Beautiful Stranger [Chapter Ten]

Beautiful Stranger

SENA

AKU berlari menaiki tangga sesampainya di rumah. Membanting pintu kamar, bersandar di baliknya dan menangis keras. Aku marah pada diri sendiri juga pada situasi. Mengingat kembali bagaimana Kris membopongku paksa untuk pergi dari Lotte World tadi sangat memalukan! Bukan malu dilihat banyak orang, tapi aku malu pada Kris. Aku menangis bukan karena rencanaku hampir gagal ataupun mengetahui kenyataan bahwa Kris melihatku mencium Jinki, sungguh aku tidak lagi menaruh perasaan padanya. Aku menangis karena ia melihatku menjadi seperti ini. Ia melihat sisi jahatku. Sekarang aku tak berbeda jauh dari Jiyul di hadapannya.

Aku menumpahkan seluruh kemarahanku di pundaknya dengan menangis keras. Tidak peduli orang-orang memperhatikan, aku terlalu marah hingga air mata merembes begitu saja. Bagian mengecewakan dari ini semua adalah Jinki melihatku menangis. Ia menyaksikan air mata pertamaku di Seoul sekembalinya kemari.

Dan aku berani bersumpah melihat segurat kekecewaan di wajahnya saat Kris membawaku pergi. Dia berdiri mematung di tempat dengan pandangan lurus tertuju padaku. Seperti ada trauma mendalam terpancar dari kedua mata kecilnya. Aku juga sempat melihatnya bergidik ketika melewati pintu masuk Lotte World ketika kami datang. Apa ini semua ada hubungannya dengan masa lalu Jinki?

Aku tak peduli kalau ia membenciku ketika mengetahui kalau ia dimanfaatkan seperti ini. Bersyukur sekali kalau pada akhirnya kontrak-budak-tak-resmi itu berakhir ‘kan? Jinki yang malang…

JINKI

Kau tahu…

Aku seperti lumpuh. Tak ada reaksi maupun aksi terhadap apa yang sedang terjadi. Kedua mataku menangkap punggung Kris dengan Sena di atas bahunya yang menangis sangat keras. Perlahan-lahan mereka menjauh, mengecil, suara tangisnya tersamarkan oleh kebisingan jingle andalan Lotte World.

Aku pernah berdiri di sini tiga tahun lalu. Bedanya, aku merengkuh gadis yang kucintai. Tetapi yang kurengkuh hanya raganya, hatinya milik orang lain. Tak pernah membayangkan sedikit pun kalau hal itu kembali terulang. Kali ini aku tak merengkuh raganya begitupula dengan hatinya.

Lee Jinki sudah gila. Aku tahu itu. Tapi aku baru sadar satu hal…

Aku menyukai Kim Sena. Dan ini buruk. Lebih buruk dari apapun di dunia ini. Sainganku bukan lagi si visual Choi Minho dari SHINee, tapi Kris Wu, pemimpin grup EXO-M yang juga memiliki peran lain sebagai rapper dan pembidik hati penggemar hanya dengan sekali tatap. Tidak, ini bukan minder. Aku juga memiliki kelebihan yang sudah diakui publik. Aku bernyanyi seratus kali lipat lebih baik dibandingkan si pria-hampir-dua-meter itu.

Seperti ada bola besi sepuluh kilogram tak terlihat terpasang di kedua kaki, aku menyeret keduanya untuk kembali ke dorm. Para manajer akan membunuhku sesampainya di sana karena membatalkan jadwal sesuka hati. Itu artinya gajiku bulan depan akan terpotong banyak.

Pintu dorm sudah di depan mata, tapi aku enggan memasukkan jari ke mesin finger print dan membukanya. Pikiranku banyak tapi saat ini hanya fokus pada satu hal. Tatapanku kosong, pipi terasa terbakar. Napas juga tidak begitu baik.

Hyung?” Kim Jonghyun datang dari belakang dan mencengkeram lenganku. “Pucat sekali. Kau baik-baik saja?”

