Namja – Part 13

Title: Namja

Author: Bibib

Beta-reader: Kim Nara

Main Cast: Kim Kibum, Park Hana, Park Ha In, Kim Heera

Length: Sequel

Genre: Friendship, Romance

Rating: PG-17

A.N: Bukan porno, tapi tulisan ini memang bercerita mengenai kehidupan manusia yang kurang baik. Untuk yang dibawah umur, jangan ditiru yah!

Namja – Part 13: Uncertainty That Make You Blank

 

Malang terus melekat pada diri Key. Tak satu pun dari pengunjung butik bersedia mengantarkan Key pulang. Key bisa mengerti alasan mereka: dini hari di jalan raya bersama seorang namja tak dikenal—yang berwujud liar—tentulah menjadi momok tersendiri bagi wanita manapun. Alhasil Key pulang bak siput merangkak pelan-pelan. Ya, ya, kau boleh tumpahkan ledekanmu pada Key, tapi memang nyatanya namja itu cukup trauma, ia memilih mengendarai motornya pada kecepatan 20 km/jam. Memalukan, tampang garang yang tak berbanding lurus dengan kelakuan.

Key merasa malamnya penuh ironi dan campuran rasa. Terpukul dalam tangis di sungai Han, dan kemudian membunuh karakternya sendiri dengan kabur dari pertandingan. Ei, tidak, karakternya bahkan belum terlahir, ia terlanjur ‘terbunuh dalam kandungan’. Kasihan.

Pria itu harus mengumpulkan nyali lebih untuk pulang ke markas, mungkin orang-orang di sana sudah bersiap menyambutnya dengan hinaan, lelucon bernada ejekan, atau bahkan telur busuk hasil isolasi menahun. Key telah siap menanggung semuanya begitu kakinya menginjak bangunan yang beberapa waktu belakangan menjadi tempatnya berteduh.

Suasana lengang menyambut Key, mungkin orang-orang sudah bermain di dunia lain bersama sederet mimpi penghias lelap. Key berjalan pelan-pelan, malam ini ia berharap sosoknya tak terlihat, paling tidak sampai esok hari ia membuka mata, ya, ia butuh jeda untuk menenangkan diri dalam tidur. Tenaganya benar-benar terkuras malam ini.

“Selamat datang, Zero.” Sial, ternyata masih ada yang terjaga, dan itu adalah Nara.

Key membeku di tempat, tegang menunggu kata-kata Nara selanjutnya. Key yakin, yeoja kasar di hadapannya ini akan mencerca habis-habisan, Key sadar bahwa meninggalkan pertandingan memang sebuah kehinaan terbesar yang akan terus menhantui image-nya.

Key terus menghitung detik dengan merasakan detak jantungnya secermat mungkin. Prediksinya, sepuluh atau sebelas detik lagi senyuman sinis di wajah Nara akan berubah menjadi belati yang siap menusuknya.

“Key, ehm, Zero. Aku ingin bicara denganmu, tapi tidak di tempat ini. Ikuti aku, kita menjauh sedikit!” Nara melesatkan komando layaknya diktator ulung. Key membuntuti pasrah, ia tak bisa lagi menghindar dari sorot mata dingin kawannya itu. Di hadapan Nara, ia bertekuk lutut takluk. Menolak tentu harus beralasan. Apa dalih yang bisa Key pakai? Mengaku lelah hanya akan memancing jiwa singa tidur dalam diri Nara.

Mereka menapaki jalanan pukul empat pagi, hingga akhirnya Nara berhenti pada langkah yang ke-23. Key tahu bahwa dirinya sedang berdiri di hadapan sebuah rental band yang sudah tutup sejak pukul 11 malam tadi.

Nara mengambil posisi yang membuatnya nyaman, sementara Key mengikuti gerakan Nara—duduk lesehan di pelataran rental tadi. Key melirik Nara diam-diam, gentar memang sedang bergerumul di hatinya, yah, meski ia sudah bisa memprediksi apa yang akan Nara katakan.

Sebatang rokok menyelip di sela bibir Nara, ujungnya memerah pelan-pelan setelah ditempelkan pada pemantik yang tersulut. Asap mengepul dan membuat Key terbatuk kecil untuk beberapa saat. Key merasa was-was seketika, ia tak yakin Nara berhenti mencekokinya dengan rokok. Key ingat betul, dirinya pernah berkata bahwa lebih baik beralkohol ria dibanding merokok, tapi nyatanya? Key benar-benar mampus tak berkutik setelah bercumbu dengan beberapa botol soju. Jika detik ini Nara memaksanya untuk menghisap sebatang, Key tak tahu akan mengelak macam apa lagi.

“Beri aku satu!” pinta Key spontan, toh tanpa meminta pun ia akan diberi, bahkan dipaksa plus diremehkan.

“Tccch,” Nara menyeringai, lalu dengan sengaja menghembuskan perlahan asap dari mulutnya. “Berhenti memaksakan kapasitasmu. Kalah bermain dengan alkohol, muntah-muntah setelah kubonceng, dan yang terkonyol, huh, kabur dari pertandingan. Kau akan menciptakan sejarah kelam macam apa lagi?”

