The Destiny – Part 13 (End)

The Destiny [Part 13-End]

Tittle                 : The Destiny

Author              : Lee Hana

Main cast          : Kim Kibum, Rika Wibowo and Lee Jinki

Support Cast     : Lee Taemin, Kim Jonghyun and Shim Jungeun.

Genre               : School Life, Frienship, and Romance

Length              : Sequel

Rating               : T

Summary          : “Seperti orang yang biasa meminum kopi dengan gula, tapi sayangnya gulanya hilang dengan ajaib hingga membuatnya harus meminum kopi pahit. Jika kopi adalah cinta dan gula adalah dirimu, alhasil adalah rasa yang baru saja menyentuh lidahmu. Kau sudah tahu rasanya, kan?”

Note                 : Tulisan bahasa Indonesia yang bercetak miring dan berada di dalam kalimat langsung berarti mereka berbicara menggunakan bahasa Indonesia yang sebenarnya.

♛♛♛

Tertunduk. Termenung dengan tatapan sayu pada meja kosong di hadapannya. Sekarang sudah tak bisa lagi berpikir. Tak bisa memikirkan yang lain kecuali kenangannya. Semua itu membuatnya tak pernah bisa memilih ekspresi apa yang harus ia tunjukkan. Luka dan cinta. Tapi hanya ada satu hal yang paling ia rindukan dari gadis yang kini ia tunggu, kata ‘oppa’.

“Oppa.”

 

‘Oppa’. Satu kata yang mampu menarik kesadarannya kembali hingga membuat hatinya bergetar. Dengan perlahan Jinki menghentikan tundukan dan menatap sayu gadis yang kini tersenyum tipis padanya. Sayang, Jinki tak melakukan hal yang sama. Ia tak mau membalasnya, hanya berdiri.

“Oppa, anyeonghaseyo.” Kali ini Rika menyapanya ramah dengan tundukan kecil. 

 

“Anyeonghaseyo.” Tapi tetap tak terlihat gairah di wajahnya.

Keduanya duduk dan saling berpandang.

“Bagaimana kabar, Oppa?”

“Andweyo.”

 

Untuk ini Rika tak bisa menunjukkan senyum. Tangannya sedikit bergetar dalam pangkuannya. Ia menariknya dan mengepalnya. Ia menunduk dan lebih memilih diam.

“Pelayan!” Jinki  mengangkat tangannya hingga seseorang yang ia kehendaki datang menghampiri mereka.

“Pesan apa, Tuan?”

“Kopi pahit dua.”

Rika mendongak dan menatap Jinki tak percaya.

“Ada lagi, Tuan?”

“Tidak.”

Sang pelayan telah raib dari hadapan mereka dan Rika mulai membuka pembicaraan kembali.

“Oppa, apa kamu lupa aku tak suka pahit?”

“Aniyo. Aku hanya ingin kau mencobanya. Kau belum pernah meminumnya, kan?”

Rika menggeleng dan tak lama kemudian dua cangkir kopi itu telah tersedia di meja mereka. Dengan ragu Rika menenggaknya. Sedang Jinki meminumnya dengan tenang tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah Rika.

“Uhuk! Uhuk!”

Jinki meletakkan kopinya tenang. Melihat Rika yang tengah mengusap mulutnya dengan tisu.

“Apa itu terlalu pahit untukmu?”

“Ne.”

 

“Apa rasanya benar-benar buruk?”

“Ne.”

 

Jinki tak bicara lagi. Membuat Rika canggung dan hanya menatap kopinya yang tak mau lagi ia minum.

“O, ya, sekali lagi aku ucapkan selamat atas pertunanganmu dan maaf atas sikapku yang tak sopan karena pergi begitu saja. Rasanya sangat tidak sopan jika aku hanya mengucapkannya lewat telepon.”

Jinki menenggak kopinya lagi lalu mulai bicara, “Berhentilah membicarakan pertunanganku! Bukan antara aku dan Yoonji, tetapi antara aku dan kamu …, jadi, bolehkah aku tahu apa alasanmu berbohong saat itu?”

“Tak ada alasan khusus. Aku hanya ingin kau membenciku daripada berlarut dalam kesedihan ketika mengetahuinya,” jawab Rika tenang.

