Beautiful Stranger [Chapter Eleven]

Beautiful Stranger

SENA

Oktober.

November.

Desember.

Tiga bulan dilewati seperti ini, kusebut sebagai “Tanpa Kehidupan”. Setiap hari menjalani aktivitas seperti biasa seperti ‘mengasuh’ anak-anak EXO-K, mendesain banyak pakaian, belajar menata rambut dan make up, juga tak henti melakukan pendekatan dengan ayahku sendiri. Semuanya dilakukan dengan baik, sangat baik malah. Namun, ada sesuatu yang mengganjal hati, aku tahu penyebabnya hanya saja tidak ingin mengakui. Sebab aku berusaha melawan kenyataan ini. Kenyataan bahwa aku luar biasa sedih tidak lagi memiliki kesempatan untuk dekat dengan Jinki semenjak kejadian tiga bulan lalu di dorm SHINee.

Jinki mulai menjauhiku sejak itu. Dia tidak pernah menyapaku sekalipun kami jalan berpapasan, juga tidak pernah menoleh jika kupanggil. Aku seperti tidak ada baginya. Invisible

Tidak lagi ada kesempatan bagiku menjadi coordi pengganti untuk SHINee seperti dulu. Tidak pernah ada lagi SHINee dan EXO berbagi satu ruangan. Itu semua Jinki yang minta pada manajer untuk tidak memiliki kesempatan dekat denganku. Ini buruk. Perasaanku sakit entah kenapa.

Dalam kurun waktu tiga bulan ini aku sering memergokinya tengah mengobrol dekat dengan Kim Jira. Anak itu kini lebih sering datang ke perusahaan karena kedua manajer SHINee telah mengetahui hubungannya dengan Minho sehingga tidak ada lagi yang perlu disembunyikan. Tetapi alih-alih bertemu Minho, aku lebih sering melihatnya dengan Jinki, mereka selalu tertawa lepas ketika mengobrol dan aku iri. Sangat iri setengah mati karena tidak pernah membuat Jinki tertawa seperti itu. Sehingga aku sadar satu hal, Jinki masih mencintai Jira. Gadis itu tidak akan pernah pudar dari hatinya. Jelas aku tidak akan pernah bisa menyamainya, dia sangat cantik dan anggun, tipe ideal semua pria. Sedangkan aku tidak semanis dia. Dan ngomong-ngomong kenapa aku jadi membandingkan diriku dengannya? Kim Sena sudah gila! Indeed.

Siang ini seperti biasa aku berjalan bagai zombie dari lantai demi lantai menuju beberapa ruangan. SM baru saja memindahkan gedung operasional mereka dan kemampuan memori fotografiku sangat membantu untuk menghafal isi gedung dalam waktu singkat. Meski gedung lebih tinggi dari yang sebelumnya, tetap saja tidak dapat menghindarkanku untuk selalu berpapasan dengan Jinki. Seperti misalnya hari ini, setidaknya kami sudah bertemu lebih dari dua kali, tetapi ia tidak pernah memandangku sekalipun. Menyedihkan, Kim Sena.

Sebagai penggantinya, Kris kerap menempel padaku se-ti-ap sa-at, catat itu!

Dia selalu membuntuti kemanapun aku pergi selama jadwalnya memungkinkan. Tetapi berhubung EXO telah berhenti mempromosikan MAMA di televisi, jadwal mereka kini hanya dipenuhi dengan off-air yang sedikit senggang terutama EXO-M yang terlihat sangat menganggur. Setelah beberapa hari lalu mengantar Suho, Baekhyun, Chanyeol, dan D.O. pergi ke tempat pemungutan suara untuk pemilihan presiden, hari ini kami semua disibukkan dengan persiapan penampilan mereka di acara musik akhir tahun MBC dan SBS Gayo Daejun. Aku bertanggung jawab penuh atas kostum-kostum mereka, dan sekedar informasi kalau perusahaan sudah mulai mengakui kemampuanku mendesain pakaian. Tentu saja, mereka tidak tahu dengan siapa saat ini berhadapan.

“Sena!”

Aku menoleh. “Ya, Kris?”

“Kau akan ikut kami ke Nanjing.”

