Just For One Day

Just For One Day

Title : Just For One Day

Author : Natali Tamashii

Length : Oneshot

Rate :  Teen

Genre :  Angst, Friendship

Type : Songfic

Main Casts :  Kim Hye Kyo (OC)

Choi Min Ho

Support Casts : Kim Hye Kyo (OC)

Kang Soo Woo (OC)

Han Je Soo (OC)

Shin Seul Ri (OC)

Disclaimers : This fanfiction made by my own brain. Just inspiration from song Just For One Day by Cho Kyuhyun’s Super Min Hoior. Don’t be plagiarism my fanfiction.

Annyeong ^_^

Saya lagi-lagi mengirimkan ff saya  yang kali ini oneshot. Sebenarnya ff ini bukan versi aslinya alias ini ff hasil remake dari ff yang sebenarnya ber-main cast T-Max yang merupakan ff request-an temen. Jadi kalo mau baca versi aslinya bisa mampir ke blogku natalitamashii.wordpress.com *promosi

Semoga ff kali ini lebih baik daripada ff saya sebelumnya.

Buat reader, jangan salahkan saya jika ff ini menimbulkan muntah-muntah dan pusing yang berkepanjangan. Kalian bisa salahkan Kyuhyun yang telah menyanyikan lagu ini sehingga saya terinspirasi untuk membuat songfic ini. Oh ya, biar lebih mantap (?), bacanya sambil dengerin lagu Just For One Day ya.

*plakkk

*dirajam Sparkyu

Onkeylah daripada banyak cingcong langsung aja baca ff abal bin absurd saya…

Happy reading ^_^

***

 

neo mu man i pyeon hae jyeot na bwa

We ought to become balmierly

oo rin neo mu chin hae jyeot na bwa

We ought to become nearerly,

na eui pum e han gyeol nun mul heul lyeo do

I have your secret,

na reul chin gu ro man saeng gak ha neun

someone which only pretending me a friend,

neo e ge jak eun bi mil i it sseo

When you vanish my tear.

 

Di sinilah aku sekarang. Di sebuah kamar yang tak terlalu besar dengan dinding berwarna putih bersih, tengah duduk di pinggir sebuah ranjang king size menatap seorang namja yang tengah terbaring di tengah-tengah ranjang sambil memejamkan mata. Peluh mulai membanjiri wajahnya. Keningnya berkerut dan tanpa sadar ia menggigit bibir bagian bawahnya, menahan rasa sakit. Perlahan-lahan kelopak matanya terbuka hingga menunjukkan manik mata yang sangat kusukai. Ia pun menengokkan wajahnya ke kiri.

“Hye Kyo-ya? Kamu sudah datang?” tanyanya lirih. Ia berusaha untuk duduk, namun aku menahannya.

“Sudah jangan dipaksakan, aku tahu kamu sedang menahan rasa sakit,” ujarku dengan intonasi datar.

Gomawo karena sudah datang Hye Kyo-ya. Kamu memang sahabat terbaikku.” Di akhir kalimat ia memberikan seulas senyum tulus yang sangat kusuka.

Mau tak mau aku pun ikut tersenyum, namun lebih ke arah tersenyum miris. Sahabat? Hanya sebatas itukah aku di matanya? Sungguh memilukan. Kamu tahu Min Ho-ya? Kamu menganggapku hanya sahabat, namun tak bisakah kita lebih dekat? Aku merasa jika kedekatan kita masih terdapat sekat. Apa karena aku yeoja dan kamu namja sehingga kita tak bisa lebih dekat? Bukankah itu justru bagus? Namun mengapa kita tak bisa lebih dekat? Aku hanya menghela napasku cukup panjang.

Wae? Kamu kecewa karena kupanggil ke sini?” tanyanya ketika menyadari diriku yang tadi menghela napas cukup panjang.

Aku pun segera menggeleng. “Aniyo. Aku sama sekali tak kecewa. Bagaimana kakimu?” Aku pun tersenyum, senyum kebohongan. Segera kualihkan topik agar Min Ho tak menanyaiku lebih lanjut.

“Yah, kamu lihat ‘kan jika kakiku tak bisa digerakkan,”ujarnya berusaha menggerakkan kakinya.

Namun nihil, kakinya tak bergerak se-inchi-pun. Aku melihatnya dengan pandangan sendu. Aku tahu saat ini ia tengah menahan sakit yang teramat pada kakinya. Tak tahukah kamu Min Ho? Jika aku juga merasakan sakit saat melihatmu sakit? Bahkan mungkin rasa sakitku lebih dalam daripada rasa sakitmu.

