Aside

ASIDE

 

Author                         : Ruoxizhang

Main Cast        :  Lee Jinki

Jo Ji Ra

Length             : One Shot

Genre              : Romance

Rating             : General

Summary         : Bagaimana jika Lee Jinki meninggal kan Jo Jira ? bagaimana Jika Jo Jira yang meminta perpisahan itu?

.

.

.

Disana Lee Jinki menunggu, dengan senyum sejuk miliknya yang dituju pada gadis tercantiknya,Jo Ji Ra. Terang saja wajah Ji ra merona ditatap begitu oleh pangeran hatinya tapi Ji ra sangat pandai berperan.  Jira awalnya tersenyum menggoda pada Jinki tapi berjalan tidaklah pada Jinki. Jinki mengelengkan kepalanya dan masih tersenyum. Sebab Ji ra melewatinya begitu saja. Jinki berdehem pelan di belakang Ji ra  yang pasalnya mengikutinya  sedari  tadi . Jinki kembali berdehem dan berkata menggoda “Gadis cantik mau kemana?” Jira berhenti menghadap Jinki. Menatap laki-laki itu tepat di pupil matanya Jinki “Maaf, Aku sudah memiliki kekasih”

“Bermain dibelakang. Tak apa bukan?” Jinki membujuk, membujuk bukan seperti biasanya. Jinki benar-benar berubah menjadi penggoda dan nakal. Tangganya mencubit dagu Jira “Kekasih ku bisa marah “ Ji ra berkata ketus. Benar Jinki kekasih Jira akan marah jika tahu ada pria-pria lain yang mencubit dagu Jiranya. Tapi mereka kembali keperan awal hanya Jo Ji ra dan Lee Jinki tidak ada pria penggoda. Jinki berkata lembut selembut matanya menatap pada kedua mata gadisnya “Jo Ji ra hanya milik Lee Jinki, Lee Jinki hanya milik Jo Jira” Jira terdiam,bahkan disaat itu dia hampir melupakan siapa namanya. Lihai sekali kamu Jinki.

“Jadi, Gadis manis  mau kemana?” Jinki kembali bertanya tak lagi menggoda. Dia merangkul tanganya di pinggang Jira mereka sekarang berjalan beriringan. Jinki memperhatikaan Jira yang berpikir “Pulang!” jawab Jira

Jinki kembali mencubit dagu Ji ra karena sedaritadi Ji ra tersenyum. Ntah apa yang dipikirkan Jiranya . “Kamu senyum-senyum sendiri” Jinki merasa senang Ji ra tersenyum senang tapi dia ingin tahu kenapa.

Tapi Jira. Bibirnya mengerucut kedepan “Aku kan sedang berpikir”

“Memikirkan apa?”  Jinki mentoel-toel pipi Jira. Jinki gemes Jiranya bertambah manis saja.

“Memikirkan apa? Hayooo~” Jinki seakan mengatakan bahwa Jira berpikir yang tidak pantas. Jira mengelengkan kepalanya. Itu tak benar. “Ish~ Kamu tuh yang mesum” Jira berjalan meninggalkan Jinki.

“Sayang” Jinki memanggilnya sayang. Ji ra berhenti tapi tidak menoleh kebelakang tangannya melingkar di dadanya bertanda dia masih kesal.

“Aku salah ya?” Tanya Jinki lembut. Barulah Ji ra menoleh kebelakang. Jinki membawa kedua tanganya ke atas membentuk hati dan bibirnya bergerak tak bersuara. Tapi Jira tahu pasti apa yang dikatakan pria itu. Tak bisa dipungkiri Jira tersenyum senang hatinya berdebar mungkin jika bisa hatinya akan melopat keluar dari dadanya.

“Norak!”

Jinki sudah didepannya menatap Jira dan mencubit lagi dagu Jira “Tapi sukakan” Jira mengangukan kepalanya dua kali. Ia dia suka. Dan sekarang dia tidak marah lagi. Jira malah tanpa malu memeluk Jinki.

