First Love is Never Die – Part 4 (End)

FIRST LOVE IS NEVER DIE (Love 4-End-)

 mineun

Author             : Papillon Lynx

Major Cast      :

–          Lee Taemin SHINee as Lee Taemin

–          Kim Shin You covered by Son Naeun APink

Minor Cast      :

–          Kim Jongin (Kai) Exo-K as Kai

–          Choi Hanna covered by Park Hyojin Ulzzang

Support Cast    :

–          Dr. Yurra

–          Jinki Seonsangnim

Genre              :

–          Romance

–          Sad

–          Life

–          Friendship

Length             : 4 of 4

Rating              : PG-16

Summary         :

Taemin akhirnya bisa bertemu lagi dengan Shin You. Namun ia masih belum merasa lega karena Hanna memberitahunya kalau Kai menyukai Shin You dan sepertinya akan menjadi saingannya. Tapi saat bertemu dengan Kai, Taemin tidak merasa Kai adalah seorang musuh untuknya. Di sisi lain, Shin You menderita karena sakit di kepalanya yang semakin hari semakin menjadi. Dan untuk pertama kalinya setelah dua tahun lamanya, ia bisa bertemu lagi dengan Hanna, tapi Shin You justru pingsan di hadapan gadis itu.

 

Sebenarnya apa yang terjadi dengan Shin You kali ini? Bagaimana reaksi Hanna ketika ia melihat Shin You menunjukkan sisi lemahnya di hadapannya? Dan di antara Taemin dan Kai, siapakah yang akan benar-benar dipilih oleh Shin You? Lalu apakah Hanna bisa mendapatkan cinta pertamanya? Inilah part terakhir Love Never Die, “Saat cinta pertama tak pernah mati…”

 

Part terakhir ini. Langsung saja ya. Happy reading ^^ Jangan lupa komennya.

Original Sountrack for this fanfiction : Be Warmed – Davichi ft. Verbal Jint (Disarankan mendengarkan lagu ini saat membaca)

 

ALL POV IS AUTHOR’S POV

***

Kai mengantarkan Hanna sampai ke depan café hingga yeoja itu mendapatkan taksi dan masuk ke dalamnya. Begitu taksi mulai meninggalkannya di pinggir jalan, Kai berbalik dan mendapati Taemin sudah berdiri dengan tatapan menagih penjelasan padanya. Kai hanya bisa menarik kedua ujung bibirnya untuk mengumpulkan keberanian menghadapi Taemin.

“Taemin-ah..” kata Kai sambil berjalan menghampiri teman lamanya itu. Sekali lagi Kai tersenyum sambil menepuk lengan Taemin yang masih menatapnya serius. “Oh ayolah, berhentilah menatapku seperti itu. Kau menakutiku, tahu.” Kata Kai mencoba bercanda.

“Apa benar yang Hanna katakan kalau kau menyukai Younnie juga?”

DEGH!

Tawa di wajah Kai memudar begitu mendengar pertanyaan langsung dari Taemin. Kai diam sambil menarik dan menghembuskan nafasnya sejenak. Ia tak menyangka Hanna akan membuka kartunya di depan Taemin secepat ini.

Ne. Aku menyukainya.” Jawab Kai jujur sambil menatap intens kedua mata hitam Taemin.

“Sejak kapan? Apa sejak dulu, hm? Sejak kita masih SMA? Sejak kalian berdua menghilang tanpa kabar, huh?” desis Taemin mulai sarkatis. Nada bicaranya sedikit terdengar mulai tak tenang sekarang.

Ani. Bukan sejak kita masih SMA. Bukan sejak kau dan dia masih bersama atau sejak aku dan dia sama-sama menghilang tanpa kabar. Tapi sejak aku tahu kalau Shin You adalah yeoja yang berbeda. Dia yeoja yang kuat, yang menahan semua rasa sakitnya sendiri selama ini. Sejak aku tahu, kalau sekuat apapun dia, dia tetap membutuhkan seseorang yang akan meminjamkan pundaknya saat ia lelah atau ingin menangis.”

“Oh, jadi kau pikir kau bisa menggantikanku untuk menjadi tempat bersandarnya, angeurae (bukankah begitu)?” tanya Taemin sambil tertawa sinis dan memalingkan wajahnya. Ia merasa konyol mendengar kata-kata Kai yang menurutnya sok puitis. “Aku rasa kau menyadarinya, Kai. Sejak dulu, bahkan sekarangpun, Younnie hanya mencintaiku. Cukup jujur saja. Alasan kau menghilang dua tahun lalu itu karena kau berpikir untuk mulai merebut Younnie dariku, kan? Karena sejak dulu pun kau sudah menyukainya, bukan? Dan selama dua tahun ini kau bahagia karena bisa menghabiskan waktu dengannya.”

DEGH!

Kai terkejut mendengar semua kata-kata Taemin yang terus menuduhnya begitu tajam.

“Apa maksudmu?!” Kai mulai naik darah. Kedua tangannya mulai bergetar dan mengepal tanpa ia sadari.

“Berhentilah berpura-pura. Sekarang aku tahu semuanya. Ternyata sahabatku mengkhianatiku. Sahabatku mempengaruhi kekasihku untuk pergi meninggalkanku. Tapi aku sedikit tidak percaya kalau kau tega melakukan itu padaku, Kai.” Lirih Taemin dengan matanya yang mulai basah.

BUGH!!

“APA KAU BODOH, HUH?!! KAU TIDAK MENGENALKU, HUH?! KAU PIKIR AKU ORANG YANG SEPERTI ITU? AKU SAHABAT MACAM ITU?!!”

Kini semua orang yang berada di sekitar mereka menatap mereka takut-takut dan berbisik-bisik. Baru saja Kai lepas kendali dan memukul wajah Taemin dengan tangannya sendiri. Pukulan yang cukup keras, yang cukup membuat Taemin syok sampai ia melupakan rasa sakit di sekitar ujung bibirnya yang mulai berdarah.

“Kai-ah..

“AKU TIDAK PERNAH MENGKHIANATIMU, LEE TAEMIN! ALASAN KEPERGIANKU SAAT ITU TAK ADA HUBUNGANNYA DENGAN SHIN YOU! AKU PERGI KARENA PERUSAHAAN ORANGTUAKU HAMPIR BANGKIT DAN AKU HARUS MENCEGAH HAL ITU. DAN KAU TAHU, AKU DIJODOHKAN DENGAN GADIS PILIHAN ORANGTUAKU! LALU, YANG SEBENARNYA TERJADI ADALAH DUA TAHUN LALU SHIN YOU PERGI KARENA DIA SAKIT! KANKER OTAK STADIUM LANJUT! DIA PERGI KE LONDON UNTUK BEROBAT! DIA TIDAK MAU KAU BERSEDIH KARENA ITU DIA TIDAK BERPAMITAN PADAMU, BODOH!!”