Key tak membalas, namja itu tertunduk dan mengarahkan telunjuknya pada lantai, di sana ia hanya bisa melakukan satu hal dengan tampang tak berdaya: membuat goresan tak berwujud yang bertuliskan ‘Key, you are stupid’. Ia benar-benar kehilangan kata untuk membela diri, semua yang pernah ia katakan dan janjikan pada akhirnya selalu termentahkan akibat perbuatannya sendiri. Key tak yakin jika dirinya bisa menjanjikan ini itu lagi pada Nara.

Nara menyunggingkan senyum sinisnya ketika mendapati Key tak menimpali sindirannya. Yeoja itu bisa menerka dengan mudah apa yang saat ini tengah mempermainkan perasaan Key, nyali namja itu mungkin sedang ditawan hantu. “Siapa nama aslimu?” tanya Nara kemudian, dan ini jelas membuat Key melongo. Untuk apa Nara menanyakan namanya?

“Kim Kibum,” Key menjawab takut-takut. Rasanya setiap kali melafalkan nama itu, hatinya terenyuh bukan main—mengasihani dirinya sendiri ketika masih menjadi Kim Kibum, si gemulai banyak kawan plus banyak koleksi baju menawan.

“Kim Kibum… oi, kau tidak merindukan momen ketika ibumu memanggilmu dengan nama itu?”

Pertanyaan Nara jelas membuat Key bertambah tak paham. Apa yang sebenarnya ingin dicapai oleh Nara lewat sederet pertanyaan-pertanyaan yang harusnya dilayangkan saat petama jumpa seperti itu?

Key tak bisa menjawab, otaknya benar-benar jungkir-balik, pun hatinya yang memang telah terpecah hingga tak lagi berbentuk jelas. Pertanyaan Nara tadi adalah hal yang membuat Key terseret dalam kepelikan jenjang tertinggi. Key tak tahu apa jawabannya. Hatinya membisu, pun otaknya tak bisa lagi dipaksa untuk merangkai kata-kata.

“Kenapa diam? Oh, baiklah, aku lupa bahwa Kim Kibum maupun Key telah tenggelam di sungai Han. Hanya Zero yang ada, itupun masih terseok untuk lahir dari perut imajinatif.”

“Nara-ya, jangan bahas itu sekarang,” ujar Key dingin. Sindiran Nara benar-benar menyakitkan baginya, meski terkadang In Young atau Heera bisa lebih pedas dari itu. Ouch, lagi-lagi Key teringat masa lalunya. Ah, berlebihan, tak bisa juga disebut masa lalu karena Key memang belum lama hengkang dari bingkai kisah lamanya.

Nara berkilah, “Oh, tidak, aku harus melanjutkan ini dan kau harus menyimaknya. Key, dengar, aku jadi tahu, yah… setelah serenteran kejadian selama mengenalmu. Aku telah membuat kesimpulan dan aku yakin bahwa ini benar. Key, pulanglah ke rumahmu setelah bertanding dengan Kira. Sekuat apapun kau berusaha, hasilnya hanya akan menambah record kekalahanmu.”

“Tidak, aku ingin bersama kalian. Aku tidak akan pulang, tak ada gunanya. Aku yang di dunia sana hanya dipandang sebagai banci, bahkan oleh sahabatku sendiri, juga oleh orang yang kusuka.” Key bertambah tenggelam dalam lumpur ketidakberdayaannya. Semua hal tengah memojokkannya kini. Tapi ia berusaha mengais sisa-sisa keberaniannya demi mencapai apa yang ia sasar.

“Cih, berarti ia bukan sahabatmu. Sahabat akan menerima kekurangan sahabatnya,” cibir Nara dengan kesan tak peduli. Yeoja itu memanfaatkan lis keramik tempatnya berpijak untuk memisahkan abu rokok dari batangnya.

Aniyo, dia sahabatku. Aku tahu dia tidak bermaksud mencemoohku, dia hanya peduli padaku. Hanya saja, aku yang memang sulit untuk berubah. Karena itulah aku ingin bersama kalian saja.”

“Bersama kami sampai kapan? Key, kau belum masuk ke dunia kami yang sesungguhnya. Dan perlu tahu, tidak satupun dari kami yang memilih pulang ke rumah setelah kami dipertemukan. Bagi kami ini tidak masalah, karena toh nyatanya kami memang terbuang dan tak diinginkan oleh keluarga kami. Tapi kau berbeda, kau-”

Key menyela kilat, “Aku tidak tahu, yang aku tahu hanya aku ingin melewati hariku bersama kalian. Meski aku selalu kalah dan takluk, tapi aku akan terus mencoba, sampai bisa menyamai kalian,” jawaban Key semakin menyiratkan ketegasan. Pria itu mulai berani menegakkan kepalanya.

Tawa Nara bertambah kencang dan tak lagi tertata, bunyinya serampangan asal buncah, “Coba pikir. Setelah kau berhasil menyamai kami, apa yang akan kau lakukan? Pulang? Lalu, apa orang-orang yang dulu menghinamu banci akan tahu bahwa kau pernah seperti kami? Yeah, kurasa tidak. Sederhananya sih, mungkin yang perlu kau lakukan adalah merubah cara berpakaianmu, dan caramu berbicara. Tidak perlu yang seekstrim kami.”