Tak peduli kedua pasangan ini dengan tatap orang-orang yang berjalan disekitar mereka. Kedua ibu- ibu dan anak laki-laki kecil menatap kearah mereka dan juga anak laki-laki dan perempuan yang sepertinya kembar memiliki mata biru menatap kearah mereka juga.

Jira menengadahkan kepalanya menatap Jinki,Jinki tak tahan Jika tidak mencium bibir merah Jira  “Kerumah ya?” Jinki mengajak Jira kerumahnya. Jira tersenyum manis “Cium aku” Pintanya. Jinki mendaratkan bibir tebalnya di bibir Jira “Sudah” Mengusap sayang kepala Jira.

Beberapa Jam kedepan mereka sudah sampai dikediaman Keluarga Lee. Ibunya Lee Jinki Kang Hara terlihat sibuk didapur besar milik mereka. Apa Jinki memberitahu Kang Hara Jika dia akan berkunjung? Jira mengikuti Jinki didepannya .

“Mommy” Jinki mencium kedua pipi Ibunya.

“Anak laki-laki Mommy sudah pulang” Jinki mengganguk, dan Hara memperhatikan bahwa Jinki tidak pulang sendiri tetapi bersama kekasihnya, Jo Jira. Gadis munggil itu tersenyum manis “Kau bertambah cantik saja” Jira senang Ibunya Jinki menyukainya.  Kang Hara kembali tersenyum, senyum yang sama dimiliki Jinki. Lembut dan sejuk.

“Anak nakal, kenapa tidak bilang jika Jira akan datang!’ Ibunya membentak Jinki. Tapi Jinki tak peduli dia menarik Jira “Ayo keatas” kekamar Jinki. Dilantai dua. Di rumah besar ini. Jira merasa malu, Jinki mengajaknya kekamarnya. Jika tidak ada Ibu Jinki mungkin Jira akan berlari senang kekamar Jinki tapi kini wanita itu menaikkan alisnya.

“Aku akan disini bersama Mommy”  Kata Jira. Mengeser sedikit jarak dengan Jinki.

Jinki berkata cepat “Aku nggak butuh istri yang pintar masak, aku lebih suka kamu nemanin aku” wajah Jira merah padam. Jika bisa dia ingin menghilang karena dilihatnya Kang Hara kembali mendesah.ntah apa maksud nya

Sesampainya di kamar Jinki. Jira melempar tas biru softnya “Aduh!’ Jinki mengaduh sakit mengelus punggungnya.

“Kenapa nggak bilang”Jira bertanya bengis.

“Apa?” Tanya Jinki ketus masih mengelus punggungya.

“Kamu ini” Jira ingin memukul Jinki dengan kedua tangannya. Tapi Jinki menangkap tangan itu.

“Dilarang pukul-pukul”

“Seharusnya kamu bilang kalau Mommy pulang jadi—“

“Mau nyiapain makan siang biar Mom terharu. Sayang, kamu nggak bisa masak. Jadi untuk apa?” ia juga pikir Jira.

Jira menarik tangannya. Wajahnya murung dan sedih.

“Aku nggak pintar masak pasti kamu mau nyarik yang lain” Jinki menarik lagi kedua tangan itu kali ini mengengamnya “Dengar ya, Aku nggak butuh istri yang pintar masak.aku hanya butuh kamu itu saja sudah cukup.” Tapi Jira tak percaya wajahnya bertambah sedih . Jinki seakan membaca pikiran gadis itu. Jinki mengelus kedua telinga Jira dan mencium jidatnya mesra “Aku sayang sama kamu” kerutan itu hilang.

Jinki pergi masuk kekamar mandi meninggalkan Jira sendiri.

.

.

.

