First Love is Never Die – Part 1

FIRST LOVE IS NEVER DIE (Love 1)

 mineun

Author             : Papillon Lynx

Major Cast      :

–          Lee Taemin SHINee as Lee Taemin

–          Kim Shin You (OC) covered by Son Naeun APink

Minor Cast      :

–          Kim Jongin (Kai) EXO-K as Kai

–          Choi Hanna (OC) covered by Park Hyojin Ulzzang

Other Cast       :

–          Dr. Yurra

–          Jinki Seonsangnim

Genre              :

–          Romance

–          Sad

–          Life

–          Friendship

Length             : 1 of 4

Rating              : PG-16

Summary         :

Kim Shin You menderita kanker otak dan itu membuatnya terpaksa meninggalkan Taemin, kekasihnya, tanpa pamit. Dua tahun kemudian, saat ia dikatakan telah sembuh, Shin You melanjutkan kuliahnya dan bertemu dengan sunbae yang baik hati bernama Kai, namja yang ia tahu adalah sosok yang sangat dikagumi Hanna, teman semasa SMAnya dulu. Mereka pun semakin dekat. Namun keputusannya untuk melanjutkan studi justru membawanya pada takdir dimana ia harus bertemu lagi dengan Taemin. Sayangnya, saat cinta itu kembali tumbuh, Taemin telah menjadi milik Hanna, sahabat baik Shin You sendiri.

Annyeong! Papillon Lynx kembali nih. Kayanya udah lama aku ga nongol di SF3SI ya. Mian, Naega Saranghae “Our Marriage”nya belum bisa aku lanjutin. Jadi,  kali ini aku bawa ff request dari temen sekolahku. Semoga masih bisa menghibur ya. Oh iya, mungkin dari kalian mikir, kenapa ffku ini ga aku ikut-sertakan di event SF3SI yang “Write For Taemin”. Bukan karena aku bukan seorang Taemints, tapi dari awal aku bikin ini ff ya karena bukan buat ikutan itu. Okedah.. Jangan lupa RCL nya ya semua ^^)/

Original Sountrack for this fanfiction : Be Warmed – Davichi ft. Verbal Jint

ALL POV IS AUTHOR’S POV

***

Shin You tak akan pernah percaya pada perkataan Hanna jika ia belum bertemu langsung dengan Jinki Seonsangnim dan bertanya sendiri pada guru muda itu kalau ia berhasil menyandang predikat Juara Umum se-Korea untuk ujian kelulusan tahun ini.

Begitu Hanna menemui Shin You di kelasnya tadi dan memberitahunya kabar gembira itu, Shin You langsung berlari kencang melewati koridor kelas dan menemui Jinki Seonsangnim di ruangannya. Hanna yang mengejar Shin You di belakang hanya bisa membungkuk kehabisan nafas begitu sampai di depan pintu ruangan Jinki Seonsangnim yang ternyata telah tertutup rapat. Karena tak ada pilihan selain menunggu temannya itu, akhirnya Hanna memilih untuk duduk di bangku panjang dekat dengan pintu ruangan Jinki Seonsangnim.

 

TAP TAP TAP…

Suara langkah sepatu yang berjalan mendekati Hanna membuat Hanna mengangkat wajahnya dan melihat dua orang namja berdiri di hadapannya. Untuk sesaat, Hanna hanya bisa menganga melihat Taemin dan Kai ada di hadapannya. Lebih tepatnya, sejujurnya ia hanya terpana melihat kehadiran Kai saja.

“Hanna-ya!”

DEGH!

Hanna menutup mulutnya dan tersadar. Ia tahu siapa pemilik suara yang memanggil namanya baru saja. Lee Taemin, kekasih sahabatnya, Kim Shin You.

“Hanna-ya, jeongmalyo? Younnie mendapat predikat juara umum se-Korea untuk ujian kelulusan tahun ini??” tanya namja itu cepat dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat bahagia.

“Kau pikir aku tuli, huh? Aku mendengar pembicaraan Jinki Seonsangnim dengan guru lain saat melewati kantor guru tadi pagi.” Jawab Hanna sedikit sarkatis. Namun sedetik kemudian, Hanna merutuki dirinya karena telah bersikap ketus begitu di depan Taemin. Apalagi ada Kai di sampingnya. Sial! Gara-gara terbiasa bertengkar dengan Taemin, aku jadi lupa kalau sekarang ada Kai bersamanya. Ya tuhan, aku malu sekali! Batin Hanna.

“Kalau memang benar begitu, syukurlah.” Sambung Taemin dengan kedua mata berbinar.

“Beruntung kau memiliki Shin You, Taemin-ah..” puji Kai yang sejak tadi hanya diam dan baru sekarang mengeluarkan suaranya.

CEKLEK!

Pintu ruangan Jinki Seonsangnim terbuka, menampakkan sosok Shin You yang berwajah muram dan menundukkan kepalanya. Kontan, Hanna, Taemin dan Kai menjadi bingung karena melihat ekspresi wajah Shin You yang tidak terlihat bahagia seperti perkiraan mereka.

Chagi-ya, gwenchana? Kenapa wajahmu kusut begitu? Jinki Seonsangmin berkata apa?” tanya Taemin bertubi-tubi sambil merangkul bahu Shin You dan mengajaknya duduk di samping Hanna.

Ya! Kau tidak senang mendapat predikat juara umum se-Korea, huh?” tanya Hanna dengan tatapan curiga. Namun Shin You tetap diam.

Chagi-ya, bicaralah. Jangan diam saja. Kami jadi bingung.” Mohon Taemin sambil berjongkok di hadapan Shin You dan menggenggam tangannya. Shin You mengangkat wajahnya dan menatap kedua mata Taemin.

Oppaaaaa….!!!” Kata Shin You sambil terisak keras dan menghambur ke dalam pelukan Taemin. Taemin yang kebingungan hanya bisa membalas pelukan Shin You dengan melayangkan tatapan bertanya pada Hanna dan Kai.

