The Destiny – Part 12

The Destiny [Part 12]

Tittle                 : The Destiny

Author              : Lee Hana

Main cast          : Kim Kibum, Rika Wibowo and Lee Jinki

Support Cast     : Lee Taemin, Kim Jonghyun and Shim Jungeun.

Genre               : School Life, Frienship, and Romance

Length              : Sequel

Rating               : T

Summary          : Teman-teman selamat tinggal. Jika takdir memang menuliskan kita bertemu, maka kita akan bertemu lagi. Tapi ada satu hal yang aku tahu, kedatanganku bukanlah untuk bersatu denganmu oppa, hanya untuk bertemu dan pergi kembali.

Note                 : Tulisan bahasa Indonesia yang bercetak miring dan berada di dalam kalimat langsung berarti mereka berbicara menggunakan bahasa Indonesia yang sebenarnya.

♛♛♛

Jinki mulai melangkah menuju kelas Rika. Langkahnya terlihat mantap meski masih tidak tahu alasan di balik kebohongan Rika. Tapi atas dasar perasaannya dan keyakinan bahwa Rika masih mencintainya, itu bukanlah sebuah masalah lagi. Setidaknya ia mempercayai kata-kata adiknya, bahwa ada alasan kuat atas semua tindakan yang Rika perbuat.

Jinki mempercayai Rika. Ia mempercayai hatinya. Juga mempercayai adiknya. Lalu apa lagi yang ia tunggu? Itu sudah lebih dari cukup untuk dijadikan sebuah alasan untuk membuang kemarahan dan kekecewaannya.

Jinki telah sampai di tempat tujuannya. Debaran yang menggangu sejak tadi menghilang tatkala orang yang ia cari tidak bisa ia temukan di sana. Hanya siswa dan siswi yang terlihat sibuk dengan urusannya masing-masing. Sedangkan dua sahabat yang tidak sengaja menangkap kehadirannya segera menghampiri.

“Hyung, ada perlu apa?” tanya Kibum.

“Em, Rika ada?”

“Rika?” ujar Kibum dan Minho serentak. Mereka bertatap terkejut.

Minho tersenyum senang. “Hyung, ternyata sudah berbaikan dengannya, ya?”

“Belum, karena itu aku mau bertemu dengannya.”

“Tapi Rika belum datang,” seru Kibum.

“Mwo? Tapi sekarang kan ….” Jinki melihat arah jarum pendek arlojinya. Dilihatnya masih ada sedikit waktu untuk bicara, tapi jika gadis itu belum datang maka ia harus mengurungkan niatnya sampai waktu istirahat makan siang tiba. Tapi masalahnya bukanlah itu, melainkan apa ia benar-benar akan datang?

“Apa mungkin hari ini dia tidak masuk?” tanya Jinki khawatir. Pikirannya mulai terbang menuju masa-masa gadis itu tidak sekolah karena sakit, atau ada sesuatu yang buruk menimpanya. Dia berharap tidak.

“Jungeun pasti tahu sesuatu. Ayo, kita masuk dan bertanya padanya!” usul Minho.

Mereka memasuki kelas dan menghampiri Jungeun yang tengah menyibukkan dirinya dengan buku matematikanya. Melihat tiga namja menghampirinya lantas membuatnya menghentikan aktifitasnya sejenak. Ia menatap ketiganya yang tengah berdiri tidak jauh dari tempatnya duduk.

“Hari ini Rika masuk tidak?” tanya Jinki.

“Molla. Dia tidak mengatakan apapun padaku. Ya ampun, kenapa perasaanku jadi tidak enak, ya?”

Mendapat jawaban itu Jinki langsung mengambil ponsel dan berusaha menghubungi gadis yang tengah ditunggunya. Menempelkan ponsel di telinga beberapa lama membuatnya gugup, sekaligus cemas karena gadis itu tidak kunjung menerimanya. Perasaan yang sama dengan orang-orang yang tengah menatapinya.

