The Destiny – Part 11

The Destiny [Part 11]

Tittle                 : The Destiny

Author              : Lee Hana

Main cast          : Kim Kibum, Rika Wibowo and Lee Jinki

Support Cast     : Lee Taemin, Kim Jonghyun and Shim Jungeun.

Genre               : School Life, Frienship, and Romance

Length              : Sequel

Rating               : T

Summary          : “Hyung, hari ini Rika Noona bersikap aneh. Minho Hyung mengatakan padaku, sejak tadi pagi hingga sore hari ia terus saja memotret semua yang berada di sekolah. Di kelas, di kantin, bahkan hingga taman belakang sekolah. Apa kamu tahu sesuatu?”

Note                 : Tulisan bahasa Indonesia yang bercetak miring dan berada di dalam kalimat langsung berarti mereka berbicara menggunakan bahasa Indonesia yang sebenarnya.

♛♛♛

Ajussi dan Ajumma, saya mau mengakui sesuatu. Sayalah orang yang membuat anak kalian sakit dan pingsan beberapa waktu lalu.”

Kali ini mereka semua terlihat shock, terutama Rika. Mulut orang tua Rika terbuka dan Rika menggigit bibir bawahnya dan bersiap mendengar kelanjutan kata-kata Kibum. Sedangkan kedua orang tua Kibum terlihat pasrah dengan keputusan anaknya untuk berterus terang.

Ajumma, Ajussi, saya sudah mencium paksa anak anda. Saya mencintai anak anda,” lanjut Kibum semakin serius.

“A-apa?!” Tuan Kim sontak berdiri degan wajah marah.

“Sayang, duduklah! Biarkan Kibum menyelesaikan kata-katanya lebih dahulu,” pinta Nyonya Wibowo seraya memegangi lengan suaminya.

Tuan Wibowo menurut dan Kibum meneruskan kata-katanya, “Hingga saat ini saya masih mencintai anak kalian. Tapi di sisi lain saya juga tak mau memaksanya dengan perjodohan ini. Saya tahu bukan saya orang yang Rika cinta, melainkan kekasihnya, Jinki Hyung. Jadi, saya dengan keras menolak perjodohan ini. Saya permisi.”

Kibum berdiri dari kursinya dan berjalan keluar restoran meninggalkan orang-orang di sana yang tampak masih sangat terguncang.

“Rika, apa yang Kibum maksud mencium paksa dan membuatmu pingsan? Katakan!” pinta Tuan Wibowo berang.

Pa, a-aku …,” Rika merunduk takut di kursinya.

“Handi, biarkan aku yang menjelaskannya padamu.”

Tuan Wibowo terbelalak mendengar kata-kata temannya. Ia tak tahu bahwa temannya ini sudah tahu lebih banyak dari pada dirinya.

“Dan Rika, saya pribadi telah membebaskan kalian memilih untuk melanjutkan atau membatalkan perjodohan ini. Sekarang kamu temui Kibum dan sampaikan itu padanya!” perintah Tuan Kim.

Rika tersenyum lega kemudian membungkuk kecil dan pergi meninggalkan para orang tua di sana.

Di luar restoran terdapat sebuah taman kecil dengan beberapa pohon di sekitarnya. Tak terang juga tak gelap. Hanya ada beberapa lampu taman dengan cahaya yang tamaram. Rika melihat Kibum di sana. Duduk lemas pada bangku panjang di samping sebuah tiang lampu.

Rika perlahan menghampirinya dan duduk di sampingnya. Ia menatap Kibum yang masih tak mau menatapnya. Wajah Kibum terlihat sangat frustasi di temani suara jangkrik dan rembulan yang bertengger pada langit malam tanpa bintang.

“Kibum, ayahmu mengatakan dia memberikan kebebasan pada kita untuk melanjutkan atau membatalkannya.”

“Lalu apa yang kamu pilih?” tanya Kibum seraya memandang rerumputan yang disinari cahaya lampu.

“Aku akan mengikutimu. Jika kamu mau membatalkanya maka aku akan mengatakan hal yang sama. Dan jika kamu melanjutkannya, aku akan meneruskannya bersamamu. Aku akan menerimanya dengan senang hati dan menikah denganmu,” jawab Rika tenang.

Kibum menatap Rika dengan wajah serius. “Kau serius? Bagaimana dengan Jinki Hyung? Bukankah ….”

