Graffiti [2.2]

Graffiti [2 of 2]

Author: ZaKy

Main Cast:

  • Kim Jonghyun
  • Kim Kibum

Support Cast:

  • Ishikawa Shuichi (OC)
  • Niizuma Eiji (OC)

Length: Two-shots

Genre: Friendship

Rating: General

~~~~~~~~

Kim Kibum melirik kaca jendela salah satu factory outlet yang sudah tutup. Kenyataan bahwa bukan hanya sepatunya yang tengah menjejak lapisan aspal Takeshita-dori kembali mengundang helaan napas gusar dari celah bibirnya.

Ia berhenti. Gema ganjil yang mengikutinya lenyap di kelengangan malam.

Ia melangkah. Gemeretak sol sepatu lain terdengar sepersekian detik setelah miliknya.

Mata Kibum menutup. Satu, dua detik. Lidahnya meraba bibir yang terasa amat kering guna menelan kembali segala jenis umpatan yang hanya membutuhkan hembusan napas untuk bergaung di celah-celah bangunan. Lantas tumitnya berputar 360 derajat.

“Kenapa kau mengikutiku?!” ia membentak, tidak memusingkan tingkatan bahasa kalau-kalau orang di belakangnya lahir beberapa tahun lebih dulu darinya. Sudah terlalu terlambat untuk mengharapkan sopan santun seorang Kim Kibum.

Kibum menyangka dirinya telah melepaskan diri setelah menyelinap ke gang-gang sempit, tapi ia salah—orang itu tentu memiliki mata elang untuk terus membuntutinya tanpa kehilangan jejak.

“Kau tidak puas menggangguku? Kau mau apa?”

“Kau belum menjawab pertanyaanku,” kata lelaki itu.

“Pertanyaan?” Kibum memutar bola mata, tanpa sadar dua tangannya sudah bergelayut pada pinggang. “Pertanyaan yang mana?”

Bukannya menjawab, orang itu malah mendekati Kibum dengan langkah lebar-lebar. Kaleng mengkilap Krylon disodorkan.

“Kau juga menjatuhkan ini.”

Kibum tak henti memandanginya. Entah bagaimana ia harus merespon kepolosan yang ia tangkap dari orang di hadapannya. Tipuan agar ia lengah?

Namun toh ia menyambar kaleng itu. Cepat-cepat ditepisnya kata ‘arigatou’ yang hampir terucap secara spontan. Hasilnya ia membisu bak tiang lampu beberapa meter di belakangnya.

“Aku minta maaf soal tadi.” Kalimat itu menghentikan kehendak kaki Kibum untuk segera mangkir. Posisinya tanggung—setengah memutar, tapi belum membelakangi orang itu sepenuhnya. Mudah saja bagi siapapun untuk mengetahui ia sedang menunggu lanjutan pembicaraan—yang mungkin—satu arah.

“Kalau aku tidak mendatangimu, pasti polisi tidak menyadari keberadaanmu.”

Pelipis Kibum berdenyut oleh emosi yang tiba-tiba menggelegak. Ia diingatkan lagi. “Kalau cuma itu yang ingin kau katakan, aku akan pergi.”

“Ah, tunggu!”

Decit sol karet yang serampangan, si pengejar mendekati Kibum dengan terburu-buru. Mereka berada dalam jarak yang cukup dekat untuk saling mengamati penampakan fisik masing-masing—setidaknya itulah yang dilakukan Kibum.

Hei, kenapa ia tidak sadar orang yang ia anggap gila ini ternyata memiliki tampang lumayan? Dengan rambut gelap yang senada dengan bola matanya, juga ekspresi harap-harap cemas yang sangat kentara. Kibum sebelumnya mengharapkan raut mengejek, atau setidaknya licik, terbersit di sana, tapi tidak ada yang dapat ia temukan sebagai dalih bahwa orang di depannya jahat. Tidak sama sekali.

“Kau belum menjawab pertanyaanku.” Lagi, kalimat yang sama.

Tentu saja Kibum enggan menjawab, apapun pertanyaan yang pernah ditujukan padanya. Ia meneruskan perjalanan tanpa menunggu apa-apa lagi.

“Hei!”

Kesabaran Kibum benar-benar habis. Ia tidak peduli jika lelaki itu hampir menabrak punggungnya ketika ia berhenti mendadak. Ia bahkan tidak peduli jarak mereka hanya menyisakan beberapa jengkal ketika ia lagi-lagi berbalik.

“Paman, dengar. Aku tidak tahu—dan tidak peduli—siapa kau. Kita tidak saling ketergantungan sampai aku memiliki kewajiban untuk menjawab pertanyaanmu. Jadi, camkan ini baik-baik: jangan ikuti aku lagi atau aku akan memanggil polisi.”

Nyaris dengan tiba-tiba seulas seringai merekah di bibir si lelaki asing. Tangan kanannya merogoh saku mantel, lalu mengacungkannya ke depan Kibum. Sebuah ponsel berkilat tertimpa cahaya lampu. Milik Kibum.

“Kau tidak lupa bahwa aku yang menyimpan ponselmu sekarang? Sebelumnya aku harus berterima kasih karena kau sudah mengabadikan tiap graffiti di dalamnya—aku tidak perlu repot-repot mencari bukti jika ingin mengadu ke polisi.”

Napas Kibum tertunda di tenggorokan. Hanya mengerjapkan mata yang dapat dilakukan, selebihnya membatu di tempat. Ia bahkan tidak terpikir untuk segera merampas ponsel di depan hidungnya.

Lelaki itu pun agaknya mengerti betapa berharganya ponsel itu. Seraya kembali mengantonginya, ia berkata, “Aku tidak menuntut apapun darimu. Jangan khawatir.”

“Lantas apa?”

“Aku sudah bilang, jawab pertanyaanku.”

“Apa?”

“Tunjukkan caramu menggambar graffiti—tidak, itu bukan pertanyaan.” Lelaki itu menggeleng cepat. Ia memperbaiki kalimatnya menjadi, “Bagaimana cara menggambar graffiti?”

Tak urung Kibum memungkas, “Kenapa?”

“Aku hanya ingin tahu.”

“Tidak bisa sekarang,” ia mencoba berkelit.

“Tidak masalah. Kapan saja.”

Keinginan pria satu ini sungguh tidak dapat dibendung, Kibum membatin setengah mengutuk.

“Besok pukul sebelas malam. Kutunggu di stasiun Harajuku.”