Tangan Jinki melemas dan menjauhkan ponselnya dari posisinya.  Wajahnya tampak sedih. “Dia tidak mau angkat teleponku.”

Untuk yang kedua kalinya Kibumlah yang mencoba, dan hasilnya sama. Bahkan untuk ketiga kalinya ketika Jungeun mencoba pun tidak ada bedanya. Nihil.

“Sebenarnya ada apa? Aku tahu ada yang aneh ketika ia meminta berfoto kemarin, apalagi ketika ia menangis,” ujar Kibum cemas.

“Rika kemarin juga mengatakan masalah menyimpan kenangan dengan foto, apa maksudnya?” tutur Minho seraya berpikir.

Jungeun menunduk lesu, matanya menatap ke bawah dan tanpa sengaja mata sipitnya itu menangkap sesuatu. Sepucuk surat di dalam sebuah amplop berwarna biru muda. Warna kesukaan Rika.

“Amplop!” pekik Jungeun.

Semua merapat dan Jungeun pun segera membukanya tanpa banyak bicara. Dalam jangka waktu tidak sampai lima menit semua terbelalak, kemudian berubah kembali menjadi ekspresi sedih. Terutama Jungeun, orang yang paling dekat dengan gadis itu, ia tidak mampu membendung air matanya yang mulai terurai. Isak tangisnya mulai mengundang perasaan ingin tahu dari kawan satu kelasnya.

“Shim Jungeun, gwenchanayo. Jangan menangis!” pinta Minho seraya menepuk-nepuk pelan punggung gadis itu.

Jungeun tahu, karena itu ia tetap berusaha membendungnya, tapi air mata itu terlalu deras hingga ia harus merelakan beberapa tetes jatuh pada punggung tangan yang berada di atas pahanya.

“Aku tidak mau dia pergi. Kenapa dia pergi? Dia tidak mengatakan apapun padaku,” lirihnya.

“Ayo kita ke bandara!” Tiba-tiba Kibum yang sejak tadi bungkam dalam rasa bersalahnya angkat bicara. “Dia pasti belum berangkat. Setidaknya, kita bisa berpamitan sebelum ia benar-benar pergi,” sambungnya lagi serius.

“Kalau begitu kita harus cepat. Aku dan Jungeun pergi memanggil Jonghyun Hyung, sedangkan Hyung dan Kibum panggil Taemin. Kita ketemu di gerbang, oke?” perintah Minho cepat.

Mereka mengangguk mantap dan tanpa buang-buang waktu segera berlari, tidak peduli dengan bunyi bel pertama yang menyuruh mereka agar memasuki kelas—karena bel kedua yang tidak lama lagi menandakan dimulainya pelajaran akan berbunyi juga. Bahkan tanpa disadari Minho mengaitkan tangannya pada Jungeun. Sesuatu yang pernah ia lakukan bersama Rika. Tapi entah, apa ini sebuah pemulaan dari cerita cinta mereka.

______

Deringan telepon sudah berulang hingga tiga kali, namun Rika tetap enggan bahkan hanya untuk sekedar menyentuh. Tangannya mengepal kuat untuk mempertahankan diri dari panggilan itu. Ia tidak mau, tidak mau mendengar permintaan teman-temannya untuk kembali. Ya, itu memang hanya sekedar praduga, namun itu adalah kemungkinan terbesar yang akan terjadi jika ia melakukannya.

“Rika, tidak diangkat? Mungkin itu penting. Itu sudah berdering hingga tiga kali,” tanya Randi.

“Tidak,” jawabnya pendek.

Tatapannya menatap kosong jalan-jalan yang terlihat sangat ramai pagi ini. Sungguh, ini menyesakkan. Sama sesakknya dengan jalan yang para orang itu lewati. Berhimpit dan sulit. Panggilan itu berakhir dan kini ia dapat tenang meski hanya sekedar menyandarkan tubuhnya pada kursi. Masih menatap jalanan dengan wajah sendu.

