Everlasting Memories

EVERLASTING MEMORIES

Author                         : ky2___

Genre                          : Friendzone, Hope, Sacrificial

Length                         : Oneshot

Rating                          : PG-13

Main Cast                   : Lee Jin Ki

Han Hye Bin (Imaginary character)

><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><

Babak baru dalam hidupku dimulai hari itu. Ya,saat itu hari pertamaku menginjakkan kaki di SMA , salah satu sekolah dengan kualitas terbaik di negeri ginseng ini. Perasaan bangga saat menyematkan pin nama bertuliskan ‘Lee Jin Ki’ dan melihat lambang sekolah ini pada seragamku, selalu mampu membakar semangat belajarku.

Tanpa terasa tiga tahun sudah aku disini. Mempelajari beragam ilmu pengetahuan, karakter berbagai orang, pengalaman beraneka ragam hingga peristiwa yang singgah dalam kehidupanku. Silih berganti. Bahkan, aku sempat berhasil menorehkan namaku sebagai juara untuk Olimpiade Matematika Nasional saat duduk di bangku kelas dua kemarin. Tetapi ada yang kusesalkan, perasaan cintaku.

Masih jelas dalam ingatanku, Hye Bin yang tak lain adalah sahabatku sejak SMP melambaikan tangannya saat akan memasuki pelataran SMA baru kami di hari pertama kami menjadi murid SMA. Yang kutahu selama ini, dia adalah gadis ceria yang rendah hati walaupun terkadang arah berpikirnya berlawanan dengan kebanyakan orang. Kepribadiannya inilah yang membuatnya bagai berlian di dalam tumpukan jerami, kilaunya yang terhalangi akhirnya tetap akan muncul dan bahkan lebih indah dari sebelumnya. Karena itulah, keaktifannya dalam organisasi sekolah dan prestasi gemilangnya diurutan tiga besar sekolah semakin membuatku jatuh hati padanya. Ya, tanpa sadar aku telah jatuh dalam pesonanya.

Setiap hari perasaan yang tak sepatutnya kurasakan pada sahabatku ini tumbuh semakin besar. Aku pun akhirnya tidak bisa menguasai perasaan yang kian lama kian memenuhi seluruh rongga jiwaku. Puncaknya, ketika tanpa sengaja kutemukan buku diary tipis berlapis beludru berwana biru laut yang tertinggal di kelasnya. Ketika itu salah seorang teman sekelasnya mengabarkan bahwa Hye Bin harus segera ke ruang guru dan menitipkan buku itu padaku. Lembar demi lembar kubuka. Semakin banyak halaman yang kulalui, semakin terasa desiran aliran darahku yang kian cepat. Aku yakin karena aku melihat curahan hatinya mengenai orang yang ia cintai. Antara perasaan takut kecewa dan juga ingin tahu, aku pun mempercepat membaca setiap lekuk yang ia goreskan pada diarynya. Hingga akhirnya aku temukan halaman bertuliskan tinta merah jambu. Ketika membaca kalimat-kalimat indah itu, aku merasa sedang tumbuh ribuan bunga di dalam hatiku. Akhirnya aku tahu, cintaku selama ini tidak pernah bertepuk sebelah tangan. Yang kutahu, dia menulis “Saranghaeyo, Lee Jin Ki”.

Tapi, roda kehidupan tetap berputar. Baru saja aku mengetahui dia juga mencintaiku, esoknya aku harus siap menerima kenyataan lain yang mau tak mau memaksaku mengubur semua kenangan indah itu. Hari itu aku menengadah ke langit yang berwarna biru cerah dengan beberapa gumpalan awan yang terlihat sedang bergerak beriringan. Ditemani daun-daun yang mulai berguguran, aku dan dia duduk bersama di bangku taman sekolah favorit kami. Dengan keceriaan dan senyum yang menjadi ciri khasnya, ia bercerita mengenai impiannya menjadi designer kapal. Kecintaannya kepada sang ayah yang merupakan purnawirawan tim kapal selam dan kemahirannya dalam mengolah rumus-rumus fisika membuatku yakin bahwa itulah hal mendasar dibalik tekadnya memilih jurusan itu begitu kuat. Bahkan dengan mata berbinar dia mengatakan akan berusaha mendapatkan beasiswa untuk menuntut ilmu ke luar negeri. Kata-katanya itu terasa begitu menohok hatiku. Aku yang sedang berbahagia hari itu, merasa bagai dihempaskan dari langit kelima.

