In The Bus

Title: In The Bus

Cast:    Jung Soojung aka Kristal

Lee Taemin

Genre:  Friendship, fluff, TeenRomance.

Length: Oneshoot

Start à

Kristal menghapus kasar air mata yang mengalir di pipinya. Dengan segera ia menutup novel dipangkuannya itu. Tak berselang lama Sulli datang dan duduk disamping Kristal. Ia menatap heran mata Kristal yang sembab. Ia merogoh saku jas sekolahnya, menyerahkan selembar tisue pada Kristal yang meraihnya dengan senang hati.

“waeyo? Jangan menangis, sebentar lagi bus nya datang koq,” ucap Sulli. Kristal mendelik heran mendengar ucapan sahabatnya itu.

“siapa yang menangis gara-gara bus? Aku nangis gara-gara baca ini tau’,” jawab Kristal sebal sambil menunjukkan novelnya. Sulli mengangguk tanda mengerti.

Tak berselang lama bus yang ditunggu-tunggu dua yeoja itu datang juga. Kristal dan Sulli langsung masuk kedalam bus yang sudah penuh itu. Kristal berdecak kesal, ia melirik kaki kirinya yang masih diperban.

“tidak ada kursi,” gumam Kristal kesal. Sulli mengangguk prihatin. Mengingat kaki Kristal yang masih sakit pasti akan sulit menjaga keseimbangan di bus.

“pegangan padaku,” ucap Sulli, Kristal mengangguk dan memegang tangan Sulli.

Beberapa menit kemudian, bus sudah tiba dihalte selanjutnya dan Sulli harus turun. Kristal melambaikan tangannya pada Sulli. Ia melirik bangku kosong disamping jendela dan berjalan terseok kesana. Disampingnya duduk seorang namja berseragam sama seperti Kristal, tapi ia tak terlalu tertarik. Ia lebih tertarik pada jalanan kota Seoul yang terguyur hujan.

Bus berhenti dan masuk seorang ahjumma dengan seorang bayi digendongannya. Ahjumma itu terlihat resah karna tidak ada bangku kosong di bus itu. Kristal bangkit dari duduknya dan meminta namja itu untuk bergeser agar ia bisa berdiri.

“ahjumma, disini ada bangku kosong!!” ucap Kristal pada ahjumma yang berdiri disamping pintu itu. Ahjumma itu tersenyum lalu duduk di bangku Kristal.

“gamsahamida, lalu kau?” ucap ahjumma itu setelah duduk. Kristal menggeleng pelan lalu tersenyum manis.

“tujuanku sudah dekat,” jawab Kristal. Ahjumma itu terlihat resah saat melihat kaki Kristal yang diperban. “gwenchana ahjumma,” ucap Kristal seolah tau keresahan ahjumma itu. Namja yang duduk diantara Kristal yang berdiri dan ahjumma yang duduk itu terlihat tak terusik sama sekali.

Saat bus tiba-tiba mengerem secara mendadak, tubuh Kristal terjungkal kebelakang. Ia mungkin saja jatuh jika saja tangan namja itu tidak menahan pinggangnya. Setelah bus berjalan dengan normal namja itu melepas pegangannya. Pipi Kristal memerah, karna malu.

“gwenchana? Aigoo, jweosonghamida gara-gara aku,” ucap ahjumma itu bersalah. Kristal menggeleng keras.

“gwenchana ahjumma,” potong Kristal cepat. Namja itu bangkit dan menarik lengan Kristal hingga terduduk di bangkunya.

“jangan bodoh, kau tidak seimbang sama sekali,” ucap namja itu datar. Kristal sama sekali belum berkedip, namja yang tidak ia perhatikan sejak tadi ternyata sangat tampan.

“g..gamsahamida,” ucap Kristal kaku. Namja itu tidak membalas, tapi tetap berdiri disamping kursi Kristal. Sesekali ia melirik Kristal yang tertawa riang saat mendengar ocehan bayi laki-laki ahjumma itu.

“ahjumma, siapa namanya?” tanya Kristal semangat.

“Kyungsan, kang Kyungsan.” jawab ahjumma itu dengan senang hati. Kristal memekik riang saat mendengarnya,

“Kyungsan, annyeong!! Namamu sama seperti kemenakanku, aigoo,” ucap Kristall riang sambil memainkan jari-jari mungil Kyungsan. Namja yang berdiri dibelakang Kristal itu tersenyum tipis melihat tingkah Kristal. Ahjumma itu tersenyum tipis menatap dua pelajar didepannya.

“kalian pasangan yang serasi. Semoga kalian cepat menikah, anak kalian pasti sangat lucu” ujar ahjumma itu membuat Kristal kebingungan. Ia melirik namja dibelakangnya yang memalingkan mukanya dengan acuh. Tapi desiran hangat malah muncul didadanya saat melihat tatapan menyelidik namja itu karna Kristal memperhatikannya terlalu lama.

