First Love is Never Die – Part 2

FIRST LOVE IS NEVER DIE (Love 2)

 mineun

Author             : Papillon Lynx

Major Cast      :

–          Lee Taemin SHINee as Lee Taemin

–          Kim Shin You (OC) covered by Son Naeun APink

Minor Cast      :

–          Kim Jongin (Kai) Exo-K as Kai

–          Choi Hanna (OC) covered by Park Hyojin Ulzzang

Other Cast       :

–          Dr. Yurra

–          Jinki Seonsaengnim

Genre              :

–          Romance

–          Sad

–          Life

–          Friendship

Length             : 2 of 4

Rating              : PG-16

Summary         :

Setelah dua tahun berobat, Shin You akhirnya dinyatakan sembuh dari kanker otaknya oleh Dr. Yurra. Namun kemalangan tetap menghampirinya. Kedua orangtuanya meninggal dalam suatu kecelakaan mobil. Shin You pun sebatang kara dan hidup berdua dengan Dr. Yurra setelah  kembali ke Seoul.

Shin You melanjutkan kuliah di Seoul. Tapi siapa sangka ia justru menjadi junior Kai di fakultas seni. Mereka berteman akrab hingga Kai tahu rahasia besar Shin You selama ini. Dan suatu hari, Shin You mengetahui kalau Taemin telah menjadi kekasih Hanna.

Shin You patah hati. Namun ada Kai yang selalu menghapus tangisnya. Dan ternyata Hanna mulai menyadari kalau perasaannya untuk Kai masih ada. Apa yang akan terjadi di antara mereka berempat? Dan ada hubungan apa antara Dr. Yurra dengan Kai? Bagaimana reaksi Taemin jika ia tahu perasaan Hanna yang sebenarnya? Bagaimana pula jika Kai memang benar-benar menyukai Shin You? Inilah part dua dari Love Never Die! “Saat cinta pertama tak pernah mati..”

 

Annyeong! Nah, sesuai janjiku, aku kasih nih part duanya. Gimana sama part 1 kemaren? Bingung? Kalo bingung, baca ulang aja #plak!

Oke deh, langsung aja. Komen lho! Awas kalo ga komen, apalagi kalo komennya galau, panci melayang. Wks😀 Happy reading! ^^

 

ALL POV IS AUTHOR’S POV

***

Dua tahun kemudian…

Seorang yeoja berambut panjang sepinggang dengan warna rambut yang hitam kecokelatan, tengah terduduk diam di atas kursi rodanya sambil menatap pemandangan di luar jendela kamar rawatnya. Yeoja itu menatap mentari pagi yang baru saja menggantung di langit abu-abu. Yeoja itu memang selalu bangun di saat mentari baru akan menampakkan sinarnya.

CEKLEK!

Yeoja itu merasakan hawa tubuh seseorang yang memasuki kamar rawatnya dan kini telah berdiri di sampingnya. Seseorang itu mengusap puncak kepalanya dengan sayang.

“Shin You-ah, apa kau tidak bahagia, hm? Sekarang kau sudah sembuh total. Berkemaslah. Paman dan Bibi Kim akan datang menjemput anak semata wayangnya ini.” Kata seseorang itu dengan tersenyum sumringah.

Eonni, apakah benar aku sudah benar-benar sembuh? Apakah ini bukan mimpi?” Shin You balik bertanya. Namun tatapan matanya masih enggan berpaling dari sinar mentari pagi yang selama dua tahun ini selalu ia pandangi seorang diri.

Dr. Yurra tersenyum dan menekuk lututnya di samping kursi roda Shin You. “Kau tidak percaya? Bukankah kau sudah mendengar semua apa kata dokter yang merawatmu di sini? Mereka yakin kanker itu telah lenyap dari tubuhmu. Itu semua berkat kegigihanmu, Sayang.”

“Entahlah, Eonni. Aku merasa—“

“Ssst..!!” potong Dr. Yurra dengan menempelkan telunjuknya di bibir Shin You. “Kau sudah sembuh. Dan kau bisa bertemu dengannya lagi. Kau masih mencintainya, bukan?”

DEGH!

Taemin Oppa…

 

“Cepat berkemaslah. Paman dan Bibi Kim sedang dalam perjalanan kemari. Hari ini juga kita akan kembali ke Seoul.” Ucap Dr. Yurra sambil berjalan meninggalkan kamar rawat Shin You.

Aku memang sudah tak merasakan sakit lagi di dalam tubuhku. Tapi kenapa aku merasa akan ada hal buruk yang akan terjadi? Seperti.. Aku akan merasa kehilangan hal yang berharga. Firasat apa ini?

 

***

Hujan rintik-rintik membasahi bumi seolah mengerti dengan perasaan sedih yang teramat sangat yang kini melanda ruang hati Shin You. Namun tak ada isakan atau air mata yang berteman dengan Shin You sekarang. Gadis itu hanya diam, berdiri terpaku menatap dua gundukan tanah yang kini menjadi tempat peristirahatan terakhir kedua orang tuanya.

Siapa yang menyangka bahwa firasat buruk yang dirasakan Shin You akan benar-benar menjadi kenyataan pahit untuknya sekarang? Ya. Kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan mobil saat akan datang ke rumah sakit untuk menjemputnya. Saksi mata kecelakaan itu mengatakan bahwa ayah Shin You mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.

Shin You menegaskan sekali lagi dalam hatinya kalau ia tidak ingin sembuh dari penyakitnya jika ia harus menghadapi kenyataan pahit seperti ini. Ia hanya memiliki ayah dan ibunya. Salah satu alasan kenapa ia ingin sembuh adalah karena ia tak rela meninggalkan kedua orangtuanya. Tapi mengapa kini takdir terbalik untuknya? Ia tetap hidup, namun kedua orangtuanya pergi selamanya.