~~~

Hanya mengingat kejadian malam itu cukup membuat Kim Jonghyun terkekeh sendirian. Menertawakan sikapnya sendiri. Sangat bukan Kim Jonghyun.

Kepalanya berputar ke jam dinding. Kurang dari dua puluh empat jam lagi ia akan kembali bertemu dengan pemuda itu. Memikirkannya saja sudah membuatnya berdebar-debar—berbeda dari menunggu kencan dengan gadis dambaan, rasanya lebih seperti menunggu karyawisata ke pulau Jeju saat ia masih kelas empat SD. Gelisah, penuh harap, dan gembira bukan main.

Ia menemukan narasumber tepat untuk karya selanjutnya. Wajar, kan, jika dia senang?

Lelaki itu membalik halaman sketchbook, lagi-lagi menorehkan ujung pensil ke atas hamparan kertas. Sengaja ia membuang waktu dengan merancang karakter utama bagi manga barunya—itulah alasan mengapa robekan kertas memenuhi area meja dan lantai kamar tidurnya.

Tangan kirinya sedang memberi garis-garis dasar bagian wajah ketika Samsung Galaxy Y yang tersimpan di laci mendadak bervibrasi. Jonghyun segera mengeluarkan ponsel untuk melihat apa yang terjadi.

Telepon. Mangaka muda itu dirundung kebimbangan selagi mendengarkan dengung monoton tersebut. Jelas ia tidak punya hak untuk mengangkat, tetapi mengingat ia akan bertemu dengan si pemuda sebentar lagi, bisa saja ia menyampaikan maksud si penelepon secara langsung.