Yah, tadi Min Ho menghubungiku yang sedang berada di rumah. Ia memberitahuku jika penyakitnya kambuh. Buru-buru aku datang ke rumahnya dan mendapatinya tengah terduduk -lebih tepatnya terjatuh- di depan pintu kamarnya dalam keadaan pingsan. Dengan susah payah pun aku memindahkannya ke atas ranjang. Bagaimana pun juga ia seorang namja dan aku hanyalah seorang yeoja, jadi barang tentu tubuhnya lebih besar daripada diriku sehingga membuatku kesusahan memindahkannya.

Ya, Min Ho mengidap penyakit aneh yang mulai dideritanya setelah ia mengalami kecelakaan motor setahun yang lalu dimana tiba-tiba ia akan merasakan kakinya mati rasa hingga tak dapat digerakkan selama beberapa jam, seperti orang lumpuh. Kata dokter salah satu syaraf kakinya terjepit akibat kecelakaan tersebut dan hanya dapat diobati dengan jalan operasi. Namun mengingat kondisi Min Ho, dokter bilang operasi itu sangat berbahaya hingga dapat merenggut nyawa Min Ho sehingga operasi urung dilakukan. Penyakit yang diderita Min Ho hanya aku dan dokter yang tahu. Ia memintaku untuk menyimpan rahasia ini. Dengan terpaksa, aku pun menyetujuinya. Ia mengatakan jika ia tak ingin orang tuanya khawatir. Terlebih ia tinggal di Seoul sendirian di apartement-nya.

***

na reul yeo ja ro an bo neun ji

Didn’t you see myself as a girl?

nae ga neo mu pyeon hae jyeot neun ji

Possible I have feel balmyly,

neo eui eo ggae e nun mul dak geul dae

My moment wipe my tear at your shoulder,

na reul chin gu ro man saeng gak ha neun

someone which only pretending me a friend,

neo e ge jak eun bi mil i it sseo

When you vanish my tear.

Hari ini aku tengah berada di halaman belakang rumahku, mengamati langit yang seharusnya berwarna biru cerah namun sekarang langit yang biasanya meneduhkan hatiku dengan warna indahnya kini menggelap. Matahari pun enggan membagikan sinarnya ke bumi. Ia lebih memilih mengurung diri di balik awan. Entah mengapa aku merasa jika langit tengah berpihak padaku dengan menunjukkan sisi gelapnya, sama dengan gelapnya hatiku saat ini.

Pikiranku pun melayang pada kejadian beberapa jam yang lalu, kejadian yang membuatku sakit. Sangat sakit. Saat itu aku sedang berada di kampus dan tengah mengobrol dengan salah satu temanku, Shin Seul Ri. Tanpa sengaja aku melihat Min Ho tengah membelai rambut seorang yeoja dengan sangat lembut. Ia memperlakukan yeoja itu sangat halus. Berbeda. Sangat berbeda dengan perlakuannya padaku. Dia tak pernah membelai rambutku seperti itu. Tak pernah sekali pun walau sudah hampir empat tahun kami bersama, sebagai sahabat. Dia selalu memperlakukanku seperti teman namja-nya yang lain. Apakah karena aku sahabatnya hingga ia tak melihatku sebagai seorang yeoja?

“Hai, sedang melamunkan apa eoh?”

Seseorang menepuk bahuku. Tanpa memandangnya pun aku tahu jika ia Min Ho. Perlahan bangku yang kududuki berjengkit karena bebannya bertambah. Segera kuletakkan kepalaku di bahu Min Ho begitu ia telah duduk di sampingku. Kurasakan tubuhnya menegang.

“Hei, kamu kenapa?”tanyanya sambil menegakkan kepalaku dan menyentuh kedua pipiku hingga mau tak mau wajahku menatap wajahnya.

Omo, kenapa menangis? Apakah ada yang sakit Hye Kyo-ya?” Terlihat jelas sorot kekhawatiran di matanya.

Dengan sigap ia menghapus air mataku menggunakan kedua ibu jarinya. Aku hanya terpejam merasakan sentuhan lembutnya membelai wajahku.

Gwaenchanayo Min Ho-ya,”ujarku dengan senyum tipis yang mungkin terlihat dipaksakan.

