The Story! (Because Of You Side Story)

The Story! [Countinued of Because Of You Part 1-5]

Title                                         : The Story!

Author                                     : MinKey

Main Cast                                : Taemin SHINee and Kim Ryu sung (OC/Readers)

Support Cast                           : Jonghyun SHINee,Luna f(x) as Park Sunyoung

Lengrt                                     : Sequel (?)

Genre                                      : Fanon (ofc), Romance, Humor (?)

Rate                                         : T

NB : Yah! FF ini semacam sequelnya Because Of You. Awalnya sih gak mau bikin sequelnya tapi kayanya perlu ditulis. Disini isinya sejenis full story kenapa Taemin masuk rumah sakit jiwa dan hubungan antara taemin serta keluarganya (terutama sih Kakaknya Lee Taejun) plus cerita tentang Ryu juga. Karna ini full story jadi sequel yang harusnya pendek ini malah jadi panjang._.v sekitar 10 halaman. Namanya juga full story ._.Yask! Sudah dulu ocehan saya yang aneh ini. Selamat membaca! ^^;;

***

Ryu POV

PRANG….PRANG….

Aku yang tengah asik meluncur di lantai kamar mandi (niatnya sih, ingin menyikat lantai kamar mandi tapi karna keasikkan jadi begini deh) ketika mendengar suara benda jatuh dari arah dapur.

Aku langsung berlari jatuh-bangun berkat kakiku yang licin –oke,aku lupa mencuci kakiku saking buru-burunya- menuju ke dapur untuk menghampiri Taemin –karna dia bilang ia ingin memasak- dan juga aku tidak lupa membawa alat suntik yang sudah berisi cairan obat penenang yang dulu dititipin oleh Jonghyun oppa. Katanya sih buat jaga-jaga.

Tanganku sudah ancang-ancang mengayunkan alat suntik ke arah salah satu anggota badan Taemin tapi….

“YAAK! APA YANG KAU LAKUKAN KEPADA PENGGORENGANKU?”Taemin sendiri –yang juga sudah ancang-ancang dengan kakinya untuk menendang penggorengan kesayanganku malah tersenyum cengar-cengir melihatku.

“Penggorengan ini menyebalkan.”adu Taemin. Aku tidak peduli dengan aduannya. Toh, penggorenganku ini tidak melukainya secara fatal. Yah, tadi aku sengaja lihat luka melepuh di salah satu jari tangan kanannya.

Aku langsung mengungsikan penggorengan itu ke dalam pelukanku agar aman. Untung saja~

“Tadi aku memanaskan minyak. Minyaknya loncat-loncat dan mengenai tanganku yang lagi memegang sisi penggorengan. Jadi aku refleks melempar penggorengan itu dan-YAK! KENAPA MALAH PENGGORENGAN ITU YANG KAU PELUK?”Aku hanya mendengakkan kepalaku untuk melihat Taemin.

“Lalu aku harus apa?”tanyaku memungut alat suntik yang tadi aku jatuhkan saat mencegah Taemin menendang penggorenganku.

“Kau mau ini?”Aku menyodorkan alat suntik itu membuat alis Taemin terangkat.

“Aku sudah lama tidak berinteraksi dengan benda sadis itu jadi aku tidak mau mati tidur di bawah pengaruhnya.”

“Lalu kau mau apa?”

“Obati aku~”ujar Taemin sok pout.

“Yah yah yah, kajja.”Aku melepaskan pelukkanku lalu berdiri untuk meraih tangan Taemin yang terluka.

“Yah, hati-hati! Sakit tau.”ujar Taemin menarik-narik tangannya yang aku tarik itu. Aku langsung melepaskan tarikkanku dan memandangnya.

“Tiupkan jarimu yang melepuh itu. Cepatlah jalannya. Rasanya mulai perih.”ujarku melirikkan mataku ke bawah untuk melihat luka lecet yang ada di kakiku akibat jatuh-bangun itu.

“Kalau begitu ayo!”Taemin langsung menarik tanganku dan berlari cukup cepat karna jarak dapur dan ruang tengah itu cukup jauh. Aish, anak ini-_-

***

“Duduklah. Biar aku yang mengobati lukamu.”ujar Taemin membantuku untuk duduk di sofa lalu ia berjalan ke arah kotak P3K yang ditempel (?) di dinding ruang tengah.

“Memangnya kau tau caranya mengobati luka begini? Biar aku yang mengurus luka melepuhmu. Nanti kau malah meringis mulu.”

“Aku tau kok. Hanya perlu kapas, plester, alkohol, dan obat merah kan? Kau kan sering mengobatiku.”Ternyata dia ingat juga-_-

“Ambilkan bioplasenton lalu usapkan isinya ke luka melepuhmu.”ujarku membuat Taemin mengerutkan keningnya.

“Obat salep? Bukannya luka melepuh itu hanya perlu diusapkan dengan isi odol sikat gigi?”

“Iya. Kalau pakai isi odol, yang ada lukamu makin buruk. Cepatlah! Ini semakin perih!”

“Iya! Jangan menjerit tertahan begitu.”

“Sebenarnya dia ini jurusan psikiater atau dokter biasa?”desisnya tapi aku masih bisa mendengarnya-_-

Yah, beginilah sekarang. Taemin jadi tinggal bersamaku –yah bersama Sunyoung juga tentunya. Awalnya aku menyuruh Taemin tinggal bersama Jonghyun oppa, tapi dengan hebatnya Jonghyun mengelak serta menolak.

Katanya dia takut Taemin ngamuk tiba-tiba disaat dia sedang di rumah sakit (kalau begitu, kenapa Taemin tidak dibawa saja?). Katanya Taemin tidak suka rumah sakit itu karna telah mengurungnya beberapa tahun. Dia juga bilang, nanti rumahnya ramai karna para fans Taemin yang tau Taemin bebas langsung ke rumahnya atau dia dikira tidak normal karna tinggal seatap dengan Taemin yang masih menyandang namja cantik imut itu (alasan macam apa itu? Dulu kan mereka pernah satu dorm selama 2 tahunan-_-).

Sialnya, Taemin juga minta satu flat denganku meskipun ditawari oleh Key untuk tinggal bersamanya. Alasan Taemin menolak karna takut dijadikan boneka peraga pakaian-pakaian design Key yang baru jadi (segitunya kah?-_-). Mendengar alasan Taemin yang absurd itu membuat Key tersenyum aneh sendiri-_-

Jadinya begini, aku dan Sunyoung tetap satu kamar tapi beda tempat tidur sedangkan Taemin tidur sendirian (baguslah).

