I Got Ma Girl

I Got Ma Girl (Sequel)

Untitled-8 copy

Author : Ekikumo

Main Cast : Lee Taemin (SHINee), Lee Yoo Rin (OC)

Lenght : Oneshoot

Genre : Romance, Friendship, Angst

Rated : PG-15

Disclaimer : Para tokoh hanya milik tuhan. Namun, ide cerita dan pengeditan cover asli dari buah pikir saya sendiri dan kerja tangan saya dibantu dengan photoshop CS3.

Summary : “Living wothout you is living dead.”

A/N : FF ini adalah bagian sequel dari part sebelumnya dengan judul yang sama. Maaf ya kalau part sebelumnya masih belum greget, semoga part yang ini lebih baik. Mohon tinggalkan jejak ya. Terimakasih ^^ (Ekikumo)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Musim dingin akan segera berakhir, digantikan musim semi yang begitu hangat. Matahari tampak bersinar lebih terang dari hari biasanya, bunga-bunga di taman mulai bermekaran seakan berlomba-lomba menjadi yang tercantik. Angin hangat di musim semi juga tidak kalah merdu bersiul, menggoyangkan tangkai-tangkai bunga yang sayu.

Hal seperti itulah yang tengah dirasakan seorang gadis yang tengah terduduk di sebuah bangku taman yang berada pada pusat kotaSeoul. Ditemani sepasang earphone yang tersemat di kedua telinganya, ia bersenandung merdu tatkala alunan musik klasik yang mengalun dari earphone yang ia tancapkan ke plug in di ponselnya keluar dari kedua lubang benda tersebut.

Ini musim semi pertama yang mampu ia rasakan bersama seseorang yang selalu menghiasi hari-hari dan pikirannya. Seseorang yang memiliki status sebagai ‘kekasihnya’. Seseorang yang sudah dua bulan ini selalu menghiburnya dikala sedih, Lee Taemin.

Lee Yoo Rin, gadis pemilik lesung di kedua pipinya ini tak henti-hentinya tersenyum kala pikirannya menjuntai semua cuplikan-cuplikan hidupnya saat bersama pria yang menjadi maknae di dalam grupnya itu—maknae tertampan yang pernah Yoo Rin lihat.

Ia bersyukur atas anugerah yang telah dilimpahkan kepadanya. Sebuah anugerah bisa dicintai dan mencintai seorang Lee Taemin. Anugerah bukan hanya sesuatu yang berbentuk materi, ia mampu menautkan hatinya dengan seseorang yang ia cintai… itu juga termasuk anugerah, ‘kan?

Suasana ditaman ini sangat mendukung, gumam Yoo Rin. Hampir seluruh pengunjung di taman ini selalu menyunggingkan senyum, entah ke arahnya, atau dengan saudara, teman, maupun kekasih mereka. Kebahagiaan itu memang seharusnya dibagi agar orang lain juga mampu merasakan kebahagiaan yang kita rasakan. Namun, sepertinya Yoo Rin merasa kebahagiannya kurang lengkap. Separuh jiwanya yang seharusnya berada tepat disampingnya tidak ada saat itu.

Yoo Rin mendengus pelan, rasanya seperti dicampakkan, kata Yoo Rin pada diri sendiri. Saat pikiran itu mulai datang, ia selalu berusaha menampiknya jauh-jauh. Tidak seharusnya ia egois mengingat status Taemin yang saat ini bukan sekedar manusia biasa sepertinya. Lee Taemin, seorang pria yang berada dalam naungan sebuah agensi besar di Korea Selatan dan tergabung dalam sebuah grup yang saat ini banyak digandrungi para remaja, termasuk gadis-gadis seumurannya, SHINee.

Ya, Yoo Rin selalu paham akan hal itu, setidaknya ia mencoba paham meskipun hatinya terus meronta karena keadaan yang semakin mempersulitnya. Ditambah pria yang seharusnya lebih sering menemaninya itu malah lebih memilih untuk menemani orang lain dengan alasan tuntutan pekerjaan. Siapa yang tidak cemburu jika kekasihnya lebih dikenal dengan suami orang lain ketimbang kekasihnya? Siapa pula yang peduli pacar sesungguhnya dari seorang Lee Taemin? Yang mereka tahu, Taemin adalah suami virtual Shon Naeun di dalam sebuah acara televisi berjudul We Got Married.

