Hidden [2.2]

Title : Hidden

Author : Bibib Dubu

Main Cast  : Ham Eun Jung, Kim Jonghyun, Kim Kibum, Lee Taemin

Support Cast : Park Hana, Krystal, Choi Minho, Lee Jinki

Length : Twoshots

Genre : Romance

Rating : PG-15

A.N: Halooo, masih ada yg inget dengan FF debutku “You Save Me From My Silent World”. Jiah, itu ff terabal. Ini lanjutan after story-nya. Udah ada di blog-ku sejak September, tp baru aku publish di sini karena beberapa orang menilai endingnya buru-buru. Tadinya mau kuganti, tapi setelah dipikir, ga apa-apa deh begini adanya aja, hehehe… maap kalo abal-abal ya…

***

 

Part 2 of 2 : Blamm!

Taemin berkali-kali melihat pintu kedatangan dari luar negeri. Ia begitu tidak sabar menanti kedatangan Jinki dan Hana. Semalam hyung-nya itu mendadak memberitahu bahwa dirinya dan Hana akan tiba di Korea hari ini. Jinki sama sekali tidak menjelaskan maksud kedatangan mendadaknya lebih detail, ia hanya mengatakan pada Taemin bahwa ada pertemuan penting yang harus dihadiri di Seoul.

“Taemin-ah!” Hana memekik dari kejauhan, setengah berlari menghampiri adik ipar kesayangannya itu. “Aigooo, kau cepat sekali bertambah tinggi. Dan, ke mana rambut jamur lucu milikmu itu?” Mengerjap tak percaya mendapati Taemin dengan rambut pendeknya.

“Errr, belum lama ini dipotong. Aku ingin terlihat manly, bukan cantik,” timpal Taemin sambil terkekeh, mengusap rambutnya malu-malu.

“Ckck, tidak usah dipaksakan, Tae-ya. Jadilah dirimu sendiri.” Jinki menyusul datang, menepuk pelan bahu adiknya itu. “Hei, tidakkah kau rindu padaku, memelukku atau apapun?” Jinki menggoda Taemin, nyatanya tidak lama kemudian justru Jinki yang berhambur memeluk Taemin lebih dulu, koper yang dipegangnya ia abaikan sejenak.

Hyung, jangan memeluk terlalu erat. Terlihat seperti sepasang gay,” protes Taemin.

Omona, kau memang sedikit berubah. Dulu kau sangat manja padaku, sekarang? Ah ya, baiklah, aku mengerti keinginanmu.” Jinki melepaskan pelukannya, kini tangannya beralih merangkul Hana.

“Ah, Hyung, kau tidak mau menjelaskan padaku apa alasanmu mendadak pulang ke Korea?”

“Kami… errr, nanti kau akan tahu. Tae-ya, lusa kau tidak ada acara kan? Jadilah guide bagi kami.” Hana menjawab, sedikit terbata.

“Aishhh, kalian ini seperti kacang lupa kulitnya. Memangnya kalian sudah berapa abad tinggal di Paris hingga membutuhkan guide ketika menjelajah kota sendiri?” canda Taemin setengah menyindir.

“Ooo, bukan, bukan. Kami tidak lupa Seoul, hanya saja…  ingin kau berada di dekat kami. Apa kau tidak berpikir bahwa kau adalah salah satu alasan kedatangan kami?” Hana mengambil alih jawaban karena Jinki tidak kunjung menanggapi pertanyaan Taemin.

“Huaaaa, aku terharu mendengar jawabanmu, Nuna.” Taemin berhambur memeluk Hana, disambut oleh Jinki yang melotot spontan.

“Ya! Kau melarangku memelukmu, tapi kau justru memeluk erat istri orang?” Jinki pura-pura marah, meskipun sebenarnya ia senang melihat keakraban dua orang di hadapannya itu. “Ah, baiklah, gratis memeluk istriku kali ini.”

“Ya! Kalau begitu aku akan minta Key memelukku hari ini!” seru Hana tidak terima, sekaligus bermaksud memanasi Jinki. “Key? Ah iya, izinkan aku bertemu dengannya ya? Bagaimanapun kau tahu sepenting apa posisi Key dalam hidupku, satu tingkat di bawahmu.” Tidak lama Hana menyadari bahwa ia belum menghubungi Key dan sama sekali tidak berpikir untuk membuat janji dengan Key sebelumnya.

“Temui dia, tapi jaga hatimu. Sejujurnya, ketimbang Minho, aku lebih takut Key,” sahut Jinki pelan, sedikit tidak yakin dengan jawabannya.

Gomawo, aku suka kejujuranmu.” Hana memelankan suaranya, meraih tangan Jinki ke dalam genggamannya. “Cinta bukanlah gubuk tua yang mudah digoyahkan angin, percayalah.”

***

Bola basket itu menggelinding, dibiarkan lepas karena orang yang memegangnya tadi sedang tak bersemangat. Sementara langit sore melukiskan nuansa cerah, hati orang itu begitu muram. Untuk yang pertama kalinya ia merasa tidak menikmati permainan basket, entah karena teman bermainnya, atau memang ia sedang tidak  berniat.

“Ya! Kau terlihat aneh kalau seperti ini, Krys. Ayolah, biasanya kau sangat bergairah kalau diajak olah raga. Kau sedang kerasukan setan apa sebenarnya?” goda Key seraya setengah berlari menghampiri bola basket yang kini sudah berada di tepi lapangan.

Kyrstal tak menjawab, ia memilih duduk di tengah lapangan, persis di center line. Kakinya ditekuk, kemudian yeoja itu tertunduk sembari memeluk lututnya. Peluh keringat membaur bersama air matanya yang diam-diam melesat. Entahlah, ia sendiri tak mengerti mengapa rasanya ia begitu sedih ketika melihat Key.

“Ckck, memang kau sedang aneh, sungguh. Ya sudah, mari berbagi cerita, bagaimana?” tawar Key setelah ia berada di sebelah Krystal yang masih membenamkan wajahnya di antara kedua lutut.

Krystal tahu, mungkin Key akan tertawa terbahak kalau mendengar penjelasannya. Ini memang kekanakan, tapi yeoja itu merasa lelah mengejar tanpa kepastian. Key tak juga memberi isyarat akan ke arah mana hatinya berlabuh. Krystal tahu, mencintai seseorang sedemikian dalamnya memang hal terkonyol baginya.

“Key…,” desisnya lirih. Rasa ragu masih membebaninya, khawatir Key akan mencemoohnya nanti. “Ah, tidak jadi,” putusnya kemudian.

