BAEKNA: “I’M READY TO BE HEARTBROKEN”

“BAEKNA!” panggil Jonghyun setengah berteriak. Ia berlari kencang mendekatiku. Kuselipkan pembatas buku di antara dua halaman dan menutupnya. Menggeser posisi duduk untuk kemudian menghadap sumber suara. Jonghyun sahabatku, masih berlari. Siang ini ia mengenakan coat cokelat musim dingin favoritnya dan tidak dikancingkan seperti biasa. Suatu kebodohan menurutku, karena di musim ini kebiasaannya itu dapat merusak paru-parunya.

Ada yang lain, ia melakukan sesuatu pada rambutnya. Kurasa ia kemari hanya untuk memamerkan potongan rambut ala idola-idola masa kini. Ia bahkan mengenakan sneakers tinggi putih di mana di kedua sisinya terdapat satu sayap. Mungkin ini efek samping dari aktivitasnya menonton konser idola kemarin malam. Entah dengan maksud apa ia mengubah penampilannya, karena asal kau tahu, sebelumnya Jonghyun berpenampilan seperti H.O.T. Kolot dan tidak enak dipandang!

Ia sudah ada di hadapanku sekarang.

“Apa ini?” tanyaku seraya menunjuk sneakers putihnya.

Jonghyun susah payah mengatur napasnya. Ia mengacungkan kelima jarinya satu meter dari wajahku, meminta waktu untuk menstabilkan napas. Setelah hampir lima menit berkutat dengan itu, ia duduk di sampingku, bersandar dan menengadahkan kepalanya ke atas sambil menutup mata. Ia menikmati angin yang bertiup sambil sesekali menjilat bibirnya.

“Hebat bukan?” tanyanya.

Aku mengernyit. “Sejujurnya, apa yang telah Bigbang lakukan terhadapmu, Jjong-ah?!”

“Apa?” Jonghyun membuka matanya, menoleh padaku.

“Kamu terbiasa menggunakan sepatu ayahmu, bukan? Kamu bilang fashion itu sebagian dari budaya konsumtif yang dapat membunuh manusia secara perlahan, tapi lihat apa yang kamu lakukan saat ini!”

“Aku pernah mengatakan itu?” Aku menatapnya sinis dan ia tertawa keras. Jonghyun menarik leherku hingga kepalaku mendarat di atas dadanya. “Kalau aku pernah mengatakan itu, baiklah aku menyesal. Penampilan juga termasuk kebutuhan bukan lagi keinginan, aku baru menyadarinya.”

Choi Hana yang sudah mengubahmu, Jonghyun?

“Seseorang mengubahku,” tambahnya. Tepat!

“Hana?” tanyaku, ia mengangguk semangat. Ada senyum gembira di bibirnya. “Kenapa dan bagaimana ia mengubahmu?”

Jonghyun menarik napas panjang. Tampak sangat bergairah. Dan yang membuatku kurang suka ialah detak jantungnya yang bekerja dua kali lipat, kurasa ia menyukai si Hana ini. Sepanjang enam tahun bersahabat dengan Jonghyun dan menyandarkan kepalaku di dadanya di mana telingaku selalu menempel tepat di atas letak jantungnya, belum pernah sekali pun aku mendengar detak jantungnya berdebar keras saat membicarakan seorang gadis. Not even me! Sepertinya Jonghyun tidak benar-benar menganggapku seorang gadis. Ia melihatku sama seperti melihat Junmyun, Minho dan sederet teman pria lainnya. Menyenangkan karena tidak mudah berteman dengannya, tetapi juga menyedihkan karena ia tak memiliki perasaan yang sama denganku.

“Kamu tahu minggu kemarin aku menonton konser Bigbang bersama Hana…”

“…ya, di mana kamu melupakan janji kita untuk bertemu di café merayakan ulang tahunku,” potongku buru-buru. Perasaan jengkel yang sudah mereda kembali meluap.

“Aku kan sudah minta maaf. Mau dengar kelanjutannya tidak?”

Jonghyun menatapku sengit. Ya Tuhan, sesungguhnya siapa yang seharusnya marah?

“Oke,” jawabku.

