The Day When I Cried

 Title    :  The Day When I Cried

Author : Cicionta

Genre  : Romance, Friendship, Sad   

Length : Oneshoot

Rating  : General

Cast     : Choi Sulli

Choi Minho

Note     : ff ini terinspirasi dari sebuah komik, ingat! Terinspirasi, nggak bosan baca itu komik dan nggak bosan juga nagis berkali kali😄,  so~ let’s read it!

Jangan lupa RCL :3 Gomawo ^^

 

 The Day When I Cried

 

 

Sulli pov

Menangis, entah sejak kapan aku tidak melakukan hal itu lagi, mungkin saat aku di lahirkan ke dunia.

Sekarang, apa yang harus kutangisi? Orangtuaku sudah tidak ada didunia ini, apa aku harus menangisi ahjummaku yang kerjanya hanya mabuk dan merokok? Huh, hanya membuang buang waktuku saja, hampir tiap hari aku harus membersihkan muntahannya karena meminum minuman keras.

kalau bukan dia yang mengurusku karena kematian kedua orangtuaku akibat kecelakaan sepulang dari kunjungan pernikahan kerabat mereka, aku pasti sudah meninggalkan ahjummaku yang merepotkan ini,aku sudah berumur 17 tahun, umur yang cukup untuk hidup sendiri, tapi tidak mungkin, aku harus mengingat jasanya yang  telah mengurusku selama ini.

>>>

Oh tidak, hari ini aku pasti terlambat, karena semalam aku harus terjaga dari kantukku karena ahjummaku demam, jadi aku harus mengurusnya tadi malam, akhir akhir ini memang ia sering sakit, ah aku sangat mengantuk.

Saat aku menyeberang jalan raya

TIN TIN TIN “hey minggir!”

Aku kaget aku tidak tau lagi harus berbuat apa, aku hanya jongkok di tengah jalan raya, menutup kedua telingku dan memejamkan mataku. Takut, aku takut mati. Tapi seperti tidak ada rasa sakit yang kurasakan, aku membuka mataku, kulihat ke sekelilingku, banyak mata yang memandangku.

Kuarahkan pandanganku kearah lain, ada sepeda motor yang sudah rusak terjungkir balik menabrak trotoar jalan bersama penumpangnya , kusadari itulah motor yang mengelekson tadi. Kudekati sepeda motor itu. Apakah penumpangnya masih hidup?

“Ugh, ah, ssakit.”

Kulihat dia meringis kesakitan.

“kau baik baik saja” aku menatapnya dengan penuh belas kasihan.

“apa kau lihat aku baik baik saja? Mengapa kau tidak mematuhi peraturan lalu lintas, tadi itu belum lampu merah, tapi kau terus saja menyeberang,  bagaimana kalau tadi aku menabrakmu, kau kira aku akan rugi berapa?”sekarang namja ini membentakku dengan penuh amarah, ini memang sepenuhnya kesalahanku.

“m mianhe.”

Aku sungguh merasa sangat bersalah, aku tidak berani lagi melangkahkan kakiku ke sekolah, sekarang aku memang benar benar sudah terlambat. Tapi aku tidak lagi memperdulikan keterlambatanku,.

“kenapa kau diam saja? Kau ingin aku mati? Cepat panggil ambulans!”

Ah, bodohnya aku, kenapa aku malah melongo saja dari tadi, aku langsung mengambil ponselku dan memanggil ambulans.

Setelah ambulans datang, aku pun langsung ikut masuk kedalam ambulans itu, tentu  saja aku harus bertanggung jawab.

>>>

Di rumah sakit

Dokter yang memeriksa namja tadi pun keluar dari ruang operasi namja itu, aku langsung menghampiri  dokter itu ingin mendengar penjelasannya. “sendi siku kirinya patah akibat terbentur ke trotoar jalan, mungkin sebulan lagi baru bisa sembuh.”

Patah? Tangannya patah? Bagaimana ini, biaya rumah sakitnya juga, tidak mungkin aku memintanya pada ahjumma yang sedang sakit, aku pastia akan sangat merepotkannya. Aku pun mengigit kuku jariku, inilah kebisaaanku saat aku sedang cemas.

Tiba tiba namja itu keluar dari ruang operasi, menatapku tajam dan berjalan kearahku, aku takut sangat takut.

“kau harus bertanggung jawab atas tanganku, kau harus bertanggung jawab atas motorku.” Aku gemetar, uangnya darimana?  Bahkan uang rumah sakitnya saja aku tidak akan mempu membayarnya

apa aku harus bekerja siang dan malam untuk membayarnya?

“m mianhe, aku tidak punya uang, kedua orangtuaku sudah meninggal, ahjummaku sedang sakit, aku tidak mungkin merepotkannya, a aku akan melakukan apapun untuk membayarnya!”

Kata kata itu pun kulontarkan begitu saja.

“apa pun?” ucapnya

“apa pun.” Aku menjawabnya dengan penuh keyakinan.

