Destiny

DESTINY

Destiny

Title : Destiny

Author : @dolphida

Main Cast :      – Lee Taemin

– Lee Jinki

– Kim Kibum

– Choi Minho

Length : Ficlet

Genre : Romance, Yaoi

Rating : General

A.N : Ini FF switch gender dan fanfiction ini pernah aku post di fb sebelumnya.

Happy Reading ^^

.

.

.

Duduk termenung. Bermaksud menyegarkan pikiran di taman ini. Terlintas bayang semu seseorang dihatiku. Tersenyum sinis mengingatnya. Andai aku bisa mengulang waktu. Ya…. Aku tau itu pernyataan yang bodoh. Waktu tak bisa terulang, hanya kita yang bisa memperbaiki kesalahan di masa lampau. Menyisipkan helai rambut assimetrisku lembut. Memejamkan mata menikmati sentuhan angin yang menerpa wajahku.

“Hey, pelan sekali kau berjalan. Cepat! Kalau kau masih berjalan seperti siput, aku akan mencium mu,” terdengar suara tenor indah seorang remaja laki-laki. Aku menatap sepasang remaja yang berjalan di jalan setapak taman. Mungkin umur mereka masih belia. Tersenyum lembut. Ingat akan sesuatu. Tepatnya seseorang. Oppa tiriku.

Menatap sepasang remaja itu lekat.

“Aku lelah Oppa, dan jangan sekali-kali Oppa mengancamku seperti itu lagi. Kalau terdengar pacarku, gawat!”. Remaja laki-laki itu hanya terkekeh pelan mendengarnya.

Aku pun tersenyum lebih lebar mendengar percakapan mereka yang ternyata sepasang kakak beradik itu. Berdiri dari dudukku. Berencana kerumah makan yang berada diseberang taman. Memejamkan mata sekali lagi. Musim semi memang indah.

Membuka mata perlahan. Seketika senyum ku perlahan menghilang. Langkah ku terhenti. Sesaat kemudian, aku tersenyum lembut ingin menyapa orang yang berdiri tak jauh dariku. Waktu seakan berhenti saat tatapan kami bertemu.

“Oppa, apa kabar? Sudah dua bulan kita tidak bertemu. Sejak pernikahanmu, kau seperti ditelan bumi. Aku merindukanmu, Oppa. Bagaimana kabar istrimu?” berceloteh panjang lebar dengannya. Oppa tiriku. Orang yang selalu kupikirkan ada didepan mataku sekarang. Senyum penuh dusta masih setia melekat dibibirku.

“Di….dia sangat baik, kau…. apa kabarmu?” ucapnya sedikit bergetar. Mengerjapkan mata sipitnya lucu. Haha, aku selalu suka mata sipit laksana bulan sabitnya.

Tersenyum lembut. Bahagia karena dia masih mau menanyakan kabarku. “Syukurlah. Aku baik, Oppa. Ohya, aku lapar, sudah lama kita tak makan bersama, semenjak…. semenjak orang tua kita berpisah,” sedikit memberi jeda atas ucapanku. Takut kalau dia tersinggung. Ya….memang ibuku sudah berpisah dengan ayahnya. Ibu sudah menikah dua kali. Tapi sekarang ibu masih betah sendiri.

Walaupun orang tua kami sudah berpisah, aku masih tetap menganggapnya Oppa ku sendiri. Ehm, mungkin lebih. Bahkan lihat, dia masih memakai kalung pemberianku. Inisial ‘J’.

Jinki….

“Oppa, mau kan?” sedikit menyadarkan lamunannya.

“Ah, tapi…. aku harus pergi. Lain kali saja,” mata sabitnya terus menatapku dengan tajam. Sedikit risih akan tatapannya yang sedikit berbeda dari yang tadi. Apa dia tersinggung karena perkataanku?

Tetap tersenyum lembut. Bertolak belakang dengan hatiku saat ini. Menatap ke mata laki-laki menawan itu.