W-w-wae geurrae? Kenapa tiba-tiba menang—“

“Huwaaaa.. Aku terlalu bahagia karena mendapat predikat juara umum itu sampai rasanya pita suaraku putus dan aku kehilangan suaraku untuk berbicara.” Racau Shin You sambil masih menangis dalam pelukan Taemin. Sontak, Taemin, Hanna dan Kai tertawa renyah melihat tingkah kekanakkan Shin You.

“Astaga, kukira kau kenapa..” “Astaga, kukira kau kenapa..” Hanna dan Kai sama-sama terkejut ketika menyadari keduanya baru saja mengucapkan kata-kata yang serupa. Hanna yang sempat bertemu pandang dengan Kai, secepat kilat langsung memalingkan wajahnya yang memerah. Sedangkan Kai hanya berdeham kecil untuk menghilangkan rasa canggung yang tadi menyerang dirinya tiba-tiba.

“Bodoh! Kau membuatku khawatir saja, Chagi.. Dasar anak-anak!” kekeh Taemin sambil melepaskan pelukannya dan mencubit pipi Shin You yang basah karena air mata.

***

Sepulang sekolah, Shin You, Taemin, Hanna dan Kai sepakat untuk jalan-jalan ke Distrik Apgujeong yang terkenal sebagai distrik pusat perbelanjaan di Seoul. Begitu sampai di sana, Shin You dan Hanna langsung keluar-masuk berbagai toko dan pasti membeli sesuatu. Taemin dan Kai yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepala. Wajar, namanya juga perempuan. Batin keduanya.

Namun saat mereka berempat memutuskan untuk membeli makan sebelum kembali pulang, ada sesuatu yang menarik kedua mata Taemin ketika melewati sebuah toko accessories kecil di sana.

Ya! Sedang apa kau?” celetuk Hanna yang menyadari Taemin tak melanjutkan langkahnya. Taemin menoleh pada Hanna.

“Ada sesuatu yang harus aku beli. Hadiah untuk Younnie. Kau pergi duluan saja dengan mereka. Tapi jangan mengatakan apapun pada Younnie tentang hal ini ya.” Bisik Taemin. Hanna hanya mengernyitkan dahinya.

“Kalau gratis, aku tidak bisa menjamin rahasia ini akan tetap aman.” Jawab Hanna dengan seringainya.

Aissh, kau ini dengan teman perhitungan sekali! Dasar, mata duitan!” kesal Taemin sambil menoyor kening Hanna. Hanna yang merasa tak terima justru balas menoyor Taemin.

“Kalau tidak mau kasih uang tutup mulut ya sudah. Aku beritahu sekarang pada Shin You loh.” Taemin panik. “Shin You-ya, Taemin ingin memberimu—empth!” Dengan sigap, Taemin langsung menutup mulut Hanna dengan kedua tangannya. “Empth! Empth!”

Ya! Ya! Baiklah, aku kasih uang untukmu.” Kata Taemin yang akhirnya mengalah. Hanna tersenyum puas.

“Mana? Mana? Ppali!” paksa Hanna ketika Taemin mengambil dompet dari saku celana seragamnya dengan wajah sangat tak rela.

Iish, ige!” kata Taemin sambil memberikan uang selembar 200 ribu won pada Hanna. Hanna langsung meloncat senang. “Puas?” Dan Taemin pun meninggalkan Hanna masuk ke dalam toko accessories kecil yang tadi.

“Nah, dengan begini kan semua pihak tidak ada yang merasa dirugikan. Kekekeke..” kata Hanna terkekeh sambil berlalu mengejar langkah Shin You dan Kai yang masuk ke dalam café.

***

“Kau darimana saja, sih?” kata Kai setengah berbisik begitu Taemin masuk ke dalam café dan bergabung dengan yang lainnya. Taemin memilih untuk duduk di samping Kai yang berhadapan langsung dengan Shin You, karena Hanna telah mengambil kesempatannya untuk duduk di samping Shin You. Yeoja serampangan itu! Batin Taemin kesal melihat Hanna yang menjulurkan lidah padanya.

“Ada urusan sebentar.” Jawab Taemin kalem sambil membuka buku menu.

“Sebentar katamu? Kita kelaparan di sini selama setengah jam lebih karena menunggumu, tahu! Kau mau kita mati kembung hanya karena memesan minuman sejak setengah jam yang lalu?” tanya  Kai sebal.

“Ah, Chagi. Mianhae, tadi aku ada urusan sebentar. Tidak apa-apa kan?” Tanpa diduga oleh Kai, Taemin justru tak menggubris pertanyaannya dan justru bertanya pada Shin You. Anak ini.. Bikin kesal saja. Batin Kai yang akhirnya kembali fokus membaca buku menu.

“Iya, tidak apa-apa kok. Oppa, kau ingin pesan makanan apa?” tanya Shin You pada Taemin yang kini sedang memegangi tangan Shin You yang berada di atas meja.

“Apa saja. Kau saja yang pilihkan. Coba, kau ingat-ingat. Apa menu makanan kesukaanku?”

Hanna dan Kai melihat kemesraan mereka dan itu membuat mereka seperti nyamuk karena berada di antara sepasang kekasih yang selalu lengket sedangkan mereka merana karena menyandang status jomblo.

Karena sama-sama merasa kesal, Hanna dan Kai sama-sama menggerak-gerakkan kakinya yang berada di bawah meja ke depan dan ke belakang dan mereka sedikit terkejut ketika kedua kaki mereka saling bertabrakan. Reflek Hanna dan Kai saling tatap.

Blush!

Wajah Hanna merona seketika. Kai juga terlihat salah tingkah.

“Ah, mian!” kata Hanna reflek sambil mengangkat dan menggerakkan tangannya di atas meja. Namun karena ceroboh, tangan Hanna menyenggol gelas jus minumannya dan menumpahkannya ke seragam Shin You. “Omo! Shin You-ah, mianhae! Mianhae!” panik Hanna. Taemin dan Kai juga menjadi panik.