“tjh, sombongnya,” rutuk Kristal lirih. Ia melanjutkan acara bermain dengan Kyungsan, tertawa renyah saat mendengar ocehan bayi dihadapannya itu.

“uri Kyungsan kau harus tetap tersenyum lebar seperti ini okey? Kau harus cepat tumbuh besar, nuna pergi dulu. Annyeong!!” pamit Kristal saat ia melihat toko roti milik kakaknya sudah terlewat.

Ia bangkit dan berjalan secepat mungkin menuju pintu. Ia mendesah kasar saat melihat tanah berlumpur dibawahnya.

“sempurna,” geramnya. Sebuah tangan mengulur dihadapannya, dan wajah tampan yang ia puji tadi muncul kembali.

“pelan-pelan saja. Gunakan kaki kananmu, cepat!!” ucap namja itu lalu meraih tangan dingin Kristal. Kristal meloncat ragu, ia terpeleset tapi namja itu memeluk pinggangnya. Ia selamat dari lumpur. Dan lukanya tidak sakit karna melompat ke trotoar.

“gamsahamida, kau menolongku dua kali,” ucap Kristal riang. Namja itu mengangguk acuh.

“kau punya tisue?” tanya namja itu dingin. Kristal melirik sepatu namja dihadapannya, kotor karna lumpur. Kristal mengulurkan sapu tangannya.

“aku minta tisue, bukan sapu tangan,” ujar namja itu. Kristal berjongkok dan membersihkan sepatu namja yang menolongnya, sebelum namja itu melangkah pergi. Kristal bangkit dan mengejar namja itu. Tapi nihil, dengan kakinya yang seperti itu ia tak mungkin berjalan normal apalagi lari.

Kristal menatap punggung namja itu. Ia melirik sapu tangannya, bahkan ia belum sempat membersihkan sepatu namja itu.

“gomawo,” ucap Kristal lirih lalu berjalan terseok menuju toko roti sang kakak.

FewDaysLater

“Kris, kau sudah lepas perban?!” tanya Sulli riang. Kristal mengangguk pasti lalu duduk disamping bangku Kristal. Ia mengeluarkan buku pelajarannya lalu berbincang-bincang dengan Sulli mengenai ujian semester yang akan dimulai beberapa hari mendatang.

“Aish!! Songsaenim itu tidak adil, mereka bisa rapat dan makan-makan. Sedangkan kita mengerjakan tugas yang menumpuk ini!!” Kristal menoleh kasar kearah suara keras yang tiba-tiba mengisi ruang kelasnya. Minhyuk, salah satu temannya yang aktif di ekstra musik terapan beteriak keras.

“Ya!! Kang Minhyuk, tidak bisakah kau diam!!” pekik Sulli kesal. Minhyuk menjulurkan lidahnya kesal. Kristal berjalan keluar dari kelas diikuti Sulli. Beberapa anak sedang mengobrol didepan loker mereka dan beberapa yeoja yang melirik Kristal dengan pandangan sinis. Dan tentu saja tidak dihiraukan sama sekali oleh Kristal.

“Aish!! Kau ini, jangan lari-lari di lorong!!” pekik Sulli dibelakang Kristal. Kristal melihat baju Sulli yang berwarna pink karna terkena jus strobery seorang hoobae. “sudahlah, tidak apa-apa. Biar kuurus sendiri. Pergilah,” ucap Sulli pada hoobaenya, yang bernama Youngmin.

“Kris, kau bawa tisue?” tanya Sulli penuh harap. Kristal merogoh saku jasnya, mengeluarkan sapu tangan ungu dengan sulaman emas di pojoknya. Saat Kristal hendak membersihkan baju Sulli, ia terhenyak.

“jangan pakai ini. Ayo bersihkan di toilet,” ucap Kristal cepat. Sulli mendengus kesal, ia menarik sapu tangan sahabatnya itu. Masih ada bekas lumpur di sapu tangan itu.

“aigoo, kau belum membersihkan ini. Jorok!!” ucap Sulli kesal lalu berjalan mendahului Kristal. Kristal menyamai langkah Sulli dan menemani Sulli ke toilet.

“Jangan masuk!! Tunggu aku di kantin saja,” ucap Sulli keras. Kristal mengangguk patuh dan pergi ke kantin.

Kristal duduk di meja yang berdekatan dengan kaca yang memperlihatkan halaman luas sekolahnya. Ia melirik ke kolam renang yang terletak disisi utara dari kebun bunga. Ia bertanya-tanya kapan ia bia menceburkan dirinya dari papan putih itu lagi. Merasakan dinginnya air kolam renang yang ia gunakan berlatih selama lebih dari dua tahun untuk sebuah kompetisi. Kompetisi yang telah ia lewatkan. Seketika air mata jatuh di pipi Kristal, dan dengan cepat Kristal menghapusnya. Mengubahnya menjadi senyuman manis yang sempurna.