Aku mengangguk. Terlalu malas mengeluarkan suara. Jjong memasukkan telunjuknya hingga terdengar bunyi klik pelan sampai pintu terbuka sedikit. Ia menarik pintu mengayun keluar. Aku berjalan mengikuti di belakangnya memasuki asrama.

Hyung, kau punya jadwal dengan Taemin ‘kan? Apa yang sedang kau lakukan di sini?” tanyanya lagi.

Aku melengos menuju kulkas. Mengeluarkan sekarton susu, menuangkannya ke mangkuk, dan mencampurkan beberapa macam sereal ke dalamnya.

Hyung…,” Kibum tiba-tiba muncul di belakang dan mengomel, “…kau bisa sakit perut. Cukup satu merk yang kau makan, jangan dicampurkan semuanya!”

Ia masih berdiri berkacak pinggang ketika aku berjalan melewatinya. Kedua mata JongKey tak lepas dariku, dengan setia mengawasi gerak-gerikku.

Sajangnim mengintimidasimu lagi?” tanya Jjong hati-hati.

Mataku fokus ke televisi, membiarkan kedua bocah tersebut merusak kedua telingaku dengan berbagai pertanyaan. Tak ada satupun yang kujawab, hingga akhirnya Kibum bertanya, “Kenapa serealnya tidak dimakan? Jangan menghambur-hamburkan makanan seenaknya! Kau tahu Minho suka berisik kalau kelaparan tengah malam. Padahal stok makanan kita lebih banyak dibandingkan EXO, tapi masih saja kekurangan.”

Aku meletakkan mangkuk di lantai sangat keras hingga membuat mereka membeku.

“Jangan sebut nama itu!” gumamku.

JongKey terkejut, mereka menghamburku. Aku berusaha melepaskan diri dan pergi dari sana ketika ponselku berbunyi. Seseorang menungguku di bawah. Aku buru-buru berlari ke pintu keluar meninggalkan dua anak di belakang yang tak berhenti berteriak, “Hyung, kau masih belum bisa melupakannya? Ini semua pilihan Jira, bukan sepenuhnya salah Minho. Berhenti membenci Minho!”

“Bodoh! Maksudku EXO,” lirihku. Pintu menutup

***

Tak jauh dari gedung asrama, seorang pria berperawakan tinggi memunggungiku dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Aku mengenalnya. Juniorku.

“Mau apa kau?” tanyaku dingin.

Kris berbalik. “Hyung, maaf mengganggumu lagi.”

“Ganggu sekali. Pulang saja kalau begitu!”

Dia berjalan mendekatiku, cahaya matahari mengenai setengah wajahnya membuatnya semakin tampan. Aku akui itu. Dia amat sangat tampan. Jauh jika dibandingkan dengan visual grup kami yang berwajah khas penduduk lokal. Kris tidak seperti manusia. Dari segi tinggi badan, otaknya yang cerdas, serta goresan karya Tuhan di wajahnya adalah hasil besar! Meskipun saat masa pelatihan dulu aku juga pernah melihatnya sebagai pendatang baru. Anak asing dari Kanada yang tidak memiliki bakat apapun. Perusahaan meloloskannya audisi hanya karena melihat postur tubuh dan tatapan matanya yang tajam. Semua tahu itu sebagai “tipe ideal SM”. Tapi aku tidak iri, tidak sama sekali. Suaranya jelek, seperti langit dan bumi jika dibandingkan denganku.

Sena pernah memacarinya tentunya bukan karena faktor yang kusebutkan tadi semua. Dia tidak peduli dengan penampilan fisik seseorang, pasti ada alasan lain mengapa ia pernah tertarik pada Kris. Karena ketika mereka bersama, aku bisa melihat seperti apa arti Kris di matanya. Tatapannya seperti sedang melihat sosok Guardian Angel. Tetapi memang tak dapat dipungkiri kalau hampir seluruh momen antara aku, Sena, dan Kris, ia selalu datang menolong Sena. Terutama jika ada hubungannya dengan Jiyul. Aku semakin penasaran dengan hubungan mereka semua. Ekspresi Sena berubah semakin kelam ketika mendengar nama Jiyul, mendengar suaranya ataupun melihatnya. Aku bisa merasakan kebencian yang mendalam darinya. Begitupula dengan Kris. Mereka berdua memiliki kadar kebencian tersendiri terhadap Jiyul. Tapi Sena-lah yang paling dalam.