“Dia bilang, ‘Bigbang keren. Aku ingin memiliki pacar seperti salah satu dari mereka’. Nah, untuk itulah aku berpenampilan seperti ini.”

Aku menatapnya hampa. Jonghyun menerawang riaknya arus sungai Han. Beberapa pesepeda berlalu-lalang di depan kami, di antaranya berhenti sejenak sekadar untuk menikmati udara segar di pagi hari ini dan melabuhkan pandangannya ke sungai.

Demi Tuhan Jonghyun, kamu tidak perlu berubah seperti ini. Jika gadis itu aku, takkan ada tuntutan bagimu untuk berubah. Aku tak membutuhkan pria bertahta tinggi seperti Pangeran William, tak membutuhkan seseorang yang rela mati seperti Romeo, ataupun seseorang yang mengubah penampilannya seperti Lee Gak dalam drama Rooftop Prince. Yang kuinginkan hanya Kim Jonghyun yang hidup sederhana dan baru saja berhasil memasuki Seoul University. Kamu! Kamu yang selalu sembarangan menggunakan sepatu ayahmu dengan alasan tak sadar dan menjadi bahan ejekan teman-teman di sekolah.

“Kurasa ini tak buruk,” lanjutnya. “Saat aku bilang ingin membeli sepatu, appa girang mendengarnya.”

Aku terkekeh. “Dengan begitu kamu tidak lagi menggunakan sepatunya secara tidak sadar!” sindirku penuh penekanan di kalimat akhir.

“Begitukah?” Mata Jonghyun masih tidak lepas dari sungai. Aku jadi penasaran, apa bayangan Hana terpantul di sana?

“Kamu tidak harus berubah, Jjong. Kalau Hana memang menyukaimu, ia akan menerima apa yang melekat di tubuhmu.”

“Kamu tidak mengerti, Baek. Terdapat perasaan ingin mengorbankan sesuatu ketika kita sedang jatuh cinta. Kamu takkan mengerti karena kamu belum pernah mencintai seseorang.”

“Begitukah?” tanyaku, mengutip.

Kamu salah, Jonghyun. Aku seniormu dalam hal mencintai seseorang. Dari total enam tahun kita berteman, kuhabiskan lima tahun dalam hidupku hanya untuk mencintaimu. Such a wasting time, right? Aku tak peduli, ini nyaman, karena sedikit pun keberanian mengungkapkan tak kumiliki. Jangankan mengungkapkan, menunjukkannya saja aku tak berani. Bagaimana kalau Jonghyun memiliki perasaan yang berlawanan, bagaimana kalau ia berpikir aku sudah menodai hubungan pertemanan ini, bagaimana kalau pada akhirnya ia menjauhiku, bagaimana… bagaimana… bagaimana…. Kemungkinan-kemungkinan terburuk selalu berputar di kepalaku. Membuatku semakin takut.

“Masih pertanyaan yang sama, kenapa kamu tidak mengikuti tes masuk universitas, Baekna-ya?” tanyanya sambil bangkit dari posisi bersandar, membuatku bangun di mana telingaku dan dadanya terpisah. Tak ada lagi melodi jantungnya terdengar.

“Masih jawaban yang sama, aku belum mau memikirkan kuliah. Nanti saja.”

“Kuliah itu penting. Ayo sekarang daftar di universitas dekat kampusku! Dengan begitu kita masih bisa berdekatan…”

Dan melihatmu mengejar Hana? Tidak, terima kasih.

“Kita pergi saja. Aku lapar. Dan lagi, jangan ceramahi aku soal kuliah! Membosankan.”

Jonghyun ikut berdiri sambil memandangku tak percaya. Ia mengalungkan lengannya ke bahuku yang lambat laun membuat gerakan mencekik. Tidak ada perlawanan sedikitpun dariku. Ini menyenangkan, dengan begini aku bisa mencium aroma tubuhnya.

“Berhenti melawanku, Pendek!”

“Apa?!” mataku melotot.

Jonghyun mengeratkan pelukannya, “Jangan jauh-jauh dariku! Kamu nyawaku.”