Getaran berhenti. Bukan karena si penelepon hilang kesabaran, melainkan karena ibu jari Jonghyun yang lancang menggeser ikon ‘jawab’. Perlahan didekatkan speaker ponsel ke telinganya. Ia memilih menunggu dari pada melayangkan ‘moshi-moshi’. Cukup sampai di sini tindakannya.

“Hei, Key. Kau di sana?” Tak urung suara berat di seberang sana membuat jantung Jonghyun melorot. Gawat, ia tidak siap menerima pertanyaan—salah, ia tidak siap mendengarkan apapun.

“Yah, sebenarnya aku tidak peduli kau di mana. Tapi aku baru saja berjalan-jalan dan menemukan sesuatu yang aneh dari pekerjaanmu, Key.” Kekehan sumbang, kemudian, “Apa-apaan hollow ini? Kau mencoba melucu, ya?”

Secara spontan enam alfabet tergores di atas lembar sketchbook Jonghyun. Lebih baik daripada bertanya pada orang yang kedengarannya baru sadar dari mabuk ini.

“Bukankah kau sendiri yang menantang akan membuat wildstyle1 dalam semalam? Kau berubah pikiran?”

Eomeo, eotteokhae?

Orang di seberang tertawa terbahak-bahak. “Apapun itu, kau kalah taruhan, Key. Kau harus keluar dari kelompok kami.”

Jonghyun memang cukup peka untuk mengetahui bahwa ‘dikeluarkan dari kelompok’ adalah salah satu penghinaan besar yang dapat diterima seorang street artist.

Anyway, Key, aku akan memberi saran buatmu: jangan pernah menunjukkan batang hidung lagi di depan kami lagi. Demi harga dirimu juga.”

Trek! Sambungan terputus, dengung pelan menjadi kawan tunggal Jonghyun yang masih membatu di kursi. Perlahan tangannya kembali ke atas meja. Ponsel dengan case putih itu mendarat bersama keletuk pelan plastik beradu kayu.

Ini kesalahannya. Dilihat dari sudut pandang siapapun, kejadian ini murni akibat perbuatan gegabahnya.

Jonghyun menumpu dahi dengan jalinan jemari kedua tangan. Entah dengan apa ia harus menghadapi pemuda itu nanti malam.

.

Itu dia. Terbalut jaket kain hitam dan skinny jeans yang ia kenakan saat pertama kali bertemu Jonghyun. Ketika mangaka itu mencapai jarak yang cukup dekat, ia beranjak dari tiang lampu tempatnya bersandar selama sepuluh menit terakhir.

“Hanya karena kau bisa lapor polisi kapan saja, kau pikir terlambat jadi normal?” dengusnya sarkas. Jonghyun hanya menggigit bibir.

Key—mengutip panggilan dari si penelepon—memutar bola mata melihat sikap canggung Jonghyun. “Ayo, apa saja yang ingin kau ketahui dari graffiti?”

Not much…,” kata Jonghyun lirih. Oh, dia merasa sangat berdosa.

“Apa?”

“Apa saja, terserah kau.”

“Paman, dengar. Graffiti tidak sama dengan menggambar kartun. Apa yang ingin—”

“Hei,” Jonghyun memotong cepat, “di mana kelompokmu bermarkas?”

Pertanyaan Jonghyun tentu sangat mengejutkan Key karena kegiatannya mengaduk isi ransel terhenti seketika. Dua mata tajam itu menuntut penjelasan dari Jonghyun. Yang bersangkutan hanya bungkam.

“Apa maksudmu?”

“Lupakan.”

Key menyerah. “Kau mau mulai dari mana?”

Jonghyun mengerjap. “Ah, benar. Bagaimana kalau kita duduk di suatu tempat terlebih dulu?”

Ada yang hendak disampaikan Key, alih-alih dia membalur bibir menggunakan lidah. Kedua bahunya terangkat. Lagak tak peduli yang dimengerti di seluruh dunia. “Terserah kau saja.”

