semua yang aku sebutin di atas nggak ngerusah inti ceritanya. ya, semua itu suka aku lakuin. cuma saran, yah? soalnya menurutku ini cukup fatal juga.
    em, masih penasaran kelanjutannya. saya terbang ke part selanjutnya, ya?
    See You!!

    1. Aaah, iyaa kak Hana, la juga sampai sekarang mikir kalau Minho emang lebih menonjol di cerita ini.. Mungkin salah aku juga krna gak banyak ngeeksplor Taemin di cerita ini krna dia pun aku setting sebagai pemegang kunci cerita a.k.a tokoh misterius *?*. Pengen tukeran antara Minho sama Taemin, takutnya kurang greget. Mau tukar alur, waktunya udah ga banyak. Ya jadilah seperti ini kak..maaf ya kalau sekiranya kurang nyaman bacanya *bowing*
      Plus, ff ini kan cuma ngeramein..hehe..hahaaa.. *garuk2 geje*

      Makasi banyak lo kak udah ngasih masukan ke La, ntar di ff berikutnya lebih la perhatiin lagi deh yaa..hehee *bowing*
      Oke kaaak…silakaan😀

  5. waah, telat baca..

    sikap Kibum ke Minho bikin kesel aja, jadi polisikan melayani masyarakat, bukan males2an gitu..

    si Jongin dihipnotis apa ya, kok dia bisa gak inget kalo pergi kerumah Jinki.
    sepertinya kelereng yang dikirim ke Jinki isinya bom.

    Taemin sukarela banget ngaku klo dia pelakunya..
    Jangan2 abis dia cerita kejadian ma Minho langsung meledakkan diri juga pake kelereng yg lag mau dibuat..

    penasaran, baca selanjutnya aja deh Dhila..🙂

    1. Aah, enggak kok kaak.. Asal ff ini masih ada di peradaban, brarti kk blom telat ngebacsnya..XD
      La juga greget bikin bagian Kibumnya..xD Tebakan kk semuanya ntar dibuktiin lgsg aja yaaa di part selanjutnya😀

      Makasi banyak lho kak Lydia udah nyempatin komen di sini😀

  6. Beneran TaeMin pelakunya, pasti berat untuk MinHo mengetahui sepupunya yang baik berubah menjadi seperti itu.
    Berat juga untuk TaeMin, melihat ommanya meninggal di depannya untuk melindungi dirinya.
    JinKi beneran yang membunuh atau dia membeli teko itu, siapa tahu salah orang. ◦”̮◦нαнα◦”̮◦нαнα◦”̮◦‎​​

    1. Naah, pas banget nih kak Imelia..itu dia beberapa poin penting di cerita ini😀
      Sayangnya gak salah orang, emang Jinki yg ngelakuinya..hahahaha..XD

      Makadi banyak ya kak Imelia udah ninggalin jejak di part ini😀

  7. Gampanh banget itu taemin ngaku kalau dia pelakunya😀 coba aja semua penjahat jujur kayak taemin pasti aman deh dunia😀

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s