The Destiny – Part 10

The Destiny [Part 10]

Tittle                : The Destiny

Author             : Lee Hana

Main cast         : Kim Kibum, Rika Wibowo and Lee Jinki

Support Cast    : Lee Taemin, Kim Jonghyun and Shim Jungeun.

Genre               : School Life, Frienship, and Romance

Length             : Sequel

Rating              : T

Summary         : “Yang berbicara dengan ayahmu itu ayahku,” ungkap Rika membuat Kibum terkejut setengah mati.

Note                 : Tulisan bahasa Indonesia yang bercetak miring dan berada di dalam kalimat langsung berarti mereka berbicara menggunakan bahasa Indonesia yang sebenarnya.

♛♛♛

Kreek!

Jinki telah membukanya terlebih dahulu. Namja itu melihat Rika yang telah dipenuhi dengan peluh. Bahkan dari tempatnya berdiri ia bisa dengar deru napas Rika yang terengah. Tapi ia tak peduli. Jinki hanya berlalu menuju motornya dengan wajah datar.

“Oppa!” panggil Rika seraya menatap Jinki penuh harap.

Jinki tak bergeming. Beberapa saat kemudian ia melihat motor itu melaju menuju jalanan. Rika mengambil napas dalam-dalam dan masuk ke dalam rumahnya. Dari tempatnya berdiri, ia lihat ayahnya tengah duduk di sofa tanpa melakukan apapun.

“Apa yang Papa katakan padanya?”

 

“Tentu saja kebenaran. Papa tak mau memberinya harapan kosong.”

Rika mulai mengucurkan air matanya, sesaat kemudian ia berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya. Menangis di sana semalaman.

______

Taemin melihat hyung-nya berjalan dengan langkah cepat. Wajahnya terlihat penuh amarah, dan sesaat kemudian  ia bahkan membanting pintu kamar ketika memasukinya. Untuk kali ini pun Taemin merasa khawatir. Untuk kesekian kalinya ia memasuki kamar hyung-nya. Sama seperti kemarin, ia melihat Jinki tengah berbaring di atas ranjang dengan posisi membelakanginya.

“Hyung, kali ini apa lagi?”

Jinki pun duduk. Ia menatap Taemin dengan matanya yang terus saja mengeluarkan air mata. Bola matanya sudah tampak merah, sedangkan wajahnya tampak lelah. Napasnya tak teratur karena tangisnya yang terisak.

“Rika. Dia telah dijodohkan dengan orang lain, Taemin,” ujar Jinki seraya menahan tangisnya beberapa saat.

Taemin terdiam sesaat untuk berpikir. “Hyung, sebenarnya …, kemarin aku melihat Rika berpelukan dengan namja lain di depan gerbang saat ingin pulang.”

Tiba-tiba Jinki menghentikan tangisnya. Kini matanya hanya ia pekerjakan untuk menatap wajah Taemin yang tampak sedih. Ia berusaha mencari celah kebohongan dari ekspresinya, meski nihil. Jinki merunduk dan berpikir keras. Baginya, apa mungkin selama ini Rika telah mempermainkannya? Sesuatu yang pernah ia lakukan pada Kibum. Tetapi ini jauh lebih kejam.

“Siapa dia, Taemin?”

Andwe. Aku rasa kita tak mengenalnya. Aku hanya melihatnya dari jauh, Hyung. Jadi, aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas.

______

Bingung. Rasanya kepalanya ingin pecah saat ini juga. Rasanya sakit. Lingkar hitam di bawah mata serta sembabnya terlihat jelas. Tanda yang muncul karena gadis itu semalaman menangis dan tak bisa berhenti berpikir. Otaknya buntu, ia bahkan tak tahu apa yang benar-benar harus ia lakukan. Di satu sisi ia tak mau menyakiti Jinki dan di sisi lainnya ia tak mau mengecewakan ayahnya.

Mungkin saat ini yang bisa ia lakukan hanya meminta maaf pada Jinki. Tapi, melihat sikapnya tadi malam ia tak yakin Jinki akan mau bicara padanya. Apa dia memang begitu marah pada Rika?

Aku akan mencobanya. Aku harus bicara pada Oppa. Aku harus meminta maaf padanya.

 

Gadis itu mulai berdiri dari kursinya setelah lama menggeletakkan kepalanya pada meja. Ia berjalan keluar kelas. Ia tampak cemas. Tapi apa gunanya kecemasan itu jika hanya menghambat langkahnya dan membuatnya semakin ketakutan. Rika hanya berusaha memantapkan hatinya.