“Kibum, aku sudah putus dengannya. Aku sudah tak punya hubungan apapun dengan Oppa. Karena itulah kami bertengkar. Beberapa hari lalu saat di bus kamu menanyakan apa yang terjadi, kan? Itu jawabannya. Aku sudah tak bersamanya lagi …, jadi, apa keputusanmu?”

Kibum berpikir beberapa lama. “Aku …, menolaknya. Aku tak mau.”

Rika tersenyum tipis. “Bukankah kamu mencintaiku? Kamu yakin takkan menyesal?”

“Aku tak tahu akan menyesal atau tidak, tapi aku tak mau mengorbankan perasaanmu dan perasaannya. Aku tahu kamu masih mencintainya, sama dengan Jinki Hyung yang masih mencintaimu.”

“Dari mana kamu tahu? Aku pikir dia sudah membenciku. Sangat benci. Dia sekarang tak mau lagi bicara denganku, bahkan bertemu pun tak mau.”

“Rika, cinta takkan semudah itu hilang. Aku yakin dia hanya marah. Jika yang membuat kalian putus adalah perjodohan konyol ini, maka kembalilah padanya. Jelaskan padanya.”

“Kau sudah berubah Kibum. Kamu menjadi sangat baik sekarang.”

“Kamu, Jinki Hyung dan yang lainnya yang merubahku. Kalian memaafkanku dan memberikanku kesempatan kedua. Itulah alasan terkuat kenapa aku memilih melepaskanmu. Aku tak mau terjebak dalam lubang yang sama dua kali.”

Rika tersenyum tipis melihat Kibum kemudian keduanya melihat bulan beberapa saat hingga memutuskan untuk kembali ke dalam restoran.

______

Kenapa dadaku sesak ketika Kibum mengatakan tak mau perjodohan ini? Kenapa aku menjadi sedih? Apa aku juga mencintainya? Lalu bagaimana dengan Oppa? Apa dia memang benar-benar akan kembali padaku? Apa dia akan memaafkan aku?

 

Pikiran-piran itu berputar-putar terus di otaknya tanpa akhir. Tak ada jalan. Semua buntu, sedangkan kepalanya sudah terasa sakit. Berguling-guling di kasur dan mencoba tidur pun tak bisa ia lakukan. Rika mengambil ponselnya yang tergeletak di kasurnya.

“Hallo, Kakak …. Baik …. Kapan Kakak kembali? …. O, boleh tidak aku ikut? …. Baiklah. Aku akan bicara pada Papa. Sampai jumpa.”

Setelah menelepon Rika menggeletakkan ponselnya asal dan beranjak dari kasur menuju meja belajarnya. Di tempat itu ia mengambil selembar kertas dan sebuah pulpen. Ia mulai menulis sambil mengenang semua hari yang ia lewati bersama-teman-temannya.

______

 

Rika turun dari tangga dengan seragam yang telah lengkap serta tas cokelatnya. Ia memasuki ruang makan yang menyatu dengan dapur. Duduk di sebelah Risa yang tengah menyantap nasi goreng kesukaannya. Ibunya yang baru saja meletakkan minuman di meja segera duduk.

Rika mulai menyendok makanannya. Mereka makan dengan tenang hingga Rika dapat menghabiskan setengah makanannya.

“Ma, Pa, aku mau pulang ke Indonesia.”

“Uhuk! Uhuk!” Tuan Wibowo tersedak dan segera menenggak minumannya.

“Pelan-pelan, Sayang!” ujar Nyonya Wibowo.

“Rika, kamu serius?”

 

“Iya, Pa. Tadi malam aku sudah menelepon Kakak. Katanya besok pagi ia akan berangkat. Aku akan berangkat bersamanya.”

 

“Mendadak sekali. Tak bisa diundur?” pinta Nyonya Wibowo.

“Apa ada di antara kalian yang mau mengantarkan aku lalu kembali lagi ke sini? Itu sangat merepotkan. Aku tahu Papa sangat sibuk, dan Mama harus mengurus Risa dan Papa.”

 

“Apa ini karena perjodohan kalian?” tanya Tuan Wibowo.

“Bukan. Aku hanya sudah terlalu rindu dengan kampung halamanku. Aku tahu Seoul adalah kota yang indah, modern bahkan banyak artis idolaku di sini. Tapi, aku lebih suka Indonesia. Aku rindu suasana dan teman-temanku, juga Kakek dan Nenek.”