Jinki belum juga keluar, Ji ra bosa menunggu. Tubuhnya terlentang bebas di ranjang besar milik Jinki. Apa Jira senang? Tentu saja. Ji ra memainkan ujung rambutnya menatap kesekeliling melihat apa saja yang dimiliki Jinki. Sampai matanya melihat buku berwarna pink di nakas Jinki. Jira mengerutkan keningnya, sejak kapan Jinki menyukai hal-hal berbau kesukaan wanita. Jira mengambil buku itu membukanya. Tidak ada huruf apapun dilembar awal hanya kertas putih. Hingga lembar –lembar berikut terdapat foto-foto seorang gadis cantik Jira tidak mengetahui gadis itu. Ini pertama kali dirinya melihat ada wanita lain. Wanita ini terlihat dewasa,rambutnya panjang dan cantik.lembaran terakhir ada foto gadis itu bersama Jinki. Sangat intim,Jinki mencium bibir gadis itu. Jira menutup buku itu meletakkannya kembali keoposisinya. Dia terdiam sebentar hingga bibirnya tersenyum bengis “Bukankah pria seperti itu”

Srek

Pintu kamar mandi terbuka, Jinki keluar dengan aroma khasnya yang lembut. Jinki melihat wanita cantiknya dan mencium bibirnya “Ayo turun” ajaknya.

Jira diam saja, menatap Jinki hingga suara pintu kembali terbuka “Apa yang kalian lakukan?”

Disana,dipintu kamar Jinki wanita dewasa itu berdiri. Senyumnya pun manis,semanis dia menatap Jinki. Jirapun tahu Wanita itu menginginkan Jinkinya. Tapi dia diam saja saat gadis itu merangkul Jinki dan mencium pipinya. Jinki pun sama dia tersenyum senang .

“Seharusnya kau menjemputku”

“Maaf”

Jira berdehem pelan, hingga Jinki dan wanita dewasa itu menyadari keberadaan dirinya. Jinki mengelus sayang pada kepala Jira membuat si gadis dewasa melotot tak percaya. Bukankah terlihat Jinki sudah dimiliki.

“Ajhuma, menyuruh kebawah”

.

.

.

Seminggu setelah kejadian dirumah Jinki. Jira sedikit murung gadis itu lebih sering menghabiskan waktu-waktunya di perpustakaan. Atau dia bahkan lebih suka menyendiri dikamarnya. Ibunya Han Dara begitu cemas melihat  kemurungan anak gadisnya. Han Dara bertanya dia hanya menjawab “Aku baik-baik saja,Mom” atau berakhir dengan gelengan dikepalanya. Tapi malam ini Ibunya mendengar isakan anak gadisnya.

“Ji ra, sayang”

Hiks hiks hiks

“Buka pintunya” Tanga Jira menghapus tanggisnya,dirinya berdiri didepan cermin memperbaiki penampilannya.berusaha tersenyum, dia tak ingin Ibunya cemas.

Srek

Mata Jira sembab, Dara merangkul anak gadis nya “Ada masalah?” Jawabanya sama,Jira menggelengkan kepalanya.” Jangan bohong! Anak Mommy kenapa nanggis?”

Di ranjang Jira,Jira berbaring dipangkuan Ibunya. Ibunya mengelus-ngelus rambut Jira. Sedari tadi Jira hanya menanggis dan berkata “Aku mencintainya”

“Jinki?”

Jira membalas dengan anggukan “Sangat,aku mencintai Lee Jinki”

“Lalu?” Ibunya bertanya lembut,lama hingga isakan Jira menghilang. Jira berkata lebih jelas “Mantan kekasihnya datang,dia tak lagi menyanyangiku,dia,dan Jinki pergi” Jira terisak sakit.

“Jinki menjauhi Jira?”

“Nggak! Tapi wanita itu mau merebut Jinki”

“Katakan Jira tidak suka wanita itu,Jinki pasti akan menjauh” Han Dara tahu Jinki,dia mengetahui bahwa laki-laki itu sangat menyanyangi anak perempuannya. Han Dara mengelus rambut Jira tapi Jira sudah duduk menghadap Ibunya “Jinki mau,maksud Aku,Mom ! Jinki tidak akan menolak” Han Dara mengganguk dan tersenyum

“Kenapa?”

