Can’t Stop Loving You – Part 1

Author : Audrey Lovina
Main Cast : Choi Minho,  Choi Ji Yoon (OC), Song Yeon Ji (OC)
Other Cast : Choi Hyerin (OC), Park Sera (OC), Cho Kyuhyun
Genre : Sad, Romance, Friendship
Type : Chapter
Rating : –

Ketika pertama kali melihatmu, aku tau jika dirimu istimewa

_______________

“Wah ramai sekali yang mendaftar! Sungguh sekolah elit! Anaknya pun kaya kaya” gumam seorang gadis ketika memasuki sekolah elit di Korea ‘Seoul High School’.

Sekolah favorit nomor 1 di Korea dan muridnya pun banyak dari golongan kelas atas. “Sangat tak sebanding denganku”. Gadis itu kembali bergumam.

“Ah aku harus segera mendaftar!”
_______________

“Hei, lihat anak itu!”, “Pakaiannya, ya ampun sangat tak sebanding dengan kita”.

Bisikan bisikan mulai terdengar ketika seorang gadis berpakaian sederhana lewat diantara mereka yang termasuk anak golongan kelas atas. Gadis itu tak menanggapi dan terus berjalan ke tempat tujuannya. Sebuah taman di belakang sekolah lah kakinya berjalan. Tujuannya hanya untuk menghindari rangkaian ejekan yang didengarnya selama perjalanan.

“Akhirnya aku menemukan tempat yang tenang!” gumamnya.

Gadis itu lalu duduk di salah satu bangku yang ada di taman itu. Dia mendongakan kepalanya sambil merasakan angin yang mengenai mukanya.

“Seandainya aku bisa menjadi seperti mereka” gumamnya sambil menghadap ke langit, seperti mengucapkan permohonan.

Tapi Sedetik kemudian ia menggelengkan kepalanya seperti tak setuju dengan kata katanya barusan. “Ani, aku tak boleh berpikir seperti itu. Seharusnya seperti ini saja aku sudah harus bersyukur!” Kemudian gadis itu melihat sepasang manusia yang tengah asyik bercanda ria di bangku lain yang tak jauh darinya. Kedua manusia itu terlihat bahagia. Dengan pakaian mereka yang rapi dan elegan, sudah bisa dipastikan jika mereka anak orang kaya.

“Ck! Lihatlah mereka! Mereka sangat bahagia”. Matanya kemudian menatap sendu kedua makhluk itu.

“Mengapa aku tidak bisa seperti mereka?”

___________________

“Oppa!” teriak seorang gadis kepada seseorang yang duduk sendirian di taman belakang sekolah.

“Oh, Yeon Ji-ah! Mianhae aku meninggalkanmu” jawab namja itu.

Yeoja yang memanggilnya yang ternyata bernama Yeon Ji itu menggembungkan pipinya. “Minho oppa, kau jahat sekali! Mana ada namja yang meninggalkan yeojachingunya di tengah keramaian anak anak?”

“Arasseo mianhae, kajja kita jalan jalan” jawab Minho santai sambil menunjukkan senyum tipisnya.

“Arasseo, kajja!”

____________________

“Eonni! Ya! Ji Yoon Eonni!”

“Oh ah, ne. Waeyo Hyerin-ah?”

Yeoja yang dipanggil Hyerin itu menghela nafas kesal kepada kakak satu satunya, Choi Ji Yoon.

“Eonni, kau itu sudah aku panggil berkali kali untuk membantuku memasak. Kau malah asyik melamun sendiri!”

“Ck, ne arasseo! Sana pergi ke dapur dulu nanti eonni menyusul” jawab yeoja satunya yang bernama Ji Yoon.

“Palli-wa eonni! Eomma sudah mau pulang” gerutu Hyerin.

“Ne..ne adikku tersayang”. Ji Yoon melangkahkan kakinya dengan malas mengikuti adik satu satunya ke dapur untuk menyiapkan makan malam.

“Eomma pulang!” Seorang wanita paruh baya masuk ke dalam rumah itu.

“Yee.. Eomma pulang! Ayo eomma kita makan. Kita sudah menyiapkan makanan yang enak lho!”. Hyerin segera menuntun eommanya ke meja makan. Sementara Ji Yoon hanya tersenyum melihat tingkah adiknya.