“Begitukah?” Key tercenung. Sialan, Nara memang kurang ajar. Kenapa ia tidak mengatakannya di awal? Key mati kutu. Aih, tapi setelah dipikir, ini tidak semudah yang Nara ucapkan. Key membantah kemudian, “tidak sepenuhnya benar kurasa. Orang justru hanya meledekku ‘sengaja merubah tampilan’, tapi kelakuan masih tak beda. Ujungnya, aku akan dicap banci tak berpendirian.”

Nara tertawa, lantang, girang,  dan begitu menguasai malam. Tanggapan Key sangat lucu baginya. Banci tak berpendirian? Oh, sejenis siang jadi pria lalu malam berubah jadi cantik mempesona? Key, Key.

Ish, kau ini Key, lucu. Kalau dipikir lanjut, sekarang pun aku bisa meledekmu ‘preman tak berpendirian’, di belakang layar berani menantang, di lapangan lembek mendadak. Key, aku miris melihatmu, sungguh.”

“Berhenti mengasihaniku,” sela Key muak. Ia mengambil kotak rokok yang tergeletak di samping Nara. Oh, kacau, kacau. Ia benar-benar menyalakan pemantik dan membakar rokoknya. Dihisapnya pelan, syukur tidak terbatuk. Key terus mencobanya, memberikan penghayatan di setiap tarikan napasnya hingga ia mulai merasakan kestabilan. “See, aku bisa,” pamernya pada Nara.

Nara hanya menaikkan satu ujung bibirnya. “Berbanggalah sesukamu,” komentar Nara geli. Yeoja itu tak sepenuhnya yakin, orang yang pertama kali merokok pasti tidak akan tahan pada asapnya. Prediksi Nara tepat, Key tak ubahnya kakek renta yang terkena tuberkolosis, beberapa lama kemudian namja itu batuk nyaris tak berjeda. Key ingin berhenti kalau saja Nara tak berceloteh menyebalkan, “Hisap terus! Kau tidak ingin aku cap sebagai loser lagi, ‘kan?”

Key berjuang kali ini. Ia terus bertahan, membiasakan rambut-rambut hidungnya untuk bekerja ekstra demi meningkatkan sensitivitasnya untuk menyaring kotoran masuk. Paru-parunya pun dipaksa beradaptasi kilat untuk menampung racun-racun yang mendesak masuk ke dalam tubuh tuannya. Key tak menyerah, ia terus mengapit batangan itu dengan dua jarinya—dan kembali memasukkannya ke dalam apitan mulut, sempat beradu gesek dengan tindikan yang bertengger di belahan bibir hitamnya.

Nice, anak eomma sudah pandai merokok,” Nara bertepuk tangan puas, dan kemudian meraih satu lagi batangan tembakau baru.

Key ikut membaur dalam tawa, yeah, diselipi miris tak tertahankan. Keduanya terbahak—entah apa yang lucu dan layak untuk dijadikan pemicu tawa. Terkadang, tawa tak butuh sebab. Tawa hanyalah pengisi suasana, tanpa makna khusus.

Tawa Nara berhenti di awal. Yeoja itu mematikan rokoknya terlebih dahulu sebelum akhirnya angkat bicara kembali, “Key.”

Yeoja itu menyibakkan poni yang menutupi sedikit area mata Key. “Sebenarnya aku heran saat pertama kali kau datang. Dari cerita Ken dan dari kejadian saat pertama kali kita bertemu di depan bar, aku memang tahu bahwa kau cukup tersiksa dengan karaktermu sendiri. Tapi Key, sebenarnya kau masih punya banyak orang yang menyayangimu, kehadiranmu masih diinginkan.”

Hening, Key tak mampu menyanggah. Semuanya merupakan fakta yang tak terbantahkan. Pria itu hanya bisa memainkan tindikan yang bercokol di telinganya, menghitungnya lamat-lamat demi mengisi waktu. Satu, dua, oh, hanya dua di telinga.  Key merutuk, kini tak ada lagi yang bisa diperbuat tangan kirinya, hanya si kanan yang masih bertahan memegang rokok.

Nara memandangi langit. Memang demikian muramnya, atau matanya saja yang terlanjur kabur ketika memandang? Entah. Yeoja itu tengah menimbang-nimbang sebuah sketsa rencana, kemudian merangkul Key  dengan mantap. “Tapi ya sudahlah, kau bersikeras ingin mengubah semua tentang dirimu. Maka, aku sebagai temanmu hanya bisa membantu. Sekarang, berdirilah di sebelahku dengan badan tegap!”

Euhh, menyebalkan. Key merasa kesal karena Nara kerap memerintahnya tanpa pernah mempertimbangkan bahwa pria memiliki kadar gengsi beberapa tingkat lebih tinggi dari wanita. Namun apa daya, lagi-lagi Key merasa Nara adalah pemegang remote control yang bisa memerintah gerak Key hanya dengan meng-klik satu tombol.

Nara merangkul Key. Ia tersenyum simpul sekaligus ber-fuh lega setelah itu. “Kurasa, kau belum matang untuk berhadapan dengan Kira. Besok, pastikan kau pakai slayer di kepala sebelum mengenakan helm. Jangan mengenakan kaos tanpa lengan di dalam jaketmu. Kau tidak boleh lagi dipermalukan. Aku pastikan itu tidak akan terjadi.”