“Sudah selesai. Hey, kau melamun?”Aku langsung mendengakkan wajahku dan melihat wajah Taemin yang hanya beberapa senti saja dari wajahku. Aku jadi ingat saat dulu aku memandang matanya heheheheh xD

“Kenapa? Sudah puas memandang wajah si tampan ini?”Dia malah mengerlingkan matanya membuatku ingin muntah.

“Aish, percaya dirimu tinggi sekali. Oh, luka di jarimu sudah beres?”

“Sudah, aku juga sudah membersihkan sisa minyak yang kutumpahkan. Jadi, kita akan makan apa sedangkan ini sudah siang?”

Krik….Krik….

Aku punya ide hehe.

“Kalau begitu, tolong belikkan beberapa bahan masakkan untukku. Kau tau kan kakiku ini….”

“Ya ya ya ya, aku tau kau berniat mengusirku untuk beberapa jam jadi mana daftar belanjaannya?”tanya Taemin menadahkan tangannya di depanku lalu aku langsung menmengusirku untuk beberapa jam jadi mana daftar belanjaannya?”tanya Taemin menadahkan tangannya di depanku lalu aku langsung menyerahkan selembaran kertas yang sudah kumal itu.

“Yah, baiklah aku pergi!”Taemin langsung bangkit dan berjalan dengan langkah lebar-lebar hingga ia keluar dari flat kami.

“Yak! Kamu gak marah atau ngambek kan?”teriakku.

“Nggak kok. Aku sudah dewasa. Buat apa aku ngambek kaya anak kecil.”ujarnya sebelum bayangan tubuhnya tidak terlihat oleh pandanganku. Dia sok-sokkan bilang dewasa tapi begitu-_-

Jadi….Apa yang kulakukan? Heum, pasti Taemin akan memakai waktu cukup banyak tanpa ia sadari. Pasti ia akan kerepotan mau membeli snack apa saking sukanya ia makan snack. Lalu, siapa tau dia bertemu Jonghyun oppa, Minho-ssi, Key-ssi, atau Onew-ssi? Jadi kalau aku menghancurkan rumah sekalipun, aku pasti akan cepat membersihkannya saking lamanya waktu ia diluar.

Tapi apa yang harus kuhancurkan? Kamar Sunyoung?

Oh, jangan. Kasian dia. Sejahat-jahatnya aku, aku tidak akan membiarkannya menderita itu. Bagaimana tidak menderita? Pulang kerja (oh ya, dia sudah bekerja sambil kuliah juga! Aku sendiri sedang ambil cuti karna Taemin ini) saat sudah malam dan ia harus membereskan kamarnya yang berantakan karna aku hancurkan dengan susah payah. Belum lagi dia memarahi aku, aku bisa tau betapa lelahnya melakukan hal itu.

Atau selesai menghancurkan kamarnya, aku malah membereskannya? Maaf, aku tidak sebaik itu dan sebosan-bosannya aku, aku tidak akan membereskan kamarnya yang pasti membuatku capek.

Bagaimana dengan kamar Taemin? Aku…takut juga sih. Takut kejadian seperti dulu. Ah sial,  kejadian saat aku dan dia berterngkar dalam diam pfft….

Eh tapi aku penasaran sama kehidupan masa lalunya. Bagaimana dia bisa di rumah sakit itu padahal dia sudah hidup bahagia? Bagaimana gak bahagia? Dia itu member SHINee,  maknae imut yang disayangi serta dilindungi member lain, banyak fans, bergelimang harta hfft…

Jonghyun oppa bilang Taemin itu sama denganku. Sama dimana? Memangnya tampangku cocok untuk jadi pasien rumah sakit jiwa?-_- Tidak mungkin dia tau riwayat hidupku kan. Surat izin untuk magangku sama sekali tidak mengandung riwayat hidup yang isinya ‘macam-macam’. Apa Jonghyun oppa hanya menebak saja? Sepertinya aktingku menyembunyikan semuanya tidak bisa menipu si mantan artis, Kim Jonghyun.

Ah! Molla! >< orang pintar itu selalu ingin tau kan? Aku ingin jadi orang pintar berarti tidak apa-apa jika ingin tau begini. Terserah dengan amukannya nanti, bukannya kita berdua harus saling terbuka saat sekarang agar saling mengenal lebih dalam? (jujur, kalimatku ini seperti pasangan yang ingin menikah secepatnya -_,-) Lagipula kalau dia ngamuk dan melakukan apa-apa denganku, aku kan bisa mengirimnya ke rumah sakit itu lagi (sejujurnya aku heran, apa aku tega mengirimnya dan membiarkan dia disana bersama orang yang tidak waras? Aku takut dia semakin tidak waras jika disana).

Aku langsung melangkah menuju ke kamar Taemin yang tidak jauh dari ruang tengah –sebelah kamarku juga. Setauku, Taemin pernah sempat menulis sesuatu di bekas buku SMAnya –aku diberitau Jonghyun oppa- yang isinya tentang aku (anak ini benar-benar fansku. Kukira dia hanya sekedar suka belakang saja seperti remaja labil tak taunya sudah sefanatik ini. Sebanyak itukah kharismatikku? xD).

Aku sudah berdiri di depan meja di kamar Taemin. Masa iya dia menyimpan buku yang berisi aibnya itu di dalam laci meja? Kalau iya, aneh juga ada orang seteledor itu ._.

Krek…

Ternyata dia benar-benar teledor-___- aku tidak sengaja membuka lacinya dan sekarang aku melihat buku pelajaran matematika kelas 11. Saat aku membuka halaman pertama, terlihat nama hangul untuk Lee Taemin di pojok kanan buku.

Mungkin buku ini yang dimaksud? Buat apa Taemin menyimpan buku SMAnya sedangkan dia sendiri terakhir kali mengenyam bangku pendidikan secara ‘langsung’ saat umur 20? Yah bisa juga hanya untuk iseng semata tapi kan aneh juga ia membawa hanya satu atau mungkin 5 buku sekolah SMAnya selama 3 tahun? Ingin belajar agar suatu saat nanti saat ia keluar, ia bisa mengikuti ujian masuk universitas? Hm, tidak mungkin juga ya.

Ah sudahlah! Intinya aku kesini untuk iseng membaca ‘cerita hidup’ Taemin jadi aku baca saja buku-buku yang terlihat mencurigakan. Terdengar tidak sopan sih tapi kan….sudah terlanjut begini._. maklumlah, aku masih muda jadi labil begini *alasan*

Aku langsung membuka halaman buku matematika itu dengan cepat. Kalau lama-lama, yang ada nanti aku pusing duluan melihat banyak angka dan rumus disana.

Saat melihat bagian ‘halaman’ paling belakang yang seharusnya kosong melompong tapi malah terisi tulisan aneh yang tulisannya berantakkan (mungkin yang menulis itu sudah lama tidak menulis–v), aku langsung berhenti ‘membuka halaman’ dengan cepat dan membaca tulisan ‘cakar ayam’.