JDEEERR!!!

Seperti mendapat beban berat ratusan ton dan tersambar petir di kepalanya, Taemin tak kuat untuk menahan berat tubuhnya sekarang. Namja itu terduduk di atas tanah dengan tatapan kosong begitu mendengar semua penjelasan Kai. Bahkan sekarang, Taemin mulai memukul-mukul kepalanya sendiri dengan tangan. Ia memang bodoh. Ia akui hal itu benar jika Kai menyebutnya bodoh. Ia bahkan terlalu jahat karena telah menuduh Kai yang bukan-bukan. Sesaat yang lalu pun ia meragukan perasaan Shin You padanya. Taemin menangis tergugu sekarang.

Kai yang dari tadi diam menyaksikan keterpurukan Taemin, tak terasa mulai meneteskan air mata juga. Baru kali ini mereka bertengkar hebat dan saling berteriak seperti itu. Bukan pertemuan seperti ini yang ia harapkan saat ia bisa bertemu lagi dengan Taemin, sahabatnya.

“Katakan padaku, Kai. Bagaimana keadaan Younnie sekarang?” tanya Taemin dengan tak bertenaga.

“Kau tidak perlu khawatir. Kakak tiriku adalah dokter yang merawatnya selama ini. Yurra Noona mengatakan padaku kalau Shin You sudah sembuh dari penyakitnya.” Kai berjongkok dan membantu Taemin berdiri. Ia tak mau mereka menjadi tontonan publik sekarang karena bertengkar di pinggir jalan. Ia harus segera mencairkan suasana.

“Apa kau yakin? Apa aku bisa percaya dengan perkataanmu kali ini?” Taemin mengangkat wajahnya dan menatap sedih Kai.

“Cobalah. Tapi aku tetap pada keputusanku. Aku masih ingin memperjuangkan perasaanku pada Shin You. Mulai sekarang kita bersaing mendapatkannya. Dan biarkan Shin You yang memilih salah satu di antara kita.” Kai tersenyum setelah menyatakan perang pada Taemin. Hal itu membuat Taemin merasa lucu. Taemin bangkit dan merangkul bahu Kai dengan erat.

“Baiklah. Jangan menyesal jika Younnie tetap kembali padaku.” Balas Taemin menyanggupi tantangan Kai.

“Kau terlalu percaya diri, Lee Taemin-ssi.” Cibir Kai sambil mengulum senyumnya.

***

“Shin You-ah, apa kau tidak mendengarkanku, hm? Sudah kubilang ‘kan agar kau tidak terlalu memaksakan dirimu? Beberapa hari ini wajahmu pucat dan kau terlihat tidak sehat. Pulanglah, aku tidak mau si Dokter Cerewet itu terus mengoceh padaku jika kau sampai sakit.”

Shin You mengulum senyumnya dan mengabaikan rasa pusing yang seakan menggerogoti isi kepalanya. Ia berusaha terlihat kuat di depan namja tampan yang sejak tadi terus menyuruhnya untuk pulang.

Seonsaengnim, nan gwenchanayo. Geokjeongmaseyo.” Jawab Shin You sambil memasukkan buku-buku kuliahnya ke dalam tas karena kelasnya baru saja usai. Mendengar jawaban Shin You membuat namja itu mendesah sekali lagi. “Tenang saja. Jika ada apa-apa denganku, aku akan mengatakan pada Yurra Eonni kalau Saem tidak ada hubungannya dengan hal ini. Saem fokus saja dengan pekerjaan Saem sebagai dosen di sini.”

Yaa~ Bagaimana aku bisa fokus kalau kondisi salah satu mahasiswi terbaikku terlihat mengkhawatirkan begini?” kata namja yang dipanggil “guru” oleh Shin You itu dengan nada sedikit merajuk.

“Jinki Saem, ternyata benar kau menyukai Yurra Eonni ya. Bahkan sejak Jinki Saem masih menjadi guru di sekolahku dulu. Saem terlalu menyukainya sampai Saem juga terlalu takut padanya.” Goda Shin You berniat mengalihkan topik. Sontak wajah Jinki memerah malu. Jinki salah tingkah hingga tak sadar sedikit berdeham menanggapinya.

“Ehem.. Kenapa kau jadi membahas masalah itu? Aku serius mencemaskanmu, tahu. Sudah sana, cepat pulang.” Jinki menggaruk tengkuknya dan berjalan pergi meninggalkan Shin You di dalam kelas sendirian. Shin You terkikik pelan seiring kepergian dosen kelas vokalnya itu.

Shin You bangkit dari bangkunya dan menyampirkan tas lengannya ke atas bahu. Jinki benar, ia memang harus segera pulang sebelum sakitnya mulai datang lagi. Meskipun ia tahu kalau wajahnya pasti sudah cukup pucat sekarang, tapi ia tidak mungkin meminta bantuan teman kampusnya untuk mengantarnya pulang. Ia tak mungkin meminta bantuan siapapun karena ia tak ingin ada orang lain yang menyadari kondisinya sekarang.

NYUT!

“Ugh..” Lagi. Dia datang lagi. Sakit itu benar-benar datang lagi. Sakit yang sekarang membuat Shin You berpegangan kuat pada pinggiran bangku tempat ia duduk tadi. Sakit yang membuat ia menunduk dengan mata terpejam rapat dan meringis menahannya. Untung saja kelas sudah sepi. Hanya menyisakan dirinya seorang.

“Shin You-ah??”

DEGH!

Kontan Shin You mengangkat kepalanya begitu ia mendengar sebuah suara yang memanggil namanya. Dan di detik itu juga, kedua matanya beradu dengan kedua mata milik seorang gadis yang kini tengah tersenyum lebar melihatnya.

“Shin You-ah, apa kabar?” kata gadis itu lagi dengan kedua mata berbinar. Gadis itu berusaha mendekat dengan salah satu kaki yang dibalut gips. Gadis itu berusaha memeluk tubuh Shin You, namun lagi-lagi sakit itu datang menyerang Shin You, membuat Shin You hilang keseimbangan.

“Hanna-ya.. Argh!” Shin You menundukkan kepalanya lagi dengan kedua tangan memegangi kepalanya. Ia mengerang kesakitan. Reflek, gadis yang tidak lain adalah Choi Hanna itu langsung menangkap tubuh Shin You ke dalam pelukannya.

Gwenchana? Katakan padaku, kau kenapa?? Katakan!” panik Hanna. Ia merasakan tubuhnya bergetar melihat kondisi Shin You sekarang. Hanna merasa sangat… takut.

