Who I am? I am an Eve – SPY 12

By           : ReeneReenePott

Cast       : Key, Jessica, Jung Yoogeun, Ariana Clearwater, Chase Lee

Minor cast : Hero, Taylor Kim, Gyuri, Elias, Madeleine, Baek Chan Gi

Genre   : Alternate Universe, Fantasy, Mystery, Sad, Romance

Length  : Sequel

Rating   : PG – 15

Credit poster by : cutepixie artposter/pinkhive.wordpress.com

Credit Spells : Any spells that mentioned in this fiction are belong to JK Rowling in her Harry Potter novel series.

Disclaimer : This plot of fiction and the concept of creature “Eve” are MINE, except the casts and some knowledges—ReeneReenePott

Backsound : BIG BANG – Monster, B.E.G – Cleansing Cream, Infinite – 60 Seconds, Seo In Guk – With Laughter or With Tears, OST. Nice Guy – Change

SPY 12

“Kau tidak usah bekerja,” ujar Hero tiba-tiba saat Jessica sedang bersiap untuk menyamar di perusahaannya. Kegiatan Jessica berhenti sejenak lalu menatap Hero bingung.

“Kenapa?”

“Bosmu murka. Kau tidak akan diperbolehkan bekerja lagi di sana. Dia muak melihat wajahmu,” ujar Hero kalem. Jessica mengerutkan keningnya, membuat Hero mendengus. “Kenapa kau jadi bolot begini sih? Jung Yoogeun memecatmu! Dia merasa tunangannya mati karena kau membawa Key ke acara itu, kan?”

Jessica terdiam. “Oh iya,”

“Tidak ada waktu untuk melawak, Miss,” desis Hero. “Yang pasti, kau jangan keluar dari sini untuk sementara waktu. Amarah pria itu tentu akan meledak, ya, tapi kau tidak perlu ikut campur. Kau bukan lagi urusannya. Kau mau keluar dan memangsanya? Kurasa itu tidak akan terjadi,”

Jessica mendengus. “Baiklah, baiklah. Kalau aku harus melepasnya, aku akan mencari mangsa baru berjenis kelamin wanita,”

“Hooo kau hanya ingin memangsa wanita? Kenapa? Apa jumlah wanita di dunia ini terlalu banyak? Baiklah, kau harus melepasnya,” Hero mengangguk, lalu melotot seketika ketika mendnegar pikiran Jessica. “HAH?!”

“Apa?” tanya Jessica polos. “Kau membaca pikiranku ya?”

Hero mendengus lagi, “Tentu saja, Miss, pikiranmu itu seperti kaset dongeng. Jadi kau takut jatuh cinta, eh? Ckck, hatimu terlalu manusiawi sih,”

“Jangan menyindirku deh,” desis Jessica, lalu terdiam ketika Gyuri tiba-tiba muncul dengan wajah cemberut. “Ada apa dengan wajahmu?”

“Hh, Key sangat liar saat berburu semalam, dan Ty ngamuk karena mereka hampir ketahuan,” ujar Gyuri kalem. Hero hanya diam menatap keduanya bergantian.

“Kenapa bisa begitu?”

“Jiwa muda, biasa,” tanggap Hero cuek lalu melangkah pergi. “Kau harus memakluminya, mungkin dia benar-benar sedang lapar,”

“Tapi Yoogeun pasti curiga kalau aku tiba-tiba tahu kalau aku dipecat,” dengus Jessica yang membuat Hero memutar bola matanya.

“Astaga, Jessica! Kau ketularan tololnya manusia, kah? Yoogeun tahu siapa kau, siapa aku, jadi dia oke-oke sajalah kalau misalkan kau menghilang begitu saja!”

“Hero, dia pasti bisa yakin seratus persen kalau di malam itu aku terlibat dalam pemangsaan Chan Gi kalau aku tiba-tiba menghindarinya! Ayolah, aku tidak ingin mencari musuh di sini,” balas Jessica lelah.

“Harusnya Yoogeun mengerti, kalau itu adalah takdir! Kau sudah memeringatinya, kan, untuk meninggalkan Chan Gi. Tapi dia ngotot. Itu adalah resikonya!”

“Berisik! Kalian pagi-pagi membuat suasana runyam saja sih! Kalau misal Sicca dipecat ya, lebih baik cari mangsa. Gampang, kan?” tiba-tiba Key muncul sambil memakai topi, hendak melakukan penyamarannya sebagai seorang fotografer. Jessica mendengus sementara Hero merilekskan raut wajahnya. “Kalian benar-benar tidak fleksibel,”

“Csh, anak ini…”

“Akuilah itu, pak tua,” sinis Key pada Hero. Seketika amarah Hero melecut, membuat Key bergidik menyadari aura membunuh disekitarnya. “Oke, oke, Hero, maaf. Aku hanya bercanda, oke. Aku pergi dulu,”

Sesudah sosok Key benar-benar menghilang dari kastil, Jessica menatap Hero heran. “Tumben anak itu berangkat pagi-pagi sekali? Bahkan Gyuri dan Taylor belum bersiap,”

“Saat kubaca pikirannya tadi, ia memiliki mangsa baru. Ia harus membuntutinya dulu kan, baru pergi bekerja. Ck, cepat sekali dia mendapat mangsa lagi,” gumam Hero menjawab Jessica.