Aku menjadi trainee SM diumur 11/12 tahun (setingkat kelas 6 SD lah). Aku tidak tau aku akan keterima disana, yah mungkin memang sudah takdir.

Aku jadi ingat saat ingin ikut audisi dulu, Taejun hyung dengan semangatnya berniat mengantarku ke tempat audisi di Seoul. Hyung bilang ia akan mengantarku sampai ke tempat audisi dengan usahanya, yaitu naik sepeda yang sering ia gunakan untuk berangkat sekolah denganku. Aku bingung, siapa yang sebenarnya ingin ikut audisi? Aku atau Taejun hyung?

 

Untungnya Taejun hyung sudah ahli menyalip kendaraan dengan sepeda mungilnya untuk sampai ke tempat audisi (yeah, jarak dari rumah ke tempat audisi dulu memang lumayan jauh). Aku ingat ekspresi panikku saat sepeda kami hampir saja menabrak, menyenggol, atau mengenai mobil serta kendaraan lainnya. Sebenarnya kami sudah biasa ngebut-ngebutan dengan sepeda ini ( terutama saat ingin berangkat ke sekolah) tapi rasanya kali ni lebih ekstrem.

 

Kami sampai di tempat tujuan 20 menit-an audisinya ditutup. Waktu itu hari terakhir jadi kami memanfaatkan waktu 20 menit itu dengan latihan menari, persiapan kamera -yang ditemukan di dekat ruang tamu oleh Taejun hyung-, dan rekaman just for fun ide dari hyung.

 

Setelah semua ‘itu’ sudah aku lakukan (aku malas untuk menulis panjang-panjang), kami pulang dengan perasaan bahagia dan tenang. Sesampai di rumah, eomma mengomel panjang lebar karna kami berdua tiba-tiba hilang, kami melewatkan makan siang, serta kamera appa yang tiba-tiba hilang.

Kami sudah terlalu biasa kena omelan eomma jadi kami hanya menunjukkan muka bersalah di depannya lalu setelah di dalam kamar, kami malah tersenyum lebar dan bermain bola yang terbuat dari gumpalan kertas di kamarku.

 

Aku lupa selanjutnya, itu sudah hm 11 tahun yang lalu intinya pihak SM mengatakan aku lulus audisi dan ditanyakan soal kontrak, siap ikut trainee yang berat, ingin oplas atau tidak, dll. Eomma dan Appa mendukungku untuk menjadi artis. Kalau hyungku? Tidak usah dipertanyakan lagi. Dia malah sering mengirimkan makanan, surat-surat aneh, benda-benda aneh pula untukku selama aku trainee.

 

25 Mei 2008, aku akan debut bersama SHINee dengan posisi dancer utama -padahal aku mengincar di posisi Vocal, tapi aku pasti kalah tinggi serta bagusnya suara jika dibandingkan Jonghyun hyung, Onew hyung, serta Key hyung. Di saat itu, umurku kira-kira 14, 15, atau 16 tahun saat debut (aku lupa).

SHINee gabungan dari ‘shine’ dan ‘ee’ yang artinya “Orang yang menerima cahaya”. Bagus bukan?😀. SHINee terdiri dari Onew hyung (Lee Jinki) sebagai leader SHINee, Jonghyun hyung (Kim Jonghyun) sebagai vokalis utama /?, Key hyung (Kim Kibum) sebagai rapper kedua, vokalis ketiga, dancer kedua /?, Minho hyung sebagai rapper utama serta visual, dan aku –Taemin untuk stage nameku- sebagai dancer utama serta maknae. Kami berlima debut dengan lagu Noona Neomu Yeppeo (Noona You’re So Pretty).

 

Yah begitulah seterusnya, hidup kami selama jadi SHINee terus naik (yah naik di kehidupan sebagai member SHINee tapi hidup turun sebagai Lee Taemin anak SMA dulu)

Rasanya sudah lama sekali sejak aku debut, aku baru berpikir ada baiknya aku mengunjungi rumahku. 2 tahun aku debut, Taejun hyung tidak bisa datang lagi karna saat itu harusnya Taejun hyung sedang menyelesaikan skripsinya. Aku langsung menanyakan apa ada baiknya aku pulang ke rumah tapi hyung-hyungku hanya diam saja.

 

Onew hyung tetap tidur meskipun aku sudah berteriak beberapa kali, Jonghyun hyung tertidur di atas kursi pijatnya, Key hyung sibuk memasak hingga teriakkanku kalah dengan suara benturan alat masaknya, Minho hyung langsung pergi saat aku keluar dari kamar setelah aku sedang menyusun kepulanganku. Menyebalkan -.-

 

Akhirnya aku berangkat sendiri dan hanya membawa sebuket bunga kesukaan eomma dan beberapa barang lain yang aku beli di tepi jalan.

Untungnya rumahku masih di seoul jadi aku tidak membuang waktu lama untuk sampai ke rumah. Tapi herannya, kenapa rumahku sepi ya. Biasanya jam segini, rumah ramai karna appa pulang untuk makan siang di rumah dan eomma sedang memasak makan siang.

 

Aku mengetuk pintu rumah berkali-kali tapi pintu rumah tidak terbuka. Dulu, saat aku masih SD saat pulang sekolah dan aku sudah berdiri di depan rumah dan belum mengetuk pintu, appa langsung menyuruhku masuk dan bilang selamat datang. Tapi sekarang tidak. Apa mereka pindah rumah?

 

“Oh, Taemin-ssi?”Seorang gadis menghampiriku dari rumah sebelah sambil memeluk ember yang berisi pakaian.

“Ah,nde. Nuguya? Sepertinya aku pernah mengenalmu”ujarku.

“Ini aku, tetanggamu yang dulu sering mengantar kue. Rei pengantar kue berumur 8 tahun dulu!”seru yeoja itu membuat aku ingat memori yang dulu. Ahaha.

“Ah! Nde! Aku ingat! Dimana ya keluargaku?”Rei terlihat sedikit terkejut dan dia menggumamkan sesuatu membuat perasaanku tidak enak.

“Itu, ehm anu. Mereka sedang pergi ke Jepang.”Aku kaget. Sudah berapa lama mereka di Jepang tapi sama sekali tidak mengabariku? Padahal rencananya tahun depan aku akan debut jepang.

 

“Oh…Kapan pulangnya ya?”

“Aku tak tau. Mereka belum lama pergi kok.”Berarti baru beberapa bulan yang lalu.

“Apa mereka menitipkan sesuatu padaku? Mungkin sejenis kunci rumah.”

“Tidak.”Baiklah, aku akan tiap minggu ke rumah untuk mengecek semuanya.