“Oh, ya sudah. Aku tau Oppa pasti sibuk. Asal bertemu dengan Oppa pun itu sudah cukup. Lain kali kita makan bersama dengan istrimu ya. Pasti asyik. Aku sudah lama tidak bertemu dengannya,” senyum itu tak lepas dari bibirku.

Dia terseyum. Senyum gigi kelinci yang kurindukan. Tatapan tajamnya tadi berubah lembut. Jinki oppa yang ku kenal kembali. “Maaf ya,” ucapnya seraya mengusap pucuk kepala ku lembut.

“Ehm, Oppa, boleh aku meminta sesuatu? hanya sebentar,” mataku menyiratkan permohonan padanya. “Tapi kalau Oppa benar-benar sibuk, tak apa, lain kali,” tersenyum paksa.

“Baiklah, apa yang dapat ku lakukan?” keningnya bertaut. Mungkin penasaran akan permohonanku.

“Bisakah Oppa melakukan hal aneh seperti dulu? seperti…. beatbox mix suara Donald bebek, haha,” aku menghentikan kekehanku melihat dia memasang wajah datarnya. Ya. Guyonanku terlalu garing. Tapi hanya ini yang bisa ku lakukan untuk menyembunyikan perasaanku yang sebenarnya.

“Maaf mengganggu waktumu.” mengerucutkan bibirku lucu. Aishhh, memalukan.

Tetap memasang wajah datarnya. Sedetik kemudian dia tertawa terbahak-bahak menatapku, seraya memegang perutnya. Ya! kenapa dia?

“Ternyata kau mewarisi kekuatan sangtaeku ya, haha. Aku tak bisa melakukan itu lagi. Aku harus menjaga image ku. Haha. Maaf,” dia berkata sambil terkekeh pelan. Menjepit bangirku gemas.

“Menjaga image? Sangat lucu!” menggembungkan pipiku, sebal.

“Haha. Aku pergi dulu ya. Ada yang harus ku urus. Nanti kita ngobrol lagi,” mencubit pipiku pelan. Berlalu meninggalkan ku. Meninggalkan jejak kemerahan di pipiku. Meninggalkan rasa hangat yang menjalar. Meninggalkan ku yang sekuat tenaga menghancurkan rasa tak wajar ini.

***

Mata ku mengerjap mengimbangi cahaya yang perlahan masuk lewat jendela kamarku. Merenggangkan otot ku sejenak. Tertegun mendengar getar ponsel ku yang ku taruh diatas meja nakas.

Drtt drtt

1 New Message

From : -No Name-

‘Ya! anak kecil. Aku ada berita gembira untukmu. Besok istriku ulang tahun. Dia pasti mengundangmu. Dia menyuruhku menyampaikannya padamu. Kau tau kan alamat ku? yang datang hanya kerabat dekat saja. Datanglah pukul 8.00 malam. Cuma acara kecil, jangan terlalu memikirkan pakaian, haha. Maaf jarang menghubungimu akhir-akhir ini. Aku sibuk dengan proyek baru perusahaan. Ini nomer baruku. Ku harap kau datang, kami merindukanmu.

Jinki’

Tersenyum saat membacanya. Aku pasti datang.

***

Memakai rok putih selutut yang melebar. Baju pink bergambar smile dengan V-neck lebar menampilkan bahu sempitku yang mulus. Rambut panjang bergelombangku, ku ikat kesamping. Memoles wajahku yang memang sudah putih dengan sedikit bedak. Sepatu flat putih untuk kaki mulusku. Sepertinya cukup. Ini hanya acara kecil. Toh, aku sudah cantik, haha.

Mengambil motor mathic biru mudaku digarasi. Aku tak takut dandanan ku rusak karena aku memang sudah terbiasa. Mengendarainya pelan menyusuri malam di kota Seoul ini. Indah.

Memakirkan motorku dipekarangan rumah minimalis ini. Terlihat mobil dan motor yang juga di parkir di pekarangannya yang luas. Tamunya sudah banyak yang datang, pikirku. Pintu rumah sudah terbuka, aku langsung masuk kerumah itu. Seketika aku disambut istri dari Oppa tiriku, sekaligus sahabat baik ku, Key.