“Nanjing?” Aku mengerutkan dahi. “Tapi, kenapa?”

“Kau ditugaskan untuk ikut EXO-M ke Nanjing.”

Aku tercenung. Memang untuk acara musik di penghujung tahun EXO-K dan EXO-M memiliki jadwal yang berbeda. Tapi kenapa tiba-tiba aku harus ikut EXO-M?!

“Tapi aku bertanggung jawab atas kostum mereka,” tunjukku pada anak-anak yang entah sedang apa berguling-guling di sudut ruangan.

“Kau bertanggung jawab atas kostum EXO, seluruhnya bukan hanya EXO-K. Ayo, kuantar kau ke rumah untuk mengambil pakaian dan paspormu.”

Dan begitulah selanjutnya, aku tidak pernah bisa menolak permintaan Kris. Hubungan kami semakin baik sejauh ini. Tetapi khusus hari ini, aku sebal dengan tingkahnya yang mulai mengaturku untuk terus berada di sisinya. Aku ingin tetap berada di Seoul dan melihat penampilan SHINee! Kudengar mereka akan melakukan kolaborasi dengan f(x). Tetapi sebenarnya hanya satu orang yang ingin kulihat penampilannya dan kau tahu itu siapa …

***

Satu jam terjebak dalam situasi membosankan seperti ini benar-benar membuatku ingin marah. Tetapi aku tidak berhak melakukannya mengingat ini adalah sebagian dari tugasku. Saat ini kami sedang melakukan rehearsal untuk acara musik akhir tahun nanti malam. Sejak tadi aku hanya diam, memberikan minuman, kemudian diam, membantu menyeka keringat anak-anak, kemudian diam, memainkan ponsel, diam lagi. Astaga, benar-benar membosankan!

Kalau saja aku sedang di Seoul bersama anak-anak EXO-K, masih ada Chanyeol dan Baekhyun sebagai penghibur, atau Taemin yang selalu menarik perhatianku dengan tingkah manjanya. Di sini, aku bersama keenam anak-anak dewasa. Bahkan Tao, si bungsu, bertindak sangat dewasa, tidak ada rasa gemas sama sekali. Dan untuk kesekian kalinya, ini sangat membosankan!

“Hyojin, aku pergi sebentar cari udara segar,” pamitku.

“Jangan terlalu jauh! Bahasa Cina-mu payah,” cemoohnya, namun kuakui ia benar seratus persen.

Aku mengangguk dan bergegas pergi meninggalkan gedung dan berbaur dengan puluhan orang yang berjalan di depan pertokoan. Ponsel kukeluarkan dari dalam tas dan mulai membidik beberapa gambar yang menarik. Sejak dulu aku selalu tertarik dengan Cina karena memiliki hubungan erat dengan latar belakang keluarga Kris. Dulu aku selalu ingin kemari, tetapi setelah kini memiliki kesempatan itu, aku justru lebih memilih untuk kembali ke Korea. Detik ini juga meskipun itu sangat tidak mungkin. Ya lebih baik menikmati kesempatan yang ada sebelum acara dimulai sore hari nanti.

Sudah lima belas menit aku berjalan menyusuri trotoar hingga tak tahu sedang di mana posisiku saat ini. Perut berbunyi tiada henti. Sejak tadi batinku bergolak memperdebatkan haruskah aku masuk ke salah satu restoran di sepanjang jalan ini atau tidak. Bukan tidak punya uang, tapi karena aku tidak bisa bahasa Cina. Seperti papan menu yang berdiri kokoh tak jauh dariku, itu bukan seperti tulisan, di mataku semuanya seperti hasil goresan abstrak balita.

Beberapa kali aku menghubungi Kris minta rekomendasi makanan terbaik yang cocok dengan lidahku, tetapi tak ada jawaban. Dia masih sibuk berlatih dengan timnya. Dan berdiri cukup lama seperti ini ternyata meruntuhkan egoku untuk menghubungi seseorang. Aku memotret gambar papan tersebut dan mengirimkannya pada Jinki, aku tahu sedikit-banyak dia bisa membaca huruf pinyin.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Tidak ada balasan. Aku benar-benar hampir mati kelaparan. Sangat menyesal tidak menyimpan alamat gedung tempat acara berlangsung, juga menyesal tidak minta nomor ponsel lokal para manajer.

