Y.O.U – Year of Us – [One-side POV]

Title : Y.O.U – Year of Us – [One-side POV]

Author : shnajworld11

Main Casts :

  • Young (OC)
  • Lee Taejin
  • Lee Taemin

Support Casts : –

Genre : Romance, Fluff

Length : Oneshot

Rating : PG – 13

Posted : @ my wp – fjesscjeje53.wordpress.com

A/N : Akhirnya FF Oneshoot-ku yang pertama selesai juga! Dedicated for the one who requested, one of my besties, and all of FFs’ lovers esp. Shawols ma Taemints. Comments are really needed. So, please don’t be a silent reader. Once again, khamzahamnida! Happy reading guys^^!

Warning! : Typo bertebaran. The plot of this FF is MINE!

 

Young’s POV

Aku masih tersenyum sendiri. Ini terasa seperti mimpi dan semua berjalan dengan sangat alami. Bahkan aku masih merasa geli saat memikirkan semua yang telah terjadi padaku setahun belakangan ini. Entahlah, mungkin kalian menyangka aku telah gila, bila melihat kondisiku sekarang, karena aku sendiri pun merasa begitu.

“Ting Tong..”

Bunyi bel rumahku bergema di ruangan ini dan membuyarkan lamunanku tadi. Aku beranjak dari sofa dan berjalan kearah pintu. Kuraih gagang pintu berwarna coklat itu dan ‘cklek’. Tebak apa yang kulihat? Pintu biru, jendela yang masih tertutup rapat, menandakan bahwa orang yang menempati rumah tersebut masih berada di alam mimpi. Itu rumah tetanggaku, dan itu berarti ada yang mengerjaiku. Tidak ada apa-apa disini. Siapa yang berani menganggu mood pagiku yang tengah dalam perjalanan menuju kata ‘really good’ huh?

“Annyeong!”

Tidak ada yang menjawab. Berarti tidak ada orang, kataku memastikan. Aku bahkan tidak mendapati seekor kucing pun berada di halaman rumahku saat pintu ini kubuka. Haish! Kulangkahkan kakiku gontai keluar dari pintu rumah ini. Ah~ Matahari belum bersinar terik, angin masih berhembus pelan mengenai pipiku. Sejuk.. Kuhirup udara pagi ini, ketika kurasakan kakiku hampir menginjak sesuatu.

Sebuket mawar merah muda terpampang didekat kakiku.

Aku tersenyum kecil, mengambil buket bunga tersebut. Pasti anak itu lagi, pikirku. Kuhirup aroma bunga mawar itu. Hhmm~

Kujemput nanti sore jam 4 ^^’ Begitu isi pesan yang tertulis pada kertas kecil, yang terselip diantara mawar-mawar itu.

Kembali kulangkahkan kakiku lagi. Kali ini, kakiku bebas menginjak tanah ini. Kurentangkan kedua tanganku, dengan tangan yang satu masih memegang mawar pemberiannya. Kupejamkan kedua mataku dan kuhiup lagi udara pagi ini dalam-dalam. Lalu perlahan kubuka kembali kedua mataku.

Just feel that morning air is really this fresh.. Aku tersenyum ‘lagi’ (Bukankah sudah kukatakan tadi bahwa aku telah sedikit gila?) dan melangkah masuk ke dalam rumahku yang hangat.

[10:00 A.M KST]

Setelah sarapan, aku pun berjalan ke kamarku. Niatnya hendak mengambil handuk dan baju yang akan kukenakan, namun saat kubuka lemari pakaianku dan mengambil sebuah kaos putih dari dalamnya, selembar kertas tanpa sengaja terjatuh.

Aku pun mengambil kertas yang mendarat di sekitar tempatku berdiri.

Ini.. poster berukuran kecil. Tercetak gambar seorang namja, dengan rambut berwarna coklat kemerahan, yang tengah tersenyum bodoh sambil memegangi kepalanya.