“Ya! Kau telat 5 menit,” Tangannya berada di depan dada seraya melayangkan tatapan mautnya yang kurindukan.

“Haha, maaf,” aku langsung menghambur kepelukannya. Aku merindukannya. “Mana suami sangtaemu?” melayangkan pandangan kesekitar, mencari sosok pemilik mata sabit itu.

“Dia ada diatas mengambil beberapa minuman kaleng. Oh ya, apa kau sudah punya pacar? mau aku carikan? haha,” tertawa renyah sambil menatap jenaka kearahku.

“Belum. Jodoh itu akan datang dengan sendirinya tanpa aku harus mencarinya,” menggembungkan pipiku sebal.

“Kalau kau hanya berdiam diri, jodoh itu juga tak akan datang. Intinya berharap dan berusaha sayangku,” mengusap kepala ku dan memelukku hangat. Aku rindu hal ini. “Oh ya, aku punya seorang teman baru, mau ku kenalkan? tunggu sebentar,” ucapnya seraya melepaskan pelukan kami. Berjalan kearah kerumunan orang yang tak ku kenal. Selalu seperti ini, dia yang akan mengurus semuanya tanpa meminta pendapatku. Padahal aku kan belum bilang ia. Khas Key. Huft.

Aku berjalan perlahan kearah sofa. Mendudukkan diriku sejenak. Mengedarkan pandangan mencari Jinki Oppa. Aku rindu dia. Dua minggu tidak bertemu, sejak pertemuan kami di taman. Menghela nafas pelan. Menautkan kedua tanganku diatas lutut, untuk menopang wajahku. Kapan aku bisa merelakan Jinki oppa bersama Key? Key sahabatku. Dan Key pantas mendapatkan Jinki Oppa –yang menurutku sempurna- itu. Aku akan berusaha semampunya untuk melupakannya dan memulai hidup baru. Aku yakin jodohku pasti akan datang diwaktu yang tepat.

“Ya! Kau dilarang melamun disini. Aku membawa teman ku untuk menemanimu. Aku mungkin akan sibuk nanti dengan tamu-tamu yang lain. Aku minta maaf. Silahkan mengobrol. Aku tinggal dulu ya,” Key menyadarkan lamunanku. Ku lihat Key tersenyum sambil perlahan meninggalkan kami. Ya…. kami.

“Maaf mengganggumu. Perkenalkan, nama ku Choi Minho. Panggil Minho saja,” dia menjulurkan tangannya. Aroma mint seketika menyeruak. Aroma yang menyesakkan ku. Dia tersenyum lembut. Mata elangnya menatapku dengan tatapan yang sulit untuk ku artikan. Jantungku seakan berhenti berdetak melihat senyumnya. Aku ingat, perasaan ini hanya ada ketika aku menatap senyum Jinki Oppa. Tak ada orang lain yang bisa membuatku sesak karena melihat senyumnya, hanya Jinki Oppa. Tapi…. ada apa ini? Menggeleng pelan untuk menyadarkan pikiranku yang sudah menjalar kemana-mana.

Membalas juluran tangannya sambil tersenyum manis. Menggigit bibir bawahku saat menyentuh tangannya. Hangat. Apa dia orang yang dikirimkan Tuhan untukku? Untuk pengganti Jinki Oppa dihatiku? Untuk membantuku melupakan masa lalu? Untuk bersama ku dimasa depan? Takdirku kah ?

“Nama ku Lee Taemin, salam kenal,”

.

.

.

END

 

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

5 thoughts on “Destiny

  1. ey, jadi ceritanya di sini key sama Taemin itu Yeoja toh. saya tadi sempet bingung, kok cowok manggil cowok lain dengan Oppa? banyak deh, kok-nya berderet-deret. eh, akhirnya makin ke sini makin mengerti. bagus, cuma eyd-nya masih harus dilatih lagi.
    keep writing!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s