“Ishhh, menyebalkan. Ya sudah, terserah kau.” Key mengalah, ia memilih duduk diam menikmati semilir angin sore.

Bosan terhanyut dalam keheningan, Key melirik ke arah Krystal, memperhatikannya baik-baik. Sesaat kemudian Key merasa dirinya sangat bodoh, ia baru menyadari bahwa bahu Krystal bergetar. Mendadak Key merasa bersalah pada yeoja itu, merasa telah melukainya secara tak disengaja. Ah ya, bicara praktek memang tak semudah mengobarkan bunyi teori. Key yang pada awalnya ingin membiarkan hubungannya dengan Krystal tetap seperti ini—berteman baik seolah dirinya tak mempermasalahkan perasaan yang Krystal punya—kini mulai berpikir bahwa jalannya ini salah.

“Krys,” panggil Key. Tak ada jawaban, hanya getaran tubuh Krystal yang semakin jelas tertangkap oleh mata Key. “Aku telah melukaimu, benar begitu?” tanya Key sembari menarik wajah Krystal agar tegak menghadap ke arah dirinya. Betul saja, air mata yeoja itu tengah berurai, tak kunjung berhenti mengalir.

“Kau merasa dipermainkan olehku, hmm?” bisik Key lembut, mengusap air mata Krystal.

Yeoja itu mengangguk pelan, cukup lama ia memandang Key getir. “Kau namja yang paling menyebalkan yang pernah ada dalam duniaku, Key,” ungkapnya kemudian. Isak tangisnya kian tak terbendung.

“Key, kau tahu tidak. Aku merasa berada di pertengahan, tidak juga mendapat kepastian. Key, aku memang tidak pernah bertanya, karena aku ingin tahu jawabanmu tanpa kau merasa terjebak suasana. Tidak, aku tak meminta belas kasihanmu. Tapi, tidakkah kau menyadari kalau berdiri di tengah ketidakpastian itu sangat melelahkan? Ingin kembali ke rumahmu, namun kau masih tak ingin menyerah. Ingin terus melaju, namun kau tak yakin bahwa semua ini akan berujung, bahwa di depan sana kau tidak akan mati kelelahan.” Krysrtal memukul keras dada Key berulang kali, melampiaskan luapan emosi yang sejak tadi dipendamnya, ia benar-benar kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Key begitu tertohok mendengar deretan kalimat tersebut, tidak menyangka kalau seorang Krystal yang selama ini terlihat ceria dan cuek, punya pemikiran seperti itu. Ya, lelah memang, Key mengerti perasaan sejenis itu. Lelah berada di bawah ketidakpastian, lelah berada di persembunyian, lelah memendam, lelah bertahan, ah, lelah apalagi? Namun, ada satu yang tidak pernah membuat Key lelah. Ia tidak akan lelah menunggu seorang Park Hana, ya, sekalipun ia tahu yeoja itu telah menjadi milik seorang Lee Jinki.

Key terpaku di posisinya, membeku, tak tahu anggota tubuhnya harus bergerak seperti apa. Ingin meraih kepala Krystal dan mengelusnya, tapi ia takut Krystal makin merasa tersakiti. Ingin memeluk yeoja itu untuk berbagi rasa damai, nyatanya Key sendiri merasa hatinya tidak sedang dirundung rasa damai.

“Krys, maafkan aku dan sisi burukku. Krys, jadi kau menginginkan kepastian? Baiklah, aku bukan tipe orang yang ingin membahagiakan seseorang dengan kebohongan. Nyatanya, aku tak bisa. Ya, entah sampai kapan, aku tak tahu, hatiku masih menyuarakan satu nama. Krys, bertahanlah pada titik pertengahan itu. Ah, bukan, makna titik tengah yang kita pikirkan berbeda. Selama ini aku ingin kita bertahan di titik itu.” Key terdiam sesaat, mengumpulkan segenap kekuatan untuk menuturkan lanjutan dari kalimatnya. Ia tahu ini berat dan mungkin terasa sangat menyakitkan bagi Krystal, tapi ia sadar bahwa berada pada titik pertengahan yang Krystal maksud, memang sangat mengusik pikiran dan juga perasaan.

Krystal memberanikan diri menatap lekat wajah tampan bak malaikat milik Key, menyaksikan betapa guratan wajah penuh beban terpancar jelas dari namja itu. Ia sadar, bahwa saat ini ia sedang menodong Key, meminta paksa jawaban namja itu. Ia baru saja berpikir, mungkin selama ini Key punya alasan untuk memilih sikap seperti ini—bukan karena namja itu tak menyadari perasaan yang disimpan utuh oleh Krystal, bukan pula bermaksud mengabaikan.

Key menghela napas beberapa saat, lalu menghembuskannya dengan berat. “Apa kau tahu? Menurutku, titik tengah adalah posisi di mana semuanya netral. Atau bisa juga dimaknai sebagai titik awal di mana kita belum ternodai oleh pertarungan apapun, termasuk pertarungan perasaan. Layaknya sebuah pertandingan yang sering kali dimulai dari titik tengah, aku ingin hubungan kita seperti itu. Bebaskan semua ganjalan yang pernah singgah. Mari kita menjalin pertemanan, atau bahkan persahabatan yang tak ternodai.”

Krystal mengangguk pelan, menghapus air matanya dengan paksa. Ia tak kuasa lagi menegakkan kepalanya, hingga ia kembali pada posisi tertunduk—memandangi lapisan keras yang ia pijak di tengah sore yang memilukan, sekaligus melegakan ini. Ya, setidaknya Key baru saja memberikan sebuah jawaban.

“Itu keputusanmu? Baiklah, tak apa Key. Aku tahu, segala sesuatu di dunia ini tak baik jika dipaksakan, terlebih jika sudah menyangkut perasaan. Gomawo Key, terima kasih karena selama ini telah memperlakukanku dengan sangat baik. Aku akan mencoba melangkah menuju titik tengah yang kau maksud,” balas Krystal pasrah.

Ya, semua perjuangannya sudah berakhir. Ini adalah batas cukup bagi Krystal, rasanya tidak tahu diri jika ia terus mengejar cintanya sementara pernyataan penolakan itu telah terucap dari bibir Key sendiri. Oh, ini memang sedikit memalukan karena seorang yeoja yang lebih dulu meluapkan perasaannya, tapi Krystal tak peduli. Rasa malu itu terkalahkan dengan rasa pedih. Ya, sakit, tapi setidaknya Krystal merasa lega karena perasaannya terjawab sudah. Sekali lagi air matanya berhasil mendesak keluar, bahkan suara isakan pelan dapat terdengar.