Waktu terus bergulir sesuai ritmenya. Dan kini hanya menyisakan Shin You dan Dr. Yurra di pemakaman itu. Sejak tadi Dr. Yurra menangis terisak. Berbeda dengan Shin You yang hanya ingin menyembunyikan tangisannya dengan kebungkaman.

Dr. Yurra sangat menghargai Paman dan Bibi Kim. Bahkan sudah menganggap mereka seperti ayah dan ibu kandung karena Dr. Yurra sendiri telah lama menjadi anak yatim-piatu. Terlebih, berkat jasa-jasa keluarga Kim, kini ia telah sangat sukses menjadi seorang dokter. Dr. Yurra benar-benar merasa kehilangan sosok ayah dan ibu untuk kedua kalinya dalam hidupnya.

Menyadari Shin You yang hanya diam, Dr. Yurra pun reflek memeluk gadis itu. Ia sadar kini hanya ia lah yang sanggup dan harus menjaga Shin You. Ini tanggungjawabnya.

Dalam pelukan itu, Dr. Yurra mengusap rambut panjang Shin You yang basah terkena air hujan. Ia ingin memberitahu Shin You dengan bahasa tubuhnya, bahwa Shin You sangat bisa mengandalkannya. Bahwa Shin You tidak sendirian dan masih memiliki dirinya.

Perlahan, kedua tangan Shin You yang tadi hanya menggantung di samping tubuhnya mulai terangkat. Shin You membalas pelukan Dr. Yurra.

“Masih ada Eonni, kan? Tenanglah. Kita akan hidup berdua setelah kita kembali ke Seoul nanti. Eonni akan selalu menjagamu.” Bisik Dr. Yurra di telinga Shin You.

Dan saat itu, Shin You hanya bisa memejamkan matanya dengan setetes cairan bening yang meluncur melewati pipinya.

***

Seoul, Autumn 2013

Musim semi telah tiba memenuhi seluruh Seoul. Bunga dan pepohonan tumbuh dengan cantiknya, menambah semangat peduduk Seoul di tahun 2013 ini. Apalagi, suasana pagi ini sangat cerah. Semuanya tak ingin ketinggalan untuk merasakan hawa hangat angin musim semi. Sama halnya dengan… Hanna. Saking semangatnya, Hanna sampai mempermalukan dirinya di depan seorang namja yang berarti untuknya dengan memakai sepatu kets yang berbeda sebelah.

“Hmph—“ Namja di hadapan Hanna sekarang sedang menutup mulutnya sambil menahan tawa. Hanna mengerucutkan bibirnya sebal.

“Teruslah tertawa, Lee Taemin! Baru kali ini aku melihat seorang pacar yang sangat bahagia dengan kemalangan yang menimpa yeojachingunya.” Cibir Hanna sambil menyesap white coffeenya. Saat ini mereka sedang berada di café kampus, tempat dimana mereka biasa bertemu berdua.

Yaa~ Kau selalu saja menanggapi candaanku seperti hinaan.” Namja yang bernama Taemin itu berhenti tertawa dan mengacak poni Hanna. “Yang penting kau tetap terlihat cantik, kok.” Kata Taemin lagi sebelum dia bangkit dan pergi memesan sesuatu untuk Hanna.

Cih! Batin Hanna mendengar kata-kata gombal Taemin. Namun sedetik kemudian, Hanna tersenyum senang.

Gomawo. Hari ini aku telat bangun pagi. Jadi, ya beginilah aku sekarang. Kau ternyata tahu juga aku sampai lupa sarapan tadi pagi.” Kata Hanna setelah Taemin kembali duduk di sampingnya dan memberikannya sepiring bulgogi.

 

“Sudah, cepat makan dan kau harus menghabiskannya. Jadwal kuliah kita hari ini sangat padat. Akan ada praktikum juga nanti. Aku tak mau kau pingsan saat praktik membedah dan merepotkan semuanya.” Kata Taemin yang terkesan memerintah.

Taemin mengambil buku dari tas dan membacanya. Sedangkan diam-diam Hanna mencuri pandang ke arahnya dan terkikik dalam hati—tak pernah menyangka, seseorang yang selalu ribut dengannya kini sudah genap dua tahun menjadi kekasihnya.

***

Beberapa hari kemudian…

Bye bye, Eonni!” Shin You melambaikan tangannya ke arah mobil Lexus hitam milik Dr. Yurra yang kini menjauh dari pandangannya.

Dr. Yurra mengantarkan Shin You ke Seoul University karena hari ini adalah hari pertama Shin You akan berkuliah. Ini adalah hari pertamanya untuk memulai kehidupan barunya. Dan menurut kabar dari teman semasa SMAnya dulu, Taemin dan Hanna juga menjadi mahasiswa di universitas itu. Itu sebabnya Shin You sangat ingin melanjutkan kuliahnya di sana.

Hari ini Shin You akan mengikuti masa orientasi sebagai mahasiswa baru di fakultas seni.  Shin You mengambil program pendidikan dance and singing karena kedua hal itu memang sudah menjadi bakat dan hobinya sejak kecil. Dan di saat masa orientasi nanti berlangsung, semua mahasiswa baru diwajibkan menunjukkan bakat mereka dengan menari atau menyanyi.