“Karena Jinki sayang sama Jira”

.

.

.

Jira memeriksa ponselnya, Jinki mencarinya. Jinki mengirimnya berpuluhan sms dan juga berusaha menghubunginya. Tapi Jira tidak ingin membalas atau berbicara,dia hanya ingin membiarkan Jinki bersama wanita dewasa itu. Nanti suatu saat Jinki pasti akan kembali bersamanya.Dia akan mengambil Jinkinya,Miliknya.

Jira memiliki rencana akhir minggu ini dia akan pergi ke Perpustakaan Kota,meminjam beberapa buku kalau bisa dia juga ingin menghabiskan beberapa waktu disana. Dengan membaca dia menjadi lebih tenang dan melupakan semuanya.

Sesampainya disana,Lee Jinki. Pria itu berdiri seakan menunggunya di depan pintu perpustakaan.Jinki tidak mengetahui Jira sudah ada disekitarnya. Hingga mata mereka saling berpandang. Jinki turun dengan cepat menyusuri tanga-tangga kecil menarik Jira memaksa masuk kedalam mobilnya.

“Diam!” Jinki membentak padahal Jira tak berkata apapun.

Van hitam itu berjalan ntah kemana,Jira tidak tahu dia hanya diam membuang muka.

“Kita harus berbicara!!”

“Aku mau pulang!!”

“Nggak! Kamu selalu menghindar”

“Aku nggak pernah menghindar”Jira ngotot dan jinki tak suka itu.

“Kita tidak bertemu selama 3 minggu. Itu semua karena kamu selalu menghindar”

“Aku nggak menghindar”

Hening!

Jinki menjabak rambutnya,tangan satunya masih menyetir. Jinki terlihat putus asa. Jinki tidak berpakaian rapi seperti terakhir kali Jira melihatnya.Jinki tidak terurus,Jinki seperti pemuda pengganguran yang sering dijumpainya. .berantakan,rambutnya acak-acakan,badannya pun mengurus.Jira memperhatikan Jinki sampai Jinki pun menatapnya teduh.

“Jadi,apa alasan kamu menghilang selama 3 minggu ?”

“Aku nggak menghilang”

Sebelah alis Jinki terangkat Jira masih memperhatikan Jinki.

“Kenapa nggak balas sms atau mengangkat panggilan aku”

“Aku nggak dengar,aku malas smsan” Jira terlihat lebih santai menjawab pertanyaan-pertanyaan Jinki. Jinki tahu Jira tidak suka membalas sms seseorang untuk mengangkat panggilan,Jira berdusta.pikir Jinki.

. . .

“Kamu mau makan apa?”

“Aku mau pulang !”

Jinki merasa putus asa. Dirinya menjadi  binggung dikala itu. Suasana menjadi tegang Jira tak mau menatap Jinki.

“Apa aku salah? Kenapa kamu menghindar? Aku lebih suka jika kamu jujur”

Jira tetap diam berpaling dari Jinkinya.

“Malam ini kita harus bicara dan kamu harus makan” Jinki mengingatkan Jira,dia tak akan membiarkan gadis itu keluar dari kediamaannya.

“Aku nggak lapar”

Jinki tidak mengindahkan seruan Jira. Dia berpindah kedapur. Dia kembali bertanya dengan lembut .

“Kamu makan nasi yaa?” Jinki tahu dan sangat tahu Jiranya lebih suka makan Mie “Aku mau Mie” Jira sedikit berteriak kesal. Sekarang Jinki tersenyum setidaknya Jira sudah mengganti jawabannya.

“Nanti.Setelah kamu makan nasi”

“Aku nggak mau!”

“Kamu harus makan. Sehat. Dan nemenin aku seumur hidup “ selanjutnya Jinki menekankan “Setelah ini kita akan bicara”

Jira menjadi lebih sedih. Wajahnya sangat sedih hatinya pun begitu. Jinki masih menyanyanginya bahkan seumur hidup Jinki.

