In A Lifetime

In A Lifetime

Title : In A Lifetime

Author : Fleur & Risa Jung

Main Casts : Choi Minho (SHINee), Hwang Sungmi (OC’s)

Support Cast : –

Length : Drabble (1188 words)

Genre : Romance, Fluff

Rating : General, PG-15

 SONY DSC

Pria tampan dalam balutan kemeja putih berbahan halus itu tampak membimbing seorang gadis cantik ke dalam sebuah ruangan. Sesekali pria itu terlihat menoleh pada gadis itu. Memastikan bahwa kedua mata indah itu belum terbuka. Begitu sampai di tengah ruangan, sang pria melepas tautan jemarinya.

“Kau boleh membuka matamu sekarang.”

Tepat beberapa detik setelah kalimat itu meluncur bebas dari mulut sang pria, kelopak mata gadis itu menggeletar terbuka. Ekspresi takjub tercetak jelas di parasnya. Ia masih tidak menyangka bahwa pria di hadapannya inilah yang membawanya ke tempat itu.

Ruangan itu sebenarnya hanya ruangan biasa. Salah satu balkon apartemen mewah milik pria bernama Choi Minho. Balkon itu langsung menghadap ke laut bebas. Waktu yang dipilih Minho benar-benar tepat. Karena saat gadis yang dibawa Minho masuk ke ruangan itu membuka mata, yang dilihatnya adalah pemandangan matahari terbenam. Sunset. Salah satu kejadian alam yang memang diakui sebagai pemandangan bernuansa romantis.

Kendati sang matahari sudah benar-benar beranjak meninggalkan singgasananya di langit dan ditambah dengan tidak ada satu pun lampu yang menyala, ruangan itu sama sekali tidak gelap. Pria berdarah Korea murni itu rupanya sudah meletakkan lilin-lilin kecil di seluruh penjuru balkon tertutup itu. Cahaya bulan yang menembus kaca balkon ikut menyinari malam milik Minho dan gadisnya, Hwang Sungmi.

Dan ratusan lilin kecil di sekitar dua insan itu mengantar sebuah kecupan yang mendarat di kening Sungmi. Seakan tak ingin sang waktu merampas momen berharga mereka, pria tampan bermarga Choi itu dengan lembut membawa Sungmi dalam dekapannya. Ketika itu pula, Minho merasa seolah ia bisa menghirup udara dengan bebas. Ya, saat gadis yang terlanjur ia cintai berada dalam rengkuhannya. “Saranghae.”

Tidak ada yang bisa Sungmi lakukan selain terkekeh pelan. Gadis itu merasa enggan untuk bergerak sekalipun hanya untuk menggeser kepalanya dan mencari posisi paling nyaman yang bisa didapatkannya dalam rengkuhan Minho.

Johahae?”  Minho kembali bersuara setelah beberapa lama menikmati keheningan mereka yang nyaman.

“Hm. Joha.” Sungmi menggumam sambil menganggukkan kepala. Gadis itu memainkan tangannya yang masih setia melingkar di pinggang Minho. Sama seperti Minho, Sungmi juga ingin sekali menghentikan waktu dan membuat momen itu menjadi momen bahagia mereka sepanjang masa.

Setelah ini, banyak yang harus mereka lakukan. Tapi di atas semua itu, komitmen-lah yang pertama kali harus mereka rumuskan ke arah mana hilirnya. Ibarat sebuah rumah, pondasi dan pilarnya-lah yang harus mereka pancangkan ke langit lebih dulu. Begitu pula dengan kehidupan pernikahan mereka kelak.

Bayangan Sungmi dengan rambut yang mulai memutih duduk di teras rumah mungil mereka berdua, menelusupkan jemarinya pada jemari Minho yang juga sudah mulai dihiasi keriput di wajah tampannya tiba-tiba membayang di benak Minho. Dan hal itu tak luput membuat Minho tersenyum kecil. Bayangan bahwa ia akan menjalani sisa hidupnya dengan gadis yang menggenggam erat hatinya membuat Minho tak mampu lagi membendung rasa bahagia yang memuncak. Pria dengan kemeja putih itu memeluk Sungmi semakin erat. Membuat Sungmi dengan mudah menghirup aroma maskulin tubuh Minho.