Aku tertawa, kemudian kutarik coat-nya, “Kancingkan! Udara dingin sekali. Sebentar lagi perkuliahan dimulai, kamu nggak boleh sakit.”

You’re the best, Baek. Thanks.”

Aku menatapnya. Benarkah? Kalau begitu bisakah kamu berdiri di sampingku untuk selamanya, Jjong?

Aku meringis kesakitan saat tangan besar Jonghyun mencengkeram erat pergelangan tanganku. Ia menarikku mengitari bar, membawaku keluar dari ruangan menuju halaman belakang.

“Jangan ganggu aku di tengah jam kerja, Jonghyun!”

“Baek-ah, aku ingin kamu menilai Hana, oke?”

Hatiku mencelos. “Untuk apa? Kalau kamu mau pacaran, ya pacaran saja! Tidak usah memintaku untuk me-review calon pacarmu. Dan berhenti menyamar menjadi pelanggan! Aku tak ingin dipecat hanya karena ulahmu.”

“Sebentar…”

Jonghyun berbalik dan berlari menuju pintu keluar. Hanya selang satu menit, ia kembali masuk sambil menggiring seorang gadis cantik, tinggi, memiliki kulit seputih susu, rambut panjang kecokelatan, anggun, dan dahinya sangat indah. Tipe ideal Jonghyun. Jadi ini yang namanya Hana?

“Baekna, kenalkan ini Choi Hana.”

“Choi Hana.”

“P-Park Baekna…”

Di balik Hana, Jonghyun berdiri menyeringai memamerkan deretan giginya dengan kedua alis naik-turun. Ia menatapku dengan tatapan bertanya, “Cantik ‘kan?” Demi Tuhan dalam kurun waktu enam tahun, baru kali ini aku benar-benar ingin memukulnya.

Yang membuatku ingin menangis adalah ketika Jonghyun merapikan seragam kerjaku dan berbisik, “Menurutmu baik tidak? Jika iya, aku ingin memintanya jadi pacarku malam ini. Kamu as my best friend tak keberatan ‘kan?”

Aku tersenyum untuk menyembunyikan air mata yang  sudah menggenang di pelupuk mata.

She’s nice.”

Assa! Gomawo, my Baek.”

“Hm.”

Jonghyun memelukku singkat di hadapan Hana. Bedanya, ia memelukku tidak seerat dulu, ia melonggarkannya dan itu sangat menyakitkan. Aku bahkan sudah mulai merasa kehilangan Jonghyun sebelum ia pergi dari café ini dan mengungkapkan perasaannya pada Hana. Tak ada yang dapat kulakukan. Aku juga ingin melihat Jonghyun bahagia.

Ia melepaskan pelukannya dariku dan berbalik untuk menggamit tangan Hana. Gadis itu melambaikan tangannya padaku yang kubalas lemah. Mereka keluar dari café, sedangkan aku kembali beraktivitas dengan pikiran tak sepenuhnya pada pekerjaan.

Malamnya, setelah selesai bekerja, ponselku berdering.

Di mana?” tanya Jonghyun.

“Perjalanan mau pulang. Kenapa?”

Ia terkekeh. “Baekna-yaaa~ Kim Jonghyun yang kamu anggap kolot ini akhirnya punya pacar! Hana menerima perasaanku. Dua bulan penuh aku mendekatinya ternyata tidak sia-sia.”

Begitu katanya.

Menyebalkan. Kenapa pesan itu disampaikan di saat aku sedang di halte menunggu bus? Aku benci berada dalam situasi sok-drama-sekali seperti ini. Tapi drama tak sepenuhnya berbohong, terbukti dengan adanya perasaan ‘aku tak ingin beranjak dari sini’. Beruntungnya, malam ini tidak hujan.

***

Jonghyun dan Hana berpacaran. Besok sudah masuk bulan keenam yang artinya akan ada sebuah perayaan. Semalam Jonghyun menghubungiku, ia ingin aku datang lagi. Lima perayaan sebelumnya ia juga selalu menuntutku untuk datang, dan seperti biasa aku tak bisa menolak keinginannya. Tak pernah bisa.