“Lalu, kenapa pergi tiba-tiba? Kau bahkan tak membiarkan kami berpamitan denganmu. Bukankah itu terlalu kejam?”

“Memang sangat mendadak. Aku pun tak menyangka. Maaf karena aku menyakiti kalian lagi, tapi, aku tak mau melihat air mata kalian atau kalian melihat air mataku. Jika itu terjadi maka keyakinanku akan goyah.”

“Apa laki-laki yang akan dijodohkan denganmu itu ada di Indonesia, karena itu kau pergi?”

Rika tersentak dan terdiam sebentar. Ia tahu bahwa Kibum belum mengatakan apapun pada yang lainnya hingga sekarang. “Aniyo. Dia orang Korea asli, tapi dia menolakku, karena itu tak ada alasan aku harus tetap tinggal.”

Jinki shock mendengar jawaban yang benar-benar diluar dugaannya. “Apa kau memang benar-benar mencintainya hingga kau membuatnya menjadi satu-satunya alasan? Bagaimana dengan aku? Bagaimana dengan kami, sahabatmu yang sangat menyayangimu?”

“Kalianlah alasan terkuatku. Alasanku memutuskan untuk pergi. Bukan karena aku benci atau tak suka pada kalian, tapi karena aku tak mau lagi memecah kalian seperti yang pernah aku lakukan.”

“Apa yang kau bicarakan Rika? Jika kau dijodohkan dengan orang lain, kenapa kita harus saling membenci? Itu tidak rasional. ”

“Tidak jika Oppa tahu siapa orang yang dijodohkan denganku.”

Mata Jinki menajam.

“Kim Kibum …, orang yang pernah ingin merebutku darimu.” Mata Jinki membulat. “Dia menolakku hanya karena dia tak mau lagi melukaimu. Dia bilang ia tak mau masuk ke dalam lubang yang sama dua kali. Dan aku pikir dia sangat terluka saat itu, sama sepertimu, karena itu aku lebih memilih pergi dan mengakhiri cinta segitiga yang membuat kalian sakit.”

“Kibum memang sudah berubah. Tapi Rika, apa yang kau lakukan bukanlah hal yang benar. Apa kau tahu kenapa aku menyuruhmu meminum kopi pahit?”

Rika menggeleng.

“Seperti orang yang biasa meminum kopi dengan gula, tapi sayangnya gulanya hilang dengan ajaib hingga membuatnya harus meminum kopi pahit. Jika kopi adalah cinta dan gula adalah dirimu, alhasil adalah rasa yang baru saja menyentuh lidahmu. Kau sudah tahu rasanya, kan?”

Rika menunduk sedih. “Cinta tanpa orang yang dicintai akan terasa pahit,” ujar Rika lirih.

“Berlarut dengan kopi pahit beberapa lama, akhirnya aku mencoba mencampurkan kopiku dengan bahan lain. Mengganti gulaku dengan susu, tapi rasanya berbeda, meski begitu lebih baik hingga aku terus melanjutkannya hingga sekarang. Tapi tiba-tiba beberapa hari yang lalu aku menemukan gulaku yang hilang. Menurutmu mana yang akan aku pakai untuk dicampur ke dalam kopiku?”

Rika terkejut. Entah kenapa kata-kata itu terdengar sangat dingin. Rika berpikir sebentar kemudian mencoba menenggak kopinya sekali lagi. Dan untuk kedua kalinya Rika tersedak dan terbatuk-batuk.

“Kenapa kau mencobanya lagi?” tanya Jinki yang heran melihat tingkah Rika.

“Aku pikir jika aku terus meminumnya lidahku akan terbiasa, karena itu aku harap kau memilih susu daripada gula.”

“Tapi aku memilih gula.”

Rika terbelalak.

“Aku memilihmu. Ayo kita mulai lagi semuanya dari awal. Kita lakukan semua yang dulu belum sempat kita lakukan bersama,” ujar Jinki penuh senyum seraya mengingat hari-hari indah yang mereka lalui bersama dan ia pikir akan terulang lagi.

Rika menunduk dan meremas tisu di tangannya beberapa saat kemudian menatap Jinki kembali, “Aku datang bukan untuk mendengar hal seperti ini. Aku membencimu yang seperti ini.”