Dalam samar-samar pandangannya, Shin You hanya mampu tersenyum tipis, namun saat itu juga kesadarannya menghilang. Cairan merah pekat mulai menjalar keluar dari dalam lubang hidungnya. Hanna membelalakkan matanya semakin takut.

“Shin You-ah?! Kim Shin You irreona! Ya~! Siapapun yang ada di luar tolong aku! Cepaaaattt..!!”

***

Suara alat pendeteksi detak jantung terdengar miris di telinga Hanna. Kini dengan kedua mata kepalanya sendiri dan hanya terhalangi oleh sebuah pintu berkaca, Hanna bisa melihat tubuh Shin You yang mengenakan pakaian rumah sakit dan tertidur di atas ranjang pesakitan dengan dibantu alat bantu pernafasan.

Hanna tidak tahu, bahkan tidak mengira kalau selama dua tahun ini, Shin You telah berjuang keras melawan kanker otaknya. Ia tidak tahu kalau sahabatnya itu menderita sendirian. Ia tidak tahu kalau mungkin saja sahabatnya itu sudah sangat bosan dengan berbagai obat-obatan yang telah ia telan dan bermacam-macam peralatan medis yang menurut para dokter bisa mengusir jauh-jauh penyakitnya. Dan Hanna juga tidak tahu, jika ia yang mengalami hal seperti ini, apakah ia bisa sekuat Shin You? Jawabannya, mungkin tidak. Ini terlalu berat dan menyakitkan untuknya. Mungkin di detik pertama setelah dokter memvonisnya, Hanna sudah berlari ke Sungai Han dan menenggelamkan diri di sana.

TESS!

Bulir-bulir bening sebening kristal menetesi kedua pipi Hanna. Timbul perasaan teramat bersalah dalam dirinya karena selama dua tahun ini, tanpa tahu apa-apa, ia dan Taemin justru menjalin hubungan yang serius. Egois. Ya, Hanna mengakui dirinya seperti itu sekarang. Seharusnya ia berusaha mencari Shin You atau paling tidak ia terus mendukung Taemin agar tak melupakan Shin You begitu saja dan bukannya justru menjalin kasih dengannya. Hanna merasa benar-benar jahat sekarang.

SREEEKK…

Pintu kamar rawat Shin You bergeser terbuka. Seorang wanita anggun berjas putih bersih muncul dari sana dan sedikit terkejut begitu melihat sosok Hanna di hadapannya.

“Choi Hanna-ssi. Annyeonghaseyo..” sapa wanita itu ramah dengan senyum manisnya. Wanita itu melepas stetoskop dari kedua telinganya dan mengulurkan tangan di hadapan Hanna. Hanna tersenyum canggung sambil menghapus air matanya dan menjabat tangan wanita itu.

Nugu..seyo?” tanya Hanna polos. “Bagaimana kau bisa tahu nama—“

“Kim Yurra imnida, dokter spesialis kanker yang selama ini mengobati Shin You sekaligus walinya. Shin You pernah memperlihatkan fotonya denganmu padaku. Itu sebabnya aku langsung mengenalimu di sini.” Jawab wanita anggun itu sambil sedikit menganggukkan kepalanya.

Ah! Bukankah dia adalah kakak angkat Kai? Batin Hanna. Hanna mengangguk pelan tanda mengerti.

“Bagaimana keadannya sekarang?” tanya Hanna langsung. Hanna sedikit melongokkan kepalanya ke belakang badan Dr. Yurra, menembus pintu berkaca dan melihat sosok Shin You yang terlihat terbaring tenang di sana.

“Aku rasa kau tahu bagaimana kondisinya sekarang. Bukankah tadi Shin You sempat berbicara denganmu sesaat setelah siuman?”

FLASHBACK

Hanna duduk di samping ranjang rawat Shin You sambil terus menteskan air mata, sedangkan Shin You hanya tersenyum tipis melihatnya.

Yaa~” panggil Shin You lirih seperti berbisik. Suaranya juga terdengar serak dan lelah. “Uljima, Hanna-ya.

“Kau..” Hanna hampir saja marah karena ia merasa heran dengan sikap Shin You yang justru terlihat sangat tenang sekarang. “Bagaimana bisa kau menyuruhku untuk tidak menangis, huh? Apa untungnya kau merahasiakan penyakitmu dari kami? Justru itu membuatku dan Taemin semakin bersalah.” Kesal Hanna menahan tangisnya. Shin You tersenyum.

Arra, arrayo. Mian. Aku hanya tidak ingin membuat kalian sedih dan menangis seperti yang kau lakukan sekarang di hadapanku setelah tahu umurku takkan lama lagi.” Ucap Shin You perlahan dan hati-hati. Shin You merasa nyeri di tubuhnya datang hanya dengan menggerakkan bibirnya saja.

“Berisik! Aku tidak ingin mendengar kata-kata seperti itu. Kita tidak ada yang tahu seberapa lama umur seseorang. Bahkan dokterpun tidak. Apa kau menyerah hanya karena tadi dokter mengatakan bahwa umurmu hanya tersisa tiga bulan lagi?!” marah Hanna.

“Ya, kau benar. Hal itu adalah rahasia Tuhan. Tapi, biasanya orang yang akan meninggal itu sudah bisa merasakan kalau ia memang akan meninggalkan dunia ini untuk selamanya.” Kedua mata Shin You mulai basah. “Buktinya, kesembuhanku hanya sementara. Dan sekarang, aku terbaring lemah tak berdaya lagi di sini.”

“Terserah apa katamu. Percuma bicara dengan orang keras kepala. Sekarang diam dan istirahatlah. Aku akan menghubungi Taemin dan Kai sekarang. Mereka harus tahu tentang kondisimu.” Hanna meraih ponsel dalam tas lengannya dan beranjak melangkah meninggalkan Shin You.

Andwae!”

Hanna tersentak dan berbalik. Kedua alisnya bertaut, bingung.

Andwae! Jangan beritahu mereka tentang kondisiku sekarang. Jebal, Hanna-ya..” pinta Shin You dengan wajah memohon.

Keundae.. waeyo?Hanna berusaha menolak, namun…

“Aku mohon.. Jangan katakan apapun pada mereka. Cukup kau saja yang tahu. Aku mohon..” pinta Shin You sekali lagi sambil terisak.

Hanna diam. Gadis itu benar-benar bimbang sekarang.

FLASHBACK END

***

“Apa kau akan menurutinya?” tanya Dr. Yurra sambil menyesap frappucino miliknya. Sekarang Hanna dan Dr. Yurra tengah duduk berhadap-hadapan di café rumah sakit dengan hanya dihalangi oleh sebuah meja bundar berukuran kecil. Mendengar pertanyaan Dr. Yurra, Hanna hanya bisa menunduk dan mengangguk pelan.