“Ah, gwenchana, Hanna-ya. Aku bersihkan di toilet saja. Sebentar ya semuanya.” Kata Shin You sambil tersenyum menenangkan yang lain dan bangkit berdiri.

“Tunggu, aku temani ya? Nanti aku tunggu di luar toilet.” Kata Taemin yang disambut anggukan kepala Shin You. Mereka pun pergi ke toilet, menyisakan Hanna dan Kai berdua. Namun sebelum Taemin pergi, Taemin sempat menoleh ke arah Hanna dan mengedipkan matanya sebagai kode seakan maksud dari kedipan matanya adalah –silahkan—manfaatkan—waktu—sebaik-baiknya—dengan—Kai—berdua!

Hanna dan Kai kembali diliputi atmosfer canggung satu sama lain. Wajah Hanna kian memerah saja jika ia membiarkan kedua bola matanya terus memandangi lelaki tampan di hadapannya yang sudah selama 2 tahun ini menjadi cinta pertamanya. Sedangkan Kai, namja itu memilih untuk sesekali berdeham dan mengelus-elus tengkuknya tanpa ia tahu apa alasannya ia berbuat begitu setiap kali ia hanya berdua dengan Hanna. Kai merasa tidak pernah bisa menemukan topik obrolan yang bagus jika sedang bersama Hanna.

Taemin, kau gila! Eotthokae?? Aku harus berbuat apa jika berdua dengannya seperti ini? Kesalahan besar karena dulu aku cerita pada Taemin kalau aku menyukai Kai. Dia malah menjahiliku sekarang! Kesal Hanna dalam hati.

***

Shin You membersihkan seragam sekolahnya yang basah dan kotor terkena tumpahan jus pesanan Hanna di depan wastafel. Ia melakukannya dengan hati-hati agar ia tak merusak seragam sekolah almamaternya. Setelah merasa semuanya sudah bersih, Shin You mencuci wajahnya dengan air dingin di wastafel dan mengambil gulungan tissue toilet yang menempel di dinding keramik toilet itu.

“Hhh, Hanna ada-ada saja. Salah tingkah di depan Kai sampai segitunya.” Gumam Shin You sambil mengelap wajahnya dengan tissue tadi. Tiba-tiba, Shin You terkikik. “Sekarang ‘kan mereka hanya berdua, pasti Hanna tambah tidak bisa berkutik di depan Kai.”

Chagi-ya?? Sudah selesai, belum?” suara Taemin yang terdengar dari luar toilet menyadarkan Shin You.

“Iya sebentar.” Balas Shin You sambil mengambil sisir dari dalam tasnya dan mulai merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Shin You tersenyum untuk terakhir kalinya di depan cermin lalu memasukkan sisirnya ke dalam tas. Namun…

DEGH!

Langkah Shin You terhenti. Baru saja ia merasakan sakit yang teramat sangat yang menyerang kepalanya. Sakit itu membuatnya meringis kuat dan reflek satu tangannya berpegangan pada pinggiran wastafel untuk menjaga keseimbangan tubuhnya yang mulai goyah.

“Arrghh.. Kenapa sakit sekali??” rintih Shin You yang kini telah menjatuhkan tasnya ke lantai dan beralih memegangi kedua kepalanya dengan kedua tangannya yang kosong. “Ya, Tuhan! Ada apa dengan kepalaku?? Arghhh..!!!” rintih Shin You semakin kesakitan. Shin You memejamkan matanya rapat-rapat hingga tanpa sadar ia telah terduduk di lantai toilet dan terus menahan jutaan rasa sakit yang menyerang kepalanya.

“Younnie-ya, gwenchana?” suara Taemin terdengar lagi dari luar membuat Shin You membuka matanya dan berusaha mengumpulkan tenaga untuk menjawab.

Ne, Oppa. Kau duluan saja. Aku tidak apa-apa.” Jawab Shin You setengah berteriak agar suaranya terdengar normal di telinga Taemin. “Arrghhh..” rintih Shin You lagi selirih mungkin. Ia tak mau Taemin sampai mendengar rintihannya.

“Baiklah. Aku tunggu dengan yang lain ya. Jangan lama-lama.” Kata Taemin lagi sebelum Taemin memutuskan untuk meninggalkan Shin You.

Shin You mendengar suara langkah kaki yang terdengar mulai menjauh. Ia bisa menebak Taemin telah pergi menjauh dari toilet. Perlahan, sakit di kepalanya pun menghilang hingga tidak ada bekasnya. Shin You merasa aneh dengan dirinya yang tiba-tiba merasakan sakit seperti tadi. Ia berusaha bangkit berdiri. Namun saat ia tak sengaja melihat ke arah cermin besar yang menempel pada dinding, tubuhnya seketika menegang.

Shin You mengangkat satu tangannya dan menyentuh hidungnya. Dan kini matanya semakin lebar setelah melihat cairan kental berwarna merah yang berbau anyir telah mengotori jari-jari tangannya. Ini… DARAH!! Pekik Shin You ketakutan dalam hati.

***

1 Message Received

 

From: Nae Oppa, Lee Taemin

 

Chagi, kenapa kau tidak mengatakan padaku kalau kau akan pergi dan menginap di rumah nenek? Tadi Hanna yang memberitahuku sewaktu aku mencarimu di kelas, tapi kau tak ada di sana. Kau kan bisa mengatakannya langsung padaku. Hari ini waktuku luang kok. Jadi aku bisa mengantarmu ke rumah nenek. Tapi ya sudah, gwenchana. Cepat kembali ya. Jangan terlalu lama meninggalkanku. Saranghae.. ^^

 

Shin You meneteskan air matanya untuk ke sekian kali setelah mendapat pesan singkat itu dari Taemin. Hatinya sangat resah. Ia telah berdusta pada Hanna dan Taemin kalau ia akan pergi ke rumah neneknya. Shin You pun tak yakin, apakah ia akan kembali pada Taemin dan tidak akan meninggalkannya. Ia merasa, ia memang mengidap penyakit yang parah karena setelah kejadian di dalam toilet itu, rasa sakit kembali menyerang kepalanya lagi dan ini sudah ke sekian kalinya.