Key meraih tubuh Krystal ke pelukannya, membiarkan air mata yeoja itu tumpah ruah membasahi punggung belakangnya. Untuk yang pertama kalinya ia melihat seorang Krystal menangis, rasa tidak tega itu mencuat kuat di dalam batin Key, namun ia buru-buru membuangnya. “Mianhe, Krys. Inilah yang disebut kejujuran yang menyakitkan. Aku tak ingin bermain dalam kepalsuan dengan berpura-pura menerima cintamu. Aku lelah bermain dengan kemunafikan. Krys, diriku yang tampak ini sebenarnya bukan diriku yang sesungguhnya. Ini hanyalah topeng rekayasa, dan aku sudah cukup sakit terus hidup dengan kepalsuan.”  Diam-diam mata Key memerah basah, air mata mengalir pelan di pipinya.

“Tidak apa Key, selama ini kau sudah berusaha bersikap baik padaku, terkadang kepura-puraan memang dibutuhkan. Ya, aku mengerti, mungkin selama ini kau sebenarnya tahu tentang perasaanku, namun kau bersikap seolah tidak tahu agar pertemanan kita tetap nyaman. Seperti itukah maksudmu?” Krystal mengusap air matanya, ia tidak mau membuat suasana bertambah melankolis. Nyatanya ia mendengar nada kesedihan dari suara Key, ini terasa lebih menyakitkan baginya.

“Errr, maksudku…” Key bingung hendak menjawab apa. Lagi-lagi Krystal salah menangkap maksudnya, ini tentang kepalsuan. “Yaaa, tapi kira-kira memang seperti itu,” lanjut Key setelah berpikir lama. Biarlah seperti ini, biarlah rahasia itu tersimpan tanpa perlu diketahui Krystal, pikir Key pada akhirnya.

Krystal melepaskan tubuhnya dari pelukan Key, tidak ingin rasa hangat nan memilukan itu menyeretnya lebih lama dan melambungkan harapnya lebih tinggi. “Oh ya, aku dengar dari Minho kalau Hana dan Jinki Oppa sedang pulang ke Korea. Apa kau sudah tahu?” Krystal pun mengalihkan topik pembicaraan.

Key mengangguk pelan. “Belum, tapi sudah mengira,” jawabnya pilu. Ya, semua ini telah ia pikirkan. Dan pada akhirnya ia akan memiliki momen itu, ketika ia dapat menemukan mata bening milik bidadari kecilnya. Jonghyun benar, Key pada akhirnya mengakui bahwa ia masih tak bisa melupakan Hana.

“Nggg… sudah mengira? Bagaimana bisa?”

***

Hana masih memejamkan matanya, bersandar pada bahu Jinki. Yeoja itu rupanya merasa sedikit pusing karena tidak terbiasa naik pesawat, berada di udara, berada pada ketinggian yang cukup membuatnya pusing ketika melihat pemandangan di luar jendela. Jinki tak ingin mengusik ketenangan isitirahat istrinya itu sekalipun ia sebenarnya lebih ingin Hana ikut terlibat dalam obrolannya bersama Taemin ini.

Hyung, sungguh, ini pertama kalinya aku tergila-gila pada seorang yeojaHyung, aku tidak mengerti kenapa Jonghyun Hyung maupun Key Hyung tidak mau memberitahukan tentang keberadaan Eun Jung Nuna. Menurutmu apa alasannya?”

Jinki bingun menjawab, ia memilih memalingkan wajahnya seseaat ke arah jendela mobil, berharap menemukan jawaban yang tepat. “Errr, kenapa ya? Hmmm, bisa jadi karena Eun Jung malu setelah operasi plastik besar-besaran yang ia lakukan? Itu hanya satu kemungkinan. Kemungkinan terburuk, bisa jadi ia… memang tidak ingin kau terus mencarinya. Taemin-ah, mengapa kau mengharapkan sesuatu yang tidak tampak?”

Hyung! Dia bukan hantu yang kasat mata. Oh ayolah Hyung… inilah yang disebut perjuangan cinta. Kau juga dulu sama. Padahal kau berada di Paris dan Hana Nuna di Seoul, tapi kau juga tetap mencintai Hana Nuna yang saat itu juga tidak tampak di hadapan matamu, ‘kan?”

Mwo? Bicara apa tadi? Perjuangan cinta? Aigooo, adikku rupanya benar-benar bukan bocah lagi.” Jinki terkekeh, merasa sangat geli. Bagaimanapun, Jinki tetap merasa adiknya ini masih bocah imut-imut yang seakan menggelikan jika berbicara tentang gadis, cinta, dan perasaan lain yang mengiringinya. “Tae-ya, tampak yang kumaksud, bukan berarti yeoja itu harus benar-benar berada di sekitarmu. Begini, ibaratkan cinta itu seperti seorang tuna netra sedang berjalan. Ia memang tidak bisa melihat, tapi melalui indera lainnya ia bisa tahu ketika ada orang yang lewat di dekatnya. Aku saat itu memang merasa bahwa Hana ada di dekatku, maka aku memutuskan untuk membiarkan cinta itu terus bersemayam di hatiku. Sementara Eun Jung? Kau bahkan tidak tahu di mana dia. Dan parahnya, dia seolah tidak ingin kau mengetahui keberadaannya. Berarti, kalian memang sudah merasa jauh satu sama lain. Kalau begini, apa yang sebenarnya kau perjuangkan?”

“Bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk memperjuangkan apa yang diinginkannya?” Taemin membantah, terlihat kesal dengan tanggapan yang Jinki berikan.

“Tidak, ada saatnya seseorang harus sadar diri dan menyerah. Sekarang, waktunya untuk menyerah, kupikir begitu. Percayalah.”

***

Jonghyun tampak termanggu di sofa ruang tamu, lembaran kertas koran hari ini pun dibiarkan begitu saja berserakan di meja yang ada di hadapannya. Untuk yang kesekian kalinya, ia kembali teringat Taemin dan bagaimana namja itu masih bersikukuh mencari sosok Eun Jung.

Rasa bersalah itu ada, bagaimana bisa dirinya begitu tega mengabaikan pertanyaan namja polos itu? Bukankah itu sama artinya dengan mematahkan semangat Taemin? Memblokir jalan namja itu untuk menemukan hawanya. Padahal Jonghyun jelas tahu jawabannya, tahu di mana sosok Eun Jung berada dan bagaimana yeoja itu menjalani hidup barunya.