Jessia menyisir rambut blonde bergelombangnya lalu bangkit berdiri. “Aku harus berkeliar juga. Membosankan berada di sini. Kau tidak pergi? Bukannya kau sudah mendapat pekerjaan?” tanya Jessica pada Hero. Namun yang ditanyai hanya mengangkat bahu.

“Jadwalku agak siang. Tapi jangan sampai kau bertemu Yoogeun. Bisa-bisa dia membeberkan identitasmu di khalayak banyak,” Hero berujar sambil menyilangkan kakinya, pandangannya masih tertuju pada Jessica. “Kau tidak memikirkan itu? Meski, yah, harusnya dia lupa ingatan kalau tahu tentang kejadian itu,”

“Yoogeun menuduhkan apapun padaku juga itu tak akan berpengaruh, Hero. Percaya saja deh. Tapi yah, aku memang sedang tidak ingin bertemu dengannya,” ujar Jessica mengalah. “Aku ingin ke hutan belakang. Dah,”

__

Key tidak tahu kalau Jessica tidak masuk kerja hari ini karena dia berangkat duluan pagi-pagi tadi. Eve pria itu memutuskan untuk pergi ke kantor Jessica dan mengajaknya jalan-jalan saat istirahat siang, sekaligus memberitahu gadis itu kalau ia mendapatlkan mangsa lagi. Ia memaksakan agar langkahnya tidak terlalu cepat hingga disangka berlari, masuk ke bagian pemasaran di lantai tiga dimana biasanya ia menjemput Jessica saat pulang kerja.

“Ah, Key-ssi,” Key menaikkan sebelah alisnya heran. Ada ya yang mengenalinya di sini? Wah, ia tak menyangka bahwa ia sangat populer. Key menoleh dan kepalanya miring karena bingung.

Ye? Anda siapa?”

“Ah, aku Seo Joohyun. Adiknya Seo Jihyun, kalau kau tahu, rekanmu yang menjadi model. Kau mencari Jessica?” tanya Joohyun sopan. Key mengedipkan madanya. Ah, jadi dia?

“Oh, Jihyun-ssi. Ne, aku mengenalnya,”

“Dan… Jessica—dia tidak masuk kantor hari ini. Aku juga bingung kenapa, tapi suruhan direktur mengemas barang-barangnya ke dalam box,” Joohyun menunjuk meja kerja Jessica yang sudah bersih dari barang. “Sepertinya surat pemecatan mampir di mejanya. Kau bisa membawa barang-barang itu kembali padanya, Key-ssi,”

Key menatap meja kerja Jessica bingung. Dipecat tiba-tiba? “Apa alasannya dipecat?”

“Aku juga tidak tahu, Key-ssi. Seisi tim juga bingung, padahal kinerja Jessica yang paling baik diantara kami. Waktu ketika kami mulai bekerja orang suruhan sudah membersihkan tempat itu,” Joohyun mengedipkan matanya menatap Key. Astaga, ia tahu kenapa kakaknya sangat menggilai pria ini tiba-tiba. Joohyun juga merasa ada yang salah semenjak melihat Key. “Bisa kau tanyakan padanya kenapa ia tiba-tiba dipecat seperti ini? Apa ia memiliki masalah dengan Direktur Jung?”

Key tidak menatap Joohyun. Ia sibuk menghampiri box-box itu. Sepertinya ia tahu kenapa. Pembantaian tunangannya. Key tahu Yoogeun pasti mengira Jessica juga terlibat. Ia dan Jessica datang bersama di acara itu. “Aku tidak tahu, tapi terimakasih Joohyun-ssi. Aku akan menyampaikaan salammu untuk Jessica,” Key mengangkat kedua box berukuran sedang itu dengan mudah, membungkuk formal pada Joohyun dan melewati gadis itu tanpa berbicara atupun menatap lagi.

Key baru akan melangkah keluar dari lift ketika tatapannya bertemu dengan pria di depannya. Jung Yoogeun. Mereka bertatapan sejenak sebelum Key memutuskan untuk mengabaikan pria itu dan melanjutkan langkahnya. “Tuan,” panggil Yoogeun karena tidak tahu namanya.