“Lalu apa yang kamu inginkan? Kamu yang merubahku hingga seperti ini. Aku masih mencintaimu dan aku melihat sisa cinta pada dirimu. Bukankah dari awal aku tak pernah melepaskanmu. Bukankah seharusnya aku yang membencimu? Kau mengekangku dan tak bisa mencintai siapapun, lalu kau datang tiba-tiba dan kembali membuatku kembali ingin bersamamu.”

Rika mulai menangis pelan dan menutupi kedua wajahnya dengan kedua tangannya, membuat seketika marah Jinki luntur dan menjadi rasa iba.

“Mianhae. Aku hanya tak bisa melepasmu.”

Rika menghapus air matanya dan menatap Jinki. “Mianhae jeongmal. Tapi Oppa, kita tetap tak bisa bersama. Kau sudah memilih gadis itu, dan kau telah membuat sebuah ikatan dengannya. Kau telah membuatnya jatuh cinta padamu. Aku akan terlalu jahat dan egois jika harus bersamamu lagi.”

“Tapi aku tak mencintainya.”

Rika bergeming dengan mata membulat.

“Aku tak pernah mencintainya. Kau boleh meninggalkan aku begitu saja, kenapa aku tak bisa meninggalkannya begitu saja? Aku tak pernah memintanya untuk jatuh cinta padaku.”

“Lalu kenapa kau bertunangan dengannya?”

“Aku hanya ingin terlepas dari dirimu. Tapi ketika kau kembali, aku sadar, bukan kau yang menggenggamku, tapi aku yang tak bisa melepaskanmu, dan aku tak mau kehilanganmu lagi.”

“Oppa, cukup! Kau tak boleh melakukan itu. Tak bisakah kau belajar dari Kibum? Jangan korbankan pertunanganmu hanya untukku. Hentikan itu! Aku tak datang untuk merebut tunangan orang!”

“Siapa yang merebut? Aku tak dimiliki oleh siapapun, kecuali dirimu. Aku selalu mencintaimu, dan kau tak pernah merebutku dari siapapun!”

“Aku bilang cukup. Aku takkan kembali padamu.”

“Berikan aku satu alasan.”

“Aku …, aku sudah tak mencintaimu,” ujar Rika terbata.

“Itu tidak cukup. Aku tahu kau bohong.”

“Aku mencintai orang lain.” Kali ini terdengar lugas dan lantang, dan untuk kali ini Jinki tahu ia tak berbohong. Ia hanya menatap mata Rika yang penuh keyakinan. “Kau pasti tahu aku tak berbohong kali ini.”

“Bagaimana kau berlajar berbohong sebaik ini?”

“Berhentilah! Aku mencintai Kibum.”

Jinki bergeming sebentar lalu bicara lagi, “Kau kira aku peduli? Bukankah yang terpenting kau masih mencintaiku?”

Namjacingu-ku Kibum sekarang. Tak mungkin aku mencintaimu! Aku bilang berhenti!”

“Sampai kapan kau akan berbohong?!” bentak Jinki marah membuat beberapa orang pengunjung menatap mereka penasaran.

“Dia tak berbohong,” sahut Kibum yang ternyata berada tak jauh dari mereka.

Rika dan Jinki bergeming mendengar sahutan seseorang yang tiba-tiba muncul tanpa terduga. Muncul bersama seseorang yang sama berpakaian formal di belakangnya. Mereka berdua menatap dua orang yang baru datang tersebut dengan pandangan terkejut.

“Minho, kembalilah ke kantor lebih dahulu, dan sepertinya aku tak bisa mengikuti meeting kali ini, jadi tolong gantikan aku!”

“Baik,” sahut Minho cepat kemudian segera pergi meninggalkan mereka bertiga dalam keadaan kaku.

Hyung, sadarlah! Lepaskan Rika! Kau sudah memiliki tunangan dan Rika adalah yeojacingu-ku sekarang. Jadi, tolong jangan ganggu Rika, ara?

“Kalian baru bertemu beberapa hari. Kalian mau sekongkol untuk membodohiku?” bantah Jinki yakin.

“Tapi aku menunggunya dan mencintainya selama tujuh tahun. Aku rasa itu waktu yang cukup lama untuk memulai suatu hubungan, Hyung.

