PDKT

PDKT

Author             : Ruoxizhang

Main Cast        : Jj

Length             : One Shot

Genre              : Romance

Rating             : General

Summary         : Semua berawal dari masa sekolahnya di  Hannyoung High School. Dengan gedung yang megah serta menjulang keatas  di yakinkan penghuninya yaitu siswa-siswa sangat banyak, Diantaranya ada Lee Jinki dan Jo Jira.

 KL

Hannyoung High School,Seoul 05-June-

 

            Jo Jira, Hwang Tiffany dan Jung Jessica. Ketiga gadis ini berjalan dengan santai serta tawa yang keluar dari bibir mereka. Tarikan senyum yang berkembang membuat orang-orang di koridor memperhatikan mereka. Terang saja ada yang suka dan tidak suka, mereka hanyalah penghuni baru. Mereka tak pantas mendapatkan perhatian lebih.

Tawa mereka tak terdengar lagi, mereka berjalan dengan santai.

“Ayo,Cepat! Aku tak ingin terlambat” ujar Jessica.

“Mr.Jung,Ahh~ Kepalanya yang botak membuat konsntrasi-ku buyar” Tiffany mendesah jika mengingat dimana hari pertama dia memulai kelasnya dia terkaget-kaget melihat bagaimana keadaan gurunya itu.di abad 21,yang benar saja batin Tiffany. Rambut botak dan wajah yang cukup buruk serta penampilan yang dianggap minus olehnya.

“Hehehe Kau ini” Jira menyengol pundaknya dengan pundak Tiffany serta tawa kecil  mereka bertiga.

Disaat matanya melihat kearah Tiffany, matanya menangkap sosok yang memperhatikan dirinya didepan pintu dengan ponsel ditangan serta benda kecil menyumpal telinganya. Jira memperhatikan pria itu dengan tarikan senyum manis darinya pria itu pun tersenyum singkat hingga tekongan belok, mereka terpisah dengan tekongan itu. Tapi kepala Jira tetapi menoleh kebelakang pipinya merona merah hatinya pun berdesir “Ada apa ini?” batinnya “Sexy sekali” Jira tersenyum sendiri hingga mereka sampai di Lab Sejarah.

.

.

.

Jira, Gadis mungil itu berdiri dari kejauhan gerbang Hannyoung High School. Wajahnya terlihat resah. “Bagaimana ini?”

“Berpikirlah Jira”

Gadis itu berdebat dengan pemikiraannya. Memandang kembali sepasang sepatu miliknya membuat dia semakin resah. Bagaimana bisa Jira melupakan, bahwa sekolah Hannyoung tidak memperbolehkan Siswa/I nya mengunakan sepatu berwarna. Betapa ceroboh  dirinya.

Jira hanya bisa mengeluh resah dia ingin sekali menanggis saat itu juga.

Sedangkan Lee Jinki,Pria jakung itu berjalan santai menuju gerbang Hannyoung High School. Dari kejauhan dia memperhatikan Jira dan juga gerbang Hannyoung High School.

Jinki menepuk pundak Jira “Kenapa tidak masuk?” Wajah Jira terlihat sangat berantakan,gadis itu mengelus dadanya yang awalnya dia mengira Jinki adalah Salah satu gurunya yang akan menyeret kedalam.

Jira menunduk kebawah dengan cemberut mengadu “Sepatu ku” Jinki juga memperhatikan kebawah.Sepasang sepatu berwarna pink “Tidak baca peraturan?” Tanya Jinki

“Ish~Bukan tidak membaca tapi aku lupa, Sunbae” Jira merajuk pada orang asing ini,dia hanya tahu dan sangat tahu Pria jakung ini adalah Ketua Osis Hannyoung High School. Jira kembali cemberut.

Manis sekali gadis ini, batin Jinki. Jira menjauhi Jinki dengan membelakangi tubuh Jinki menghentak-hentakkan sepatunya pada aspal,seakan mengatakan ini semua salah aspal hitam di bawah sepatunya.

“Kau pakai sepatu-ku saja” Sepasang sepatu putih disodorkan disamping Jira “Bagaimana dengan Sunbae? Nanti Sunbae bisa dihukum?” Polos sekali gadis ini,Jinki tersenyum lembut dan berucap lebih lembut “Aku Ketua Osis,Songsaenim tidak mungkin menghukum aku. Aku sebenarnya tidak yakin,tapi akan kupikirkan alasannya”

“Aku tak membaca peraturan itu” Jira menolak sepatu milik Jinki. Jinki menjongkok ingin melepas sepatu pink milik Jira “Ah~Jangan!” Jira tetap menolak,memundurkan langkahnya kebelakang menggelengkan kepalanya “Nanti Sunbae bisa dimarahi Songsaegnim” Jira membritahu Jinki.

