The Real Hero

The Real Hero

~ Another Story of Embraces of the Devil ~

Note : pernah kuikutkan dalam SHINee project di blog Saladbowl, tapi gak lolos😄. Tapi senang juga dapat kritikan atas konsep awalnya yg amburadul, dan juga masukan Dista, Shirae Mizuka, dan Opat juga. Mungkin lebih baik membaca ff  sebelumnya biar gak terlalu mudeng nantinya. Tapi  gak baca jg gapapa sih. Pokoknya,  happy reading~

“You will never be happy if you continue to search for what happiness consists of.” ― Albert Camus

“People are just as happy as they make up their minds to be.” – Abraham Lincoln

 Pictures

Protes diajukan saraf-sarafnya. Sementara tubuhnya kehilangan tenaga, justru pandangannya masih juga begitu cerah. Ulah black coffe itu, cercanya. Setengah hati Dokter Lee meneruskan jejakan tiap kalimat dalam dokumen berlabel kuning itu. Punggungnya bersandar pada sofa yang biasanya diperuntukkan bagi para pasien. Tak cukup semenit, ia menyerah pada keluhan fisiknya yang mendambakan istirahat, kemudian memutuskan untuk menambah suplai tenaga di kafe rumah sakit yang buka seharian penuh.

Nasihat Jane –sahabat psikolognya- menggema, merusak konsentrasinya pada suapan kedua, hingga selanjutnya ia harus merelakan selera makannya menguap tak bersisa. Ia bekerja layaknya robot, ia memerlukan istirahat seperti kata Jane. Belakangan ini ia terlalu memforsir waktu, berimbas dengan jarum timbangan yang menunjukkan berkurangnya bobot tubuh hingga lima kilo dalam waktu seminggu.

Dokter Lee sudah setuju yang ia perlukan sekarang adalah istirahat nyata, bukan lagi dihasilkan oleh suplemen penambah energi yang biasa dikonsumsinya, hingga Taejin tiba-tiba saja menghempaskan tas beledunya tepat di hadapan sajian yang tak akan disentuh lagi oleh tuannya. Gelombang desahnya cepat dianalisis lelaki berjas putih itu dengan senyum. Ia yakin, psikolog yang baru saja diangkat sebagai pegawai tetap dua tahun lalu itu sedang dirundung kesal.

“Kau kena masalah lagi?”

Taejin mengumpat dalam hati, ia begitu benci pada seringai sang dokter itu. Lebih menjengkelkan lagi karena lelaki di depannya ini seperti rokok yang biasa dikonsumsinya. Ia membenci asapnya, tapi ia membutuhkannya untuk menyegarkan otak kembali.

“Kurasa, aku sudah ketularan gila,” sahutnya memutar garpu untuk menyelipkan lebih banyak lagi pasta dalam spagetthi—yang sebelumnya adalah menu makan sang dokter.

“Berhati-hatilah dalam ucapanmu, Taejin ah.”

Taejin tidak lupa sama sekali, betapa Jinki membenci kata ‘gila’ yang ditujukan pada penghuni tetap rumah sakit ini. Gadis itu hanya mengangkat bahu, berusaha menyumpal mulutnya agar tidak mengeluarkan caci yang lebih pedas lagi di hadapan Jinki. Taejin tidak lagi peduli pada pemilik dahi di depannya yang mengerut tidak suka.

“Seharusnya kau tahu apa yang terjadi pagi tadi,” katanya lagi setelah upaya penenangan dirinya berhasil dimusnahkan oleh sekaleng coke, miliki Jinki lagi tentunya.

“Pasien kesayanganmu membongkar ruang kerjaku, dan memecahkan pot bunga kesayanganku. Ia bahkan menjambak rambutku, sampai keamanan datang dan dokter Britt menyuntikkan penenang.”

Jinki menopangkan kepalanya ke dahi, lalu memijitnya pelan untuk mengurangi pening. Betapa sulit bagi Jinki menerima kemunduran yang terjadi, hingga ia mengatupkan rahangnya rapat-rapat sampai Taejin sendiri cukup merinding dibuatnya. Seingatnya, dokter ramah itu biasanya menanggapi keluhannya dengan senyum selebar mungkin, berikut dengan penyangkalan medisnya. Ia tentu akan memberikan penjelasan  panjang lebar mengenai panik yang menyerang Minho, yang membantu prosesnya menjadi kemarahan berlebihan sebagai pertanda ia mengalami mixed state atau episode campuran.