“Aku tahu kafe yang lumayan bagus,” cetus Jonghyun.

~~~

Memang benar Kim Kibum melakukan tugasnya sebagai tutor dengan amat baik. Ia menyebutkan jenis-jenis graffiti beserta pengertiannya, kosakata yang kerap digunakan street artist, juga merek-merek cat bagus. Namun fokusnya tak pernah berpindah dari lelaki asing di hadapannya. Bagaimana reaksi yang ditunjukkan, kata apa saja yang dilontarkan, dan detail-detail kecil tidak penting lainnya.

Ia hanya bermaksud berhati-hati, tapi ia menyadari lelaki ini menyembunyikan sesuatu. Bukan sesuatu yang wajar disembunyikan (identitas, misalnya, atau tujuan merecoki Kibum dengan segala pertanyaan), melainkan hal yang harusnya diketahui Kibum tetapi ditutup-tutupi. Terlihat jelas dari caranya melirik pemuda itu sesekali, atau momen-momen tertentu ketika ia mencuri pandang ke luar jendela.

“Tidak ada orang yang terlahir langsung menjadi bomber profesional. Semua perlu proses dan latihan,” kata Kibum sambil menyingkirkan gelas plastik ke pinggir meja dan mengeluarkan secarik kertas. Ia menoleh ke arah si lelaki. “Kau menanyakan cara menggambar graffiti? Akan kutunjukkan dasarnya.”

“Ah, aku sudah menunggunya,” kata lelaki itu. Ia memajukan kursi dan mencondongkan tubuh ke depan. Buku catatan terbentang sigap di genggamannya—sedari tadi dia mencatat dengan tekun tiap informasi dari Kibum.

Kibum menulis ‘ART’ besar-besar di atas kertas. “Pertama, tulis apa yang kau inginkan. Beri jarak yang cukup lebar di antara huruf, karena kita akan memodifikasi nanti. Kedua, gambar di sekeliling huruf asli untuk membuat sketsa dua dimensi yang lebih besar—kita gunakan jenis bubble, paling mudah. Mulai dari sini, yang kau lihat bukanlah tulisan ‘art’ lagi, melainkan suatu pekerjaan seni, seperti lukisan atau gambaran. Kau mengerti maksudku?”

“Tentu saja.”

“Ketiga, beri sambungan pada tiap huruf agar tampak mengalir. Hapus garis-garis berpotongan yang tidak perlu,” Kibum diam sejenak untuk menggosokkan karet penghapus ke goresan tipis pensilnya, “dan selesai. Selanjutnya kau bisa memberikan detail tambahan, seperti efek tiga dimensi, dan warna.”

“Bukankah warna itu justru komponen yang penting?”

Bomber yang bekerja secara sembunyi-sembunyi hanya menggunakan dua atau tiga warna agar tidak merepotkan. Yang terpenting adalah bagaimana memanfaatkan warna yang terbatas itu untuk menjadi pusat perhatian.”

“Aah, tak heran. Milikmu juga begitu, kan?” Si lelaki mengangguk-angguk kecil. “Tapi caramu membuat gradasi sungguh menakjubkan.”

Diam menjadi pilihan Kibum, ia tidak tahu harus merespon apa atas perhatian yang dicurahkan lelaki itu pada graffiti-nya. Orang lain mungkin akan mengkritik habis-habisan cara Kibum menggambar yang kelewat sarkastis, namun tidak satu pun ejekan pernah terlontar dari orang tersebut.

Tunggu, apa dia baru saja berpikir untuk mempercayai lelaki di depannya?

“Sudah selesai. Kau mau tanya apa lagi?” Kibum mengalihkan pembicaraan.

“Benar juga. Aku menemukan suatu istilah.” Si lelaki buru-buru mengeluarkan sebuah sketchbook dari dalam ransel. Tak urung mulut Kibum menganga menangkap sketsa karakter-karakter manga yang terlihat sekilas ketika halaman dibalik cepat. Warnanya hanya berupa arsiran pensil, tapi tampak sedemikian hidup.

Si lelaki berhenti membalik halaman. “Ini dia. Hollow. Kau tahu artinya?”

Hilang sudah kekaguman yang sempat melingkupi otak Kibum. Ia membatu. “Apa?”

Hollow—kau tahu, dalam bahasa Inggris berarti ‘lubang’. Apa mungkin kau mengerti—”