Shin You sebenarnya cukup gugup dalam mempersiapkan hari pertamanya ini mengingat ia belum mengenal seorang temanpun di fakultasnya. Dan karena kegugupannya itu, Shin You sampai lupa sarapan dan meminum obatnya tadi pagi. Bagaimanapun juga, tubuhnya masih dalam tahap pemulihan. Jadi sebenarnya ia masih sangat bergantung dengan obat-obat itu.

Tak mau terus-terusan merasa gugup, akhirnya Shin You melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung fakultasnya. Tak disangka, sudah banyak berkumpul mahasiswa-mahasiswa baru di sana. Shin You hanya bisa memamerkan senyum kikuk ketika tak sengaja berpapasan dengan beberapa mahasiswa yang mungkin akan menjadi temannya kelak.

Test sound! Test sound!” sebuah suara namja yang terdengar lembut namun tegas terdengar dari speaker besar yang terletak di sudut ruangan. Shin You mengalihkan perhatiannya untuk mendengar suara dari speaker itu. Begitu juga dengan mahasiswa baru lainnya.

“Baiklah. Karena masa orientasi akan segera dimulai, maka semua mahasiswa dan mahasiswi baru fakultas seni tahun ini diharapkan memasuki aula dan berkumpul di sana sekarang juga. Terima kasih.” Kata suara namja itu lagi yang terdengar dari speaker.

 

Mendengar pengumuman itu, semua orang termasuk Shin You mulai memasuki aula dan memenuhi ruang aula yang cukup luas dengan panggung yang cukup besar. Shin You bergidik ngeri, rasa percaya dirinya sedikit berkurang melihat panggung sebesar itu. Namun hal itu tidak mengurangi semangatnya sedikitpun. Ia tahu ia pasti bisa melewatinya. Ia sudah berlatih cukup matang untuk mempersiapkan hari ini.

Acara pun dimulai. Tanpa menunggu lagi, seorang mahasiswa senior yang seperti tak asing wajahnya di mata Shin You, berdiri di atas panggung dan mengatakan beberapa kata sambutan dan apapun itu yang tidak Shin You perhatikan. Shin You hanya fokus berdoa demi kelancaran pertunjukannya nanti.

Satu per satu nama mahasiswa pun dipanggil untuk menunjukkan bakat mereka, entah itu menyanyi, menari atau akting. Jantung Shin You makin berdegup kencang saja ketika nomer urut miliknya akan segera dipanggil. Dan akhirnya tiba juga saat itu.

“Baiklah. Mahasiswi baru selanjutnya bernama Kim Shin You, yang mengambil program pendidikan Dance and Singing Departement. Kim Shin You-ssi, silahkan naik ke atas panggung.” Kata senior itu dengan bantuan microphone di tangannya. Shin You menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan sambil berjalan mendekat ke arah panggung besar itu.

Entah waktu yang bergulir lambat atau memang langkah kakinya yang tiba-tiba melambat, tapi pandangan mata Shin You kini saling bertatapan dengan tatapan mata milik senior namja yang tadi memanggil namanya dan sampai sekarang masih berdiri di atas panggung. Shin You menyadari, senior namja itu sepertinya juga tampak terkejut melihat kehadirannya.

Sedetik, dua detik, lima detik. Keduanya hanya bisa bertatapan tanpa bisa melepas pandang. Terlalu tak percaya dengan sosok seseorang yang mereka lihat sekarang. Hingga di detik selanjutnya, senior namja itu menyunggingkan senyum yang cukup familiar di mata Shin You.

“Shin You-ah, oraemaneyo (sudah lama tak bertemu). Bagaimana kabarmu?”

***

Paboya! Sudah kukatakan kan padamu, jangan sampai kau pingsan saat praktik membedah tadi. Tapi kau—“ Taemin melangkahkan kakinya cepat meninggalkan Hanna yang hanya berjalan menunduk di belakangnya, merutuki kesalahannya. Wajar jika Taemin mengomel sekarang. Ia memang kekanakkan dan ia merasakan hal itu sejak ia bersama dengan Taemin. Padahal saat SMA ia tidak semanja dirinya sekarang.

“Taemin Oppa, mianhae. Jeongmal, mungkin aku belum siap saja melihat bagian dalam tubuh mayat itu.” kata Hanna dengan suara pasrah.

“Dia bukan mayat. Dia memang sudah tak bernyawa, tapi kau jangan menyebutnya ‘mayat’ seperti itu, dong. Dia telah dengan baik hati mengorbankan tubuhnya untuk dijadikan objek praktikum kita.” Jelas Taemin yang masih kesal dan semakin mempercepat langkahnya sejak ia keluar dari ruang praktikum tadi. Hanna merengut lalu mengejar langkah Taemin hingga berhasil sejajar dengan Taemin.

Arrasseo, mianhae. Tapi, kau tahu kan kenapa aku menjadi tak karuan seperti ini? Ini gara-gara hari ulang tahunku diawali dengan aku yang terlambat bangun pagi, salah memakai sepatu dan kau sama sekali melupakan hari ulang tahunku!!” seru Hanna yang sudah tak bisa lagi menahan kekesalannya pada Taemin yang masih bersikap acuh tak acuh dengan hari ulang tahunnya. Masa dia melupakan hari ulang tahunku, sih?! Dasar, Taemin bodoh! Batin Hanna geram.

Taemin hanya diam dan terus berjalan hingga ia dan Hanna sampai di taman kampus. Taemin sebenarnya sengajamenggiring gadis itu untuk ikut bersamanya ke taman kampus yang indah itu. Hanna mengernyitkan dahinya melihat Taemin yang masih memunggunginya dan diam terpaku.