 “Kau tahu apa yang dikatakannya? ‘Dokter Lee’. Ia terus mengulang kata itu berkali-kali. Tidak peduli jika kukatakan kau sedang mengurusi pasien lain.”

Taejin megap-megap. Lagi-lagi ia tumpahkan amarahnya dengan meneguk minuman berkarbonasi kecoklatan itu. Well, ada alasan mengapa ia lebih memilih berhubungan dengan pasien tua yang bisa dibujuknya dengan lagu-lagu nostalgia misalnya. Sedang pasien itu, oh, ia sudah terperangkap dalam karisma Jinki sepertinya hingga menolak bantuan lain.

 “Maaf, aku begitu menyusahkanmu. Jane akan kembali minggu depan, jadi aku akan mengganti jam konsultasimu dengan punyaku.”

Menggeleng kuat sebagai penolakan, Taejin membulatkan matanya kesal. Dan lagi ia sudah terlanjur iba pada tumpukan kehitaman di bawah mata sang dokter. Terlebih pada isu yang merebak terakhir kali jika pertunangan Jinki hampir dibatalkan.

“Tenang saja, aku akan baik-baik saja. Ada pepatah ‘orang tampan akan berumur panjang’. Jadi, singkirkan wajah muram jelekmu itu. Jangan terlalu mengkhawatirkanku atau kau akan jatuh cinta padaku. ”

Taejin tau lelaki itu sedang menghiburnya dengan humor khasnya, tapi ia sama sekali tak tersentuh. Mengalah pada kekeraskepalaan dokter itu adalah satu-satunya pilihan yang tersedia di otaknya, lagipula ia sedang takjub pada keadaan sentimental dokter itu. Dia berpikir kembali pada dirinya, andai dedikasi para dokter sebesar ini.

****

Minho tidak pernah mempermasalahkan betapa kecil ruang yang ditempatinya sekarang, atau perabot yang disediakan seadanya saja. Cukup berbanding terbalik pada kediamannya dulu, mengingat betapa banyak perabotan mewah ditambah gadget terbaru cukup tersedia untuk mengurangi penatnya.

Tidak, ia merasa tentram sekarang, meski sesekali ia akan melalui malamnya dengan isak tangis tiap kali figur Choi Hyeonsa membajak ingatannya. Kemudian ia sadari, bukan semalam saja, tapi hampir seluruh malam tangis menjadi pengantar tidurnya hingga mata bulatnya makin didramatisir dengan setengah lingkaran yang membengkak di bawah matanya.

Sudah setahun hari-hari dilaluinya dengan bermeditasi di ruangan berdinding serba putih itu, merefleksikan arti bahagia sesungguhnya jika dipautkan dalam sulitnya ia menemukan titik fokus di bawah kendali obat penenang. Hasilnya membuahkan jawaban jika bahagia hanya berlaku pada waktu tertentu, dan itu adalah ketika ia melewatkan renggang waktu di ruangan yang hampir sekecil kamar mandinya dulu.

Dadanya selalu sesak saat berada di sana. Riuh detak jantungnya menyambut jam konsultasi bersama Dokter Lee cukup menjadi bukti kebahagiaanya. Sosok yang ia idamkan sebagai cheonsa itu selalu berhasil menyembuhkan hati yang masih rawan akan luka, meski babak yang terlalui hanya pada hari Rabu dan Jumat saja, sesuai jadwal konselingnya. Selanjutnya, halusinasi akan menjebaknya dan ia mengakui betapa pemujaan selanjutnya didedikasikan pada resep Dokter Lee, mencanangkan obat-obatan itu sebagai the second hero.

Kejadian yang melibatkan Taejin pagi tadi sungguh tak ia sengaja sama sekali. Betapa ia menyesali perlakuan kasarnya, padahal gadis itu berusaha membantunya. Ditambah lagi, Taejin adalah satu-satunya teman yang sanggup menghadapi gertakan kasarnya semasa sekolah dulu. Yah, itu adalah momen ketika para dokter memvonisnya sebagai penderita bipolar disorder. Lalu ia putuskan, di pertemuan berikutnya ia akan merangkai permintaan maafnya. Hanya satu masalahnya, ia takut jika ia lupa dan akan mengamuk kembali. Oh, betapa ia benci bila efek obat-obatan itu mempengaruhi ingatannya.