Ia menghentikan langkahnya di depan kelas Jinki. Jantungnya mulai berulah. Ia benar-benar gugup. Dari tempatnya berdiri ia melihat Jinki tengah membaca bukunya dan Jonghyun yang tengah memainkan PSP-nya. Mereka berdua tampak sangat sibuk dengan kegiatan masing-masing—membuat Rika semakin ragu.

Rika melangkahkan satu kakinya untuk memasuki kelas lalu ia tarik kembali. Ia menggigit bibir bawahnya, sedangkan kedua tangannya menyatu dan berdoa. Berharap salah satu dari mereka melihatnya.

Doanya terkabul. Jonghyun melihatnya setelah ia mematikan PSP-nya. Tanpa mengatakan apapun dia menatap Rika dan menunjuk Jinki yang masih sibuk dengan jempolnya. Jonghyun bertanya padanya dengan suara kecil yang tak sampai pada pendengarannya. Rika hanya melihat gerak bibir Jonghyun dan mengangguk. Ia dapat menangkap bahwa kata yang Jonghyun ucapkan adalah ‘Jinki’.

“Yah!”

Jinki tetap membaca bukunya tanpa mengalihkan pandangannya meski hanya untuk sesaat. “Hm.”

Yah, Rika mencarimu.”

“Aku tahu.”

“Tahu? Kalau begitu temui dia!”

“Aku sudah tak ada urusan lagi dengannya. Kalau kamu mau, kamu saja yang menemuinya.”

Jonghyun melirik ke arah Rika dan memperhatikan wajahnya, kemudian berusaha merajuk Jinki lagi. Ia melihat wajah Rika yang tampak pucat membuatnya tak tega.

“Jinki, Rika terlihat pucat. Kamu tak kasihan padanya? Setidaknya temuilah dia dan bicarakan masalahmu dengannya!”

Kali ini Jinki tak mengatakaan apapun. Ia hanya menghujamkan tatapan tak sukanya pada Jonghyun yang terlihat sudah terlalu ikut campur di matanya.

“Arasseo.” Jonghyun mendengus kemudian berdiri. Berjalan menemui gadis yang masih menetap di depan kelasnya.

Berada di hadapan gadis itu Jonghyun hanya  memajukan bibir bawahnya sambil menggeleng. Ia melihat Rika kasihan. Ia tak tahu apa masalah yang mereka dua hadapi, tapi melihat keadaan wajah Rika yang seperti sekarang dan sikap Jinki yang berubah acuh, ia tahu itu bukanlah hal mudah.

Rika merunduk sebentar dan menghela, kemudian kembali mengangkat kepalanya dan menatap lawan bicaranya. “Jong Oppa, tolong katakan aku minta maaf padanya.”

“Ne. Aku pasti akan katakan pada Jinki. Tapi Rika, bisakah kamu memberi tahuku apa yang terjadi pada kalian? Dia hanya mengatakan kamu membohonginya.”

“Ya, itu memang benar. Tapi aku juga tak bisa mengatakannya padamu. Mianhaeyo.

“Begitukah? Sepertinya masalahnya sangat serius.”

“Kalau begitu aku pergi dulu. Sampai jumpa.”

Rika berjalan lemas dengan tundukannya. Sedangkan Jonghyun menatapinya dengan padandangan kasihan. Kasihan padanya dan juga pada Jinki. Ia mengacak-ngacak kepalanya karena penasaran kemudian memasuki kelasnya kembali.

______

“Minho, haruskah aku kabur?” tanya Kibum yang menyandarkan kepalanya pada meja kelas. Sedangkan kelas tengah kosong. Membuatnya leluasa untuk mencurahkan isi hatinya.

“Mwo?! Kabur ke mana?”

“Ke rumahmu. Rumah Jonghyun. Rumah Taemin. Kemana sajalah, asalkan aku tak ikut pertemuan malam ini. Bolehkah aku menginap di rumahmu malam ini?”

“Kamu itu kenapa berubah bodoh? Jika di rumahku dan di rumah yang lainnya tentu saja tak sampai lima menit kamu sudah ketemu.”

“O, iya, benar juga.”

“Bukan benar juga. Benar sekali.”

“Lalu apa yang harus aku lakukan?” Kibum terlihat semakin frustasi.

“Sebenarnya apa yang membuatmu begitu ingin membatalkannya? Kamu bahkan tak tahu bagaimana orangnya.”