Mendadak Jonghyun merasa dirinya terlalu egois. Memang betul, Eun Jung sendiri yang meminta agar dirinya dan Key tidak membocorkan rahasia itu, pada siapapun, terutama Taemin. Pada awalnya memang alasan itu yang dijadikan dasarnya, tapi perlahan terkena cipratan bernama ‘cemburu’.

Hyung, udara luar sepertinya sejuk. Bagaimana kalau kita duduk di teras belakang sambil memetik gitar dan melantunkan lagu?” Key datang, lengkap dengan sebuah gitar di tangannya. “Ayolah Hyung, apa enaknya duduk di dalam ruangan sembari menatap kosong pada koran? Wohoho, aku yakin kau bukan sedang membacanya diam-diam.”

“Ckck, memang tidak sedang membaca. Aku sedang berpikir, ani, lebih tepatnya merasakan. Ah sudahlah, ayo kita keluar.”

“Hahaha, kau sejak kapan menjadi perasa, Hyung?” Key meledek. Kakinya melangkah di belakang Jonghyun, menyaksikan bagaimana langkah hyung-nya itu terlihat gontai.

Angin segar menyerbu, menyelimuti tubuh keduanya begitu pintu di buka. Lesehan di teras menjadi pilihan Key, dan pada akhirnya Jonghyun meniru.

“Petik gitarnya, Key!” titah Jonghyun tak lama kemudian. “Mainkan apa saja sesukamu,” imbuhnya asal.

Key tidak menuruti perintah Jonghyun, ia tahu kakaknya ini sedang punya pikiran. “Hyung? Kau sedang ada masalah? Jangan bilang kau terkena sindrom itu? Katanya orang yang akan menikah mendadak ragu, tiba-tiba mempertanyakan apakah betul dia jodohmu. Hyung, apa kau yakin mau menikahinya? Seseorang yang mungkin jauh dari kesan sempurna bagi seorang Kim Jonghyun? Kau yak…”

“Aku yakin, Key,” potong Jonghyun dengan tegas. Ia melanjutkan, “Pada dasarnya pernikahan bukanlah mencari sosok yang sempurna. Tapi mencari sosok yang bisa menerimaku dengan sempurna dan aku pun bisa mencintainya dengan sempurna. Aku hanya… teringat tentang Taemin.”

“Taemin? Hyung, apa kau sedang merasa bersalah?”

***

“Aku ditolak!” sungut Krystal setelah ia mendapati sosok Minho di halaman rumah kontrakannya. Tampaknya namja itu baru saja selesai membersihkan motor kesayangannya di weekend tenang seperti ini.

Minho bengong, seperti biasanya namja itu telat merespon. Beberapa detik kemudian, ia terbahak keras ketika memahami maksud Krystal. “Huahaha, sudah kubilang, menyerahlah. Sudah berulang kali aku mengatakan, Key tidak tertarik pada yeoja siluman sepertimu.” Minho tertawa begitu puasnya hingga wajah namja itu merah padam.

Bagi Minho, melihat Krystal seperti ini adalah hiburan, bukanlah berita duka. “Oh ayolah Krys, wajah sepertimu tidak cocok memasang wajah sendu naas seperti itu.” Menyadari ekspresi wajah Krystal yang kian muram, Minho berhenti tertawa.

“Huh, puas kau? Aku menyesal, seharusnya aku menertawakanmu juga ketika Hana menolakmu. Sahabat macam apa kau ini, huh? Setidaknya kau bisa menaruh sedikit empati, ‘kan?” Krystal mulai menyentak, wajahnya makin tertekuk tak sedap dipandang.

“Ya ampun Krys, ternyata kau bodoh juga ya, dan artinya kita ini memang dua orang bodoh. Krys, dengar. Coba kau pikir, kalau aku turut memasang wajah sedih, aku yakin kau akan merasa bahwa aku seolah mendukungmu untuk bersedih hanya karena urusan ini. Tidak, aku bukan tipe orang yang mau dipermainkan cinta, aku cukup rasional untuk hal itu. Kau bukannya tidak tahu kalau penolakan ini akan ada, kan? Jadi harusnya kau siap jika hal ini terjadi,” papar Minho tenang sambil berkaca di spion motornya. “Wuah, ternyata aku tidak kalah tampannya dari Key Hyung.”

Krystal berjengit, sesaat kemudian ia tertawa kesal. “Hah, jadi kau sedang mencoba memikatku dengan ketampananmu? Haha, aku tidak tertarik dengan pangeran tampan namun selalu telat bereaksi sepertimu itu.” Lagi-lagi Krystal menjitak kepala Minho, membuat namja itu meringis kesal.

“Ya! Sekarang aku tahu kenapa awalnya aku bisa bodoh. Berapa lama aku main denganmu dan selama itu, berapa banyak kau menjitak kepalaku? Wah, kau harus membayar mahal untuk ini. Baiklah, aku memang baik hati dan pemurah. Kau hanya perlu menemaniku nonton ke bioskop, maka kita impas. Bagaimana?” Minho menjulurkan sebuah helm pada Krystal. Alisnya bergerak ke atas, sengaja mengeluarkan bujuk rayu untuk membangkitkan semangat sahabatnya itu.

“Ya sudah, memang nasibku sial, lagi-lagi harus jalan bersamamu!” Tangan Krystal meraih kilat helm yang disodorkan Minho, merasa bertambah kesal karena Minho kini memasang wajah polosnya yang seolah tak mengerti rasa duka seperti apa yang tengah dirasakan Krystal.

“Hei, sial bagaimana? Di luar sana banyak yeoja yang mengidamkan jalan bersamaku tapi aku enggan. Kau memang tak tahu bersyukur Krys,” canda Minho.

“Oh ya ampun. Minho-ya, apa kau benar-benar tidak mengerti bagaimana rasanya jika yeoja sedang patah hati? Pantas saja kau dinilai tak punya hati, itu karena kau dengan teganya menolak perasaan para yeoja yang menyimpan rasa untukmu,” omel Krystal sebal. Berbagi cerita dengan Minho tentang masalah cinta memang bukan pilihan bijak, namja itu tak beda dengan pemain baru dalam hal ini, tak banyak mengerti.

Mwo? Tak punya hati? Berlebihan, Krys. Aku hanya memilih, mencari yang sesuai dengan bisikan hatiku. Lagipula, jangan salahkan aku kalau aku tidak mengerti. Aku ini namja, selamanya tak akan menjadi yeoja yang sedang dirundung sedih karena patah hati. Sudahlah, nanti kita terlambat.” Minho naik ke motornya, sengaja menyalakan kendaraan tersebut sebagai tanda bahwa dirinya tidak ingin lebih lama bercakap-cakap.