[Flashback]

“Oppa!”, panggilku. Ia menoleh kearahku.

“Ne?”

“Apa aku boleh meminta sesuatu?”, tanyaku.

“Sesuatu?”

“Ya! Jawab dulu pertanyaanku..”

“Katakan dulu apa yang mau kau minta Young-ah..”

“Foto.. Aku mau selcamu oppa!”

“Mwo?? Tidak cukupkah kau memandangiku setiap hari?”, balasnya sambil tertawa kecil.

“Anniyo..”, aku menunduk malu. “Cuma saat kau kerja, terkadang kau tidak sempat menghubungiku, ataupun menemaniku. Nan bogoshippeoyo oppa..”, kataku malu. Sangat! Aku bahkan dapat merasakan bahwa aliran darahku tengah bermuara pada satu tempat, hingga pipiku terasa panas.

“Euhm..”, gumamnya.

“Geureomyeon..”

“Say it one more time.”, pintanya.

Aku mengerucutkan bibirku. “Saat kau sibuk kerja, hingga terkadang tidak sempat menghubungiku, aku bisa merindukanmu oppa..”, kataku singkat.

“Tidak, katakan yang terakhir saja”

“Yang terakhir?”    

“Ne.”, katanya.

“Aku bisa merindukanmu oppa..”

“I didn’t hear anything..”, katanya, sambil tersenyum.

“Aku bisa merindukanmu oppa..”, ulangku ‘lagi’ sambil melancarkan aksi ngambek.

“Ya! Jangan ngambek .. Aku cuma ingin mendengar perkataanmu it, lagi dan lagi”, katanya, tersenyum manis dan membelaiku.

“Jadi.. bolehkah aku minta fotomu oppa?”

“Itu.. akan kupikirkan jika..”

“Ya oppa! Banyak sekali maumu.”

Ia tertawa kecil.

“Jika apa?”

Ia membisikkan sesuatu ke telingaku.

“Ya! Aku malu oppa!”, lagi-lagi pipiku terasa panas.

“Kalau begitu, aku pergi dulu.”, katanya tersenyum, karena berhasil membuatku bingung berkata-kata.

“Ya! Aku sudah menyukaimu lama sekali. Bahkan tanpa kusadari. Sejak awal saat kau mengusiliku, saat tiba-tiba aku melihatmu bersama Hyera dan mendapati diriku yang cemburu, saat a-aku..”

“Saranghae..”, katanya memotong perkataanku sambil menatap mataku. Aku hanya bisa menunduk, aku tidak berani menatap matanya.

“Nado..”, balasku pelan tapi cukup terdengar olehnya. Wajahnya sudah sangat dekat denganku. Aku benar-benar tidak berani menatapnya, aku hanya menutup mataku. Selain itu, jantungku berdebar sangat kencang, hingga aku takut. Takut debaran ini terdengar olehnya.

“Jepret!”

Lho? Itu.. suara kamera.

Ia mengerjaiku? Mwo?, geramku dalam hati.

Aku membuka mataku. Ia tengah berdiri memandangi handphonenya.

“Ya oppa!! Kau mengerjaiku huh?”

“Memang tadi kau kira aku mau ngapain?”, ledeknya. Kurasakan pipiku memanas ‘lagi’

“Oppa jelek!”, kataku kesal. Merasa benar-benar dikerjai.

“Jinjja? Tapi kau menyukaiku.. Aneh”, gumamnya pelan, sembari tersenyum.

Aku baru saja mau membalasnya, ketika handphone-nya tiba-tiba bernyanyi ria. Ternyata managernya menelepon, memintanya agar segera datang, untuk membahas beberapa kontrak baru dengan perusahaan periklanan.

Oh iya, mungkin kalian belum mengetahuinya. Ia, pacarku, adalah seorang model yang cukup terkenal di wilayah Asia. Bukan hanya disini, Seoul, ia juga membintangi beberapa iklan, tawaran dari negara Asia lainnya, hingga boleh dibilang ia mempunyai fans, terutama yeoja, yang cukup banyak.