 

Sesuai janjiku, aku mengunjungi rumah terus tapi kau tau, aku orangnya tidak sabaran jadi aku otak-atik saja lubang kunci rumahku saja. Kusuruh Rei untuk diam dan tidak membuka mulut saat melihat aksiku. Dia awalnya melarangku tapi dia langsung meninggalkanku sendirian entah pergi kemana setelah aku menghancurkan pintu.

 

Aku mengitari dalam rumahku. Tidak ada yang berubah. Aku langsung keluar rumah dan menutup pintu.

Aku mengecek kotak surat rumahku. Siapa tau ada hal penting yang aku lewatkan, surat dari keluarga jauhku mungkin atau koran milik appa. Tapi aku hanya menemukan sepucuk surat yang tertujukan untukku dan satu koran.

 

Surat yang ditujukan padaku itu alamat rumah yang sekarang menjadi tempat tinggal mereka di Jepang serta kalimat-kalimat kerinduan Ibu.

Koran itu muncul 1 minggu setelah surat untukku dengan topik utama kecelakaan pesawat menuju ke Jepang. Oh ya, aku pernah sempat melihat berita ini saat di Jepang tapi aku masih ‘baru’ jadi aku hanya bisa membaca beberapa kata di berita itu sambil berusaha mencerna maksud berita utama lewat kata yang aku tau dan gambar yang ditunjukkan.

Perasaanku tidak enak. Daftar korban yang meninggal memang masih belum ada nama eomma, appa, dan Taejun hyung –aku harap tidak ada nama mereka.

 

Nama mereka bertiga ada di daftar korban meninggal.

Aku langsung cepat-cepat menghubungi tim penyelamat yang mencari korban pesawat di jepang. Mereka pasti tau karena ini tim yang benar-benar ‘terpecaya’.

Dengan bahasaku yang pas-pasan dan aksen berantakkan milikku, aku hanya mengucapkan peristiwa di koran itu, tanggal berapa terjadi, nama keluargaku, dan apa mereka benar-benar sudah pergi, kalau iya dimana mereka dimakamkan. Pertanyaanku hanya dijawab dengan alamat dimana mereka dimakamkan –di Korea.

 

Perasaanku campur aduk. Bingung, sedih, heran. Aku kembali ke dorm dengan membawa koran dan surat dari appa. Kemungkinan hyung-hyungku sudah tau jadi mereka hanya diam saja.

 

Sesampainya di dorm, hyungdeul hanya memandangku dengan tatapan apa-yang-terjadi-denganmu. Mungkin karna aku mengumbar senyum.

“Aku berhasil menemukan mereka.”ujarku mennunjukkan kertas yang berisi alamat dimana mereka dimakamkan. Hyungdeul yang melihatnya langsung menghampiriku dan memelukku. Wajah Key hyung sudah menunjukkan tanda-tanda sedangkan mata Jonghyun hyung sudah berkaca-kaca. Onew hyung serta Minho hyung hanya menepuk-nepuk punggungku.

 

Rasanya aku ingin meledak. Bukan karna merasa senang hingga perasaanku ingin meluap saat diberi perhatian disaat sulit begini. Rasanya aku….marah, kesal, dan ingin menangis saking kesalnya.

 

“Kalian ini kenapa? Harusnya kalian senang kan?”ujarku seriang mungkin. Aku tidak pandai akting. Yang ada saat aku tersenyum lebar hingga mataku hilang, aku merasa mataku berair (lucu juga, seseorang sepertiku yang dijuluki a-boy-without-emotion akhirnya menangis juga).

 

Sejak saat itu aku tidak tau apa yang terjadi padaku. Tubuhku hanya bergerak sesuai apa yang terjadi. Yang kuingat hanya keberangkatanku ke pemakaman, apa yang aku bicarakan kepada appa, eomma, Taejun hyung, dan keadaanku sampai ke dorm. ‘Kesadaranku’ muncul lagi saat aku dibawa ke rumah sakit sampai sekarang.

 

Di hari-hari pertama Jonghyun hyung cerita tentang kelakuanku 2 bulan lalu sebelum aku dibawa kesini. Katanya, aku sering menangis, tertawa sendiri, tersenyum sendiri, dna sering tiba-tiba menghilang. Aku seperti orang gila ya.

 

Selesai. Ceritanya selesai. Aku mengusap kedua mataku yang entah sejak kapan sedikit basah. Kita benar-benar senasib ya, Taemin-ssi.

Ryu POV END

***

Taemin POV

Kuayunkan kedua lenganku yang tengah menggengam masing-masing satu kantong plastik besar. Hah, aku baru ingat hari ini awal bulan jadi banyak orang yang berbelanja. Harusnya tadi aku menyadari akal-akalan Ryu. Pasti dia berniat mengacak-acak lagi.

Ngomong-ngomong aku baru sadar. Kenapa ya aku mau-mau saja disuruh belanja =__= apa mungkin karna bisa bebas memilih snack dan susu yang mau aku beli tanpa dicegah seperti dulu. Ah..kalau dipikir-pikir lagi aku membeli sesuatu yang disuruh Ryu rasanya seperti suami Ryu kekekekek~

“Taemin!”Aku langsung berhenti berjalan dan memandang ke arah namja –yang kuyakini Jonghyun hyung karna suaranya khas sedang menyebrang lalu ia berjalan mendekatiku.

“Kau disuruh belanja lagi?”

“Ya! Jangan diambil-ambil banana milkku!”seruku saat melihat tangan Jonghyun hyung terulur ke arah kantong plastik yang berisi makanan.

“Kekekeke, kau sama sekali tidak berubah. Kenapa belanja banyak sekali? Ada acara apa di rumahmu?”

“Bahan makanan habis jadi aku membeli banyak. Tidak ada pesta, yang ada makan siang.”

“Kebetulan sekali,”Jonghyun hyung merangkul leherku.

“,Aku belum makan siang dan tidak suka makan siang sendiri. Aku boleh makan siang di rumahmu?”Aku mengangguk yakin. Ryu itu termasuk dekat dengan Jonghyun hyung jadi kupikir tidak apa-apa kalau Jonghyun hyung ke rumah tiba-tiba.

“Bagaimana kalau kita mengajak member yang lain?”

“Aku….tidak tau.”kataku ragu membuat raut wajah Jonghyun hyung berubah. Mungkin dia mengerti maksudku.

“Yah akan seru kalau kita mengajak mereka. Mereka pasti senang sekali.”

“Tanyakan kepada Ryu saja dulu. Atau lihat saja nanti,”kataku pelan dan tersenyum mantap.

“Geurae. Ayo kita jalan lagi sebelum makan siang selesai.”

***

Ryu POV

Kutepuk bahuku bangga atas ribuan kalimat yang kutulis dengan singkat di sebelah tulisan tangan Taemin.