“Huh, kita lihat kau akan kembali merasa patah hati lagi tidak jika bertemu Hana.” Krystal makin kesal pada Minho. Tapi ia tak punya pilihan. Daripada berduka mengurung diri di kamar dan merutuki kisah sedihnya, ia lebih memilih ‘melunasi hutangnya’ pada Minho.

***

Hana melirik pada Jinki yang sedang fokus pada jalanan. Bukan, Hana tidak sedang menikmati sisi tampan Jinki dari samping, ia punya banyak waktu lain untuk ini. Kali ini Hana sedang menunggu respon Jinki dengan cemas, namun rupanya namja itu tidak menyadari sikap Hana. Sesaat kemudian Hana melongok ke jok belakang, tampak Taemin yang sedang terhanyut melantunkan sebuah lagu berbahasa Inggris yang tidak Hana tahu judulnya.

Jarak menuju tempat tujuan semakin dekat, kali ini giliran Jinki yang melemparkan pandang pada Hana, mendapati guratan kecemasan di paras paling jelita yang pernah ada menurutnya itu.

Satu tangannya lepas dari kemudi, meraih tangan Hana dan mengedipkan mata sekali dengan tatapan bermakna ‘tidak apa, tak usah cemas berlebihan’. Memang sulit tepiskan rasa gusar itu. Meskipun Jinki sadar bahwa apa yang berkecamuk di pikirannya berbeda dengan apa yang di pikirkan Hana. Setidaknya, Jinki saja masih terlihat tenang sekalipun ada dua hal yang ia takutkan sesaat lagi. Sementara Hana? Ya, Jinki tahu hanya ada satu hal yang Hana khawatirkan dan ia ingin yeoja itu tetap menguasai perasaannya, bukan justru dikendalikan oleh rasa cemas itu.

Dari kejauhan, mata keduanya dapat menyaksikan banyak kepala masuk ke dalam sebuah gedung megah bernuansa eropa. Tubuh mereka dibalut pakaian rapi yang terbilang mewah. Tidak aneh memang, beberapa orang menganggap ajang seperti ini sebagai sarana menunjukkan siapa diri mereka, ya, melalui busana.

Terlambat datang? Memang disengaja, Jinki sudah memikirkan ini. Jinki memberhentikan mobilnya di parkiran yang tersedia di basement gedung itu. Taemin yang sedari tadi asyik dengan dirinya sendiri mulai menyadari bahwa suasana di sekelilingnya sudah gelap.

“Astaga, Hyung! Jadi kalian mau pergi ke mall? Lalu untuk apa kalian memintaku menemani kalian hingga memaksaku memakai kemeja formal? Oh ayolah, jangan mentang-mentang kalian sudah tua jadi tidak mau mengenakan busana santai untuk pergi ke tempat seperti ini,” celoteh Taemin panjang seraya melepas earphone yang menyumbat telinganya. Jinki dan Hana hanya bisa tertawa geli, saling melempar pandang bingung.

“Inilah bahayanya terus menyumpal telingamu. Tempat ini bukanlah parkiran mall. Kita akan menghadiri pesta pernikahan Jonghyun Hyung. Kalau kau bertanya kenapa aku tidak mengatakan sebelumnya, itu karena…” Penjelasan Jinki terhenti, bingung mencari alasan yang tepat.

“Karena selama ini kami pikir kau sebal pada Jonghyun Oppa, jadi kami khawatir kau tidak mau datang ke acaranya ini kalau kau sudah tahu sebelumnya.” Hana menyambung, melirik penuh perasaan lega pada Jinki.

Mendengar jawaban itu Taemin tergelak, menyemburkan tawa spontannya. “Ya ampun… aku tidak membencinya, hanya kesal padanya. Oh, ini berlebihan. Bukankah Hyung sendiri yang mengajarkan bahwa kita tidak boleh terlalu membenci orang?”

Taemin melangkah dengan tawa yang belum terhenti, merasa lelucon Hana dan Jinki sangat menggelikan dan bodoh. Ia bahkan meninggalkan keduanya dan memilih masuk duluan ke dalam hall tempat Jonghyun dan pengantin wanitanya bersanding di depan ruangan megah yang sarat dengan nuansa Eropa.

Dari kejauhan Jonghyun melihat sosok yang membuatnya merasa bersalah dan diliputi ketidaktenangan itu, Taemin. Jonghyun tahu, siap atau tidak siap ia harus mendapati tubuh Taemin berdiri di hadapannya sebentar lagi. Lari bukanlah jalan yang bijak.

Omona, Hyung, kau tampan sekali hari ini.” Betul saja, pemilik suara itu sudah berdiri di hadapannya, memamerkan senyum polosnya yang tanpa beban.

Keringat dingin merembes di dalam tuxedo silver yang dikenakan Jonghyun. Diam-diam tangan namja itu menggenggam erat tangan yeoja yang telah resmi menjadi istrinya sejak tadi pagi, mencari sumber kekuatan dari belahan jiwanya itu.

Taemin menjulurkan tangannya, bermaksud menjabat tangan Jonghyun untuk memberikan ucapan selamat. Namun kali ini tawa kecilnya terdengar. “Kenapa semua orang yang kutemui hari ini sangat lucu sih? Hyung, jangan-jangan kau juga mengira aku memendam benci terhadapmu sampai tampangmu sangat grogi seperti itu?”

Jonghyun memijat pelan tengkuknya yang tidak linu, sarana pelampiasan rasa canggung. “Nggg, bukan seperti itu. Aku… Taemin-ssi, bolehkah aku yang tertawa kali ini?” Selesai kalimatnya terhenti, Jonghyun tertawa sembari menutup mulutnya agar suara yang timbuk tidak menarik perhatian para undangan yang sedang menikmati santapan dengan diiringi musik klasik dari orkestra pengiring yang Jonghyun sewa.

“Kau salah sangka, aku hanya… ya, merasa bersalah karena selama ini aku tidak mau memberitahukan perihal keberadaan julietmu itu. Tae-ya, di hari yang penting ini, aku ingin meminta satu hal darimu. Eun Jung berpesan agar kau segera melupakannya. Aku bersumpah, sungguh. Jangan biarkan dirimu menjadi lelah menunggu.” Irama bicara Jonghyun mendadak berubah sendu.