“Ahjumma!! Dua ramyun pedas!!” pekik Kristal rian didepan meja pemesanan, seorang ahjumma muncul dengan membawa dua cup besar ramyun pedas sesuai dengan pesanan Kristal.

“Agashi, kau sudah sembuh? Syukurlah, kau harus makan banyak supaya tidak sakit lagi, jamkkaman.” Ahjumma itu kembali kearah dapur dan mengambil beberapa gogi. “Makan dengan ramyun itu,” tambah ahjumma itu. Kristal tersenyum lebar.

“Okey!! Gamsahamida!!” ucap Kristal riang lalu kembali ke bangkunya. Saat ia bersiap memasukkan ramyun itu kemulutnya, kerusuhan yang tiba-tiba saja datang ke kantin membuatnya tersedak. Ia menatap sebal kerumunan yeoja yang berteriak histeris.

“itu sebabnya namja memandang rendah wanita, mereka menyebalkan,” dengus Kristal lalu kembali fokus ke ramyunnya. Ia melirik kedepan, ada seseorang yang duduk dihadapannya.

“Sul, cepat makan ramyunmu. Aku juga dapat gogi, ayo kita bagi,” ucap Kristal sambil terus memakan ramyunnya.

“Kris!!” pekik Sulli yang berdiri di belakang Kristal. Kristal menoleh kasar, ia melihat Sulli sedang berkacak pinggang dengan muka seramnya saat marah.

“wae? Ayo cepat duduk,” ucap Kristal.

“Duduk? Maaf, aku tidak bisa merusak kencan orang lain. Silahkan lanjutkan proses penambahan antismu,” ucap Sulli penuh arti. Kristal menatap sahabatnya heran.

“ada apa denganmu? Aku lapar,” ucap Kristal lalu membalikkan badannya, matanya melotot saat dihadapannya duduk seorang namja. Namja yang sama seperti yang ia temui beberapa hari lalu.

“KAU!!” jerit Kristal kaget, sedangkan namja itu masih diam dan menatapnya dingin.

“Sul? Siapa Sul, apa kita dekat hingga kau menggunakan banmal? Hoobae, kau tidak sopan sama sekali,” ucap namja itu tajam.

FewHoursLater

“Oh ayolah Sul!! Kenapa kau jadi marah padaku?!!” panggil Kristal sebal, Sulli tetap tak menghiraukan Kristal dan terus berjalan melewati lorong sekolah yang mulai sepi.

“Choi Jinri!!” geram Kristal. Sulli menoleh kasar, matanya berkaca-kaca. Ia berjalan cepat kearah Kristal yang menangis dalam diam.

“aku tak ingin kau terluka!! Kau ingat kecelakaanmu beberapa bulan lalu, itu karna orang jahat yang membencimu. Kau baik, cantik, pintar, berbakat, periang, banyak orang yang menyukaimu. Tapi akan banyak orang yang iri padamu!” ucap Sulli menggebu ditemani air matanya yang terus mengalir. Kristal terisak mendengar suara tinggi Sulli.

“mengertilah Kris, akan sulit bagiku melihatmu terluka lagi. Untuk saat ini jangan mendekati hal-hal yang membuat orang iri. Termasuk Taemin sunbae,” ucap Sulli sambil merangkup wajah Kristal yang memerah karan menangis. Kristal mengangguk paham.

“aku turun dulu nee?” Sulli bengkit dari duduknya. Kristal melambaikan tangannya pada Sulli lewat jendela. Ia tersenyum lebar seperti biasanya, seolah ia tak pernah menangis hari ini. Melupakan semua kekesalan Sulli padanya. Dan ia berhasil.

Tapi, dalam bayangan Kristal kini terlintas kronologi kecelakaannya beberapa bulan lalu. Saat itu ia sedang pulang sekolah, ia akan tiba di rumah terlalu malam jika ia menunggu bus. Akhirnya ia memutuskan untuk pulang naik taksi walau itu akan menguras uang sakunya. Saat ia berjalan untuk mendapatkan taksi, ia melihat seekor kucing yang diikuti beberapa anak kucing di tengah jalan. Berkumpul dan mendesak satu sama lain agar tidak terlindas kendaraan yang lewat.

Begitu lampu merah dan jalanan disisi lain terlihat sepi Kristal berlari ketengah dan menolong kucing-kucing itu. Tiba-tiba ada mobil yang melaju kencang dari jalan sisi kanan yang akhirnya menabrak tubuh Kristal, membuatnya terpental lima meter dari tempatnya tadi. Ia ingat dengan sangat jika orang yang menabraknya adalah seorang namja, bukan yeoja yang iri padanya seperti kata Sulli.