Maaf

______

“Ajussi, come on!” rengek Kibum sudah begitu kesal.

“Mwo?”

“Ia memintamu membukakan gerbangnya, Ajussi. Bukankah kita sudah mengatakannya sejak tadi?!” omel Jinki kesal.

“Tidak bisa. Ini sudah peraturannya. Aku tidak bisa membiarkan kalian bolos.”

“Aish, kami tidak bolos, Ajussi! Kita ada perlu. Sangat penting!” ujar Taemin geregetan.

“Ne, kita harus ke bandara sekarang. Sudah tidak ada waktu lagi. Please!” mohon Kibum dengan menyatukan kedua tangannya di depan kepalanya yang tertunduk. Memohon dengan sangat.

“Yah, aku bilang tidak bisa, ya tidak bisa. Jika ketahuan saya bisa ditegur kepala sekolah.”

“Yah, kalian! Apa yang kalian lakukan di sana?!” teriak Jonghyun  yang tengah berlari bersama Jungeun dan Minho. Menghampiri mereka di depan gerbang.

Mereka sampai di sana dan melihat raut katiga temannya yang tampak kesal.

Cha Ajussi tidak mau membukakan gerbang, Hyung,” jawab Kibum.

“Kamu sudah memastikan Rika sudah naik pesawat belum?” tanya Jonghyun lagi tapi Kibum hanya menggeleng.

Jonghyun menghela sambil merogoh saku kemeja putihnya. Diambilnya sebuah ponsel android berwarna hitam dan menempelkan ke telingnya tatkala jari-jarinya yang cekatan telah menekan layar beberapa kali.

“Yeoboseyo …. Kim Jonghyun Imnida …. Boleh tanya apa ada penerbangan menuju Indonesia pagi ini? …. Ne?! Pukul berapa keberangkatannya?” Jonghyun melihat jam tangannya. “Aa, ne. Kamsahamnida.”

 

Jonghyun mengakhiri sambungannya dan dengan segera mengambil dompet yang terselip pada saku celananya. Mengambil lima lembar uang sepuluh ribu won dan meletakkannya pada telapak tangan kanan lelaki paruh baya itu. “Ajussi, apa ini cukup?”

“A-ah, ne. Cukup,” jawabnya gugup tanpa mengalihkan tatapannya dari uang pada genggamannya.

“Kalau begitu cepat bukakan!” perintah Jonghyun ketika melihat pak tua itu tak segera bergerak dan tetap terpaku.

“N-ne.”

Tuan Cha segera membukakan gerbang. Satu langkah Jonghyun lalui, tetapi segera ia hentikan. Ia baru sadar bukan hanya pak tua itu yang terpaku, tetapi semua teman-temannya. Apa kalian tahu kenapa mereka begitu? Itu karena mereka melihat Jonghyun yang berubah menjadi begitu keren. Orang kaya yang berpikir selayaknya orang kaya. Bukan seperti Kibum yang terlahir kaya namun tidak mengerti bagaimana memanfaatkan uangnya dengan sebaik mungkin. Namja itu terlalu polos dan sederhana meski statusnya merupakan pewaris tunggal sebuah perusahaan besar.  Sedangkan yang lainnya, hanya siswa biasa yang berkehidupan pada umumnya masyarakat biasa.

Kenapa aku tidak memikirkan itu. Itu yang dipikirkan Kibum dalam masa terpakunya.

Jonghyun menatap mereka heran. “Yah, kaja! Kita tidak punya banyak waktu lagi!” bentak Jonghyun membuat mereka sadar.

Mereka berlari menuju jalan raya dan menyewa dua buah taksi yang akan mengantarkan mereka ke bandara.