Setelah sang eomma duduk, mereka sekeluarga mulai makan. Setelah beberapa menit mereka duduk makan tanpa suara, sang Eomma membuka suaranya,

“Ji Yoon-ah bagaimana? Kau diterima di sekolah itu kan?”

“Ne.. Tentu saja eomma! Kau meragukan kemampuan anakmu ini?”

Eomma tergelak, “Aniyo.. Hanya saja eomma takut kau tak diterima karena kau masuk karena beasiswa dan membayar keuangan dengan mencicil” Tiba tiba mata Ji Yoon berubah sendu, “Gwaenchana eomma, apa eomma tau jika anak lulusan beasiswa, meskipun dia sedang krisis keuangan seperti kita pasti diterima! Jangan khawatir eomma!”

Eomma tersenyum hangat. Dia merasa tidak bisa membahagiakan putri pertamanya ini. Sejak sang ayah meninggal mereka langsung krisis keuangan dan akibatnya seperti sekarang, jatuh miskin. Untung saja dirinya masih bisa bekerja, jika tidak apa yang akan terjadi pada putri putrinya. Hah! Dia merasa banyak menaruh beban pada putri sulungnya itu. Selain disibukkan dengan sekolah, putrinya itu juga bekerja demi mencukupi kebutuhan keluarga. Ck! Eomma yang tak berguna.

“Arasseo, eomma percaya. Kalau begitu belajarlah yang rajin”

“Pasti eomma!”

____________________

“Aduh! Mencari kerja sambilan saja susah sekali!” keluh Ji Yoon.

Sepulang sekolah ia mencari pekerjaan sambilan  untuk membantu keuangannya. Tapi sudah 2 jam keliling Seoul, dia belum mendapat pekerjaan. Kemudian karena kelelahan Ji Yoon mampir di sebuah cafe yang kelihatannya mewah. Ia segera duduk di sebuah bangku dekat jendela, lalu memesan minuman dengan harga murah. Setelah selesai menyalurkan rasa lelahnya, Ji Yoon menuju kasir bersiap untuk membayar. Sedangkan di meja kasir telah siap seorang pemuda tampan dengan senyum menawannya. Ji Yoon tidak memperhatikannya, ia sibuk mencari dompetnya di dalam tasnya. Tunggu! Bukankah ia tidak membawa dompet! Sial!

“Mianhae saya lupa membawa uang,” ujarnya sambil menatap pemuda itu. “Tapi kebetulan saya sedang mencari pekerjaan. Bisakah saya bekerja di sini?”

“Kalau tentang masalah itu, tanyakan saja pada hyungku, silakan” pemuda itu pun bersuara. Setelah itu ia mengajak Ji Yoon ke sebuah ruangan yang rupanya ruangan tempat orang pemilik cafe ini.

“Hyung!” Teriak pemuda itu. “Kita mendapat sedikit masalah, tapi mungkin juga kabar baik”

“Masalah apa?” Sahut orang di dalamnya. “Temui saja orangnya sendiri!” Balas pemuda itu tadi. “Sana masuklah, hyung sudah menunggumu” lanjutnya sambil mendorng pelan Ji Yoon untuk masuk ke dalam ruangan itu.

“Ah, gomawo” Ji Yoon membungkuk sedikit sebelum ia masuk ke dalam ruangan itu. “Annyeonghaseyo,” ucap Ji Yoon saat memasuki ruangan itu dan melihat orang yang tengah duduk di depan meja seperti meja kerja, yang sekarang tengah memandang ke arahnya sambil terseyum tipis.

“Ehm, jadi begini, saya mampir ke cafe ini tanpa membawa uang, ah….atau lebih tepatnya lupa membawa uang” Ji Yoon menjelaskannya dengan menunduk, malu dan gugup menatap orang di depannya itu. “Jweosonghamnida, sekali lagi mianhae”

Sebelum sempat pemuda itu membuka mulut, Ji Yoon menyelanya, “Tapi, kebetulan aku sedang mencari kerja sambilan. Bisakah aku bekerja di sini?” Sekarang Ji Yoon sudah cukup berani menatap mata pemuda itu, berharap jika permintaan pekerjaannya diterima. Setelah jeda sesaat akhirnya pemuda itu menjawab, “Dan kebetulan juga seorang pelayan kami sedang cuti”, ujarnya dengan mengulang gaya bicara Ji Yoon,”Tentunya kami kekurangan orang. Saya akan melihat hasil kerjamu selama seminggu ini, jika memungkinkan maka, ya kau bisa diterima” Ji Yoon tersenyum senang, akhirnya ia bisa mendapat pekerjaan, “Jinjjayo? Jeongmal? Ah, kamsahamnida, jeongmal kamsahamnida”

“Tidak perlu terlalu formal begitu. Mungkin umurku hanya berbeda beberapa tahun di atasmu” jawab pemuda itu sambil tersenyum.