Dan lebih parahnya lagi, acara itu masih berlanjut untuk satu tahun ke depan. Satu tahun? Kau pikir itu waktu yang singkat untuk mempertahankan sebuah hubungan? Rasa takut kehilangan Taemin pun kerap muncul. Dan ternyata, perasaan senang yang Yoo Rin rasakan tadi sekejap menghilang digantikan kegundahan hatinya yang kerap muncul hanya karena seorang Lee Taemin.

Dengan malas, Yoo Rin mematikan mp3 di ponselnya, lalu kembali mengaktifkan mobile internet. Iseng saja, sekedar penghilang rasa bosan, gadis itu membuka beberapa halaman blog yang biasanya kerap ia kunjungi untuk sekedar mengetahui kabar tentang dunia hiburan saat ini. Gadis mana yang tidak minat dalam gosip? Seperti itulah Yoo Rin.

Sebenarnyaia tidak terlalu tertarik dengan berita-berita artis yang ia tidak paham betul, setiap ia membuka halaman tersebut, yang ia cari hanyalah berita SHINee dan SHINee, karena memang ia juga tak kalah antusias dari jutaan fans SHINee didunia. Biasnya? Perlu dijawab? Tentu saja Lee Taemin—itu sudah sejak pertama kali ia kenal dengan boygrup naungan SM itu.

Beberapa judul berita sengaja ia lewati. Tapi, tunggu… Yoo Rin kembali menggeser layar ponselnya ke atas. Matanya membulat saat itu juga, antara percaya tidak percaya. Dengan pelan dan sangat hati-hati, Yoo Rin membaca judul dari salah satu artikel tersebut berulang-ulang. Namun, tetap saja, ia sama sekali tak menangkap kekeliruan dari saat kali pertama ia membaca judul artikel tersebut.

“Taemin dan Naeun Terlihat Sedang Berkencan di Myeongdong!”

 

Dengan perasaan masih ragu oleh artikel tersebut, Yoo Rin terus meggeser scrollnya keatas. Satu artikel lagi yang baru dikirim beberapa jam yang lalu. Dan itu membuat pundaknya merosot ke bawah seketika.

“Taemin dan Shon Naeun Tertangkap Kamera Berkencan Menggunakan Seragam Sekolah”


Kali ini Yoo Rin tidak lagi meragukan kebenaran artikel tersebut karena artikel itu sudah didukung oleh beberapa lampir foto yang terlihat seperti fancam. Ia tidak peduli itu fancam ataupun bukan, yang jelas itu sudah membuktikan bahwa artikel itu pasti benar adanya.

Yoo Rin ingat, pantas saja saat ia menelpon Taemin pada malam kemarin, ia mendengar suara berisik dari tempat Taemin berada. Taemin bilang ia sedang syuting dan menyuruhnya untuk menutup telepon segera. Ah ternyata, pria itu sedang asyik berkencan dengan gadis lain, dengan istrinya lebih tepat.

Mata Yoo Rin memanas. Kenapa selalu berakhir seperti ini? Bukankah ia sudah berjanji pada dirinya untuk tetap bertahan meskipun ada berita kurang mengenakkan tentang kekasihnya? Bukankah ia adalah seseorang yang percaya pada Taemin? Mengapa semuanya justru runtuh dengan satu tetes air mata? Tidak adil, gumamnya.

Yoo Rin bisa menagkap figur Taemin dalam foto itu meskipun hanya menatap sekilas punggungnya. Kedua orang di foto itu mengenakan seragam sekolah berwarna hitam lengkap dengan blazernya. Shon Naeun sendiri menggunakan tas slempang berwarna kuning, topi hitam, dan sepatu kets yang sangat khas dengan sepatu sekolah.