______

Duduk pada salah satu kursi yang berjejer tidak membuatnya tenang. Kegusaran semakin menghantuinya tatkala perasaan ingin bertemu semakin kuat. Harapan-harapan mulai muncul, tapi tidak sedikit pun mengurangi keinginanya untuk pergi. Hanya untuk bertemu. Ia tidak menyesal, hanya keinginan yang muncul tanpa alasan. Sebuah alasan yang tidak ia ketahui.

Kakinya terus bergoyang-goyang tanpa ia sadari, sedangkan kepalanya berulang kali menengok ke belakang. Ya, siapa tahu mereka muncul ketika aku menengok, begitulah harapan kecilnya. Harapan yang bahkan ia pikir adalah kebodohan.

Bodohnya. Mana mungkin mereka datang. Mereka pasti sedang belajar di sekolah.

Menyadari suatu kebodohan bukan berarti harapan akan musnah. Ia akan terus berharap sesuai keinginan hatinya, bukan otaknya.

Rika, kamu mengunggu seseorang?” Tanya Randi melihat Rika yang berulang kali menengok kebelakang dan terlihat gusar.

“Ti-tidak, Kak.”

Waktu berlalu, dan sebuah suara ia dengar. Suara yang memberitahukan bahwa ia harus berhenti berharap dan menunggu. Kini saatnya ia bangkit dari kursinya meski enggan. Berjalan bersama yang lainnya dengan menarik koper besarnya.

______

Jinki dan yang lainnya telah sampai di dalam gedung besar bandara itu. Mereka melihat orang-orang yang berlalu lalang dan ada pula yang tengah sabar menunggu keberangkatannya pada jejeran kursi.

Napas mereka tersengal dengan cucuran peluh yang meluncur pada lekuk leher mereka. Mereka terlihat lelah, tapi kesadaran tidak membuat mereka berhenti sampai di sini. Mereka mengedarkan pandangan pada sudut terkecil yang bisa mereka tangkap melalui penglihatan mereka yang terbatas. Melihat di antara puluhan orang bahkan ratusan yang berlalu lalang.

Jinki yang belum menemukannya mulai melangkah lagi, harapannya masih sangat besar, namun Jonghyun memanggilnya sebelum ia pergi lebih jauh dan yang lain mengikutinya. “Yah, Jinki. Ini sudah terlambat!” Teriaknya.

Langkahnya terhenti. Ia terdiam seperti patung lalu berbaik menatap Jonghyun yang terlihat serius.

“Kita terlambat lima menit,” ujarnya lemas.

Jinki tetap terdiam beberapa saat hingga ia terjatuh pada lantai bandara yang dingin. Kakinya terasa lemas dan air matanya mulai berjatuhan seperti peluhnya. Taemin segera menghampiri Jinki dan mencoba menghiburnya. Jonghyun berada di tempatnya dengan kepala tertunduk dalam. Dan Jungeun kini tengah menangis tersedu dalam pelukan Minho. Sedangkan Kibum, ia hanya berdiri diam melihat keadaan teman-temannya yang tengah bersedih, sama sepertinya. Tapi ia tidak menangis, ia hanya menyesal. Penyesalan yang sangat dalam.

Duka menyelimuti perpisahan ini. Perpisahan yang terlalu berat dan menyakitkan.

______

Rika menatap lapangan bandara yang semakin mengecil dari pandangannya dan semakin lama semakin tidak jelas karena awan putih yang mulai menutupi pandangannya. Ia menatap ke bawah. Tampak luas dan kecil. Tempat yang akan ia tinggalkan bersama teman dan keluarganya, juga hatinya.

Setetes air mata jatuh di pakaiannya. Ia terlihat begitu sedih, namun ia tidak mau menagis bahkan hingga tersedu. Ini bukanlah hal yang harus disesalkan. Ia pikir ini adalah jalan terbaik yang harus ia tempuh.