Jinki menunggu Jira menghabiskan makan malamnya. “Aku minta maaf Jika aku salah”

Jira tetap diam. Bibirnya terkantup rapat dan bergerak mengunyah. Hingga beberapa saat kemudian Jira berkata dingin “Kalau sedang makan nggak boleh bicara”

Hanya terdengar nafas berat dari Jinki  tangannya mengelus kepala Jira sayang “Habiskan makanannya”

Beberapa jam kemudian masih dirumah milik Jinki, yang berubah hanya Jinki yang terlihat lebih tampan.Jinki sudah membersihkan diri diapun sudah menganti pakaiannya menjadi lebih santai. Sedangkan Jo Jira gadis itu bersandar di sofa merah, terlihat lemas dan wajahnya tetap sedih.

Jinki menduduki diri kembali disamping Jira hingga Jira mengeser duduknya lebih jauh dari Jinki.

“Jung A” Aku Jira pelan.

Jinki seakan berpikir. Dia tidak paham. Diapun juga tidak yakin “Kamu cemburu”

“Aku nggak bilang aku cemburu. Aku hanya tidak suka. Itu berbeda!! “ didepan Jinki, Jira sudah  kembali seperti Jiranya. Jira bahkan tidak sadar suaranya lebih mendominasi manja dari pada marah.

“Apa yang tidak kamu sukai?” Jira menatap Jinki tidak suka. Dia tidak suka pertanyaan Jinki.

“Aku minta maaf. Dia hanya masa lalu. Dia sudah aku anggap Noona” Jinki menyakinkan Jira dengan mengelus pipinya tapi Jira menepisnya

“Aku minta maaf~seharusnya aku memhami situasi itu. Tapi itu sudah biasa—“

Jira berkata cepat  “Oh! Mencium adalah hal yang biasa.  Bagian mana yang luar biasanya. Aku mau dengar!”

Jinki semakin gemas melihat tingkah Jira, Jinki mengecup-ngecup pipi Jira. Memaksa karena Jira tak suka.

“Kamu bertambah manis, Sayang”

“Kamu nggak usah ngaco! Yang pasti aku masih sayang sama kamu” Jinki merentangkan tangannya lebar  “Melebihi ini hmm lebih dan lebih. . .”

Hening. .

Tidak ada suara apapun yang bergerak tangan Jinki  meraih tangan Jira meletakkannya  didadanya “Desirannya masih ada” Desiran, Jantung Jinki yang berdetak dan Jira dapat merasakannya. “Aku mencintai-mu dan teramat sangat!” Jinki mengecup jemari Jira tepat saat Jinki memandang kedua bola mata Jira.

Jira terharu suaranya serak saat berucap dan memastikan “Apa aku bersifat kekanak-kanakan?” Jinki mengelengkan kepalanya “Itu wajar, dan teramat wajar. Aku suka” aku Jinki.

“Sini,Mendekat” Jira bergeser,sampai Jinki dapat memeluk gadis itu.Jinki mencium pipi Jira.

Tidak ada yang berpisah,tidak ada yang menginginkan perpisahan. “Aku merindukan-mu” Jinki kembali berucap.Jira mengganguk didada Jinki “Cium aku,sayang” Jinki meminta. Mereka berpelukan dan saling mengecap .

Tufoni

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

9 thoughts on “Aside

  1. Hayya’alasholaaah….
    Aku malah gak cemburu ma Jinki-Junga, tapi sama Jinki-Jira….
    Bagus banget, thor…. Aku setuju banget ma komen di atas…
    Dibuat sequel aja… Gak usah terlalu panjang, gpp…
    4-5 part, lumayan… heheheheee……
    *gandeng Junga… deportasi ke Afrika…

  2. jinki-jira ini lucu bangeet. bikin gemes sumpah bhaha.
    but is it me or summary nya agak hm ga sesuai sama ceritanya?._.
    anw, nice ff semangat buat ff selanjutnyaa xD

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s