“haksaem!!” Kristal menoleh saat merasa dirinya dipanggil. Ia melihat ahjumma yang bertemu dengannya beberapa hari yang lalu.

“kau sendirian? Tidak bersama namjachingumu?” tanya ahjumma itu lalu duduk disamping Kristal. Kristal membungkuk dalam, menyapa ahjumma itu sopan.

“ahjuma, dia bukan namjachinguku. Dia.. sunbaeku di sekolah,” lanjut Kristal, tiba-tiba Taemin sudah berdiri didepan mereka dengan Kyungsan digendongannya. “Sunbae?!! Kenapa kau disini!!” pekik Kristal. Ia menatap ahjumma disampingnya.

“kami bertemu di halte dan Kyungsan sepertinya ingin bermain dengannya,” ucap ahjumma itu seolah tau pertanyaan Kristal. Taemin tak memperdulikan tatapan Kristal yang penuh tanda tanya. Ia duduk disamping bangku Kristal dan ahjumma tadi.

Bus berhenti di halte berikutnya dan seorang harabeoji berdiri di samping Taemin. Taemin bangkit dari duduknya. Membungkuk hormat pada harabeoji itu, sebelum menyerahkan Kyungsan ke pangkuan Kristal.

“silahkan duduk haraboji,” ucap Taemin sopan, haraboji itu duduk dibangku Taemin.

Kristal sibuk bermain dengan Kyungsan, ahjumma itu terkekeh melihat tatapan kesal Taemin yang merasa diacuhkan hoobaenya itu.

‘Ciiitt.’ Bruk

“argh, sial” umpat Taemin sambil bangkit dari jatuhnya. Kristal menatap Taemin khawatir tapi masih menjaga emosinya untuk tidak bicara banyak pada Taemin.

Matanya bertemu dengan mata Taemin. Saat itu juga ia memalingkan wajahnya, ia melirik celana Taemin yang tersingkap menampakan bercak merah pada kain putih dipergelangan kakinya. Kristal menyerahkan Kyungsan pada ahjumma disampingnya, membantu Taemin berdiri dan memaksa Taemin untuk duduk.

“apa yang kau lakukan,” tolak Taemin kasar. Kristal merengut mendengar ucapan Taemin.

“jangan bodoh, kau tidak seimbang sama sekali. Menurut saja padaku sunbae!!” ucap Kristal tegas. Taemin tak berkedip menatap Kristal, seketika tawanya pecah.

“perbanmu baru dibuka hari ini dan kau sudah sangat sombong. Arraseo hoobae!!” balas Taemin sambil menahan tawa.

Ia menggantikan Kristal bermain dengan Kyungsan, takdir yang ditunjukkan oleh hyungnya ternyata berdampak baik sekarang. Tapi ia tak tau apa yang terjadi pada Kristal besok dan seterusnya.

Kristal berjalan kearah pintu, saat melihat toko roti kakaknya. Tapi ia berhenti begitu menyadari Taemin tidak bangkit. Ia menatap Taemin yang masih bermain riang dengan Kyungsan.

“sunbae? Kau tidak turun?” tanya Kristal.

“tidak. Aku berhenti di halte depan sana,” jawab Taemin tanpa memandang Kristal.

“lalu kenapa kau turun disini dua hari yang lalu?” tanya Kristal heran, Taemin terhenyak. Apa yang harus ia katakan? ‘karna aku memata-mataimu’ jawaban itu tidak bisa diterima akal sehat.

“eunggg, Sudah sampai ya ternyata, kajja kau juga turun disini kan? Kyungsan, hyung pergi dulu nee?” ucap Taemin gugup lalu meraih tangan Kristal.

Taemin menggeram saat pintu bus terbuka. Ia sudah mengotori sepatunya dua hari yang lalu. Dan apakah hari ini dia juga harus berhadapan dengan lumpur lagi. Kristal meloncat turun. Ia mengulurkan tangannya pada Taemin yang menatapnya sinis.

“lupakan, kau juga tidak seimbang.” ucap Taemin sinis.

“setidaknya aku tidak berdarah. Ayolah sunbae,” rengek Kristal. Taemin tertawa pasrah lalu meraih tangan Kristal. Ia melompat seperti yang dilakukan Kristal beberapa hari lalu. Dan persis seperti Kristal, Taemin tidak seimbang. Tubuhnya terhuyung kebelakang, Kristal berusaha menahan tubuh Taemin tapi tenaganya tak cukup hingga keduanya terjungkal dan jatuh ke lumpur.

“Great!! Gomawo kau menolongku dua kali,” dengus Taemin. Kristal merutuki kebodohannya.

“mianhe sunbae. Aku hanya berniat balas budi,” ucap Kristal lirih. Ia memandangi sepatunya yang kotor.