Kamu tahu Min Ho? Aku merasa senang ketika kamu perhatian padaku. Aku juga senang saat aku bisa merasakan hangat dan nyamannya bahumu. Walau itu hanya sesaat karena kamu perhatian padaku hanya sebagai sahabat bukan?

“Jika ada apa-apa ceritakan padaku ne? Bukankah aku sahabatmu?”ujarnya diakhiri senyuman manis yang tentu saja sangat aku sukai.

Aku hanya tersenyum miris mendengar perkataannya lalu mengangguk. Benar bukan? Kamu hanya menganggapku sahabat. Tak lebih.

***

ha ru man dan ha ru man

One day, only one day,

neo eui chin gu a nin neo eui nam ja ro man nat seu myeon

I hope we can meet not as friend, but I am as your girlfriend

sa shil oo jeong gat teun geon nae gen gwan shim eob seo

honestly, I gone off in friendship,

Just for one day

Just for one day.

sa rang bo da gip eun oo jeong i nam a

Friendship come deeper than love,

gam chul su bak ge eob neun nae sa rang eul

Love that I which must hide,

neo eui chin gu ra neun i reum eu ro maem dol da ji chyeo

I fear you feel run down with me,

neo reul no a jul gga bwa du ryeo wo

Someone which only your friend, discharging of it

 

Semilir angin sore menerpa rambutku yang sengaja kugerai hingga membuatnya menari-nari kecil. Saat ini aku tengah berada di tepi Sungai Han sembari menunggu datangnya sunset, rutinitasku dengannya tiap akhir pekan. Ya, hari ini berada di Sungai Han bersama Min Ho, sahabatku. Hah, mengapa lidah ini terasa beku tiap kali aku menyebutnya sahabat?

“Aku ingin sekali mengelilingi dunia,”ujarnya tiba-tiba memecah keheningan yang semakin mencekikku.

Bagaimana tidak jika sejak satu jam yang lalu keheningan mengungkung kami? Aku hanya terdiam, tak ingin menanggapinya-lebih tepatnya membiarkan ia menuntaskan kalimatnya yang terkesan ambigu-.

“Yak! Mengapa kamu diam saja eoh?”

Aku pun segera menolehkan kepalaku ke kanan dan menatapnya dengan kening berkerut.

“Lalu aku harus bagaimana? Jika berbicara denganku, bicaralah yang jelas. Kamu tahu? Hampir semua kalimatmu itu ambigu,”ujarku santai dan aku mendapatinya menggeram tertahan.

Ish. Baiklah. Keinginan terbesarku saat ini adalah dapat mengelilingi dunia. Bagaimana denganmu?”ujarnya lalu menatapku.

Aku segera mengalihkan pandangan ke Sungai Han. Entah mengapa setiap kali ia menatapku dengan mata besarnya aku seolah terhipnotis-terintimidasi lebih tepatnya-. Ada sesuatu di mata itu yang membuatku terseret dalam pusaran hingga membuatku sangat ingin mengatakan tentang perasaanku yang sesungguhnya padanya. Ya, aku menyukainya anni aku mencintainya karena mata besarnya yang indah sehingga mampu membuatku tak henti-hentinya menatap mata besarnya yang indah.

“Ah, iya. Dasar bodoh. Pasti keinginan terbesarmu menjadi penerjemah bukan? Mengapa aku harus menanyakannya padamu jika aku sudah tahu jawabannya.”

Iya Min Ho. Kamu memang bodoh. Teramat bodoh. Kamu tak tahu bukan jika itu adalah jawaban yang salah? Sebodoh itukah kamu hingga tak dapat membedakan mana keinginan dan mana cita-cita? Itu cita-citaku Min Ho, bukan keinginanku. Kamu tahu keinginan terbesarku? Aku  hanya ingin satu hari. Hanya satu hari saja pergi denganmu bukan sebagai sahabat, namun sebagai sepasang kekasih. Jujur, aku tak menginginkan hubungan seperti ini denganmu. Aku tak menginginkan persahabatan ini. Aku ingin kita sebagai sepasang kekasih, bukan sepasang sahabat. Kamu tak tahu bukan? Karena itulah kamu bodoh Min Ho.

Namun aku tak dapat berbuat apa-apa karena bagimu persahabatan jauh lebih berharga daripada cinta bukan? Kamu tahu apa yang membuatku lelah Min Ho? Jika kamu tak tahu jawabannya maka aku akan memberitahumu. Aku lelah harus menyembunyikan cinta ini padamu Min Ho. Namun perasaan lelahku tak sebanding dengan perasaan takutku. Aku takut jika kamu lelah Min Ho. Aku taku jika kamu lelah padaku dan meninggalkanku sendiri. Kamu tak akan meninggalkanku kan Min Ho? Namun apa hakku menjeratmu terlalu lama? Jika kamu ingin meninggalkanku bukankah aku harus melepasmu Min Ho? Walau kutahu itu sangat sulit bagiku.

