Gamer in Love [1.2]

gamer-in-love cover

Title                                                     : Gamer in Love

Author                                                 : Avyhehe

Main Cast (Tokoh Utama)                  : Lee Eunhae (OC) , Kim Kibum (SHINee)

Support Cast (Tokoh Pembantu)        : Kris (EXO), Na Junseo (OC), Choi Minho (SHINee)

Length                                                 : Sequel

Genre                                                  : Romance/Friendship

Rating                                                : General

Keterangan:                             keterangan

*Playstation : sebuah konsol game, yang harus dihubungkan dengan layar/TV untuk bermain.

*Xbox : konsol game juga, sama seperti playstation tapi beda merk. tombol kontrollernya juga berbeda dengan playstation.

*Playstation Portable (PSP): versi mini Playstation, bisa dibawa kemana-mana dan dimasukkan ke saku, bentuknya mirip HP.

*Joystick: kontroller yg dikhususkan untuk bermain game. Bisa dicolokkan di Playstation, Xbox, maupun komputer.

Gamer in Love

Siswi berambut coklat tua itu duduk di bangkunya dengan kepala menunduk, kedua tangannya tersembunyi di kolong meja.  Matanya fokus pada benda yang dipegangnya—entah sedang memegang apa—, sedangkan jari-jarinya dengan lihai menari kesana-kemari seperti bermain keyboard piano.  tanpa dia sadari, sesosok manusia berdiri menjulang di hadapannya.

BRAK! Manusia itu menggebrak meja siswi itu sehingga si siswi melonjak kaget dan menjatuhkan barang yang dipegangnya ke lantai. “AAAAAAAAAAAAAA…!! siswi itu memekik dengan keras, sehingga kelas sebelah pun mungkin bisa mendengar teriakannya. Dengan cekatan dia memungut benda persegi panjang yang baru dijatuhkannya itu dan menoleh cepat pada manusia yang baru menggebrak mejanya, lalu menatapnya dengan tatapan tajam.

“Beraninya kau…” kata siswi itu, namun mendadak kata-katanya terhenti dan dia malah menganga lebar.

“Beraninya apa??” kata sosok manusia di hadapannya yang kini tengah menyilangkan kedua tangannya di dada. “LEE EUNHAE,, kau bermain game lagi di kelas HAH?!”

“S—Songsaenim, bisakah marah-marahnya disimpan sampai nanti saja? Aku belum men-save game ku dan…” kata Eunhae sambil meringis.

Namun seongsaenim tak menggubrisnya dan merampas benda persegi di tangan Eunhae dengan sadis.

“Kalau  kau ingin PSP –mu kembali…” kata Seongsaenim sambil memainkan Playstation Portable itu di tangannya dengan seringai setan, “Pulang sekolah temui saya di meja saya! Kita akan membicarakan kelakuanmu ini.” Setelah mengatakan hal tersebut,  Seongsaenim melenggang keluar kelas karena tepat setelah dia selesai marah-marah bel istirahat pun berbunyi.

“GAH!!” Eunhae mengacak-acak rambutnya frustasi. Dia menatap nanar pada Junseo yang duduk di belakangnya.

“Jangan menatapku begitu, ini sudah ketiga kalinya PSP mu—atau apalah itu—dirampas saat pelajaran Kris seongsaenim , lalu dikembalikan lagi padamu, tapi sekarang kau malah bermain lagi!” Junseo mencoba menasihati.

“Guru itu tak mengerti seni dari game!!!” pekik Eunhae emosi. “Membunuh monster itu lebih mengasyikkan daripada mengerjakan soal-soal yang seperti benang kusut itu!” Eunhae menunjuk ke papan yang berisi soal-soal matematika kelas X dan proses mengerjakannya.

“Itu karena kau bodoh dan tidak bisa mengerjakan.” Junseo memutar matanya keatas. “Sebaiknya PSP mu diambil bulan depan saja, untuk sementara ini kau fokus mengerjakan soal mat karena dua minggu lagi kita ujian.” Saran Junseo dibalas pelototan oleh Eunhae.

“YA Junseo! Aku tak bisa hidup tanpa PSP!”

“Kau kan masih punya X Bock—eh, X Blot, aduh apa ya aku lupa namanya—”

X Box!*” pungkas Eunhae, “tapi itu di rumah! Aku tidak bisa membawanya kemana-mana seperti PSP!”