Taemin merogoh saku celananya, mengeluarkan sapu tangan yang selalu ia bawa. Ia berjongkok dan membersihkan sepatu Kristal. Kristal terhenyak dan menarik kaki jenjangnya.

“sunbae,” gumamnya. Taemin menarik kaki kanan Kristal yang terangkat dan membersihkan kembali sepatu Kristal.

“kau pintar. Kau membalas budi persis seperti aku melakukannya padamu,” gumam Taemin. Kristal menatap rambut coklat Taemin.

“tapi tidak terlalu berhasil. Kau tetap saja jatuh ke lumpur, mian,” balas Kristal. Taemin mendongak, menatap wajah Kristal yang muram. Lalu menunjukkan senyum hangatnya.

“seorang yeoja tetaplah seorang yeoja, namja yang harusnya melindungi yeoja. Bukan sebaliknya,” ujar Taemin. Kristal termenung, ucapan Taemin persis seperti yang diucapkan mendiang ayahnya. Sesuatu yang begitu lembut dan penuh dengan cinta tergambar jelas dalam ucapan itu. “seorang yeoja tidak pantas berlutut didepan namja, kau tidak pantas berlutut seperti ini dihadapanku. Tapi aku, namja memang sudah seharusnya melakukan ini,” ujar Taemin sambil menatap mata hitam Kristal.

“su..sunbae,” mata Kristal panas. Kristal memalingkan wajahnya, tak ingin Taemin melihatnya menangis begitu mudah. Taemin terkekeh melihat Kristal menangis. Ia merangkul pinggang Kristal, menarik dagu Kristal agar menatapnya.

“Memang aneh jika aku mengatakannya saat ini. Tapi, aku mencintaimu Jung Soojung. Persis enam bulan yang lalu.. aku jatuh cinta padamu,” ucap Taemin lembut. Kristal menangis semakin keras. Matanya menatap intens wajah Taemin. Mata itu, hidung itu, sama seperti yang ia lihat di jalanan enam bulan lalu.

TaeminSide(Flashback)

“Agashi!! Gwenchana, jamkkaman kau harus bertahan. Aku akan menelpon ambulance,” namja itu terlihat sangat resah. Keringat dingin mengucur dari dahi dan pelipisnya.

Kristal menggeleng pelan. Menahan namja itu menelpon ambulance, ia melirik pakaian namja itu. Pakaian serba putih yang ternoda darahnya, mobil putih yang dihiasi bunga. Namja ini akan menikah, ia akan merusak pernikahan orang.

“pergilah ahjussi, aku tidak apa-apa. Kekasihmu menunggu,” ujar Kristal lemah. Matanya berkunang.

Namja itu terlihat resah. Akhirnya ia mengangguk, dan memberikan sapu tangannya pada Kristal yang dahinya terus berdarah. Ia menggendong Kristal ke trotoar.

“gwenchana, pergilah,” ucap Kristal sambil tersenyum lembut.

“agashi, aku akan cepat kembali. Tolong bertahanlah,” ucap namja itu resah. Kristal mengangguk lemah.

Taemin menyetir mobilnya cepat menuju halte bus yang ditunjukkan hyungnya. Ia bilang ia menabrak seorang siswa yang satu sekolah dengan Taemin. Dan karena hari ini dia harus datang menikah dengan pacarnya Taemin yang diutus mengurusi semuanya. Semoga saja orang yang ia tabrak tidak apa-apa.

Taemin menggeram saat melihat darah di jalanan. Ia menghentikan mobilnya, dan mencari ke sekeliling. Ia berjalan cepat kearah yeoja yang duduk bersandar di pohon sambil menggendong seekor kucing.

“oh, kau datang lagi. Bagaimana pernikahanmu ahjussi?”

Taemin merunduk dan menatap dalam yeoja dihadapannya. Dahinya dipenuhi darah kering dan kaki yeoja itu, tidak seperti seharusnya.

“astaga, kau bodoh nona!!” Taemin menggendong tubuh yeoja itu ke mobilnya. Ia tidak perduli dengan peraturan lalu lintas untuk tidak mengebut di jalanan 40km. Yang ia tahu kini ia membawa orang sekarat yang hampir kehilangan kesadarannya.

Taemin menggendong tubuh yeoja itu masuk ke rumah sakit dan mengikutinya ke UGD. Yeoja itu meraih tangan Taemin.

“ahjussi, kucing-kucing itu. Tolong kubur mereka, hanya satu yang selamat tolong..” ucap yeoja itu lemah.

“agashi, tolong pikirkan dirimu sendiri. Lupakan tentang kucing,” geram Taemin melihat tingkah yeoja dihadapannya.

“jaebal,..” pinta yeoja itu dengan rintihan air mata. Taemin mengangguk pelan. dan meninggalkan yeoja itu.