“Apa maksudnya? Kau mau mengambil Rika setelah kau menolaknya bertahun-tahun lalu? Asal kau tahu saja, aku tak pernah melepas Rika. Aku tak pernah mengatakan apapun padanya, dan tak pernah menyetujui keputusannya dengan perpisahan kami waktu itu.”

“Tapi, Hyung, kau telah membuat hubungan dengan Yoonji. Entah ada cinta di dalamnya atau tidak, selama kau sudah memulai berarti kau telah menganggap kau tak punya ikatan pada siapapun. Pada dasarnya kau telah melepaskan Rika, jadi jangan paksa dia kembali padamu.” Kali ini Kibum bicara lebih lantang.

Jinki sesaat menatap Rika yang terdiam dalam tundukannya, namun ia hanya bisa menatap beberapa lama sebelum Kibum menyeretnya pergi ke sebuah tempat sepi. Sebuah lorong menuju kamar mandi. Di sana Rika tertunduk dan keduanya terdiam sebentar.

“Maaf, membuatmu harus berbohong,” ujar Rika lemas.

“Apa kau juga berbohong ketika kau mengatakan kau mencintaiku?” tanya Kibum serius.

Rika menatap Kibum sendu dan menggeleng—membuat wajah Kibum penuh semburat senyum.

“Bukankah aku mengatakan aku tak bisa melupakan kalian? Itu bukan berarti kalian semua, tetapi aku memiliki perasaan padamu dan Oppa. Terdengar egois, tapi aku memang mencintai kalian berdua. Mencintai di saat yang sama. Sejak dulu hingga sekarang. Itu alasannya aku tak pernah bisa memulai hubungan dengan seorang namja,” ungkap Rika lemas.

“Kalau begitu jadilah yeojacingu-ku, maka itu bukanlah lagi sebuah kebohongan,” pinta Kibum serius dan penuh debaran.

Rika mengangguk dengan senyuman kecil. Kibum pun memeluknya. “Kenapa begitu sulit untuk bisa bersamamu? Harus merasakan sakit dan menunggu hingga begitu lama.”

“Maaf, aku terlambat menyadari perasaanku sendiri. Aku hanya berpikir aku membencimu dan baru sekarang memutuskan untuk kembali.”

Kibum melepaskan pelukannya—memegang kedua bahu Rika dan menatapnya dengan senyuman. “Gwenchanayo. Tapi tolong jangan pergi lagi!”

“Ne.”

______

Seseorang baru saja masuk ke dalam sebuah apartemen kecil. Di dalamnya hanya ada sebuah ruangan yang menyatu dengan dapur, sebuah kamar mandi dan sebuah ruang tidur. Dari tempatnya berdiri yang bisa ia lihat hanya sebuah ruangan yang berantakan dan tak teratur.

Yoonji menghela berat kemudian mengeletakkan tasnya pada sofa putih yang dipenuhi dengan kemeja, dasi, dan beberapa barang  yang tak seharusnya berada di sana. Di mejanya pun masih tergeletak beberapa botol bir kosong beserta gelasnya.

“Jika ruangan ini seberantakan ini, maka ia pasti sangat frustasi.”

Dengan sabar ia meletakkan kembali semua pada tempat semula, membersihkanya hingga menghabiskan keringat dan waktunya. Ia mengusap peluhnya dengan kemeja lengan panjangnya. Ia memasuki kamar Jinki dan melakukan hal yang sama. Ia membersihkannya dan tanpa disengaa ia menemukan sebuah foto yang seharusnya tak ia lihat pada selipan buku.

“Apa ini Oppa saat SMA? Ini pasti Rika. Mereka tampak bahagia.”

Yoonji meletakkan buku itu ke dalam laci. Ia tak mau berpikir apapun, sesuai apa yang ia katakan sebelumnya pada Jinki, ia akan berusaha mempercayainya meskipun otaknya menolak untuk itu.

Kini ia mengecek kulkas dan hanya ada beberapa cemilan dan bir. Untuk kali ini Yoonji kembali mengambil tasnya dan berniat pergi ke supermarket. Ini memang bukan rutinitas, tapi terkadang ia melakukannya jika mempunyai waktu luang. Selama ini ia memang bekerja keras hanya untuk mendapatkan hati Jinki. Untuk kesekian kalinya ia ingin menyenangkan Jinki dengan masalakannya. Ia tahu apa yang Jinki suka dan ia akan membuatkannya dengan sepenuh hatinya.