“Besok malam datang?” tanya Junmyun yang entah sejak kapan sudah duduk di hadapanku.

“Mau ‘gimana lagi.”

“Tolak saja kali ini,” sarannya.

I hardly ever say no to Jonghyun, you know that, Junmyun-ah. Ada saran lain?”

Ia terlihat berpikir. “Err, tidak berani move on?”

“Bukan tidak berani, tapi… aku tak bisa.”

Junmyun menepukkan tangannya, menyingkirkan remah kue kering yang menempel di telapak tangan lantas menarik Mocktail Mango ke dekatnya. Aku memperhatikannya dari balik bar sambil melayani beberapa pelanggan yang datang. Junmyun memang selalu kemari sekedar untuk menunggu jam kuliah. Letak universitasnya dengan café tempatku bekerja sangat dekat. Sengaja aku memilih café ini karena letaknya yang jauh dari tempat Jonghyun. Sekali lagi kukatakan: aku tak ingin melihat Jonghyun sedang bersama Hana.

“Bukan tidak bisa…,” sahut Junmyun, “…tapi karena sulit. Jonghyun sudah memasuki hidupmu selama enam tahun terakhir ini. Sejak SMP kalian sudah bersama. Sedikit-banyak kalian saling bergantung, saling membutuhkan, dan saling mengisi kekurangan. Itu semua sudah kebiasaan. Sulit mengubah habits itu ‘kan?”

“Cinta tidak bisa disamakan sebagai habits!” lawanku tak setuju.

“Jangan menikmati rasa sakit yang sekarang sedang bersarang di hatimu, Baek!”

“Kamu tidak hidup kalau kamu tidak merasakan sakit, Junmyunnie.”

“Tapi kamu tak bisa bergantung dengan Jonghyun terus. Dia sudah bersama Hana. Itu artinya harus ada tindakan yang kamu ambil, bukan diam seperti ini ‘meneropong’ Jonghyun dari jauh.”

“Aku tidak ‘meneropong’-nya!”

“Tidak lagi? Kamu yakin?”

Aku melihat jam di tangan. “Sudah saatnya kamu masuk kelas. Jangan ganggu aku lagi di jam kerja! Ya Tuhan kalian sama saja.”

Jonghyun tengah menyeringai lebar memamerkan gigi-giginya, ia berdiri di balik punggung Junmyun. Hobi sekali! Ia melepaskan ransel dan menaruhnya di lantai, kemudian duduk di samping Junmyun sambil memukul-mukul meja bar sok manis.

“Blue Moon Cocktail juseyo~~~”

Aku tersenyum gemas sedangkan Junmyun membuat mimik seperti mau muntah. Jonghyun menepuk pundak sahabatnya itu, menuntut sesuatu.

“Oke karena kamu datang, I’m officially bolos kalau begitu.”

Call!” teriak Jonghyun memenuhi ruangan. Aku hanya bisa memutar bola mata. Oh boys!

Mereka kutinggalkan karena bertambahnya pelanggan yang datang, lagipula tak ingin tertangkap basah oleh manajer jika aku sedang melayani-secara-pribadi dua orang sahabatku. Dari jarak sejauh ini pun aku masih bisa memerhatikan Jonghyun. Ia membuat rambut depannya dibiarkan ke atas, memamerkan dahi indahnya bak pualam putih. Suara-suara obrolannya terdengar merdu di telingaku. Pelajaran hidup yang dapat kuambil saat ini: Bahagia itu sederhana.

“Baekkie-ya, besok malam ikut ‘kan?” tanya Jonghyun saat aku kembali ke hadapan mereka.

Aku berbalik, menyembunyikan wajah. “Aku sudah tak bisa bolos lagi. Lagipula besok bos-ku ulang tahun…”

“Sejak kapan bos-mu lebih penting dariku?”

Pertanyaan itu berhasil membuatku berbalik menatapnya. Jengkel tergambar jelas di wajahnya, benar-benar menuntut jawaban masuk akal dariku. My dearest Kim Jonghyun, tanpa bertanya pun kamu sudah tahu jawabannya. Kamu segalanya untukku. Kamu senyumku, semangatku, matahariku, oksigenku! Kamu masa lalu dan masa kini untukku. Tetapi dengan adanya Hana sekarang di sisimu, aku tidak lagi berani memposisikanmu sebagai masa depanku di dalam khayalanku. Meski hanya khalayan! Sulit mengatakannya… kurasa kamu sudah bukan masa depanku lagi, Jjong.