Tapi, tak ada pilihan lain. Shin You tak mungkin memberitahu mereka hal yang sebenarnya kalau sekarang ia justru pergi ke Seoul International Hospital untuk memeriksakan kepalanya. Dan sekarang, Shin You sedang berhadap-hadapan langsung dengan Dr. Yurra yang baru saja menyuruhnya melakukan proses pemeriksaan panjang untuk mengetahui penyakit apa yang ia derita sebenarnya.

“Aku akan mengusahakan pengobatan yang terbaik untukmu, Shin You-ah. Yakinlah kau pasti akan sembuh.” Kata Dr. Yurra setelah ia membaca hasil lab milik Shin You dan rekam medik yang lain. Shin You mengernyitkan dahinya. Hatinya semakin bimbang. Pengobatan yang terbaik? Batinnya.

“Apa yang sebenarnya terjadi? Memangnya aku sakit apa, Eonni?” tanya Shin You takut-takut.

“Shin You-ah, kau mengidap kanker otak stadium lanjut.”

JDEEERRRR!!!

Shin You terpaku di tempat duduknya. Badannya menegang dengan kedua matanya yang membulat tak percaya. Shin You merasa, seolah untuk sekarang ini kerja otaknya berhenti dan tidak bisa mengirimkan perintah pada syaraf-syaraf tubuhnya untuk bergerak sedikit saja. Namun dalam hitungan detik saja, gunungan air mata di pelupuk matanya tak terbendung lagi.

“K-k-kanker.. O-o-otak, Eonni??” tanya Shin You terbata yang dibalas dengan anggukan lemah kepala Dr. Yurra. Kalau begitu, aku akan mati??

 

Uljimayo, Shin You-ah. Sudah 5 tahun aku menyandang gelar sebagai dokter spesialis kanker dan sebagian dari pasienku bisa sembuh karena memiliki semangat dan kemauan yang besar untuk sembuh. Kau juga harus seperti mereka. Aku akan menyiapkan pengobatan untukmu. Kau tenang saja. Jangan berkecil hati.” Kata Dr. Yurra cepat-cepat, berusaha untuk menghibur Shin You. Tapi tetap saja ada bagian dari diri dan hati Shin You yang telah remuk mendengar kenyataan itu.

“Aku tak pernah mendengar sejarah ada orang yang bisa sembuh setelah mengidap penyakit kanker.” Gumam Shin You setengah terisak. Shin You bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati jendela ruangan. Shin You menutupi wajahnya dengan kedua tangannya dan menangis lagi. Dr. Yurra menatapnya prihatin.

“Kau bisa. Kau pasti bisa. Kau harus pikirkan orang-orang yang ada di sekitarmu. Orang-orang yang kau sayang. Orangtuamu, teman-temanmu dan mungkin…Taemin.”

DEGH!

Kata terakhir Dr. Yurra membuat Shin You menghentikkan tangisnya dan mengangkat wajahnya. Shin You menatap wajah Dr. Yurra seperti meminta penjelasan.

Dr. Yurra ikut bangkit dari duduknya dan menghampiri Shin You di dekat jendela. “Orang-orang itu pasti sangat menyayangimu dan menginginkanmu untuk terus ada bersama mereka. Jika kau menyerah dengan penyakit ini sebelum berusaha, apa kau sanggup melihat mereka menangis karena melihatmu yang putus asa? Hidup dan mati seseorang hanya Tuhan yang tahu. Tapi setidaknya, kita tidak boleh menyerah dengan keadaan begitu saja. Demi mereka, demi hidupmu yang telah kau lalui selama ini, kau harus berusaha untuk sembuh, Shin You-ah..

Shin You mendengarkan dan mencerna setiap kata yag terlontar dari bibir manis dokter muda itu. Perkataan Dr. Yurra memang benar. Shin You tak boleh menyerah. Sakit yang ia derita bukanlah alasan untuknya menyerah dalam hidup. Keundae, aku tidak bisa menceritakan hal ini pada Taemin dan Hanna. Eotthokae??

 

Dr. Yurra menarik Shin You ke dalam pelukannya, berusaha menguatkannya.

“Ayahmu begitu berjasa dalam hidupku. Ia adalah satu-satunya orang yang merekomendasikan diriku agar bisa bekerja di rumah sakit besar ini setelah aku mendapat gelar dokterku. Jujur saja, aku sangat berhutang budi pada bantuannya yang sangat berarti ini. Tapi, bukan karena itu saja aku ingin membantumu, Shin You-ah. Aku melakukan ini sebagai seorang kakak yang ingin melihat adiknya hidup sehat dan bahagia. Percayalah padaku, aku akan mengupayakan segala cara agar kau sembuh.” Kata Dr. Yurra sambil mengusap puncak kepala Shin You. Mendengar hal itu membuat Shin You merasa terharu dan semakin membulatkan hatinya untuk sembuh karena bertambah satu orang lagi yang sangat menyayanginya.

“Jadi.. Apa saja yang harus aku lakukan untuk pengobatanku, Eonni?” tanya Shin You lirih.

“Baru-baru ini aku mendengar rekomendasi rumah sakit khusus kanker di London. Aku sudah membaca profil rumah sakit itu. Semua peralatan medis dan obat-obat yang digunakan sangat baik. Dan dokter-dokter di sanapun memiliki sejarah mengobati pasien kanker yang sangat berpengalaman. Kemungkinan, aku akan secepatnya membawamu ke sana.” Kata Dr. Yurra dengan senyum penyemangatnya. Namun kata-kata Dr. Yurra barusan seperti pukulan berat untuk Shin You.

“Tapi, orangtuaku dan—“

“Kau tenang saja. Aku akan mendiskusikan hal ini dengan Paman dan Bibi Kim hari ini. Baiklah, sekarang kita ke rumahmu. Aku ke toilet sebentar ya.” Kata Dr. Yurra sambil melepas jas putihnya dan menggantungnya di tempat yang sudah tersedia sebelum dokter manis itu pergi meninggalkan Shin You di ruangannya sendiri.