Ia pergi keluar apartemem dan kini ia telah berada pada trotoir jalan. Ia berniat menyeberang, tapi….

Tin! Tiiiiiin!

______

Jinki tengah mengendarai mobilnya menuju kembali ke apartemennya. Ponselnya berdering lagi, dan nama yang hampir memenuhi kotak masuk serta pesan untuk beberapa hari ini muncul lagi. Tapi kali ini Jinki mengangkatnya—meski dengan malas.

“Yeoboseyo….”

 

Bukanlah suara yang ia kenal atau suara seorang gadis. Ia malah mendengar berita yang membuatnya serasa terdorong ke jurang dari seorang laki-laki yang tidak ia kenal. Jantungnya berdentum keras dan ia membanting setir ke arah sebaliknya dengan wajah pucat

Mianhae. Tunggu aku Yoonji! Tolong jangan pergi!

 

Kecepatan mobilnya telah berada di ambang batas normal. Tetapi ia cukup mahir hingga tak perlu mengalami sebuah kecelakaan. Samapai pada tujuan dalam waktu tak sampai setengah jam Jinki segera berlari menuju meja resepsionis dengan penuh kepanikan.

“Maaf, di mana pasien bernama Baek Yoonji? Dia pasien tabrak lari yang baru datang beberapa waktu lalu,” ujar Jinki panik.

“Dia masih di UGD.”

Tanpa banyak bicara lagi Jinki segera berlari menuju tempat yang baru disebutkan. Di dalam ruangan itu hanya ada seseorang di sana. Seseorang yang ia yakini adalah tunangannya, meski hanya sepasang kaki yang tergeletak di atas ranjang yang bisa ia lihat, sedang tubuhnya tertutup oleh tirai berwarna hijau kebiruan yang menyeka ranjang-ranjang kosong yang sejajar dengan ranjangnya.

“Yoonji!” panggil Jinki segera berlari menuju orang yang tengah tergeletak di atas ranjangnya.

Dari tempatnya Jinki melihat seorang gadis tengah terbaring sambil melamun. Tangan kanannya digips dengan dahi yang diberi obat merah dan dibalut dengan sedikit perban. Itu cukup melegakan Jinki.

Yoonji tersenyum tipis menatap Jinki yang penuh peluh di dahinya. Napasnya tersengal dengan wajah pucat. “Oppa.”

 

Jinki segera mendekat dan menatap Yoonji dengan pandangan khawatir. “Kau tak apa-apa?”

“Gwenchanayo.”

Jinki segera memeluk Yoonji erat, sedangkan Yoonji tersenyum mendapatkan perlakuan dari Jinki yang baginya istimewa. Jarang ia melihat Jinki sekhawatir ini padanya, karena  ia lebih sering terlihat diam dan cuek.

“Terima kasih …, terima kasih sudah mengkhawatirkan aku,” ujar Yoonji lembut.

Kata-kata itu memuat Jinki tersentak dan seketika berkaca-kaca. Ia melepaskan pelukannya dan menatap dalam manik Yoonji yang penuh kebahagiaan. “Pabo cheorom. Apa yang baru saja kau katakan? Terima kasih? Aku tak pantas mendapatkannya.”

Yoonji hanya tersenyum semakin lebar menatap Jinki yang kini mulai mengeluarkan setetes air matanya. “Aku senang ternyata kau sudah kembali, bahkan sekarang lebih baik lagi. Sekarang aku yakin kau mencintaiku. Maaf aku pernah meragukanmu.”

Untuk kali ini Jinki tak bisa menahannya lebih jauh lagi. Bendungan air matanya sudah hancur dan aliran air itu mulai berderai lebih deras. “Berhentilah! Aku sangat jahat. Aku yang harus meminta maaf. Kau pantas ragu.” Jinki memeluk Yoonji lagi, kali ini lebih erat. “Mianhaeyo. Minahaeyo. Mianhaeyo, Yoonji. Saranghaeyo.”

“Nado saranghaeyo.”

 

Cinta dan benci hanya terpisah oleh sebuah garis tipis.