“jadilah temanku.” Ia menatapku dengan serius dan sangat dalam mengucapkan hal itu.

“teman? Itu saja?” apa yang ku katakana, ‘itu saja’? berarti aku ingin lebih, ah bodohnya aku.

“tentu bukan itu saja, kau harus menemaniku ke manapun aku mau tanpa ada protes.”

Aku berpikir sesaat  “baiklah, aku setuju.”

>>>

Aku menepati janjiku, aku menemani dia kemana pun, padahal sebelumnya aku berpikir negatif, namja jaman sekarang pasti akan mengajak yeoja muda sepertiku ke tempat tempat seperti club malam bahkan love hotel untuk hal hal yang keluar dari jalur yang seharusnya, apa lagi itu adalah sebuah perjanjian yang harus kulaksanakan.

Tapi tidak dengannya, dia mengajakku ke kafe sekedar memakan cake dan meminum capucino, pergi ke taman untuk menemaninya membaca buku dan tidur siang, dan bahkan hari ini dia mengajakku pergi ke taman bermain, aneh, padahal jika dilihat umur kami tidak terpaut jauh.

Tapi tidak munafik, aku juga menikmati hal ini.

Tiba tiba dia memegang tanganku.

“ayo naik bianglala itu.” Ia tersenyum kearahku, mengajakku?

“ah, aku tidak usah, aku menunggumu selesai bermain saja.”

Dia langsung mengubah ekspresinya padaku. Kulihat dia sangat kesal padaku.

“padahal kau sudah berjanji akan melakukan apa pun.”

Ya, aku memang harus melakukan apa pun sesuai keinginannya, wajah memelasnya sekarang pun membuatku untuk tidak bisa menolak keinginannya. Aku pun langsung beranjak dari tempat duduk yang sedang kududuki dan sekarang malah aku yang menarik tangannya menuju bianglala itu.

Menangis, mungkin aku tidak akan melakukan hal itu lagi, aku sangat bahagia berada di dekatnya.

Di atas bianglala kami hanya diam

“ehem.” Akhirnya dia memecahkan suasana keheningan ini.

“eum, aku belum tau namamu semenjak kita bertemu, siapa namamu nona?” dia pun menunggu jawaban dariku.

“Sulli, namaku Choi Sulli umurku 17 tahun, senang berkenalan denganmu.” Aku pun langsung menyodorkan tanganku kearahnya.

“namaku Choi Minho, panggil aku minho, aku juga berumur 17 tahun.” Dia pun menerima sodoran tanganku dan kami pun bersalaman.

Senang, bahagia, aku seperti sudah mendapatkan hidupku saat aku memegang tangannya, seperti ada yang sudah mengisi kekosongan dalam hidupku.

“Kita benar benar jadi teman sekarang kan?”

“tentu saja.” Sungguh aku sangat senang dan menjawab pertanyaannya dengan sangat yakin.

>>>

Sudah 2 bulan aku dekat dengan Minho, dan sekarang tangannya sudah benar benar sembuh.

Sejak kedekatan kami itu juga dia menjemputku pulang  sekolah tiap harinya, memang jarak sekolahku dengan sekolahnya  tidak jauh.

Setelah pulang sekolah kami sering mampir ke kafe langganan kami, pergi ke taman dan melakukan hal menyenangkan lainnya.

Tiba tiba hujan deras pun datang.

“hei, ayo cepat berteduh! Nanti kita bisa sakit!” ucapku sambil menarik tangannya.

Tidak ada respon, kurasakan tangannya menggigil, wajahnya pucat, bibirnya bergetar, tangannya yang satu lagi menyentuh dadanya seperti menahan rasa sakit yang amat dalam, dan Mnho pun pingsan.

>>>

Di rumah sakit

“dia mengidap penyakit jantung yang sudah sangat parah, maaf sebenarnya aku sudah mengetahui hal ini saat tangannya patah, tapi pasien menyuruhku untuk tidak mengatakannya pada anda, maaf pekerjaan saya masih banyak, saya permisi dulu.”

Aku hanya berdiri kaku mendengar penjelasan dokter itu, ya aku membawanya ke rumah sakit tempat ia mengobati tangannya dulu.

Aku pun memasuki ruang tempat dia dirawat, dia hanya memandang jendela walau aku tahu dia menyadari kehadiranku.

“kenapa kau tidak mengatakannya padaku? Kau bilang kita berteman kan? Kalau aku tahu penyakitmu, aku tidak akan mau kau ajak pergi ke taman karena hari  akan hujan, kenapa kau tidak jujur padaku Minho!” sungguh, aku sangat marah sekarang, aku bahkan membentaknya.

“mianhe,tolong jangan pulang, temani aku di rumah sakit, aku tidak mau sendiri, orangtuaku memang mengetahui penyakitku, tapi aku tidak memberitahukan keadaanku sekarang, aku tidak mau mengganggu kesibukan mereka sekarang.”