“Kenapa anak itu lama sekali.”keluhku melirik jam dinding di kamar Taemin dan memandangnya lama sambil duduk di kursi.

Anak itu pasti sedang ngobrol dengan para fansnya atau Jonghyun oppa yang tidak sengaja bertemu dengannya. Dan obrolannya itu pasti…lama.

“Siapa suruh kau disana, Nyonya Lee?”

“Aku Kim Ryusung bukan Lee Ryusung!”Aku menutup mulutku sendiri saat baru menyadari kalau suara berat yang tadi bicara itu suara…

“Wah wah, stalker ya? Sampai sampai membaca sejarah orang lain. Bagus-bagus.”Ini buruk. Di fanfiction yang sering kubaca, orang yang dibaca privasinya langsung marah-marah bahkan sampai memukul =_= apa aku yang terlalu kebanyakan baca fanfiction ya? ==a

Aku melirikkan mata untuk melihat ekspresi Taemin yang sepertinya berubah. Sepertinya karna tulisan tanganku di sebelah tulisannya.

“Tulisanku menggangu ya.”Aku menggaruk-garuk tengkukku. Aku di dalam masalah.

“Mian-“Tiba-tiba Taemin memelukku. Ada apa dengannya? Aku jadi ngeri sendiri -___-v

“Taemin…”Aku mendorong pelan bahu Taemin tapi dia sama sekali tidak bergeming. Aku ngeri.

“Taemin, kau…”Bahuku basah. Anak ini menangis? Apa karna…

“Hehe, kenapa kau menangis a boy without emotion?”Aku mengusap salah satu mataku yang berair dengan jari jempol.

“Jangan meledekku.”ujarnya dingin membuatku merinding mengingat saat dulu.

“Masih bersikap dingin juga saat seperti ya? Taemin yang sekarang sensitif ya.”ledekku.

“YA! Mwoya!”Dia langsung melepaskan pelukannya lalu merengut kesal. Meskipun umurnya sudah 23 tahun dia masih kyeopta kekekeke~

“Kau juga menangis kan?”Taemin menunjuk-nunjuk wajahku dengan kesal membuat aku terkekeh.

“Hey hey, itu kan karna aku merasa sedih dan beranggapan ‘masih ada toh, orang yang memiliki kehidupan kelam seperti itu’”belaku pelan.

“Ah! Sudahlah! Kau! Kemarilah.”Aku malah berjalan melewatinya seakan-akan Taemin tidak ada. Dia bisa-bisa bertingkah aneh lagi.

“Eodiga?”Lagi-lagi aku dipeluk. Apa maunya….–a

“Kau yeoja yang kuat ya. Dan juga baik.”ujar Taemin mengacak-acak rambutku lalu ia menepuk-nepuk kepalaku juga.

“Aku bukan anak anjing.”erangku menjulurkan lidah membuat Taemin kembali tertawa diselingi air di kedua matanya.

“Kau menangis sambil tertawa.”Aku mengusap air mata di sudut-sudut matanya lalu tersenyum.

“Kau ternyata masih bisa tertawa sambil menangis ya.”ujarku heran.

“Ayo kita memasak.”Taemin melepaskan pelukkannya lalu berjalan menuju ke dapur yang ada di sebelah kiri.

“Bahan-bahannya dimana?”Aku berjalan mendahuluinya lalu memandangnya heran.

“Sudah ada di dapur. Sudah diacak-acak oleh Jonghyun hyung.”Jonghyun hyung? Aish….Dapurku bisa berantakkan seperti minggu lalu.

“Aku pulang!”Aku berhenti berjalan dan menatap Sunyoung yang berjalan riang menuju ke dapur.

“Kau bertingkah seperti itu? Tidak malu?”

“Malu untuk ap….Jong….”Sunyoung yang baru membuka matanya dengan jelas saat melihat Jonghyun di dapur lalu ia menutup mulutnya rapat-rapat, takut Jonghyun menolehkan kepalanya ke arahnya dan itu mampu membuatnya merah seperti kepiting.

Aku terkikik sendiri lalu melanjutkan langkahku menuju ke dapur seakan mengabaikan tubuh Sunyoung yang membatu itu.

“Kenapa oppa kesini?”Aku menepuk pundak Jonghyun dan Jonghyun langsung menoleh.

“Yah seperti biasa, bertemu Taemin lagi.”

“Jonghyun hyung yang sengaja menemuiku!”elak Taemin membuat Jonghyun menatapna aneh.

“Sudah sudah, kalau Jonghyun oppa datang juga tidak apa-apa. Rumah ini jadi makin ramai. Kan enak.”kataku membuat pandangan Jonghyun kembali kepada beras yang sedang ia cuci.

“Tapi….apa tidak apa-apa aku kesini membawa orang lain?”

“Annyeonghaseyo!”

“Sunyoung-ssi, kau kenapa kaku begitu?”

“Ada ayam goreng?”

“Taeminie!!”

Aku melongo melihatnya. Benar-benar rombongan.

“Baiklah! Karna banyak yang datang, aku jadi semangat!”seruku keras-keras.

“Kalau begitu, kau saja yang memasak.”Jonghyun menyerahkan panci yang berisi beras ke arahku.

“Mwo? Kenapa begitu? Bantu aku memasak biar masakannya cepat!”seruku membuat Jonghyun terkekeh lalu kembali mencuci lagi.

“Apa yang bisa kubantu? Aku rindu dapur.”Tiba-tiba Key berdiri di belakangmu membuat aku hampir menjatuhkan pisau ke bawah.

“Aku bisa bantu apa? Asalkan jangan mencuci beras.”ulang Key membuat aku menyerahkan pisau padanya membuat Key mundur beberapa langkah.

“Maaf merepotkan, tapi bisakah Key oppa mencari tema makan siang kali ini? Aku bingung.”ujarku tersenyum aneh.

“Gwaechana. Kau hanya tinggal memasak atau membuat minuman sesuai intruksiku oke?”Key mengajungkan jempolnya dan aku juga ikut ikutan mengajungkan jempol.

“Yah! Aku tidak dipanggil oppa?”protes Taemin di ujung dapur.

“Taemin oppa!!!”teriak Jonghyun dengan nada dibuat-buat membuat wajah Taemin berubah menjadi ungu membuat semua orang tertawa.

Krek…

“Sunyoung-ah, kenapa kau mau keluar? Ayo bantu memasak atau menatap meja!”ujarku menghentikkan langkah Sunyoung yang mau keluar rumah diam-diam.

“Ah hehehehe, baiklah.”Sunyoung mengeluyur ke arah meja makan. Seharusnya aku tidak usah bilang ‘menata meja’ kalau begini-_-

***

“Itadakimasu!”Kami memulai acara makan siang dengan kalimat bahasa jepang kami –maksudku aku dan Sunyoung- yang pas-pasan.