Junseo menghela nafasnya. Memang susah menasehati teman karibnya ini kalau sudah menyangkut masalah game. Dia pun berdiri dari bangkunya. “Ayo,, kuantar kau ke meja Kris seongsaenim!” mendengar perkataan Junseo itu Eunhae segera bangkit dengan wajah berbinar-binar. “Oh! Kau mau mengantarku?”

Junseo mengangguk. “Tapi sepertinya Kris seongsaenim tak akan mengembalikannya dengan mudah kali ini.” Katanya tak yakin.

“Yah, kita lihat saja nanti!” Eunhae menggandeng tangan Junseo dan menariknya keluar kelas.

 —

“Oh, jadi kau berani menampakkan wajahmu lagi di meja saya karena kasus PSP ini lagi?” Kris seonsaeng menekankan setiap kata-kata ‘lagi’ di pembicaraannya. Dia menatap kedua siswi di depannya, namun fokusnya tertuju pada salah satu siswi berambut kecoklatan dengan penampilan berantakan yang memasang wajah harap-harap cemas.

“Harusnya kau memasang wajah menyesal! Bukan wajah berharap seperti itu!” teriak Kris seonsaeng. Tiba-tiba seisi ruang guru menatapnya tajam karena suara keras yang dibuatnya. Kris seonsaeng lalu berdeham. “Ehm—Baiklah, sampai dimana kita tadi?”

“Itu, katanya bapak mengajukan syarat ke saya untuk mengambil PSP ini. Memangnya syarat apaan?” sambung Eunhae.

“Oh ya!” Kris seonsaeng yang seperti baru mendapat pencerahan menjentikkan jarinya, “Kalau kau ingin mengambil PSP mu ini…”

“Ya?”  respon Eunhae tidak sabar.

“Kau harus…” Kris seonsaeng mengernyitkan dahinya tanda berpikir keras. Eunhae benar-benar ingin menimpuk orang itu, kalau saja Kris seonsaeng bukan gurunya. Mikir syarat saja lama sekali!

“Hmm… Kau harus… mendapat nilai 80 saat ulangan mat nanti!” Kris seonsaeng menyeringai penuh kemenangan dan terlihat bahagia karena ide briliannya.

“WTF!!” Eunhae melotot hingga matanya nyaris keluar. “Mendapat nilai 50 di ulangan mat  seonsaeng saja susah!” protesnya.

“Kau mau barangmu kembali atau tidak??”

“Tapi aku tidak terima! Syarat itu hanya menguntungkan seongsaenim saja! Kita buat taruhan saja!”

“Beraninya mengajak gurumu taruhan!!” bentak Kris seonsaeng keras, kali ini sambil menggebrak mejanya. Dan lagi-lagi, seluruh mata di ruang guru menatapnya tajam.

“Ehm—baiklah, apa yang kau inginkan kalau berhasil memenangkan tantanganku?”

“Aku ingin mendapat ijin bermain PSP saat pelajaran berlangsung!” usul Eunhae tak tahu malu.

“APA!?” Kris seonsaeng syok.

“Tidak selamanya, selama 2 bulan saja.” Kata Eunhae.

“Baiklah, baiklah, sesukamu!” kata Kris seonsaeng pasrah. “Tapi kalau kau kalah, PSP ini tak akan pernah kembali.” Katanya sambil menunjuk benda persegi berwarna hitam yang tergeletak di atas mejanya.

“OK! Deal!” Eunhae pun meninggalkan ruang guru dengan perasaan puas, diikuti Junseo di belakangnya yang hanya bisa geleng-geleng kepala.

“KAU SERIUS MENGAMBIL TANTANGAN ITU?” kali ini gantian Junseo yang frustasi.

“Kau kan pintar, pasti bisa mengajariku untuk dapat nilai 80.” Tukas Eunhae santai.

Junseo mendengus, ”Mendapat nilai 70 saja aku harus berjuang setengah mati, Apalagi mengajarimu! kenapa sih kau selalu berurusan dengan Kris seonsaeng!”

Eunhae hanya mengangkat bahu.

 “Lalu bagaimana dong?” sambungnya.

Junseo berpikir keras. Dia memutari ruang kelas dengan tangan terlipat di balik punggungnya, ritualnya kalau sedang berpikir. Teman-teman sekelasnya memandangnya aneh.

“OH!” Junseo mendapat pencerahan.