“Key,” desis Key lalu berhenti dan berbalik menghadap Yoogeun. Demikian pula Yoogeun yang sedang tersenyum sinis padanya. “Sepertinya kau tidak menerima kematian gadis itu,”

“Kau tak berhak mengeluarkan sepatah katapun dari bibir biadabmu itu,” rahang Yoogeun mengeras mendapat respon meremehkan dari Key. Emosi dan perasaannya bergejolak melihat Key yang menatapnya dengan seringai menjengkelkan. Menurutnya. “Aku mengeluarkan mahkluk itu dari sini karena aku masih ingin melindungi bangsaku darimu,”

Key berdecih pelan. “Melindungi bangsamu atau melindungi keluargamu dari takdir? Manusia yang bodoh, harusnya kau mengerti eksitensi takdir di kehidupan ini. Kau tak akan bisa melawannya,”

Yoogeun menyipitkan matanya penuh benci menatap Key, berbalik dan melanjutkan langkahnya ke lift khusus. Kedua mata Key masih mengekori Yoogeun yang dengan sosok angkuhnya masuk ke dalam lift sebelum pintunya menutup. “Pria arogan. Harusnya dia sadar bahwa ia harus mati segera. Ck, aku baru sadar Jessica itu bodoh juga,”

Key ingin melanjutkan langkahnya tapi ia berhenti sejenak, merasa adfa firasat. “Key-ssi!” benar saja. Key berbalik dan merasa yakin kalau Joohyun yang memanggilnya. “Bagaimana kalau kita makan siang bersama? Jihyun unni juga mengajakmu,”

Key memiringkan kepalanya. Kalau ia bisa menggunakan sihirnya seperti kepala sekolahnya terhadap makanannya di Hogwarts… harusnya tidak masalah. Seo Jihyun? Double attack. Ia bisa mengetahui seorang Seo Jihyun lebih dalam sebelum memangsanya. Akhirnya Key mengangguk, membuat Joohyun tersenyum senang. “Tapi aku harus mengembalikan barang ini dulu. Aku akan menyusul, beritahu aku dimana tempatnya,”

Lihat? Seorang Key memang sangat lihai dalam mendapatkan mangsa.

__

“Jess, berhenti membuat kekacauan di sini. Ck, aku baru tahu efek dari pengangguran seperti kau menjadi seperti ini. Berarti kau harus mendapat pekerjaan baru!” rutuk Hero sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang sering mereka gunakan untuk berkumpul. Bantal-bantal sudah tak pada tempatnya, tiba-tiba lampu yang harusnya digantung di langit-langit malah sudah mempunyai tiang penyangga dan berdiri di sudut ruangan. Sofa-sofa menjadi satu di sudut ruangan, membuat bagian tengah ruangan kosong dengan sebuah karpet yang tergelar. Jessica menggaruk lehernya yang tidak gatal mendengar Hero.

“Aku tidak punya pekerjaan, makanya aku memberantakan isi ruangan ini lalu aku memberesinya lagi. Well, aku paling susah mencari pekerjaan lagi, Hero. Kecuali kalau aku mendapat mangsa. Oh ya, untuk apa kau di sini? Kau kabur ya? Ini belum waktunya pulang kerja, kan?”

Kening Hero merenyit. “Ini jatahnya makan siang dan sialnya aku tidak bisa makan makanan manusia. Masa aku membiarkan orang-orang melihatku makian jantung mentah? Bisa-bisa mereka meringkusku masuk ke rumah sakit jiwa,”

“Hm, kalau begitu, apa aku punya mangsa lagi? Aku malas berjalan keluar,”

“Berhenti bersikap malas, nona Jessica. Kau punya mangsa baru, ia sudah lanjut usia dan saatnya pergi. Ia berada di rumahnya seorang diri selama puluhan tahun di daerah Busan,” jelas Hero panjang lebar. “Kembalikan barang-barang ini ke tempat yang semestinya, Jessica,”

Jessica akhirnya mengangkat pantatnya yang sedari tadi duduk di atas kepala sofa. “Baiklah, baiklah. Maaf kalau aku membuat kekacauan,” Eve wanita itu akhirnya mulai menyelesaikan ‘kerusuhan’ yang ia sebabkan. “Kalau boleh, Hero. Aku ingin melamar jadi mahasiswa lagi,”

“Aku bukan mesin pembuat ijazah lulus SMA , Jessie. Lagipula, kau bekas pegawai kantoran kenapa tiba-tiba kau jadi mahasiswa? Kau mau cari mati ya,” gumam Hero sebal. Ada apa sih dengan otak Jessica, kenapa sedari tadi rusak? “Pergi dulu duapuluh tahun dari sekarang, maka kau bisa mendaftar menjadi seorang mahasiswa pindahan,”

“Ck, kenapa tiba-tiba kau memanggilku Jessie? Menjijikkan,”

“Bukankah Key pernah memanggilmu seperti itu? Apa itu panggilan sayang dari Key untukmu, jadi aku tak boleh menggunakannya?”

“Berhentilah menggodaku, Hero,”

“Hai, semua,” Key tiba-tiba muncul dari pintu dengan membawa dua kotak barang. “Jess, aku tidak tahu kau dipecat. Pantas saja kau tidak bekerja hari ini,” Key meletakkan kotak-kotak itu di dekat lemari lalu menegakkan tubuhnya dan memandang berkeliling. “Well… ada yang mau mengubah dekorasi ruangan, ya?”