Ya~ Oppa! Kau marah? Kan aku sudah minta maaf.” Rajuk Hanna sambil menarik-narik lengan tangan Taemin dari belakang. Diam-diam Taemin tersenyum, sekuat tenaga menahan tawanya. Untung saja ia menemukan alasan yang tepat untuk berpura-pura marah di depan Hanna sebagai kejutan ulang tahun gadis itu.

Ya! Seharusnya aku yang marah kan? Kau bahkan belum mengucapkan selamat ulang tahun sejak—“

“Ssst..” Taemin berbalik dan menempelkan telunjuknya di bibir Hanna, membuat Hanna menghentikkan kalimatnya karena bingung. Taemin tersenyum melihatnya.

“Apakah kau yakin kalau aku benar-benar melupakan hari ulang tahunmu, hm?” Pertanyaan Taemin yang diselingi senyum misterius membuat Hanna mulai sadar kalau namja itu sedang menjahilinya.

“Kau menjahiliku?” selidik Hanna curiga. Taemin pun tertawa lepas. Bahkan sampai sudut matanya berair karena merasa senang melihat wajah kusut Hanna sejak tadi pagi. “Oppa! Kau jahat!” Hanna memukul dada Taemin dengan kedua kepalan tangannya. Gadis itu hendak berbalik untuk pergi sebelum Taemin menarik tangannya hingga membuatnya terjatuh ke dalam pelukan namja itu.

Saengil chukkae, Chagi-ya..”

***

Pertunjukkan untuk orientasi mahasiswa dan mahasiswi baru fakultas seni telah selesai dan hal itu berhasil membuat Shin You merasa lega. Jujur dalam hatinya, Shin You juga merasa lega, karena ia bisa bertemu lagi dengan namja itu. Ya, namja yang cukup dikenalnya sebagai sahabat baik Taemin semasa SMA dulu. Namja yang sangat dikagumi Hanna. Namja yang tadi tersenyum di depannya di atas panggung. Dia Kai, yang sekarang justru menjadi sunbaenya di fakultas seni. Hanya perbedaannya Kai mengambil program pendidikan di Dance and Acting Departement.

Tanpa sadar Shin You tersenyum. Ia merasa ia tak perlu khawatir lagi karena ia bertemu dengan teman lama di kampus barunya. Setidaknya, hal itu membuatnya yakin kalau ia akan lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan barunya.

“Hei, sejak tadi kulihat kau tersenyum terus. Apa kau sakit?” canda Kai yang berjalan di samping Shin You. Mereka sedang berjalan-jalan di sekitar kampus karena Shin You ingin mengobrol dengan Kai. Dan dengan senang hati Kai mau menemaninya.

Shin You menolehkan kepalanya menatap Kai dan tersenyum lebih cerah. “Ah, aku rasa kepergianmu selama dua tahun ini telah membuatmu gila.” Kata Kai lagi.

Ya! Aku masih waras!” balas Shin You sambil menepuk lengan Kai. Kai terkekeh.

“Kau bisa dihukum karena memukul seorang sunbae di hari pertamamu kuliah, Shin You-ah. Jadi, jawablah pertanyaanku. Apa kabarmu? Bagaimana kau menjalani hari-hari selama dua tahun ini? Kau menghilang begitu saja. Dan sekarang kau tampak lebih kurus. Ada lingkaran hitam di bawah matamu.” Kata Kai sambil mengingat masa SMAnya bersama Shin You, Hanna dan Taemin. Shin You diam. Ia cukup tertusuk mendengar rentetan kalimat pertanyaan Kai.

“Dua tahun ini kuhabiskan waktuku di rumah sakit, Kai-ah..” gumam Shin You lirih namun berhasil membuat Kai berhenti melangkah dan menatapnya terkejut. Shin You pun menghentikkan langkahnya dan memandang Kai nanar. Shin You kembali mengingat masa-masa kesakitannya dulu.

“Apa maksudmu? Siapa yang sakit? Apakah.. kedua orangtuamu?” tanya Kai hati-hati. “Mereka baik-baik saja kan?”

“Dua tahun lalu aku divonis mengidap kanker otak stadium lanjut dan setelah itu aku pergi ke London untuk berobat. Dua tahun ini kehidupanku hanya diwarnai dengan obat, bau kloroform dan juga.. rasa sakit.” Kata Shin You getir membuat Kai terkejut untuk kedua kalinya.

Sekarang Kai tahu apa penyebab kepergian Shin You yang tiba-tiba tanpa memberi kabar pada Taemin dan Hanna. Ia tahu bagaimana wajah Taemin yang merasa sangat kehilangan sebelum ia pun memutuskan pergi ke London karena ayahnya menginginkannya untuk menyelamatkan perusahaan keluarga yang terancam bangkrut. Setelah itu, ia juga dipaksa untuk menikah dengan anak rekan kerja ayahanya. Ya, pernikahan politik. Namun, pernikahannya gagal. Kai menolak. Dan akhirnya, selama dua tahun Kai berkutat dengan masalah kantor dan perusahaan hingga mengabaikan kelanjutan studinya.

“Shin You-ah..” gumam Kai tak tega karena melihat gadis itu mulai meneteskan air mata.

Shin You melanjutkan langkahnya pelan dan Kai juga mengikutinya. “Seminggu yang lalu kedua orangtuaku meninggal karena kecelakaan mobil. Dan sekarang aku kembali ke Seoul bersama dengan seseorang yang sudah kuanggap seperti kakak perempuanku sendiri. Dia adalah dokterku yang merawatku selama ini.”

“Shin You-ah, itu artinya kau.. sampai sekarang.. kau masih sakit?” tanya Kai khawatir. Shin You menggeleng dan tersenyum.