“Graffiti yang hanya memiliki outline, tanpa fill. Bisa disengaja atau karena tidak selesai. Tidak mungkin Key tidak tahu jawabannya. Benar, kan, Key?” Seseorang mengintervensi mereka. Laki-laki jangkung bergaya punk dengan seringai bak serigala lapar.

“Niizuma…,” Kibum mendesis. Tangannya mencengkeram erat pegangan kursi.

Niizuma melirik meja. Tawanya pecah melihat sketsa graffiti di sana. “Apa-apaan ini?”

Kibum tahu mengapa ejekan itu terlontar. Ia tidak mungkin melupakan taruhannya dengan Niizuma: menjadi pemimpin kelompok jika berhasil mengerjakan graffiti kurang dari empat jam atau, jika sebaliknya, dikeluarkan seperti pecundang. Sekarang dialah pecundangnya dan Niizuma dapat bersenang-senang karena posisinya tidak tergeser oleh Kibum.

Kedua tangan Niizuma bertumpu di meja, badannya dicondongkan mendekati telinga Kibum. Ia berbisik, “Belajarlah untuk tidak bertingkah naif di depanku, Key.”

Kibum menggertakkan rahang rapat-rapat. Tidak, ia tidak ingin menyulut perkelahian di sini.

Niizuma berdiri diiringi senyum puas. Sejurus ia menepuk pundak Key pelan. “Pastikan kau tidak menampakkan batang hidung di depan kami lagi. Pernah menerima seorang pecundang saja sudah menjadi aib besar.”

Kemudian segalanya berjalan sangat cepat. Kibum mendengar derit kursi, tapak sepatu, lalu derak lunak. Detik selanjutnya Kibum melihat Niizuma tersungkur ke belakang, menabrak meja-meja kosong hingga jatuh bergemelontangan.

“Sialan!” Niizuma memekik, kaget sekaligus kesakitan. Ia memegangi pipi tempat sebuah tinju baru saja mendarat keras. “Apa yang kau lakukan, sialan?!”

Kibum memindah tatapan pada laki-laki yang sudah berdiri di seberang meja. Wajah lelaki itu merah padam. Kedua tangannya terkepal di sisi tubuh.

Museun soriya?” desisnya. “Apa kau pernah diajarkan apa arti pecundang yang sesungguhnya?”

Niizuma mengumpat geram. Ia melompat berdiri, kemudian melayangkan tangan ke arah si lelaki. Dapat dihindari dengan mudah karena Niizuma bahkan tidak mencoba mengakuratkan sasaran. Lelaki itu memiting tangan Niizuma, lalu menendang perutnya. Lagi-lagi gedebuk keras ketika lawannya terjerembab.

“Siapa orang ini?” Pertanyaan Niizuma ditujukan pada Kibum yang membeku di tempat. Kemudian ia membentak, “Jangan diam saja, idiot! Bantu aku!”

Kepala Kibum terasa ringan. Sekali lagi ia melayangkan tatapan ke arah lelaki yang tidak ia ketahui namanya itu. Matanya mengerjap beberapa kali. Di sisi siapakah ia berdiri?

“Jangan repot-repot berpikir, Key,” cetus lelaki itu seolah membaca kekalutan Kibum. “Kau baru saja dibuang oleh orang ini.”

“Aku tarik ucapanku!” jerit Niizuma panik. Telunjuknya teracung pada Kibum. “Kau, kau masuk kembali ke kelompokku!”

Tahu-tahu si lelaki sudah membungkuk di atas Niizuma. Satu tangan ia mencengkeram kerah, sementara tangan lainnya menghunjamkan tonjokan telak ke wajah. “Kau tahu apa yang tidak bisa kembali? Waktu dan kata-kata. Mungkin kau bisa menyesali kata-kata yang sudah kau ucapkan, tapi penyesalan tidak akan mampu menutup luka orang yang mendengar kata-katamu.”

Jantung Kibum mencelos. Ada kehangatan asing yang menggelotori dadanya.

“A-aku minta maaf!” pekik Niizuma, kedua lengannya tersilang di depan wajah sebagai usaha preventif. “Jangan pukul aku lagi, kumohon!”

Laki-laki itu menegakkan badan dan menghembuskan napas panjang. Ia beradu pandang dengan Kibum tepat ketika sirene polisi meraung-raung mendekati lokasi baku hantam.

“Maaf, Key. Kau dikeluarkan gara-gara aku.”

Kibum bungkam.