***

Malam perayaan. Seperti yang Junmyun bilang, “Konyol”. Memang suatu kekonyolan aku kembali datang ke acara ini. Sudah kubilang, I hardly ever say no to Jonghyun. Dan sekarang aku seperti orang bodoh melihat lengan Jonghyun digelayuti Hana. Lengan tempatku berlindung. Aku masih di sana enam bulan yang lalu, tapi sekarang lengannya sudah dimiliki oleh pemilik sah.

Bukan perayaan besar yang kau bayangkan, sebaliknya, ini hanya perayaan kecil antara aku, Jonghyun-Hana, dan Junmyun. Di meja sudah terdapat cake cokelat bertuliskan ‘JJONGNA’. Aku tersenyum geli saat pikiran nakalku membayangkan kalau tulisan itu adalah singkatan dari ‘Jonghyun-Baekna’. Silly girl, Park Baekna. Seriously, stop it!

Mereka berdua meniup lilin bersama-sama, Jonghyun bahkan memberikan potongan kue pertamanya pada Hana. Junmyun yang duduk di sampingku tak berhenti melirik. Aku tahu ia cemas dan ingin memastikan keadaanku, tapi tak perlu sesering itu melihat ke arahku. Mengganggu sekali, membuatku tak nyaman.

Tiba-tiba saja Jonghyun menggenggam tanganku saat Hana pergi ke toilet.

“Terima kasih sudah datang. Kehadiranmu itu kebahagiaanku. Kumohon, Baekna, pikirkan lagi tentang kuliah! Masuklah ke universitasku, supaya kita bisa terus bersama.”

Junmyun mendengus. “Hana kan selalu ada di sampingmu, apa masih kurang?”

“Dia kan sebagai pacar. Aku ingin Baekna juga, karena kamu yang selama ini berjalan di sampingku. Menyemangatiku hingga Seoul University dalam genggaman. Tapi aku kecewa waktu kamu bilang tidak akan kuliah. Semacam perasaan terkhianati.”

“Jadi itu alasan kamu memacari Hana? Merasa dilepas Baekna dan mencari pegangan baru?” serang Junmyun. “Sekarang menurutmu, yang paling penting dalam hidupmu itu siapa? Baekna atau Hana?”

“Apa maksudmu?!” tanya Jonghyun berang.

Aku ingin melerai mereka tapi Junmyun mencegahku. “Kamu nggak bisa seperti ini, Jonghyun. Menginginkan dan mempertahankan Hana tapi tak ingin melepas Baekna. Kamu egois! Sekarang jawablah, siapa yang kamu cintai saat ini, Park Baekna atau Choi Hana?”

Yaaah!” protesku, tapi mata tajam Junmyun tak lepas dari Jonghyun.

Jonghyun melepaskan genggamannya dariku. Ia terlihat sedang berpikir. Aku jadi penasaran dengan jawabannya tapi juga sangat gugup, bahkan keringat dingin mulai bermunculan. Rasanya detak jantung jadi bekerja 10 kali lipat. Napas juga sedikit sesak, seperti ada gulungan bola api di antara dada.

Oh come on! Jika kamu mencintai seseorang, jawablah menggunakan hati, bukan pikiran. Ucapkan nama yang ada di hati dan pikiranmu saat ini! Itulah cinta. Tidak perlu banyak pertimbangan ini dan itu.

“Hana tentu saja. Kita kan berteman dan selamanya akan selalu seperti itu. Iya ‘kan?” jawab Jonghyun yang membuat tubuhku lemas dan seperti meleleh sampai ke lantai.

Apalagi yang kutunggu, tentu saja aku pergi dari sana. Café itu sudah seperti neraka!

G’nite,” ujarku mati-matian menyamarkan getaran di dalamnya.

“Mau kemana?”