Tuan dan Nyonya Wibowo saling menatap kemudian menatap Rika kembali.

“Apa kamu akan tinggal bersama Kakek dan Nenek di Jakarta?” tanya Nyonya Wibowo.

“Ya.”

Kak, jangan pergi! Nanti siapa yang menemaniku nonton drama malam-malam? Siapa yang mau aku ajak curhat lagi? Siapa yang mau main denganku di rumah?” rengek Risa.

“Maaf, ya?”

 

“Kakak menyebalkan.” Risa membanting sendok dan garpunya di piring dan merengut di tempat.

“O, ya, Pa. Boleh tidak aku bawa kamera milik Papa?”

 

“Boleh. Tapi untuk apa?”

 

“Tentu saja untuk foto-foto.”

 

______

Rika yang baru saja ditinggal oleh ayahnya di depan gerbang segera menjepret pemandangan di hadapannya. Terlihat gerbang yang besar dengan siswa dan siswi yang tengah melewatinya. Rika melihat gambarnya pada layar kemudian tersenyum.

Rika berjalan memasuki gerbang dan dilihatnya sebuah gedung besar di hadapannya. Ia memotretnya juga. Berselang lima menit ia pasti memotret. Terkadang ada yang memperhatikannya dengan tampang heran. Di kelas pun ia masih  memotret ketika anak-anak lain tengah bercanda untuk menunggu berbunyinya bel. Ia terus saja mengalungi kamera digital-nya itu.

Cekrek!

“Rika, kamu memotret?” tanya Jungeun yang sedari tadi memperhatikan Rika.

“Ya.”

 

“Boleh lihat foto-fotonya?”

Rika memberikan kameranya dan Jungeun mulai mengutak-atiknya. “Gambarnya bagus-bagus. Mungkin kamu berbakat jadi juru foto,” pujinya tanpa melepaskan pandangannya dari gambar-gambar yang terus berganti itu.

“Lihat ini, ada gerbang, gedung A dan gedung B, koridor, lapangan. Banyak sekali. Kamu bahkan mengambil fotoku diam-diam. Tapi masih ada yang kurang.”

 

“Kurang? Apa?”

 

“Foto si juru foto. Fotomu tentu saja. Ayo berpose! Aku akan memfotomu,” ujar Jungeun seraya meletakkan kamera di matanya.

Rika tersenyum dan menunjukkan tanda piece dengan tangan kanannya.

“Hana, dul, set ….”

Cekrek!

Rika segera merapat pada Jungeun dan melihat hasil foto dirinya. Di sana ia melihat gambarnya dan ….

“Kibum?” ujar keduanya bersamaan dan saling berpandangan heran.

Di gambar terlihat Kibum tengah berpose dengan jari telunjuk dan jempol yang terbuka, sedangkan jari yang lainnya mengatup. Kedua jari itu ia letakkan di bawah dagunya, sedangkan wajah Kibum tampak meringis. Ia terlihat sangat narsis di kursinya.

Keduanya menengok ke arah Kibum yang hanya menunjukkan tanda piece dengan kedua jarinya.

______

Ketika pelajaran dimulai pun ia terus memotret. Memotret dengan diam-diam tentunya. Memotret setiap kejadian yang terjadi hari ini. Teman-temannya yang tengah belajar, guru yang tengah mengajar, serta beberapa anak dengan kenakalannya masing-masing.

Ketika di kantin ia memotret juga. Anak-anak yang tengah makan dan bercanda. Teman-temannya yang dengan senang hati di foto, bahkan ada juga yang malah ketagihan.

Belum selesai di situ, ia pergi ke gedung B melihat Jonghyun yang tengah bermain basket, Taemin menari, Minho yang tidur dan Jinki yang tengah membaca buku.

Rika berjalan menuju taman belakang sekolah. Di tempat itu terlihat daun-daun mulai berguguran lebih bayak dari biasanya hingga para ranting terlihat hampir gundul. Pertama kali menjejakkan kakinya ia melihat para pohon masih memiliki daun-daun mereka yang hijau dan lebat. Tak terasa hampir satu musim ia tinggal di negara gingseng ini. Ia berpikir ia akan sangat merindukan suasana ini.

Rika berjalan lebih dalam menuju semak-semak. Di sana Coffee dan Milky tak terlihat. Semburat kekecewaan terlihat jelas di wajahnya.