“Aku ketua Osis,aku bebas dari Peraturan!” Jinki kembali membujuk dan menyakinkan dengan berdusta. “Lepaskan sepatu,mu”pintanya,Jira kembali menggelengkan kepalanya “Aku tak mau” gadis itu kembali marajuk membelakangi Jinki. Dia tak sepolos yang kau pikirkan Jinki.

Jinki memasang kembali sepatunya,bujukan-nya gagal. Jinki kembali memperhatikan gadis itu dari belakang yang terus memperhatikan gerbang sekolah. Melihat bagaimana Gurunya memarahi teman-temannya. Jira tidak ingin di bentak, dia tak suka dibentak kasar,  dan dipermalukan seperti itu. Harga dirinya terasa turun kelevel terbawah.

“Sampai kapan kau ingin melihat gerbang itu” itu suara Jinki,Jira jadi sebel melihat Jinki. Penggagu pikir Jira. “Terserah” Jira kembali merajuk dan pergi dari Jinki.

Jinki tidak membiarkan gadis mungil itu meninggalkannya, dia berjalan sejajar dengan Jira. Jira masih cemberut itu membuat Jinki tersenyum lebar. Awalnya Jira tidak peduli Jinki menggikutinya,tapi otaknya berpikir “Untuk apa dia menggikuti ku?” Hingga Jira membalikkan badannya sebab Jinki mengikutinya dibelakang “Mau apa kau?” ucapnya.

“Pulang” Jawab Jinki acuh. Jira memperhatikan kembali sepatu milik Jinki,menunjuk dengan jari manisnya pada sepatu itu “Kau tidak memakai sepatu berwarna” Jinki menggelengkan kepalanya dua kali,mengedikkan bahunya “Aku ingin mengajak mu jalan” Sebuah tawaran yang mengiurkan bagi Jira,karena tidak mungkin dirinya pulang begitu awal. Mommy-nya pasti akan banyak bertanya. Jira juga tidak memiliki jawaban yang tepat.

Jira seakan berpikir,meremas tali depan tas ransel soft birunya. “Kau mau mengajak aku kemana?” Jinkipun tersenyum lebar,langkahnya semakin dekat dengan Jira “Sungai Han” Jawab Jinki. Ternyata Jira tidak suka. Padahal Jira sangat berharap Jinki akan mengajaknya nonton atau makan. Jira mengelengkan kepalanya “Aku tak mau, kau tahu tidak. Sungai Han hanya tempat orang-orang patah hati.kau tidak menonton drama. Ya?”

“Kau mau kemana?’ Tanya Jinki. Sebenarnya Jinki juga tidak tahu mau kemana. Dirinya hanya ingin berduaan dengan Jira.

“Pantai” Jinki tersenyum geli pantai dan sungai. Apa bedanya?, dia mengacak-ngacak rambut Jira-nya. “Baiklah” Jira merengut cemberut “Jangan sentuh rambut-ku”

.

.

.

Kedua pasangan ini berdiri dihalte menunggu bus. Panasnya matahari membuat kerongkongan Jira terasa perih. Jira berdehem  dan menatap Jinki disampingnya yang memperhatikan dirinya sejak tadi.

“Aku haus,Sunbaenim” Adu Jira. Jinki melihat kesekeliling,syukurnya ada yang jualan didekat halte .“Tunggu sebentar,aku akan kembali” Jira menganggukan kepalanya sepeninggalan Jinki.

Jinki kembali membawa eskrim,padahal Jira sangat haus eskrim hanya membuat dia semakin haus.

“Ini”

“Kenapa es krim? “ Jira bertanya,tapi tetap menerima es krim itu. Udara sangat panas,dirinya membutuhkan sesuatu yang dingin. Menjilat eskrimnya menunggu Jinki menjawab

“Aku pikir kamu suka”

“Aku suka,tapi aku haus. Es krim hanya akan membuat aku bertambah haus nantinya”

Jinki hendak pergi tapi Jira menarik seragam biru Jinki “Kau  mau kemana?” tanyanya.

“Membeli air putih” Jira membiarkan es krimnya mencair hingga terasa di kulit putihnya. Tapi dia tidak memperhatikan itu Jinki yang melihat segera mengeluarkan sapu tangan miliknya. Mengelap pergelangan tangan Jira “Nanti saja,aku kan belum haus. Lagian es krimnya belum habis” Tunjuknya pada es krim di tangan kanannya. Jinki mengganguk meng-iakan dan melap eskrim dibibir merah Jira tak kalah cantik dengan pemiliknya.