“Yeah, aku juga tidak tahu kalau aku dipecat kalau Hero tidak memberitahuku. Dia yang melarangku pergi seharian ini,” gerutu Jessica.

“Dan, karena Jessie-mu ini bosan seharian, ia mengacaukan ruangan ini dan akan membenahinya lagi. Terdengar cukup gila?” timpal Hero. “Baiklah, waktu makan siang di tempat kerjaku setengah jam lagi. Aku harus kembali, setidaknya untuk membeli bir di jalan. Dah,”

Jessica dan Key sama-sama menatap Hero yang pergi dan sosoknya tak terlihat lagi. “Dan.. kau? Untuk apa kau di sini?” tanya Jessica.

“Mengantar barangmu, tentu saja. Tadinya aku ingin mengajakmu keluar tapi kau tidak masuk kerja. Aku akan makan siang pura-pura dengan Joohyun—” Key melirik jam yang menempel di dinding, “—dan aku akan segera terlambat. Dah, semangat dengan pembenahan ruanganmu,” Key menepuk pundak Jessica sebentar lalu pergi. Meninggalkan Jessica yang masih menatapnya, dan setelah Key pergi kening Jessica berkerut dan kerutannya makin dalam seiring detik berjalan.

“Makan siang dengan Joohyun? Jadi dia mulai menggoda wanita? Ck, dasar lelaki,” Jessica berusaha mengabaikan sebersit rasa cemburu yang tiba-tiba muncul di dalam benaknya. Ayolah, Key terlalu muda untuknya!

__

Itu terjadi di sebuah restoran Jepang yang ada di sekitar jalur utama dan terbesar di kota Seoul. Sepasang kakak beradik sedang terduduk berdua dan menyeruput ocha-nya yang masih mengepul. Sang kakak—merupakan gadis yang riasannya lebih tebal dengan pakaian yang lebih mewah dan wangi Eau de Toilette yang cukup tajam menguar dari tubuhnya.

Unnie, kau pakai parfum berapa botol sih?” sang adik, sebut saja namanya Seo Joohyun yang berpenampilan lebih resmi dan alami mengerutkan keningnya dan mengusap-usap hidungnya. Agak pusing mencium bau parfum yang bisa tercium dari radius dua meter. Sang kakak—Seo Jihyun hanya menatap adiknya datar.

“Aku tidak pakai sebanyak itu. Ngomong-ngomong, mana Key?”

Joohyun mendengus sebentar lalu memutar kedua bola matanya. “Dia mengantar sesuatu kepada sepupunya dulu. Katanya ia akan menyusul. Apa sebaiknya kita pesan makanan dulu saja?” Joohyun menatap kakaknya dan lagi-lagi ia memutar kedua bola matanya karena ternyata kakaknya sama sekali tidak memerhatikannya sedari tadi. “Unnie, kau benar-benar cinta mati pada pria itu, ya?”

Joohyun masih belum mau mengubah ekspresi wajahnya meskipun kakaknya sudah memelototinya tajam setelah mendengar kalimat yang barusan dilontarkannya. “Aku juga punya urusan dengan Key masalah pekerjaan,”

“Tapi kau juga berharap bisa berbicara dengannya tentang hal diluar pekerjaan,” timpal Joohyun penuh percaya diri. “Dan well, dia memang pantas untukmu. Stylish, kaku—sepertimu, dan… kurasa kepribadiannya menarik,”

“Matanya indah, dongsaengie…” Jihyun mendesah dengan pandangan menerawang dan senyum yang terukir lebar.

Unnie, kita ada di restoran untuk makan—“ kata-kata Joohyun tidak langsung keluar ketika matanya menangkap seorang pria yang baru masuk ke restoran itu. Kedua matanya menyipit ketika melihat pria itu—Key dengan pasti melangkahkan kakinya tepat ke arah mereka. Key sudah tahu dimana mereka memilih tempat duduk? Padahal Joohyun memilih tempat yang agak tersebunyi. Sedikit aneh?

“Hai, Maaf ya, kurasa kalian lama menunggu,” Key sudah berdiri di samping meja dan menarik kursi untuk duduk. Senyum Jihyun mengembang  semakin lebar ketika menyadari bahwa Key duduk di sebelahnya.

Gwenchanna, Key-ssi. Kami juga baru sampai,” tukas Jihyun dengan senyumnya. Key ikut membalas senyum Jihyun, lalu berpaling menatap Joohyun. Baiklah, otak Key sudah mau pecah sekarang. Gadis itu—Jihyun benar-benar hampir membuat Key mati. Eve itu menyesal mengambil tempat duduk di samping gadis itu. Sungguh! Aroma yang menguar dari tubuh gadis itu beribu kali lebih tajam tercium oleh Key daripada yang dirasakan manusia. Oh, mati sajalah.