“dia yeoja berhati malaikat bukan?” gumam Donghae malam itu.

“ya. Tapi terlalu bodoh, nyawanya dianggap sama dengan empat ekor kucing” balas Taemin sambil mengusap lembut punggung kucingnya.

“kucing yang kini jadi kesayanganmu eoh?” sahut Hyukjae. Taemin menggeram, ia menatap heran dua hyungnya yang cuek tiba-tiba mengunjungi apartemennya.

“apa maksud kalian kemari? Mengganggu acara belajarku,” ucap Taemin dingin.

“kurasa kau cocok dengan yeoja itu. Dia hoobaemu bukan? Kau bilang dia juga atlet renang,” ucap Hyukjae, Taemin menatap hyung tertuanya itu sinis.

“setelah sembuh ia tak mungkin berenang lagi. Mustahil,” jawab Taemin. Donghae duduk disamping Taemin. Ia merangkul bahu dongsaenya itu.

“untuk itu. Kuatkan dia,” ucap Donghae. Taemin mendengus sebal

“apa tujuanmu Donghae hyung, membalas budi atau menjodohkanku?” ujar Taemin

“tujuannya balas budi, menjodohkanmu adalah tujuanku,” sahut Hyukjae. Taemin menatap Hyukjae geram

“dan kau tau apa? Kau bahkan belum melihat wajahnya,” dengus Taemin kesal

“aku mengenalnya, dia muridku ketika aku mengajar ekstra di salah satu SMP. Namanya Jung Soojung, dia seorang yatim piatu diadopsi oleh keluarga kaya dengan kakaknya. Tapi mereka memilih hidup mandiri, mereka hanya minta dibiayai sekolah. Bukankah yeoja yang mulia? Dia juga sangat ceria, tapi mendengar yang kau katakan tadi. Aku jadi ragu, mampukah ia tetap tersenyum jika mimpinya hancur,” ujar Hyukjae panjang lebar.

“dan semua karna aku. Kumohon Taemin, jika aku tidak harus membawa Yoona ke Paris aku pasti akan menjaganya sendiri,” Taemin menatap dua hyungnya bergantian.

“ingat hyundeul. Hanya untuk balas budi,” ucap Taemin tajam.

Dan mulai saat itulah dia menjadi stalker yang selalu menghibur Kristal dengan kartu-kartu yang ia selipkan di loker Kristal. Hingga membuat Kristal dijadikan publis enemy fans-fans Taemin disekolah.

EndFlashback

“jamkkaman, jadi stalker ku itu Taemin sunbae?” tanya Kristal. Taemin mengangguk pasti. Ia menyesap kopi panas yang dibawakan Kristal.

“jadi.. apa jawabanmu?” tanya Taemin intens membuat Kristal memandangnya heran.

“apa?” Taemin menatap Kristal lembut, dan akhirnya Kristal paham. Ia memalingkan wajahnya, apa yang harus ia jawab. Dengan Taemin menjadi stlakernya saja antis nya segudang, apalagi jika ia menerima Taemin. Ia masih ingin hidup.

“jadi?” desak Taemin. Kristal menggeleng lemah. Taemin menghela nafas dalam.

“aku takut. Bagaimana jika para eonnie membully aku,” gumam Kristal, seketika wajah Taemin merona.

“jadi sebenarnya kau mau. Tenang saja Kris, aku akan pindah sekolah jadi kau tidak perlu takut,” ujar Taemin riang.

“mwoo?? Pindah sekolah!! Hanya untuk pacaran, tidak usah!! Kau itu sudah kelas tiga sunbae!!” tolak Kristal. Taemin menatap sendu Kristal. “tiga bulan lagi kau juga sudah lulus, untuk apa pindah sekolah.”

FewMonthLater

“Chukkae Taemin oppa!!” Taemin tersenyum miris pada hoobae-hoobaenya yang berdesakan memberi selamat padanya. Ia masih belum melihat Kristal sejak tadi. Ia sudah bertanya pada Sulli, tapi kata Sulli Kristal sudah pulang sejak acara wisuda selesai dan tugas Kristal sebagai MC selesai.

Jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Sudah lewat dua jam dari selesai acara dan Taemin masih duduk di bangkunya. Menunggu Kristal datang dan mengucapkan selamat padanya. Minho teman baiknya sudah pergi bersama Sulli, mereka berkencan berkat Taemin dan Kristal yang bahkan belum berkencan.

Taemin berjalan lesu ke halte. Ia sedang ingin pulang telat ke rumah, lagipula hyung-hyungnya pasti sedang sibuk.

“Chukkae oppa!!!”