Teman-teman selamat tinggal. Jika takdir memang menuliskan kita bertemu, maka kita akan bertemu lagi. Tapi ada satu hal yang aku tahu, kedatanganku bukanlah untuk bersatu denganmu oppa, hanya untuk bertemu dan pergi kembali.

 

______

 

 To: all my bestfriends

Anyeonghaseyo….

 

Pertama aku ingin mengatakan satu hal, aku senang bisa mengenal kalian dan menjadi bagian dari kalian. Saat kalian membaca surat ini mungkin aku sudah tidak lagi di sini. Aku berangkat pada penerbangan pagi hari, jadi kita takkan sempat bertemu dan mengatakan sampai jumpa. Tapi aku juga tidak mau begitu, karena aku pasti akan luluh mendengar rengekkan kalian yang melarangku pergi. Apa aku terlalu percaya diri berpikir seperti itu?

Baiklah, aku tidak mau banyak basa-basi. Bolehkah aku minta beberapa permintaan?

Yang pertama, aku minta maaf untuk semua rasa sedih, air mata dan masalah yang pernah aku berikan untuk kalian selama kita bersama.

Kedua, jangan melakukan hal bodoh lagi seperti memutuskan persahabatan dan bertengkar. Apapun alasannya.

Ketiga, Oppa dan Kibum, bisakah kamu percaya padaku jika aku tidak pernah bermaksud menyakiti kalian? Aku telah menorehkan luka yang terlalu dalam untuk kalian, dan membuat kalian jatuh cinta tanpa aku sadari. Jadi, bisakah kalian membuang perasaan kalian padaku? Jalani hidup kalian dengan cinta kalian yang baru.

Ya, hanya itu. Aku sekali lagi minta maaf. Aku akan terus mengingat kalian dan terus menyayangi kalian, karena sejauh apapun jarak kita, kita tepat sahabat. Selamat tinggal.

From: Your Best Friend, Rika Wibowo

______

Kau tidak bisa melihat masa depan. Karena kamu hanya bisa melihat masa yang telah kamu lalui.

 

Terkadang jalan yang lurus pada akhirnya menikuk.

 

Dan takdir terkadang tidak sejalan dengan bayang-bayang.

Kehidupan bisa saja berubah sewaktu-waktu

-flashback End-

Rika melangkahkan kakinya menuju pasangan yang berada di hadapanya. Sama seperti yang Rika lakukan, menatap. Mereka juga menatap. Tetapi tatapan yang berbeda satu sama lain. Tatapan bahagia, tatapan kerinduan, dan tatapan bingung. Apa kalian tahu milik siapa saja tatapan-tatapan itu?

Rika tersenyum tipis seraya menyodorkan cincin yang digenggamnya. Jinki menatapnya sesaat membuat dadanya sendiri semakin dibuat sesak.

Bagaimana bisa? Bagaimana bisa kamu melakukan ini padaku, Rika? Pergi sekian lama dan kembali melihatku dalam keadaan seperti ini? Bahkan dengan senyuman kamu menghampiriku dan memberikan cincin ini. Apa kamu benar-benar tidak merasakan apapun? Apa benar-benar tidak tersisa apapun?

 

“Gomaweo,” ujar gadis bergaun indah di hadapan Rika. Ucapan yang tulus dihiasi senyum bahagia.

Rika hanya tersenyum dan mundur perlahan. Mengembalikan dirinya pada tempat semula, dan membiarkan mereka mendapatkan dunia mereka lagi. Tidak lama berselang cincin telah tertancap indah pada jari manis keduanya dan gemuruh tepuk tangan bergema memenuhi ruangan besar itu.

Rika bertepuk tangan juga. Bertepuk tangan untuk kebahagian Jinki. Meski tangisan begitu lirih terdengar di hatinya. Perih. Ia bertanya-tanya, kenapa keajaiaban waktu tak dapat mengobatinya? Membuatnya lupa bersamaan waktu yang berlalu.