Begitu pula dengan Taemin, ia juga menggunakan topi yang sama dengan milik Naeun ditambah pria itu membawa makanan dan minuman di kedua tangannyanya. Tak lupa pria itu juga terlihat menyunggingkan senyum ke arah Naeun maupun orang-orang yang tengah mengerubunginya.

“Jadi,ini topi pasangan? Tsk.”

Yoo Rin berdecak. Tiba-tiba saja mood-nya hilang setelah melihat foto-foto itu. Apakah seorang Lee Taemin adalah penghancur mood seseorang? Tidak bisakah ia merasa senang sehari saja karena pria itu? Dua minggu sudah Yoo Rin menjalani hidup tanpa Lee Taemin disisinya. Ia sadar mengingat jadwal Taemin yang begitu padat. Tapi, bukan kabar gembira yang ia dapat melainkan kabar yang saat itu juga meruntuhkan kesabarannya.

“Lee Yoo Rin?”

Yoo Rin terkesiap. Tubuhnya cepat berbalik ke arah suara yang baru saja memanggilnya.

Iia dua kali lebih terkejut saat melihat orang di belakangnya—seseorang yang beberapa detik lalu memanggil namanya. Cepat-cepat Yoo Rin mematikan ponselnya dan memaksakan senyum polos yang biasa ia lemparkan ke arah pria itu, walaupun yang kali ini dibuat-buat.

Pria itu hanya menggunakan kaos lengan panjang bermotif garis-garis, celana jins pendek, dan sepasang sepatu kets yang menutupi kedua telapak kakinya. Pria itu lalu berjalan memutari bangku dan berakhir duduk di sebelah Yoo Rin. Dan yang tak pernah ia lupa adalah… senyumnya. Senyumnya yang selalu membuat Yoo Rin berdebar-debar, senyum yang walau dilihat sedetik sekalipun mampu mengunci seluruh gerak organ tubuhnya. entah sampai kapan itu akan terjadi.

“Lee Yoo Rin, bagaimana harimu? Menyenangkan?” Tanya pria yang sudah sedari tadi menatap Yoo Rin dengan matanya yang berkilau.

“Tidak buruk,” jawab Yoo Rin singkat.

“Sebenarnya aku ingin mengajakmu jalan-jalan tapi, kenapa tubuhku lelah ya?”

Pria itu, Lee Taemin, berlagak seperti memijati punggungnya dan memasang rupa memelas kearah Yoo Rin. Mungkin pria itu sedang bercanda tapi, tidak menurut Yoo Rin.

“Lalu kenapa kemari? Seharusnya kau pulang dan istirahat lalu melanjutkan syutingmu di Myeongdong, ‘kan?

“Kau melihat artikel itu ya?” Tanya Taemin antusias.

“Tidak.”

“Lalu kenapa ekspresimu berubah? Kau cemburu?”

“Tidak!” jawab Yoo Rin ketus, masih mempertahankan jawaban ‘tidak’.

“Ya, Lee Yoo Rin, gadis manis milik Lee Taemin, jangan berbohong. Tadi, aku melihatmu membaca artikel yang berisikan aku dan Naeun berkencan di Myeongdong, ‘kan? Melihat keberadaanku, kalu langsung mematikan ponselmu. Kau tidak boleh membohongi oppa-mu ini. Cih.. Kau bahkan tidak memanggilku‘oppa’.”

Yoo Rin melirik Taemin sekilas, “Tsk. Naeun memanggilmu ‘oppa’Arraseo, urusi saja ‘istrimu’ itu!”

“Ya ya ya! Kenapa marah?” Tanya Taemin dengan tampang polosnya. Melihat Yoo Rin sudah melipat tangan di depan dada seperti ini, hal paling menjengkelkan bagi Taemin. Agak sulit untuk meluluhkan hatinya yang sekeras batu. Setidaknya ia harus punya jurus maut untuk meluluhkannya.

“Kau bilang‘kenapa’? Jadi aku tidak berhak marah? Sebenarnya aku ini siapamu, huh? Tentu saja aku—“

“Cemburu?”sahut Taemin sebelum Yoo Rin merampungkan kalimatnya.