“Bagaimana?”

“Itu.”  Junseo menunjuk punggung siswa yang duduknya di bangku paling depan. Eunhae bingung.

“Er—Itu Kibum kan, kalau tidak salah?”

“Benar!”

“Lalu? Apa hubungannya?” Eunhae mulai sebal.

“Satu-satunya orang yang bisa menolongmu cuma Kibum, Eunhae!”

Eunhae mencoba mencerna perkataan Junseo dengan processor otaknya yang pas-pasan. Lalu…

“Apa?? Aku tidak mau diajari Kibum! Dia itu culun dan sombong sekali!” protes Eunhae.

“Oh, ayolah. Dia itu satu-satunya siswa di kelas ini yang punya IQ 130, mungkin satu-satunya di sekolah.” Junseo mendorong Eunhae ke meja Kibum. “Ya! Kibum!” panggilnya.

“Apa?” Kibum menoleh malas, dan dia semakin malas ketika didapatinya ratu gamer berdiri di depan matanya.

“Oh, ini pertama kalinya kau mengajakku bicara. Dan jangan mengajakku berbicara tentang game karena aku tidak mengerti pembicaraan sampah seperti itu.” kata Kibum sok tahu. Eunhae yang merasa terhina meraih kerah Kibum dan mencengkramnya, “Apa maksudmu??”

Junseo pun melerai kedua orang itu. “Sabar Eunhae! Kau ingin dibantu atau tidak?” Junseo menenangkan, setelah itu dia menatap Kibum sebal, ”Hey Kibum, kami kesini karena ingin minta tolong padamu. Tapi kau jangan seenaknya menghina Eunhae karena kau pintar!”

“Minta tolong?” Kibum mengangkat sebelah alisnya. “Soal game?”

“BUKAN!” Eunhae mendengus. Cowok ini benar-benar sok tahu. “Bantu aku mendapat nilai 80 saat ujian mat nanti!”

Kibum mengernyit. Permintaan yang aneh, pikirnya. “Ok!” respon Kibum tanpa repot-repot memikirkannya.

“Kau ingin membantuku?” kata Eunhae senang.

“Ya, tapi ada syaratnya. Di dunia ini tak ada yang gratis.”

“WTF –! syarat lagi!!” Eunhae nyaris pingsan mendengarnya.

Kibum meraih pulpen dan menyobek bagian belakang notesnya, kemudian menuliskan sesuatu diatasnya.

“Datanglah ke rumahku besok sepulang sekolah, ini alamatnya.” Dia menyodorkan sobekan kertas itu pada Eunhae. “Huh?” Eunhae mengangkat alisnya heran.

“Mikirnya nanti saja! Cepat kembali ke bangku kalian, mengotori pemandangan saja!” Kibum mengusir kedua cewek itu dengan kata-kata yang menyebalkan. Yah, begitulah Kibum.

Dibangkunya, Eunhae mencerna perkataan Kibum. ‘Di dunia ini tak ada yang gratis.’

dan,

‘Datanglah ke rumahku besok sepulang sekolah.’

Cewek itu mengacak-ngacak rambutnya frustasi. Dia berusaha menggabungkan dan mengartikan kedua kalimat itu , lalu…

“AAAAH—apa yang sedang Kibum pikirkan!! Aku tidak mau! Aku masih suci!!!”

Eunhae jadi ngeri sendiri dengan kesimpulan yang dibuatnya.

Teeeet… teeeettt…

Sudah berkali-kali Eunhae memencet bel dihadapannya dengan muka bete namun gerbang pagar itu tak kunjung dibuka. Eunhae mengintip kedalam rumah itu lewat celah-celah kecil di gerbang yang terbuat dari kayu. Dia bisa melihat pintu depan rumah yang sedari tadi tidak terbuka juga. Pintu depannya saja tidak dibuka-buka, apalagi pintu gerbangnya. Rumah Kibum sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.

“Huh! Jangan bilang Kibum lupa dengan janjinya!” Eunhae mendengus. Tiba-tiba dia teringat kembali kata-kata Kibum saat di sekolah, ‘Di dunia ini tidak ada yang gratis.’