Tetapi karena itulah, aku mulai belajar mengenali diriku. Melihatnya yang semakin hari semakin bersinar dengan segala balon asa yang ia tiupkan ke udara, aku mulai sadar bahwa sudah saatnya mencari tahu apa yang kuinginkan dari hidup ini. Lama aku berpikir hingga akhirnya aku memutuskan untuk memperdalam ilmu matematiku kelak. Selain itu, aku juga berjanji pada diriku sendiri, aku akan membuat pengakuan tentang cintaku padanya sebelum kami menanggalkan seragam SMA kami.

Karena itulah aku disini hari ini. Duduk di tempat yang sama, dikelilingi dengan suasana dan pemandangan yang sangat mirip dengan hari dimana aku mendengar cita-citanya. Menikmati suasana yang mampu membuat ingatan-ingatan indah itu muncul membuatku merasa bahagia dan begitu bersyukur telah melewati masa-masa muda yang indah.

Minggu depan adalah minggu dimana kami akan dinyatakan lulus sebagai siswa SMA. Karena itu, aku ingin memenuhi janjiku beberapa bulan lalu. Menyatakan perasaanku padanya. Selain itu, aku juga membawa satu berita besar lagi yang ingin kubagi dengannya. Kupejamkan mataku. Kurasakan angin sepoi-sepoi menggoyang lembut ujung rambutku yang mulai panjang. Hingga akhirnya kurasakan sebuah sentuhan hangat menjalar dari bahu sebelah kananku yang berhasil menarikku kembali ke alam nyata.

“Sudah lama disini?” ucapnya memecah kesunyian.

“Ah, tidak. Baru beberapa menit yang lalu,” jawabku dengan tenang dan senyum simpul.

“Baguslah kalau begitu,” serunya sambil menghenyakkan badan kepada kursi taman yang mulai tua.

Kulihat, dia menengadah. Dia pejamkan matanya. Dan saat itulah kulihat dia tersenyum. Saat itu jugalah aku sadar bahwa sesaat lagi sebuah pengorbanan besar harus dilakukan.

“Pemandangan disini indah,” ucapnya, “Seperti waktu itu.”

“Kau benar.”

“Lalu, kenapa kau memanggilku kemari?”

“Aku ingin memenuhi janjiku hari ini.”

“Janji apa?”

“Janji pada diriku sendiri bahwa aku akan mengatakan hal ini padamu.”

Aku menghela nafas. Kucoba atur jantungku agar tidak berhenti tiba-tiba saat aku menyatakan perasaanku padanya. Kulihat dia dengan tenang menunggu kalimat yang akan meluncur dari bibirku.

“Maaf… Aku… jatuh cinta padamu.”

Ucapan singkat dariku berhasil membuatnya terdiam. Matanya menerawang.

“Dan kau tahu, aku juga tahu kau mencintaiku sejak aku… sebelum kau mendapatkan kembali diary-mu. Maaf.”

Dia masih terdiam. Bahkan sekarang ia menunduk dan memejamkan matanya.

“Tetapi, aku tidak bermaksud membuatmu goyah untuk memutuskan pergi atau tinggal. Karena selain pengakuanku ini, ada berita lain yang ingin kusampaikan langsung padamu.”

Kali ini, aku rengkuh kedua pipinya dengan kedua tanganku dan kuarahkan wajahnya agar menghadapku. Kupandangi matanya sebelum aku melanjutkan ucapanku.