“Hei, Nara-ya, kita akan melakukan uji coba macam apa?”

***

Pagi menyongsong. Jinki sudah bersiap dengan tasnya yang berisikan laptop. Sebelum berangkat, ia berdiri di depan cermin yang ada di kamarnya, sekadar memastikan dasinya terpasang dengan benar. Hari ini merupakan momen penting karena ia akan bertemu dengan klien dari China sana, konon ia adalah calon investor yang akan menyumbangkan dolarnya untuk proyek apartemen yang akan Jinki tangani dalam waktu dekat. Tentulah Jinki harus memberikan kesan sebaik mungkin demi mempermulus jalannya.

Namja itu kemudian menghampiri meja makannya, seporsi omelet cukup menggoda lidah. Srulllppp, sepertinya nikmat. Yah, ia tidak bisa memasak aneka rupa. Nasib sebagai bujangan padat jadwal, ia terbiasa membeli makanan di luar. Namun pagi ini ia tak tahan lagi menahan lapar, apapun dilahapnya tanpa pikir panjang.

Sambil memotong makanannya dengan pisau, namja itu mengenang kapan terakhir kali ia sarapan bersama dengan orang lain. Selepas kuliah ia sudah mandiri dan terbebas dari naungan atap rumah orang tuanya, manisnya sarapan bersama sudah lama tak terjamah.

Aih, Jinki hampir lupa, Ji Hyo pernah menemaninya sarapan beberapa hari lalu, saat yeoja itu menumpang menginap semalam di rumahnya. Tidak bisa disebut menemani juga sebenarnya, yeoja itu sama sekali tak menyentuh makanan. Ia hanya tersenyum memandangi Jinki yang menyuap lahap. Baru di akhir ia berseloroh pelan, ‘Wanita hamil sering menginginkan makanan aneh-aneh, itulah sebabnya aku tak bernafsu makan, mian.’

Teringat Ji Hyo, Jinki tak lagi bernapsu memasukkan suapan ketiganya. Pikirannya melayang pada yeoja itu. Kemana perginya Ji Hyo sekarang? Apakah ia masih punya tempat berteduh? Ah, tapi Ji Hyo bukan orang tak beruang, yeoja itu bisa saja mengontrak rumah atau apartemen. Hei, bagaimana jika yeoja itu pergi tanpa membawa uang? Oh, kasihan sekali wanita hamil luntang-lantung di jalanan, menghirup karbon monoksida sisa-sisa knalpot kurang ajar. Masih sedikit beruntung karena Korea Selatan bukan negara berkembang yang jalanannya dipenuhi gelandangan tak punya rumah.

Hati Jinki terenyuh, ia mengutuki prinsipnya yang mungkin terlampau kekar. Kalau Jinki tak salah menebak, dengan perut sebuncit itu mungkin kandungan Ji Hyo sudah memasuki usia empat atau lima bulan. Jinki makin berasa dirinya kejam.

Lamunan Jinki terpotong oleh suara bel rumahnya yang berbunyi nyaring empat kali. Mau tak mau Jinki bangun.  Pria itu menghampiri pintu, dan… oh! Kali ini napsu makannya benar-benar lenyap tak bersisa. Lihat siapa yang datang! Hari bersejarah, eh, salah. Jangan berlebihan, itu hanya tamu yang pernah Jinki kenal akrab di masa lalu—orang yang kerap kali menyuguhkan aneka hidangan pasta setiap kali Jinki bertandang ke rumahnya. Wanita yang gemar sekali bercelemek dan memamerkan hasil karyanya dari dapur rumah.

Annyeong haseyo. Ada apa Bibi kemari pagi-pagi sekali?” Jinki mencoba bersikap tenang dan wajar. Ia memamerkan senyum ramahnya pada wanita beruban yang kulitnya bertambah disarati keriput termakan waktu. Wanita tua itu adalah ibu dari Ji Hyo.

“Ah, maaf aku mengganggumu. Aku tahu alamatmu dari pembantu di rumah orang tuamu. Aku… hanya ingin bertanya. Apa kemarin-kemarin Ji Hyo pernah menemuimu?” Wanita itu bertanya ragu, tidak ingin terkesan menuduh. Ia tahu benar bahwa pria di hadapannya ini sudah lama tak menjalin hubungan dengan putri semata wayangnya. Kecil peluang ia akan mendapatkan informasi yang diharapkan. Wanita itu menarik oksigen kuat-kuat sembari menunggu jawaban dari tuan rumah.

Jinki masih diam, ia tengah menimbang-nimbang apakah jujur adalah pilihan yang bijak. Apa jika ia mengatakan yang sebenarnya maka akan menyulitkan Ji Hyo? Bisa jadi Ji Hyo kabur karena bermasalah dengan ibunya. Meski sedikit tidak mungkin karena Jinki tahu hubungan ibu-anak yang satu ini cukup erat bak perangko berinangkan amplop. Lagipula apa haknya ikut campur dalam urusan Ji Hyo? Jadi apa gunanya menyembunyikan?