Aku mengirim pesan lagi untuk Jinki.

      SenaKim: Tolong aku sebelum mati kelaparan di negeri orang!

Masih tidak ada jawaban. Rasanya aku ingin melempar ponsel sekaligus melempar diri ke jalanan karena terjepit dalam situasi ini. Perutku melilit minta diisi, mulut sudah sangat pahit, mata juga berkunang-kunang. Baiklah, Tuhan, jika aku harus pingsan dalam keadaan memalukan seperti ini, aku rela. Paling tidak aku akan menjadi bahan ejekan manusia sekantor ketika sampai di Seoul nanti.

Aku terduduk lemas di sudut jalan. Menunggu keajaiban datang.

“Sena…,” Sayup-sayup aku mendengar seseorang memanggil. “Sena,” panggilnya lagi.

Aku membuka mata dan menemukan Kris tepat berada di hadapanku, menopang tubuhku yang akan jatuh ke tanah.

Bala bantuan datang. Seharusnya aku senang, tapi entah kenapa terselip perasaan kecewa di hatiku perihal siapa penolongnya.

“Kris, save me!”

JINKI

Kim Jira tidak pernah tidak hadir di setiap jadwal padat kami. Dia sudah resmi menjadi ekor Minho semenjak kedua manajer mengetahui hubungan mereka dan merestuinya. Kedua anak itu sekarang lebih terlihat seperti sepasang suami-istri yang tengah berbulan madu, romantis tak terkira, membuat beberapa dari kami mengerutkan jari-jari tangan. Beberapa bulan lalu aku masih cemburu ketika melihat mereka bersama. Jangankan sedang bersama, mendengar Jira menyebutkan nama “Minho” saja rasanya hatiku seperti diperas keras. Sakit sekali seperti mau mati. Tapi sekarang entah kenapa aku merasa biasa saja. Semenjak dia hadir di kehidupanku…

Tiga bulan terakhir ini aku sengaja menjauhinya. Bukan karena aku benar-benar membencinya, tapi karena aku tak ingin terluka lagi seperti manusia bodoh yang jatuh berkali-kali. Mereka memanggilku pengecut, benar sekali, tapi aku tidak peduli. Tidak ada yang tahu bagaimana sakitnya aku ketika diperalat wanita yang disukai. Ingin marah tak bisa, ingin benci pun tak mampu. Semuanya jadi serba salah. Dan lagi-lagi aku terjerat permasalahan seperti ini. Lagi-lagi karena wanita.

Rasa rindu yang bergolak seperti magma di relung hati benar-benar sulit kuatasi. Kadang aku hampir ingin memeluknya ketika kami berpapasan dan ia menyapaku. Suaranya yang tegas tapi nampak rapuh itu menelusup lembut di telinga. Ketika hasrat ingin memeluknya datang, aku akan terus berjalan tanpa melihat wajahnya. Jahat memang, tapi hanya ini yang bisa kulakukan daripada harus menenggelamkan diri di dunia kesakitan lagi.

Semalam SHINee baru saja menyelesaikan rekaman album terbaru kami yang bertajuk “Dream Girl”. Itulah kenapa mataku masih sangat rapat dan lebih memilih untuk duduk diam di ruang tunggu sambil menanti giliran rehearsal untuk acara musik akhir tahun. Akhir –akhir ini kami bekerja tanpa henti. Tidak nampak di televisi bukan berarti kami berleha-leha, justru jadwal lebih padat. Misalnya seperti mempelajari lagu-lagu baru, tarian baru, diskusi dengan para produser musik, mempersiapkan bahan guyonan ketika akan tampil di acara variety show, olahraga membentuk otot, diet, dan lain-lain. Kami hampir gila! SHINee belum mendapat jatah liburan bahkan di hari Natal sekalipun. Kami selalu bekerja keras, itulah mengapa aku takkan ragu untuk membunuh siapapun yang mengatakan kami adalah grup tanpa fungsi. Kecuali dia, aku membiarkannya memanggilku ‘pemimpin grup tak berguna’. Aneh… aku juga tidak mengerti. Lee Jinki sedang gila.