“Aku akan melanjutkan sekolah ke Amerika. Aku berangkat sehari setelah kita wisuda. Karena itu, aku ingin mengungkapkan perasaanku padamu. Tapi aku harap kau mengerti kenapa aku melakukan ini.”

Saat aku mulai melepaskan tanganku dari wajah indahnya, dengan sigap dia memelukku. Beberapa saat berlalu dan akhirnya ia melepaskan pelukannya. Kemudian menatapku dalam-dalam dan mulai berbicara.

“Aku memaafkanmu. Aku juga minta maaf karena telah mencintaimu. Tentang pernyataanmu ini, anggap saja hanya sebuah pengakuan di masa remajamu.”

Kupandangi kedua bola matanya lagi. Aku menangkap bayang kesedihan di mata beningnya.

“Diantara kita berdua, tidak akan ada yang akan melepas impian kita bukan?” tanyanya dengan nada yang lebih pantas disebut sebuah pernyataan.

“Aku juga ingin memberimu sebuah berita besar. Aku akan berkuliah di Inggris, di Universitas Strathclyde dalam program Shiping Designer. Karena itu, mari kita wujudkan impian kita terlebih dahulu dan bertemu lagi suatu saat nanti.”

Dia memejamkan matanya dan kemudian menghela nafas panjang. Entah kenapa aku merasa udara disekitarku menghilang. Sesak melihatnya begitu sedih seperti sekarang.

“Dan terakhir, apabila kita bertemu suatu saat nanti dan masih saling mencintai, mungkin perasaan ini bisa kita kembangkan pada waktu itu.”

Semenjak itulah, pengorbanan besarku dimulai. Meninggalkan tanah air tercinta dengan segala kenangannya hingga berpisah dengan cinta yang tak mungkin kulupakan. Karena itu, hanya satu yang selalu kuucap dalam setiap doaku dan kupatri dalam hati dan pikiranku. Aku memohon agar tuhan tidak menghilangkan kenangan indah dan nikmatnya dalam hidupku, serta memohon agar Ia mempertemukanku dengan Hye Bin kelak dalam situasi kondusif bagi kami mengembangkan perasaan yang telah mengakar kuat di hati.

><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><

Each one of us has our own lines to live,

It’s a journey, not a separation,

It’s a beginning, not the end,

It’ll be a little lonely, but that’s the way thisng are.

(Rurourin Kenshin)

><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><

Anyeong!

Setelah sekian lama, akhirnya aku mengirimkan lagi email kesini. Tapi sekarang sebagai FFmaker. Mungkin kalo kalian masih ingat, aku dulu bertugas disini sebagai pengurus FF Award yang selalu telat publish. Bahkan untuk versi pemenang Jojo belum pernah di publish padahal udah punya listnya sebenernya. Karena itu, saya mohon maaf kepada seluruh warga Shiningstory disini, baik jajaran direksi maupun reader sekalian. Maafkan atas kelabilan saya. #plaaak

Sebenernya ff ini udah pernah aku coba kirim ke sjff dengan nama tokoh dan sedikit beberapa perbedaan dengan yang disini, tapi karena aku tidak menemukan judul ff ku ini di web mereka, maka aku publish di tumblrku sendiri dan kucoba mengirimnya disini.

Baiklah, sekian basa-basi dariku. Terima kasih untuk yang sudah meluangkan waktu untuk membaca ff lamaku dan mungkin bahkan mengkomennya. Lain kali aku akan mencoba mengirim ff ku yang lain.

See You!

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

7 thoughts on “Everlasting Memories

  1. Pelajaran yang aku ambil dari sini adalah cinta itu tidak menghalangi impian yang kita punya dan cinta yang baik dan tulus adalah cinta yang merelakan cintanya untuk meraih impiannya🙂
    Keep writing author🙂

  2. aku sih kurang dapet feelnya, tapi apapun ff nya ak ttp suka asalkan itu cast nya LEE JINKI :3 Hehehe jd ak suka ff nya😀 keep writing thor😀

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s