“Tidak ada pasien kanker yang diperbolehkan melakukan banyak aktifitas bahkan menari di panggung seperti aku tadi. Jangan khawatir. Kau sedang berbicara dengan Kim Shin You yang sehat, kok.” Sejenak, mendengar perkataan Shin You, hati Kai menjadi lega. Namun satu yang membuatnya yakin, ia benar-benar kagum dengan sosok yeoja yang ada dihadapannya ini. Shin You begitu tegar. Tapi, apakah benar ia sudah tidak apa-apa? Dia tampak pucat sekali sekarang.  Batinnya.

“Shin You-ah, kau ingin melihat taman di kampus ini?” tanya Kai tiba-tiba, berusaha mengalihkan topik dan merubah suasana yang semula terasa sangat mellow untuknya.  Dan caranya berhasil, ia melihat kedua mata Shin You berbinar.

“Taman? Igeo eoddieyo (dimana itu)?” tanya yeoja berambut panjang sepinggang itu. Kai pun reflek menggenggam tangan Shin You dan menarik gadis itu untuk mengikuti langkah lebarnya. Shin You sempat terkejut melihat tangan besar Kai membungkus tangannya. Selama hidupnya, baru tangan Taemin yang berhasil menggenggam tangannya.

Kai tersenyum menyadari kedua mata Shin You yang terus menatapi kedua tangan mereka yang saling bertaut. Entah kenapa, Kai juga merasa tak sadar saat ia menarik tangan Shin You tadi. Namun sekarang ada perasaan yang sulit ia artikan karena sepertinya Kai merasa gadis yang bersama dengannya sekarang itu terasa begitu rapuh dan membutuhkan tempat bersandar.

Kai terus berjalan hingga mereka sampai di taman kampus yang dikatakan Kai. Namun ada sesuatu yang aneh yang menganggu pandangan Kai dalam jarak 200 meter di hadapannya. Kai melihat dua sosok manusia yang sangat dikenalnya dan ia tak mungkin melupakan kedua sosok itu walaupun dua tahun ini ia tidak pernah bertemu sekalipun dengan mereka.

Saengil chukkae, Chagiya..

DEGH!

Kai hendak menarik Shin You untuk pergi dari taman itu tapi sayang, Shin You sudah melihat mereka terlebih dahulu. Ya, Taemin dan Hanna, yang sedang berpelukan erat. Dan hasilnya, Kai melihat wajah terkejut Shin You dengan kedua matanya yang mulai basah. Kai tak bisa berbuat banyak hingga ia mendapati Taemin memberikan cincin perak untuk Hanna, memakaikannya di jari manis yeoja itu dan bahkan sekarang Taemin berusaha mendekatkan bibirnya ke bibir Hanna.

Kai tak mau melihat gadis di sebelahnya melihat hal itu. Reflek, Kai menempelkan telapak tangannya di kedua mata Shin You—berusaha menutupi pandangan bebas gadis itu.

“Kau tak perlu melihatnya.” Ucap Kai lirih sambil membalikkan tubuh Shin You hingga menghadapnya dan memeluknya dengan tangannya yang lain. “Kau juga tak perlu mengingatnya.” Kata Kai lagi saat Shin You membalas pelukannya dan menangis tergugu di dadanya—menyisakan Kai yang menjadi saksi bagaimana Taemin ingin mencium Hanna saat itu. Namun Kai cukup terkejut karena apa yang ia pikir akan terjadi ternyata tidak terjadi.

Ada apa dengan mereka berdua? Kenapa Hanna tidak mau menerima ciuman Taemin…? Batin Kai heran.

***

Jika memang perkataan Kai seperti mantra sihir yang bisa membuat Shin You lupa akan semua hal menyakitkan yang baru saja ia lihat, pastinya Shin You akan merasa sangat bersyukur. Namun ia sangat jelas merasakan hatinya serasa dicabik-cabik mengetahui kenyataan bahwa hubungan Taemin dan Hanna telah jauh berkembang dari apa yang ia duga. Bahkan hampir saja ia melihat mereka berciuman jika Taemin tak mencegahnya. Meskipun Shin You sendiri tahu mereka pasti berciuman.

Sejujurnya, Shin You tidak kan terlalu berharap kalau Taemin akan menerimanya lagi setelah  dua tahun ia menghilang tanpa jejak. Tapi ia juga tidak mengira kalau ternyata cintanya telah menjadi milik sahabatnya. Ia tidak pernah menyangka ia akan mendapatkan pertemuan yang begini menyakitan dengan mereka.

TES!

Shin You tersentak. Ia merasa kepalanya seperti berputar-putar sampai ia menyadari cairan merah pekatlah yang menetes dari dalam hidungnya hingga saat Shin You ingin menghapusnya, kesadarannya justru lenyap. Tubuh Shin You melemas dalam pelukan Kai.

“Shin You-ah! Irreona! Astaga, darah..!!” teriak Kai panik.

Dengan tergesa-gesa Kai langsung menggendong Shin You dan membawanya ke ruang kesehatan sambil berlari.

***

Beberapa hari setelahnya…

Ting Tong!

CEKLEK!

“Apa kau baik-baik saja?” Shin You terkesiap karena begitu ia membuka pintu apartment yang ia tinggali dengan Dr. Yurra—sosok Kai lah yang menyapanya dengan raut wajah khawatir.

“Kai-ah..” gumam Shin You.

“Boleh aku masuk dulu?” tanya Kai yang disusul reaksi cepat Shin You untuk melebarkan pintu apartment dan mempersilakan namja itu masuk. Kai memperhatikan sekelilingnya. Dekorasi ruangannya sangat tidak asing di matanya.