“Key-ssi, kau jago masak ya! Masakanmu lebih enak dair buatan Ryu dan aku.”komentar Sunyoung dengan mulut penuh berisi nasi, mendengarnya membuat aku merengut. Bukan karna dibandingkan tapi apa dia tidak mau berbicara dengan mulut penuh begitu di dekat orang yang ia suka sekalipun? Dia kan suka jaga image begitu.

“Tidak ah. Jangan berbicara dengan mulut penuh, Luna-ssi.”Key menunjukkan mulut Sunyoung membuat Sunyoung menutup mulutnya dengan tisu lalu mengelapnya. Aku melongo melihatnya, Kenapa Key oppa memanggil Sunyoung dengan sebutan Luna ya? Itu kan panggilan lama. Oh, Sunyoung kan dulu satu agensi dengan Key -_- pabo.

“Jangan melamun terus dan jangan terkejut.”tegur Taemin yang ada di sebelahku. Aku saja baru sadar dari pemikiranku saat sumpit Taemin menusuk-nusuk di bahuku.

Aku menoleh ke arah Taemin sedangkan Taemin sendiri hnaya memandangku dengan tatapan apa-yang-kau-lakukan-hingga-menatapku.

Aku menggeleng dan berkata,”Aku pikir kau merengut karna Key oppa menegur Luna eonnie dengan baik sedangkan kau dulu tidak pernah dibaik-baikkin gitu.”

Sekarang Taemin dan Luna merengut bersama. Mungkin karna aku memanggil nama panggungnya yang dia bilang jangan sering disebutnya jadi Luna –ralat maksudku Sunyoung merengut tapi kalau Taemin merengut aku tidak tau. Terkadang orang itu sering merengut tak alasan yang jelas.

Aku mengangguk pelan lalu kembali makan sebelum makanannya jadi dingin.

Onew oppa langsung tertawa keras-keras membuat kami semua memandangnya. Dia yang sedang ingin tertawa, sangtaenya keluar, dia kesurupan, atau dia akan menjadi pasien Jonghyun oppa?

“Rasanya seperti masa lalu. Duduk di meja makan dan berbicara hingga suara Key turun tangan lalu suasana hening.”Aku melirik ke arah Taemin dan Taemin hanya menggerakkan mulutnya seakan-akan bilang ‘kau mengkhawatirkanku? Sayang, kau baik sekali.’.

Aku langsung menolehkan kepalaku ke arah Onew oppa yang masih tertawa.

“Kau seperti orang tua. Oh, aku lupa kau emang sudah tua.”tegur Key oppa membuat Onew terkekeh.

“Sudah-sudah, ayo kita lanjutkan makannya.”Rasanya aku ingin mengigit Onew oppa saat mendengar ucapannya itu. Dia yang mengganggu acara makan kami dengan tawanya lalu kenapa…aish.

Kulihat ekspresi wajah Key oppa juga sama gregetannya sepertiku. Baguslah, aku ada teman.

“Terimakasih makanannya. Enak sekali.”Aku menatap Sunyoung sedangkan Sunyoung hanya mengangkat bahunya heran. Oh ya, namja kalau makan kan cepat jadi mereka pasti bisa selesai duluan tapi tapi bukan itu yang diherankan. Mereka bebricara ‘selesai makannya’ benar-benar kompak, seperti robot yang sudah diprogram untuk berbicara seperti itu.

Tiba-tiba tanganku ditarik. Aku menoleh dan melihat Taemin menarik tanganku saat dia berdiri.

“Ayo kita baca tulisanmu bersama-sama.”ajaknya.

“Aku selesaikan dulu makananku, kasian Sunyoung makan sendiri. Lagipula aku tidak tanggung jawab kalau nanti aku atau kau nangis.”sangsiku membuat dia berjalan menghampiri hyung-hyungnya yang tengah menonton televisi bersama di ruang tengah.

“Aku selesai makan.”Sunyoung bangkit berdiri dan mengangkat beberapa piring di atas meja makan.

“Kau ingin melakukan apa sehabis ini?”tanyaku masih menyuapkan nasi ke mulutku. Makanku memang lambat sampai sekarang.

“Membantumu mencucui lalu kembali ke rumah sakit.”katanya mulai berjalan dengan beberapa piring di tanganku.

Aku dengan sigap berlari ke arah Sunyoung dna mengambil beberapa piring teratas yang hampir jatuh itu.

“Tidak bermain-main dulu disini? Apa karna Jonghyun oppa?”tanyaku blak-blakkan membuat Sunyoung kembali merengut.

“Tidak juga. Aku ada jadwal padat di rumah sakit. Daripada aku nanti pulang malam dan membiarkan kalian berdua disini.”

Memangnya apa yang bisa dilakukan dua orang yang sehabis flashback masa lalunya kecuali menghibur diri sendiri atau sama-sama menghibur?

“Jangan mendahuluiku dulu ya anak kecil.”ledeknya merong ke arahku.

“Ya! Ka-“

“Aku selesai. Annyeong semua!”Sunyoung langsung berlari ke arah pintu dan ia melambaikan tangannya.

“Annyeong!”Mereka-mereka hanya melambaikkan tangan dengan muka aneh ke arah Sunyoung lalu kembali ke posisi masing-masing menghadap depan televisi saat Sunyoung sudah menutup pintu. Mirip robot-_-

“Ya! Aku belum selesai bicara! Aish!”jeritku tertahan.

Kepala Sunyoung langsung muncul saat Pintu rumah terbuka sedikit dan berkata,”Memangnya apa yang ingin kau ucapkan? Nanti malam saja ya. Hati-hati 5 lawan 1.”

Aku merengut lagi. Apa maksudnya 5-lawan-satunya itu. Dia kira kami akan bertanding sepak bola.

Aku kembali melanjutkan mencuci piring serta alat masak kami yang belum aku cuci. Sunyoung memang benar-benar…Dia tau saja aku tidak bisa melakukan aktifitas kalau diajak bicara.

“Mau kubantu?”Aku hampir saja menjatuhkan piring yang sedang aku pegang saat mendengar suara bass Taemin yang ada di sebelahku.

“Kau menganggetkan. Suaramu jangan seperti itu, aku parno sendiri saat mendengar suaramu sedingin itu.”ujarku kesal sedangkan dia hanya terkekeh.

“Baik-baik, aku hanya sedang mengingat suaraku saat tanpamu dulu.”ujar Taemin langsung berdiri di sampingku dan membantuku mencuci alat masak yang belum kucuci sama sekali.

Aku tiba-tiba merinding sendiri saat mengingat ucapannya yang ‘tanpamu’. Terdengar menggelikan meskipun sedikit manis.