“Rika,” panggil seseorang dengan suara berat yang ia kenal.

Rika membalikkan posisinya untuk melihat seseorang yang tengah berjalan ke arahnya. “Minho.”

Gadis itu melihat seekor kucing hitam tengah digendong Minho dan sekarang ia merasakan sesuatu di kakinya. Ia menunduk. Dilihatnya Milky tengah menggesek-gesekkan tubuhnya, meminta tubuhnya diusap-usap.

Rika berjongkok dan mengusap-usap puncak kepala kucing berwarna putih itu. Kini bobot mereka sudah mencapai empat kali lipat. “Mereka sudah besar. Dan suatu hari memiliki anak-anak.”

“Jangan bercanda. Kucingmu takkan bisa memiliki anak karena dia itu jantan. Coffee yang betina. Iya kan, Coffee?” tanya Minho seraya menggerak-gerakkan salah satu kaki depan kucing hitam itu dan menggoyang-goyangkannya. Ia menatapnya dengan gemas.

Rika tersenyum. “Benar. Aku lupa. O, iya, kalian aku foto, ya?” Rika mulai memegang kameranya yang tadi ia simpan di sakunya.

“Boleh.”

Minho mulai berpose. Dia menggendong Coffee dan memegang kaki kucing itu dengan salah satu tangannya. Membuatnya terlihat seakan melambai pada Rika. Sangat lucu.

“Lucu sekali,” ujar Rika ketika melihat hasil jepretannya.

“Baiklah, sekarang kamu dengan Milky.”

Minho mengambil alih kamera, sedangkan Rika berpose serupa seperti Minho.

Cekrek!

“Kenapa gayamu sama denganku?”

“Tidak apa-apa, kan? Tidak ada undang-undang yang melarangnya.”

“Benar juga.”

Setelahnya Rika memotret tempat itu dan kedua kucing itu. Melihat kedua makhluk manis itu bercanda dan berjalan beriringan, itu terlihat sangat menyenangkan.

“Minho, nanti setelah bel pulang sekolah jangan segera pulang dulu, ya? Aku ingin foto bersamamu dan yang lainnya.”

“Ne. Tenang saja. Tapi ada apa? Kesannya sangat terburu-buru.”

“Tidak ada apa-apa. Aku hanya sedang ingin memotret. Ini menyenangkan. Bisa menyimpan kenangan kita pada sebuah gambar. Iya, kan?” Rika tersenyum pada Minho, membuat Minho juga tersenyum kepadanya.

Bel tanda masuk telah berbunyi, membuat keduanya buru-buru pergi dari sana menuju kelas.

______

“Jinki, ayo cepat! Rika dan yang lain pasti sudah menunggu kita,” ujar Jonghyun yang sudah siap dengan tas yang ia gendong di punggungnya.

Jinki yang masih merapikan buku-bukunya terlihat acuh. “Cepat ke mana?” tanyanya pura-pura tak mengerti.

“Loh, bukannya dia mengirimimu SMS juga?”

“Ne. Tapi aku takkan ikut.” Kali ini Jinki mulai menyanggul tasnya yang sudah ia tutup. Ia menatap Jonghyun.

“Kau yakin?”

Jinki sekarang mulai melangkah keluar kelas. “Tentu saja.”

Jonghyun mendesah entah untuk ke berapa kalinya karena melihat tingkah Jinki yang acuh itu. Ia juga keluar dari kelas, kemudian berlari menuju kelas Rika. Melewati Jinki begitu saja tanpa mengatakan apapun. Jinki terdiam di tempatnya dan melihat Jonghyun yang tengah berlari semakin jauh dari dirinya.

Untuk kesekian kalinya Jinki kembali melihat sebuah gambar di ponselnya. Gambar dirinya bersama Rika. Berpuluh kali melihat dan berpuluh kali juga berusaha menghapusnya. Tapi tak berhasil. Perasaannya masih sangat kuat.

______

Jonghyun telah sampai di ambang pintu Rika. Dari tempatnya ia melihat yang lainnya telah berkumpul, kecuali Jinki.

“Mian, aku terlambat.”

“Ke mana, Jinki Hyung?” tanya Taemin.

“Dia menolak ikut.”

“Tidak apa-apa. Ayo kita mulai saja acara foto-fotonya,” ajak Rika.

“Tapi kenapa harus ketika pulang sekolah, sih?” tanya Jonghyun.