Shin You mematung. Dalam benaknya ia selalu teringat dengan wajah Taemin. Akankah ia akan tetap diam dan pergi begitu saja ke London tanpa memberikan penjelasan apapun pada Taemin? Tapi, ia juga tak yakin akan berapa lama ia berada di London dan itu pasti akan sangat menyusahkan Taemin jika Taemin tahu tentang penyakitnya. Tanpa sadar, Shin You menangis lagi. Menangis dan lebih menangis hingga ia hanya bisa terisak.

***

“Kapan kau kembali dari rumah nenek, hm? Kenapa kau tidak memberi kabar padaku dan tiba-tiba mengajakku bertemu di sini?” tanya Taemin yang baru menapakkan kakinya di pinggiran Sungai Han—tempat pertemuannya dengan Shin You saat ini.

Angin semilir malam hari yang mengoyak anak rambut Shin You membuat Shin You tampak semakin cantik di mata Taemin ketika namja itu sudah duduk di bangku kayu di samping Shin You. Namun ada satu hal yang Taemin rasakan sangat berbeda dari wajah Shin You yang selalu ia pandangi tanpa pernah puas. Wajah itu kini terlihat pucat dan lelah.

“Aku kembali karena aku merindukanmu, Oppa.” Jawab Shin You dengan senyum lemahnya, hal yang belum pernah Shin You tunjukkan sekalipun di hadapan Taemin. Dalam hati Taemin bertanya-tanya, ada apa denganmu, Younnie?

 

“Ada apa? Kenapa kau berkata seperti itu?” tanya Taemin sedikit curiga. “Apa ada masalah dengan nenek di Daegu?” Shin You menggeleng dengan pelan.

Aniyo, gwenchana. Nenek sangat sehat. Semuanya baik-baik saja kok.” Shin You tersenyum lagi. Lebih tepatnya, Taemin baru merasa sekali ini ia melihat Shin You banyak tersenyum. Tapi Taemin merasa tak suka dengan senyuman Shin You yang satu ini. Ia tak tahu kenapa, tapi jika ia bisa, ia ingin mengatakan pada Shin You untuk berhenti tersenyum dengan sinar mata yang mengatakan ia sedang terluka.

Suasana hening. Shin You memejamkan kedua matanya, menikmati angin malam Sungai Han yang menerpa tubuhnya. Angin malam yang hangat di musim semi. Namun tak sedetikpun pandangan mata Taemin lepas dari wajah Shin You.

“Ada hal yang kau sembunyikan dariku?” Tiba-tiba saja tatapan mata Taemin berubah menjadi penuh selidik. Shin You membuka matanya perlahan.

“Hari ini hari ulang tahunku, kan? Dan lagipula, aku telah mendapatkan predikat itu—Juara Umum se-Korea. Aku hanya ingin merayakan kebahagiaan ini hanya berdua saja denganmu. Apakah itu aneh?” jawab Shin You mencoba untuk memberikan senyumnya yang lebih tulus agar Taemin tak lagi mencurigainya.

SRET!

Shin You sedikit terkejut ketika merasakan hangat tubuh Taemin mulai menjalar di tubuhnya. Baru saja, Taemin menariknya ke dalam pelukannya. Shin You tak kuat lagi menahan linangan air matanya yang ia tahan sejak tadi. Biarkan air mata itu mengalir dengan perasaan cintanya terhadap Taemin yang begitu besar.

“Tidak. Tidak aneh, kok. Mianhae, aku telah mencurigaimu yang bukan-bukan. Bukan maksudku seperti itu. Aku hanya merasa khawatir karena sikapmu malam ini terasa berbeda dari biasanya. Biasanya kau bersikap kekanakkan dan manja. Tapi sekarang kau terlihat dewasa dan lebih banyak diam. Aku takut terjadi apa-apa denganmu. Tapi, syukurlah jika kecurigaanku itu salah.” Taemin mengeratkan pelukannya dan tersenyum senang.

“Hiks..” isak Shin You dalam pelukan Taemin. Semua perkataan Taemin menusuk-nusuk hatinya. Semua perkataan Taemin tak ada yang salah. Tapi Shin You justru diam dan membiarkan Taemin yang merasa bersalah padanya. Tiba-tiba saja, Shin You merasa ada yang mengalir keluar dari dalam hidungnya. Saat jari-jari tangannya menyentuh ujung hidungnya, Shin You melihat cairan berbau anyir itu lagi. Shin You semakin menangis.

Saengil chukkae, Chagi-ya. Aku berdoa semoga kau selalu sehat dan bahagia. Aku juga berharap kita tidak pernah berpisah. Neoman saranghae. Yeongwonhi..” Shin You hanya diam, namun ia justru semakin terisak. Ia merasa sedang mengalami detik-detik perpisahan yang tidak pernah ia harapkan.

Taemin yang tidak mengerti apa arti dari tangisan Shin You justru menebak Shin You tengah menangis haru dan bahagia. Taemin tersenyum bahagia sekali lagi. Namun tak tahu kenapa, sebagian hatinya terasa sangat sedih dengan moment ini. Ia seperti merasakan ada kerapuhan dalam tubuh Shin You yang bergetar dalam pelukannya. Ia seperti merasa… Shin You akan meninggalkannya.

Lama mereka berpelukan seperti itu. Keduanya seperti sepasang kekasih yang telah lama dipisahkan oleh jarak dan waktu dan baru bertemu kembali sekarang. Shin You pun sangat menikmati kebersamaan mereka karena ia yakin, setelah malam ini, ia akan sulit untuk berada dalam pelukan Taemin lagi. Shin You memejamkan matanya sekali lagi dan cairan bening itu masih terus mengalir. Dengan cepat, Shin You menghapus darah yang ada di sekitar hidungnya. Ia tak akan membiarkan Taemin tahu deritanya.

Di sisi lain, Taemin teringat sesuatu. Hadiah itu! Batinnya.