Dia merutuk kembali bayangan Choi Hyeonsa yang lagi-lagi menyabotase benaknya. Kebencian menghampirinya, lalu dia menangis begitu bayangan eomma tercintanya itu terkena mesiu panas, hingga memutuskan mengakhiri hidup dengan melompat dari jendela. Tepat di depan matanya, dan ia tidak melakukan apapun untuk menyelamatkannya.

Seketika ia menggigil. Bayangan itu mengintimidasinya, menjelma menjadi sosok penuh luka yang terus menuntut ketidakberdayaannya.

Kau bisa menarikku waktu itu, Minho! Bukan aku yang bunuh diri, tapi kau yang membunuhku!

Kalimat itu terus terulang dalam kepalanya. Tubuhnya menggigil ketakutan. Keringat mengucur deras di dahinya. Sosok itu semakin mendekatinya, kali ini menghunuskan sebilah kaca pecah ke arahnya. Dadanya nyeri luar biasa, perutnya pun seakan diaduk sampai rasanya begitu mual, dan rongga mulutnya siap memuntahkan isi perutnya.

Ia harus menyelamatkan diri. Ia tidak mau mati. Begitu banyak doa dirapalnya dalam hati. Sementara mulutnya disibukkan oleh teriakan meminta pertolongan, tangannya terus menggedor sel besi. Pikirnya, ajal benar-benar akan menjemputnya ketika lolongan kemarahan menggema di sepanjang lorong. Seperti paduan suara iringan kematiannya. Dan kemudian ia berbalik menghadap Choi Hyeonsa yang kini berjarak beberapa senti saja darinya. Ya, hidupnya akan melayang ketika itu juga.

****

Langkahnya tidak lagi diperlebar, tetapi yang dilakukannya kini adalah berkompromi dengan napasnya yang memburu. Dokter Lee sudah sampai di parkiran, memutuskan untuk beristirahat di rumah saat ponselnya dihubungi oleh pihak keamanan. Jarak yang biasanya ditempuh selama tiga puluh menit dipersingkat dengan laju lari yang membelah kesunyian koridor dengan gema desah napasnya.

Sesekali Jinki melirik jam tangannya, menghitung empat belas menit telah terlewat hingga sampai di lorong kamar pasien. Beberapa kepala menyembul di balik sel, tapi kali ini ia tak punya waktu hanya untuk sekadar melirik memberi sapa seperti yang biasa ia lakukan. Ucapan pihak keamanan dari sambungan telepon tadi lebih mendominasi di pikirannya, bahwa penghuni kamar terujung melukai diri sendiri dengan pecahan piring, termasuk mengancam petugas sosial yang sudah sampai lebih dulu di sana.

Jinki mengumpat dalam hati, betapa bodohnya petugas ahli gizi memberikan peralatan makan berbahan kaca pada pasiennya. Pintu sel sudah terbuka ketika ia tiba. Matanya menyambut kerumunan serba putih mencoba menenangkan sang pasien yang terpojok di sudut ruangam. Terburu-buru ia menghampiri mereka. Umpatannya menguar kembali setelah menemukan Minho bersimbah darah dengan tangan memegang pecahan piring, tepat seperti laporan yang diterimanya.

“Ya Tuhan, Minho. Lepaskan itu dari tanganmu,” sahutnya setelah meredakan gemuruh napasnya. Lelaki di depannya mematuhi perintahnya dengan segera. Punggungnya merosot ke lantai. Gemetar hebat menjalari tubuh Minho. Jinki bahkan bisa melihat dengan jelas dilatasi yang terjadi pada pupil mata bulat itu, pertanda utama betapa kegelisahan mengambil alih Minho. Dari sudut matanya ia temukan seorang bertubuh tegap dan besar-yang ditahu Jinki sebagai security– cepat meredakan sumber kegaduhan malam ini. Lelaki itu cepat mengamankan pecahan kaca yang basah oleh darah. Dengan isyarat tangan dari sang dokter para perawat dan petugas sosial segera berlalu, kecuali si tinggi tegap yang akan mengawasi mereka dari luar sel, berjaga-jaga jika sang pasien mengamuk lagi. Lelaki berwajah garang itu juga membantu para petugas sosial menenangkan keriuhan pasien lain yang berada di blok itu.