“Kenapa? Kalimatku indah ya?”

“Tidak.”Taemin merengut lagi dan menatapku.

“Kau benar-benar tidak berubah.”Aku memang tidak berubah. Tidak usah diucapkan lagi, Lee Taemin.

“Cepat selesaikan acara mencuci kita. Aku ingin membaca ceritamu.”

“Baca saja sendiri.”Taemin menatap ke arahku dengan tatapan ada-apa.

“Oh ya, aku tau. Kau takut menangis ya?”Badanku tiba-tiba oleng saat tubuhku disenggol Taemin. Dia tidak sadar apa kalau aku ini kecil.

“Baik-baik, sehabis ini kita baca. Tapi aku hanya menemanimu saja. Aku capek menangis.”Aku menatapnya sengit saat tangannya terulur untuk mencegah aku jatuh lalu dia tersenyum aneh sendiri saat menatapku.

“1-0.”katanya terkekeh sendiri dan aku masih menatapnya sengit.

Ryu POV END

***

Author POV

Story….

Aku, Kim Ryusung memiliki keluarga yang lengkap dan sempurna. Ayah yang orangnya happy terus, Ibu yang selalu tersenyum, dan aku sebagai anak mereka.

Ayah mempunyai perusahaan tapi beberapa tahun setelah perusahaan itu sekitar 15 tahun setelah perusahaan itu bangkit, perusahaan ayah bangkrut.

Kata Ibu, ayah sedang sakit jadi dia di rawat di rumah sakit (padahal kenyataannya ayahku stress karna saat itu aku mau masuk SMA). Aku sering berkunjung tapi saat itu juga aku tidak diperbolehkan masuk. Katanya ayah sedang ditangani.

 

Ayah tidak keluar dari sampai 3 tahun kemudian. Aku tidak masuk SMA padahal seharusnya tahun itu aku sudah lulus SMA tapi aku mengundur waktu sekolahku sampai ayah keluar.

Di tahun itu juga, ayah keluar disaat aku dan ibu mengunjungi ayah. Itu untuk pertama kalinya aku bisa melihat ayah secara langsung tanpa ada jendela yang menghalangi kita. Tapi aku heran, kenapa ayah masih tertidur padahal hari ini sudah siang. Kata Ibu ayah pergi sebentar dan nanti akan kembali. Aku yang terbilang hampir dewasa itu tidak bisa ditipu seperti dulu lagi. Ayah meninggal karna overdosis obat tidur dan penenang, ayah ditemukan meninggal dalam keadaan tidur karna obat tidur yang dosisnya tinggi.

 

Saat itu juga, aku ngin menjadi dokter spesialis jiwa. Ibu awalnya melarangku. Katanya ia takut aku kena masalah karna soal overdosis, menyakiti pasien dengan jarum suntik, atau aku bisa mati dilukai oleh pasienku sendiri tapi aku bilang kepada Ibu, aku akan menjadi dokter jiwa yang akan menangani pasien dengan cara alami serta jarang memakai obat atau jarum suntik dan akhirnya ibu percaya.

 

Aku dan Ibu berkerja dan saling melengkapi untuk mencari uang. Ibu jadi menjual barang di pasar besar dan aku masuk sekolah dnegan umur tertua sendiri sambil berkerja menjadi penjual ‘apa saja’ selesai pulang sekolah.

 

Setelah itu, aku lulus. Memasuki universitas serta bertemu Sunyoung yang kehidupannya sama sepertiku. Akhirnya aku menyuruhnya untuk tinggal bersamaku dan ibu, ibu sangat mengizinkannya.

Aku dilarang untuk bekerja, katanya agar aku fokus untuk kuliah. Untungnya aku kuliah karna dapat beasiswa.

 

Tiba-tiba Ibu mengajak kami bermain ke pulau Jeju saat aku dan Sunyoung berhasil ngebut-ngebutan lompat semester. Rasanya senang sekali kesana setelah memutar otak berkali-kali untuk lompat terus.

Setelah sampai di pulau Jeju, aku dan Sunyoung mengurus semuanya. Kami membiarkan Ibu hanya ambil jadinya saja karna pasti ibu lelah mengumpulkan uang sendirian untuk liburan kami jadi kami ingin membalasnya.

 

Ibu izin minta berenang saat aku dan Sunyoung sibuk memasak. Kami hanya bilang ‘terserah Ibu saja tapi jangan lupa kembali untuk makan siang’, Ibu membalas ucapan kami dan berkata ‘ibu meninggalkan barang-barang ibu di atas tempat tidur ibu’ lalu Ibu pergi keluar.

 

Saat masakan serta tataan makanan di meja makan selesai, kami langsung mengganti baju untuk berenang sampai aktifitas kita terhenti saat terdengar suara keras dari speaker arah pantai yang mengumumkan bahwa ada seorang Ibu-Ibu tenggelam.

 

Aku merasa itu Ibu. Ibu bisa berenang tapi masih ada kemungkinan Ibu tenggelam dengan alasan lain. Aku menarik tangan Sunyoung dan kami berdua lari ke pantai tanpa ada acara aku-perlu-menyeret-Sunyoung-sampai-dia-sadar.

 

Banyak kerumunan orang, aku langsung menyelip di antara kumpulan orang itu semudah mungkin sedangkan Sunyoung hanya menyemangatiku dari luar karna saat dia mencoba menyelinap juga, dia lambat untuk menyelinap meskipun badannya lebih lentur dariku.

Seorang wanita tergeletak di atas pasir dan sedang berusaha di selamatkan –mungkin oleh penjaga pantai dengan nafas buatan.

Aku bukan tipe orang yang termasuk korban sinetron jadi aku hanya menepuk bahu penjaga pantai dan seakan-akan berbincang-bincang dengan tatapan mata.

Ibu sudah pergi. Dengan senyuman yang terukir indah di wajahnya.

Baru kali ini Ibu tersenyum seindah itu semenjak ayah pergi. Saat aku atau Sunyoung mendapatkan prestasi atau berhasil lompat lagi, Ibu hanya tersenyum tulus tapi masih mengandung kesedihan.

 

Sebenarnya penjaga pantai bilang dengan tatapannya kalau Ibu masih bisa diselamatkan tapi aku tidak tau harus melakukan apa. Penjaga pantai juga bilang –dengan tatapannya lagi- kalau Ibu meninggal seperti orang ingin bunuh diri.

 

Aku berpikir untuk tidak menyelamatkan ibu, bukan karna aku anak jahat tapi lebih baik Ibu meninggal sekarang dalam keadaan organ tubuhnya tenggelam tanpa acara keluar darah. Atau Ibu nanti mencoba bunuh diri terus tapi selalu digagalkan anaknya yang menyusahkan ini. Nanti ibu makin sakit karna Ibu tidak bisa yang namanya ‘bunuh diri’ jadi pasti mudah digagalkan lalu Ibu juga orangnya gampang stress, aku tidak mau Ibu menghabiskan hidupnya di rumah sakit jiwa seperti ayah.