Diam-diam, Taemin merogoh saku jaket hitamnya dan mengambil sebuah kotak kecil dari sana. Taemin menarik diri dari pelukan Shin You membuat Shin You heran dan menghapus air matanya dengan tatapan bertanya. Namun Taemin tetap mempertahankan senyumnya dan memberikan kotak kecil berwarna ungu tua itu pada Shin You.

“Apa ini, Oppa?” tanya Shin You sambil menerima kotak itu dengan sedikit ragu.

“Hadiah kecil dariku untukmu. Harganya memang tak seberapa. Keundae, aku membelinya dari uang jajanku yang aku kumpulkan selama sebulan. Bukalah..”

Shin You sangat terharu. Ia tak pernah mengharapkan apapun selain cinta dari seorang Taemin. Ia sadar ia kekanakkan dan manja, tapi ia tidak pernah meminta materi dari Taemin. Ini adalah hadiah pertama dari Taemin setelah 2 tahun mereka bersama.

Shin You membuka kotak itu dan terpana. Sebuah gelang berwarna perak dengan banyak liontin berbentuk anak ayam, tersimpan di dalam kotak mungil itu.

“Kenapa liontinnya berbentuk anak ayam?” tanya Shin You dengan senyum lebarnya. Taemin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

“Itu.. Tak ada maksud khusus sebenarnya untuk saat ini. Keundae, jika kita terus bersama dan kita menikah nanti, aku ingin memiliki banyak anak seperti ayam.”

Shin You tertawa. Taemin merengut namun juga merasa malu karena tingkah konyolnya.

“Apakah hanya ayam saja yang bisa memiliki banyak anak? Oppa, kau ada-ada saja.” Shin You menepuk dada Taemin sambil tertawa. Taemin pun merasa lebih lega karena sekarang ia bisa melihat Shin You tertawa lagi.

“Sudahlah, sini aku pakaikan gelangnya.” Pinta Taemin. Taemin pun memakaikan gelang cantik itu di tangan kanan Shin You. “Kapan-kapan aku belikan cincin. Itu akan terjadi di hari dimana aku akan melamarmu.” Taemin tersenyum dan memeluk Shin You lagi.

Dalam pelukan Taemin, Shin You sibuk memikirkan kata-kata Taemin. Lamaran? Menikah? Apakah itu semua bisa terjadi, Oppa? Padahal, keberadaanku sekarang di sini akan menjadi pertemuan kita yang terakhir sebelum aku pergi…

 

“Berjanjilah padaku. Apapun yang terjadi, tetaplah di sisiku. Jangan pernah meninggalkanku. Jika tidak—“

“Jika tidak apa, Oppa??” tanya Shin You cepat, menyela perkataan Taemin.

“Jika tidak, aku akan mencarimu sampai kau kutemukan dan saat itu juga aku akan membawamu ke rumahmu dan memintamu dari orangtuamu. Aku takkan membiarkanmu pergi lagi.” Kata Taemin dengan nada mengancam yang dibuat-buat. Shin You terkekeh dalam tangisnya.

“Baiklah. Lakukan hal itu jika aku berani meninggalkanmu dan kau berhasil menemukanku lagi setelah itu, Oppa.” Shin You menangis tergugu dalam pelukan Taemin. Ia tidak akan melupakan harum tubuh Taemin malam ini. Ia tidak akan pernah lupa. Sampai kapanpun waktu berlalu, ia akan terus mengingatnya.

Ini adalah malam yang berat. Malam yang tidak pernah Shin You bayangkan akan menjadi malam perpisahannya dengan Taemin meskipun tak sepatah kata perpisahan pun yang bisa terucap dari bibirnya. Karena besok, Shin You bersama kedua orangtuanya dan Dr. Yurra akan mengambil penerbangan paling pagi menuju London.

***

Taemin datang lebih awal ke sekolah untuk mengurus ijazah kelulusannya. Ketika Taemin masuk ke dalam kelas, ia bertemu dengan Kai yang sedang memainkan gitar akustik dan duduk termenung di atas meja.

“Hei.. Ada apa? Kenapa kau terlihat melankolis sekali hari ini?” canda Taemin sambil meletakkan tasnya di atas mejanya dan menghampiri Kai yang masih saja diam.

“Taemin­-ah, ada seorang hoobae yang memberiku surat cinta.” Taemin mendelik. Antara terkejut dan takjub.

Mwo?! Kapan??” tanya Taemin cepat.

“Dia datang langsung ke rumahku tadi malam dan memberikan surat itu. Padahal, tadi malam itu hujan turun lebat sekali. Ia sampai kedinginan dan gemetaran. Ia sampai sakit. Aku baru pertama kali ini melihat seorang yeoja yang sangat tulus seperti dia sampai mengabaikan kesehatannya, Taemin-ah..” Taemin tertegun. Ikut merasakan ketulusan yeoja yang sedang dibicarakan oleh Kai meskipun Taemin tak mengenalnya.

“Jadi, apa jawabanmu atas pernyataan cintanya?” tanya Taemin langsung pada intinya. Sekilas, Taemin memikirkan Hanna. Jika Kai menerima hoobae itu, apa yang akan Hanna lakukan? Gadis itu pasti akan sangat sakit hati. Batin Taemin simpati.

“Aku akan menemuinya sebentar lagi di taman sekolah. Aku akan memberikan jawaban atas surat cintanya.” Jawab Kai singkat sambil memakai tasnya dan membawa gitarnya keluar dari kelas.

Changkamman, Kai. Apa jawabanmu pada hoobae itu?” pertanyaan Taemin menahan langkah Kai. Kai diam sejenak sebelum akhirnya ia memberikan jawaban yang cukup mengejutkan Taemin dan pergi meninggalkan Taemin yang tiba-tiba menjadi merasa sangat tak enak hati pada Hanna.

“TAEMIN-AH!!!”

Teriakan seorang yeoja di depan pintu kelas langsung menarik lamunan Taemin saat itu juga. Taemin kembali ke alam sadarnya dan melihat Hanna tengah berwajah panik sedang menatapnya.