Jinki tahu, betapa lelaki di depannya membutuhkan sentuhan kasih sayang, dan ia pun membelai wajahnya. Dia memberikan pelukan hangat dengan tepukan lembut di punggung Minho, hingga gemetar lelaki itu menghilang. Sebelah tangannya dengan cekatan menarik kotak obat di sampingnya, dan begitu melepaskan rangkulannya, ia amati luka Minho satu persatu.

“Aku akan memberikan pertolongan pertama terlebih dahulu,” ucapnya sembari memijit pelan kapas yang sudah dibubuhi  cairan antiseptik pada luka-luka Minho. Ia sudah memberi tahu petugas sosial tadi agar menyediakan ruang operasi untuk luka Minho yang akan dijahit. Mereka terdiam untuk waktu yang lama. Mata sendu Minho memperhatikan gerak tangan Jinki, sesekali ia akan mengaduh sebagai respon rasa sakitnya.

“Kau tidak mau bertanya kenapa?” tanya Minho dengan suara bergetar.

“Kupikir kau akan menceritakannya padaku,” jawab sang doker setelah membalut luka terakhir.

“Hanya pada waktu yang tepat,” sahutnya lagi. Ia menggiring Minho menuju ruang operasi.

“Tidurlah, kau membutuhkannya,” katanya sembari melakukan pembiusan lokal pada daerah luka. Lukanya tak terlalu parah, jadi pembiusan secara umum tak begitu diperlukan.

“Kau juga, Dokter. Maaf, aku mengganggu malammu,” kata Minho. Matanya mengerjap, seakan ada kumpulan semut yang mengerumuni matanya untuk beberapa saat hingga yang dilihatnya kini hanya warna putih.

Jinki tersenyum lagi, memohon diri pada Dokter Britt yang akan melakukan penjahitan luka Minho. Dalam hati ia merutuk, ia akan menghabiskan malam ini di sofa ruang kerjanya.

****

Minho dibangunkan oleh nyeri yang menyerang seluruh tubuhnya, menyadarkannya kembali pada amuk yang lagi-lagi dilakukannya empat hari yang lalu. Dan perban-perban yang membalut jahitan lukanya cukup untuk memicu ingatannya kembali. Pembiusan itu hanya meredakan sakitnya, tak termasuk melumpuhkan ingatannya.

Sukacitanya dilimpahi dengan gemerincing kunci yang terputar pada gembok selnya. Seseorang datang untuk mengumumkan jika jam konsultasinya sudah tiba. Begitu terkejutnya ia menyadari siang sudah tiba, perutnya pun mengajukan protes setelah tak diisi berjam-jam lamanya. Dari lirikan matanya, ia temukan para tetangganya melahap makan siang mereka. Tak jarang ada yang bersiul, bahkan memuji ulahnya yang dianggap heroik.  Minho mengabaikannya. Mereka sinting, pikirnya. Dan begitu pun aku, lanjutnya lagi.

Perjalanan panjangnya berakhir di ruangan sempit berfasilitas penghangat ruangan itu. Dia menemukan Jinki tengah membereskan kotak makanan di atas meja. Matanya beralih cepat pada jam dinding yang menunjukkan pukul dua belas. Dia segera mengetahui penyebab masam yang tampak di wajah Yunjae, sang petugas keamanan yang mengapit lengannya sedari tadi.

“Oh, maafkan aku, Yunjae ssi. Kau harus mengorbankan waktu istirahatmu lagi untukku,” kata Jinki sembari terburu-buru menyelipkan lembaran won ke tangan lelaki tegap itu.

“Tidak usah, Dokter. Ini sudah tugasku,” sahutnya sambil menyodorkan kembali uang yang diberikan padanya. Tapi Jinki justru mengeratkannya kembali pada kepalan tangan lelaki besar itu.

“Makan sianglah di lounge, jangan terus menjadikan ramyun sebagai menu utamamu,” katanya dengan senyum lebar khasnya. Satu hal yang disimpulkan lagi oleh Minho, betapa dokter itu diliputi aura terang, Lelaki itu bersedia membaginya untuk siapapun.