“Namamu? Aku Cho Kyuhyun, kau bisa memanggilku Kyuhyun”

“Namaku? Choi Ji Yoon, kau bisa memanggilku Ji Yoon, salam kenal!”
___________________

“Oppa!” Seorang yeoja menggelayut manja pada tangan seorang namja.

“Sifat manjamu memang tak pernah berubah Yeon Ji-ah!”

Yeon Ji menggembungkan pipinya lucu, “Tapi…. bukannya sifat manjaku yang membuatmu jatuh hati kepadaku? Ehm? Bukankah begitu Minho oppa?”

“Aish, kau selalu begitu. Dasar manja” jawab Minho sambil memeletkan lidahnya dan tertawa kecil. “Ya! Oppa! Kau juga tak kalah manjanya denganku, kau bahkan nakal, keras kepala dan pecemburu” balas Yeon Ji tak mau kalah.

“Sudah tau aku begitu, kenapa kau masih mau menjadi yeojachinguku?” ucap Minho tak mau kalah, ada saja akalnya untuk membalasnya. Muka Yeon Ji menjadi tersipu malu, selalu saja ia kalah jika sudah adu mulut dengan Minho. “Ck! Sudahlah aku tak mau meneruskan, toh nanti aku juga kalah darimu” Yeon Ji segera berjalan cepat menuju kelasnya meninggalkan Minho yang tersenyum sendiri melihat yeoja yang dicintainya itu. Rasanya ia tidak bisa apa apa tanpanya.

____________________

“Karena sekarang adalah semester baru, maka kita harus saling mengenal teman teman yang lain. Maka, tempat duduk kalian akan diundi” Semua anak mengambil undian masing masing sesuai dengan perintah gurunya. Ada yang menggerutu kesal ada pula yang tak peduli. “Sekarang duduklah di meja sesuai dengan nomormu. Dan pasti di satu bangku ada perempuan dan laki laki, tidak ada yang satu jenis. Sekarang mulailah mencari meja kalian, pelajaran akan segera dimulai!”

“Nomor 10….nomor 10, aha itu dia!” Ujar Ji Yoon setelah menemukan bangkunya.  Tempat duduknya persis seperti yang diinginkannya. Paling belakang dekat jendela. Saat ia ingin menarik kursi dekat dengan jendela, tangan seorang namja juga menyentuhnya. Dengan cepat mereka berdua menarik tangan mereka. Ji Yoon mendongak mencoba melihat namja yang sepertinya menjadi teman sebangkunya. Perlahan lahan mata Ji Yoon membulat, namja itu pun juga melakukan hal yang sama dengannya. Tapi dengan cepat namja itu mengubahnya kembali seperti semula.

“Kau, yeoja kemarin di kafe itu kan? Yang melamar kerja pada hyungku. Kenalkan aku Choi Minho” Namja itu mengajak Ji Yoon untuk berkenalan.

“Ne, aku Choi Ji Yoon, salam kenal!” Balas Ji Yoon sambil tersenyum manis.

Mereka berdua mengambil duduk di tempat masing masing. Suasana menjadi hening seketika. Minho berdehem sekilas lalu melanjutkan, “Tak kusangka kita akan sebangku”

“Hmm, nado”

“Jadi, kau akan mulai bekerja hari ini bukan? Hingga satu minggu ke depan?”

“Ne, jika aku cocok maka aku bisa meneruskan, jika tidak, yah kau tau”

Suasana hening kembali, tidak ada yang ingin memulai percakapan walaupun keduanya ingin berbicara. “Ah itu, di sini sekolah elit bukan? Lalu kenapa kau bekerja di kafe itu?” Tanya Ji Yoon tiba tiba.

“Sebenarnya,….”

“Ya! Choi Ji Yoon! Choi Minho! Berhenti bicara atau keluar!”

“Omo, ne sonsengnim” ucap mereka berdua bersamaan. Keduanya menunduk malu dan sempat saling melirik dan terkikik bersama.