~~~

“Maaf, aku lepas kendali,” gumam Jonghyun. Wajahnya serasa terbakar. Malu benar memberikan nomor telepon Ishikawa sebagai penjemputnya, entah apa yang akan diceramahkan editor itu mendapatinya bertingkah kekanakan.

Key duduk di sebelahnya, menyandarkan punggung pada dinding. “Eoh….”

Jonghyun menunduk semakin dalam. Berkutat dengan shonen manga selama dua tahun tanpa jeda tak pelak turut mempengaruhi alam bawah sadarnya. Memperjuangkan hal yang ia anggap sebagai keadilan menggunakan kekerasan. Ia tidak pernah berpikir tindakan demikian akan menimbulkan urusan runyam dengan polisi di akhir. Ah, ia bersumpah akan berhati-hati lain kali.

“Kau senang menggambar, ya?”

Jonghyun hampir tersedak ludah sendiri. “Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?”

“Aku tidak sengaja melihatnya saat kau membuka sketchbook. Lagipula jarimu,” Key mendengus kecil saat melempar pandangan ke kedua tangan Jonghyun yang tergantung di antara lutut, “kotor dan kapalan. Karena apalagi kalau bukan terlalu banyak menggenggam pensil.”

“Lebih karena tuntutan pekerjaan,” koreksi Jonghyun. “Kalau tidak, tanggungan sebanyak dua puluh halaman tiap minggu tidak akan terselesaikan.”

“Kau mangaka?”

“Yap, karena aku mangaka pula aku memaksamu soal graffiti—oh, mengingatnya saja aku merasa sangat bersalah. Maaf, gara-gara aku—”

“Aku muak mendengarmu minta maaf.”

Beban di pundak Jonghyun semakin berat. Ia semakin merasa tidak enak. Diam sembari menggigiti bibir menjadi pilihannya menghadapi situasi ini.

“Kenapa kau mendadak menghajar Niizuma? Dia tidak melakukan apapun,” gumam Key.

“Uh, yah…,” akhirnya Jonghyun bersuara. “Aku terprovokasi ucapannya.”

“Karena dia bilang aku adalah pecundang?”

Jonghyun tertawa. “Bisa dibilang begitu.”

Key mengubah posisi duduknya menjadi menghadap Jonghyun. “Hanya karena itu?”

“Yah, menurutku dia tidak benar. Dia bisa tetap menjadi pemimpin kelompok tanpa melakukan apapun. Konyol, bukan?”

“Ya, tapi akulah yang mengajukan taruhan itu.”

“Di sanalah letak kesalahan Niizuma. Kau bersedia menerima konsekuensi setelah berusaha keras menyelesaikan graffiti dalam kurun waktu sedikit mustahil itu, tapi dia tetap memanggilmu pecundang. Menurutmu bukankah dia yang pecundang?”

Kemudian Jonghyun berdeham kecil dan melanjutkan, “Selain itu, aku merasa amat bersalah padamu. Saat aku memukul Niizuma, kusangka dia akan balas memukul jauh lebih keras agar aku bisa mendapat hukuman, meski tidak darimu secara langsung. Tapi ternyata dia sama sekali tidak berkutik.”

Key hanya berkomentar, “Tidak heran kau adalah mangaka.”

“Akan kuanggap sebagai pujian. Terima kasih,” gelak Jonghyun. Hanya sesaat, momen berikutnya ia sudah memasang tampang serius. “Aku juga berterima kasih kau bersedia mengajarkan apa-apa tentang graffiti. Tanpa informasimu, mungkin cerita yang bakal kubuat akan terkesan mengambang.”