“Aku sebenarnya tak ingin melakukannya. Keundae, aku harus menebus kesalahanku pada Shin You. Dan aku tidak bisa menemukan cara lain untuk itu selain menurutinya melakukan hal ini.” Jawab Hanna pasrah.

Posisinya sekarang sangat sulit. Tak sebaiknya hal seperti ini menjadi suatu rahasia. Bahkan menjadi rahasia bagi Taemin dan Kai, namja yang memberikan perhatian besar pada Shin You. Hanna tahu itu, tapi Hanna tak memiliki pilihan untuk menolak permintaan Shin You.

“Rahasia. Seberapa lama rahasia akan tetap menjadi rahasia? Sebelumnya, rahasia yang dibuat Shin You telah membuatmu dan Taemin salah paham. Apa kali ini Shin You juga menginginkan hal seperti itu terjadi?”

DEGH!

Hanna menatap wajah Dr. Yurra dengan serius. Wanita itu dengan gamblangnya mengutarakan pendapatnya tentang masalah yang pernah mereka alami. Hanna baru paham, bahwa Dr. Yurra benar-benar seseorang yang sangat dipercayai Shin You, sehingga wanita itu bisa mengetahui semuanya.

Dr. Yurra mengangkat tangan kanannya dan melihat waktu di jam tangannya yang berwarna peach. “Sudah setengah jam. Kurasa mereka sudah sampai dan langsung menuju kamar Shin You sekarang.”

M-mwo?? Mworago? Nu-nu-nugu??” tanya Hanna kaget. Sejenak, pikirannya mengarah pada Taemin dan Kai. Hanna membulatkan matanya ketika ia melihat Yurra justru tersenyum kepadanya sebagai jawaban.

“Tak perlu khawatir. Bukankah kau sempat berpikir kalau kedua namja itu perlu tahu tentang kondisi Shin You sekarang?” Dr. Yurra tersenyum lagi. Entah kenapa Hanna merasa tenang melihat senyuman wanita itu yang begitu meneduhkan.

Nde. Gamsahamnida, Eonni.” Jawab Hanna kalem. Hanna benar-benar merasa terbantu dengan tindakan Dr. Yurra. Mungkin ia bisa menemukan cara lain setelah ini untuk menebus rasa bersalahnya pada Shin You. Yang jelas, bukan dengan cara merahasiakan penyakitnya.

“Kau.. Tidak apa jika Taemin kembali menjalin hubungan dengan Shin You?”

Ne?!” Hanna terkesiap. Hampir saja ia tersedak white coffee yang sedang diminumnya. Dr. Yurra adalah tipe orang yang tidak mau bertele-tele rupanya. Hanna harus berusaha menghadapi wanita cantik di hadapannya ini mulai sekarang. Karena sepertinya setiap kata yang terlontar dari bibir Dr. Yurra seakan sedang mengujinya.

“Apa kau yakin kau tidak apa? Bahkan adik angkatku juga menaruh perasaan lebih pada Shin You. Bukankah dulu Kai adalah cinta pertamamu?”

DEGH!

“Itu…” Hanna menggantungkan kalimatnya.

“Benar dugaanku. Sepertinya setelah kau tahu Shin You telah kembali, kau memutuskan hubungan dengan Taemin dan mencoba kembali memperjuangkan cinta pertamamu.” Kata Dr. Yurra dengan gamblang sekali lagi.

Astaga wanita ini. Kenapa dia bisa tahu isi hatiku?? Batin Hanna tak percaya.

“Hhh…” Dr. Yurra menghela nafasnya. “Sebenarnya, aku sudah sangat senang setelah tahu Kai menyukai Shin You dan aku sangat mendukung kelanjutan hubungan mereka. Tapi sepertinya, Taemin memang memiliki benang merah dengan Shin You yang tidak bisa dipisahkan oleh siapapun ya. Jadi, percayalah padaku, kau akan mendapatkannya.” Yurra tersenyum lagi.

Astaga, wanita ini seperti peramal. Batin Hanna lagi.

Tiba-tiba, ponsel Dr. Yurra berdering nyaring. Dr. Yurra segera mengangkatnya setelah membaca nama seorang dokter kenalannya tertera di layar ponselnya.

“Yeobsseoyo?” kata Dr. Yurra. Dr. Yurra diam. Hanna diam memperhatikan. Namun tak berselang lama, Hanna terkesiap ketika melihat Dr. Yurra yang terburu-buru bangkit dari duduknya dan berlari meninggalkannya menuju kamar rawat Shin You dengan wajah panik.

***

Taemin dan Kai berlari menyusuri koridor demi koridor rumah sakit. Jantung mereka berdegup kencang. Wajah mereka pucat dan panik. Satu jam yang lalu, Dr. Yurra menghubungi Kai kalau Shin You collapse lagi. Dan tanpa ragu, Kai langsung menghubungi Taemin. Untuk saat ini, ia harus tak peduli kalau Taemin adalah saingannya untuk mendapatkan Shin You. Entah kenapa, Kai merasa ia harus berbuat seperti itu.

Langkah-langkah Taemin yang semula berlari kencang di hadapan Kai berubah pelan. Tentu saja hal itu membuat Kai yang mengekorinya di belakang bertanya-tanya. Hingga akhirnya Taemin diam, berdiri tak bergeming di hadapannya. Kai yang penasaran dan tak ingin mengulur waktu segera menghampiri Taemin yang ternyata tengah menatap terpaku pada suatu pemandangan di hadapannya.

Tiga kamar lagi di hadapannya adalah kamar rawat Shin You. Dan sekarang mereka melihat banyak dokter dan perawat yang berlarian masuk ke dalam sana, termasuk Dr. Yurra.

Taemin diam. Pikirannya kacau. Jantungnya berdebar kencang ketakutan. Ia tak tahu apa yang terjadi di dalam sana. Namun ia berusaha menolak mentah-mentah firasat buruknya. Dan hasilnya, sekuat apapun ia menepis jauh-jauh perasaan takut itu, Taemin tetap merasa hal itu percuma.

Taemin merasakan kedua kakinya melemas. Ia seperti baru saja mengalami kecelakaan hebat yang merenggut kedua kakinya hingga sekarang ia terjatuh di lantai rumah sakit dengan posisi kedua lutut menyangga berat tubuhnya. Taemin menundukkan kepalanya. Taemin menangis. Terisak. Tergugu. Bahunya terlihat bergetar dan naik-turun. Cukup sekali ia merasa kehilangan. Ia tak mau Shin You meninggalkannya lagi.

Kai diam. Menatap kondisi Taemin yang terlihat miris di matanya. Air matanya pun jatuh. Ia tak tahu kalau seperti inilah kondisi Taemin jika telah menyangkut masalah Shin You. Ia tak tahu seperti ini lah cara Taemin mencintai gadis itu. Jika dibandingkan dengan dirinya yang baru saja mencintai Shin You, mungkin perasaannya tak ada apa-apanya dengan perasaan Taemin.