“Kita pesan makanan sekarang,”sesudah berkata demikian Joohyun melambaikan tangannya kepada seorang pelayan yang terlihat tak jauh dari meja mereka. Setelah mereka memesan masing-masing satu—Key sudah bersiap dengan tongkatnya ketika makanan nanti datang, dan mereka larut dalam percakapan setelah pelayan itu pergi.

“Katanya kau memiliki sepupu bernama Jessica?” tanya Jihyun sambil menatap Key intens, siku kirinya bertumpu di datas meja sementara jari-jarinya memainkan rambutnya. Key berusaha menahan seringai meremehkannya yang bisa saja muncul—dan akhirnya ia berhasil mengumbar senyum tipis.

“Ya,”

“Dan kudengar dari Joohyun dia dipecat,”

“Hm,”

“Kenapa?” Key mengangkat alisnya mendengar kata Jihyun, lalu menatapnya.

“Hm… dia tak begitu memberitahuku. Dan… kurasa dia tambah sibuk sekarang,” alis Jihyun maupun Joohyun keduanya sama-sama terangkat bingung.

“Dia sibuk apa?”

Key tersenyum tipis lagi. “Dia tidak memberitahuku,” Jihyun masih memainkan rambutnya tapi ia merasa bahwa Key tidak ingin berbicara lebih lanjut soal Jessica. Ia mulai mencari topik lain.

“Ah! Key-ssi. Aku mendapat tawaran untuk pemotretan majalah lagi. Katanya kau yang akan menjadi fotograferku,” sambil memantang Jihyun berbicara, Key membatin. Apakah gadis ini tidak capek tersenyum terus? Sejujurnya, well, Key agak muak melihat senyum Jihyun itu.

“Hm, ne. Aku mendengarnya. Pemotretan akan dilaksanakan lusa,”  Joohyun menggaruk belakang lehernya dengan satu jari selama percakapan itu berlangsung. Oh. Dia benci ini. Dia seperti obat nyamuk di tengah gudang kosong.

__

“Kita pindah ke Seoul,” gumam Ariana pelan. Chase hanya menatapnya dengan pandangan kosong. Ya, mantra Imperius yang dikenakan kepadanya masih sangat bekerja. “Kupikir akan lebih mudah kalau kita semakin dekat pada target,” lagi-lagi Ariana berkata dengan tangannya yang memainkan gelas berisi wine. “Tapi, Lee…”

“Ya?”

Ariana mendengus sedikit. “Aku masih belum menemukan Key. Aku tidak mendapatkan jejaknya dimanapun. Lee, kita harus bertindak,” tidak ada yang tahu—bahkan Ariana, bahwa Chase paling benci dipanggil dengan marganya. Tapi apa yang bisa ia perbuat? Jiwanya sendiri tidak sadar, mantra Imperius bergitu kuat membelit jiwanya. “Apa yang kau ketahui tentang Key?”

“…”

“Lee?”

“Aku tidak begitu tahu tentangnya, Nona,” jawab Chase datar. Kening Ariana berkerut sempurna. Gadis itu melepaskan tatapannya dari Chase lalu meneguk wine-nya dalam satu tegukan.

“Tapi kau mengenal Jessica, kan?” Chase tidak langsung menjawab. “Kau tahu seseorang yang menyebut Key di hadapanmu?”

“Aku tidak begitu tahu,” ulang Chase. “Sungguh, nona. Tapi… aku tahu seseorang yang dekat dengan Jessica. Namanya Hero, dan aku pernah bertemu dengannya. Mungkin, Hero tahu dimana Key,” mata Ariana berkilat senang, namun ekspresi wajah Chase masih sama. Tanpa ekspresi.

“Kau tahu dimana Hero? Kau menjalin hubungan baik dengannya, kan?” interogasi Ariana. Harapannya berkembang makin tinggi. Chase tidak menjawab, dan dia hanya mengangguk. Ariana kini menyeringai lebar. “Kau memang berguna untukku, Chase Lee,”

__

“Kau gila?” ekspresi Madeleine sekarang melotot, menatap pergelangan tangannya yang digenggam Elias begitu erat. “Kau harusnya sadar kita ini ‘apa’!”

“Lalu?”

“Elias, berpikir jernihlah! Kenapa semua yang berjenis kelamin pria sama saja sih? Elias, aku sungguh tidak ingin ada lelucon di sini,” Madeleine mendelik, matanya menatap wajah Eias tajam. “Aku… aku tidak mengerti perasaan itu, kau tahu?”

“Kau sungguh tidak mengerti?” Ingin sekali rasanya Elf wanita itu membuka isi otak si Elias ini. apa sih yang ada di pikiran Elf pria itu? Tiba-tiba menanyakan jatuh cinta, berpacaran, pernikahan… semuanya membuat kepala Madeleine terasa pusing! Memang benar ia pernah memikirkan hal itu KETIKA ia masih menjalani hidup tak tentunya lebih dari sepuluh tahun yang lalu sebelum Elias menemukannya.