Bus datang,tapi orang orang telah mendahului mereka hingga setiba Jira diatas dia kembali mengadu “Bus-nya penuh” dan terpaksa mereka berdiri. Jinki berada dibelakang Jira seakan memeluk gadis itu. Ini akan menjadi perjalanan yang sangat panjang. Karena pantai Haeundae letaknya cukup jauh. Jira sebenarnya tidak suka tangan Jinki memegang pingangnya. tapi benar-benar padat dia juga takut tiba-tiba saja bus berhenti bisa dipastikan dia akan tersungkur kebawah. Jira menengadah kepalanya keatas menatap Jinki “Aku lelah” adunya lagi. “Sebentar lagi” Jinki membisikkan kalimat itu didaun telinga Jira. Membuat Jira merinding geli. Setelah itu dia tidak berkata apalagi,Jinki pun tersenyum geli berhasil mengoda Jiranya.

.

.

.

“Apa harus berjalan lagi?” Kesal Jira. Jira lelah berdiri dua jam di Bus dan sekarang Jinki berkata mereka harus berjalan sebentar. Walaupun berkata sebentar tapi Jira tak percaya ucapan Jinki karena dirinya tidak mendengar suara ombak. “Sebenarnya kita mau kemana sih?”

“Aku lelah ”

Jinki mengelengkan kepalanya wajahnya terlihat frustasi pasalnya dari tadi Jira terus berucap tak henti “Sebentar lagi,Okay! Bersabarlah. Gunakan kakimu untuk berjalan” Jira tak mau,dia malah diam tak bergerak saat Jinki sudah melanjutkan perjalanannya. Jinki berhenti saat tahu Jira tak ada dibelakangnya mengikuti “Ayolaaah~”

Jira mengelengkan kepalanya tak mau. Jira sudah duduk diaspal itu. Gadis itu kembali cemberut “Aku haus” isaknya “Sunbae aku capek”

Selanjutnya, di jam yang lain Jinki bosan menunggu Jira dan membujuknya “Kau mau disini hingga sore?”

Jira menggelengkan kepalanya. Gadis itu terisak pelan Jinki membentaknya kasar “Kalau bukan karena aku suka sama kamu,sudah aku tinggali kamu” Jinki tak bisa menaham amarahnya. Batas amarahnya sudah lewat.

Hening

Jinki baru tersadar apa yang diucapkannya.Jira pun berhenti menanggis setelah mendengar itu. Jira menatap kedua mata Jinki, Jinki wajahnya sudah berwarna merah malu.Jinki membalikan badannya.menggigit bibir bawahnya hingga memerah.

Srek srek

Terdengar suara sapuan pada rok Jira,Jira membersihkan roknya dirinya tersenyum lebar saat tahu ternyata Sunbaenya ini menyukai dirinya. “Ayo” ucap Jira.

Jira berjalan didepan sedangkan Jinki di belakangnya. Mereka berjalan santai, hanya terdengan gesekan tas mereka pada tali pinggang mereka masing-masing. Jira kembali menerawang, dirinya kembali tersenyum menggingat hal tadi

“Jadi kau menyukai ku. Ya?” Jinki yang berada dibelakang bisa mendengarnya. Tapi dia juga tak menjawab malah membuang mukanya.

Cuaca berubah menjadi mendung bertanda akan hujan dan benar hujan turun. Jinki segera menarik Jira, Jira dibuat binggung hingga Jinki berucap “Hujan” Airpun turun dari langit. Mereka berdiri di pohon yang tidak cukup menampung mereka. Pohon itu tidak cukup tinggi menampung mereka dahannya juga tak lebat sehingga Jira yang disebelah Jinki terkena tetesan air hujan.

Jinki memeluk gadis itu, mereka sudah basah setiba di pohon. Jira mendonggak menatap Jinki “Bagaimana ini?” Jinki menguatkan pelukannya setidaknya mereka tidak akan kedinginan. Dan tersenyum menyakinkan semuanya baik-baik saja.

Air hujan turun semakin banyak,Jinki mengakhiri pelukan mereka. Mencari-cari di dalam ranselnya. Ah dia menemukan baju olahraganya “Pakai ini” Jujur Jinki tidak bisa melihat Jira kedinginan dipelukkannya. Jinki membantu Jira memakaikan baju itu. Merapikan rambutnya, mengecup mesra jidat Jira “Kau kedinginan?” Jira menganguk dan menghambur kepelukan Jinki “Bagaimana Jika hujannya tidak berhenti?” tanyanya. Mereka yang saling menatap,membuat keduanya tersenyum. Jinki tak tahan jika tidak mengecup bibir merah Jira yang terbuka “Aku akan menidurimu” Goda Jinki.