“Jauhi Sena!”

Suara Kris membuyarkan lamunanku. Tatapannya sangat tajam tapi letih.

“Kenapa?”

“Dia memperalatmu.”

Aku mendengus. Lucu sekali membuat alasan bodoh untuk menjauhkan Sena dariku. Usahamu untuk mendapatkan Sena kembali begitu rendahan, Kris.

Ia menambahkan, “Pikirlah, Hyung, sejak awal kedatangannya ia begitu membencimu. Namun dalam waktu singkat ia berubah baik padamu padahal tidak sekali pun kau memperlakukannya dengan baik. Aku tahu kau selalu berlaku kasar padanya. Aku kenal Sena, dia bukan tipe perempuan yang akan jatuh cinta pada tempo yang singkat. Butuh waktu untuk bisa mengubah perasaannya. Jika dia telah mendeklarasikan untuk membenci seseorang, itu berarti untuk selamanya.

Sena memiliki masalah yang pelik sejak ia kecil hingga saat ini dengan Jiyul. Seperti yang kau tahu, Jiyul dua tahun lebih muda darinya, anak dari ayah tirinya. Hubungan mereka sejak pertama kali bertemu enam belas tahun yang lalu tidak pernah baik. Ada beberapa hal yang tak dapat kukatakan karena terkait masalah privasi yang membuat Sena begitu menderita hidup di Kanada saat itu. Kesehatan fisik dan psikisnya sangat tidak baik sampai ia bertemu denganku. Aku dan ibuku, kami berusaha mengobatinya. Rasa bencinya pada Jiyul memuncak karena ia menyebabkan kami berpisah.

Tetapi dengan bertemunya mereka di sini, Sena merencanakan sesuatu. Aku tidak tahu pasti itu apa, sesuai dengan pengamatanku, ia sedang melancarkan aksi balas dendam. Semua orang di perusahaan tahu Jiyul menyukaimu, dan Sena berusaha menjeratmu agar tertarik padanya hanya untuk membuat Jiyul cemburu. Aku tidak memaksamu untuk percaya. Hanya saja demi kebaikanmu sendiri, jauhi Sena!”

Aku mematung. Ceramahnya tadi seperti mantra, menyihir dan melumpuhkan otakku.

“Sena hanya mendengarkan kata-kataku. Dia tidak bisa mempercayai orang lain selain ayahnya dan keluargaku. Jangan buang-buang waktumu dengan menganggap kalau ia tertarik padamu, Hyung. Dia tidak benar-benar menyukaimu. Dia memanfaatkanmu,” tambahnya lagi.

Aku tidak dapat berfikir jernih saat ini. Juga tidak tahu harus mempercayai yang mana antara omongan Kris atau pendapatku sendiri. Karena pemikiranku mengenai ‘kiat rendahan yang dilakukan Kris untuk mendapatkan kembali Kim Sena’ perlahan memudar. Urusan hati mulai tergeser oleh pemikiran logika. Apa yang diucapkan Kris sangat masuk akal. Tapi apakah ini semua benar atau kebohongan, aku tidak tahu.

“Pulanglah, Kris!” usirku dingin.

Dia mengangguk. “Terima kasih sudah mau dengar, tadinya kupikir kau akan memarahiku habis-habisan. Ketakutanku tidak berlaku kalau begitu. Aku pulang, Hyung, tolong pertimbangkan semuanya dengan bijak. Aku tidak berbohong, semua yang kusampaikan adalah yang sebenarnya. Aku bersumpah!”

Cukup, bocah tengik! Mau berapa kali kau menekankan kalau aku diperalat seorang perempuan ingusan? Itu membuatku ingin menghabisimu saat ini juga.

“Jangan katakan pada siapapun atau aku akan membuat karirmu terhambat!”

“Aku bukan pria macam itu. Rahasia apapun bisa kupegang dengan baik. Selamat malam.”