 

Kau. Bisakah kau membedakannya?

 

Cinta dan benci tak pernah mengenal jarak dan waktu.

 

Dua perasaan yang mengajarkanmu cara menangis dan tertawa. Sedih dan bahagia. Keduanya bisa membuatmu seakan gila. Mengurungmu dalam kebingungan, atau bayang-bayang.

 

One Year Later

 

Kau tak bisa melihat masa depan. Karena kau hanya bisa melihat masa yang telah kau lalui.

 

Terkadang jalan yang lurus pada akhirnya menikuk.

 

Dan takdir terkadang tak sejalan dengan bayang-bayang.

Kehidupan bisa saja berubah sewaktu-waktu

Gaun putih yang menjuntai indah, tiara yang gemerlap, dan seikat bunga yang tersusun indah. Rika tersenyum menatap dirinya di cermin. Ia memegangi dadanya yang terus berdebar tanpa henti.

“Kau cantik, Sayang,” ujar suara lembut di belakangnya. Seseorang yang memegang bahunya dan tersenyum  padanya dengan semburat kerutan pada wajahnya yang semakin menua.

Rika hanya tersenyum mendengar ucapan ibunya.

Terdengar suara ketukan pintu dan masuklah seorang gadis dengan dua tubuh serta seorang gadis dengan gaun putih selututnya yang juga terlihat cantik. Ia datang dengan memegangi perutnya yang terus saja membesar dan terasa berat.

“Oh, Rika, kau cantik sekali. Dengan gaun itu, kau mengingatkanku ketika aku menikah dengan Minho.”

“Apa saat itu kau bahagia?”

Jungeun mengangguk kemudian bicara, “Dan takut. Kau takut?”

 

Rika mengangguk lemas.

“Tidak apa-apa. Mama juga begitu dulu.”

 

“Aku juga mau memakai gaun seindah itu,” celetuk Risa tiba-tiba dengan pandangan iri.

 

“Kalau begitu cepat temukan pangeranmu,” ujar Rika.

“Aku bahkan akan menemukan yang lebih baik dari Kibum-mu itu.”

 

“Itu akan sulit.”

 

“Menyebalkan,” sungut Risa yang tak bisa menampik kesempurnaan calon kakak iparnya itu.

Untuk kedua kalinya pintu kembali terbuka. Kali ini terlihat sesosok laki-laki paruh baya yang gagah dengan jas hitamnya. Berdiri tegap dan tersenyum bahagia pada anaknya.

“Rika, kau sudah siap?”

 

“Iya, Pa.”

______

Rika mengambil napas hingga memenuhi paru-parunya, berharap rasa gugupnya sedikit berkurang. Entah untuk keberapa kali ia tersenyum kepada gadis yang kini berdiri di sampingnya. Memegang lengan ayahnya sama seperti yang dilakukannya.

“Kau berdebar?” tanya Yoonji.

Rika mengangguk.

“Aku juga,” bisik Yoonji.

“Bersiaplah!”

Kali ini Yoonji yang mengangguk.

Pintu besar di hadapan mereka terbuka lebar, dan seluruh hadirin memperhatikan mereka. Sedangkan kedua gadis itu hanya menatap dua sosok laki-laki yang kini tengah menunggu mereka berdua dengan senyum. Sosok yang akan mengikatkan sebuah janji suci dan sakral dengan mereka. Dengan dua orang penabur bunga yang mengekor, dan langkah pelan yang anggun mereka datang perlahan dengan penuh kebahagiaan.

Dan dalam jangka tak terlalu jauh para ayah harus melepas anak perempuan mereka dan memberikannya kepada calon menantu. Mereka saling berpasangan menghadap sang pastur, dan dibacakanlah sederet tulisan yang berada pada sebuah kitab. Yang mereka lakukan hanya diam dalam debaran hingga keempatnya mengatakan kata ‘ya’ dengan penuh keyakinan, kata pendek yang menjadikan mereka terikat dalam sesuatu yang disebut pernikahan.