Madeleine menatapnya penuh selidik. “Kau mempunyai niat terselubung dibalik ini, kan? Elias, kau harusnya tahu bagaimana kondisiku. Bukankah kau yang menemukanku? Jangan membuatku tertawa!” sergahnya lagi.

“Jadi, itu juga alasanmu ketika menolak Joon? Tidak mengerti suatu macam perasaan yang kau biasanya rasakan ketika—”

“Tidak! Aku sama sekali tidak mengerti!” dan Madeleine tiba-tiba melongo ketika melihat Elias menghembuskan napas lega dan melepaskan genggaman tangannya. Ada apa dengan mahkluk ini? Terkena racunkah? “Ta-tapi… kau tahu?”

“Untung saja! Untung saja kau menolaknya karena itu! Haaaah!”

Grep

Mata Madeleine kembali mendelik ketika tubuhnya membentur dada bidang Elias, dan ia tak lagi bisa menatap wajah Elias yang kini bersandar di bahunya. “Terimakasih. Aku bisa gila kalau kau menerimanya,”

Degh!

Kening Madeleine berkerut.

Ap-apa ini?!

__

Jarum jam sudah menunjuk ke angka setengah lima dan ruang tengah kastil kediaman Hero dan gerombolannya sekarang sudah rapi seperti sedia kala. Si pengacak—Jessica kini malah duduk terdiam sambil bersandar di sofa. Tangan kirinya memegang sebuah Ipad sementara tangan kanannya dengan lincah mengoperasikan alat itu. Ekspresinya nampak sangat serius dengan alat itu, sampai ia sama sekali tidak sadar bahwa seseorang sudah duduk tepat di sampingnya, memandangnya intens.

“Disini kita tidak punya jaringan WiFi, kau tahu,” gumam pria itu. Perlahan punggungnya bersandar di sofa dan tangannya terulur memainkan rambut blonde Jessica yang bergelombang dan tergerai dengan lembut di pundaknya. Jessica menoleh lalu tersenyum kecil.

“Tapi aku masih bisa browsing. Nih,” kilah Jessica sambil menunjukkan layar Ipad ke arah pria itu. “Key, jangan membuat rambutku kusut ah,”

“Karena aku sudah menyetelnya. Hei, kau kenal dengan Seo Joohyun?” tanya Key tiba-tiba. Jemarinya masih asik memainkan rambut Jessica di sampingnya. “Jessie?” panggil Key lagi ketika dirasakannya Jessica tidak bereaksi.

“Kenal. Kenapa?” jawabnya dingin. Kening Key berkerut.

“Kau kenapa, Jess?” jemari Key berhenti memainkan rambut Jessica, gantian matanya yang bingung menatap Jessica. “Kenapa kau jutek sekali?” Jessica mendengus.

“Tidak kenapa-kenapa,” balas Jessica lemah. “Bagaimana makan siang kalian?” ia balik bertanya. Key mendengus lalu mengangkat kedua bahunya.

“Ya seperti itu. Seperti makan siang, memangnya seperti apa,”

“Bagaimana menurutmu?” tanya Jessica lagi. Key menoleh.

“Apanya?”

“Mereka. Bagaimana menurutmu?” kening Key berkerut bingung.

“Mereka siapa?”

Jessica berdecak kesal. “Joohyun dan kakaknya. Bagaimana menurutmu?” tanya Jessica lagi, merasa jengah. Ekspresi Key kembali normal dan ia mengangguk mengerti.

“Ah. Mereka… manusia. Kakaknya namanya Seo Jihyun dan dia merupakan mangsa yang mudah,” balas Key santai lalu menyandarkan tubuhnya ke bahu Jessica. “Kenapa? Kau cemburu aku menemui mereka?” seringai Key mulai keluar ketika Jesssica tak menjawabnya lagi. “Jessie~ aku bertanya padamu,”

“Tidak,” sahut Jessica cepat. Matanya melebar lalu menyingkarkan Ipad yang sedang ia pegang ke atas meja. “Memangnya apa alasanku untuk cemburu? Untuk apa juga?” Key menegakkan duduknya dan malah melingkarkan lengannya di sekeliling bahu Jessica, memaksa wanita itu menyandarkan kepalanya ke bahu Key.

Bohong. Key jelas-jelas melihat ekspresi Jessica yang sedari tadi kesal setelah ia tinggalkan begitu saja untuk makan siang bersama kakak beradik Seo. “Kau bohong Jessie. Katakan saja kau tidak suka aku bertemu mereka, maka aku tidak akan menemui mereka lagi,” ujar Key rendah, tangannya yang lain mengusap pipi mulus Jessica lembut.

“Key… kau suka sekali skinship denganku,” komentar Jessica akhirnya.

“Karena aku menyukaimu noona~” Key mengeluarkan lagi nada manja yang sering ia gunakan waktu kecil dulu ketika memanggil Jessica, membuatnya terkekeh sendiri.