“Kau cemburu, ‘kan?”

Yoo Rin mendengus kesal dan berpaling. Sudah lelah dia harus terus-menerus beradu argumentasi dengan Taemin. Toh akhirnya dia juga yang kalah. Seperti saat ini.

“Aku anggap itu jawaban ‘iya’,” lanjut Tamin.

“Kau tidak pernah merasakan jadi aku, ‘kan? Karena kau selalu sibuk dengan urusanmu sendiri. Kau tidak tahu seberapa besar rasa iriku melihat Naeun berdiri berdampingan bersamamu? Jalan-jalan, bahkan sekalipun aku belum—“

Taemin memeluk tubuh Yoo Rin saat itu juga. Ia mengelus rambut panjangnya dari atas sampai bawah lalu bergeming tidak jelas di samping telinga Yoo Rin. Yoo Rin juga bisa merasakan detak jantung Taemin tak kalah hebat berpacu membentuk sebuah harmoni tersendiri—persis seperti detak jantungnya.

“Maafkanaku, Lee Yoo Rin. Maafkan aku karena tidak bisa memahamimu. Maafkan aku karena sudah membuatmu menderita,” kata Lee Taemin lirih.

“…Sekarang,aku akan mengajakmu jalan-jalan, seperti yang kau inginkan,” lanjut Taemin.

“Taemin—“

“Sudah. Ikuti saja aku.”

Taemin menarik tangan gadis itu untuk berdiri dan menggiring Yoo Rin berjalan disampingnya, kini tangan mereka saling bertautan.

“Kau akan merasa menjadi orang paling beruntung di dunia!”

Yoo Rin tidak menggubris perkataan demi perkataan yang keluar dari mulut Taemin. Pikirannya mulai terfokus pada setiap orang yang menatap mereka dengan tatapan bingung. Kenapa ia jadi kikuk begini?

Tak butuh waktu lama, keduanya segera sampai di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Korea Selatan, Myeongdong. Tempat ini memang tidak asing bagi warga Korea Selatan sendiri maupun seluruh pengunjung mancanegara dikarenakan tempat ini memang sudah terkenal sebagai tempat perbelanjaan terbesar di negeri gingseng tersebut. Ditambah harga barang yang juga dijual tidak terlalu mahal, menambah daya tarik dan minat pembeli pada tempat ini.

“Kenapa kesini?” Tanya Yoo Rin.

“Kau mau apa? Aku yang akan belikan untukmu. Kau mau makanan? Jepit rambut? Atau yang lain?”

Sesekali mata Taemin tertuju pada Yoo Rin, menyaksikan ekspresi bingung dari kekasihnya memang hal terbaik di dunia ini, batinnya.

“Taemin-ah, kau berlebihan,” ungkap Yoo Rin.

“Anggap saja ini permintaan maafku. Aku juga tidak bisa sering-sering menemanimu jalan-jalan seperti ini. Kau habiskan hari ini bersamaku ya? Kita akan bersenang-senang,” kata Taemin di susul tawa renyahnya.

Yoo Rin hanya mengangguk. Mendapat perlakuan dari kekasihnya seperti ini, memang rasanya berlebihan. Tapi, begitulah Lee Taemin. Semua keinginanya harus ia wujudkan sendiri dan harus terlaksana.

Tiba-tiba dua orang gadis menghampiri Taemin dan Yoo Rin yang sedang asyik menikmati takoyaki yang mereka beli di salah satu kedai makanan. Seorang gadis terlihat lebih tua dari gadis disampingnya dengan rambut pendek dan poni rata. Sementara gadis yang satunya tampak seperti bukan orang Korea, lebih tepatnya dari Jepang.

“Kau Lee Taemin SHINee?” Tanya gadis berambut pendek pada Taemin dengan aksen Busannya yang sangat kentara. Dilihat dari ekspresinya, dia sedang menahan pekikannya begitu melihat Taemin. Mungkin penggemarnya, gumam Yoo Rin.

Taemin hanya menggangguk dan tersenyum ke arah mereka.