Kris berbalik dan melenggang pergi. Begitupula denganku, kaki melangkah ringan masuk ke dalam gedung dan menaiki tangga. Sesampainya di atas, aku langsung masuk kamar.

“Kibum-ah, kau dan Taemin untuk sementara cari tempat lain untuk tidur. Aku butuh waktu untuk sendiri. Jangan pernah mengetuk pintu atau aku akan menendang kalian keluar!”

Hanya teriakan biasa tapi terasa sangat lelah. Aku melompat ke kasur tanpa mengganti pakaian dan tanpa melepas kaos kaki. Wajah kubenamkan ke bantal. Mengingat satu per satu kalimat yang diucapkan Kris membuat hatiku seperti diiris. Tak lama dari itu, bantal basah. Sepertinya aku menangis. Sial…

***

SENA

Pagi ini yang pertama kali harus kulakukan adalah meminta maaf pada Jinki. Tindakanku sangat tidak benar, aku tahu itu. Benar apa kata Kris, ini semua dapat membuat Jinki sakit hati meski aku tidak tahu apakah dia benar-benar bisa merasakan sakit hati atau tidak berhubung dia tidak punya hati.

Kenapa? Aku tidak salah kan. Menjadikan perempuan sebagai budak tentunya sikap yang sangat tidak terpuji dan tidak punya hati. Kalian tidak perlu mengoreksi karena aku benar!

Mencari ke sana kemari tidak kunjung terlihat batang hidungnya. Tetap tinggal di gedung hingga larut malam pun Jinki masih belum terlihat, padahal keempat anggota SHINee lalu-lalang di area tempat latihan. Jinki tidak ada.

“Kemana Jinki?” tanyaku.

Jonghyun menoleh, “Dia di dorm. Sepertinya sakit. Kami tidak tahu.”

Sakit? Manusia bengis macam dia bisa sakit juga?

“Onew-hyung menguasai kamar sejak kemarin sore. Kami belum melihat keadaannya karena ia melarang kami untuk mengetuk pintu. Selain itu, tidak ada suara apapun kecuali dengkuran,” imbuh Key.

Jonghyun menghampiriku. “Kunjungi dia, Noona, kami khawatir. Karena sistem keamanan asrama menggunakan finger lock, jadi ini kuberikan kunci manual untukmu. Taruh di lemari kalau akan pulang.”

Aku ragu sejenak, tapi akhirnya setuju.

Setelah merapikan barang-barang ke dalam tas, aku bergegas menuju asrama SHINee yang letaknya tak begitu jauh dari perusahaan. sepanjang perjalanan kepalaku dipenuhi pertanyaan: “Apa yang dilakukan manusia workaholic itu saat ini?” Karena rasanya mustahil baginya untuk bolos kerja sekalipun sedang sakit.

Pintu terbuka, aku masuk dan mencari pintu dengan gantungan bertuliskan “Onew, Key, Taemin”. Pintunya masih menutup, tapi tidak ada suara dengkuran sama sekali seperti yang diungkapkan Key. Jadi mau tidak mau aku mengetuk pintu perlahan-lahan. Untuk beberapa ketukan awal tidak ada jawaban apapun. Namun setelah yang kesekian kalinya, ia berteriak.

“Sudah kubilang jangan mengetuk pintu atau kutendang kalian dari asrama!!!”

Ia membuka pintu dan terkejut melihatku. Penampilannya sangat buruk. Ia masih mengenakan pakaian kemarin, matanya bengkak, dan sangat pucat.

“Jinki-ya…”

Dia terkesiap, namun beberapa detik kemudian menyergapku dan mendorongku ke ruang tengah. Sangat jauh! Sampai punggunggku membentur dinding kaca yang kuyakini sebagai lemari pakaian di ruang tengah. Ekspresinya sangat bengis, seperti ingin membunuhku, auranya buruk. Si dingin Jinki yang beberapa hari ini terkubur kini kembali ke permukaan.

“Kau pikir kau siapa memanggilku seperti itu?” tanyanya dengan penuh penekanan. Aku bisa melihat urat mengencang di sekitar rahang kirinya. “Seharusnya aku tidak percaya begitu saja padamu.”