“Saat kau memintaku percaya, aku merasa ragu. Namun aku tetap mencobanya ketika kau berkata Younnie telah sembuh dan baik-baik saja. Keundae, wae? Apa yang terjadi sekarang, Kai?” racau Taemin di sela-sela tangisnya. Mendengarnya, Kai hanya diam. Ia pun merasa bingung dengan garis takdir yang Tuhan berikan pada Shin You. Kenapa hidup gadis itu begitu rumit?

“Kai..” Suara yang cukup familiar di telinga Kai terdengar memanggilnya. Reflek, Kai mengalihkan pandangannya dari Taemin dan melihat Hanna berdiri menangis beberapa langkah di hadapan mereka.

***

Hening. Suasana sepi. Hanya terdengar suara isakan yang menggema, menabrak dan memantul dari dinding satu ke dinding lain.

Taemin, Kai dan Hanna memilih mengasingkan diri sejenak dan sekarang ketiganya berada di tangga darurat rumah sakit. Duduk tak bergeming di sana. Tempat itu memang sepi, seakan nyaman. Namun rasa nyaman itu tidak bisa mereka rasakan jika mengingat Shin You masih berjuang hidup bersama para dokter sejak 1 jam yang lalu di ruang operasi.

Taemin diam. Kai diam. Hanya suara tangisan lirih Hanna yang menemani kesunyian mereka.

“Waktunya tersisa tiga bulan lagi.” Kata Hanna lirih dengan masih menangis. Taemin dan Kai masih diam. Namun begitu mendengar kata-kata Hanna, setetes cairan bening tak dapat Taemin bendung lagi. “Shin You sepertinya tidak masalah dengan hal itu. Ia terlihat tenang seolah ia sudah siap menghadapi kematiannya.” Lanjut Hanna.

“Bicara apa kamu, Choi Hanna?! Younnie tidak akan mati!” geram Taemin menahan kuat-kuat air matanya. “Dia berjanji akan tetap bersamaku dan tidak akan pergi lagi. Persetan dengan vonis dokter yang kau dengar!”

“Taemin-ah..” lirih Kai prihatin melihat Taemin seperti itu. Hanna kembali menangis.

Wae? Kenapa kau diam saja? Kenapa kau tidak menangis sepertiku, Kai? Bukankah kau juga mencintainya? WAE?!!” Kai diam. Dengan perlahan Kai menarik Taemin ke dalam pelukannya. Taemin tak menolak. Ia menangis keras di sana seperti anak kecil.

“Terkadang di antara dua orang yang sangat bersedih, salah satunya harus tetap terlihat kuat dan menahan tangis agar ia bisa menghibur dan menenangkan yang lain. Dan di sini aku memilih untuk mengambil peran seperti itu. Aku tak tahu apakah kadar kesedihan kita sebanding. Tapi sejak tadi aku berpikir, aku sadar, kalau sepertinya kadar cintaku pada Shin You tak sebesar milikmu.”

Taemin masih menangis.

“Aku menyerah, Taemin-ah. Tak perlu memilihpun, Shin You hanya akan kembali bersamamu. Itu sudah seharusnya. Dan kalaupun ia harus pergi nanti, aku pikir saat-saat terakhir yang ia miliki hanya ingin ia habiskan denganmu.” Kai menarik sedikit kedua sudut bibirnya. Ia tahu ia tidak mengambil keputusan yang salah. Kai akan merelakannya selama itu adalah hal yang bisa membahagiakan Shin You.

***

Satu minggu kemudian…

Okay, ini yang terakhir. Buka mulutmu. Aaaaa~~” Kai mengarahkan sesendok bubur ke arah mulut Shin You yang terkatup rapat. Yeoja itu menggeleng-gelengkan kepalanya, menolak menerima suapan itu. Perutnya sudah sangat penuh sekarang.

“Tidak. Dwaesseo, aku sudah kenyang, Kai!” kesal Shin You. Kai menatapnya datar.

Ya, Kim Shin You! Bagaimana bisa kau sudah kenyang padahal kau baru menghabiskan 3 sendok saja?” Kai memutar bola matanya.

“Ah, pokoknya sudah kenyang ya sudah kenyang. Sudahlah, sana kau berangkat kuliah saja. Bukankah minggu depan ada ujian?” tanya Shin You sambil mengambil segelas air mineral yang berada di atas nakas samping tempat tidurnya. Lalu, meminumnya perlahan.

Kai mengambil gelas kosong yang ada di tangan Shin You. “Arrasseo. Aku akan berangkat nanti setelah Taemin datang.” Kai tersenyum dan meletakkan mangkuk berisi bubur dan gelas kosong tadi di atas nakas.

Suasana hening. Kai sibuk mengetik pesan pada Taemin agar namja itu segera datang. Sedangkan Shin You hanya mengamati namja di hadapannya dengan perasaan tidak enak.

“Kai, gomawoyo. Dan, mianhae.” Ucap Shin You tiba-tiba yang berhasil mengalihkan konsentrasi Kai dari layar ponselnya.

Mwo? Terima kasih dan maaf untuk apa?” tanya Kai bingung.

“Terima kasih untuk segala kebaikan, pengertian dan perhatian yang kau berikan untukku. Dan maaf, karena setelah kau memberikan itu semua untukku, aku tidak bisa membalasnya dengan perasaanku.” Shin You tertunduk menyesal.

“Oh itu..” Kai diam sejenak untuk berpikir. “Gwenchana. Aku melakukannya bukan untuk meminta balasan darimu. Aku sadar, Taemin lebih tepat dan lebih berhak bersamamu. Dan aku pikir, hatimu pun merasa begitu. Iya, bukan?” Kai mengangkat tangan kirinya yang kosong dan mengusap lembut kepala Shin You yang terbungkus topi rajut.

Yaa~”

 

Sontak Shin You dan Kai melihat ke arah pintu kamar. Mereka mendapati Taemin sudah berdiri di sana dengan wajah ditekuk.

“Ups, pacarmu sudah datang. Kita lanjutkan besok lagi ya?” Kai menarik tangannya dari kepala Shin You. Kai melirik Taemin seraya tersenyum jahil kepada Shin You. Shin You terkekeh pelan menyadari arti senyuman Kai yang bertujuan untuk membuat Taemin ‘panas’.

Ya! Ya! Ya! Apa yang akan kalian lanjutkan besok?” tanya Taemin curiga sambil melangkah masuk mendekati mereka.