“Hentikan itu, Eve kecil!” balas Jessica lalu tertawa menatap wajah kesal Key.

“Eve kecil? Cih, lihat lah sendiri, Jessie, kau harus mendongak untuk menatap wajahku ketika kita sama-sama berdiri,” sahut Key mencibir. “Dulu kau juga sering menggendongku. Dan sekarang lihat siapa yang pantas digendong,”

“Baiklah, baiklah,”

“Jessie,”

“Hm?”

“Aku mencintaimu,”

“APA?!—” Jessica melotot ketika tubuhnya yang dirangkul Key ditarik mendekat dan seketika bibirnya terkunci dengan sebuah bibir hangat. Dan ia bernapas lagi beberapa detik sesudahnya, masih dengan ekspresi yang sama, sangat terkejut. Wajah Key sudah menjauh dan Eve pria itu sudah tidak merangkulnya lagi.

“A-aku ingin istirahat sebentar,” Jessica menatap bingung pada Key yang tiba-tiba bangkit dan beranjak pergi. Meninggalkan Jessica ditempatnya dengan seribu tanda tanya diotaknya.

“Kenapa dia?”

__

“Hero,” Hero baru saja memunculkan kepalanya ke depan kastilnya ketika seseorang memanggilnya pelan. Suara pria. Hero sempat terkejut ketika menyadari ada seseorang di sekitarnya. Chase? Ia menoleh ke kanan dan ke kiri.

“Keluarlah Chase,” tanggap Hero pelan. Eve itu memiringkan kepalanya ketika Chase muncul dari balik sebuah pohon sambil merapikan bajunya. “Untuk apa kau di sini? Mencari Jessica? Gadis itu baik-baik saja,” Hero menjawab pertanyaan dipikiran Chase langsung.

“Dimana dia?”

“Dia di dalam kastil. Kenapa? Kau ingin bertemu dengannya? Akan kupanggilkan,” Hero hendak masuk tapi tangan Chase mencegahnya. “Apa?” tanya Hero karena pikiran Chase kosong sejenak.

“Kau tahu dimana seorang yang bernama Key?” tanya Chase langsung. Kedua mata Hero langsung menyipit tajam.

“Apa maksudmu?” Hero mencoba membaca pikiran Chase tapi tidak ada apa-apa disana. “Apa yang kau ketahui tentang Key?”

“Dimana dia?”

“Key? Untuk apa kau mencarinya?” tanya Hero lagi. Chase menatap Hero datar. “Apa maksudmu menanyakan Key?” pikiran Hero mulai berkata bahwa Chase ingin melihat tampang seperti apa Key itu. Jangan-jangan Chase sudah tahu kalau… Key memiliki keterkaitan dengan Jessica? Tapi darimana dia tahu?

“Kau tahu siapa Key?”

“Tentu saja. Dia berada di…” Hero mengerutkan keningnya ragu. “…kastil. Bersama Jessica,”

JEEEEENG

Hero melotot ketika menyadari bahwa tak ada Chase di pikiran werewolf-nya. Ada seorang wanita…Tidak tidak tidak. Ini tidak mungkin. Hero makin tercengang ketika Chase menyeringai mengerikan lalu berlari berbalik menjauh. Pikiran Chase dikendalikan! Tapi seketika Hero tercenung. Kenapa? Kenapa Key? Hero mendengus. Kekacauan apa lagiii yang dibuat anak itu hah?

Seketika itu juga Hero berbalik masuk ke dalam kastil dan meneriakkan nama Key. “Key! Mana anak itu?!”

Madeleine yang ada di dalam dan kebetulan lewat ruang depan hanya bisa bingung menatap Hero. “Apa? Kenapa tatapanmu seperti itu? Key ada di ruangannya,” Madeleine berkata polos. Lalu berpikir lagi. “Mungkin,” ia mengangkat kedua bahunya. “Oh ya, kau sudah pulang ya. Tumben pagi sekali,”

Hero menghiraukan Madeleine yang berkerut bingung. “Ada apa sih?”

“Ada werewolf yang mencarinya,”

Madeleine mengangkat kedua alisnya heran. “Lalu? Apa itu sesuatu yang salah? Setidaknya itu bukan niat membunuh, kan?” tapi Elf itu terdiam ketika Hero meliriknya tajam. Well, kalau Hero berekspresi seperti itu berarti sesuatu yang gawat sedang terjadi. Tapi sayangnya dia tidak tahu itu apa. “Bukankah lebih banyak kenalan lebih baik?” gumamnya akhirnya dengan suara yang sangat pelan.

“Tapi werewolf itu pergi lagi. Kalau iya bukan tujuan membunuh, untuk apa pergi lagi? Aku bisa memanggil Key keluar dan kalau memang ada masalah, selesaikan sekarang bukannya mengulur waktu seperti itu,” tanpa sadar suara Hero meninggi, membuat beberapa orang penghuni kastil itu mendekat.