“Tunggu, bukankah ini apartment milik—“

“Shin You-ah, siapa tamu yang datang di hari libur begini?” suara Dr. Yurra disusul kemunculan sosoknya dari dalam kamar membuat Kai bungkam dengan mata terbelalak. Dr. Yurra pun demikian sama kagetnya melihat Kai.

“Yurra Noona!” “Kai?!” seru Kai dan Dr.Yurra dengan tangan saling menunjuk satu sama lain, membuat Shin You menatap mereka bergantian dengan tatapan bingung.

***

“Kenapa dunia itu sempit sekali ya?” gumam Shin You yang sedang duduk sambil bermain ayunan. Kai yang bersandar di tiang ayunan tak jauh dengannya, hanya tersenyum mengiyakan. Sekarang mereka sedang berada di taman dekat gedung apartment—menikmati suasana malam yang berbintang.

“Aku juga tidak pernah menduga kalau kau adalah pasien kesayangan kakak angkatku.” Kai terkekeh. “Aku merasa dia lebih menganggapmu sebagai adiknya daripada aku, meskipun kita sama-sama tak ada hubungan darah dengannya. Yurra Noona selalu meneriakiku tiap kali ia marah atau kesal denganku.” Shin You tertawa mendengar cerita Kai.

“Itu adalah bukti bahwa ia sangat menyayangi dan memperhatikanmu, Kai-ah..” Kai mendengus mendengar jawaban Shin You yang seperti sebuah ledekan konyol untuknya.

“Yurra Noona adalah salah seorang dokter yang merawat ibuku di hari-hari terakhirnya dulu. Sejak itu ayah menganggapnya seperti seorang putri bagi keluarga Yook. Dan tanpa sadar hubungan kami berkembang seperti ini. Sepertinya ia juga menjadi putri kesayangan di mata mendiang ayah dan ibumu ya?” Shin You tersenyum sebagai jawabannya. “Ah, sudah kuduga dia pintar mengambil hati orangtua.” Shin You terkekeh.

“Dia satu-satunya keluarga yang aku miliki sekarang..” kata Shin You membuat hati Kai mencelos. Kembali Kai teringat peristiwa beberapa hari lalu saat mereka melihat Taemin dan Hanna bersama di taman. Sebenarnya ada hal yang sangat mengganjal tentang apa yang Kai lihat saat itu, namun ia tidak atau yang sejujurnya ia belum berani mengutarakannya pada Shin You kejadian yang sebenarnya.

“Kau.. Sudah tidak apa-apa kan? Aku panik sekali saat kau tiba-tiba pingsan dan mimisan. Mianhae, aku juga tidak tahu kalau mereka berdua ada di universitas yang sama dengan kita. Setelah kemarin aku mencari tahu, ternyata mereka mahasiswa fakultas kedokteran. Belum lama kemarin mereka melanjutkan kuliah untuk mendapatkan gelar S1.” Penjelasan Kai membuat Shin You kembali mengingat peristiwa menyakitkan itu. Shin You mencoba tersenyum seceria mungkin.

“Sudahlah, kau lihat kan sekarang aku tidak apa-apa? Saat itu aku hanya kelelahan saja dan paginya aku lupa sarapan karena merasa gugup. Lagipula, tentang hubunganku dengan Taemin Oppa, itu sudah berakhir sejak dua tahun lalu saat aku memilih untuk meninggalkannya ke London. Memang salahku yang tidak mau berusaha jujur dengannya tentang penyakitku jadi sudah sewajarnya dia mencari penggantiku dan aku merasa lega karena Hanna lah yang ada di sampingnya sekarang.” Shin You berusaha tersenyum sekali lagi. Meskipun sekarang ia merasa air matanya hampir menetes.

Kai diam—memandang wajah Shin You dengan intens. Kai tahu gadis yang sedang bersamanya sekarang mulai bersikap tak jujur padanya.

“Apa sekarang kau juga sedang berusaha membohongiku?” tanya Kai lirih yang mampu membuat mata Shin You menatapnya kaget. “Tolong jangan bersikap seperti ini di depanku, Shin You-ah. Aku tahu bagaimana kau dan Taemin saling menyukai dulu. Jika memang tak pernah ada kata putus, maka sampai sekarang ini kau masih bisa kembali dengannya. Kalau itu aku, aku bahkan takkan merelakan cintaku untuk sahabatku sendiri.”

Suasana hening seketika. Kata-kata Kai barusan berputar-putar di dalam benak Shin You.

Kalau itu aku, aku bahkan takkan merelakan cintaku untuk sahabatku sendiri.

“Hiks..” Berhasil. Perkataan Kai berhasil membuat tangis Shin You tak dapat ia tahan lagi.

“Temuilah Taemin. Kau harus menjelaskan semuanya padanya. Aku yakin dia akan mengerti keadaanmu saat itu. Jangan membiarkannya seperti ini.” Kata Kai lagi setelah sesaat mereka saling diam.

“Tidak!! Tolong jangan minta aku melakukan itu!!” sentak Shin You tiba-tiba sambil menutupi kedua telinganya. Kai terhenyak melihat reaksi Shin You. Kai mendekat perlahan dan berjongkok di depan Shin You.

Gwenchana? Mianhae, aku terlalu memaksamu. Mianhae, tak seharusnya aku ikut campur.” Kai merasa sangat bersalah. Kai menarik Shin You ke dalam dekapannya dengan hati-hati.