“Ah, sudahlah Hyung. Hari bahagia seperti ini tidak seharusnya kita nodai dengan kesedihan. Hyung, kau tidak mau memperkenalkan istrimu yang cantik ini padaku? Aigooo, jangan bilang kau takut aku merebutnya?” Masih mencoba bersikap normal, walau dalam hatinya terdapat pusaran perasaan tak menentu.

Entah kenapa Taemin merasa sesak seketika. Pedih itu mengiris hatinya secepat kilat. Berpelukan sesaat dengan si marah yang tak ingin diabaikan. Kalimat Jonghyun barusan seperti pukulan telak bagi Taemin, membuat hati Taemin berontak ingin mundur perlahan namun tak kuasa, hingga menyeretnya pada rasa sakit tersayat. Dan semua itu terasa makin menguat tatkala Taemin menjabat tangan yeoja yang bersanding dengan Jonghyun, menjadikan sarung tangan yang dikenakan si pengantin tersebut terkena tetesan air mata.

“Ah, mianhae NunaAigoo, debu macam apa sih yang masuk ke mataku sampai perih seperti ini?” Taemin buru-buru menghindar, mengucek kasar matanya yang mulai memerah.

“Woahhh, selamat menempuh hidup baru, Jonghyun-ssi!” Jinki yang baru datang langsung memeluk tubuh Jonghyun, membuat Taemin buru-buru memasang wajah normal.

Gomawo, Jinki-ssi. Wuahhh, Hana-ya, wajahmu makin bersinar setelah hidup bersama suamimu.” Ekor mata Jonghyun langsung menangkap sosok Hana yang ada di belakang Jinki.

Oppa, bagaimana bisa kau memuji yeoja lain di hadapan istrimu sendiri?” Hana terkekeh riang, menjabat erat tangan Jonghyun lalu istrinya.

Hyung, aku duluan,” Taemin memotong keceriaan yang tengah berlangsung. Entah apa yang menyeretnya, tapi duka itu sungguh tengah menggerogoti hatinya, menyapukan awan kelabu dalam harinya. Ia begitu ingin menumpahkan air mata sekali lagi.

Empat pasang mata itu hanya bisa menatap punggung Taemin dengan sedih. Ya, mereka tahu bahwa Taemin sedang tidak baik.

“Jonghyun-ssi, aku menyusul Taemin dulu. Hana-ya, aku tinggal dulu ya?” ucap Jinki dengan terburu-buru, disambut oleh anggukan pelan Hana.

***

Tersesat, tapi tak ingin berubah arah. Ya, Key tahu bahwa pemberontakan yang dilakukan hatinya tidaklah benar. Sejak pertama melihat kedatangan Hana, ia berusaha menahan diri untuk tidak menghampirinya. Mungkin duduk di pojok ruangan merupakan pilihan yang baik, bersembunyi di balik tubuh para tamu dengan pandangan yang tertuju pada deretan ornamen yang terpasang sebagai lis atas tembok. Ia tidak peduli dengan permintaan orang tuanya agar segera bergabung dan mengobrol bersama kolega. Sungguh, pembicaraan basa-basi ala bisnisman adalah hal yang menjemukan untuk didengar.

Rasa rindu itu memang ada, mendambakan diri untuk bertemu sapa dengan seorang Park Hana memang hal yang wajar mengingat ia sudah lama tidak bertemu yeoja itu. Mengingat aturan berhitung, membuatnya ragu. Menginginkan bahagia adalah impian semua orang, termasuk Key. Ia ingin Hana bahagia. Tapi, cinta itu tak pernah berhasil diusirnya.

Masa bodoh jika orang mengatakan bahwa cinta tak harus memiliki. Bagi Key, terdapat hal yang keliru dalam teori itu. Bukankah justru dengan memiliki, maka dirinya bisa melindungi seorang Park Hana, berjanji untuk tak melukainya? Ia tak pernah bisa percaya bahwa ada orang lain yang mampu. Mengingat Hana pernah mencoba bunuh diri untuk yang kedua kalinya sekalipun belum lama berselang, Minho masih melindungi yeoja itu. Nyatanya apa?

Key menampik ketika Jonghyun mengatakan bahwa dirinya tak bisa membedakan antara obsesi dan cinta. Tidak, Key tahu betul apa letak ketidaksamaannya. Obsesi, begitu ingin mencapai namun setelah berhasil maka perlahan kau akan bosan, lalu kehilangan semangat, dan pada akhirnya menghempaskan hal tersebut. Cinta, kau begitu menginginkannya namun kau tak akan pernah meninggalkannya sekalipun kemiskinan dan kesengsaraan melanda. Cobalah tengok pasangan nenek-kakek yang hidupnya sering kekurangan namun mereka tetap bisa harmonis dan tersenyum. Ya, itulah cinta bagi Key.

“Key!” panggil Hana dari kejauhan. Akhirnya ia bisa menemukan sosok Key yang sangat dirindukannya, sosok Kiyun malaikat kecilnya itu tak pernah bisa ia lupakan. Hana tidak tahu apakah itu karena ia pernah berjanji untuk tidak melupakannya, atau memang sosok itu yang terlampau indah untuk dilenyapkan dari memorinya.

Yeoja itu berlari kecil menghampiri Key, heels-nya menghasilkan bunyi ketukan kecil karena berbenturan dengan marmer coklat yang melapisi lantai hall. Tanpa izin Key, Hana duduk di kursi kosong yang ada di meja Key, meletakkan segelas cappuchino yang sedari tadi sedang ia nikmati sembari bercengkrama dengan Minho.

“Kiyun-ah, bagaimana kabarmu?” Memulai pembicaraan, Hana mendapati bola mata Key yang berusaha menghindar darinya.

“Aku baik, Kau?” Tetap, membalas namun arah pandangnya ia hujamkan kuat pada kain emas pembungkus meja, Key masih tak mampu bertatapan dengan Hana.

Hana tersenyum simpul, ia mulai menebak alasan Key bersikap seperti itu. “Kata orang, cemburu itu nyaris dekat dengan dengki, bak api yang menyapu habis kayu bakar dalam sekejap, membuat hubungan yang tadinya erat menjadi kisruh. Kiyun-ah, kau sedang tidak cemburu, ‘kan?” Hana menggoyang pelan bahu Key, kemudian menarik wajah Key agar benar-benar melihatnya.

“Hana-ya, sejak kapan kau agresif?” Key terkejut, tidak menyangka Hana akan bertindak seperti itu. “Ani, aku bukan sedang cemburu,” elak Key.