“Oh, Minho. Kemarilah. Kau beruntung akan berbagi makan siang denganku, istimewanya ini adalah masakan Eunmi,” ujarnya bangga. Minho menurut, ia duduk di sofa berhadapan dengan Jinki. Dokter itu bisa menebak segera kerut di wajah pasiennya.

“Dia masih belajar memasak. Ini tidak akan seenak yang kau bayangkan, pastinya.”

“Tidak, ini jauh lebih enak dibanding nasi dan sup miso dingin itu,” bantahnya mengundang tawa Jinki. Sudahkah ia bilang betapa ia menyukai senyum hangat psikiater kesayangannya?

Mereka berpindah ke meja konsultasi setelahnya, sesuai permintaan Jinki. Membahas fiksi-fiksi terbaru dan saling berbagi rasa cinta pada Daniel Keyes. Persamaan minat, itu yang dipercaya Minho sebagai perekat hubungannya dengan Jinki. Dengan sabar, Jinki akan mengulang inti cerita The Milligan Wars mengingat kesulitannya menarik poin penting pada novel itu, padahal mungkin ia sudah membacanya puluhan kali.

Ketika Jinki menutup dokumen berisikan berkas mengenai dirinya, Minho tahu psikiater itu sudah berhasil membaca keseluruhan laporan mengenai jejak sekaligus membagi perhatiannya pada percakapan ringan mereka. Mendadak ia dilanda cemburu, ingin sekali ia seperti Jinki. Memfokuskan diri adalah salah satu kelemahannya sebagai penderita gangguan bipolar.

 “Kau bisa sembuh. Kukira dengan bantuan obat juga. Tapi hasilnya sia-sia saja jika hanya aku saja yang berperan. Aku tidak punya kuasa lebih kecuali menuntunmu menemukan jalan yang benar. Semuanya kembali padamu. Pada usahamu, pada keinginanmu untuk benar-benar sembuh, ” ucap Dokter Lee sebagai pembuka percakapan berat mereka.

Minho menunduk, satu kata menarik begitu besar perhatiannya. Sembuh, ayolah, kata itu juga mustahil terjadi untuk penderita gangguan jiwa sepertinya. Yang terjadi adalah ia akan terjebak dalan pusaran fase kegilaan, melewati tahap berikut dan seterusnya.

“Mukjizat. Aku mempelajari kata ini darimu, bukan? Katamu, aku percaya pada mukjizat, dokter. Aku percaya ia akan menyelamatkan aku dari pelukan iblis. Hanya saja, aku takut Tuhan terlanjur benci padaku yang sudah berlumur dosa sampai tidak memberi perhatian lagi padaku.”

Minho mengangguk. Ia ingat percakapan mereka setahun lalu, jauh sebelum Choi Hyeonsa- sang ibu- meninggalkan dunia ini. Ia ingat dengan jelas kalimatnya waktu itu. Betapa geli rasanya ketika Jinki mengucapkannya lagi tepat seperti apa yang dikatakannya, tanpa kurang satu katapun.

 “Aku mencerna kalimatmu berkali-kali, dan kurasa jawabannya kutemukan semalam tadi. Kau tidak membunuh ibumu, Minho,” katanya lagi, sementara tangannya sibuk memberi tanda centang pada poin-poin pada medical record Minho. Lagi-lagi Minho ditaklukan kemampuan Dokter Lee menelaah isi pikirannya. Kemudian ia bertanya-tanya, apakah psikiater lain juga memiliki bakat luar biasa ini?

“Itu adalah bukti kegagalannya dalam mengalahkan dirinya sendiri. Aku sungguh menyesal pada kebodohanku sendiri melewatkan fakta bahwa ibumu pun sakit, dan aku tidak membantu melewati masa sulitnya. Aku tidak tahu bahwa aku tidaklah pantas untuk mengatakan ini, tapi aku bersumpah, sejak saat itu aku tidak akan kehilangan lagi nyawa yang terbuang sia-sia.”

Perhatian Jinki teralih pada mata bulat yang menatapnya lekat. Dia tersenyum untuk meringankankan suasana.

“Mukjizat, aku percaya hal semacam itu ada. Hanya saja, kau perlu menanyakan dirimu, bagaimana bisa kau mengharapkan mukjizat akan datang ketika hatimu tidak benar-benar percaya?” katanya lagi dengan lembut.