“Jangan katakan lagi. Aku tidak bisa memilih salah satu di antara mereka. Jika Taemin Oppa memang bisa bahagia dengan Hanna, aku rela melepasnya seperti ini.” Kata Shin You terisak. Kai hanya bisa memasang wajah yang miris. Dalam hati ia tidak terima Shin You selalu merasa sakit seperti ini. Karena ia tahu Shin You sejujurnya memiliki perasaan yang rapuh. Tapi jika Taemin tak menjadi kekuatannya, lalu pada siapa Shin You akan bersandar? Diam-diam Kai merasa ia bisa dan cukup pantas ada di posisi itu. Entah kenapa… Entah kenapa perasaan itu datang padanya…

Geurae, kalau begitu biarkan aku yang akan menjagamu mulai dari sekarang.” Shin You tersentak. Kai bangkit berdiri dan memunggunginya.

“Kenapa? Aku tidak apa-apa. Ada Yurra Eonni yang menjagaku.” Balas Shin You cepat sambil bangkit dari duduknya dari dudukan ayunan.

“Bukan menjaga yang seperti itu yang aku maksudkan!” tegas Kai membuat Shin You semakin bingung apa yang sebenarnya namja itu mau. “Aku menyukaimu, Kim Shin You. Biarkan aku menjagamu sebagai pengganti Taemin di hatimu. Kalau seperti itu, bisa ‘kan?”

Shin You cukup terkejut mendengar pernyataan suka Kai. Ia tidak pernah menyangka kalau sekarang Kai justru menyimpan rasa padanya. Ia tidak pernah sadar kalau Kai menaruh rasa padanya.

“Bisa, ‘kan?” tanya Kai lagi sambil menyentuh pipi Shin You dengan lembut. Kai membuat kedua mata Shin You terkunci untuk terus menatapnya. Namun yang dilihat Kai dari mata Shin You hanya sinar kegelisahan saja. Kai memalingkan wajahnya kecewa. “Aku akan memberikanmu waktu untuk memikirkan jawabannya. Aku akan menunggumu sampai besok. Temui aku di depan Sungai Han sebelum kelas pagi kita di kampus dimulai.”

“Kai-ah..” panggil Shin You.

“Asal kau tahu aku pernah menerima seorang yeoja dalam hatiku. Mungkin kau tidak tahu karena saat itu kau sudah pergi ke London. Tapi sepertinya Taemin dan Hanna sangat tahu tentang hal ini. Dia adalah seorang hoobae di SMA kita. Dia cantik dan begitu tulus. Tapi sepertinya dia memang bukan jodohku. Karena walaupun sekeras apapun aku mencintai dan menahannya, kisahku dengannya berakhir hanya karena perjodohan konyol.”

Shin You tercenung mendengar cerita Kai.

“Dia dijodohkan dengan putra pemilik perusahaan tersukses di Seoul. Pernikahan politik. Dan kami berdua tak bisa menentangnya. Akhirnya kamipun berpisah. Aku pun sempat mengalami yang namanya perjodohan semacam itu. Hal itu membuatku benar-benar muak. Setelah itu aku berjanji pada diriku sendiri, bila aku mencintai seorang gadis lagi, maka aku tidak akan diam. Aku akan menjaganya. Lebih dari apapun itu, aku juga tak akan membiarkannya pergi ke dalam pelukan lelaki lain.”

“Kai-ah.. Aku tidak mengerti. Kenapa kau menceritakan hal ini padaku?”

Kai tersenyum lemah dan menatap kedua bola mata Shin You. Tatapan gadis itu sarat akan keraguan. Tapi Kai akan mematahkan keraguan itu.

“Karena aku berpikir kau adalah gadis yang membutuhkan sebuah pundak untuk menopang semua deritamu. Dan aku ingin menjadi sosok yang paling kau butuhkan itu.”

Shin You masih mematung hingga Kai pergi dari hadapannya malam itu.

***

Malam ini Taemin sedang berada di apartment keluarga Choi—rumah Hanna. Mumpung hari libur dan mereka tak ada jadwal kuliah, Taemin berencana ingin mengajak Hanna pergi makan malam di luar. Sejujurnya untuk makan malam kali ini, ia telah menyiapkan lamaran untuk Hanna. Taemin merasa peristiwa saat di taman kampus dengan Hanna beberapa hari yang lalu adalah respon Hanna yang menginginkan ada kejelasan hubungan di antara mereka. Karena itu, gadis itu menolak kecupannya.

Tapi bagaimanapun, Taemin memang cukup dibuat bingung dan gelisah karena itu adalah pertama kalinya Hanna menolak ciumannya. Terkadang Taemin merasa Hanna masih mencintai Kai. Tapi, jika memang benar begitu, kenapa selama dua tahun ini hubungan mereka sangat baik? Bahkan Hanna berubah menjadi sosok yang sangat manja ketika berada di dekatnya.

Taemin cepat-cepat membuang semua pikiran negatifnya tentang bagaimana perasaan Hanna padanya ketika dilihatnya Hanna tengah menuruni tangga rumah. Namun penampilan Hanna yang hanya memakai piyama tidur membuat Taemin mengernyitkan dahinya dan menghampiri gadis itu di depan tangga.

“Kenapa kau belum bersiap? Bukankah tadi aku sudah mengirimmu pesan agar kau memakai gaun terbaikmu malam ini?” tanya Taemin mencoba kalem. Hanna diam dan menunduk. “Hanna-ya, kenapa diam saja? Cepat, ganti pakaianmu sana.” Pinta Taemin sambil menepuk lembut pipi Hanna.

Oppa…” gumam Hanna.