____________________

Jam sekolah telah menunjuk angka dua, yang menandakan bahwa sekolah sudah berakhir, tapi ada juga yang masih berkeliaran di sekitar sekolah. Entah itu untuk kegiatan klub, bermain atau belajar. Seorang namja terlihat frustasi dengan tugasnya yang sedang ia kerjakan di perpustakaan, tapi ada yang menarik perhatiaannya hingga ia segera keluar dari perpustakaan berlari kecil menyusul seseorang di koridor sekolah.

“Ji Yoon-ssi! Tunggu!”

“Minho-ssi, waeyo?”

“Aniyo, bukankah kau akan bekerja di kafe kakakku. Ayo kita berangkat bersama” ucap Minho saat sampai di hadapan Ji Yoon.

“Tapi…”

“Sudahlah, ikut aku saja!” Minho memutus ucapan Ji Yoon dan menarik tangannya untuk segera pergi ke motornya. “Pakailah helm ini, dan jangan lupa pegangan” Suruh Minho yang telah meniki motor terlebih dahulu.

“Minho-ssi, kau bisa tidak menyetir motor pelan pelan saja?” Ji Yoon terlihat ragu untuk menaiki motor bersama Minho. Sedang Minho hanya tertawa kecil. “Pegangan saja!”

Sekitar beberapa menit, motor Minho melaju pelan sesuai perintah Ji Yoon. Dan Ji Yoon hanya cukup memegang pundaknya saja. Tiba tiba tangan Minho memegang sebelah tangan Ji Yoon dan mengarahkannya untuk memeluk pinggangnya, “Sudah kubilang pegangan” Bersamaan dengan selesainya ucapan Minho, motornya melaju semakin kencang yang membuat Ji Yoon mau tidak mau mengeratkan pegangannya di pinggang Minho sambil berteriak sedikit tertahan.

“Minho-ssi! Pelankan!”

____________________

“Eomma! Aku pulang!”

“Ji Yoon-ah! Cepat sekali kau pulang?!”

Ji Yoon memeluk Eommanya sekilas yang sedang duduk di ruang tamu. “Hari ini kafe agak sepi jadi aku disuruh pulang lebih awal”. Ji Yoon duduk di sebelah Eommanya sambil menghela nafas lelah, “Bagaimana pendapatnya tentangmu?”, “Dia sedang pergi ke luar kota jadi aku hanya bersama adik sepupunya yang kebetulan satu kelas dan satu bangku denganku. Namanya Choi Minho”

____________________

Esok paginya Ji Yoon berangkat lebih awal karena ingin mengeliliongi sekolah terlebih dahulu. Ia belum sempat melihat semua ruangan di sekolah yang sangat besar itu. Ia berjalan melihat lihat sambil sesekali bersenandung riang, tentu saja tanpa ada seorangpun disekelilingnya.

“Oppa, kau mulai sedikit tertarik pada teman sebangkumu itu ya? Apa menariknya dia sih? Dia tak lebih cantik dan kaya dariku bukan? Bahkan dia anak termiskin di sekolah ini”

“Kau itu pencemburu sekali. Sudah tau sifat pencemburumu lebih parah dariku masih berani mengejek aku”

“Oppa!”

Percakapan kedua insan ini didengar oleh Ji Yoon ketika sedang berjalan di sekitar taman. Dan tentunya ia mengenal salah satu orang di antara mereka, Choi Minho. Dan seorang lagi mungkin yeojachingunya yang sering digosipkan oleh anak anak perempuan lain,  yang tentunya merasa iri pada yeoja itu yang berhasil merebut hati namja yang tampan dengan senyum menawannya itu. Tunggu, seorang Ji Yoon mengaku jika seorang Choi Minho tampan? Tampaknya ia telah salah sarapan pagi ini.

Yah, yeoja itu Song Yeon Ji. Yeoja pewaris perusahaan ‘Ji Fashion’ yang sangat terkenal di Korea. Pantas saja pakaiannya sangat indah dan menawan, ditambah wajahnya yang sangat cantik membuatnya lebih terlihat menawan. Ya! Apa yang kau lakukan di sini Ji Yoon? Mengagumi mereka berdua yang sangat serasi satu sama lain, berbeda sekali dengan dirinya. Apakah tadi ia memuji mereka lagi? Sial! Lihatlah sekarang dia dan dua pasangan serasi itu sedang bertatapan, yang membuat Ji Yoon merutuki diri sendiri lagi yang telah menguping dan melihat mereka diantara pilar pilar di koridor.