“Hanna-ya, wae geurrae??”

“Shin You pergi!! Shin You dan semua keluarganya pergi! Aku baru saja menghubungi rumah neneknya di Daegu dan tidak mendapat jawaban! Aku menghubungi ponselnya berkali-kali namun hasilnya nihil! Tetangganya bilang, mereka pindah rumah. Katakan padaku, apa kau tahu sesuatu, huh??”

Taemin seperti mendapat hantaman keras di kepalanya begitu semua ucapan Hanna didengar oleh kedua indera pendengarannya. Ia merasa ia tak ingin percaya dengan perkataan Hanna. Tapi jika Hanna berbohong, apakah itu mungkin?

Ya! Jangan-jangan kau juga tidak tahu kalau—“

BRAK!

Taemin berlari melewati Hanna begitu saja dan tangannya menghantam pintu kelas sangat keras, sehingga menimbulkan suara bedebam yang juga cukup keras.

Ya! Lee Taemin!! Eoddi-ga??” pekik Hanna yang telah tertinggal jauh di belakang Taemin. Namun Taemin tak menghiraukannya dan terus berlari karena ia harus memastikan apakah benar kenyataan telah mempermainkannya sekarang.

***

Hanna menyusuri koridor tiap kelas dan memainkan ponselnya dengan cepat. Sudah sejak 10 menit yang lalu Taemin pergi dan sampai sekarang belum memberinya kabar tentang Shin You. Hanna pun sebenarnya tak ingin percaya dengan kepergian Shin You yang sangat tiba-tiba. Sahabatnya itu bahkan tak memberitahunya apapun tentang kepindahannya ini. Hanna benar-benar khawatir sampai rasanya ia merasa bodoh karena ia tak tahu harus melakukan apa selain menunggu kabar dari Taemin.

Tanpa terasa, langkah kaki Hanna yang tanpa arah membawanya sampai ke taman sekolah yang ditumbuhi dengan rumput hijau dan pohon maple yang rindang. Daun-daun pohon maple yang berwarna kuning keemasan membuat Hanna terpukau. Hanna mulai merasa menyesal karena sejak ia resmi menjadi siswa di sekolahnya sampai sekarang ia telah lulus, Hanna bisa menggunakan jarinya untuk menghitung berapa kali ia mengunjungi taman sekolahnya ini. Sebelumnya ia tak pernah menyadari taman sekolahnya seindah ini.

Jeongmalyo, Oppa?!”

DEGH!

Samar-samar Hanna seperti mendengar suara seorang yeoja yang terdengar centil di taman itu. Karena taman sekolah sedang sepi, Hanna menjadi penasaran siapa pemilik suara centil itu. Perlahan, Hanna mulai melangkah mendekati asal suara itu hingga akhirnya Hanna memilih untuk bersembunyi di balik semak-semak yang terawat ketika melihat sesosok yeoja berseragam sekolah almamaternya tengah berdiri dan tersenyum sangat cerah.

“Kau benar-benar menerimaku menjadi yeojachingumu, Oppa?? Apa aku tidak salah dengar?” Suara yeoja yang Hanna yakin adalah salah satu adik kelasnya itu terdengar lagi di telinga Hanna. Kali ini Hanna semakin jelas melihat ekspresi bahagia terpancar dari wajah yeoja itu. Oh, pernyataan cinta ya? Beruntung sekali yeoja itu bisa memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaannya. Tidak seperti aku. Hmm.. Pikir Hanna sedikit merasa iri jika ia mengingat perasaannya pada Kai.

Hanna mengedikkan bahunya dan berniat untuk segera pergi dari tempat persembunyiannya karena ia tidak mau disangka sebagai tukang intip dan penguntit. Namun saat Hanna hendak pergi, tubuhnya terasa mati rasa saat ia melihat sosok namja yang selama dua tahun ini mengisi hatinya, tengah memeluk erat tubuh yeoja itu.

“Kau hanya perlu mendengar kata-kataku ini. Saranghae, Chagi-ya. Neoman saranghae. Terima kasih karena telah datang padaku dan memberikan perasaanmu yang sangat tulus itu. Aku menerimamu karena aku tahu kau adalah gadis yang baik dan sangat tulus.”

JDEERRRR!!!

Kedua mata Hanna terbelalak lebar. Satu tangannya reflek menutup mulutnya yang terbuka. Pelupuk matanya mulai tergenang air mata yang siap tumpah kapan saja. Mendengar dan melihat kenyataan yang ada di hadapannya sekarang, Hanna merasa hatinya sedang dicabik-cabik begitu dalam.

Gomawo, Oppa. Gomawo..” Kai melepaskan pelukannya dan mencium bibir gadis itu membuat Hanna semakin sakit saja. Tak kuat melihatnya dan tak kuat untuk berdiri di sana lebih lama lagi, Hanna pun langsung berlari secepat yang ia bisa dan tangisnya pun pecah. Hingga kedua kakinya kini telah membawanya keluar dari area sekolah dan hujan tiba-tiba datang mengguyur tubuhnya. Langit seperti tahu dan ikut menangis melihat kesedihan Hanna sekarang.

***

TING TONG!

Hanna yang sedang diam termenung duduk di depan televisi yang hanya menampilkan layar hitam pun mulai terusik mendengar bunyi bel apartementnya. Sejak ia sampai di apartement dengan pakaian yang basah kuyup di tubuhnya, Hanna seperti hilang kesadaran sampai-sampai ia lupa mengganti pakaiannya yang basah dan sekarang pakaian yang basah itu telah kembali kering dengan sendirinya.

TING TONG!

Suara bel pintu kembali terdengar, membuat Hanna mau tak mau harus bangkit dari duduknya dan sejenak kembali ke alam sadarnya.

Hanna membuka pintu apartementnya dengan malas dan…

BRUK!