Taemin memekik ringan saat ada yang memeluknya dari belakang. Ia memegang tangan dingin itu lembut. Kristal. Seketika wajahnya berseri lagi. Ia tau Kristal tak akan seacuh itu padanya. Meskipun Kristal selalu menjaga jarak.

“kau terlambat. Kau bukan yang pertama memberiku selamat,” ujar Taemin sambil menerima bingkisan dari Kristal.

“tapi yang paling kau tunggu-tunggu bukan?” balas Kristal. Taemin mengangguk jujur. Mereka tertawa renyah hingga bus mereka datang.

Saat keduanya masuk dalam bus. Senyum mereka sirna. Bus itu sudah penuh sesak dan mereka harus berdiri disamping pintu.

“jadi ingat pertemuan pertama kita sunbae,” gumam Kristal.

“itu bukan yang pertama. Kita sudah berkali-kali duduk sebangku bodoh, kau saja yang anti sosialis,” balas Taemin.

“jeongmal? Rasanya baru pertama kali melihatmu saat itu,” jawab Kristal acuh.

“jika saja bukan karna Kyungsan mungkin kau masih belum mengenaliku hingga sekarang,”

“hhehe, mungkin. Habisnya kau sangat dingin dan cuek, mana ada yang mengira kau menjadi stalker,”

FewYearsLater

Kristal mendesah geram. Ia belum menerima satu pesan pun dari Taemin hari ini. Dan jujur saja ia merindukan Taemin. Tapi, sejak Taemin kuliah ia merasa kehilangan Taemin yang dingin. Ia merindukan Taemin yang sama seperti Taemin di bus.

“Nuna!! Ayo duduk disini!!” Kristal menoleh saat mendengar suara yang tak lagi asing baginya. Kang Kyungsan.

“Kyungsanie, annyeong?!! Ahjumma annyeong haseyo,” Kristal menyapa ahjumma dan Kyungsan yang kini sudah balita.

“annyeong, aigoo kau bekerja sangat keras. Mata pandamu terlihat sangat jelas, kau harus istirahat,” pesan ahjumma itu lembut. Kristal mengangguk mengerti, tapi deadline novelnya tinggal beberapa minggu lagi dan pikirannya terhalang oleh wajah Taemin.

“kau merindukannya kan? Dia sudah pergi terlalu lama, harusnya ia pulang tahun lalu bukan?” ujar ahjumma itu.

“ahniyo, biarkan saja dia menghilang. Lagipula aku kan bukan kekasihnya,” jawab Kristal dingin. Ahjumma itu tersenyum kecut mendengar ucapan Kristal.

“kalian itu aneh. Bersama-sama hampir lima tahun dan belum berkencan, lalu selama ini apa?” Kristal menggeleng pelan.

“molla. Tidak mungkin yeoja yang memulai,” jawab Kristal lesu. Ia teringat ucapan Taemin hari itu, persis seperti ucapannya bagaimana dengan Taemin. Bukannya namja yang harus belutut? Lalu ia kemana?

“Ahjumma, aku turun dulu nee. Kyungsan, mainlah ke toko eonnie besok nee?!!” pamit Kristal

“oke Nuna!!” Kristal tersenyum lebar pada ahjumma dan Kyungsan sebelum turun dari bus. Ia tak perlu khawatir dengan lumpur lagi karna trotoar didaerah ini sudah dibenahi sejak tiga tahun lalu.

Ia tersenyum kecut saat mengingat lumpur. Sejak Taemin memutuskan pergi ke Jerman untuk menyembuhkan ligamennya dan kuliah kedokteran disana, ia merasa Taemin berubah. Tidak ada Taemin seperti yang di bus. Taemin berubah posesif dan terlalu ingin tau, perubahan yang positif memang. Tapi ia mencintai Taemin yang ada di bus. Dan beberapa minggu ini Taemin malah menghilang seperti ditelan bumi.

“hahh,… Lee Taemin sunbaenim,” gumam Kristal.

“nee. Kenapa kau memanggilku hoobae,” Kristal menoleh kasar.

Ia menatap heran namja berkaca mata yang duduk dihalte itu. Kristal berjalan mendekat dan namja itu menyingkap tudung hoodie hitamnya memperlihatkan rambut pirangnya. Mata Kristal membulat saat namja itu membuka kaca matanya.

“Oppa!!!” Kristal memekik riang lalu memeluk Taemin erat. Taemin terkekeh merasakan eratnya pelukan hoobae kesayangannya itu.

“lepaskan aku. Sesak bodoh,” ucap Taemin dingin. Kristal melepaskan pelukannya,

“jadi.. bagaimana ligamenmu? Baik-baik saja kan?” tanya Kristal khawatir.

“seperti yang kau lihat, kakiku tak lagi terseok atau berdarah tiba-tiba. Menurutmu?” jawab Taemin. Kristal tersenyum tipis. Wajah itu, wajah yang selalu memenuhi ruang mimpinya beberapa tahun ini. Taemin telah kembali, Taemin yang sama dengan Taemin yang menolongnya meloncati lumpur.