“Kembali bekerja, Jjong-ah. Bos-ku ulang tahun, remember? Enjoy your date anyway.”

“Biar kuantar,” Junmyun mengenakan jaketnya dan bersama denganku menuju pintu keluar.

Ini pertama kalinya aku meninggalkan Jonghyun seperti ini. Tak pernah terbayangkan dalam hidupku meninggalkannya seperti ini. Keberanian untuk membayangkan saja tidak pernah ada. Aku dengannya sudah menjadi teman hidup dalam enam tahun terakhir ini. Seperti anak kembar yang sulit dipisahkan.

Tapi malam ini, aku bahkan berani berbohong padanya. Tidak ada jadwal kerja, tidak ada ulang tahun bos. Maaf, Jonghyun, kamu sudah menentukan pilihan. Hana adalah pilihanmu. You already chose what’s best for yourself. Sekarang izinkan aku untuk mundur dari kehidupanmu dan mencoba sedikit demi sedikit menghilangkan jejakmu dari kehidupanku. Jika kamu mengatakan ‘selamanya akan selalu seperti itu’, maka harus kukatakan juga kalau selamanya aku akan terus mencintaimu… as a friend.

“Menyewakan punggung tidak?”

Tanpa banyak bicara, Junmyun berbalik. Perlahan-lahan aku mendekat dan menenggelamkan wajah di punggungnya. Awalnya tak terjadi apapun. Baru di detik berikutnya, terjadi luapan emosi yang mendalam. Cairan bening itu tumpah juga. Suara kesakitan juga mulai terdengar olehku sendiri. Junmyun hanya diam mematung.

Aku tak pernah keberatan menyembunyikan perasaanku selama ini, tapi semenjak Hana hadir dalam kehidupan kami, perasaan tenang itu tak ada lagi. Naluri kompetitifku muncul tapi kupaksakan untuk kembali tenggelam karena tak tahu bagaimana cara menarik, merebut, mengambil Jonghyun kembali ke sisiku. Sungguh menyedihkan.

Move on with your life, Baek,” ujar Junmyun. Aku mengangguk. Kamu benar, Junmyun, seharusnya aku mendengarkanmu sejak dulu. “Are you ready to be heartbroken?” tanyanya.

Banyak citizens yang berlalu-lalang menikmati indahnya malam. Langit tidak kelam, ia cerah berkat bantuan bulan dan pecahan bintang-bintang. Di tengah ramainya malam, tangisku mengeras, mengangguk berkali-kali sebagai jawaban pada pria yang meminjamkan punggungnya untukku.

***

“Baekna!” panggil Jonghyun. Saat berbalik kutemukan ia tengah berlari menghampiriku. “Ige mwoya?! Mau pergi kenapa tak bilang padaku?”

Aku tersenyum. “Kamu yang memintaku untuk kuliah.”

“Iya tapi bukan ke luar negeri!”

“Jepang. Jarak kita tidak terlalu jauh. Masih negara tetangga, tak usah berlebihan seperti ini!”

“Lalu aku bagaimana?”

Aku memutar bola mata. “Bagaimana apanya? Biasakan Hana sebagai oksigenmu mulai saat ini. Kita harus berhenti saling bergantung, Jjong. Aku yakin Hana bisa menggantikan posisiku dengan baik.” Aku berjalan ke arahnya, kutarik jaketnya dan menaikkan retsleting hingga atas. “Aku berjanji ini yang terakhir kali.”

“Terakhir kali apanya?!” teriak Jonghyun. “Aku tak suka kamu mengatakan hal-hal bodoh seperti ini. Kita akan selalu bersama sampai kapanpun, Park Baekna!”

“Ada satu hal yang selalu ingin kukatakan sejak dulu, Jonghyunnie. Seharusnya hal ini kusimpan sendiri, tapi aku harus mengatakannya… aku mencintaimu.”