Kai hanya tersenyum simpul dan mendekatkan bibirnya ke telinga Taemin. “Itu.. Rahasia.” Bisiknya sambil tersenyum nakal. Mendengarnya, Taemin menjadi kesal. “Sudahlah, aku pergi dulu. Aku masih memiliki tanggungjawab untuk merawat Hanna. Bye!”

Bagai disiram minyak tanah dan dinyalakan api, hati Taemin langsung panas terbakar ketika melihat Kai mencuri kesempatan untuk mencium kening Shin You sebelum namja itu cepat-cepat pergi. Taemin semakin kesal karena Shin You kelihatan tenang dan sekarang justru sedang menertawainya.

“Kau pikir ini lucu, huh?” rajuk Taemin sambil duduk di pinggiran ranjang rawat Shin You dan menatapnya kesal.

“Sangat. Sudahlah, Oppa. Hanya ciuman di kening saja, bukan?”

Andwae! Aku tidak percaya padanya.” Kata Taemin masih kesal. Shin You kembali tertawa.

Aigoo.. Oppa, kau lucu sekali. Sejak kapan kau bisa memasang wajah semanis itu?” Shin You tertawa lagi. Taemin tertegun melihat tawa Shin You. Sedetik kemudian, wajahnya berubah sedih. Taemin menundukkan kepalanya dalam. Shin You yang menyadari hal itu menjadi bingung.

“Cukup, Younnie. Jangan tertawa lagi. Kau terlalu memaksakan diri untuk terlihat baik-baik saja di hadapanku dan semuanya.”

DEGH!

Taemin mengangkat wajahnya dan menatap Shin You dalam. Shin You hanya bisa menghindari tatapan Taemin dan menghela nafas panjang.

Hening. Di antara keduanya terjebak dalam suasana yang tidak mengenakan sekarang. Hingga tangan Taemin meraih jemari tangan Shin You yang berwarna putih pucat dan terlihat kurus. Tiba-tiba Taemin memasangkan sebuah cincin perak bermata satu di jari manis tangan kanan Shin You. Shin You terharu melihatnya.

“Aku pernah berjanji akan memberimu hadiah yang lebih baik dari sebuah gelang.” Kata Taemin sambil menyentuh dan memandangi gelang berliontin anak ayam yang melingkar di pergelangan tangan gadis itu.

Gomawo. Cincinnya cantik sekali.” Shin You tersenyum tulus.

Mani apha? (Apakah sakit sekali)?” tanya Taemin lirih sambil memandangi wajah Shin You yang berubah tirus dengan tulang pipi yang terlihat menonjol, mata yang cekung dan memiliki lingkaran hitam. Tatapan gadis itu sayu, terlihat lelah. Dan bibirnya berwarna pucat. Taemin mengalihkan pandangannya pada rambut panjang Shin You yang semula tebal dan sekarang mulai menipis. Bahkan gadis itu sudah mengenakan topi rajut untuk menutupi kulit kepalanya yang mungkin mulai tampak melebar.

“Jangan khawatir. Sebelumnya, selama dua tahun aku sudah mengalami hal yang sama seperti ini.” Kata Shin You berusaha menenangkan Taemin. Taemin menunduk dan menangis lagi.

“Jika memang sakit, tolong katakan saja. Jangan menutupinya dariku. Dan jujur, ‘waktu 3 bulan’ itu benar-benar menggangguku.” Balas Taemin dengan suara bergetar karena tangis. Melihat itu, Shin You ikut meneteskan air mata. Ia juga sebenarnya merasa takut. Sangat takut. Bukan kematian yang ia takuti, karena ia tahu cepat atau lambat Tuhan akan memanggilnya untuk datang kepadaNya. Ia dapat merasakan itu. Namun, yang ia takuti adalah ia harus meninggalkan orang-orang yang ia sayang. Meninggalkan Taemin, Kai, Hanna, dan Dr. Yurra.

Banyak orang berkata, kalau kematian yang merenggut nyawa seseorang akan membuat orang yang telah meninggal itu merasa sedih karena meninggalkan orang-orang tersayangnya di dunia. Tapi, sebenarnya, justru orang-orang tersayang yang ditinggalkan di dunia itulah yang paling merasakan sedih. Dan Shin You tak mampu membayangkan bagaimana Taemin nanti jika ia meninggalkannya.

Oppa..” lirih Shin You sambil berusaha menegakkan tubuhnya dan menarik Taemin ke dalam pelukannya. Namja itu menurut dan balas memeluk Shin You. Bahkan lebih erat dari pelukan Shin You terhadapnya. Namja itu menangis. Terus menangis. Bahkan hingga nafasnya menjadi tersendat-sendat. Sedangkan Shin You lebih memilih untuk menangis dalam diam. Dan mengusap sayang kepala Taemin dalam pelukannya.

Saranghae, Younnie. Jeongmal saranghae. Ku mohon, jangan pergi. Jangan tinggalkan aku..” bisik Taemin dengan suara bergetar.

Taemin semakin erat memeluknya, tak peduli apakah Shin You akan menjadi sulit untuk bernafas atau tidak. Taemin hanya ingin merasakan detak jantung Shin You, deru nafas Shin You dan rasa hangat yang memancar dari tubuh Shin You. Meskipun tak lama setelah itu Taemin merasa detak jantung Shin You mulai melemah, meskipun Taemin merasa deru nafas Shin You mulai menghilang dan meskipun rasa hangat itu mulai terasa dingin dan menusuk kulitnya. Yang Taemin ingin hanya satu, tetap berada dalam pelukan Shin You.

Oppa, hanya satu pesanku. Jika aku sudah tiada nanti, kembalilah kau padanya. Kembalilah bersama Hanna. Cintai dia seperti dulu. Cintai dia seperti kau mencintaiku sekarang. Selalu bersamanya di waktu kapanpun. Dan, menikahlah dengannya.”

Taemin hanya bisa mengangguk lemah. Dalam hati sebenarnya ia tak ingin. Ia tidak mencintai Hanna. Selama ini hatinya sudah terpatri dengan hati Shin You. Tapi jika Shin You benar-benar meninggalkannya, akankah ia bisa menerima Hanna kembali?

Shin You tersenyum lembut dan memejamkan kedua matanya perlahan saat ia tahu waktunya telah tiba. Shin You sadar, ternyata ia memang menunggu kehadiran Taemin di dekatnya agar ia bisa meninggalkan dunia dengan tenang. Dan Taemin pun sadar, belaian sayang tangan Shin You di kepalanya sudah tak terasa lagi. Gadis itu diam. Tak bergeming. Suatu tanda, bahwa Kim Shin You telah pergi….

***

Lima tahun kemudian….

Hanna berjalan menyusuri sebuah koridor yang tampak lengang. Tangan kanannya terjulur ke samping, menyentuh dinding koridor yang ia rindukan, seirama dengan langkah-langkah kakinya.