Di sudut ruangan Jira tak henti menyuapi anaknya (Lee Taemin) dengan beberapa makanan yang ia bawa. Dia dalam momen ini biasanya aku akan senang dan membayangkan ia menjadi ibu dari anak-anakku nanti. Tapi kali ini tidak, aku bahkan melihatnya sama seperti Taemin. Mereka seperti seumur, maksudku mereka ya adikku, kini aku menganggapnya seperti adik. Tidak ada perasaan apapun lagi. Kupikir aku akan mencintainya seumur hidup, kupikir perasaan ini akan terus kubawa sampai mati. Tapi ternyata itu semua salah, aku tidak lagi mencintainya. Ada orang lain yang menggantikan posisinya meski baru beberapa bulan ia memasuki kehidupanku.

Kim Sena, apa yang sedang kau lakukan saat ini? Aku benci jika harus membayangkanmu sedang bersama Kris.

“Jinki-ya, ada pesan…,” ujar Kyungshik, manajer kami.

Aku menerima ponsel dan melihat pesan yang masuk setengah jam lalu. Dari Sena, ia mengirimkan sebuah gambar yang penuh dengan tulisan Cina. Di bawahnya ia meninggalkan pesan, “Tolong aku sebelum mati kelaparan di negeri orang,” gumamku. Tanpa membuang banyak waktu aku berlari keluar menuju ruangan sebelah dan mendatangi Chanyeol yang langsung membungkuk memberi hormat ketika melihatku.

“Di mana coordi-mu?” tanyaku dan ia menunjuk dua orang di sampingnya. “Bukan, bukan mereka. maksudku Kim Sena.”

“Dia ikut dengan EXO-M ke Nanjing, mereka ada jadwal di sana,” sahut Chanyeol.

Aku mundur perlahan meninggalkan ruangan dan buru-buru menghubungi Sena. Dia kelaparan dan tak tahu harus makan apa karena tak mengerti tulisan Cina, apa dia berkeliaran sendirian?! Bodoh!

Panggilan tersambung tapi tak ada jawaban. Aku menghubunginya berkali-kali tapi hasilnya tetap sama, tak ada respon. Pikiranku mulai menghadirkan ilusi macam-macam, dimulai dari pingsan, dirampok, atau mungkin benar-benar mati kelaparan. Sial, Kim Sena, cepat angkat teleponnya!

Jira menghampiriku yang tengah panik setengah mati. Ia menatapku bingung dan khawatir.

Oppa, ada apa?”

Aku tak menjawab, memilih fokus menghubungi Sena berkali-kali. Namun tetap saja hasilnya sama, ia masih tak menjawab panggilanku. Aku menarik napas dalam-dalam dan mencoba mengulang panggilan, membuat Jira yang berdiri di hadapanku semakin khawatir.

Panggilanku terhubung, namun…

SENA

Bip.

Aku matikan ponsel dan melemparnya ke dalam tas. Pusing juga lama-lama mendengar suara getarnya. Di saat aku telah ditolong seseorang dia baru menghubungi, hih, di mana sisi jiwa manusianya?! Menyebalkan. Jika kujawab pun panggilannya, dia pasti takkan henti mengolokku ‘bodoh’. Sudah sangat salah aku meminta bantuannya tadi.

Kris datang dengan nampan besar di tangannya. Akhirnya ia membawaku ke restoran ayam cepat saji yang tersebar di seluruh dunia. Di saat aku hampir pingsan tadi, aku tak sadar kalau Mc Donalds hanya beberapa langkah dariku. Memalukan! Dan sekarang Kris tak berhenti menertawaiku.

“Aku hampir saja menelepon rumah sakit dan minta didatangkan ambulans, kupikir kau sakit atau baru saja dihajar penjahat, ternyata…”

“Diam!” seruku dan dia malah menaikkan volume tawanya.

“’Kris save me’…” Dia mengimitasi apa yang kukatakan dan tertawa lagi. Aku melemparnya dengan sebuah tisu yang sudah kugulung menjadi bola kecil. Ia menghentikan tawanya dan berkata, “Aku beli dua ayam, satu burger, dua kentang goreng, dan satu Pepsi ukuran besar. Enjoy it, Babe.”