“Apa? Sudah sana cepat. Nanti kemalaman. Aku sudah menyiapkan kejutan untukmu. Aku akan—“

Oppa, aku tidak bisa meneruskan hubungan kita.”

DEGH!

Senyum yang terukir di wajah Taemin lenyap seketika. Sedetik kemudian, Taemin tertawa ringan, mencoba berpikir bahwa itu hanyalah candaan.

“Hei, jangan bercanda, Gadis Manja. Sudah, aku tunggu kau di mobil ya.” Taemin membalikkan tubuhnya dan menganggap kata-kata Hanna barusan hanya sebagai angin yang lewat. Namun ternyata sekarang Hanna telah menanhan langkahnya.

“Aku serius, Taemin-ah..

DEGH!

“Kau memanggilku apa?” tanya Taemin kaget.

“Aku tidak bisa memanggilmu dengan sebutan ‘oppa’ lagi. Maafkan aku..” kata Hanna sambil membuang pandangannya ke arah manapun asal tidak memandang ke arah mata Taemin yang sedang menatapnya begitu tajam.

“Kau.. Kenapa? Kenapa berubah seperti ini? Kita.. Kita sudah dua tahun bersama, bukan??” tanya Taemin mulai skeptis. Taemin mencengkeram kedua bahu Hanna.

“Kejadian hari itu membuatku sadar. Saat kau akan menciumku, tiba-tiba saja hatiku menolak. Dan justru bayangan wajah Kai yang aku lihat. Selama dua tahun ini, aku berusaha menyukaimu. Dan aku berhasil. Keundae, aku tidak bisa mencintaimu seperti cintaku pada Kai dulu, Taemin-ah. Keberadaanmu dalam hidupku memang penting dan aku membutuhkanmu, tapi lama-kelamaan aku seperti merasa tak tahu harus bagaimana lagi untuk menjalani hubungan kita ini. Sepertinya aku telah sampai pada titik jenuhku padamu.” Jelas Hanna yang berhasil menohok hati Taemin.

Rahang Taemin mengeras. Kedua matanya mulai memerah karena menahan tangis sekuat tenaga agar Hanna tak melihatnya.

Taemin benar-benar benci dengan perpisahan! Setelah sedemikian rupa ia menyiapkan semuanya, bahkan ia mulai berpikir akan ada Hanna dalam masa depannya, Hanna justru mengambil langkah mundur darinya. Ia tidak menyangka hubungannya dengan Hanna akan berakhir pilu sama seperti hubungannya dengan Shin You dulu.

“Apa kau sekarang sedang berusaha menjadi Kim Shin You yang kedua dalam kehidupanku, Hanna-ya?” tanya Taemin lirih sambil menatap tajam kedua manik mata Hanna. Hanna merasa takut dengan tatapan Taemin kali ini. Tatapan Taemin menyiratkan perasaan terluka dan kecewa yang sangat besar. Apa sekarang Taemin tengah memandangku sama seperti saat ia mengingat luka yang Shin You timbulkan padanya? Batin Hanna cemas.

Maja! Kau dan dia sama-sama mempermainkan perasaanku. Kalian membuatku merasakan betapa pentingnya diri kalian di setiap hari-hariku, namun dengan tega kalian meminta pergi di saat aku merasa telah yakin dengan perasaanku.”

“Taemin-ah, bukan itu maksud—“

MWOYA?!” sentak Taemin dengan matanya yang basah—membuat Hanna terperanjat dan merasakan jantungnya akan keluar saat itu juga melihat kemarahan Taemin. “Aku berniat akan melamarmu malam ini!! Tapi kau memaksaku untuk mengakhiri hubungan kita! Apa kau memiliki hati, Choi Hanna?!”

DEGH!

Hanna menutup mulutnya yang setengah terbuka. Air matanya menetes.

“Taemin-ah, mianhae..

SRET!

Taemin tak peduli lagi. Ditariknya tengkuk leher Hanna dan berniat akan mencium gadis itu tepat di bibirnya.

PLAK!

Sakit. Panas. Tamparan tangan Hanna sampai membekas kemerahan di pipi kanan Taemin. Taemin terbelalak tak percaya karena lagi-lagi Hanna menolaknya.

“Aku tidak bisa. Aku.. Tidak bisa.. Maaf!”

DRAP DRAP DRAP!

Hanna menangis keras dan berlari menaiki tangga memasuki kamarnya. Hanna menutup pintu kamar dan menguncinya. Setelah itu Hanna hanya bisa menangis dan menenggelamkan kepalanya di atas lututnya.

Di sisi lain, Taemin tak ada pilihan lain selain keluar dari apartment itu sambil merasakan untuk kedua kalinya bagaimana rasanya ditinggalkan.

TO BE CONTINUED…

Nah, udah. Gimana readers? Menarik? Masih penasaran lagi? Sebelumnya komen part ini dan sabar menunggu buat part selanjutnya yaa. Gomawo ^^

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

16 thoughts on “First Love is Never Die – Part 2

  1. wuah ceritanya bagus, aku udah baca yang pertama, serasa ditampar deh ssi Taem, tapi maaf saya baru komen, oya part 3nya udah muncul tapi di password. May I get that password?

  2. Ъќ tega banget Taemin disakitin
    Kalo youngie emang punya alasan buat ninggalin Taemin
    Kalo Hanna…nyakitin banget itu
    Taem udah putuss
    Ŧǻρί Kai jadian sama youngie
    Aduuuh ribetttt
    Part 3 pwnya apa Ɣää ?? T_T

  3. Hwaaa… gmna jdnya nih?!
    Tp part 3 nya d protect..
    Author, saya udah ngirim email..
    Mnta password part 3😀

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s