“Ehm, iya, pernah. Malam-malam ia kemari meminta tumpangan, tapi hanya kuizinkan semalam. Maafkan aku, ah, tapi sungguh, aku tidak akan macam-macam dengannya. Ji Hyo adalah masa laluku. Meskipun kami satu atap malam itu, tapi aku bersumpah sama sekali tidak menyentuhnya. Aku tahu dia sudah bersuami dan sedang mengandung anak dari suaminya.” Jinki menggaruk tengkuknya.

Pria itu kikuk bukan main. Apa yang akan dipikirkan Ji Hyo Eomma jika wanita itu tahu bahwa sebelumnya Ji Hyo pun pernah bertandang ke rumah Jinki walau hanya sejenak? Jinki seram dirinya akan dituduh sebagai perusak rumah tangga orang jika memang betul sedang terjadi sesuatu antara Ji Hyo dan suaminya.

“Ah, tidak apa-apa. Aku berterima kasih karena kau sudah mau berbaik hati padanya. Maaf sebelumnya, apa Ji Hyo mengatakan kemana dirinya akan singgah? Aku… aku sangat mengkhawatirkannya.” Ibu itu tertunduk dengan tangan yang saling tertaut.

“Dia tidak mengatakan apapun. Ya Tuhan, mengapa aku bodoh sekali, harusnya aku menanyakannya. Maafkan aku, Bibi. Aku hanya berpikir tidak ingin ikut campur. Dan kupikir Ji Hyo hanya mengalami emosi sesaat, bisa jadi bertengkar kecil dengan suaminya.” Jinki merasa bersalah. Ah, benar saja. Lee Jinki terlalu kaku menjaga batasan.

Wanita itu mulai berkaca-kaca, bibirnya mulai bergetar dan tak lama kemudian air mata sudah merambati kulit tua pipinya.  Ia buru-buru memegang kusen pintunya guna menopang tubuh rentanya yang kian melemah, ia terus menangis namun tak bersuara sedikitpun. Mungkin bisingnya tangis sudah diserap oleh usia senjanya. Atau mungkin, wanita itu sudah terlalu sering meratapi derita hidupnya lewat air mata.

Lee Jinki bingung bukan kepalang. Mengapa ibu ini tiba-tiba menangis? Ada hal buruk yang sedang terjadi pada Ji Hyo kah? Jinki kemudian segera memapah ibu itu untuk duduk di sofa krem empuknya, menunggu hingga air mata wanita itu reda untuk kemudian menanyakan penyebab tangisnya.

Namun tak disangka, wanita itu berkisah tanpa dipinta. Ia memulainya dengan mencibir samar, “Kukira, orang tampan, berpendidikan, dan berpenampilan baik-baik itu akan berperilaku baik pula. Kalau tahu begini, aku tidak akan menjodohkannya dengan Ji Hyo. Biarkan saja ia menua dan menghabiskan waktu demi karirnya,” paparannya terpotong segukan, “Semua ini salahku. Aku memaksanya menikah dengan pria anak konglomerat itu. Dia memang mencintai anakku, tapi terlalu berlebihan.”

“Eumm, berlebihan? Maksud Bibi, dia terlalu banyak melarang Ji Hyo? Ah, suami memang sering seperti itu. Ayahku juga begitu pada ibuku, tapi maksudnya baik.” Jinki menjawab ala kadarnya. Dalam posisi ini, ia tak ingin berargumen sok tahu, ikut merutuki, atau meratapi.

Wanita itu menyambar, “Tidak, bukan seperti itu. Ngggg…,” ada ragu terselip. Jinki mengamati gelagat ibu dari mantan kekasihnya itu, jari tangan kanannya menggesek-gesek pelan jari kiri. Oooh, Jinki sekiranya mulai menebak, mungkin ada aib yang tak layak dijabarkan.

“Kenapa? Kalau tidak layak diceritakan, lebih baik tidak usah, Bi.”

“Eungg, Jinki-ya… apa Ji Hyo tidak bercerita apapun padamu?” Wanita itu menyikut air mata dengan kain di penghujung tangan bajunya.

“Tidak, dia hanya mengatakan bahwa jika aku yang menjadi ayah dari anak yang dikandungny maka Ji Hyo pasti beruntung,” jawab Jinki polos. Sejujurnya ia sedikit malu-malu saat Ji Hyo berkata seperti itu.

“Ooh, begitukah? Jinki-ya, kau… maukah menyelamatkan Ji Hyo? Ah, itu, bagaimana ya… hanya kau yang bisa melakukannya. Kau mencintai Ji Hyo, ‘kan? Yah, meski masa lalu, tapi kalian pacaran sangat lama. Pasti masih ada sisa-sisa. Kumohon, selamatkan anakku.” Wanita itu panik mendadak. Jinki tak mengerti bagaimana bisa tiba-tiba ibu Ji Hyo memohon seperti itu.

“Tenang, tenang, Bibi.” Jinki berusaha tak menanggapi spontan. Ia harus menyusun jawaban yang tepat untuk ini. Memang benar, Ji Hyo merupakan bagian terpenting dalam kisah hidupnya. Tapi ini tidak semata-mata ‘merebut pacar orang’. Ji Hyo sudah bersuami, yah, meskipun sepertinya ada yang salah dengan suaminya itu. Lagipula, bagaimana dengan Heera? Jinki tak yakin bahwa hatinya condong memilih ‘menolong’ Ji Hyo. Terlebih, ia tidak tahu semiris apa kisah pernikahan Ji Hyo.