“Geureomyeon.. Aku pergi dulu yaa Young-ah”

“Ne.. Oppa, fotomu?”

“Nanti akan kukirim lewat email”

“Ya sudah..”

Setelah berkata begitu, ia pun pergi. Aku mengambil tasku, hendak keluar dari ruang santainya, ketika tiba-tiba ia kembali.

“Waeyo oppa? Ada yang..”

Belum sempat kuselesaikan kalimatku, ia telah menarik tubuhku ke pelukannya.

“Mianhae.. Tadi aku mengusilimu..”, katanya pelan.

Aku hanya tersenyum. Ia memang sering mengusiliku, mengerjaiku, namun ia juga yang paling perhatian padaku, khawatir padaku dan berusaha menjaga perasaanku.

“Oppa..”, panggilku.

“Ne?”, balasnya.

“Kau tidak jadi pergi?”

“Jadi.. Sebentar lagi..”, jawabnya. Sesaat kemudian, ia melepas pelukannya dan pergi.

Aku pun berjalan keluar dari gedung tersebut, menuju ke halte bus. Saat melewati penjual majalah dan koran yang berada didekat halte bus, mataku tidak sengaja menangkap sosok yang sangat kukenal terpampang pada cover suatu majalah. Tanpa pikir panjang, tanganku meraih majalah tersebut dan membelinya.

Sesampai dirumah, aku pun membaca majalah tersebut. Ternyata didalamnya ada beberapa foto dirinya. Aku pun mengambil gunting, dan mengunting salah satu fotonya yang paling kusuka.

[End Flashback]

Kuletakkan kembali poster berukuran kecil itu dimeja, lalu beranjak mandi. Setelah mandi, aku pun duduk disofa ruang santaiku. Jujur saja, aku bosan. Menunggu datangnya jam 4 itu rasanya sangat lama. Jam dinding baru saja menunjukkan pukul 11 lewat 30. Iseng-iseng, aku mengaktifkan laptopku yang tergeletak di meja saat itu.

Apa yang harus kulakukan? Main games? Games disini itu-itu saja.. Huh! Mungkin ada baiknya aku melanjutkan curhatanku pada laptopku ini. Selain kakakku, laptop ini adalah salah satu teman terbaikku. Ia selalu ada kapanpun kubutuhkan dan selalu setia menampung curhatanku, yang boleh dibilang tidak penting ini.

‘Dear Lappie,

Pagi tadi aku hampir saja menjadi calon penghuni rumah sakit jiwa haha.. Kau tahu kenapa? Aku hanya duduk termenung disifa, senyum-senyum sendiri, tanpa suatu-alasan-yang-tidak-diketahui-orang-lain, mungkin hanya kau yang mengetahuinya, karena aku baru saja memberitahumu hihi.. Ah! Mungkin perlu kuceritakan juga seseorang-yang-kuyakin-kau-tahu-siapa lah yang memecahkan balon lamunanku tadi pagi, dengan bunyi bel yang cukup nyaring ditelinga.

Kau tahu lappie, ia memberiku sebuket bunga mawar! *blush //* Dan juga mengatakan akan menjemputku nanti sore.. AAAAAH! Aku tidak sabar menunggu datangnya sore.. Kau ikut senang untukku kan lappie?

Oh iya lappie, aku bosan. SANGAT BOSAN. AAARH~’

Apa lagi yang harus kulakukan? Curhat pada lappie sudah! Apa aku harus membersihkan rumahku? Aihh~ Kulirik kalender disamping. Besok? Ah! Hyeonmi eonnie pulang besok! Nan bogoshippeo eonni.. Hyeonmi, eonniku satu-satunya, pergi liburan bersama pacarnya dan teman-temannya ke Pulau Jeju. Sebenarnya ia mengajakku ikut serta, namun aku menolaknya. Ya, ya! Aku akan membersihkan rumah ini, jadi ketika ia pulang besok, rumah ini akan menjadi sangat rapi, gumamku. Anggap saja aku olahraga, lagipula aku jarang membersihkan rumah.