***

neo eui yeop e an jeul ddae ma da

when I sit beside you

ni gyeot e man but eo it da myeo

although I only in your side,

chin gu deul e eui shim ha neun nun bit do

My friend tell me that it is compromising

cheom en nat seol eot ji man sol jik hi na e gen

initially, That foreign enough, honestly but

cham gi bbeum i eot sseo

that make myself like

neo eui gyeot e an jeul ddae ma da

everytime I sit beside you ,

neo mu dul i eo ul rin da myeo

what friends tell me

chin gu deul eui jang nan seu reon nun bit do

We very according to, at the same time with humorous gaze of them,

sa shil bul an haet ji man

just honestly

na e gen jak eun ba raem i eot sseo

that make me  jumpy, but that’s my small desire

Pasar. Itulah kata pertama yang muncul  di pikiranku kala melihat keadaan kelasku. Ada yang berlarian, ada yang saling lempar gumpalan kertas hingga mendengarkan music dengan suara keras. Seandainya saja kelas ini tak dipasangi peredam suara, pasti keributannya akan terdengar hingga gedung sebelah. Uh, tak tahukah jika aku paling benci dengan keramaian? Jika bukan karena tugas dari dosen, aku tak akan mau berlama-lama di kelas ini. Aku lebih memillih berjibaku dengan buku-buku usang beraroma khas di perpustakaan daripada harus berada di tempat yang menurutku seperti neraka ini.

“Sudah selesai?”

Aku pun segera mengalihkan pandangan ke kiri lalu menggeleng setelah melihat siapa yang tengah duduk di sebelahku.

“Bagaimana bisa selesai jika suasananya tidak mendukung?”ujarku kesal sambil mencebikkan bibir -kebiasaan ketika aku kesal-.

Min Ho hanya tertawa menanggapinya. Jari-jarinya mulai nakal mengusak rambutku hingga berantakan. Aku pun semakin mencebikkan bibirku, pasrah dengan kelakuannya. Entah ini hanya perasaanku saja atau memang kelas menjadi sunyi? Aku pun segera mengedarkan pandangan dan mendapati berpuluh-puluh pasang mata tengah mengamatiku dan Min Ho dengan pandangan yang err….jahil.

“Hei pasangan kekasih, jangan menunjukkan kemesraan kalian di sini. Kalian membuatku iri.”Je Soo memandang kami tajam sehingga Min Ho dengan segera mengangkat tangannya dari kepalaku.

“Kami bukan pasangan kekasih Je Soo-ya. Kami hanya sahabat,”bantahku sedikit berteriak.

“Yeah. Itu memang status kalian yang diketahui umum, namun aku tak yakin jika kalian adalah sahabat. Kalian itu mencurigakan,”kali ini Hyo Kun angkat bicara.

Aku pun segera memandang tajam dirinya sedangkan ia acuh tak acuh dengan pandanganku. Ia sangat tak peduli atau bahkan takut dengan tatapan tajamku. Ya, selain Min Ho aku cukup dekat dengan Hyo Kun dan menganggapnya sebagai saudaraku sendiri. Ia tahu perasaanku terhadap Min Ho walau aku tak pernah memberitahunya. Tsk, kepandaian analisisnya tak pernah meleset termasuk analisisnya tentang perasaanku walau aku tak pernah mengiyakannya. Aku hanya takut Min Ho terpengaruh dengan ucapan Hyo Kun karena di kelas ini ucapan Hyo Kun bagai sebuah hukum yang dipercayai. Tsk, entah apa yang membuat orang-orang beranggapan bodoh seperti itu.

“Kalian itu lebih cocok menjadi sepasang kekasih daripada sepasang sahabat,”Soo Woo buka suara sambil membenarkan letak kacamatanya yang merosot.

Perlahan-lahan aku melirik Min Ho dengan ekor mataku, ingin melihat reaksinya. Namun seperti biasa, ia tak terlalu ambil pusing dengan perkataan mereka yang sudah menjadi makanan sehari-hari kami di kampus. Huh, setiap mereka menggoda kami aku takut jika Min Ho mengetahui perasaanku sebenarnya. Namun, dalam hati kecilku itulah keinginanku. Egois memang, namun apa salahnya? Bukankah manusia mempunyai sikap egois  itu lumrah?