“Haha, sejak kapan kau tak mau mengakui?” Hana hanya bisa tertawa, ia tahu Key sedang berbohong. “Kiyun-ah, hidupmu terlalu berharga jika kau habiskan dengan memendam cinta untuk yeoja standar sepertiku, apalagi aku sudah bersuami. Kiyun-ah, bukankah kita pernah berikrar bahwa selamanya kita akan bersahabat? Jadi selamanya kita sahabat, tak akan berubah.”

Key tak bergeming, memikirkan sesuatu membuat tubuhnya bangkit. “Ikut aku!” perintahnya sembari menarik tangan Hana tanpa ampun. Rupanya setan tengah membisikkan sesuatu, bergelayut di dalam jiwa yang tengah rapuh itu.

Langkah tergesa-gesa Key terhenti di depan ruangan, tepat di belakang sebuah podium yang tadinya dipakai oleh Tuan Kim untuk memberikan sambutan. Ia meraih mikrofon itu dari tempat dudukannya, tangan yang satunya masih tak ia lepaskan dari pergelangan tangan Hana, menjadikan yeoja itu hanya bisa berdo’a semoga Key tidak melakukan hal memalukan yang terlalu parah. Hana ingin berontak, tapi tidakkah terasa lucu jika ia lakukan sekarang, di saat semua fokus tamu undangan tertuju ke depan?

“Selamat siang semua, maaf aku mengganggu. Beberapa di antara kalian tentu bertanya siapa aku, dan mengapa aku berdiri di sini? Ya, aku adalah orang terkonyol di dunia yang dengan bodohnya tetap mencintai sahabat kecilku sekalipun dia sudah bersuami….,” Key melirik pada Hana yang matanya sudah memejam karena menahan malu. “Lihat, dia saja malu melihatku seperti ini, tak apalah. Tapi aku tidak peduli, aku memang tak punya malu. Kalian tahu kenapa? Karena sebenarnya aku memang sudah tak punya muka, kulit wajahku sudah habis terlumat api. Jadi, rasa maluku memang sudah hilang bersama abu rumahku dulu.”

Semua yang hadir terperanjat, namun mereka masih tak mengerti mengapa tiba-tiba Key dengan nekadnya berbicara lantang di depan, berurai air mata di hadapan banyak orang.

Berbagai cemoohan terdengar, ada yang mengutuki Key sebagai orang gila, ada yang mencibir karena ternyata ketampanan putra kedua keluarga Kim yang tersohor itu hanya buatan, palsu. Beberapa justru iba mengingat fakta bahwa api adalah penyebabnya.

“Hentikan Key!” larang Hana, ia tak sanggup melihat Key seperti ini. Yeoja itu berusaha menarik tubuh Key namun tenaganya tak cukup kuat untuk menahan bentuk kekeraskepalaan namja itu

“Hana-ya, di dunia ini kau adalah hal paling berharga untukku. Aku bukan terobsesi, melainkan mencintaimu. Sekalipun kau sudah menikah, aku akan setia menunggumu sampai janda. Gila? Ya, aku memang gila dan aku tak ingin memendam kegilaan ini seorang diri.” Key mulai berteriak, melawan reaksi tubuhnya yang menegang.

Tubuh Key bergetar hebat. Kisah kelam itu kembali menyeretnya pada rasa sakit yang begitu dahsyat. Mengingat bagaimana rasa frustasinya pasca operasi plastik besar-besaran itu membuatnya mengerang, mengenang semua itu membuatnya seolah merasakan kembali perihnya ketika api memakan kulitnya dengan ganas. Ketika satu persatu, perlahan sel kulit menangis karena tak tahan melawan panas. Terus menjalar, menyiksanya pelan dalam waktu lama. Menjadikan tubuh itu mulai merasa lemas. Ya, lemas. Key merasa tulang-tulangnya lumer saat ini, mulai goyah untuk tegak.

“Ya! Bocah, sikapmu memalukan! Mengacaukan pesta pernikahan kakakmu sendiri, membuat pengakuan bodoh, mencoreng nama baik orang tuamu!” Salah seorang tamu yang merupakan paman jauh Key mengutuki dari barisan tengah.

Jinki yang baru saja hadir di ruangan—setelah berhasil menenangkan Taemin yang menangis di mobil—tercengang bingung melihat Hana sedang berdiri di samping sosok Key yang matanya sudah terbelalak. Hana tampak panik, menangis bingung seperti anak kecil tak tahu jalan pulang. Tadinya Jinki ingin berlari ke depan, namun langkah kakinya tertahan karena Taemin memegang lengan jas-nya.

“Tae-ya, lepas!” Jinki mulai tak sabar. Namun sesaat kemudian ia tahu apa alasan Taemin karena  pemandangan mengerikan yang terhampar di depan sana, tubuh Key yang jatuh dan kemudian berguling-guling di lantai, diiringi dengan pekikan panik Hana dan juga orang-orang. Terhenyak, itulah yang Jinki rasakan.

“A-a…aaarghhh! EommaAppa, itu api!! Hyung, lari! Hyung, tolong selamatkan Hana-ku!! Hyungggg, dengarkan aku! Bawa pergi Hana! Biar aku yang termakan api! Hana-ya, bodoh! Cepat lari!” Teriakan itu terlontar dari alam bawah sadar Key, membuat matanya terus melotot sementara tangannya meremas-remas wajah, bermaksud melindungi bagian penting itu dari kejaran api yang ada di dalam halusinasinya.

“Key! Ini eomma, tenangkan dirimu, Nak! Lihat, tak ada api. Kau aman, Sayang.” Nyonya Kim datang tergopoh-gopoh, berhambur dan bermaksud ingin memeluk Key, berusaha menahan tubuh Key yang memberontak hebat namun tak berhasil.

Tuan Kim mengusap wajahnya, tak menyangka hal seperti ini akan terjadi lagi pada anaknya, terlebih ini adalah acara penting dalam hidupnya, pernikahan putra sulungnya yang begitu ia banggakan. Ini adalah pukulan besar baginya, melihat reaksi yang sama dengan yang dilihatnya beberapa tahun silam saat Key mengamuk menyaksikan wujudnya yang berubah jauh, berontak seperti orang kerasukan jin. Pria itu berjalan gontai sembari memegangi dadanya, menahan denyut nadinya yang begitu mengancam.

Appa, kau jangan ke depan,” pinta Jonghyun yang melihat keadaan Appa-nya. Ia segera berlari menghampiri tubuh ringkih itu, memapahnya berbalik arah menuju kursi undangan. “Jaga Appa-ku, jangan biarkan beliau mendekat,” pesannya pada Krystal dan Minho yang tak berkutik.

