Namja – Part 14

Title: Namja

Author: Bibib

Beta-reader: Kim Nara

Main Cast: Kim Kibum, Park Hana, Park Ha In, Kim Heera

Length: Sequel

Genre: Friendship, Romance

Rating: PG-15

namja2

Namja – Part 14: Playing with Possibility

Tidak ada yang lebih Jonghyun inginkan, selain satu.

.

Hari itu kelas lebih riuh dari biasanya, entah siapa yang memberikan komando, juga terlebih dahulu menyebarkan berita. Semua keributan itu terpusat di satu titik, kursi tempat Kim Jonghyun duduk. Tidak sepenuhnya mengelilingi bangku itu, tetapi sebarannya memang tidak jauh-jauh dari sana.

Mereka menghebohkan satu hal, Jonghyun yang malam nanti akan mengikuti kontes menyanyi. Meski ini bukan kontes pencarian calon artis yang biasa dilakukan oleh pihak manajemen tertentu, mereka sama-sama tahu bahwa sesungguhnya Kim Jonghyun berpotensi menjadi seorang penyanyi. Siapa yang tahu jika bakat Jonghyun itu akan tertangkap oleh salah seorang petinggi perusahaan rekaman dunia. Tidak sedikit bintang K-pop yang pernah menjuarai kontes kecil seperti ini sebelum mereka berhasil lolos ke dalam sebuah agensi.

Harapan dan dorongan semangat membumbung tinggi, membuat Jonghyun tidak bisa mengucapkan kata meski hanya dua untai. Bukan berarti tidak menyukai asa yang dilontarkan kawan-kawannya, tetapi sejak awal ia memang tidak berniat menjadi penyanyi—selain memang ditentang habis oleh orang tuanya.

Jonghyun tidak bisa berhenti tersenyum mendapati dukungan teman-temannya itu, yang sampai berencana membuat barisan suporter nanti malam. Biarlah In Young dan keluarganya mustahil hadir, masih ada kawan yang setia mengiringi perjalanan malam nanti. Oh, tidak, masih ada satu yang kurang.

Park Hana tidak ada. Iya, gadis itu tidak turut serta dalam kerumunan. Jonghyun–sebelum duduk—sempat melihat Hana tengah duduk di tempat favoritnya, mencolokkan earphone pada lubang telinga dan ditemani novel tebal yang judulnya tidak berhasil tertangkap mata Jonghyun.

Apatis memang sudah selayaknya Jonghyun lekatkan pada nama belakang seorang Park Hana. Pria itu cukup kesal karena Hana sama sekali tidak menunjukkan ketertarikannya, paling tidak untuk memberikan dukungan kepada sesama teman. Lagipula, bukankah mantan penggemar seharusnya berada pada barisan terdepan suporter?

Jonghyun meminta izin pada semuanya, untuk hengkang sejenak demi menghampiri Hana di mejanya. Gerah, pasalnya Hana tidak kunjung tertarik untuk bergabung dalam perbincangan sebelum kelas dimulai.

Apa perlu Jonghyun memamerkan suaranya terlebih dahulu, sekarang, di dalam kelas? Barangkali setelah itu Park Hana melirik barang sedetik, meski peluangnya sangat kecil. Suara indah Jonghyun belum tentu bisa menerobos keributan yang timbul dari earphone Hana. Oh, tapi nanti Hana akan mencibirnya plus melesatkan sindiran yang menilai Jonghyun sebagai manusia tukang pamer.

Terlalu banyak memikirkan alternatif memang tidak baik, Jonghyun memutuskan untuk mengenyahkan rencana ini itu. Mungkin bertandang ke bangku Hana saja sudah cukup. Entah apa yang nanti harus diucapkannya agar gadis itu bersedia hadir. Jonghyun tahu dirinya tetap berpeluang menang meski kekurangan satu dukungan dari … ups, musuh abadinya. Namun, seperti ada kepingan puzzle  yang hilang jika malam nanti suara teriakan Hana yang khas dan keras itu harus absen.