“jangan menangis, kau itu mahasiswa!! Cengeng sekali,” ucap Taemin datar. Bulir lembut itu jatuh di pipi Kristal.

“aku.. hiks… aku rindu lumpur,” rengek Kristal. Taemin menggeram mendengar ucapan Kristal.

“Kyaaa!!! Taman, aku sudah sangat lama tidak bermain di taman,”

“tentu saja. Ini TK, kau.. mahasiswa,”

Kristal tak menghiraukan ejekan Taemin ia bermain bersama anak-anak TK yang ada di taman itu. Seorang anak laki-laki berlari sambil membawa es krim coklat dan tersandung mainan milik temannya. Kristal kaget kaget merasakan dingin di kakinya. Ia menoleh dan segera membantu anak itu berdiri.

“huaaa..!!! Es krimku…” tangis anak itu. Kristal tersenyum lembut dan menenangkan anak itu. Ia berjalan bersama anak itu kearah Taemin yang berteduh dibawah pohon.

“oppa, bisakah aku pinjam uang? Es krim anak ini jatuh kesepatuku,” tanya Kristal to the point. Taemin mengernyit heran.

“itu salahmu, kenapa kau minta Nuna ini membelikanmu es krim. Kau yang berlari kesana kemari,” ucap Taemin datar dan membuat anak itu kembali menangis,

“Oppa!!” geram Kristal. Taemin mengangguk dan merogoh saku celananya.

“kau duduk saja. Biar kami pergi berdua,” ujar Taemin lalu menggendong anak itu.

Taemin pergi ke minimarket terdekat dan mencari tisue untuk membersihkan sepatu Kristal dan es krim untuk anak digendongannya.

“hyung, aku pilih ini boleh?” anak itu menunjuk es krim coklat yang lebih terlihat seperti lumpur. Taemin tersenyum tipis dan membelikan dua es krim.

“heii, maukah kau menjatuhkan es krim ini ke sepatu Nuna tadi sekali lagi?” tanya Taemin.

“shireo nanti kau memarahiku lagi,” tolak anak itu.

“ahniyo, aku janji.” Yakin Taemin, anak itu mengangguk setuju.

“Nuna!!” pekik anak itu riang dan sesuai rencana ia menjatuhkan es krimnya disepatu Kristal lagi.

“mianhe!!” anak itu berlari kearah teman-temannya yang lain. Kristal mengernyit heran melihat tingkah anak itu.

“oppa, ada apa dengannya?” tanya Kristal saat Taemin tiba dihadapannya. Taemin tak menjawab dan langsung berlutut dihadapan Kristal.

Kristal terhenyak saat menyadari Taemin sibuk membersihkan es krim disepatunya. Matanya memanas lagi.

“jika dilihat sekilas. Ini sama seperti lumpur ya?” ujar Taemin. Kristal mengusap kasar air matanya. “tidak apa jika kau menangis. Bertemu denganku setelah begitu lama pasti membuatmu sakit,”

“oppa..”

“aku yang bilang jika semua yang dilakukan namja harusnya untuk melindungi yeojanya. Tapi yang kulakukan malah menggantungkanmu dalam ketidak pastian. Mianhe Kris,”

“ahniyo, kau tidak….”

“untuk itu aku ingin membuatnya jelas,” Kristal terhenyak. Taemin bangkit dan mengusap air mata Kristal lembut.

“aku akan menikah,”

“mwoo?”

“mianhe tidak mengatakannya padamu,”

“dengan siapa?”

“dengan.. Soojung-ssi, will you marry me?” ucap Taemin lembut sambil mengulurkan sebuah cincin kaca didalam kotak pada Kristal yang menangis tersedu.

“I do, why you take it so long..”

THE END

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

9 thoughts on “In The Bus

  1. hai..
    nama authornya siapa ya?

    si Taemin gayanya kayak gak perduli gitu, ternyata dia lg PDKT sama Kristal..😛

    udah deket malah digantung gitu hubungannya, lumayan juga ya Kristal nunggunya, walaupun akhirnya dilamar juga..

    Selamat ya Kristal-Taemin..🙂

  2. Daebakkkkk! Aduh taetal😄 hahaa skalinya nemu ff mreka yg klewat so sweet gini! >_< author neomu joahae!!!!!! Kekekee ..keep writing! Crtanya bener2 aq suka~alur~gaya bahasa ampe ke bbrapa detile nya jg! Good!

  3. ◦”̮◦нαнα◦”̮◦нαнα◦”̮◦‎​​ happy ending
    Ga pake istilah pacaran, langsung married.
    Digantungnya lumayan lama juga, 5 tahun itu Wow.

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s