“Kalau sepi kan lebih enak. Tak ada yang mengganggu dan lebih leluasa. Benar, kan?”

“Benar juga. Aku jadi bisa bergaya seeksis mungkin,” jawab Kibum riang.

“Dasar banci foto,” olok Jonghyun.

“Baiklah. Kalian semua berdiri merapat di depan papan tulis!” perintah Rika.

Semua menurut dan Rika mulai menyiapkan kameranya.

“Hana, dul, set ….”

Cekrek!

Setelahnya Rika menatap gambar di kameranya. “Bagus sekali,” ujarnya serak dengan mata yang mulai terasa panas. Rika berjongkok. Menggelamkan kepalanya pada tangannya yang terlipat dan mulai menangis di tempat. Semua yang melihat tampak terkejut dan menghampiri Rika cemas. Mereka merapat dan menatap Rika.

“Rika, kamu kenapa?” tanya Jungeun khawatir.

“Gwenchanayo,” jawabnya dalam tundukkannya.

“Kenapa menangis, Noona?” Kini Taemin yang bertanya.

Rika mengusap matanya yang berair dan mendongak. Menatap teman-temannya. “Siapa yang menangis? Aku cuma kelilipan.”

Semuanya hanya diam. Mereka sadar itu adlaah sebuah tangisan, meski tanpa isakan atau kata-kata bohong yang Rika lontarkan. Mereka cemas.

______

Cekrek!

Rika memotret Kibum yang tengah menunggu bus. Kibum yang tengah duduk di sebelahnya.

“Kau belum puas tadi memotretku berkali-kali?”

“Belum ketika di halte.”

“Sudah foto-fotonya! Busnya sudah datang,” pinta Kibum ketika melihat sebuah bus berwarna hijau datang ke arah mereka dalam jarak dua puluh meter.

______

Seseorang mengintip Rika ketika ia tengah memasukkan barang-barangnya ke dalam koper ungunya.

“Kakak,” panggil Risa yang hanya menunjukkan kepalanya saja pada pintu yang setengah terbuka.

Rika menoleh ke arah adiknya. “Apa?”

Risa masuk ke dalam dan duduk di tepi ranjang. Menemani kakaknya yang tengah sibuk memasukkan baju-bajunya yang tergeletak di kasur ke dalam kopernya.

“Kak, yakin mau pulang?” tanya Risa berharap Rika mau mengubah keputusannya.

“Iya.” Rika tak menatap adiknya dan terus mengerjakan aktifitasnya.

“Lalu bagaimana dengan Kak Jinki dan teman-teman yang lainnya? Apa Kakak sudah pamitan pada mereka sebelum pergi besok pagi?”

Rika diam sebentar kemudian duduk di samping Risa setelah lama berdiri.

“Belum,” jawabnya lemas.

“Kamu tak mengatakannya pada mereka?!” tanya Risa terkejut.

Rika menggeleng lemas.

“Kenapa?”

 

“Sudah! Kamu betanya terus! Kalau begini kapan aku bisa menyelesaikan beres-beresnya?!” bentak Rika kesal kemudian mulai memasukkan lagi pakaiannya.

“Galak sekali. Baiklah, aku akan membantumu.”

______

Malam sudah larut tetapi Kibum belum juga bisa terlelap. Ia tak bisa menghentikan otaknya berpikir bagaimana pun kerasnya ia mencoba untuk berhenti. Rika. Di kepalanya dipenuhi Rika. Gadis itu bergelagat aneh seharian ini. Ia sadar betul dengan hal itu dan ia yakin ada yang tidak beres. Apa lagi ketika Rika menangis. Itu sangat aneh. Ia tak pernah melihat gadis itu memangis selain saat ia menciumnya saat itu.

Sebenarnya apa yang terjadi? Itu adalah pertanyaan yang terus bertebaran di dalam kepalanya. Ia tak bisa tidur. Ia merindukan Rika. Ia khawatir pada Rika. Meski bergeliat, merubah posisi tidur atau memakan sesuatu hingga kenyang dan berharap bisa cepat tertidur. Tetap saja, ia tak bisa tidur. Kibum pasrah.

______

Jinki teringat kejadian sore itu ketika Jonghyun berlari meninggalkannya. Semua itu mengingatkannya kepada pesan yang ia baca di ponselnya. Pesan dari Rika. Terdengar tak khusus dan istimewa, tapi cukup membuatnya tak tenang selama pelajaran berlangsung siang tadi.