Berlanjut pada acara selanjutnya. Rika dan Yoonji telah berdiri membelekangi hadirin dengan buket bunga yang mereka pegang masing-masing. Mereka saling berpandangan untuk beberapa lama. Sedangkan orang-orang muda itu telah menunggu dua benda itu terbang dan siap menangkapnya. Menjadikan acara singkat itu bagaikan perang. Memperebutkan benda sederhana itu bagai seonggok berlian atau seikat uang, atau lebih dari itu. Mereka hanya berharap dapat menyusul mereka yang lebih dahulu mencapai pelaminan dan membuat sebuah keluarga.

“Hana, dul, set!” ujar Yoonji dan Rika bersamaan dan penuh semangat.

Dua benda berbeda warna itu terlempar di tengah-tengah mereka. Dan sepasang tangan mendapatkan bunga Yoonji. Seorang gadis muda cantik yang kini tersenyum pada Jonghyun. Seorang namja yang berdiri tak jauh darinya dengan senyum cerah. Sedang bunga yang lain kini tengah di genggam oleh dua buah pasang tangan. Tangan seorang namja dan yeoja.mereka saling berpandang dengan bingung, juga bercampur gugup yang entah kenapa.

Risa melepaskan genggamannya pada buket bunga itu dan memberikannya pada Taemin. sedangkan Taemin semakin memandang bingung kepada gadis di hadapannya.

“Itu untuk Sunbae saja. Mungkin yeojacingu Sunbae memang sudah ingin menikah. Dia pasti senang namjacingu-nya mendapatkan buket bunga itu,” ujar Risa tulus.

Taemin menatap buket bunga itu lekat-lekat kemudian menyodorkannya pada Risa hingga Risalah yang kini bertampang bingung.

“Aku belum punya yeojacingu. Mungkin namjacingu-mu yang segera ingin menikah denganmu.” Kini Taemin yang bicara. Terdengar seperti mengikuti kata-kata Risa.

Risa mendorong tangan Taemin yang tengah memegang bunga dengan tampang sedih. “Aku juga tak punya namjacingu. Lagi pula, aku pikir aku masih terlalu muda untuk berpikir menikah. Aku pikir Sunbae lebih siap untuk itu.”

Taemin tak lagi berniat memberikan buket itu kepada siapapun. Ia menggenggamnya dan tersenyum pada Risa. “Gomaweo.”

 

Risa tersenyum. “Cheonmaneyo.”

“Apa sudah ada yang mengatakan kamu mirip dengan kakakmu? Kamu sama manisnya dengan Risa Noona ketika tersenyum.”

Risa terdiam dan menatap lekat wajah Taemin sambil berpikir beberapa saat. “Apa aku begitu mirip dengan Eonnie? Sebenarnya ada apa dengan mata kalian semua? Aku pikir tidak,” jawabnya polos.

Tiba-tiba terdengar sebuah rintihan seorang gadis dari segerombolan tamu yang tengah duduk. Seorang yang terlihat kesakitan seraya memegangi perutnya yang membuncit dengan wajah pucat. Sedangkan suaminya terlihat cemas dan mulai ketakutan, padahal ia berada tepat di samping istrinya.

“Yah, tolong! Istriku ingin melahirkan sekarang!” ujar Minho panik dan mengundang para tamu untuk segera datang menolong, bahkan dua pasang pengantin yang sudah lupa dengan acara mereka sendiri dan terlihat sama paniknya dengan Minho.

Pada akhirnya semua berakhir bahagia, meski penuh luka dan duka ketika kita harus mencapainya. Takdir tak berjalan tanpa alasan. Semua yang terjadi bukan tak beralasan. Perasaaan yang tumbuh juga bukan tanpa alasan. Bahkan rasa sakit yang menyiksa juga bukan tanpa alasan.

Rika POV

 

Ketika aku berpikir aku sangat membencinya aku justru menyadari aku mencintainya pada akhirnya….

 

Ketika dia marah, aku menyadari betapa dalam rasa cintanya….

 

Ketika dia terluka, aku menyadari betapa rasa sedihku ada….

 

Ketika dia menjauh, aku menyadari betapa aku terluka….

 

Dan ketika dia tak ada, aku sadar betapa besar rasa cinta dan rinduku untuknya….

 

Serta, semua itu terjadi karena takdir. Jika luka itu tak kulalui aku tak akan tahu aku memiliki perasaan ini, dan memiliki Kibum yang begitu setia dengan cintanya….

 

Aku tahu sekarang, dialah takdirku….