Tujuh tahun yang lalu, koridor ini adalah koridor yang selalu ia lewati bersama Shin You setiap berangkat dan pulang dari sekolah. Di koridor ini juga lah, biasanya ia melihat Shin You dan Taemin bersama. Atau di koridor ini lah, ia mencuri-curi kesempatan agar bisa memandang atau sedikit mengobrol dengan Kai saat mereka semua masih SMA dulu.

Ya, sekarang Hanna sedang berada di gedung SMAnya. Tempat yang menciptakan banyak kenangan di antara mereka berempat. Dan hanya dengan pergi ke tempat itu Hanna bisa melepas rindunya terhadap Shin You yang telah pergi jauh dari semuanya.

“Hanna-ya!” seru sebuah suara. Suaranya yang lembut, menggema di sepanjang koridor yang lengang itu.

Di seberang sana, sosok seorang namja bersetelan jas hitam dipadukan dengan celana panjang yang berwarna hitam pula, berdiri dengan wajah yang terlihat senang karena berhasil menemukan Hanna. Hanna tertegun menyadari kehadiran Taemin di hadapannya.

Dalam hitungan detik saja, kini Taemin sudah berdiri di hadapannya dan langsung memeluknya erat. Hanna tidak tahu Taemin kenapa, tapi gadis itu tetap membalas pelukannya.

“Akhirnya, aku menemukanmu.” Kata Taemin membuat alis Hanna bertaut. “Kau telah membuat suamimu sangat khawatir karena kau tiba-tiba menghilang seperti ini. Syukurlah, ternyata dugaanku tepat. Kau sedang mengenang Younnie di sini.” Jelas Taemin lagi sambil mempererat pelukannya.

“Tunggu, memangnya kau kira aku pergi kemana, huh?” tanya Hanna curiga. Hanna mendorong tubuh Taemin pelan agar ikatan mereka terlepas. Taemin menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Aku pikir kau pergi ke mall lagi, berbelanja dan menghabiskan uang suamimu. Aku tak bisa membiarkan hal itu terjadi. Sudah saatnya kau berubah menjadi seorang istri yang bisa mengatur keuangan dengan bijak. Jangan menghabiskan uang seenaknya.” Taemin mencengkeram kedua bahu Hanna dan tertawa canggung.

PLETAK!

Hanna reflek menjitak kepala Taemin. Namja itu langsung mengaduh kesakitan.

“Rasakan! Kau kira aku bisa bersenang-senang di hari kematian Shin You yang ke lima tahun ini, huh? Neo michiesseo??” tanya Hanna sarkatis. “Lagipula, kau ini siapa sampai menceramahiku seperti itu?” tanya Hanna sebal.

Ya! Apa katamu? Aku ini adalah—aish, sudah jangan marah. Mianhae, aku tidak sengaja berpikiran seperti itu. Ya sudah, ayo kita pergi sekarang!”

Tanpa aba-aba, Taemin langsung menggengam tangan Hanna dan menariknya agar Hanna mengikuti langkahnya. Hanna hanya menghela nafas dan mengiyakan. Gadis itu menjadi penurut jika sudah di hadapan Taemin seperti sekarang.

Taemin membawa Hanna masuk ke dalam sebuah mobil yang sudah sangat Hanna kenali. Taemin membuka pintu tempat duduk sebelah kemudi dan mempersilakan Hanna untuk masuk. Hanna menurut. Taemin pun menutup pintunya.

Hanna masih memperhatikan Taemin yang memutari mobil dan membuka pintu di kursi penumpang di belakang kursi kemudi. Namja itu pun masuk dan duduk manis di sana setelah menutup pintu. Taemin mengangkat satu alisnya, memandang Hanna dengan tatapan kenapa—kau—melihatku—seperti—itu?

“Aku bersyukur kau tidak menghabiskan uangku lagi untuk shopping, Hanna-ya. Mendiang Shin You benar-benar menolongku kali ini. Kau pikir berapa tagihan kartu kreditmu yang harus kubayar bulan lalu, huh? Kau mau membuatku jatuh miskin, huh? Kau tahu, ibuku selalu mengomel karena melihat kebiasaan burukmu itu.”

Hanna memutar kedua bola matanya begitu mendengar suara seseorang dari samping kanannya.

Suara itu. Suara yang membuat Hanna jengah sekarang di hadapan Taemin. Bagaimana bisa namja itu memarahinya di depan Taemin? Taemin yang mendengar omelan namja yang duduk di depannya hanya bisa menahan tawa. Rasanya menyenangkan melihat sepasang suami-istri yang sedang ribut.

Ya, Hanna dan Kai. Mereka sudah menjadi pasangan suami-istri sejak setahun yang lalu. Dan pada kenyataannya, Taemin tak bisa menuruti pesan sekaligus permintaan terakhir Shin You untuk kembali dan menikahi Hanna.

Hanna mencintai Kai. Taemin sangat paham akan hal itu. Tapi yang membuat Taemin agak terkejut adalah, setengah tahun setelah kepergian Shin You, Kai datang menemuinya dan meminta Taemin agar tak berusaha mendapatkan Hanna lagi. Penyebabnya adalah karena namja itu telah jatuh hati pada seorang Choi Hanna yang bersisik, ceroboh, cerewet dan manja. Meskipun sejak awal Taemin memang tak berniat untuk melanjutkan hubungannya dengan Hanna, tapi Taemin cukup dibuat syok karena ternyata Kai sekarang bisa membalas cinta Hanna. Taemin tak habis pikir bagaimana caranya Hanna bisa membuat Kai jatuh ke pelukannya. Apa mungkin Kai sudah terlalu nyaman berada di sisi Hanna selama ini—mengantar-jemputnya ke kampus dan ke rumah sakit, bahkan selalu menjadi sasaran omelannya.

Taemin menghela nafas. Ia sekarang sadar, cinta datang memang pada siapa saja, dimana saja, kapan saja dan dengan alasan apa saja. Bahkan alasan terkonyol pun itu bisa terjadi. Seperti cinta yang tumbuh di antara Kai dan Hanna.

Ya! Kenapa kau selalu berpikiran buruk padaku, Kai?!” Taemin tersentak dan merasa tertarik dari lamunannya tadi. “Bukankah kau sendiri yang harus menghadiri acara penting itu bulan lalu, huh? Sebagai istri yang baik tentu aku berkewajiban membelikanmu setelan jas baru untuk kau pakai. Seharusnya kau berterima kasih atas inisiatifku!!” Hanna mengomel lagi. Taemin hanya memandang keduanya malas.

Call! Kuucapkan terima kasih karena kau telah membelikanku setelan jas mahal yang mampu menguras semua uang tunai di dompetku untuk membayar tagihannya.” Sindir Kai kritis. Hanna mendelik disindir seperti itu.