“Hiiiiyyyy………..” gadis itu bergidik. Dia kembali memandangi rumah Kibum yang agak tertutup, karena posisi rumahnya yang tinggi—seperti dibangun diatas bukit—dengan pagar dan gerbang yang menjulang tinggi. Mungkin tinggi pagarnya nyaris tiga meter. Bentuknya yang seperti itu membuat rumah Kibum terlihat seperti bangunan yang terisolasi. Misterius sekali… jangan-jangan rumah ini adalah tempat prostitusi dengan Kibum sebagai mucikarinya.

“Ya!! Aku tak pernah melanggar janjiku!” teriak seseorang dibalik pagar, dan berhasil mengagetkan Eunhae yang tengah sibuk dengan fantasinya sendiri. Kibum menatap Eunhae dari atas ke bawah dengan tatapan aneh.

By the way kenapa wajahmu seperti ketakutan begitu? Harusnya kau bahagia karena melihat pria tampan sepertiku 2 kali sehari.” Ucapnya sedikit narsis. Kibum membuka gembok gerbang dengan cekatan kemudian menyuruh Eunhae—yang masih memasang raut ketakutan—untuk masuk. Namun perasaan takut Eunhae berubah menjadi perasaan takjub saat dia memasuki halaman depan rumah Kibum. Halaman depannya sangatlah unik, kontur lahannya menanjak. Di puncak halaman, rumah Kibum bertengger dengan manis, seperti kastil di negeri dongeng yang bertengger di atas bukit. Di sebelah rumah Kibum—di puncak halaman—juga terdapat mata air buatan yang airnya mengalir deras dari atas sampai ke bawah. Kalau dilihat-lihat bentuknya terlihat seperti air terjun, dan itu indah sekali. Dataran yang tinggi membuatnya terlihat seperti air terjun.

“Sedang apa kau? Ayo masuk ke rumah!” perintah Kibum. Kedua orang itu berjalan menaiki tangga di tengah halaman yang terbuat dari batu alam, menuju rumah Kibum yang berada di puncak. Sebelum memasuki rumah, Kibum berjalan ke sisi lain halaman dan menghampiri seekor kucing berwarna putih yang berguling-guling di tanah.

“Cissy, beri salam pada tamu kita!” perintah Kibum. Kucing bernama Cissy itu bangkit lalu menghampiri Eunhae. Dia menggosok-gosokkan tubuhnya di kaki gadis itu sambil mendengkur keras.

“Kau tidak alergi kucing kan?” Tanya Kibum.

“Oh, tidak.” Respon Eunhae. Agak kaget juga mengetahui orang menyebalkan seperti Kibum memelihara kucing. Wah, bisa jadi gossip besar di sekolah.

“Kibum-ssi!” panggil seseorang di belakang mereka. Eunhae menoleh, dan tampak seorang pemuda berdiri sambil memegang gunting taman di tangannya. Ia mengenakan sehelai kaus kutang putih dan celana abu-abu belel. “Sesuai permintaanmu, aku sudah merapikan semak-semak di halaman belakang, juga menanam bunga anggrek baru di sekitarnya,” ujar pemuda itu.

“Kerja bagus, Minho! Ibuku pasti bahagia!” Kibum mengacungkan jempolnya. Minho menyeringai kemudian berbalik pergi. Di kejauhan dia berteriak pada Kibum sambil melambaikan guntingnya, “Jangan lupa naikkan upahku, Kibum-ssi!”

Kibum menggeleng kepalanya perlahan sambil mendengus, “Dasar tukang kebon matre,”

“Meooowww…” Cissy memutari tubuh tuannya dan mengeluarkan dengkuran manja. Kibum menepuk dahinya, “Ah! Aku lupa memberimu makan!” kemudian dia memungut kucing itu dan menggendongnya memasuki rumah.

“YA!! Kau lupa ada aku disini??” dengus Eunhae sebal, membuat Kibum menepuk dahinya lagi. “Masuklah, Eunhae! Aku mau mengurusi kucing ini dulu!” Kibum pun ngeloyor ke bagian belakang rumahnya. Mungkin ke dapur. Eunhae menghempaskan tubuhnya ke sofa empuk ruang tamu dengan sebal. Kibum itu manusia atau tidak sih? Masa aku dicuekin gara-gara kucing? Eh, tunggu. Jangan-jangan aku cemburu karena seekor kucing?? Aku sudah gila! Eunhae kembali tenggelam dalam pikirannya sendiri.

“Kibum! Minho sudah membereskan halaman belakang??”  Eunhae mendengar seseorang memanggil-manggil nama Kibum.