Pria itu mulai panik ketika kakinya semakin mendekati bangku Hana, seperti kebakaran separuh helai jenggotnya—meski sebenarnya ia sama sekali tidak memiliki rambut-rambut pendek di area dagu. Merebut novel Hana adalah satu-satunya yang bisa ia lalukan untuk mengalihkan perhatian gadis itu, mulutnya tidak punya rencana untuk mengucapkan kata apapun.

Jelas saja Hana keki keasyikannya diusik, terlebih pria yang baru saja datang itu sudah menampakkan tampang sengaknya yang seolah minta dihadiahi bogem mentah. “Ada apa?” sentak Hana marah. Ia bahkan tidak sudi menatap Jonghyun yang kini sudah menduduki bangku di hadapannya.

“Katanya, kawan itu makhluk paling solider di muka Bumi. Kau, nanti malam tidak ikut menonton kompetisi menyanyiku?” Jonghyun menahan tangan Hana yang hendak merebut buku miliknya tadi.

“Sejak kapan kita berteman? Ehm, heran, bukankah kau yang tidak pernah menganggapku sebagai temanmu?”

Kurang ajar betul kau, Wahai Daya Ingat. Jonghyun harus menyalahkan ingatannya kali ini, dan ia harus meralat opininya tentang Hana. Gadis itu tidak apatis, Jonghyun yang lupa—bahwa mereka tengah bermusuhan sejak pertemuan terakhir kemarin-kemarin. Terlanjur basah, Jonghyun gengsi mengakui ketololannya, enggan mengakui jika pada kesempatan yang lalu dirinyalah yang telah mengusik perasaan Hana, hingga wajarlah sikap yang Hana tampakkan siang ini.

“Aku tidak pernah mengangapmu teman, memang begitu adanya. Karena sejak awal hubungan kita adalah penggemar dan idolanya. Bukankah kau sendiri yang menciptakan kenyataan itu?” Jonghyun tetaplah sama, dengan mulut pedas khasnya ketika berbicara dengan Hana.

Huh, pernah menjadi penggemarmu adalah hal yang paling kusesali dalam hidup,” Hana menimpali kasar. Gadis itu setengah menghempaskan novelnya ke meja, ingin Kim Jonghyun tahu bahwa dirinya sangat benci pada arogansi yang bercokol dalam kepribadian Jonghyun.

Kim Jonghyun mencibir pengakuan gadis di depannya. Benar-benar menjijikkan bagi Jonghyun. Jatuh cinta bukanlah hal yang patut disesali, paling tidak Hana tak perlu mengatakan kalimatnya barusan di hadapan Jonghyun.

Sensitivitas yang tinggi tetap mengalir dalam darah Jonghyun, menyelipkan ketersinggungan berkadar tinggi pada aliran darah yang hinggap di otak. Membuat organ pengendali gerak manusia itu mengirimkan desakan impuls pada lidah Jonghyun untuk melampiaskan apa yang terbesit di jiwa.

“Hebat. Mulutmu memang harimau terganas yang pernah kutahu, dan aku adalah tupai yang baru saja termangsa olehmu. Terima kasih untuk kejujurannya. Baiklah, tidak masalah kalaupun kau tidak datang. Memangnya kau siapa, jadi pacarku pun tidak akan pernah.”

Jonghyun melengos, meninggalkan Hana dengan segunung rasa keki—plus sebersit hampa yang tidak ingin ia akui keeksistensiannya. Jonghyun malu pada dirinya sendiri, malu mengakui bahwa dirinya memang meinginkan Park Hana datang nanti malam, memberikan sorakan, meneriakkan namanya, atau sekadar mempertemukan kedua telapak tangan—bertepuk riuh di akhir lagu.

Dasar Jonghyun, pria yang usianya begitu menipu. Hana yakin, Jonghyun masuk bangku sekolah dasar ketika masih balita. Pasalnya, di usianya yang sudah kepala dua dan menyandang status mahasiswa seperti sekarang, tingkah Jonghyun tidak ubahnya remaja labil berumur belasan tahun.

 “Cih, siapa juga yang sudi jadi pacarmu,” dengus Hana samar-samar, untung tidak tertangkap pendengaran Jonghyun.