Seperti mendapat siraman air dingin di kepalanya, pencerahan menghampirinya. Secercah cahaya yang tadinya meredup kini menyala terang bak mercusuar yang melalap gelapnya malam. Minho tertunduk lagi.

“Kau tidak akan menemukan pahlawan yang kau pikir bisa menyelamatkanmu dari jeratan iblis, seperti katamu. Tidak seorang pun bisa, kecuali kau sendiri. Cobalah untuk meyakinkan hatimu, kau tidak perlu sembuh karena kau tidak sakit. Yang kau butuhkan adalah berjuang menghadapi sisi tergelapmu. Maka setelah itu kau akan tahu. Pahlawan sesungguhnya ada di sana, bagian dari dirimu sendiri. Di hatimu, Minho. Hati.”

Tenggorokan Minho terasa  seperti tercekik, begitu sulit bagi pita suaranya untuk bergetar.

“Aku punya satu permintaan untukmu, Dokter.”

****

Pepohonan teduh menyambut Minho dengan meranggaskan dedaunan. Suatu penghiburan khusus baginya tatkala bau kematian begitu dekat ketika ia menjejakkan kaki di sana. Batu-batu nisan yang tertanam menjadi pemandangan utama, jejer rapi paving setapak jalan memisahkan makam satu dengan lainnya.

Minho berjalan di depan. Dia tidak perlu bermain tebakan. Dia tahu di belakang Dokter Lee ada petugas keamanan yang entah berapa jumlahnya. Matanya terlanjur disibukkan membaca huruf-huruf yang tertera, kemudian terhenti di nisan bertuliskan Choi Hyeonsa. Dadanya mulai bergemuruh. Detak jantungnya semakin cepat, dan pandangannya sedikit kabur ketika ia berlutut di depan makam sang ibu.

Tangisnya meledak beberapa detik kemudian. Ingatannya bekerja keras saat ini, memutar puing-puing kuno kenangannya yang masih tersisa dalam sekian detik. Di sana, ia tumpahkan segala amarah, benci, dan segala penyakit hati yang menyiksanya selama ini. Entah berapa lama ia disana. Denyut di kepala Minho menguat, kemudian dia segera berdiri dengan bantuan Jinki.

Sepanjang perjalanan pulang, ia sandarkan kepala di jendela, memandangi pohon-pohon yang seakan saling berkejaran. Di kaca itu pula, ia temukan pantulan Jinki yang sesekali meliriknya. Minho tahu, Dokter Lee sedang menunggunya mengucapkan satu patah kata untuk memastikan jika Minho benar-benar hidup, dalam artian konotasi tentunya.

“Terlepas dari segala penyiksaan yang ia lakukan padaku, aku mengikhlaskannya dan aku  sadar betapa aku merindukannya, Dokter Lee.”

Tidak ada lagi sesal yang akan menghantui benaknya, dia akan memusnahkannya. Dalam pelukan hangat Jinki, ia mengikrarkan janji, ia akan sembuh karena ia tidak benar-benar sakit. Tak peduli berapa tahun yang harus dipertaruhkannya, atau luka yang terkuak lebih banyak lagi. Ia akan berjuang.

***

EPILOG

Minho sempat tercengang ketika bayangan Choi Hyeonsa tiba-tiba muncul lagi di hadapannya. Terlebih dengan kemarahan yang tercetak jelas pada ekspresi wajah wanita itu. Ia mulai takut, gelisah pada apa yang akan dilakukan oleh sang ibu padanya. Wanita itu meminta pertanggungjawabannya. Wanita itu akan membunuhnya.

Minho perlu beberapa saat hingga sadar yang ia perlukan adalah perlawanan. Wanita di depannya tidak nyata. Bayangan itu diciptakan oleh delusi-delusi di kepalanya. Dan ia hanya perlu untuk melenyapkannya. Ia mulai memberontak, sedang Hyeonsa semakin mendekat.

“Aku tidak membunuhmu, ibu!” teriaknya. Keringatnya bercucuran di dahi. Tekadnya sudah bulat. Ia tak akan terpengaruh oleh tipu muslihat yang diciptakannya sendiri. Ia tidak tahu apa usahanya berhasil, tetapi ketika bayangan itu melingkarkan lengan di lehernya, Minho kembali tercengang. Air matanya meleleh tanpa ia sadari, lantaran bayangan itu mulai sirna dalam sekejap.