Keduanya balik menatap Yoo Rin dangan tatapan intens, seakan menebak-nebak siapa gerangan gadis yang berdiri disisi Taemin seraya menggandeng tangannya. Yoo Rin hanya bisa tersenyum kikuk.

“Siapa gadis disampingmu? Dia bukan Naeun A-pink, ‘kan?” Tanya gadis satunya.

Yoo Rin berdecak. Apakah di dunia ini hanya mengenal Taemin dan Naeun? Kenapa harus Naeun lagi? Yoo Rin mencoba mengendalikan dirinya dan tetap mempertahankan senyum.

“Bukan. Dia ini kekasihku, Lee Yoo Rin. Dia kekasihku yang sesungguhnya,” jawab Taemin santai. Ia kemudian mengalungkan lengannya di bahu Yoo Rin, seakan meyakinkan perkataannya itu.

Kedua gadis itu tampak terkejut dengan pernyataan Taemin barusan, begitu juga Yoo Rin. Apa yang baru saja Taemin katakan? Apa pria itu gila mengungkapkan hal tersebut didepan umum? Yoo Rin belum siap menerima cakaran dari fans fanatik Taemin.

“Ah, jinjja?” Tanya kedua gadis itu hampir bebarengan.

“Aku bersungguh-sungguh,” jawab Taemin mantap.

Kedua gadis itu beranjak pergi setelah menerima jabat tangan dari Taemin. Sedangkan Yoo Rin masih terdiam di tempat—mencoba menyadarkan dirinya dari kejadian tadi.

“Ayo jalan,” ujar Taemin sambil menggoyang bahu Yoo Rin pelan.

Dan pada akhirnya, seluruh pengunjung di tempat itu melemparkan pandangan pada sepasang kekasih yang tengah berjalan di antara mereka. Yoo Rin bisa menebak, orang-orang itu pasti sedang mempertanyakan siapa dirinya. Ia mulai gelisah. Sesekali ia menengok ke samping untuk menatap Taemin yang ekspresinya kontras dari ekspresi Yoo Rin—terlihat santai.

“Bagaimana jika muncul berita bahwa kita berkencan? Kau bisa terkena skandal,” bisik Yoo Rin pelan pada Taemin.

Taemin lagi-lagi tersenyum, “Skandal dengan kekasihku sendiri? Mengapa harus khawatirt?”

“…Aku. Lee Taemin SHINee. Aku senang bisa memiliki kekasih bernama Lee Yoo Rin.”

Meskipun Taemin tidak berteriak, Yoo Rin yakin suara berat Taemin sudah mampu menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. Pria itu hanya tersenyum tanpa rasa bersalah sekalipun, balik menatap orang-orang yang terlebih dulu menatapnya dengan tatapan yang seakan sulit diartikan.

“Masih cemburu dengan Shon Naeun, eum?”

“Kaulah seseorang yang paling aku cintai selain kedua orang tuaku. Jadi, jangan meragukan perasaanku lagi, Yoo Rin.”

Dan kalimat terakhir Taemin, sukses membekap mulut Yoo Rin. Tidak ada yang perlu diragukan, ‘kan?

END

Fiuuh… *lap keringat pake tangan Taemin* Akhirnya selesai juga. Terimakasih yang sudah menyempatkan waktu membaca apalagi yang kasih review di bawah, aku sangat menghargai komentar kalian yang kasih saran, pujian, maupun kritik.

Maaf ya kalau semisal masih kurang greget.

Next time… akan lebih baik dan baik lagi. Dan kalau ada typo mohon di koreksi ya ^^

Sampai berjumpa di FF selanjutnya ~ (Ekikumo)

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

12 thoughts on “I Got Ma Girl

  1. Indah juga membayangkan kalau TaeMin benar” dapat pacaran tanpa penghalang dan tidak mendapatkan haters. ◦”̮◦нαнα◦”̮◦нαнα◦”̮◦‎​​

  2. Ahahahhaha,,,

    Aku juga labil bgt wktu liat postingan screen caps kencan mereka di Myeongdong.

    Rasanya pengen nyulik Taemin, umpetin dikamar. /Kicked/

    Hahaha

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s