Aku hanya menatapnya kesal, tentu aku tidak akan pulang meninggalkannya.

>>>

Hari pun malam

Kulihat Minho yang tidur nyenyak di tempat tidurnya.

Aku tersenyum melihatnya. “tampan” aku bergumam memandangnya.

Aku pun memutuskan untuk tidur, aku duduk di kursi dekat jendela di ruangan rawat Minho yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat tidurnya. Aku pun memejamkan mataku.

>>>

Paginya,

Aku mendapati Minho terbaring di hadapanku, bukan lagi di tempat tidur. Tubuhnya dingin dan kaku.

>>>

Hari ini aku pergi ke pemakaman Minho, aku sama sekali tidak menangis,  tetapi hatiku berteriak, kenapa semua orang yang kusayangi terlalu cepat pergi. Tuhan, ini tidak adil.

Dua hari setelah kejadian itu aku di panggil ke rumah sakit tempat Minho waktu itu dirawat.

“nona, anda perlu melihat hasil CCTV di ruangan rawat tuan Minho.” Dokter yang merawat Minho waktu itu pun memperlihatkan hasil CCTV saat malam sebelum Minho meninggal.

Kulihat Minho terbangun dari tidurnya, ia pun mengarahkan pandangannya kearahku dan tersenyum.

Tiba tiba badannya bergerak menahan rasa sakit yang amat luar biasa, cepat cepat ia ingin menekan tombol untuk memanggil perawat, tetapi tiba tiba dia mengurungkan niatnya itu, dia pun beralih memandangku.

Kulihat dia berusaha melepas jarum infus di tangannya dan turun dari tempat tidurnya sambil menahan rasa sakit, dia berjalan pelan kearahku, dan tiba tiba ia terjatuh,  sekarang ia berusaha merangkak kearahku dan tersenyum puas setelah sampai di hadapanku, dia pun menyamakan posisi kepalaku dan kepalanya.

Dan dia mendekatkan wajahnya ke wajahku,

dan mencium bibirku, mencium bibirku begitu lama.

Dan BRAKK dia terjatuh di hadapanku.

“HUAAAAA hiks, hiks, MINHO!!!!!”

Itulah hari dimana aku menangis,

kenapa baru sekarang aku merasakan sakitnya kehilangan Minho.

>>>

Minho, terima kasih telah menjadi temanku

Minho, terima kasih sudah mengisi kekosongan dalam hidupku

Minho, terima kasih sudah mencintaiku

Walau lama, tapi bersabarlah menungguku.

Walau tidak di bumi ini, aku pasti akan menemukanmu

Selamat tinggal Minho

Aku mencintaimu.

END

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

26 thoughts on “The Day When I Cried

  1. huaaaaaa…
    hiks…hiks…
    sdih bgt bca’a..
    daebak thor q ska..
    tp jdul komik’a pa author-ssi??
    soal’a pnsaran..

  2. Ceritanya sedihh ㅠㅠㅠ
    Minho kasihan bgt T.T

    Alurnya terlalu cepet… Penulisannya juga kurang diperhatiin. Masih banyak penggunaan huruf kapital yg salah. Tapi penulisannya aku bilang cukup rrapi…😉

    Btw ceritanya bagus🙂

    Oh iya, sama ama hyeonmi-ssi. Aku penasaran judul komiknya apa ya? Hehe

    keep writing🙂

    1. hahaha, mian, ini soalnya ff pertama dulu dulu banget, sori ya aku juga nyadar diri gak bisa buat ff bagus -_-, tapi gomawo ya masukannya ^^
      judul komiknya REC ^^

  3. oh abang minoo kasian sekali dirimu T^T
    bagus ceritanyaa aku suka^^

    tapi aku sependapat sama yongie-ssi, aku juga ngerasa alurnya kecepetan yah._.

    ini dari komik? yakin? apa judulnya?😀
    tetap berkarya yah! hwaiting!! \*^^*/

  4. Ya ampuun, Minhooo :”) padahal dia bisa panggil perawat, tapi lebih milih nyium Sulli. Mengharukan, yet he’s a fool //slap/

    Keren ceritanya, suka deh😀 keep writing yaa ^^

  5. Wah.. Ternyata minhonya mengidap penyakit, kasiaan sullinya di tinggal minho. Pas minho terbaring di hadapan sulli dengan tubuh kaku tuh sukses bikin kaget banget.. Nice fanfic..
    Ditunggu karya selanjutnya, thanks author^^

  6. Sad ending.
    Wah oppa kenapa harus pake meninggal sih😦
    Ceritanya bagus thor. Tapi mungkin agak kecepetan jadi kesannya buru-buru. Tapi tetep bagus kok ceritanya.
    Keel writting yaaa!!!

  7. nggakkkkkkkk sukaaaaaaaa !!!!! kok minho ,,meninggal,, nggak boleh ! walau cuma alur cerita,,,,!!!! hikshkshiks sedih banget,,HUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA TT_TT

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s