“Memangnya ada apa dengan rumah tangga Ji Hyo? Kenapa hanya aku yang bisa menyelamatkannya? Dan bagaimana aku bisa membantunya? Aku hanya orang luar yang tak tahu apapun,” balas Jinki kemudian.

“Ji Hyo menikah dengan iblis! Oh, Jinki-ya. Kalau besok-besok anakku kemari lagi, tolong sembunyikan dia di tempat teraman. Di manapun. Kalau perlu bawa dia ke kutub utara, biarkan dia bernaung di bawah rumah igloo dengan beberapa lapis mantel bulu membalut tubuhnya. Apapun nama tempatnya, asal tidak bisa ditemukan oleh iblis itu!”

Iblis? Siapa yang dimaksud dengan iblis? Suami dari Ji Hyo kah? Jinki mengernyitkan alisnya. Menyembunyikan dari iblis? Bagaimana bisa? Apa ini bisa disebut tidak wajar? Ya, Jinki akan terlibat sangat dalam jika dirinya menjawab ‘iya’ pada wanita di hadapannya itu.

“Nyonya. Kurasa, aku tidak berhak ikut campur. Bagiku, apapun masalah Ji Hyo dan suaminya, aku tetaplah aku yang hanya menjadi orang di masa lalu Ji Hyo. Bukan tak mau membantu, hanya tak ingin menyakiti banyak pihak.”

Alih-alih menolak dengan dalih demikian, Lee Jinki sebenarnya hanya tak suka bermain dalam ketidakpastian. Ketidakpastian perasaannya dan pilihannya (antara iba pada Ji Hyo dan cinta pada Heera), ketidakpastian akan tebakannya mengenai permasalahan rumah tangga Ji Hyo, dan juga ketidakpastian tertinggi dari segenap hal yang tak pasti itu: ia tidak tahu seperti apa sosok iblis yang dimaksud itu dan seperti apa kelakuan tak bermoralnya hingga dihadiahi julukan nista seperti itu.

“Tidak, kali ini aku rela memohon padamu. Temani dia kalau kau berhasil menemukannya. Ohhh, aku tak bisa membayangkan anakku yang sedang mengandung itu harus main petak umpet seorang diri. Kau tahu? Iblis itu punya banyak tentara setan yang terus memburu anakku.”

“Bibi, aku tidak paham. Bibi, bolehkah kali ini aku menolak untuk paham?” Sekali lagi Jinki berusaha menolak untuk ikut campur. Jinki tidak yakin jika dirinya masih setegar batu karang jika Ji Hyo Eomma menceritakan dari A hingga Z perihal ‘keiblisan’ yang dimaksud wanita itu. Bagaimanapun, Jinki punya banyak kenangan manis dengan Ji Hyo, Jinki mengenal yeoja itu hingga ke lekukan garis matanya. Jinki pun masih manusia yang memiliki nurani, terenyuh bukanlah hal yang mustahil dalam kamus Jinki.

“Jinki-ya… aku sudah putus asa menyelamatkan anakku. Bercerai pun bukan perkara mudah. Lee Jinki, aku mohon padamu.”

***

Sial.

Park Ha In menggerutu beberapa kali. Bagaimana ia tidak kesal plus gusar. Ini sudah lewat satu jam dan Nyonya Haneul sama sekali belum keluar dari kamar Yoochun. Ingin rasanya Ha In mengetuk kamar itu dan berpura-pura mengingatkan Nyonya Haneul akan rencananya untuk pergi ke Incheon.

Otak Ha In mustahil tak berimajinasi. Lumrah memang, seorang pecinta tidak akan pernah tenang jika mengetahui orang yang dipujanya berduaan dengan wanita lain di ruangan tertutup. Ckck, bukan tidak mungkin Park Yoochun berselingkuh dengan wanita yang mengaku sebagai atasannya itu. Namja itu memang tergolong memikat untuk ukuran pria berusia tiga puluhan awal.

Yang sedang Ha In pikirkan berikutnya adalah, motif Yoochun mendua. Bukankah istri Yoochun sangat cantik dan juga berperangai baik? Lalu, apakah motif ekonomi yang memicunya? Oh, sepertinya Yoochun bukan namja serakah pengeruk pundi-pundi uang milik wanita kaya raya. Lantas? Apa mungkin pria itu menaruh rasa pada wanita berumur tadi? Oh ayolah, Ha In tidak habis pikir jika alasan terakhir itulah yang menjadi jawabannya. Ia rasa, dirinya masih lebih menarik daripada wanita itu. Tsk.

Kesabarannya habis sudah. Ia memutuskan untuk hengkang dari sofanya dan segera menuju kamar Yoochun. Biarlah dicap sebagai pengusik, tidak sopan atau bahkan kurang ajar. Ha In tak peduli. Lagipula baginya, bertamu ke kamar namja dalam waktu lama plus menutup pintu, itulah yang disebut tak tahu adat.