“Aku hanya tak mau. Aku ingin jatuh cinta dan menikah dengan cara yang umum. Lagi pula aku tak akan menyukai gadis itu karena aku menyukai Rika. Itu percuma saja.”

“Mana kamu tahu jika kamu tak mencobanya. Siapa tahu gadis itu juga bisa membuatmu jatuh cinta dan melupakan Rika. Kamu tahu kan Rika itu yeojacingu-nya Jinki Hyung? Apa kamu masih berharap mendapatkanya?”

Kibum mengangkat kepalanya dan menatap Minho dengan kesal. “Yah, Minho! Kamu itu sahabatku atau sahabat orang tuaku?! Kenapa kamu seakan mendukung mereka?! Kamu diberi uang berapa sih oleh mereka hingga mau membujukku seperti ini?!”

Yah, Kibum. Aku itu sahabatmu, karena itu aku mau kamu tak berlarut-larut dalam perasaanmu yang fana itu dan sakit pada akhirnya. Aku juga tak menerima uang dari orang tuamu. Begini-begini orang tuaku masih sanggup memberikan aku uang jajan yang cukup,” jawab Minho tenang.

“Arasseo.”

______

Seseorang baru saja memarkirkan mobilnya di hadapan sebuah mobil sedan mewah dengan posisi berhadapan. Orang itu melihat seseorang yang tengah berdiri di depan pintu mobilnya dari samping. Sama-sama memarkirkan mobil dari tempat yang tak jauh dari sang gerbang berada.

“Hyunsoo.”

Orang itu keluar dari mobilnya dan menghampirinya. “Hyunsoo, kamu menjemput putramu juga?”

“Handi? Tentu saja. Aku takut dia akan kabur jika aku tak menjemputnya. Dia terlihat tak begitu setuju dengan perjodohan ini. Bagaimana dengan putrimu sendiri?”

“Pada awalnya dia juga tak bisa menerimanya, tapi sekarang dia sudah bisa menerimanya.”

“Baguslah kalau begitu.”

Keduanya melihat ke arah kumpulan anak yang tengah berjalan agar jarang dari tempat mereka berdiri. Tuan Kim menemukan orang yang ia cari.

“Handi, lihat! Itu anakku,” ujar Tuan Kim menunjuk namja tinggi berkulit putih yang berwajah muram. Ia tengah berjalan bersama seorang gadis di sampingnya.

“Yang mana?”

“Itu yang tinggi dan berjalan dengan seorang gadis.”

Mata Tuan Wibowo terbelalak. “Itu?!” Tuan Wibowo menunjuk ke arah Kibum.

Tuan Kim mengangguk semangat.

“Di samping anakmu adalah anakku. Jadi, anak kita sudah saling mengenal? Mereka terlihat cukup dekat jika mereka pulang bersama-sama.”

Secercah harapan menghiasai senyuman mereka. Mereka semakin optimis bahwa perjodohan ini akan berhasil dengan baik.

“Handi, tolong rahasiakan masalah perjodohan ini sampai nanti malam, ya? Sepertinya aku ingin memberikan kejutan pada Kibum nanti malam.”

“Tentu saja.”

Tuan Kim melambai pada anaknya.

______

Kibum dan Rika berjalan bersama dari kelas. Pulang bersama sudah menjadi kebiasaan  mereka sekarang. Tapi tak seperti biasa yang penuh dengan obrolan ringan serta tawa riang. Ini keduanya hanya menatap jalan dengan wajah muram dan langkah lemas. Tak menatap satu sama lain. Hanya memikirkan masalah mereka sendiri.

Langkah Kibum terhenti ketika mereka hampir mencapai gerbang, dan Rika pun berhenti juga. Ia memandang ke arah Kibum yang tengah melihat sesuatu. Tepat di hadapannya. Rika menatap ke arah pandangan Kibum. Seorang laki-laki paruh baya yang tengah bercengkerama dengan seseorang yang ia kenal, sedangkan mata Rika lebih tertuju pada ayahnya.

“Appa?” gumam Kibum tapi cukup dapat didengar oleh Rika.

“Appa? Yang pakai kaus cokelat panjang itu ayahmu?”

“Ne.”

“Yang berbicara dengan ayahmu itu ayahku,” ungkap Rika membuat Kibum terkejut setengah mati.

“A-ayahmu? Jadi, ayah kita saling kenal?”

Rika menggeleng. Ia tak yakin dengan pikirannya. Tapi jika dilihat mereka memang terlihat akrab.