Kibum! Ya, Kibum!! Ah…” seorang wanita berusia tiga puluhan terlihat kaget saat melihat Eunhae. “Astaga Kibum, kau membawa perempuan ke rumah? Ini benar-benar kemajuan!” wanita cantik itu terlihat sangat bahagia.

“Dia bukan perempuan bu! Dia teman sekelasku!” teriak Kibum dari arah dapur. WTF?!—bukan perempuan katanya?!—pekik Eunhae dalam hati. Wanita yang sepertinya ibu Kibum itu tersenyum lalu menghampiri Eunhae. Dia duduk di sebelah gadis itu dan mereka pun berbincang-bincang. Tak selang beberapa saat Kibum keluar dengan membawa segelas sirup di tangannya.

“Oh, kau sudah selesai? Kalau begitu aku pergi dulu ya, ada urusan pekerjaan. Kalian baik-baik di rumah, hohoho…” pamit ibu Kibum yang langsung meninggalkan kedua remaja itu.

“Ibumu gaul juga ya Kibum, masih muda.” Eunhae berkomentar.

“Oh, ibuku menikah umur 15 tahun.” Tanggap Kibum yang membuat Eunhae menganga. Kibum lalu menaruh gelas sirup yang dibawanya ke meja tamu.

“Gomawo—”

Eunhae hendak meraih gelas sirup itu namun Kibum menyambarnya terlebih dahulu. “Siapa bilang ini untukmu? Sejak kapan aku begitu baik?” cowok itu lalu menenggak sirup di gelas sampai habis kemudian duduk di sofa di seberang Eunhae.

“Grrrrrrrrrrrrrrr Kibum…!!!” geram Eunhae.

“Oh ya,” Kibum tidak menggubris Eunhae yang menatapnya geram,  “bukannya kau kerumahku untuk berguru padaku?” Matanya lantas terpaku pada tas jinjing besar yang dibawa gadis itu dari rumahnya. “Kenapa tas yang kau bawa besar sekali? kau berniat menginap di rumahku?”

Mendengar itu muka Eunhae langsung merah, “Enak saja! Kau pikir aku ini perempuan seperti apa! Ini, coba lihat…!” dia membuka tas yang dibawanya dan mengeluarkan benda kotak berwarna hitam sebesar laptop.

“Apa itu?” Kibum mengernyitkan dahinya.

Play Station 3!” kata Eunhae sebal.

“Apa itu?” Tanya Kibum lagi, masih tak mengerti.

“AARRGGHH… kau itu hidup di jaman kapan sih! Ok, aku wajar-wajar saja karena kau tinggal di atas bukit. Ini adalah Play Station, Kibum. Play Station! Play Station itu game konsol!”

“Ooh…, jadi itu alat untuk bermain game?” Kibum memanggut-manggut mengerti. “HEI TUNGGU—! beraninya kau membawa peralatan game-mu kesini!”

“Aku gampang bosan, dan berhubung PSP ku sedang disita jadi sekarang aku membawa-bawa PS 3 –ku kemana-mana, padahal PSP lebih mudah dibawa karena ukurannya kecil,” Eunhae malah berceloteh panjang lebar.

“Hei, aku tidak ingin mendengarkan curhatmu, aku—” Kibum mengomel namun Eunhae tetap meneruskan celotehnya, “Sebenarnya aku ingin membawa X box –ku, fungsinya sama seperti playstation, tapi sedang dipakai adikku jadi—”

“Aaaggh! Cukup!” Kibum membungkam mulut Eunhae. “Ok, kembali ke topik yang tadi. Aku sudah memberitahumu kan, kalau ingin bantuanku, kau harus melakukan sesuatu. Di dunia ini tidak ada yang gratis.” Mendengar itu, Eunhae langsung menyilangkan kedua tangannya di dada dan memejamkan matanya rapat-rapat. “A… aku belum siap… “ gumamnya ketakutan.

“YA!! Kau mikir apa sih!” Kibum meninju dahi Eunhae. “Ya begini efek kebanyakan main game!”

Eunhae membuka matanya heran. “Lalu kau ingin aku berbuat apa?”

“Kau harus bertanding denganku, terserah dalam hal apa. Kalau kau menang aku akan menurutimu, kalau kau kalah kau harus keluar dari rumahku!” kata Kibum sadis.

“Oh…” Eunhae berpikir, “Aku boleh menentukan pertandingannya kan?”