“Ish, Pria mesum” Jira ,melepaskan pelukan mereka tapi Jinki tak ingin berakhir dengan Jira yang merajuk. Dia menarik kembali Jiranya “Aku kan sudah bilang sayang,aku nggak mungkin ngerusakin orang yang aku sayangi”

“Gombal” Jira mencolek dagu Jinki,Jinki tertawa dibuatnya. Mereka kembali saling menatap tangan Jira tidak lagi terlepas tapi ikut melingkar dipinggang Jinki “Kamu lupa sama aku?”

Jira diam tidak menjawab,tangannya bermain di kancing-kancing baju Jinki tidak melepasnya hanya mengelus kancing-kacing itu. Sampai Jinki sedikit mengoyangkan pelukan mereka membuat Jira juga tertawa terkikik didada bidang Jinki “Aku ingat” akunya

“Tapi aku tetap enggak kenal sama kamu” ucapnya sedih. Waktu itu mereka hanya saling berpandang tanpa berucap yang berakhir dengan senyuman. Jira tidak berani mendekati Jinki yaitu senior di sekolahnya. Sedangkan Jinki dia bukan laki-laki yang cukup pemberani untuk mengakui perasaannya. Dirinya sudah berusaha mendekati Jira tapi sangat susah mencapainya.

.

.

.

Mereka berjalan bergandengan tangan. Membiarkan angin mengeringkan baju mereka. Hingga sampai di pantai, Jira melepaskan genggam mereka “Huaa~Cantik sekali. Jinki” Pukul lima sore,Mereka tiba di Pantai Haeundae. Terang saja matahari seakan memenuhi tempat itu. Jinki mengakui pemandangan yang dilihatnya tak kalah cantik. Jiranya tersenyum senang,membuat Jira semakin manis dimatanya.

Jinki menyatukan jari-jari mereka kembali “Kita kesana sebentar” menunjuk kelontongan yang menjual cendramata dari pantai Haeundae , Jira mengikuti Jinki.

Jinki membelikan dua baju couple berwarna kuning yang bergambar LOVE. Jinki dan Jira terlihat lebih baik dari sebelumnya. Mereka keluar dengan senyum mengembang.

“Kamu duduk disana dulu” Jinki menunjukkan bangku kosong panjang di pinggir pantai dan menyerahkan air putih. “ Iya”

“Kamu mau kemana?” tanyanya lagi. Jinki memegang kedua telinga Jira dan bibirnya mengecup pipi Jira yang halus “Sebentar,nanti aku kembali lagi” Pipi Jira memerah malu dan dia mengangguk malu.

Jira tersenyum senang  melihat kedepan. Dirinya benar-benar menyukai pemandangan ini. Jira mengigit ujung pipet dengan bibirnya mengoyangkan badannya pelan mengikuti irama didalam hatinya.Jinki yang melihat kembali tersenyum geli, Jiranya bertambah manis saja.

“Ini” Sebuah kotak kecil,Jinki meletakkan ditangan Jira. Jira mengerti tapi kembali bertanya “Apa ini?”

“Buka aja”

Benar sebuah kalung,Jira terharu melihatnya “ Cantik sekali” pujinya. Jinki mengambil kalung itu memakaikan pada Jira dan sedikit berbisik pelan hanya mereka yang mendegarnya “Kamu mau jadi pacar, Aku?” Jira terdiam menatap Jinki.  Tapi dia langsung memeluk Jinki dan mengangguk dalam pelukan Jinki. Jinki mengelus punggung Jira dengan sayang. Jira berucap “Terimakasih sudah memilih aku”

“Karena Aku sayang kamu”

When love walk in.

Admin Note: Maaf, aku cuma mau ingetin. Main cast ditulis jelas ya, di atas soalnya cuma di tulis JJ😀

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

4 thoughts on “PDKT

  1. Ceritanya terlalu ngebut. Terus tanda bacanya perlu diperhatikan lagi. Bukannya sotoy, cuman bacanya jadi agak bingung.. Ditingkatkan lagi Thoorr…😀

    Salam Terang,
    Sihyun😀

  2. Ceritanya bagus, tapi … Mmmmm bahasa yang author pke terlalu kaku dan sedikit membosankan. Tapi ni menurut aku.

    Over all – Good Job

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s