———————————————————————————————————————

[15.00 KST]

Fiuh!

Selesai juga.. Kulirik jam dinding diruang tamu. Sudah jam 3! Aku pun beranjak mandi dan memakai dress selutut berwarna soft pink, dipadukan dengan pita putih, yang melingkari bagian pinggang. Lalu kuraih tas mungil, berwarna putih sebagai pendamping yang senada. Kuletakkan high-heel, setinggi kira-kira 3 cm (maklum saja, aku tidak terlalu menyukai high-heel yang terlalu tinggi), berwarna beige, didekat pintu. Tak lupa kuoleskan lipgloss di bibirku. Done! Saatnya menunggu…

Jarum panjang itu telah beralih ke angka 8. Ya, waktu telah menunjukkan pukul 4 lewat 40 menit. Aku mulai tidak sabar. Kuraih majalah yang ada dimeja, mencoba mengalihkan pandanganku dari jam ke hal lain. Kubolak-balik lembar yang satu ke yang lain, mencari apa saja hal menarik disana. Hingga pada halaman terakhir, terdapat berita mengenai suatu tempat.

[Flashback]

“Young-ah! Maaf membuatmu menunggu. Jeongmal mianhae..”

“Ya Oppa! Kau selalu begini tiap kali mengajakku keluar.”, balasku ngambek. Bayangkan saja, kita membuat janji pada jam 1. Dan sekarang, ia telah membuatku menunggu selama 90 menit lebih.

“Mianhae Young-ah.. Tadi aku ada urusan mendadak yang sangat penting.”

Pasti mengenai kontrak pekerjaannya. Atau artis lain yang sibuk menunda waktunya.

“Aku tahu kau adalah seorang model. Tapi apakah kau tidak bisa mengabariku kalau-kalau kau ada urusan mendadak dan mungkin akan terlambat?”

“Mianhae..”

“Jangan terus mengucapkan maaf oppa. Aku tidak mengerti arti kata itu sekarang. Dan yang aku butuhkan saat ini adalah pengertian. Kau punya nomor teleponku bukan? Apakah untuk sekedar mengabariku saja, kau tidak sempat? Kau tahu oppa, aku sempat berpikir bahwa kau..

“Mianhae Young-ah.. Jeongmal mianhae..”, potongnya. Ia memelukku sebelum aku sempat menyelesaikan kata-kataku.

“Miannata.. Aku tahu kau mengkhawatirkanku.. Mianhae tidak mengabarimu dulu.. Aku kira tadi hanya sebentar, jadi..”

“Kau jahat oppa..”, kataku pelan.

“Kau tahu apa yang kurasakan? Aku sangat takut oppa…”, isakku. Kali ini ia tidak membalas. Ia hanya memelukku. Aku tahu ia mengerti apa yang kukatakan. Setelah merasa agak tenang, ia melepas pelukannya. Ia memegang wajahku, menghapus bekas air mataku dengan tangannya.

“Kajja!”, kataku sambil berdiri. Aku tidak marah lagi padanya. Ia satu-satunya orang yang bisa membuatku begini. Marah lalu tersenyum kembali. Ia tidak melakukan apa-apa untuk itu. Ia hanya mencoba melakukan apa yang ingin ia lakukan dengan memikirkan perasaanku, mencoba melihatnya dari sudut pandangku. Ya, satu-satunya orang yang selalu berpikir untukku dan memperhatikanku.

“Kemana?”, tanyanya.

“Kesana!”. Matanya mengikuti arah yang ditunjuk olehku.

“Kajja!”