“Rika.” Kibum menepuk pundaknya.

Rika berbalik menatap namja tampan di belakangnya. “Kibum?”

“Ayo kita pergi!”

“Mwo?”

“Kau sudah cukup memaksakan dirimu hingga detik ini. Jangan lukai dirimu lebih dari ini.”

Rika tidak menjawab. Ia sungguh mengerti yang Kibum maksud, karena itu, ketika tangan Kibum meraih tangannya dan menggandengnya pergi ia tidak melawan. Hanya mengikuti arah kaki Kibum melangkah. Melewati beberapa orang dan menghilang dalam kerumunan orang yang masih bertepuk tangan.

______

Meski kini sebuah cincin telah melingkar pada jari tangannya bukan berarti itu dapat mengikat perasaan yang kini bergejolak di hatinya. Perasaan rindunya, bahkan perasaan ingin bersama tetaplah muncul tanpa ada yang bisa menahan, meski pikiran sehatnya sekalipun. Ah, entahlah. Rasanya itu sudah tak berguna.

Sorak sorai dan bisingnya tempat itu seperti tak dapat mencapai telinganya. Semua pemandangan di sekitarnya yang begitu ramai bagai tak terjamah oleh penglihatannya. Bibirnya terasa tercekat oleh sesuatu yang sesak. Bagai tuli, buta dan bisu. Seluruh inderanya hanya dapat menangkap seluet sosok yang berdiri tak jauh darinya. Gadis yang bertepuk tangan untuknya.

Gadis yang tengah berbahagia di sampingnya, tersenyum padanya dan memandanganya—meski tatapan Jinki sama sekali tak mengacu pada wajah atau manik mata indahnya. Ya, membuat gadis itu sedikit heran.

Jinki mulai melangkah menjauhinya tanpa menyadari apapun, bahkan di mana atau apa saja yang mengelilinginya. Jinki hanya perlu menghampiri Rika. Hanya ingin dia tak lagi pergi darinya. Tapi….

Kibum menghampirinya dan membawanya pergi. Jinki semakin menjauh dari pasangannya yang terus memanggil namanya. Namun seperti yang dikatakan. Dia sudah tuli, buta dan bisu.

Kini ia telah berada di antara para undangannya yang melihatnya dengan heran. Jinki berwajah sendu yang berputar-putar mencari sesuatu. Mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru arah.

Tidak! Dia ke mana? Rika ….

 

Seseorang menepuk pundaknya dari belakang.

“Rika!” panggilnya setengah berteriak.

“Rika?” ulang Jonghyun dengan salah satu alis terangkat. Sedangkan yang lainnya menatapinya dengan wajah cemas dan takut akan pikiran yang tiba-tiba mengganjal otak mereka.

Hyung, kau masih….” Taemin memandang serius kakaknya yang baru saja tersadar dan terlihat bingung.

“Jinki, kenapa pergi begitu saja?” Tiba-tiba Yoonji menghampirinya.

______

Kibum berjalan menuju seseorang yang tengah duduk seraya menatap cangkir kopi panasnya yang masih penuh. Tatapannya kosong, tapi tidak dengan otaknya yang penuh.

“Anyeonghaseyo, Hyung,” sapa Kibum kemudian duduk di hadapannya.

“Anyeong.”

 

Kibum mendesah berat dan menyandarkan punggungnya. “Jadi, tentang Rika?” tanya Kibum penuh keyakinan meski Jinki sama sekali belum menyinggung sedikit pun tentang nama itu.

Jinki mengangguk lemas.

“Lalu apa yang akan kau lakukan?”

“Mwo?”

…………………..

“Noona, sudah menunggu lama?”

Namja berjaket biru baru saja duduk di hadapan gadis yang tampak muram. Gadis itu hanya menatap kosong dalam lamunannya—membuat namja di hadapannya menjadi heran karena pertanyaannya tak kunjung dijawab.