***

yeon in a nin chin gu sa i ro nam eul gga bwa

I said, what even I don’t  understand.

mam e eob neun mal deul man haet ji

Because we possibly will be known as friend not dear,

ha ru man nae ge bil lyeo jwo

Loaning myself to your

neo eui mam gga ji mo du da

including your heart,

All I want is just to be with you

All I want is just to be with you

ham gge hal sun it get ji man

We will continue together,

pyeong saeng neo reul sok il su bak ge eob seo

But, I am only can cheat you ,

neo reul il ge dwel gga bwa du ryeo wo

Because I’m fear lost you.

 

Saat ini aku tengah berada di ruang keluarga apartement Min Ho. Seperti biasa penyakitnya kambuh sehingga mau tak mau aku harus menemaninya karena keadaannya yang benar-benar…hah, entahlah. Ia tengah terbaring di sofa. Sungguh aku tak sanggup melihatnya seperti ini. Setiap kali aku melihatnya tak berdaya seperti sekarang, aku harus menahan air mata yang berada di pelupuk mataku untuk meluncur bebas. Namun setelahnya aku akan menangis semalaman ketika sampai di rumah.

“Hei, apakah tak ada yang marah jika kamu menemaniku seharian ini?”

Suaranya memecah keheningan yang entah sejak kapan tercipta. Aku yang sedang mengerjakan tugas di laptop seketika mengalihkan pandangan ke arahnya dengan kening berkerut. “Maksudmu?”

“Ish. Apakah namjachingu-mu tak marah jika hampir setiap hari kamu selalu menemaniku?”

Aku hanya tertawa miris mendengar ucapannya. “Apakah kamu pernah melihatku berjalan dengan namja lain selain dirimu eoh?” Kulihat ia hanya menggeleng. Aku pun kembali menekuri laptop.

“Jadi kamu itu- Ahh…” mendengarnya memekik aku segera menatapnya dan mendapatinya tengah kesakitan. Aku pun segera menghampirinya.

“ Apa yang sakit?” Buru-buru aku memeriksa keadaannya.

“ Hei. Kepalaku hanya terkantuk sofa. Mengapa kamu sekhawatir ini eoh?”

“Bodoh. Aku ini sahabatmu. Mana mungkin aku tak khawatir.” Aku melipat kedua tangan di depan dada. Sungguh kesal dengan sikapnya. Yah, hanya alasan itu yang dapat kugunakan. Sahabatmu.

“Hye Kyo-ya, jika kamu memiliki kekasih apakah kamu akan jarang bersamaku?”

Tubuhku seketika menegang. Entah mengapa pertanyaan itu langsung menohokku. Setelah menarik napas dan menghembuskannya, aku menatap Min Ho. “ Mungkin saja. Bukankah setiap orang tak ingin kekasihnya terlalu dekat dengan orang yang berlawanan jenis kelamin walaupun itu sahabatnya?” terangku diakhiri senyum yang dipaksakan.

“ Ya, itu benar. Aku memakluminya.”

Kulihat ia tersenyum di akhir ucapannya. Bodoh. Tak tahukah kamu Min Ho jika namja yang kuinginkan untuk menjadi namjachingu-ku hanyalah kamu? Aku hanya membohongimu Min Ho. Hah, haruskah kita tetap menjadi sahabat? Aku pun kembali ke tempatku untuk menyelesaikan tugas yang sempat tertunda, tanpa menghiraukan Min Ho.

***

END…

Huft, akhirnya selesai juga ff ini. Buat reader, jangan bunuh saya jika ff-nya tak sesuai harapannya. Hanya ini yang nyantol(?) di otak saya. Maaf jika feel-nya kurang. Jika ingin membunuh, bunuhlah Kyu Hyun.

*dibantai Sparkyu

*kabur

Eh, jangan lupa comment-nya ya?

Friendly,

Natali Tamashii

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

27 thoughts on “Just For One Day

  1. Buuuuu, Ibuuuuu!!! Ini kok di bagian awal sama akhir sama-sama aja, sih?
    Trus perasaan Minho itu gimana aslinya? trus endingnya gimana? jujur feelnya dapet. jarang loh aku bisa ngerasain feel romance apalagi sad. cool!
    tapi gitu, pas lihat kata end ‘jleb’ aja. “What?!!”
    klo bisa lanjutannya boleh? entah kenapa penasaran, meski sebenarnya ide ceritanya udah pasaran. keep writing!!