Park Ha In tidak bodoh, ia tidak datang dengan tangan kosong. Setidaknya, bukan hal sulit untuk menyiapkan wadah berisikan air untuk pengompres demam sebelum singgah ke tempat Yoochun. Sebenarnya ia tak tahu pasti apa demam Yoochun sudah reda atau belum, ia tak ambil pusing. Semua properti tadi hanyalah trik basi yang sengaja dipersiapkannya. Apapun caranya, ia harus berhasil menyelip di antara konversasi pagi antara dua orang itu.

Oppa, aku boleh masuk?” tanyanya ketika ia sudah mengetuk pintu sekali. Tidak ada jawaban. Ha In menempelkan telinganya ke pintu, mencoba menangkap bunyi sehalus apapun dari dalam sana. Entah itu bunyi grasak-grusuk karena penghuninya terlampau panik, atau bisa jadi bebunyian lain seperti kode berjenis bisikan.

Hissssh. Ha In mendengus sekali lagi, kesal dengan segala keterbatasannya. Ia lupa kalau dirinya bukanlah jangkrik yang bisa menangkap bunyi dengan gelombang di bawah 20 Hz.

Ketukan kedua begitu singkat, yang ketiga terlampau pelan. Ha In semakin tidak yakin dengan rencananya. Yoochun pasti berpikir bahwa tingkah gadis itu sangat norak, dan Ha In tak ingin dicap demikian.

Ha In memutuskan untuk menunggu sejenak sebelum ia melesatkan ketukan keempatnya. Direnggangkannya ruas-ruas jari yang terasa menegang sejak tadi, pun dilatihnya pernapasan agar tidak tampak hembusan paniknya begitu Yoochun membukakan pintu nanti.

Oke, sekarang saatnya. Ha In mengetuk sekali lagi, tapi usahanya sia-sia karena ia tak mendengar bunyi langkah mendekati pintu. Gadis itu makin putus asa, untunglah ia berhasil menangkap suara samar tak lama kemudian.

“Chunnie-ya, kau tidak bisa bergerak lagi, hehehe.”

“Nuna, aish… kenapa gerakmu agresif sekali. Kau tidak kasihan pada aku yang sedang sakit?”

“Oh, tentu tidak. Ini justru yang ingin kuketahui, kau masih jagoan tidak dalam permainan ini ketika badanmu sedang tidak fit. Wohoho, aku semakin bergairah.”

Omo, omo. Ini jelas petaka tujuh turunan! Scene jenis apa yang sedang dimainkan di dalam? Oh, Park Ha In yakin dirinya bukan lagi bocah berusia di bawah 17 tahun. Otak gadis itu mulai membuat dugaan, bahkan sampai memperkirakan keakuratan prediksinya—sudah seperti para praktisi bidang statistika ataupun ekonom perancang model matematis saja.

Gadis itu berlalu-lalang di depan kamar Yoochun. Manusia mana yang bisa tenang jika menjadi Ha In? Ya, Ha In yakin ia bisa mendapatkan nilai seratus untuk soal prediksi-memprediksi kali ini, ia pikir error-nya tidak akan besar. Ha In yakin feeling-nya tepat. Persetan dengan segala jenis metode forecasting yang dielukan kaum intelek sana. Ha In hanya butuh pendengaran tajam dan membiarkan insting kewanitaannya mencuat hebat.

“Ya! Nuna, santailah! Kau ingin membuatku takluk dengan cepat? Oh, Nuna. Kau sungguhan lihai, aku akui. Aku tak sanggup mengimbangi permainanmu kali ini. Arghhhh!”

Kurang ajar kau, Park Yoochun! Kenapa kau justru berteriak di saat Ha In tengah panik? Kau baru saja membangunkan jiwa setan-setan penghuni dimensi sana, kau memicu Park Ha In untuk bertindak kasar. “Oppa! Buka pintungya. Oppa, kau membiarkanku menunggu sejak tadi, huh? Jujurlah padaku, apa yang sedang kau lakukan sebenarnya?”

“Chunnie-ah, sepertinya ada orang di luar, kita terlalu asyik bermain sampai tak sadar. Berhenti sebentar ya? Tapi jangan curang, ronde ini belum berakhir.”

Song Haneul, terkutuklah kau. Akan kuhajar kau karena sudah berbuat tidak senonoh di rumahku! Begitulah bunyi tekad Ha In setelah telinganya menangkap kalimat yang membuat hati panas. Tangan gadis itu sudah terkepal, ia pun sudah menghimpun tenaganya agar terkonvergen di sana. ‘Tak ada iba untuk orang tidak tahu malu perusak rumah tangga orang! Yuki-san, meskipun aku tidak suka akan kenyataan bahwa kau adalah wanita yang telah berhasil menikah dengan Yoochun Oppa, tapi kali ini aku ada di pihakmu. Tenang saja.’

 

Ckreekk.

Pintu terbuka dan Ha In langsung mengambil kuda-kuda siaga. Diraihnya tangan Nyonya Haneul—dengan maksud akan dipeluntir. Matanya menatap tajam tamu yang dianggapnya kurang ajar itu. Ah, lupa. Ia ingin tahu seperti apa ekspresi Yoochun setelah tertangkap basah. Apakah namja itu masih bisa tersenyum tenang seperti biasanya, atau ia akan kalang kabut menutupi tubuh dengan selimut? Park Ha In memutuskan untuk melirik—sebelum bogem mentahnya melayang.