“Wow wow wow, Hero, tenangkan dirimu,” Gyuri tiba-tiba muncul dan di belakangnya diikuti Elias. “Bisa-bisa suaramu terdengar sampai keluar bahkan sampai pada mahkluk yang kau maksud itu,”

“Itu hanya sekedar datang dan pergi. Menanyakan keberadaannya. Mungkin ia akan membuat perhitungan sendiri dengan Key—dan sejak kapan kau jadi emosian begini?! Kalau belum melanggar yang seharusnya kau baru campur tangan, ini kenapa kau meledak duluan?” Madeleine balas berseru dengan suara yang lumayan keras. “Kau biarkan saja dulu, toh kalau memang membawa bencana yaa… hadapilah nanti,”

Key menatap Hero dan Madeleine yang kembali sengit dengan bingung, “Wow—ada apa ini?! Kenapa bawa-bawa namaku? Ada apa sih? Aku belum pernah melihat kalian hampir saling berteriak seperti itu,” komentar Key sambil mengerutkan keningnya. Hero menoleh menatap Key tajam.

“Kau bertemu dengan seorang werewolf saat kau bersekolah?”

Key melongo lagi. “Tidak! Aku tidak pernah bertemu werewolf—kecuali Professor Lupin, tapi untuk apa kalian menanyakan itu? Aku tak pernah bertemu werewolf lagi setelah itu!” lagi ia memandang Hero dan Madeleine bergantian. “Ada apa sih?”

“Ada werewolf yang mencarimu. Namanya Chase,” gumam Hero. Ia menatap mata Key tajam. “Tapi ia suruhan seseorang yang mengenalmu. Setidaknya—kurasa ia diminta untuk mencari tahu keberadaanmu,”

“Ariana?” sekelebat nama itu terlintas dipikiran Key dan tak sengaja pula ia meenyuarakannya. Madeleine, Gyuri dan Hero menoleh menatapnya kaget.

“Apa katamu?” tanya Madeleine. “Siapa dia?” jantung Madeleine berdegup keras. Ariana… kalau tidak salah, ia tahu seorang yang bernama Ariana dan pernah satu sekolah dengan Key. Apakah…?

Key mengedipkan matanya berkali-kali, juga ragu dengan perasaan sesaat yang ia alami barusan. “Ariana—dia teman seangkatku. Kalian ingat gadis yang pernah kuceritakan, yang sering mengejarku? Ariana, dia bukan manusia. Setengah Veela. Dan kurasa… Veela tidak bisa jatuh cinta. Keinginan, obsesi. Itu yang mereka punya,” Key menatap Hero yang terperangah dan Madeleine yang masih menyimak. Gyuri tak lagi menatap Key, ia memerhatikan reaksi Hero. “Setidaknya itu yang pernah kubaca dari salah satu buku di perpustakaan,”

“Jadi, secara tak langsung kau mengatakan bahwa Ariana ini memiliki obsesi terhadapmu dan… dia mencarimu sampai di sini? Mahkluk yang hebat,” komentar Madeleine. Ia kembali mengingat beberapa kejadian yang terjadi antaranya dan Ariana. Dan astaga. Harusnya Madeleine ingat bahwa Hero bisa mengetahui isi otaknya sekarang!

“Veela akan membunuh orang yang membuat mereka marah,” tambah Key diam. Key melirik Hero yang tatapannya berganti tajam menatap Madeleine yang sudah pasrah.

Mati sajalah ia. Pikir Madeleine.

“Kita harus bicara,” gumam Hero dengan suara yang teramat rendah dan tajam sambil menatap Madeleine yang lidahnya sudah kelu. “Berdua,”

To Be Continued…

Maaf  ya lama. Tapi mungkin post selanjutnya juga bakal lama. Tapi ceritanya mau abis, jadi kalo mau tahan-tahanin aja, atau udah bosen? Hehe. Maaf ya, tapi kesibukanku meningkat sekarang. Maaf sekali.

Thank you for reading and comments always allowed!

©2011 SF3SI, reenepott

signaturesf3siOfficially written by reenepott, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

9 thoughts on “Who I am? I am an Eve – SPY 12

  1. Akhirnya keluar jg..
    Dasar Key suka tbr pesona, tp emg mempesona c,hehe..
    Ksian bgt chase dkndalikn ma ariana?!
    Nasib key gmana d0nk?
    Trz hero mw ngapain ma madeleine?
    Aduh..bkin penasaran..
    Lanjut thor..
    Keep writing!

  2. YooGeun yang malang
    Apa kelompok bukan manusia itu akan terus ada? Kasihan manusia.
    Hero, jiwa leadernya keluar.
    Ga sabar buat lanjutannya.

  3. Next nya ditunggu bget loh thor!! pokoknya harus dilanjutin sampe kelar..!!! walaupun harus nunggu berbulan-bulan (?) dulu. hehe aku suka ff author!!!!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s