YA! Uangmu tidak akan habis hanya karena dipakai untuk membeli jas itu, Bodoh!” umpat Hanna.

Aish jincca, Nyonya Yook bicaramu itu…” Kai menggantungkan kalimatnya. “Aish! Seharusnya setelah aku tahu aku tidak bisa mendapatkan Shin You, aku langsung kembali pada orangtuaku di London dan meminta mereka melakukan perjodohan lagi denganku. Sehingga aku tidak jadi menikah dengan gadis ababil sepertimu. Bahkan sampai jatuh hatu pada yeoja serampangan sepertimu yang gemar sekali berteriak!”

Taemin mendesah sambil memutar kedua bola matanya. Jika sudah seperti ini, ia lebih memilih menjadi penonton saja. Jika ia mencoba-coba masuk ke dalam pertengkaran, yang ada ia yang akan dipojokkan oleh kedua manusia labil itu.

Beruntung, Taemin menemukan sebotol air mineral di sampingnya. Masih utuh, belum terjamah. Ia butuh air untuk melegakan tenggorokannya yang kering karena tadi ia berlari-lari mencari Hanna di gedung sekolahnya.

“Oh, geuraeyo? Geurae! Pergi sana dan mengadu pada orangtuamu. Ceraikan aku dan aku akan menikah dengan Taemin saat itu juga!”

BRUSSSHH!!!

Air yang diminum Taemin kontan menyembur kursi kemudi di depannya dan berhasil mengenai rambut bagian atas milik Kai. Bahkan Taemin tersedak sampai terbatuk saking kagetnya mendengar kata-kata Hanna.

“Uhuk! Uhuk!” batuknya. “Yaa~ Choi Hanna. Jangan melibatkanku, dong. Suamimu bisa membunuhku jika kau sembarang memakai namaku untuk kau jadikan pelampiasan. Seperti kau tak tahu saja, bagaimana lima tahun lalu seorang Kim Jongin merengek-rengek di hadapanku agar aku tak mengajakmu berkencan lagi.”

Kai menggeleng pelan dan menundukkan kepalanya. Namja itu memijat pelipisnya frustasi. Frustasi menghadapi Hanna, istrinya. Frustasi jika ia mengingat bagaimana dirinya yang seperti orang gila lima tahun lalu demi seorang Choi Hanna. Istrinya itu memang suka sembarangan bicara jika mereka sudah bertengkar. Bahkan mengucap kata ‘cerai’ pun sampai sebegitu gamblangnya.

“Sudah. Aku tak mau tahu. Sekarang kita berangkat saja. Jika mobilku sedang tidak ada di bengkel sekarang, sudah pasti aku tidak akan menumpang mobil kalian untuk pergi ke makam Younnie. Kalian berdua, lanjutkan pertengkaran kalian di rumah nanti. Aku sudah tak tertarik lagi menonton kalian.” Titah Taemin datar dengan wajah kesal.

Kai diam. Hanna pun demikian. Mereka menuruti Taemin sekarang. Kai mulai menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya menuju pemakaman.

Sepanjang perjalanan, keduanya diam. Dengan suasana seperti itu, Taemin pun tak bisa membuka suara. Karena bosan, Taemin membuka kaca jendela mobil di sampingnya dan sedikit menyembulkan kepalanya keluar. Ia mendongak, dan melihat langit berwarna biru cerah di atas sana.

Younnie-ya, apa kau melihat kita sekarang dari atas sana? Apa sekarang kau sudah bahagia di sana? Apa yang sedang kau lakukan sekarang? Aku merindukanmu. Sangat. Lalu, Hanna dan Kai. Ya begitulah mereka. Kau lihat kan tadi, mereka bertengkar lagi. Selalu saja seperti itu. Saling mengomel dan berteriak. Aku berpikir, apa mereka tidak bosan ya menjalani hari-hari rumah tangga seperti itu? Hahaha, pasti kau juga sependapat denganku. Tapi dengan cara seperti itulah mereka bisa mengungkapkan rasa kepedulian mereka terhadap satu sama lain dan juga rasa sayang yang menjadi pondasi hubungan mereka sampai saat ini. Kau lihat, walaupun mereka selalu bertengkar, dan Hanna selalu meminta cerai, mereka tak pernah melakukannya. Karena mereka memiliki cara tersendiri untuk saling mencintai. Sama seperti caraku mencintaimu.

 

Younnie-ya, selamanya kau adalah cinta pertamaku. Meskipun benang merah kita harus terpisah oleh kematian, tapi aku tidak pernah menyesal untuk mencintaimu, bahkan sampai saat ini, sampai nanti aku akan menemukan seseorang yang akan mendampingi hidupku. Namun yang harus kau ingat, walaupun kelak aku akan hidup berkeluarga dengan perempuan lain, menjadi suami perempuan lain, namun tidak akan ada yang bisa menggantikan cinta pertamaku, yaitu kau. Hanya kau, Kim Shin You. Aku membangun tempat tersendiri di hatiku untuk selalu menjadi tempatmu. Dan tak ada yang bisa merebut tempat itu darimu. Younnie-ya, berbahagialah di sana. Dan di sinipun, aku akan begitu. Younnie-ya, saranghae.. Yeongwonhi… Karena cinta pertamaku untukmu tak akan pernah mati..

 

~~SELESAI~~

Okesip, selesai sudah proyek ffku yang satu ini. Jujur sempet macet waktu bikin ide di endingnya. Intinya, aku tetep akan buat Shin You mati, cuma sayangnya aku bingung gimana cara menuliskan pas detik-detik kematiannya. Dan alhasil, begitulah jadinya. Entah bagus atau ga. Ilham yang aku dapet di bagian itu ya kaya gitu. Kalo jelek, mohon dimaafkan ya. Hehe.. Oke, ditunggu kritik, saran dan komentarnya. Ga komen, awas aja J

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

5 thoughts on “First Love is Never Die – Part 4 (End)

  1. Waaah sad ending (˘̩̩̩.˘̩̩̩ƪ)
    Kenapa younnie haruz meninggal sih thorr

    Wah pw part3 apa thorr
    Dari part2 langsung loncat kesiniii
    Huhuhu Ъќ †ªΰ ceritanya deh Ƙªρa̲̅ŋ Taemin ketemu younnie

    Kalo Ά̲̣̥​ϑǎ̜̣̍​ sequelnya tambah daebak thor
    ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ •”̮• ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ

  2. hadeuh sedih cuyy bacanya setetes dua tetes sampe beberapa tetes air mata(lebay dikit) keluar juga deh abis baca ini…
    keren thor ceritanya, walaupun part3nya ga bisa dibka, tpi keren dri part2-4 nymbung… bikin ff kya gini lagi yah thor (y)

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s