Kemudian ia mengerti catatan kecil yang diberikan Taejin padanya pagi tadi.

You will never be happy if you continue to search for what happiness consists of. You are just happy as you make up your minds to be.

Ia tak perlu mencari arti kebahagiaan, definisinya sudah begitu jelas terpampang dalam catatan Taejin. Yang ia perlukan adalah membentuk kebahagiaannya sendiri.  Seperti tekadnya untuk sembuh, dia pun akan bahagia hanya dengan pemikiran sesederhana itu.

END

 

Note (lagi!):

  • Soal pepatah ‘orang tampan akan berumur panjang’, kuharap gak ada yang bakalan tersinggung. Pepatah ini kuselipkan hanya untuk menyeimbangkan karakter ‘sangtae’ abang Onyu seperti yang udah kita ketahui bersama.

  • Ini adalah fanfiction terakhirku dan bakalan resign dr SF3SI. Mian untuk typo, dan salah” yg pernah kulakuin. Maaf jg untuk janji ff yang gak sempat terpenuhi. Saya mau fokus kuliah dulu biar cepat lulus, terus dapat pinangan *eh. Doaku, semoga SF3SI bisa serame dulu lagi dan semoga semua reader di sini dapat yang terbaik dalam ke depannya. Amin.

     

     

    ©2011 SF3SI, Freelance Author.

    Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

    This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

    Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

12 thoughts on “The Real Hero

  1. haaaaaa! Eonnie! Andweee! padahal aku masih nunggu ff eonnie yang lain. itu tuh, yang member shinee pada punya kesengsaraan sendiri2. #lupa judulnya soalnya banyak.
    aku pasti kangen banget. ya, ampuuun. hiatus aja kali lah ya?#maksa.
    klo aku mau baca ff modelan kayak gini gimana? karakter narasinya nggak ada yang nyamain. psikologi. aduuuh! #frustasi #acak-acak rambut.
    tapi masih sering mampir nggak? nongol-nongol sesekali gtu. #please!
    saya sedih sebagai salah satu fans. tergila-gila sama ff eonie gara-gara mirror yang bikin aku nangis tengah malem. #ya, ampun.

    1. duh, maaf ya darl. draftny udah setengah jadi padahal, cuman niat nulis ff udah gak ada lg😦
      gak hiatus, benar” berenti dalam dunia per epep an (?)
      mampir gak tau jg ya, semester ini jadwalku padat begete.
      banyak kok author yg nulis ff psikologi bagus, Storm misalny. tulisanku mah masih kalah jauh sm dy🙂
      pokokny tengkyuh ya saeng udah mau baca ff ku yg ini dan yg udah”. dan mian juga kalo udah bikin kamu sedih begitu :’)
      jangan bosan” mampir d SF3SI yaaa~

      1. wah, nggak bosan sih Eon. ya, pasti ntar klo ada ff setengah-setengah ngenes langsung keinget deh sama eonnie. eonie kan demenannya nulis yang begituan tuh. #hehehe
        ya, nggak usah sering-sering mampir. nggak usah paksain. klo sempet aja lah klo ada umur panjang aku akan tetep setia kok dengan sf3si, makanya eonie nongol juga lah sesekali #entah itu kapan.
        ok, kudoakan semuanya mulus kaya kulitnya onew oppa deh.

  2. Sangat disayangkan eonni berhenti😦, padahal saya mulai ngefans sama eonni lhoo…terlebih sequel sebelum ‘The Real Hero’ bener2 jatuh cinta banget sama karakter Onew disana hehehe. Yaah…mau apa lagi😦 tapi tetep kok ff terakhir ini keren banget! ^^
    semangat terus, semoga cepat lulus ^^

  3. Kisah MinHo dan perjuangannya panjang banget. Aku belum nemuin dimana FF sebelumnya yang Another Story of Embraces of the Devil
    Jadi penasaran

  4. whoaaaaaa ini side story embraces ofthe devil yaaaaaak \o/
    hueeeee jinki sabar amat jadi dikter yaaaak
    nice ff nice nice nice. btw author beneran mau resign???? yaaah walaupun aku blm seberapa kenal tapi sayang bgt deh ff author keren keren padahal u,u

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s