“Aku suka aroma parfum yang kau gunakan.” ungkap Sungmi jujur seraya melesakkan wajahnya makin erat dengan dada Minho.

“Kau bisa mencium aromanya kapanpun kau mau, Sungmi-ya. I’m yours, now and forever.”

Sungmi tersipu malu dalam dekapan Minho. Rona merah itu merangkak perlahan ke pipi Sungmi. Gadis dengan baju pengantin yang melekat pas di tubuhnya itu berusaha keras meredam lonjakan jantungnya yang tak karuan.

Gomawo.” Minho menghela napas sebentar lalu, “..karena sudah mengucapkan ikrar suci itu di altar bersamaku.”

Sungmi tersenyum tipis. “Itu adalah hal paling baik yang pernah kualami. Harusnya aku yang berterima kasih. Kau sudah bersedia menjadi pria yang bertanggungjawab penuh atas diriku. Gomawo.”

Minho mulai menundukkan kepalanya, menghirup aroma mawar lembut yang menguar dari rambut Sungmi.

“Sampai kapan kau mau menyembunyikan wajahmu seperti itu, Sungmi-ya?” Minho lalu tertawa kecil. Walaupun enggan, ia melepas tautan jemari Sungmi di pinggangnya dan menyelusupkan jemarinya sendiri ke sana.

It fits perfectly.” ucap Sungmi takjub seakan ini adalah kali pertama Minho menggenggam tangannya. Gadis itu lalu mendongak dan terpaku pada tatapan teduh pria yang kini resmi menjadi pasangan hidupnya. Dalam hati kecil seorang Hwang Sungmi, masih tersisip rasa tidak percaya bahwa waktu akan membawanya ke titik ini.

Minho tampak menautkan alisnya. “Ada apa dengan wajahku?” tanya pria itu heran.

Senyum Sungmi mengembang seketika. “Tidak ada. Kau tampan seperti biasa.”

Minho menyunggingkan senyum manisnya dengan sempurna. Perlahan, ia membawa salah satu tangannya untuk menyentuh pipi Sungmi. Begitu lembut seolah gadis itu adalah sebuah boneka porselen yang rapuh. Seolah dengan sebuah gerakan kasar saja, ia bisa hancur berkeping-keping. “Kau tak kan pernah tahu seberapa beruntungnya aku.”

Mendengar ucapan Minho, Sungmi malah menekuk wajahnya. Gadis yang terpaut umur 4 tahun lebih muda dari Minho itu kemudian melarikan pandangannya pada dada Minho. “Seharusnya aku yang berkata seperti itu.”

“Hm? Wae geurae?” Minho bertanya heran.

Sungmi menghela napas, “Kau juga tidak akan pernah tahu ada berapa banyak wanita di luar sana yang sangat ingin berada di posisiku sekarang.”

Minho tersenyum lembut. Ia tidak percaya bahwa pemikiran semacam itu bisa juga terpikirkan oleh gadisnya. Ah, sungguh menyenangkan bisa memanggil gadis ini sebagai gadisnya. Sungmi adalah seorang CEO majalah fashion terkenal di Korea Selatan. Gadis itu bahkan rela pindah dari kota mode dunia, Paris, ke negeri ginseng Asia demi pekerjaannya. Sudah 3 tahun berlalu sejak Minho mulai jatuh cinta pada karakter Sungmi yang dinilainya unik. Karena ketika Minho melihat kebaikan hati Sungmi, pria itu sadar jika ia tidak akan pernah bisa berpaling pada wanita lain lagi. Dan selama mereka berdua menjalin hubungan, Sungmi tidak pernah sekali pun memprotes atau bertingkah cemburu seperti gadis lain pada umumnya.

Minho lalu menangkupkan kedua tangannya di pipi Sungmi. “Lihat aku, sayang..” Minho mengusap pipi Sungmi perlahan untuk membuat gadis itu kembali menatap matanya, “Tak peduli seberapa banyak wanita atau pria di luar sana yang ingin berada di posisimu atau posisiku, tapi kau harus percaya padaku. Hanya seorang Hwang Sungmi yang mengucap janji di depan Tuhan bersamaku.”