Kibum mengangguk.

“Ah! Kita main Playstation saja!”

“Hei! Itu tidak adil! Aku tidak pernah memainkannya!” Kibum sewot.

“Oh tenang saja, akan kubuat adil. Kau boleh memilih game apapun yang akan kita mainkan.”

“Hmm… begitukah? Kalau begitu aku ingin main Sudoku!”

Eunhae mangap. “Kau gila ya, masa main Sudoku di Playstation!”

“Kartu remi?”

“Kau pikir kita sedang berjudi?!”

“Hmmm… susah juga ya…” Kibum berpikir keras. “Aha! Catur!”

“Ok! Ok! Catur!” Eunhae yang sudah kesal mengiyakan perkataan Kibum.

“Bagaimana? Setahuku kau tidak membawa kaset game catur.”

“Oh, tidak apa-apa. Di dalam harddisk Playstation ini ada game catur kalau tidak salah.”

“Wooooh… ada Harddisk-nya juga? Keren sekali!” Kibum memasang tampang takjub.

“Yang punya harddisk bukan Cuma computer atau laptop saja.” Eunhae mengeluarkan Playstation-nya. “Kau punya TV tidak?” tanyanya.

“Tentu saja! Kau menghinaku?” Kibum menuntunnya ke ruang keluarga di sebelah ruang tamu. Eunhae mencolokkan USB Playstation-nya ke televisi. Setelah menunggu sejenak, layar TV pun berubah warna dan muncul menu yang berisikan daftar game yang tersimpan di harddisk Playstation. Eunhae mencolokkan dua buah Joystick yang digunakan untuk bermain, dia lalu memberikannya sebuah pada Kibum.

“Tenang saja, aku akan mengajarimu menggunakannya.” Pernyataan Eunhae ini menjawab wajah bingung Kibum. Selama setengah jam, Eunhae sibuk mengajari dan member pengarahan pada Kibum. Untung saja, dengan IQ nya yang bagus, meskipun dia kuper, Kibum cepat mengerti.

“Ok, Kita mulai!” ucap Eunhae bersemangat. Layar TV yang semula menampakkan gambar loading sekarang berubah menjadi papan catur virtual. Keringat dingin mengalir dari wajah Kibum saking takjubnya. “OOOOHHH…”

Merekapun mulai bermain. Kibum yang yakin akan kejeniusannya bermain dengan sangat sombong, apalagi dia adalah juara catur nasional. Sedangkan Eunhae bermain sambil tertawa-tawa, entah apa yang ditertawakannya. Dia merasa bermain catur di PS menyenangkan juga. Selama ini bermain catur yang asli terasa begitu membosankan.

“Checkmate!!” ucap suara yang keluar dari speaker televisi.

“WHAT??!” pekik Kibum miris, nyaris tidak percaya.  Dia bisa melihat di layar televisi saat raja hitamnya dimakan oleh kuda putih Eunhae.

“Hohohoho…” Eunhae tertawa terbahak-bahak. “Kau tidak akan bisa mengalahkanku dalam game, Kibum-ssi!”

“Tapi itu tidak mungkin! IQ mu kan hanya 119!” pekik Kibum frustasi. Eunhae tertawa makin keras.

“Sesuai perjanjian kita, selama dua minggu kedepan ini kau harus membantuku, Kibum!” tegas Eunhae. Kibum yang tidak punya pilihan lain hanya mengangguk dengan muka pasrah, dan berkali-kali mengutuk keberuntungannya yang benar-benar buruk.

______________

To Be Continued

______________

A/N: Ni FF twoshot lagi kayaknya. Mau dibikin oneshot kepanjangan. Hohoho…

Sori kalo Minho saya jadiin pak bon, ini rekues dari temen hehe.

Makasih ya yang udah bersedia baca. Jangan lupa komen! xoxoxo

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

6 thoughts on “Gamer in Love [1.2]

  1. minho jadi tukang kebon hahaha kasian banget dia :))))
    ceritanya lucu juga~ apa ada love story juga di chapter 2? ditunggu kelanjutannya thor~

  2. minho jd tukag kebun….????🙂🙂
    aq suka crt nya
    btw apa di part selanjunya ada minho yg ternyata selain tukang kebun adalah mbahnya game dan membuat key agak gimana gitu…😉😉
    ditunggu part selanjutnya ya….

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s