“Lepaskan, sakit!”

“Diam!” teriaknya sambil membenturkan tubuhku ke dinding untuk membuatku diam. “Kau memang layak dijadikan budak. Hatimu tidak jauh dari binatang!”

Aku terhenyak. Apa katanya? Aku binatang?

“Sial, Lee Jinki, lepaskan aku!”

Hal yang tidak diduga terjadi, Jinki menciumku paksa. Aku terus memberontak minta dilepaskan. Dia semakin mencengkeram bahuku erat dan menekan bibirnya lebih dalam. Ujung bibirku tergigit, aku mulai menjerit keras hingga ia melonggarkan pegangannya, melepaskanku begitu saja. Aku buru-buru merapikan baju dan meraih tas dari lantai lalu berlari menuju pintu keluar. Sebelum pintu menutup aku bisa mendengarnya berkata, “Kau kubebaskan sebagai budak. Jangan pernah muncul lagi di hadapanku. Aku sangat membencimu, Kim Sena.”

Jantungku seakan-akan berhenti. Jadi, dia sudah tahu semuanya. Seharusnya aku senang kan status budakku telah dilepas. Tapi ada perasaan lain yang menganggu. Hatiku sakit saat ia mengatakan membenciku. Seharusnya tidak begini…

…to be continued…

Author’s Note:

Situation 1

Jiyul berbalik dan memukul dada Kris. “Kenapa diam saja? Cepat susul mereka!”

Kris mengerutkan dahinya. Ia berusaha untuk tidak peduli meskipun sedikit sesak juga melihat Sena menggamit tangan Jinki ketika keluar gedung tadi.

I won’t.”

“KRIS!” teriak Jiyul. “Aku tahu Sena tidak benar-benar menyukai Jinki. Dia memanfaatkannya hanya untuk membuatku cemburu. Kalau begini terus Jinki bisa salah paham dan menyukainya. Aku tidak mau Jinki menderita untuk yang kedua kalinya. Aku tak ingin melihatnya hancur lagi seperti beberapa tahun lalu. Kau lihat bagaimana ia tersenyum tadi? Aku tidak pernah melihatnya seperti itu selain di televisi. Perlahan-lahan ia mulai pulih. Apa yang terjadi kalau dia tahu sedang diperalat?! Ayo cepat susul mereka!”

“Kenapa harus aku?”

“Karena hanya kau yang bisa menghentikan Sena!” Jiyul merendahkan nadanya, “Sena masih mencintaimu, tapi dia tidak akan kembali pada sesuatu yang telah kusentuh.”

Kris menamparnya.

“Aku tidak akan pernah memaafkanmu.”

“Kau pikir aku peduli?! Perhatikan saja Sena untuk saat ini. Jika Jinki tahu dan marah besar, karier Sena yang jadi taruhannya. Dia bisa didepak dari perusahaan kapanpun.”

Kris menarik napas frustrasi. “Kemana mereka pergi?”

“Lotte World.”

Situation 2

Setelah Sena meninggalkan dorm, Jinki berjongkok di sisi ruangan dengan tangan berpegangan pada dinding kaca. Satu per satu butiran air mata jatuh langsung ke lantai. tangis pelannya perlahan-lahan berubah menjadi tersedu-sedu. Ia kesulitan mengatur napas, dadanya naik turun.

“Harusnya aku tahu sedang dimanfaatkan…,” isaknya, “…dia masih mencintai Kris. Dia bahkan menangis di dekapannya.”

Jinki menangis semakin keras. Ini adalah pertama kalinya ia dipermainkan seorang wanita. Kasusnya berbeda dengan Kim Jira beberapa waktu lalu. Kali ini benar-benar menohok hatinya. Luka lama dan saat ini muncul ke permukaan bersama-sama, mengoyak hatinya hingga menjadi kepingan.

“Kim Sena…,” lirihnya, “…aku mencintaimu.”