Tubuh Taemin jatuh ke dalam pelukannya dengan tiba-tiba membuat Hanna terkejut luar biasa. Kondisi Taemin tak jauh berbeda dengannya saat ia sampai di apartement tadi. Taemin basah kuyup karena di luar sana hujan belum juga reda.

“Hanna-ya.. Hanna-ya..” racau Taemin lirih. Hanna semakin bingung. Ia tidak mencium bau alkohol sedikitpun dari tubuh Taemin, tapi kenapa namja itu malah meracau seperti orang mabuk?

YA! Taemin-ah, apa yang sedang kau lakukan, huh?! Kau tidak sedang mabuk kan??” marah Hanna karena merasa berat menopang tubuh seorang namja sendirian.

“Hiks..” Tiba-tiba Taemin terisak. Bahunya bergerak naik-turun dan tubuhnya bergetar. Hanna mulai merasa kejadian buruk telah menimpa kekasih sahabatnya itu.

“Taemin-ah, waeyo?” tanya Hanna lirih.

“Dia pergi meninggalkanku. Dia benar-benar pergi. Dan aku tidak tahu kemana ia pergi. Aku sudah mencarinya kemanapun, namun nihil. Dia mengingkari janjinya. Dia mencampakkanku. Sahabatmu itu benar-benar jahat, Hanna-ya. Benar-benar jahat!” Taemin mengeratkan pelukannya di tubuh Hanna membuat Hanna ikut merasakan kerapuhan yang sedang Taemin rasakan sekarang. Ternyata tak hanya hatinya saja yang sedang terluka, tapi Taemin pun begitu.

Malam itu, malam yang hangat di musim semi namun mampu memberikan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang-tulang Taemin dan Hanna. Ingin rasanya mereka memutar waktu agar malam itu mereka tak pernah merasa menyesal dan merasa sesakit itu. Namun, siapa yang mampu mengubah kenyataan hati yang telah hancur? Mungkin waktu yang terus berjalan maju ke depan yang akan mampu menyembuhkan luka di hati mereka. Meskipun pasti akan tetap ada bekasnya.

Beberapa hari berlalu. Waktu terus bergulir dan itu menyadarkan Taemin dan Hanna untuk terus menatap masa depan dan melanjutkan kehidupan dengan meninggalkan kenangan-kenangan pahit mereka di masa lalu.

Taemin dan Hanna kini sibuk mencari perguruan tinggi untuk melanjutkan studi mereka setelah resmi lulus dari SMA. Tak disangka, Taemin dan Hanna bertemu kembali di perguruan tinggi dan fakultas yang sama.

Mereka sama-sama mengambil progam pendidikan di fakultas kedokteran dan itu membuat mereka berdua setiap hari pasti bertemu. Kebersamaan yang menciptakan titik-titik rasa perhatian di antara mereka membuat mereka tanpa sadar melupakan kebiasaan mereka yang selalu bertengkar saat masih SMA dulu. Jalan pikiran mereka menjadi lebih dewasa hingga sebentuk hati yang telah lama kosong di dalam diri  mereka mendapat perintah dari otak untuk mulai merasakan rasa ketertarikan itu satu sama lain.

Taemin berhasil membuka hatinya untuk yeoja lain setelah setengah tahun sejak kepergian Shin You. Ia membuka hatinya untuk Hanna. Ia mulai merasakan Hanna adalah sosok yang penting dalam hidupnya sejak kepergian Shin You. Begitupula Hanna, yang mulai merasakan Taemin sebagai sosok yang tepat untuk menggantikan Kai, cinta pertamanya, yang sekarang tak pernah ia tahu lagi bagaimana kabarnya. Shin You dan Kai sama-sama menghilang sejak kejadian hari itu. Keduanya sama-sama menciptakan misteri untuk Taemin dan Hanna.

Di sisi lain, dengan perbedaan waktu selama tujuh jam dari Seoul, seorang yeoja tengah terbaring lemah di atas ranjang rawatnya di rumah sakit. Pergelangan tangan kirinya tersambung dengan jarum dan selang infus. Selang alat bantu oksigen menempel di lubang hidungnya, membantunya agar bisa bernafas dengan lebih normal. Wajahnya pucat pasi. Namun beruntung, kerja kedua indera penglihatannya masih sangat baik.

Shin You tidak sedang tertidur. Ia tidak bisa tidur. Karena baru saja tadi ia dipindahkan ke ruang rawatnya setelah melakukan kemoterapi rutin dengan Dr. Yurra dan dokter yang lain. Kemoterapi rutin yang menyakitkan. Yang membuat sekujur tubuhnya merasakan rasa sakit yang teramat sangat setelah bahan-bahan kimia itu bercampur dengan darah dalam tubuhnya. Karena itu pula, Shin You harus merelakan rambut panjang sepundaknya rontok hingga tak berbekas di kulit kepalanya.

Sekilas, Shin You kembali teringat dengan Taemin dan Hanna. Sudah setengah tahun, ia tidak melihat dan bertemu mereka. Bahkan Shin You merasa sangat sedih karena ia justru memberikan perpisahan yang akan menjadi kenangan buruk untuk mereka dengan tidak memberikan kabar apapun sampai saat ini. Mungkin hingga ia menghembuskan nafas yang terakhir, Shin You takkan bisa bertemu dengan mereka dan terus merasa sangat bersalah karena telah meninggalkan cinta dan persahabatan begitu saja.

“Tuhan, kumohon berikan aku kesempatan. Berikan aku umur yang sedikit lebih panjang agar aku bisa bertemu dengan mereka. Aku sangat merindukan mereka. Merindukan Taemin Oppa. Aku sangat mencintainya, berikanlah aku hidup. Aku berjanji aku takkan menyakitinya lagi. Namun jika itu terjadi, hukumlah aku.” Isak Shin You sambil memandangi gelang berliontin anak ayam pemberian Taemin yang tidak pernah ia lepas dari pergelangan tangannya.

TO BE CONTINUED

Oke segini dulu, next part, maybe next week. Gomawo, jangan lupa komen yo ^^

 

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

6 thoughts on “First Love is Never Die – Part 1

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s