“Yah, Noona, kau kenapa?” ulangnya.

“Hah? A, ne?”

 

“Apa yang sedang kau pikirkan, Noona?”

 

Yeoja itu menghela berat kemudian merunduk lemas. “Taemin, apa sesuatu terjadi pada Jinki? Apa dia sakit?”

“Aniyo. Dia baik. Wae?”

Yeoja itu sejenak terlihat berpikir. “Dia tak mau membalas pesanku atau mengangkat teleponku. Aku khawatir padanya. Aku kira dia sakit. Untunglah dia baik-baik saja,” ujarnya kemudian tersenyum lembut.

“Wae, Noona?” ulang Taemin lagi.

“Mwo?”

 

“Noona, apa yang ingin kau bicarakan denganku?” Kali ini pertanyaannya terucap lebih panjang dan jelas. Tak kunjung mendapat respon Taemin bicara lagi, “Pasti ada sesuatu yang ingin kau bicarakan, kan? Tak mungkin Noona memintaku bertemu hanya untuk menanyakan seputar kesehatan Jinki Hyung.

“Aku memang tak pintar berbohong. Apa kau tahu sesuatu tentang gadis yang memberikan cincin waktu itu?”

…………………..

“Hyung, sekarang apa yang kau lakukan? Jangan katakan kau masih mencintai Rika dan berniat kembali padanya?”

Jinki diam.

“Hyung?”

Jinki berdiri dari tempat duduknya. “Anyeonghaseyo.” Kemudian pergi meninggalkan Kibum yang bertampang cemas.

 

“Hyung!”

 

Jinki tak bergeming dan meneruskan langkahnya.

…………………..

“Jadi, dia ….”

“Tolong jangan berpikir macam-macam pada Jinki Hyung, Noona. Aku rasa dia hanya terkejut saja dan ….”

“Tentus saja, Taemin.”

Taemin yang tampak khawatir kini ekspresinya begitu terkejut. Ia tak menyangka respon tenang Yoonjilah yang ia dapatkan. Gadis di hadapannya ini bahkan mengumbar senyum di hadapannya.

“Kita sudah bersama selama dua tahun. Sedangkan gadis itu bahkan belum satu tahun. Aku percaya pada tunganganku sendiri. Tenang saja.”

______

Jinki memasuki kamarnya dan segera menggeletakkan tubuhnya di atas ranjang empuknya. Ia ingat beberapa hari lalu bagaimana dirinya yang gundah untuk memutuskan tentang pertunangannya. Meski pada akhirnya ia bertunagan, tapi ia pikir ia memilih pilihan yang salah. Mungkin seharusnya ia tak terburu-buru mengingat  usianya yang masih cukup muda. Hanya karena ingin menampik bayang-bayang Rika ia menjadikan Yoonji sebagai pelariannya. Ya, itu terdengar kejam dan lebih kejam lagi karena ia kini memutuskan untuk mencintai Rika kembali. Ia pikir ia tidak kejam, hanya cintalah yang kejam, atau takdir yang mempermainkannya?

Bergulirnya waktu ia pikir cinta membuatnya semakin sesak dan ia harus segera keluar dari lingkaran hitam itu. Ia bagai katak dalam tempurung. Tapi kini ia sadar ia tak pernah ke mana-mana. Selalu berada di tempat yang sama. Hatinya selalu berada di tempat yang sama.

Deringan telepon membuyarkan lamunannya. Kembali ke alam sadar ia segera meraih ponsel di saku dan melihat nama yang tercetak di layar ponsel. Entah untuk keberapa kalinya ia membiarkannya begitu saja. Dan beberapa menit kemudian masuklah pesan suara pada ponselnya. Untuk kali ini Jinki dengan senang hati mendengarkan.