Tuan Kibum melambaikan tangannya pada Kibum, membuat Kibum dengan terpaksa berjalan ke arahnya, diikuti Rika yang berada di belakangnya. Mereka menghampiri ayah masing-masing.

Kibum segera berdiri di samping ayahnya, sedangkan Rika mencium tangan ayahnya terlebih dahulu sebelum berdiri di sampingnya.

“Kibum, kenalkan ini teman lama Appa. Namanya Handi Wibowo.”

“Anyeonghaseyo, Ajussi. Naneun Kim Kibum imnida. Senang bertemu dengan anda,” sapa Kibum seraya membungkuk memberi hormat.

“Anyeonghaseyo, Kim Kibum. Dan Rika beri salam juga pada Tuan Kim!” perintah Tuan Wibowo.

“Anyeonghaseyo, Ajussi. Naneun Rika Wibowo imnida,” sapa Rika. Sama seperti Kibum, Rika juga membungkuk memberi hormat.

“Anyeong, Rika. Nanaeun Kim Hyunsoo imnida,” sahut Tuan Kim dengan senyumannya. Ia telihat sangat ramah. “Jadi, apa kalian sudah saling kenal?”

“Dia teman sekelasku, Appa.”

“Kami bersahabat, Ajussi,” timpal Rika kemudian tersenyum tipis. Berusaha memberi kesan baik pada teman ayahnya.

“O, begitu. Jadi, kalian sangat dekat, ya?” tanya Tuan Kim lagi.

“Tidak juga, Appa.

“Hyunsoo, sebaiknya aku harus pulang sekarang. Sampai jumpa lagi.”

“Anyeong, Ajussi,” pamit Rika.

“Anyeong, Rika.”

 

Keduanya memasuki mobil mereka dan pergi telebih dahulu meninggalkan Kibum dan Tuan Kim yang masih berdiri di samping mobil mereka.

“Appa, apa Rika orangnya?” tanya Kibum serius.

Mwo? Kenapa bisa berpikir seperti itu?”

Andweyo. Perasaanku yang mengatakannya.”

“Itu rahasia, Kibum. Tunggu hingga nanti malam, ara? Bukankah kamu juga tak peduli dengan gadis itu? Kenapa membahasnya sekarang?”

“Lupakanlah, Appa.”

 

______

“Kibum, apa kamu sudah siap?” tanya seseorang seraya membuka pintu kamar Kibum setelah mengetuknya beberapa kali. Dilihatnya Kibum tengah mengancingkan tuxedo-nya. Ia terlihat rapi dan gagah.

“Ne, Eomma,” jawab Kibum tak bersemangat.

 

Nyonya Kim melihat ekspresi muram Kibum ketika menjawab pertanyaannya. “Kenapa ekspresimu begitu, Kibum?”

 

Eomma, bukankah Eomma sudah tahu jawabannya? Aku tak menyukai perjodohan ini.”

“Tapi, kamu pasti menyukai calon isterimu itu.”

Mwo? Calon isteri? Kenapa Eomma bisa berpikir sejauh itu? Lalu dari mana Amma bisa begitu yakin aku akan menyukainya?” Kibum mulai merasa curiga.

“Bukankah perjodohan itu berakhir dengan pernikahan? Dan kenapa Eomma yakin? Tentu karena dia cantik dan baik,” jawab Eomma sekenanya. “Kamu sudah siap, kan? Kalau begitu ayo kita ke bawah! Appa-mu sudah menunggu kita di sana.”

Kibum berjalan menyusuri tangga dengan karpet merah di atasnya. Di bawah sana, ia memang melihat appa-nya tengah menunggunya.

“Baiklah, sepertinya semua sudah siap. Ayo kita pergi sekarang!”

______

“Ma, aku sudah siap.”

Semuanya menatap Rika yang tengah memakai gaun selutut berwarna merah hati yang senada dengan pita kecil yang terjepit di rambut panjang terurainya. Sedangkan sepatu ballet dan gelangnya memiliki warna senada, hitam. Ketiga sosok manusia yang tengah berada di tempat masing-masing—

mata mereka menatap lekat ke arah Rika. Sedangkan Rika malah menatap ke arah adiknya yang hanya memakai kaos dan celana jeans selututnya.

“Risa, kenapa kamu berpakaian seperti itu?”

 

“Apa yang Kakak bicarakan? Aku kan tidak ikut. Bukankah pertanyaan itu yang harusnya diperuntukan untuk Kakak?”