Kami berjalan sambil bergandengan, berjalan menuju ke Taman Bermain yang berada tidak jauh dari taman, tempat kami bertemu. Disana terdapat banyak peri-peri mungil yang tengah bermain. Mereka terlihat senang. Tawa yang lepas, senyum yang manis. Aku menyukai suasana yang tercipta di taman ini. Rasanya ada suatu aroma yang tak bisa kuungkapkan. Suatu aroma yang membuatku nyaman.

“Kau senang oppa?”

“Ne..”, jawabnya sambil tersenyum.

“Waeyo?”

“Entahlah.. Rasanya aku dapat melepas beban diotakku. Ringan. Dan… bahagia”, jawabnya lagi.

Ya. Aroma itu adalah aroma kebahagiaan.. Taman ini diselimuti oleh senyum bahagia yang hangat dari mereka yang mengunjunginya, termasuk kami.

[End Flashback]

Kututup lembar terakhir majalah itu. Sekilas, aku kembali melirik jam dinding berwarna orange polos itu. Waktu telah menunjukkan pukul 17.30 KST. Mungkin ia lupa.. Kuraih handphoneku.

‘Kau tidak lupa, kan?’

Ah.. Bukan begini. ————-

‘Ya! Apa kau lupa menjemputku jam 4?’

Anniyo~ Kembali kuhapus teks yang telah kuketik barusan.

‘Ini sudah lewat dari jam 4. Apa kau lupa?’

Aishhh.. Jeongmal~ Kulihat waktu yang tertera pada layar handphoneku telah membentuk angka 17.45 KST . Mwo? Mengetik sms dan menghapusnya berulang kali membutuhkan waktu 15 menit?

‘Neo eodiga?’

Sent!

Aku merebahkan tubuh mungilku ke sofa. Sebentar lagi sudah jam 6. Apa ia benar-benar lupa? Atau ia hanya mengerjaiku? Andwaeyo.. Ia tidak akan melakukannya. Arhh~

Nal bomyeo ooseul ddae mada

Mahm seok gipeun goseseon

Shimgakjaejineun byungi isseoyo~

“Yeoboseyo”

“Aku sudah didepan rumahmu.. Bukakan pintunya.”

“Ne.”

Sudah didepan rumahku. Kenapa tidak tekan bel saja? Aku pun beranjak dari sofa.. Saat ini, waktu telah berjalan dan tengah berhenti pada angka 6 dan 2, 18.10 .. Ia bilang jam 4 dan sekarang..

Ada apa ini?

“Aku mempersiapkannya dari tadi.. Kukira kau akan menyadarinya, tapi ternyata kau sibuk sendiri didalam..”

“Kau yang membuatnya?”, tanyaku pelan.

Ini.. diluar dugaanku. Aku sama sekali tidak menyangka ia melakukan semua ini.

“Ne. Kau tidak keberatan aku memakai halaman rumahmu, kan?”, balasnya sambil tersenyum.

Kugelengkan kepalaku. Saat aku melihat kebawah, terdapat lilin-lilin kecil yang akan mengiringi langkahku kearah meja makan berwarna putih. Meja itu berbentuk lingkaran dengan lilin  ditengah-tengahnya. Tak jauh dari meja, terdapat panggung kecil yang juga dihias secara apik, namun terkesan natural. Aku tidak dapat melihat dengan jelas apa yang terdapat diatas panggung itu, karena tidak ada lampu yang menerangi panggung itu.

Ia mengenggam tanganku, memanduku kearah meja itu. Mendudukkanku ke salah satu kursi yang ada. Kemudian ia menepuk kedua tangannya. Seorang perempuan, yang sepertinya adalah waitress, membawakan makanan kami. Kami makan diiringi oleh musik classic. Ah, aku tahu apa yang ada diatas panggung mini itu. Orkestra mini berada diatas panggung itu, memainkan nada-nada classic yang menyentuh.

“Ini…”, katanya sambil menyodorkan sebuah kotak yang terbungkus rapi padaku.

“Apa ini?”, tanyaku sambil menerima pemberiannya.

“Bukalah..”