    1. haduh saya masih muda jangan dipanggil ibu -_-
      ampun…ampun….
      jalannya memang gitu kan sesuai sama liriknya
      di sini cuma ada pov-nya hye kyo yah ttg perasaannya hye kyo ke min ho jadi ya end
      tapi tenang, nanti bakalan ada sekuel bahkan epilognya – walau tanpa prolog –
      berhubung nyari waktu luang yg susah banget jadi belum sempet ngetiknya
      wuahh nge-feel ya? saya kira bakalan flat karena jujur waktu ngetiknya tuh agak gimana gitu
      makasih udah komen🙂
      tunggu lanjutannya yg entah kapan akan ada

  2. Iya, Minho suka mengucapkan kata ambigu itu gara-gara kamu, thor. Ceritamu ini loh ambigu #jeder
    SEKUEEEEEEEEEEEEEEEELLL Argh udah lama ga baca ff minho yang jenis beginian. AKU KANGEN MINHOOO #JEDOR Masalahnya ini gueh banget gituh #PLAK Feelnya kenceng bro. Bagus bagus hahahaha #ditampol
    Sekuel ya? ya? ya? #diinjek xD Great fic!

    1. saya memang suka yg ambigu-ambigu #gubrakk
      saabbaaarrrrrrrr iya nanti ada sequel kok tapi belum pasti kapan
      aku juga kangen minho #curcol
      lagi suka yg bergalau-galau ria daripada happy end #plakk
      kirain gk ngefeel
      makasih
      thanks udah komen

  3. Ngegantungnya hatiQu.. -__-
    Bertepuk sebelah tangan deh Hye Kyo-nya..

    Memang persahabatan cew-cow itu memungkinkan banget ada kejadian spt di ff ini.
    Bagus kalau 22-nya ngerasain hal yang sama.
    Kalau salah satu pihak aja yang udah jatuh cinta, akhirnya ya spt ff ini..

    Jadi pengen ada sequel deh..😉

    Ok Natali, ditunggu karya lainnya ya..

  4. authooooorrrr, liat deh di nama support castnya, yg kim hye kyo diganti kim hyo kun mbakkk!!
    *todongin tongkat bisbol (?)
    hmm, udah bagus perubahannya ketimbang yang kermaren, jujur yang ini lebih rapi dan nge-feel, cuma males aja galau lagi, udah tiga hari penuh saya galau gegara begituan -_-
    sekuelnya mana????? T-Max dulu dong yaaa
    *maksa
    *plakk
    mian saya nggak bisa panjang-panjang kayak kemaren, ini cukup sebagai koreksi aja yah eon
    hwaiting ne!!😀

  5. mian eonni ada yang ketinggalan😛
    okehh, ayo kita hajaarrr xD
    1. katanya kemaren psikolog eh di sono penerjemah, wah author labil dah
    *plakk
    2. deskripsinya banyak yang masih sama, yah soalnya ya namja-nya juga ciri” sebagian besarnya juga sama -_-
    3. wehh, apaan tuh? hmm, secara tidak langsung tuh anda menyalahkan ucapan hyo kun yang berupa analisis berdasarkan fakta yang ada lho eon, di sisi lain emang benar tapi kok agak merasa tersinggung ._.
    4. hmm, kesimpulanku abis baa komennya tuh agak gimana gitu, kebanyakan terhipnotis galaunya hye kyo yah? padahal kalo jeli tuh ya min ho juga galau, tp samar”, min ho sebenernya juga punya perasaan yang sama kayak hye kyo lho
    ahahaayy, liat aja tuh bagian min ho nanyain ke hye kyo apa gak ada yang marah kalo nemenin dia terus, tersirat ketidakrelaan yang terpanar buram di sono
    *bahasanya ketinggialn deh -_-
    5. terakhir aja yeh😛
    saya tidak ingin mengulangi komen sepanjang tiga halaman penuh di blog laen –”
    udah bagus, nggak banyak perubahan justru lebih baik, banyak penjelasan dari kalimat yang sebelumnya ambigu juga, good job (y)
    okehh, hwaitingg!!!

    1. 1. lupa
      2. emang. makanya pake minho
      3. bukan menyalahkan. hanya takut perasaannya terbongkar
      4. hhahahahahahhahahahahahaahha
      5. makasih
      hwaiting!!!!!
      makasih

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s