 

“Ada apa dengan pakaianku?” tanya Rika heran seraya melihat ke bawah. Melihat ke arah baju dan sepatunya.

 

“Apa bedanya cara berpakaian Kakak ketika ingin berpergian dengan acara formal seperti ini?”

 

“Masih ada waktu. Setidaknya kita harus merias wajahmu dulu di salon.” Kini Nyonya Wibowo ikut angkat bicara.

“Mama tahu kan aku tak suka ke salon untuk dirias? Aku tak suka riasan tebal,” protes Rika kemudian menghentakkan kaki kananya dengan wajah kesal.

“Risa, kenapa tak ikut?” Menatap ke arah adiknya dengan pandangan tajam.

 

“Kak, apa yang harus aku lakukan di sana? Aku pasti akan sangat bosan mendengar perbincangan para orang tua tentang rencana perjodohan konyol Kakak.”

 

“Sayang, sebaiknya kamu sekarang merias wajah Rika. Tak perlu ke salon. Itu terlalu memakan banyak waktu,” perintah Tuan Wibowo.

“Baiklah.”

Rika digiring ke kamar ibunya dan duduk di depan meja Rias. Wajahnya tampak begitu kesal.

Ini sangat merepotkan.

______

Di dalam mobil Kibum hanya menatap ke luar jendela. Melihat lampu-lampu jalan yang terang serta toko-toko yang berjejer di sana. Ada juga pejalan kaki yang masih berlalu lalang. Itu adalah pemandangan yang sangat membosankan baginya.

Kibum menghela. Ada sedikit rasa penasaran yang membayanginya, tapi ia lebih memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia teringat kata-kata Minho tadi siang. Apa ia akan benar-benar jatuh cinta pada gadis itu? Apa ia akan benar-benar melupakan Rika. Ya, ia tahu Rika tak mungkin jadi miliknya, karena dia memiliki Jinki Hyung.

Ini sudah terlanjur. Aku harap gadis itu benar-benar bisa membuatku melupakan perasaanku terhadap Rika. Aku tak mau lagi menyakiti Rika atau Jinki Hyung. Yah, aku harap ….

 

Mobil sudah berhenti dan mereka keluar. Memasuki pintu kaca otomatis di hadapan mereka. Berbeda dengan keadaan di luar yang gelap yang dominan gelap, sunyi dan sepi. Di dalam restoran itu sangat terang, ramai dan sedikit berisik. Terlihat para tamu yang duduk tenang di tempatnya. Beberapa ada yang hanya duduk-duduk santai sambil mengobrol, ada juga yang dengan tenang makan bersama rekan kerja, teman, keluarga, atau pasangan mereka. Para pelayan juga terlihat sibuk mondar mandir dengan nampan di tangan kiri mereka, atau benda lainnya seperti buku resep dan buku untuk mencatat pesanan..

Tuan Kim menuntun keluarganya untuk memasuki retoran lebih dalam dan berhenti sebentar di antara para tamu. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh restoran untuk menemukan orang yang ia cari. Tuan Kim mulai berjalan kembali dengan Kibum dan isterinya yang mengekori.

Dari tempatnya Kibum dapat melihat seseorang yang tengah duduk pada sebuah sisi meja besar. Ia lihat ada tiga orang yang duduk membelakangi mereka. Salah satu dari mereka adalah seorang gadis yang tengah duduk diapit oleh orang tuanya. Sayangnya Kibum tak bisa melihat wajahnya.

Mereka terus berjalan lebih dekat dan berhenti ketika dia dan keluarganya telah berada di samping mereka. Kini dengan sangat-sangat jelas Kibum bisa melihat wajahnya, serta dua orang tua yang sebaya dengan orang tuanya. Mereka bertiga berdiri serentak dan membungkuk kecil di hadapannya.

Kibum terlihat begitu terkejut melihat gadis di hadapannya yang juga menatapnya. Ia sudah terlalu sering melihatnya untuk tidak mengenalinya meski penampilannya berbeda. Ia memang cantik, dan sekarang jauh lebih cantik, dan juga anggun. Untuk pertama kalinya ia melihat Rika memakai gaun. Tapi, bukan itu pokok permasalahannya. Gadis ini adalah gadis yang ia cinta tapi tak boleh ia cintai, karena gadis ini adalah kekasih sahabatnya. Itu yang ia tahu. Kibum hanya bisa berdiri kaku tanpa berkedip.

“Kibum?”