Ingatan Jinki melayang semaki jauh, ketika Rika terus menerus berusaha mengejarnya dan berbicara padanya. Ketika ia mendekat ia pergi begitu saja dan mengacuhkannya. Entah kenapa itu membuatnya menyesal.

Apa seharusnya aku mendengarkan kata-kata Rika?

Pada akhirnya untuk kesekian kalinya di atas ranjangnya Jinki menatapi foto Rika. Bahkan ia terlalu serius menatapnya hingga tak menyadari Taemin masuk  dan mengambil ponselnya secara mendadak.

“Yah!” bentak Jinki

Taemin melihat wajah Rika dengan hyung-nya di sana. Melihat Rika berwajah terkejut ketika Jinki mencium pipinya. “Hyung,” lirih Taemin. Tatatapannya sangat serius tapi juga sendu.

Jinki mengambil ponselnya dan mematikannya, lalu ia geletakkan saja sembarangan pada meja kecil di dekat ranjangnya. Wajahnya tampak kecut dan tak terima Taemin melihatnya.

“Hyung, benarkan kamu masih mencintainya?”

Jinki membuang muka. Ia tak mau menatap Taemin. “Ani,” jawabnya ketus.

Taemin duduk di tepi ranjang. “Tadi Rika Noona menangis di hadapan kami semua,” ungkap Taemin membuat Jinki sontak menatap Taemin. Jinki terdiam sebentar kemudian mengalihkan pandangannya lagi. Ia tak mau terlihat peduli, meski memang sebenarnya peduli.

“Hyung, hari ini Rika Noona bersikap aneh. Minho Hyung mengatakan padaku, sejak tadi pagi hingga sore hari ia terus saja memotret semua yang berada di sekolah. Di kelas, di kantin, bahkan hingga taman belakang sekolah. Apa kamu tahu sesuatu?”

“Aku …, aku tidak tahu,” jawab Jinki lemas.

“Hyung, coba bicarakan masalahmu dengan Rika Noona baik-baik. Aku yakin ini hanya salah paham, sekalipun bukan pasti ada alasan kenapa Rika Noona melakukannya. Yang lain juga berkata dia sangat muram akhir-akhir ini. Aku rasa itu karena masalah kalian. Entah kenapa aku mempunyai firasat yang tak baik untuk hal ini.”

Jinki terdiam di tempatnya seraya menunduk ketika Taemin bercerita.

Taemin beranjak dan pergi menuju pintu. Di ambang pintu ketika ia hampir menutupnya Taemin mulai bicara lagi, “Hyung, jika kamu memang masih mencintainya maka datanglah kepadanya. Lakukan apa yang hatimu katakan. Jangan sampai kamu menyesal pada akhirnya. Baiklah, hanya itu saja yang ingin aku katakan. Aku mau tidur dulu. Selamat malam.”

Kreeek!

Pintu tertutup dan Jinki masih terdiam. Kepalanya kini mulai dipenuhi kata-kata Taemin. Kata-kata yang terdengar bijak dan membuat runtuh pertahannya. Ia menjadi ingat kembali bagaimana ia kehilangan gadis itu, dan ia tak mau ia pergi lebih jauh lagi darinya. Ia kini sadar bahwa ia tak bisa kehilangannya.

______

Ting! Tung!

Pintu terbuka dan  tiga orang namja berwajah oriental Indonesia telah berdiri di hadapannya.

“Selamat pagi, Tante,” sapa ketiganya ramah ketika melihat seorang wanita muda tengah berdiri di balik pintu.

“Selamat pagi. Randi, kamu bawa teman-temanmu juga? Ayo silakan masuk!”

 

“Tidak, Tante. Kami harus berangkat ke bandara sekarang. Rika mana?”

Seseorang tiba-tiba muncul di depan pintu bahkan sebelum ibunya memanggilnya. “Kakak sudah datang. Ada teman-teman Kakak juga, ya? Hallo, saya Rika, adik sepupu Kak Randi,” sapa Rika seraya membungkuk kecil. Ternyata itu telah menjadi kebiasaannya.

“Hallo juga. Saya Eza,” sapa seseorang berjaket jeans seraya melambaikan tangan.

“Saya Angga,” sapa namja yang lainnya.

“Apa kamu sudah siap Rika?” tanya Randi.

“Siap.” Rika menunjukkan koper ungu besarnya.