Ji Yoon hanya bisa meminta maaf dan segera pergi dari tempatnya sekarang. Sangat memalukan!

___________________

“Hei, apa kau mendengar percakapanku pagi ini bersama Yeon Ji? Tidak usah kau pikirkan. Kata katanya memang pedas, tapi sebetulnya dia baik kok” ucap Minho sambil menarik kursinya dan duduk di sebelah Ji Yoon.

“Ne?!” Ucap Ji Yoon sedikit terkejut, sepertinya ia sedang melamun. “Aku baik baik saja dengan itu, atau lebih tepatnya aku sudah terbiasa dengan itu” balas Ji Yoon dengan tersenyum kecil. Sebenarnya sejak kejadian itu ia merasa aneh, ia merasa kesal ketika melihat mereka berdua begitu akrab dan serasi satu sama lain. Dan ia juga merasakan hal yang aneh ketika berbicara dengan Minho tadi. Apakah ia memiliki perasaan dengan Minho? Tidak mungkin. Mereka baru berkenalan beberapa hari ini, tidak mungkin ia menyukai Minho. Pabo!

“Ji Yoon-ssi! Ji Yoon-ssi!”

“Ah, ne waeyo?”

Minho menghembuskan nafasnya kesal, “Kau ini, di kelas dilarang melamun, pabo!”. Minho memukul kepala Ji Yoon pelan, sambil tertawa kecil melihat ekspresi Ji Yoon yang sekarang menatap kesal ke arahnya. “Appo!”

“Um, apakah hari ini kau akan bekerja lagi?”

“Tentu saja, jika tidak bagaimana caranya aku membantu mencukupi kebutuhan keluargaku sehari hari? Pabo!” Ujar Ji Yoon dengan nada kesal, tidak seperti biasanya. “Oh ya, bukankah kau anak orang kaya. Mengapa bekerja di kafe?”

“Ck! Kau ini ingin tau urusan orang saja. Ingin bekerja atau tidak itu kan urusanku”

Sepertinya gaya bicara mereka berdua mulai sedikit berubah, formal tapi santai, ah bukan, formal tapi menjengkelkan! “Ya! Aku kan tanya baik baik! Mengapa jawabanmu seperti itu?”

“Biar saja, siapa suruh mengataiku pabo, aku bahkan lebih pintar darimu”. Minho memeletkan lidahnya sambil tertawa mengejek. Sedangkan Ji Yoon berdecak kesal lalu tertawa menyadari betapa kekanak kanakannya mereka berdua. Tapi bukankah proses pertemanan mereka berlalu terlalu cepat untuk seseorang yang baru mereka kenal kemarin? Aneh, mereka terlihat nyaman satu sama lain walaupun berbeda derajat. Dan tentunya tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang mengawasi mereka sambil menampakan wajah kesal.

“Ck! Beraninya dia sok akrab dengan Minho Oppaku! Awas saja kau Ji Yoon! Kau tidak ada apa apanya dibanding diriku! Dan hal yang patut kau ingat, Minho Oppa adalah milikku, hanya MILIKKU!”

___________________

To Be Continue….

Bagaimana? Jelek? Mohon maaf author baru. Ditunggu komennya untuk memperbaiki ff ini. Gomawo sudah meluangkan waktu untuk membacanya! ^^

Admin’s Note: Dear Lovina … lain kali kalo kirim FF jangan lupa pake lampiran yah… jangan copas cerita kamu ke badan email. Bukan apa-apa, suka berantakan pas masuk ke draft wp🙂

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

5 thoughts on “Can’t Stop Loving You – Part 1

  1. Waaaah.. Ceritanya bagus, aku suka. Tapijeda antara scene yg satu sm yg lainnya itu deket2 banget, jadi kesannya ceritanya kayak kepotong-potong. Kalo bisa buat ceritanya agak lebih panjang biar bisa dapet feelnya. But overall udah baguuuus. Aku penasaran sama kelanjutan ceritanya. Yeon ji bakal ngelakuin apa ke ji yoon karna dia deket2 sm minho, pshl kan minho yg ngedeketin-_-
    Ditunggu part selanjutnya, thanks author^^ keep writing and fighting..

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s