# Hai, Readers tercinta. Maaf banget ngepost-nya nggak sekenceng dulu. Sulit membagi waktu antara kerja dan nulis. Kalau buat saya pribadi bikin fanfict itu butuh mood yang bagus nggak bisa terpaksa, sedangkan sepulang kerja maunya langsung istirahat. Weekend dipakai ngabret sana-sini. Jadi maaf alur ceritanya buru-buru, tiap chapter tulisan makin pendek, dan kadang nggak ada Author’s Note. Sungguuuhhh ngeganjelin mata pakai korek api (ini bohong) biar terus melek bikin lanjutan fanfic ini sepulang kerja atau sepulang main pas weekend-an. Mohon maklum yah. Saya pastikan fanfic ini dilanjut sampai tamat kok.

#Hasil dari nggak fokus itulah kenapa di chapter sembilan kemarin ada typos semacam “Lotte World” jadi “Lotte Mart”. LMAO. Dan untuk yang bingung kok Sena bilang baru pulang dari SM Town Jakarta tapi Taemin bilang besok mau ke Jakarta, silakan baca lagi karena itu maju-mundur alurnya. Di sana kan dibilang Sena lagi ngelamun keinget sama kejadian beberapa waktu lalu.

#Terima kasih untuk yang setia setiap saat menunggu, membaca, dan memberikan pemikirannya untuk fanfic ini. Mohon maaf kalau di chapter ini masih ada typo. I LOVE YOU dan selamat Hari Raya Idul Fitri bagi yang merayakan ^o^/

©2011 SF3SI, Diya.

sf3si-signature-diya

Officially written by Diya, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

80 thoughts on “Beautiful Stranger [Chapter Ten]

  1. Welcome back, Diyaaa…. Ini nih, yang aku maksud…
    Your style’s back…!!!! Gak tau, deh, apa yang salah atau beda,
    yang pasti aku gak terlalu terbawa ‘suasana’ pas baca chapter 9 kmaren…
    Tapi sekarang… aku ikutan sedih, hampir nangis juga…
    Jinki miris… miris banget…. Mudah2an gak akan berlangsung terlalu lama…
    Ikutan nyesek sampe segitunya Jinki terluka.
    Dan juga sedih untuk Sena. Dia terjebak sama dalam permainannya
    sendiri. Dan sialnya, dia mulai menyadarinya ketika Jinki
    sudah terlanjur membenci, ani, sangat membencinya…
    #peyuk Jinki, nangis bareng…

    Eh, ternyata, si Jiyul, biangnya….!!!!
    Kris kok, mau2nya disuruh Jiyul…???
    Gak belajar dari pengalaman, masih ngikutin omongan si uler keket???
    *tendang Jiyul…
    Dia cuma mau ngambil keuntungan sendiri!!!
    Kris juga mau ambil keuntungan, sih…
    Dia masih cinta Sena dan berharap mereka balikan lagi…
    Tuh, ampe nampar Jiyul ketika Jiyul bilang Sena gak akan
    kembali menyentuh apa yang sudah dia sentuh….!!!

    Great Chapter, Diya…
    keep writing and posting…
    We’ll be waiting…. ^___^
    Fighting…!!! (9^-^)9

  2. kok jinki marah sampe segitunya??? Mereka sama-sama kan, dua-duanya saling untung, saling memanfaatkan. Lebay deh jinki!! terus pake kissu duhh jinki sangate..

    Sena dikasih cowok lain bisa kali, tapi jgn kris. CEO sm yg ganteng ada ga?? Lol~ atau sama managernya snsd juga cakep, manager suju si prince juga cakep. *sekarang aku ngefans sama manager2 cakep*

    Yakin jiyul itu cuma modus doang! Tapi jinki ga akan lirik dia kan onn?? *awas loh klw sampe ada moment jinki-jiyul* jadi next part noona itu muncul kah?? Hahaha,

  3. keren🙂

    *nangis bareng jinki di pojokan* chapter ini nyesek banget … kasian si jinki😦

    ditunggu chapter selanjutnya…
    fighting !! ^^

  4. Yaaaaak sena jahat banget bikin jinkiku nangisssssss
    ªkŮ jα̲̅ϑΐ ikut nyesekk jα̲̅ϑΐnya
    Ќα♍u berhasil bikin jinki benci banget sama Ќα♍u !!
    Diya eonni bener2 bisa bikin ªkŮ ngerasain terlibat dalam ni ff
    Daebak eon !