 

-The End-

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

21 thoughts on “The Destiny – Part 13 (End)

  1. Wah .. Daebak endingnya…!! Jinki akhirnya sadar bahwa orang yang di cintainya adalah “susu” #eh
    keren ! Keep writing yaaa!🙂

  2. wuuaaah, daebak…
    padahal aku berharap Rika bisa kembali pada Jinki. tapi it’s ok. akhirnya semua bisa berakhir bahagia n gag ada yg tersakiti… *author yg adil🙂
    suka sama bagian taemin sm risa nangkep bunga barengan. bikin senyum2 sendiri…
    ditunggu karya lainnya yah lee hana. suka bgt sm FF kmu…

    1. hahaha, iya dong. harus happy ending. dari part awal udah ngenes melulu, masa akhirnya ngenes juga sih.
      hahaha, sweet, kah?
      ok! makasih! lain kali jangna lupa mampir lagi, ya?

  3. Yeees! Tebakan aku bener~
    Akhirnya Rika bersama Kibum hidup bahagia selamayaa~
    fiuhhh, kaget banget pas baca si Jugeun udah nikah sama Minho. Malah udah hamil, ahahaha
    Yang penting sih Rika sama Yoonji gak marahan. Aku sepertinya adalah salah satu penggemar dari cast yang kamu buat. Si Yoonji, aku suka banget sama dia.
    Daebak Author-ssi~ Tetep semangat terus meneruskan karya-karyamu, fighting!

  4. akhirnya end juga. maaf ya br comment di part terakhir hehe
    saya suka sama alurnya mengalir bgitu aja walau idenya sdikit mudah tertebak sm saya hehe tp tetep top lah. part trakhirnya bikin greget deh :p
    bahasanya jg santai dan ga bikin bosen.
    daebak! haha keep writing yaa🙂 ditunggu karyamu yg lain Lee Hana author😀

  5. Wooow…
    Kibum menjaga cintanya sama Rika selama 7 tahun…🙂

    Kadang kita baru menyadari berartinya seseorang disisi kita, saat kita kehilangan. Bersyukurlah Jinki, Yoonjinya selamat..

    Akhirnya happy ending jg untuk semuanya..

    Tinggal nunggu kabar dari Jjong dan Taemin nih..😛

    Ok Hana, ditunggu karya lainnya ya…🙂

    1. ahahaha, eonnie bisa aja. gimana caranya ngsih kabar ke eonnie kklo si jongie sama tetem mau nikah? #saya jadi bingung.
      tunggu, ya thor! makasih jadi penunggu the destiny yang setia ….!

  6. The End ~(˘▽˘~)(~˘▽˘)~
    ( ˘▽˘) Pernikahan 2 orang ternyata
    (˘_˘” )( “˘_˘) MinHo lebih dulu dari leader
    Harus nunggu kabar nih dari Jong, apalagi Taem◦”̮◦◦”̮◦◦”̮◦
    ‎Taem belum punya pasangan, ato udah. Hal itu rahasia author dan TUHAN yang tahu.

  7. Huhu akhirx kibum sma rika jdi brsatu juga. Happy ending ya tor. Jinki akhirx sadar kalau dia memang mencintai yoonji.. Hohoho oya tor buat sequelx donk,penasaran sma khidupanx kibum dan rika sampai punya anak,jebal tor*puppy eyes. Hehe😉

    1. Ji Soo-ssi, apa tiga belas part kurang banyak? buat aku malah banyak banget. kemungkinannya sih aku nggak akan buat sequel. mungkin suatu saat akan kirim semacam epilog. mungkin lengthnya one shoot atau Two Shoot. semoga ….
      tapi itu pasti nunggu waktu lama, bisa berbulan-bulan atau malah nggak jadi. kamu berdoa aja.
      dan makasih komentarnya ….

  8. DAE to the BAK –> DAEBAK
    ternyata jodohnya Kibum juga.
    hadeh.. jodoh memang tak akan kemana.
    Jinki akhirnya sadar kalau dia cinta tunangannya.
    aku salut sama Yoonji..
    bikinin side story tentang Yoonji – Jinki dong thor.
    gimana mereka ketemu, trus sampe tunangan.
    aku suka karakter Yoonji🙂

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s