Pemuda di sebelahnya membuang muka. “Ponselku,” katanya lirih.

“Ah, iya. Aku membawanya,” kata Jonghyun seraya mengeluarkan ponsel kepada Key.

Begitu ponsel berpindah tangan, Key berdiri. Ia menatap Jonghyun. “Dengan begini tidak ada alasan aku harus menuruti permintaanmu, kan?”

Jonghyun meringis. “Maaf.”

“Lupakan,” desah Key. “Aku selalu berkeliaran di sekitar stasiun jika kau ingin bertanya lagi.”

“Eh?”

“Sebagai gantinya, kau harus menyertakan namaku saat komikmu terbit nanti.”

Senyum Jonghyun serta-merta mengembang. “Terima kasih.”

Langkah Key terhenti di ambang pintu pos polisi. Ia diam sejenak di sana, lalu tubuhnya memutar kembali. Senyum geli merekah di bibirnya.

Ajussi, lain kali kita bicara pakai bahasa Korea saja, ya? Bahasa Jepangmu payah.”

Butuh waktu sampai Key menghilang di kegelapan malam bagi Jonghyun untuk mencerna maksud kalimat barusan. Ia tertawa pelan. Menertawakan diri sendiri.

..::END::..

Footnote

1. Wildstyle: gaya graffiti yang tergolong sulit dan rumit. Banyaknya lapisan dan bentuk yang digunakan membuat gaya ini sulit dihasilkan secara homogen. Inilah alasan mengapa wildstyle dipandang sebagai tantangan terbesar bagi penulis graffiti [Wikipedia].

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

20 thoughts on “Graffiti [2.2]

  1. Aaaaaaks. Ini FF udah aku tunggu-tunggu sejak kapan ;;w;; ketjeh! Penungguanku terbayar sudah, Author-nim ;;A;;

    Keep writing!

  2. akhirrnnyaaa keluar juga….
    kereennn….!!! daebakkk!!!
    key disini keren banget!! jadi pengen liat dia bisa buat grafiti beneran, hehehehe…..
    two thumb deh wat author!!!
    keep writing!!

  3. Kalau ceritanya lebih panjang sdikit, di buat beberapa part lagi mgkin, akan lebih bgus… Overall bagus. Jarang nemu author dg gaya seperti ini. Cheer up!🙂

    1. Aih, terkesan buru-buru ya? Memang, ngebut banget bikinnya. Sempat kepikiran buat bikin versi serial yang panjang, tapi enggak deh. Haha😀

      Makasih sudah komen dan kasih saran yaa ^^

  4. Xixixi
    Sekalinya buka sf3si ketemu ama lanjutan Gravity,
    Ahjeossi, bahasa Jepangmu payah,

    Jjong Ahjeossi, keren, tp Taemin lebih keren! *loh😄😄

    Salah, yg bener Authornya yg keren, !!!

    Kayaknya ada FF Zaky yg belum kelar deh, malah publishnya sebelum Graffity. Sequel House Next Door apa ya?tp lupa judulnya apa *kicked😀

    1. aku lagi enek sama romance, kak. haha. sebenernya lagi belajar juga masukkin info ke fic tanpa terkesan sok tau. tapi entah gimana ini jadinya ( ‘-‘)

      makasih sudah komenn😀

  5. Ini kenapa keluarnya lama banget? *Mulairusuh *diemparreceh
    Zaky-ssi, ini endingnya simple sexy gimana gitu~ Dan bang Jjong, kamu heroik banget bang.
    Terus itu Kibumnya, ciee yang mau ikutan tenar. Minta royalti sekalian Om! *MatreDasar!
    Makasih ya Zaky-ssi udah ngasih ilmu, bikin yang lain dan yang banyak ya. *ApasihMeg?
    Keep Writing!

    1. maaf telat yaaa. jadi ngerasa ga enak nih TT-TT

      Simple sexy? Key dong #eh. Jong kebanyakan baca manga sih, jadi ((sok)) pahlawan kan, hahaha

      Sama-sama, sayaang. Aku juga nunggu fic dari kamuu😀

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s