Aku bertanya kepada Sunyoung yang akhirnya berdiri di sebelahku karna diberi jalan dan Sunyoung juga sependapat denganku.

 

Kami menebar setengah abu dari jasad Ibu di laut seperti abu milik ayah dan ‘makam’ ibu juga ada di sebelah ayah. ‘Proses’ pemakaman Ibu dilakukan berkat uang dari hasil penjualan barang-barang berharga Ibu yang ditinggal di atas tempat tidur. Di atas tempat tidur, selain ada barang berharga Ibu juga ada surat dari Ibu yang berisi bahwa Ibu rela lahir batin jika barang-barang di rumah, barang berharga, barang kesayangannya dijual untuk membiayai kehidupan kami tapi kami tidak menjual semuanya.

 

Kami menjual rumah dan barang-barang berharga Ibu untuk membeli rumah yang lebih simple. Barang barang kesayangan Ibu dan ayah yang tersisa kami tempatkan di ruangan khusus di rumah ini. Sisa uang membeli rumah kami gunakan untuk kebutuhan hidup serta kuliah.

 

Lee Taemin! Ceritaku memang tidak sepertimu tapi setidaknya aku tau lah rasa yang kau alami jadi jangan masuk rumah sakit lagi ya, merepotkan.

Baiklah, ceritaku selesai.

 

“Ngh…Taemin..”panggil Ryu padahal dia masih terlelap di sebelah Taemin yang tadi membaca cerita Ryu sekarang malah memeluk Ryu lagi.

Cklek…

Taemin langsung menoleh dan melihat Jonghyun mengenggam kamera polaroid dengan posisi menunduk hingga wajahnya tertutup kamera sedangkan Onew, Key, Minho mengeliling Jonghyun dengan wajah penasaran.

“Nice shot!”seru Key bersemangat sedangkan Jonghyun masih memotret berkali-kali. Onew dan Minho sibuk mengibas-ibaskan hasil foto agar hasilnya cepat terlihat.

Taemin masih melongo dengan polosnya masih menatap Jonghyun dengan posisinya yang tidak berubah, masih memeluk Ryu.

“Ya! Taemin-ah! Kau jangan menatap kamera! Nanti hasilnya tidak natural!”gerutu Jonghyun membuat Taemin mengalihkan pandangannya ke arah bukunya yang penuh tulisan Ryu dan tulisannya itu.

“YA! Apa yang kalian lakukan, hyungdeul!”seru Taemin saat ia baru sadar membuat keempat member itu lari sampai terjatuh-jatuh keluar rumah.

“Kami pulang dulu! Terimakasih makanan serta tontonannya!”seru Onew lalu terdengar suara debum keras pintu yang tertutup membuat Taemin menggerutu kesal.

Taemin yang baru sadar ada Ryu di pelukkannya saat Ryu menggeliat pelan. Taemin hanya tersenyum saat melihat wajah Ryu.

“Senang juga kalau menyadari kalau diantara kita itu seperti tidak ada rahasia.”gumam Taemin masih tersenyum dan tangannya ia gunakan untuk mengusap pelan kepala Ryu.

“Kau benar-benar seperti anak anjing. Manis tapi galak dan mudah saja ditipu,”kata Taemin diselingi dengan senyum gelinya.

“Aku sendiri mirip anak kecil yang menjadi pemilik anak anjing. Terkadang riang, iseng, dan murung layaknya anak kecil,”

“Anak anjing melindungi pemiliknya jika diganggu. Pemiliknya sendiri juga akan melindungi anak anjingnya kalau anak anjingnya diganggu juga. Pemilik dan anak anjing juga saling melengkapi. Kalau kekurangan pemiliknya terlihat, anak anjing akan menunjukkan sesuatu dengan cara apapun meskipun itu cara terbodoh sekalipun agar orang lain melihat ‘kekurangan  atau kelebihannya’ bukan lagi memandang si pemilik begitu pula sebaliknya,”

“Jadi mulai sekarang aku akan berperan menjadi anak anjing atau pemilik anak anjing untukmu. Terserah kamu mau berperan jadi apa atau tidak berperan sekalipun tidak apa-apa tapi aku akan tetap memerankan peranku,”

“Memang terdengar seperti orang bodoh tapi kenyataannya memang begitu. Hey, aku dengar tidak?”Taemin melepaskan pelukkannya dan menahan bahu Ryu yang lesu agar Ryu tidak jatuh. Ryu sendiri hanya membuka sedikit matanya lalu mengangguk lemas saking ngantuknya.

“Kau ini hanya mengangguk-ngangguk saja tapi tidak tau apa yang kau setujui.”gumam Taemin.

“Aku mendengarnya tau!”Wajah Taemin perlahan berubah menjadi memerah saat suara khas Ryu keluar dari bibir Ryu sendiri. Kepala Ryu yang tadi sempat tegak langsung lemas lagi hingga kepalanya menunduk membuat Taemin menghela nafas panjang.

“Dasar.”Taemin menarik tubuh Ryu kembali ke pelukkannya. Tangannya yang terkepal melayang dan berhenti tepat di atas kepala Ryu lalu ia menggerak-gerakkan kepalan tangannya di udara seakan-akan dia sedang menjitak kepala Ryu.

Sedangkan kepala Ryu yang ada di bahu Taemin masih terus bergerak menunduk tapi Taemin sama sekali tidak terganggu. Ryu membuka matanya dan merasa panik sendiri.

Bukan karna dia yang ada di pelukkan Taemin tapi karna ia takut Taemin melihat wajahnya yang memerah juga.

Tapi Ryu tersadar sendiri, kalau memang Taemin melihatnya dan dia membahas soal wajahnya yang memerah dia hanya perlu memasang wajah secuek mungkin.

Tiba-tiba mulut Ryu mengerucut merasa kalau ucapan panjang Taemin tadi itu seperti tidak serius.

“Ah, aku tidak peduli!”erang Ryu di dalam hati.

“Mau dia serius atau tidak, aku akan tetap mengambil peran sebagai anak anjing dan pemilik anak anjing. Tidak peduli aku dibilang pabo atau apa.”gerutu Ryu di dalam hati meskipun bibirnya mengukir senyuman.

-END-

Yey! Cerita ini selesai juga! ^^ maaf ya kalau banyak typo, kurang memuaskan, beberapa genrenya gak kerasa, gak nyambung, dll ._.v Gomawo udah banyak ff ini sampai selesai ^^;; *bows*

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

3 thoughts on “The Story! (Because Of You Side Story)

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s