“Baiklah, ayo kita berangkat!” perintah Eza.

Tuan Wibowo yang kini berada di samping isterinya melihat Rika dengan sendu. Laki-laki yang selalu tampak kuat ini seketika terlihat tidak sekuat biasanya. Sedangkan ibunya mulai berkaca-kaca.

“Kakak, jangan pergi!” Tiba-tiba Risa datang dan memeluknya. Ia merengek-rengek pada Kakaknya sambil menangis.

“Jangan begini! Kamu tak malu dilihat orang sedang menangis? Kamu kan sudah SMP sekarang.”

 

Risa melepas pelukannya dan menyeka air matanya. “Aku pasti merindukan Kakak.”

 

“Kakak juga. Nanti saat liburan sekolah kamu bersama Papa dan Mama bisa pulang dan bertemu Kakak di Indonesia. Kakak akan menunggu kalian.”

 

Rika menghampirri ibu dan ayahnya. “Ma, aku pamit.” Rika mencium tangan ibunya, kemudian ibunya memeluknya sebentar dan menangis.

“Pa, aku pergi.” Rika juga mencium tangan ayahnya, kemudian diusap kepalanya dan dicium oleh ayahnya.

“Risa, jangan nakal, ya? Dada! Sampai jumpa!”

 

Risa mengangguk sedih.

Setelah pamit Rika pergi bersama mereka menaiki taksi yang sudah menunggu mereka di tepi jalan sedari tadi. Taksi pun mulai berjalan meninggalkan mereka yang mulai menangis lagi.

To be continued….

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

19 thoughts on “The Destiny – Part 11

  1. jinki aturn’a qmu dngrin pa kta taemin,sblum mnyesal nnti’a,..
    hiks…hiks..
    terharu q,..
    author fighthing!!!

  2. Kenapa sih Kibum gak coba selidikin aja ya? Supaya mereka bisa menggagalkan rencana Rika buat pulang.
    Oh, ya Author-ssi tadi ada beberapa yang typo gitu. Tolong sebelum di posting kalo bisa edit aja dulu. Supaya mengurangi kadar kesalahan gitu *apasih*
    Aku tunggu lanjutannya^^;;;

    1. rin, aku dah edit, edit, edit and always edit. aku sampe nggak ngitung berapa kali ngedit. buku yang dah dipublishing di toko aja terkadang masih bisa ditemui typo. jadi mohon maklum, ya?
      udah usaha yang terbaik. mengedit itu nggak mudah loh.
      kalo diselidikin nanti endingnya bisa berubah dong.
      ok, thx dah mampir lagi nih.

  3. JinKi hingga akhir tetap tidak ingin bertemu Rika. Sepertinya mereka berdua tidak ditakdirkan. KiBum sangat menarik untuk chapter ini dan sebelumnya.
    Sayang RiKanya menghilang secara mendadak.
    Dan yang disalahkan adalah KiBum.
    (˘_˘” )( “˘_˘)
    Next chap please (งˆ▽ˆ)ง

    1. emmm, sebenernya nggak bisa dibilang mendadak juga sih. trus Kibum juga nggak disalahkan kok. kenapa? jawabannya itu dah ditulis di part 1. dah baca belom nih?
      ya, sabar ya buat pempublisannya.
      thx!!

  4. Huh gmna kibum sma rika? Semoga mereka brsatu,aku pngen liat mreka sling jtuh cnta. ~_~ next chap jgn lma” tor.😀

  5. waduh, telat baca nih, keenakan libur lebaran..🙂

    Wooow…
    Kibum berjiwa besar sekali, mengakui kesalahan yang dia lakukan ke Rika..

    Jadi Rikanya mau pergi biar persahabatan mereka berlima tetap utuh ya…

    Ok Hana, saya baca part selanjutnya ya..🙂

    1. oh, jadi gtu toh. liburan. pantes eonie nggak nongol-nongol biasanya juga rajin #hehehe
      laki-laki memang harus begitu eon.
      yup, that’s right. selain itu juga, karena dia patah hati.
      hmmm. thx, eonnie.

  6. bgus sih ceritanya,, tapi kecewa berat kenapa sebagian besar ceritanya cuma nyiritain masa lalu padahal penasaran bnget ma kelanjutan ceritanya yg awal
    padahal bgus loh, sayang cuman sdikit yg alurnya maju kebanyakan alurnya mundur.

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s