Pfffffft. Ha In-ah, ada apa?” Tampak Yoochun menahan tawanya, tangan namja itu masih melayang tanggung di udara dengan sebuah… olala, bidak kuda hitam.

“Ohh, aku mengganggu ya? Silakan lanjutkan permainan caturnya.” Suara Ha In makin memelan malu. Gadis itu melangkah mundur perlahan, dan gerakannya berubah menjadi cepat ketika menutup daun pintu.

Kocar-kacir ia berlari, bahkan lebih cepat daripada rampok dikejar Buldog. Malu besar, jelas. Ia sampai merasakan wajahnya memanas dahsyat sementara kaki-kakinya seakan begitu membeku sampai harus dipaksakan untuk bergerak.

Jadi, berapa nilaimu, Park Ha In? Nol besar. Bersiap-siaplah dicaci para pencipta model peramalan itu. Mungkin besok salah satu atau dua dari mereka akan mengetuk pintu rumahmu, menyerahkan secarik kertas bertuliskan: Gunakan otak dan gabungkan dengan logika. Kerahkan semua pengetahuanmu tentang kata, notasi, angka, serta analisa. Jangan turuti naluri kewanitaanmu! Karena forecasting tak hanya ramalan nasib berlandaskan firasat belaka. Selamat pagi dan terima kasih.

To Be Continued

14 thoughts on “Namja – Part 13

  1. lanjut kisahnya Key donk… akhirnya kelar baca dari part 1 mpe part ini, nyahahahah, dan bisa komen di part ini…

    bibib sungsaenim, ajarin donk cara bercerita begitu, hahahaha, aku ga bisa bikin cerita panjang bgini, paling mentooogggg itu 3 part XDDDD

    lanjut laaahh.. apakah uri Key bisa menjadi lelaki sejati.. pasti bisa Key, taem ajah bisa ko

    1. hiyaaaaa, ada eonniiii *hug*

      moso dipanggil sungsaenim ._.a
      kuncinya cuma dua: sabar dan cintai Key terus sampe tulisan ini kelar, wkwkwkwk

      lahhh, ko nyambungnya k Taemin. Bisa engga yahhhh… hihihi…

      tararengkyu yah udah berkunjung dan baca marathon gitu, eheheh

  2. Kapan key brtanding dg kira?
    Jinja penasaran + khawatir dg prtndingan itu..

    Nahh kan.. jihyo sprtinya bkln bwa mslh buat hubungan jinki dan heera aishh…koq mslhnya g abis2 sihh? pdhl aku udh g sbr pen baca ending nya ╮(ˇωˇ)╭

    seperti biasa, ff nya keren! tp part key dibanyakin dong. ah iyaa jjong sama hana (in bener g sihh namanya? aku msh agk ssh ngebedain shbt2nya key) jg. pensaran jg bgmn hbgn 2 org yg sllu cekcok it..
    Next part nya dtunggu ^^

    1. di part 14 atau 15, hehehe…
      engga perlu khawatir, cukup do’akan Key aja, hihihi

      Hmmm, ending ya…aku berencana ngabisin ini dalam 5 part lg, semoga engga ngaret deh nulisnya

      Part2 itu sbenernya udah ada kadarnya masing2, berhubung ff ini kan cabang kisahnya banyak, jadi musti bagi2 dong eon, heheheh

      iyap yap, terima kasih udah setia ngikutin, semoga part depannya engga seabad kemudian baru nongol hehehe

  3. lucu baca bagian key*mungkin kalo aku disamping nara, aku jg bkal ketawa x. Key tuh kaya anak polos dan liat kegigihan’a buat lucu aja. N penasaran bgt sama crita eomma ji hyo,knp sih sampe suami’a d’bilang iblis, d’kira bkal langsung dibahas,trnyata langsung pindah crita#bkin pnasaran nie thor. D’tunggu next’a

  4. ya eon kisah keynya dibanyakin dong.. aq penasaran ama kisah keynya. keputusan dia apa? semoga endingnya eon ngasih sedikit surprise ya ^^

    wah key oppa berani bermain ama rokok! bahaya tau oppa… dan itu ha in kenapa sih?? aigoo otaknya aja tuh yg yadong hehe atau eonnya ya?

    oh ya kok hana ama jjong gk keluar? aq kangen nih ama kembaranku yg suka nyiksa jjongpa keke. ok gk mau panjang2 lg deh. lanjut!

  5. ini aku udh baca lama…belum komen yah tnyata…ah…lupaaa…hehehe
    key…..kapan kamu kembali…aku kangen…#ehhhh
    itu jinki bakalan dapat masalah ga yaaa???moga engga deh…
    yoochun…..hahahaha….kesian ha in, pikiran dia udah kemanamana aje…kekeke
    jjong kamu dimana?? #tengok kirikanan
    bib, jongnya jngan diumpetin lama lama donk…kangen dia perang ma hana….wkwkwkwkwkwk
    di tunggu lanjutannya……….^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s