    Ditunggu lanjutannya Ɣää
    Hwaiting !!

  5. ahhh ini keren… kasian jinkinya😦 tapi saya suka jinki tersiksa hahah :p

    untuk authornya tetap semangat ya ! heheh :p

    pokoknya ceritanya TOP deh hahah🙂

  6. UKHHH baru baca ini setelah pulang kampung, nggak sia-sia nge-scroll blog SF3SI! asdfghjkl ini kereeeeeeen, part kesekian yang aku suka! <333

    Ditunggu next partnya! xD

  7. Hello diyaa…. Mau kasih masukan aja.. Kenapa ff we walk ga di bukukan aja.. Itu keren banget.. Dijamin laku keras.. Utk beautiful strangernya wlwpun blm ketauan smpe chap brp ni ff bener bener keren layaknya realita.
    ㅋㅋㅋㅋ

  8. Ya ampunnnn kasihan jinki pasti sakit dan nyesak bgt.

    Semoga dikehidupan nyata jinki tidak mengalami hal seperti ini ^^

    Iya sih emg rasanya ceritanya kependekan hbs suka bgt sama ff yg 1 ini ^^

  9. Hiks nyesek mamen ;;;; kasian onew-nya ToT gue bisa ngerasain perasaan onew, dimanfaatin itu…..Ga enak, nyesek, sakit, seriously T.T /curcol/
    Ini semua gara jiyul /loh/ iya gara nenek sihir itu QAQ
    Lanjut baca

  10. HONZIIIIIIINGGGGGG kata-kata “Aku mencintaimu” emang paling apa dah. Astoge nyesek mabroooh!!!
    Hiks, Jinki kesian banget sumpah. Banyak amat sih yang malang di sini?? Aduuuhhh gimana dong, KRIS SAMA AKU AJA *loh*
    5 part lagi selesaaaii okehh ngebutt xD

  11. Huh, jinki nangis *cup2 bang
    Nyesek deh, napa sena ikut emosi juga sih? harusnya dia jelasin ke jinki dia udh gk suka ma kris
    eh, tapi klo kyk gt ceritanya selesai donk
    next part moga gak ada jinki nangis lg deh.. nyesek sumpah😦

  12. Aq tau niat kris baik seh ngasih tau ke onew , tp ahhh .gg tega sama sena am onew😥
    bner” bikin nyesek😥
    jiyul bener” jahat😥
    onew cinta am sena😦
    pleasr atuh lah nie bener” sakit😥

  13. ;(Huuweeee!! Skit bangt rasany ngebayangin onew kaya gituu…
    Kan kubilang juga apa..hiks.. Pasti gini deh jadinya hiks.. Aku mau tau klanjutannya..bye hiks

  14. my goshhh… Diya author, gua telat banget baca ff ini. Selamat menunaikan ibadah puasa 2015.
    serius ini gua suka banget sama ff mu. malem ini bukanya namatin ngaji tadarus Al Qur’an.
    tapi aku malah mau namatin baca ff ini dulu.
    btw. keep write dya author.
    tadi ga sempet ninggalin jejak di chap.9, pokoknya aku mau nyelesain bacanya.
    etapi ff ini ternyata belum end ya.
    woah author. semoga masih bisa ngeluangin waktu buat nulis lagi ya. fighting ^^
    good job!!!

  15. “Dia tdk akan menyentuh sesuatu yg sudh q sentuh ” jd ini artiny sena gk akan blikn sama kris kan ya gk ush lah bgusbgus samn jinki aja kasian kecewa lg tu

  16. Huaaaaaaa T.T
    okay, sekarang jadi kayak gini situasinya…..
    but, sebenarnya, nanti siapa yang akan menjadi orang yg bener2 di cintai Sena ??! Jinki apa Kris??
    sebagan besar diri ku pingin itu adlh kris,, tapi gk bisa dipungkiri kalo diliat sekarang OTP nya bakalan jadi Se-Jin..

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s