Don’t call me ‘Babe’!” protesku dan dia hanya menggelengkan kepala.

Babe… baby… dearest.” Dia malah menggodaku. Aku hanya mencubit tangannya dan dia setuju untuk menutup mulutnya.

Berikutnya waktu makan kami habiskan dalam diam. Aku terlalu girang menikmati makanan-makanan ini, lagi-lagi aku melahap seperti babi. Tak perlu malu di hadapan Kris. Dia tahu semua hal tentangku, terutama “membabi” seperti ini, dia tahu aku makan lebih banyak darinya.

Pernah suatu hari setelah mendapat siksaan yang melelahkan dari ibu dan Jiyul, aku kabur ke rumah Kris dan menghabiskan setengah makan malam mereka. Itu adalah pertama kalinya Kris mengetahui aku makan sangat banyak ketika sedang lelah atau dalam mood tertentu. Dan itu adalah hari di mana Jiyul tahu aku dekat dengan Kris dan mulai mengejarnya untuk membuatku cemburu hingga berakhir di malam natal mengerikan dalam sejarah di hidupku.

Ngomong-ngomong tentang malam Natal, beberapa waktu lalu di tengah jadwal liburannya ia mengajakku jalan-jalan mengelilingi Seoul. Berhenti di sebuah pohon natal bertinggi sedang dan mengobrol banyak di sana. Dia bilang itu untuk menebus kesalahannya lima tahun lalu yang kurasa tak perlu. Tapi toh akhirnya kami melakukannya juga. Ia juga menciumku―mencuri, tepatnya. Ingin sekali marah saat itu, tapi ia menangis, meredam amarahku. Dia bilang sangat menyesal telah masuk perangkap Jiyul saat itu. Jiyul mengatakan kalau aku sudah menunggunya di bawah pohon natal, kemudian perempuan licik itu mencium paksa Kris tepat ketika aku datang dan melihat pemandangan menjijikkan.

“Mereka mulai mencari kita, cepat habiskan makananmu!” seru Kris. Aku mengangguk dan mempercepat kegiatan “membabiku”.

Malam ini tidak begitu buruk. Aku menikmati peranku sebagai coordi bagi EXO-M. Hubunganku dengan Kris pun semakin membaik. Aku mulai menemukan rasa nyaman berada di sampingnya. Kami yang sekarnag tidak jauh berbeda dengan kami yang dulu. Dia masih sama, tidak berubah sama sekali, selalu menjadi Kevin Li yang baik, hangat, pengertian, dan menyenangkan. Seorang pria yang pernah kucintai sepenuh hati.

Tapi perasaan itu tidak lagi ada. Tidak lagi.

Mama datang malam ini untuk menonton putra semata wayangnya. Ia menyambutku dengan baik seperti biasa. Ini pertama kalinya aku ke Cina, jadi sangat dimaklumi kalau antusiasnya sangat tinggi ketika melihatku.

“Sena, datanglah ke rumah! Aku akan memasakkan makanan kesukaanmu,” pintanya dengan aksen Inggris yang selalu menjadi favoritku.

“Errr, maaf, Ma. Aku harus pulang dengan yang lainnya besok pagi. Maafkan aku.”

Ia tersenyum lembut. “Tidak apa-apa lain kali saja. Aku senang melihatmu di sini,” ia mengeluarkan sebuah buku tipis berwarna, di sana terpampang gambar gaun putih. “Pilih gaun yang kau suka.”

“Apa?” Aku memandangnya bingung.

“Gaun pernikahan yang akan kau pakai nanti. Aku ingin kau dan anakku menikah Februari nanti.”

APA?! Menikah dengan Kris?! Ini gila!

“Tapi, Ma―”

“―kau masih boleh bekerja dan meraih impianmu sebagai desainer, Sayang, jangan khawatir.”

“Kris-gege dan Sena-noona akan menikah?” celetuk Tao di belakang kami. Mama menjawabnya dengan anggukan. Aku memutar bola mata. Sial, si penyebar gosip muncul. Mulut anak ini lebih berbahaya dari ibu-ibu manapun!