Aku pun membuka bingkisan kado yang melapisi kotak itu. Ada sepucuk surat kecil terdapat diatas kotak itu. Kuletakkan kotak itu diatas meja, lalu mengambil suratnya dan membacanya. Tanpa sadar, seulas senyum telah terbentuk dibibirku.

“Saengil chukkaeyo Young-ah..”, katanya sambil tersenyum padaku. Aku hanya membalas senyumannya.

Kemudian aku meletakkan surat itu diatas meja dan beralih pada kotak tadi. Ia membungkus kotak ini double. Aku pun membuka lapisan kedua kotak itu. Ternyata sepucuk surat kecil berwarna soft pink ‘lagi-lagi’ menempati urutan pertama untuk dibuka. Aku pun membaca isi surat ini. Surat itu hanya bertuliskan namaku.

Kali ini, kotak itu sudah tidak dilapisi kertas kado apapun. Aku membuka kotak mungil berwarna dark blue – navy – ini. Sebuah cincin berwarna perak, dengan hiasan soft blue diamond pada bagian tengahnya, tengah tertidur manis didalamnya. Ini..

“Would you be my girl Han Yeon Young?”

Aku mengangkat wajahku pelan. Kurasakan kedua pipiku memanas dan sudah pasti merah. Aku tidak berani menatapnya.

“Mungkin ini terkesan mendadak Young-ah.. Aku tidak tahu apakah – kau – telah melupakan hyung. Aku tidak memaksamu. Kau tidak perlu berusaha melupakannya. Mungkin waktu setahun terkesan singkat. Tapi hyung juga tidak mau melihatmu begini terus..”

Ya, sudah setahun lamanya. Aku tidak mungkin terus mengunci hatiku. Taejin telah tenang disana. Ia juga pasti tidak mau melihatku begini terus. Kurasakan pelupuk mataku memanas, tengah menahan air mata ini agar tidak jatuh. Aku merindukannya. Sangat. Aku tidak tahu apakah sekarang aku boleh menerima Taemin atau tidak. Aku menyayangi Taemin, tapi aku tidak tahu apakah itu rasa sayang terhadap teman atau lebih.

“Sebelum hyung pergi, aku berjanji padanya aku akan menjagamu.. Hyung, ia orang yang baik. Aku tahu mengapa banyak orang yang mencintainya. Aku masih ingat saat kecil, hyung pernah mengusiliku. Ia menyembunyikan mainanku. Tapi ternyata ia membuat duplikasinya. Dan menghadiahiku kedua mainan itu saat ulang tahunku. Hyung orang yang paling peka didalam keluarga kami. Ia selalu memperhatikan abbeoji, eomma dan aku, dongsaengnya.. walaupun jadwalnya sebagai model, juga aktor termasuk padat.. “

Aku hanya diam. Air mataku pun menetes. Nan bogoshippeoyo. Aku berteriak dalam hati. Kenapa ia pergi secepat itu? Ia pernah berjanji akan menjagaku selamanya.. Kurasakan seseorang memelukku dari belakang. Taemin.

“Kau tidak perlu menjawabku sekarang Young-ah..”

Aku hanya diam. Aku tahu aku perlu memikirkan perasaanku. Taemin telah menemaniku setahun ini. Ia juga selalu menghiburku. Ia selalu ada untukku, kapanpun itu. Aku tidak boleh egois. Aku juga perlu mempertimbangkan perasaannya. Mungkin rasa cinta itu telah ada… Aku mengusap air mataku dan tersenyum pelan. Aku menolehkan kepalaku kekanan.

“Kau tahu jawabanku..”, kataku sambil tersenyum  padanya.

‘Terimakasih oppa.. Keberanian ini, juga kebahagiaan ini.. Gomawo..‘ ucapku dalam hati, sambil memeluk Taemin. Aku tersenyum pada langit malam itu.

FIN

Gimana? Kependekan? Atau feel-nya gak dapet?

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

7 thoughts on “Y.O.U – Year of Us – [One-side POV]

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s