Kalimat Minho mampu mengembalikan senyum manis itu di wajah Sungmi. Perlahan, kedua tangan Sungmi lagi-lagi melingkar di pinggang Minho. “Itu adalah kalimat termanis kedua yang pernah kau ucapkan untukku.”

Minho mengernyit heran. Pria itu memposisikan tangannya untuk memeluk Sungmi. “Kedua? Lalu yang pertama?”

“Mau mencoba menebak?” ucap Sungmi dengan nada menantang.

Minho menghela napas lelah, tapi sebuah senyum tetap setia terukir di wajah tampannya. “Haruskah?”

Sungmi tertawa pelan. “Baiklah, kuberitahu saja. Yang pertama itu..” Sungmi sengaja memberi jeda sejenak dalam kalimatnya, “..saat kau mengucapkan kalimat sakral di hadapan Tuhan, pastor, uri bumeonim, dan seluruh tamu undangan.”

Pernyataan Sungmi barusan sukses membuat dirinya kembali terhempas dalam pelukan hangat Choi Minho. Keheningan mulai menyelimuti sepasang pengantin baru itu. Agak lama sebelum akhirnya Minho bersuara. “Jangan salahkan aku jika setelah ini kau tidak akan bisa berpaling lagi, yeobo.”

Sungmi tersenyum kecil walaupun ia sadar jika Minho tak akan bisa melihat lengkungan bibirnya. “Sepertinya aku harus mulai terbiasa dengan panggilan itu.”

“Tentu saja, Nyonya Choi.”

Kembali hanya pendar lilin-lilin kecil itu yang menemani sisa malam Minho dan Sungmi. Keduanya masih larut dalam bayang-bayang kehidupan apa yang akan mereka jalani kelak. Toh, apapun yang akan terjadi, Tuhan telah menciptakan mereka berdua dalam satu garis takdir. Untuk saling menjaga satu sama lain, dalam seumur hidup mereka. Tak peduli berapa lama keduanya akan menghadapi dunia ini. Dan akan selalu begitu.

FIN

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

19 thoughts on “In A Lifetime

  1. buang napas pelan-pelan … huh!
    emm, kalian salah kasih length di sini. bukan drable, tapi lebih ke vignete. diatas seribu sampai 3000 kata itu vignete. drable itu nggak sampai seratus, yah. trus, untuk EYD bagus, meski masih ada kesalahan. titik itu nggak ada yang dua, yang ada itu tiga atau empat.
    “Gomawo.” Minho menghela napas sebentar lalu, “..karena sudah mengucapkan ikrar suci itu di altar bersamaku.” aku belum pernah baca loh, ada cara penulisan begitu.
    mungkin gini aja. “Gomawo.” Minho menghela napas sebentar lalu, “Karena sudah mengucapkan ikrar suci itu di altar bersamaku.” setiap kata langsung selalu diawali huruf kapital #setahu aku sih.
    dan ada kalimat. “It fits perfectly.” ucap Sungmi takjub dan bla, bla, bla. that’s false. kalimat langsung yang diakhiri dengan titik berarti kalimat yang mengikuti harus diawali huruf kapital.
    sebenernya masih ada beberapa lagi typo. tapi ini bagus kok. seneng ada yang mau belajar penulisan EYD dengan sungguh-sungguh. Selebihnya, gaya penulisan dan feel. please, aku nggak bisa komentar. aku selalu bilang aku tuh cacat dalam romance. dah banyak banget komentarnya. keep writing!!!

    1. waaah! di post! Waah~ ga nyangka bakalan dipost😄
      Terima kasiiiih banyaaaak komennya hadooooh iya saya emang writer abal-abal /deep bow/ /nangis di ketek Minho/
      Seneng ada yg bisa kasih saran kaya begini… Gomawo chingu-ya! ;;)

  2. cieeeeee co cwit banget si abang minong
    mau dong d gituin ama key tapinya hhaa

    bagus thor ceritanya. cuma masih ada kata2 yg d ulang terus. mungkin buat mempertegas tapi udah cukup ko

    keep writing yaw ^^

  3. baca ff ini bikin merinding, iri….!
    harapan semua pasangan, berbahagia sampai maut memisahkan..🙂

    Ok Fleur & Risa, saya suka ffnya.
    Ditunggu karya selanjutnya ya..🙂

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s