“Aku ke depan dulu, Sena, berlama-lama di backstage membuatku gugup melihat persiapan mereka secara transparan,” pamit Mama.

Aku hanya mengangguk dan meringis pasrah. Sisa malam ini aku habiskan dengan lontaran-lontaran ejekan dari anak-anak dan para kru. Kris tidak menyanggah sama sekali, dia bahkan terlihat senang digoda seperti itu oleh teman-temannya. Heol.

***

Para penggemar seperti biasa sudah memenuhi bandara. Aku selalu benci situasi ini karena pengamanan harus diperketat. Aku benci melihat anak-anak disentuh atau difoto secara dekat oleh beberapa penggemar. Beberapa waktu lalu Sehun bahkan sempat hilang di tengah kerumunan karena salah mengikuti arus. Dasar maknae!

Aku lebih memilih melindungi Luhan kali ini. Mukanya sangat cantik, jadi kupikir dia tidak mampu menjaga dirinya sendiri.

Sesampainya di perusahaan, aku menyeret dua koper besar berisi wardrobe ke ruangan coordi. Belum sempat membereskan isi koper, membukanya saja belum, di luar aku mendengar keributan kecil. Seseorang menyebut-nyebut namaku, jadi aku memilih keluar untuk mengecek.

Di sana ada Tao, Kai, Taemin, dan Jinki.

Aku berdiri sangat jauh dari mereka tapi masih bisa mendengar apa yang mereka ucapkan.

“Jongin-ah, aku ada kabar gembira.”

Kai dengan malas menjawab, “Apa?”

“Kris-gege dan Sena-noona akan segera menikah. Bulan depan.”

Hatiku mencelos. Aku refleks berlari ke arahnya, melompat-lompat bodoh untuk menjangkau mulutnya. Aku ingin membekap mulutnya.

“Tidak, itu tidak benar, Jinki,” teriakku.

Jinki menatapku dingin. “Kenapa harus menjelaskan padaku? Aku tidak peduli kau menikah dengan siapapun.”

Aku berhenti ‘menyiksa’ Tao, pikiranku fokus pada apa yang Jinki katakan. Ia benar, untuk apa aku berusaha menjelaskan…

Jinki menarik bahu Taemin untuk ikut pergi meninggalkanku dan Tao. Hatiku seperti ditikam pedang panas. Rasanya lebih dari sakit.

Tidak, Jinki, tunggu!

Sekarang aku paham mengapa aku melakukan ini. Aku mengerti. Kim Sena si hati batu ini telah jatuh cinta kembali…

…to be continued…

©2011 SF3SI, Diya.

sf3si-signature-diya

Officially written by Diya, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

67 thoughts on “Beautiful Stranger [Chapter Eleven]

  1. Aku lebih suka sena sama kris… aaaaa kris kasian pasti endingnya sena sama jinki huhuhu mending sena sama kris aja klo ga mau aku aja deh yg sama kris /?

    Komennya telat banget.. gpp yg penting komen*?

  2. daebakk^^
    Ramee,, janji ya ini ff bakal terus diupdate sampe end!!
    penasaran kelanjutannya, aku janji bakal tetap setia menunggu dan membaca ff ini ampe part terakhir *eaaa

  3. ngomong2 Jinkinya pura2 marah mulu niihh..
    itu Sena mau nikah sama Kris, cegat pernikahannyaa!
    ciatt! senajinki loperss ada disinii;;)

  4. Iya, iya, Jin. Lo patah hati. Iya, iya, gue ngerti mwehehehehehehe xD
    EETTSSS tapi kris gak bakal nikah sama Sena. Kris bakal nikah sama aku!! *stop daydreaming*
    Lanjut~~

  5. Aseek akhirny bnern cinta kan,,,seperti yg dhrapkan v kyaknya chapter slnjutnya bakal bakal lbh bnyka konflik
    Gk sbrn ,next chapter Go

  6. Ah~~~~ akhirnya dia juga sadar….
    ugh! ga rela sih sebenarnya,, karna aku sbenernya lebih suka sena sama kevin… tapi ya gimana lagi OTP nya Se-Jin ….. ^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s