Kuberikan senyum terbaikku untuknya, kemudian menepuk dadanya pelan dengan kedua tanganku dan buru-buru berbalik. Kugenggam erat paspor dan tiket di tangan. Maafkan aku, Jonghyun, jika pada akhirnya aku harus menggunakan jalan ini. Aku tak boleh membiarkan diriku tenggelam dalam kesakitan dan kesedihan berlarut-larut. Janji move-on-with-my-life-ku pada Junmyun harus kutepati. Dan menurutnya yang ia kutip dari penggalan sebuah lagu milik Camera Obscura “Lloyd I’m ready to be heartbroken” itu resiko yang harus kuambil.

Meninggalkan Jonghyun yang sudah bersamaku bertahun-tahun sangatlah tidak mudah. Benar kata Jonghyun dulu saat kami duduk di sebuah bangku di pinggiran sungai Han, akan selalu ada pengorbanan dalam cinta.

Dan menurut Junmyun, pengorbanan yang kulakukan ini adalah untuk mendapatkan seseorang yang lebih baik di masa depan. Aku mempercayaimu, Junmyunnie. Menjadikan seseorang menjadi bagian dari masa lalu tidak sepenuhnya mengerikan. Justru harus dilakukan jika ingin mendapatkan yang terbaik. Karena hal itulah aku kembali berani memikirkan masa depan.

This is not goodbye, Jonghyun, this is a little hello.

      Say hello to my new life. I have to meet a brand new guy.

      But as you know, I’ll always love you… as my best friend…

-End of “Baekna: I’m Ready To Be Heartbroken” story

#Hello~ Selingan dulu yah dari sequel “Beautiful Stranger” karena belum rampung chapter 11-nya, jadi saya publish yang ini dulu. Hehe… Maaf kalau ada typo. Terima kasih ^^/

©2011 SF3SI, Diya.

sf3si-signature-diya

Officially written by Diya, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

29 thoughts on “BAEKNA: “I’M READY TO BE HEARTBROKEN”

  1. Jonghyun, bener-bener …. maruk!!
    Eonnie, buat sequel atau apalah. aku rasa cerita ini ngegantung #buat aku sendiri sih.
    aku jadi penasaran gimana jadinya Jonghyun dan Baekna selanjutnya.

  2. Kasian sekali Baekna, digantungin perasaan Jonghyun mulu. Duh! Jonghyun ini serakah banget sih jadi orang! Baekna jadi susah buat move on kan~
    Tapi aku kok ngarepin Baekna sama Junmyun ya? Padahal mereka berdua udah cocok lo ;~;
    Ditunggu kelanjutan Beautiful Stranger ya thor~~

  3. Ckck. Jamong PHP!!! *gebukin jjong sampai babak belur* *dilempar blingers*

    Napa plin-plan sih? Kalau Baekna ya Baekna aja! Kalau Hana ya Hana aja -_____-

    Nice eon🙂 ditunggu BSnya loh ya wkwk

  4. wah nice….!
    Keunde.. aku br selesai bikin FF, tp kebetulan mirip ini. Cm pnyku itu Jonghyun;s POV dan main characternya bkn Jonghyun sih. Ottoke… nnt aku dituduh plagiat…T_T
    tp FF ini jauh lebih keren dr aku *ya iyalah*
    Hehe ^^

  5. “Move-on-with-my-live”
    Kata ini tidak perlu ditambahkan ku lagi.
    JunMyun menjadi penopang yang baik.
    JunMyun jjang

  6. I’m ready to be heartbroken after reading this.. perasaannya Baekna ngena banget, jadi ikut patah hati. kirain aku Suho suka ke dia. jjong bangke nih buta banget sama perasaannya baekna.

  7. Ahhh~ benar-benar terasa sedihnya.😥 Jadi, bingung mau ngomong apa. Aku terlalu hanyut bacanya benar-benar kerasa nyesek T.T

  8. eonni critanya bner2 nyesek hiks..
    aku ska ff ini hiks… beautiful stranger nya msh d tunggu eon… ok!^_^
    eon sequel dong buat ff ini hehe biar tau reaksi jjong waktu baekna udh d jpang hehe.. nama baekna jadi inget byun baekhyun hehe

  9. Wah daebak ! Aku suka sama ceritanya. Thor
    Junmyun itu OC atau suho sih? Dan demi apa , aku ngebayangin baekna itu adalah baekhyun😀

    Keep writting thor !!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s