“Jinki, kau baik, kan? Aku sudah dengar cerita dari Taemin tentang Rika. Dan aku takkan mengusikmu tentang hal itu lagi. Jadi, bersikaplah seperti biasa dan menjadi Jinki yang biasa aku kenal. Bukankah setelah jenjang pertunangan pada akhirnya kita akan menikah? Karena itu, cobalah percaya padaku, dan aku juga mempercayaimu. Aku mencintaimu.”

“Menikah? Dia bahkan sudah berpikir sejauh itu. Mian, Yoonji,” gumam Jinki—menatap ponsel di tangannya.

Ponsel berdering lagi. Kali ini sebuah nomor tidak dikeal yang muncul ada layar.

“Yeoboseyo,” sapa seseorang di balik telepon.

“Yeoboseyo.”

 

“Apa benar ini nomor Lee Jinki?”

“Ne. Saya sendiri. Ini siapa?”

“Siapa? Kau lupa pada suaraku Oppa? Seseorang yang suka berbasa-basi di telepon.”

“Rika.”

“Geurae. Aku menelepon hanya ingin mengucapkan selamat atas pertunanganmu. Ya, meski sudah terlambat. Aku juga minta maaf karena saat acara aku pergi begitu saja.”

“Kau senang dengan pertunanganku?”

“Araseoyo.”

 

“Bisakah kita bertemu?”

“….”

“Rika? Yeoboseyo. Kamu masih di sana?”

“Ah, ne. Kita bertemu.”

“Besok.”

“Ne, pada jam makan siang di kafe dekat kantorku. Aku akan mengirimkan alamatnya.”

To be continued ….

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

12 thoughts on “The Destiny – Part 12

  1. YoonJi harus lebih tegar lagi, kasihan YoonJi hanyalah pelarian. (˘_˘” )( “˘_˘)
    Rika, tidak seperti dia ingin balik ke JinKi.
    Pesona Jong (≧▽≦)づ♥
    Keep writing author (งˆ▽ˆ)ง

    1. he-eh!
      mempesonakah dia? entah kenapa belakangan ini aku pikir dia keren juga.
      Rika balik ke jinki? oh, sebaiknya kamu tunggu part terakhirnya.
      Keep writing!!
      gomaweo!!

  2. Hm, si Yoonji wanita yang keren menurut aku. Kok dia masih bisa percaya aja sama Jinki? Kalo aku jadi dia aku udah penasaran dan pasti cemburu berat.
    Aku gak pengen mencoba untuk nebak-nebak sih. Tapi kayak ada suatu dorongan yang mengatakan kalo akhirnya si Rika akhirnya sama Kibum. Ah~ Molla~
    Masih banyak jawaban yang perlu author jawab dengan part-part berikutnya, aku tunggu author~
    Fighting!

  3. Hmm rika sepertix sudah bsa melupakan jinki yah walaupn masih trbayang”,tpi mgkin ini yg trbaik. Hoho kibum baik bnget sma rika,cocok loh psangan ini. Aku hrap kibum dan rika saling mncintai biar ndak sakit hati lagi mreka brdua.. Yosh next chap😀

  4. nah loh Jinki, Rikanya pergi..
    Makanya dengerin dulu kalau Rika mo jelasin masalahnya…
    Nyeselkan gak ketemu Rika lagi… -__-

    Kalau dipikir-pikir, flashback-nya panjang juga ya, baru di part ini balik ke masa sekarang..

    Yeeeiii.. Jinki dilema, kira2 bakalan pilih siapa ya?

    eh lupa, pas baca cast laki2 utamanya Kibum, berarti Rika-Jinki gak balikan ya?

    Ok Hana, ditunggu part selanjutnya.. 🙂

    1. nah lo eonnie, kok jadi kebawa suasana.
      bukan panjang juga eon. panjang buaaaaanget, 11 part loh.
      ya, pilih aku dong #narsis gile.
      emmm, part terakhir dah nongol, eonie tinggal baca.
      makasih selalu setia datang dan memberi komentar.

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s