Rika pun memiliki ekspresi yang tak jauh berbeda. Hatinya serasa mencelos dari rongga dadanya. Bagaimana bisa ia mengalami hal rumit ini?

“Appa, jadi …, tebakanku benar.” Kibum bicara tanpa mengalihkan pandangannya pada Rika.

“Ini kejutan untukmu.”

“Ini tak lucu dan tak menyenangkan.” Kali ini Kibum menatap ayahnya dengan serius.

Rika dan kedua orang tuanya sangat jelas mendengarnya. Suasana seketika berubah menjadi kaku. Melihat perubahan ekspresi Kibum yang drastis.

“Kalian sebaiknya duduk dulu,” ujar Tuan Wibowo mempersilakan.

Tuan Kim menggandeng tangan Kibum utuk segera duduk. Anak itu terlalu kaku hingga sulit untuk bergerak. Tatapannya lekat melihat Rika, sedangkan Rika, ia hanya menunduk diam. Kepalanya hanya terus dipenuhi dengan pemikiran-pemikiran: bagaimana perasaan orang-orang di sekitarnya jika mengetahui kenyataan ini. Bagaimana perasaan Jinki dan banyak hal lagi yang membuat kepalanya bekerja keras.

Mereka telah duduk rapi di tempat masing-masing. Ya, kedua anak mereka masih tak bicara hingga sekarang. Ini diluar dugaan. Apalagi kalimat yang Kibum lontarkan barusan, itu membuat para orang tua cemas, bukan hanya orang tua Kibum, tetapi juga orang tua Rika.

“Ehem, Rika kamu kan satu kelas dengannya. Bagaimana sikap Kibum di sekolah?” Tuan Kim berbasa-basi untuk menghilangkan kekakuan. Ia tersenyum kecil kepada Rika.

“Dia siswa yang baik. Dia juga rajin dan juga pintar.”

“Benarkah? Aku dengar kamu juga pintar,” tanya Tuan Kim lebih lanjut.

“Tak sepintar Kibum, Ajussi.

Meski sudah pertanyaan terlontar untuk Rika itu terlihat tak membantu mencairkan perasaan Rika ataupun suasana ini.

Appa, berhentilah! Itu tak berguna,” celetuk Kibum serius membuat Tuan Kim diam.

“Rika, kamu setuju? Kamu setuju dengan perjodohan ini?” tanya Kibum serius pada Rika.

“Aku ….” Rika sudah tak bisa meneruskan kata-katanya lagi, padahal para orang tua begitu cemas mendengar jawaban yang akan diberikannya.

Appa, Amma, ingat apa yang aku ceritakan tentang yeojacingu Jinki Hyung?”

Kedua orang tua Kibum mengangguk, Tuan Wibowo dan Nyonya Wibowo saling memandang. Mereka tahu siapa yang Kibum maksud–membuat mereka sangat tidak tenang, sedangkan Rika menegang.

“Rikalah orangnya.”

Serentak kelima orang itu terbelalak menatap Kibum. Mereka tak menyangka Kibum mengatakan hal itu.

Ajussi dan Ajumma, saya mau mengakui sesuatu. Sayalah orang yang membuat anak kalian sakit dan pingsan beberapa waktu lalu.”

To be continued….

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

12 thoughts on “The Destiny – Part 10

  1. 키 mengaku langsung di depan orang tua Rika. Itu tindakan yang berani atau dapat dikatakan salah. (˘_˘” )( “˘_˘)
    Key Key, kasihan sekali dia. Begitu pula JinKi dan Rika (˘_˘” )( “˘_˘)

  2. Author-ssi,
    sebenernya kamu gak boleh pake tanda baca dobel. ‘?!’ kayak gitu.
    Dan ada beberapa typo dikit, tapi gak berpengaruh sih.
    Tapi ceritanya keren kok! Bikin penasaran,
    fighting Author-ssi! Aku tunggu lanjutannya ^^;;;

  3. Kibum langsung mengaku di depan orang tua Rika dan orang tuanya…
    Huwaaa… aku penasaan selanjutnya >,<

  4. aaiiihh… karena mo lebaran telat baca deh..😀

    karena omongan Taemin, Jinki jadi salah paham. Dikira Jinki, si Rika mainin dia gara2 pelukan sama Randi. 0_0

    Ternyata Kibum-Rika saling dijodohkan. Kenapa Kibum keberatan? bukannya Kibum seneng karena dia dijodohin dengan gadis yg dia sukai..

    Ok Hana, ditunggu lanjutannya ya..🙂

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s