Terlebih Krystal, yeoja itu menangis di dalam dekapan Minho sejak pertama kali Key berdiri di depan. Rasa sesak di dada Krystal bertambah ketika mendengar pengakuan Key tentang wajah palsunya. Jadi ini yang dimaksud kepura-puraan? Kepalsuan? Kemunafikan? Yeoja itu merasa bersalah pada Key, ia tak tahu apa alasan pastinya. Bisa jadi, karena mengingat nada bicara Key ketika menuturkan kalimat itu ketika keduanya sedang di lapangan basket tempo hari.

Jonghyun kemudian lari menghampiri kerumunan di depan ruangan dan meraih mikrofon yang tergelak begitu saja di samping Key. “Minggir! Minggir semuanya! Adikku bukan tontonan gratis! Kalau kalian masih menghargai keluarga kami, kumohon, keluarlah dulu.” Setelah berteriak, Jonghyun membungkuk hormat di depan podium.

Banyak yang mematuhi, namun beberapa masih mematung dengan tatapan miris. Beberapa ada yang berinisiatif menggiring khalayak menuju luar gedung, membujuk mereka yang tetap keras kepala ingin menyaksikan drama kehidupan baru dalam dunia nyatanya.

Hyung, selamatkan pengantinmu! Jangan sampai terlumat api lagi! Hyungggg, tolong selamatkan dirimu!” Melihat sosok Jonghyun menangis cemas di depan matanya, membuat Key kembali berteriak tak karuan.

“Terlumat api lagi?” Telinga Taemin memanas begitu ia mendengar racauan key barusan. “Lagi?” gumamnya lirih. Lututnya mulai terasa lemas.

“Hana-ya! Jangan bodoh! Jangan menangis dan cepatlah enyah dari hadapan Key! Kau membuat adikku lebih gila lagi kalau kau tetap di sini.” Jonghyun memerintah kasar. Emosinya sudah tak tertata lagi, hancur lebur seketika.

Hyunggg!! Lindungi Hana dari api, Hyung!” Tangan Key berontak lagi, menepis tangan Jonghyun yang mencoba menahannya. Tangan itu terjulur, seolah ingin menggapai Hana yang masih tak kuasa melangkah.

Kaku, seperti tertancap kuat ke dalam tanah. Hana tak dapat menggerakkan kakinya untuk hengkang. Ia sangat terpukul melihat Key yang seperti ini, melihat keadaan malaikat penolongnya meraung hebat tak terbendung. Blammm! Seperti gunung api yang meledak hebat.

Yeoja bergaun pengantin yang dari tadi hanya terdiam tegang, kini mulai bereaksi. Ia mendekati podium dan memeluk tubuh Key erat. “Key! Bangun! Sadar! Mari kita lari dari api, jangan hanya pasrah tergeletak di lantai!” Ia menarik tubuh Key bangun.

“Eun Jung-ah, bawa aku lari. Kita lari!” Key mulai merasa lemas, seolah panas sudah berhasil menaklukkan segenap kekuatannya.

Yeoja itu tak membalas, ia hanya mengangguk, berusaha menaruh tubuh itu di punggungnya. “Oppa, kau pegang saja bagian bawah gaun pengantinku agar tidak terinjak.” Kali ini ia berbicara pada Jonghyun.

Nuna? Eun Jung NunaHyung, itu Eun Jung Nuna!” Taemin memeluk Jinki dengan segenap pilu, matanya memerah dan perlahan air mata itu kembali turun. Yeoja itu, pengantin yang identitasnya tersembunyi, sosok Eun Jung yang selama ini Taemin cari.

Terbata-bata Taemin mengucapkannya dengan terisak, “jadi yang baru saja menikah dengan Jonghyun adalah yeoja yang selama ini kucari? Hyung, perasaan tidak pernah salah. Sejak tadi aku begitu ingin menangis, seperti ditimpa kesedihan besar. Hyung, jadi selama ini Nuna dan Jonghyun Hyung sengaja menyembunyikan sebuah fakta karena mereka memang sudah berencana menikah? Hyung! Mengapa dunia tak adil? Hyung, inikah yang disebut akhir dari perjuangan cinta? Hyunggg! Jawab aku! Mengapa aku terlalu polos? Terlalu bodoh?” Taemin memukul dada Jinki berulang kali, melampiaskan kekacauan batinnya pada kakak kesayangannya itu. “Hyung? Kau dan Hana Nuna jangan-jangan juga sudah tahu? Hyung, jawab aku!”

Jinki merasa serba salah. Di satu sisi ia ingin segera menarik Hana dari depan sana, tidak tega menyaksikan yeoja-nya menangis bodoh dengan posisi berdiri terpaku seperti itu. Di sisi lain Taemin pun membutuhkannya, Jinki bahkan belum berhasil menenangkan adiknya itu.

Namun pada akhirnya ia menghempaskan tubuh Taemin ke lantai saat melihat tubuh Hana mulai lunglai. “Hana-ya!” teriaknya garang, berlari sekuat tenaga.

The End

Aaak, gila gila gila. Ga tau napa kenapa aku kepikiran buat scene akhir macem ini. Tadinya bukan ini rencananya mah. Auh ahhh, frustasi sendiriiiii! Key!! Sini aku selametin !! *rebut Key dari Eun Jung*

Ya udah, aku panikkk! Akhir kata, makasih buat semua yang udah mau baca ff ini dan main story-nya. *bow* *lariii*

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

6 thoughts on “Hidden [2.2]

  1. ahh…
    Bibiibbbb.. Kenapa endingnya serasa digantung di pohon toge?!#nangisbarengtaem
    dan,, poor key.. Sedari awal ga ngenes mulu..
    Ah, keren..keren..
    Dan bukti hebatnya ni ff, aku ga lupa sama alurnya meskipun dah lama banget.. Hehe
    keep writing!!

    1. Kyahhhh, aku sebenernya malu bgd ama tulisan yg satu ini. Tp demi nutupin space kosong akhirnya sore td dipake yg ini…

      Iya sih tapi aku juga msh inget bener alur ff ini sama yg ICBY. Forward ama Namja malah aku lupa udah nyampe mana .____.

      Makasih loh eonni udh berkunjung🙂

  2. Sumpah thor, ni otak buntuk mau komen apa.

    Yg jelas, aku selalu suka moment minho dan krystal, hehehe biasanya aku cuma suka minho ma suzy miss a.

    Tapi karna baca ni ff udah mulai membuka sedikit pikiran aku yang tertutup hehehehe

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s