Perang hari itu usai sejenak. Park Hana tidak mau terlalu memasukkan ini ke hati. Ia terlalu kebal diperlakukan seperti itu oleh Jonghyun, marah hanya akan membuat jantungnya tidak sehat dan kepalanya dilanda migrain dua hari dua malam. Hana pun masih tidak ingin imajinasinya bersama tokoh-tokoh dalam novel bacaannya buyar begitu saja karena Jonghyun. Paling tidak, memikirkan bagaimana  Selina—tokoh utamanya—akan bertemu sahabat lamanya yang baru pulang dari perantauan, adalah sebuah hal yang paling menyenangkan sepanjang ia membaca buku ini. Iya, Selina adalah cerminan dirinya yang sejak lama merindukan Key.

***

Siang hari seusai menunaikan satu tugasnya, Jinki memilih menghilang dari kantornya. Masa bodoh esok dirinya akan dikenai sanksi karena menghilang tanpa izin, baginya tidak ada yang lebih penting dari ini.

Mobilnya di basement buru-buru ia jalankan. Duduk di balik kemudi adalah satu-satunya hal yang Jinki prioritaskan. Tidak peduli perutnya keroncongan ataupun kerongkongannya mengering karena menahan haus tiga jam lamanya, Jinki hanya memilih mencabut selembar tisu dari kotak bersarungkan Shaun The Sheep di dashboard mobilnya. Paling tidak butiran keringat itu tak menodai kulitnya yang sejak tadi pagi terasa semakin memanas.

Ji Hyo, kemana perginya dia?

Satu pertanyaan itu yang sejak tadi menggerayangi pikirannya. Otaknya terus merinci semua kemungkinan yang ada. Mendaftar satu per satu rumah sahabat Jihyo, café yang sering dikunjunginya, hingga perpustakaan yang sering dijadikan tempat mendinginkan pikiran oleh yeoja itu. Ah, rasanya mustahil Ji Hyo memilih tempat-tempat itu, karena sudah pasti dapat ditemukan oleh ibunya, dengan mudah.

Seingat Jinki, Ji Hyo bukanlah yeoja yang memiliki hubungan tak harmonis dengan orang tuanya. Kalau masalah yang dialaminya itu tidak begitu berat, sudah pasti ia akan memilih pergi ke rumah ibunya—bercerita ini itu pada wanita paruh baya yang selama ini sering menampung keluh kesah Ji Hyo.

Berarti benar adanya, Ji Hyo kabur karena ia memang tidak bisa lagi bersembunyi di rumah orang tuanya. Separah itukah masalahnya dengan sang suami? Sosok suaminya itu, apa benar sejahat yang dideskripsikan oleh ibu Ji Hyo itu?

Keberadaan Ji Hyo tak terendus oleh keluarganya, berarti ia memang pergi ke tempat yang tidak akan terpikirkan oleh siapapun. Otak Jinki terus berputar. Dalam opininya, dengan perut yang sedang terisi janin itu, Ji Hyo tidak akan pernah memilih tinggal di sembarang tempat. Lee Jinki juga tahu, bahwa Ji Hyo bukanlah yeoja yang bisa singgah di tempat yang benar-benar baru. Berarti, ada satu tempat yang mungkin pernah Jinki tahu. Sayangnya Jinki tidak bisa menebak itu sekarang.

Jinki terus mengemudikan mobilnya melewati Songpa-gu. Wilayah ini tidak memiliki sangkut paut dengan Ji Hyo, Jinki rasa ia belum perlu menghentikan mobilnya.

Tembang kenangannya tiba-tiba terlantun dari ponsel. Itu adalah lagu legendaris milik DBSK yang sempat Jinki gandrungi dulu, meski ia bukanlah fanboy dari grup tersebut. Ah, pria itu buru-buru menyingkirkan sejenak ingatannya tentang lagu bersejarah itu, ia harus mengangkat panggilan telepon dari Heera terlebih dahulu.

“Aku sedang tidak di kantor, maafkan aku karena tidak bisa mencicipi bekal makan siang yang sudah susah-susah kau siapkan, Heera-ya,” balasnya setelah mendengarkan penuturan Heera.

Yeoja itu memang kerap kali singgah ke kantor Jinki, membawakan aneka hidangan yang bisa mengenyangkan perut Jinki hanya dengan menghirup aromanya. Hari ini, Heera kembali melakukan kebiasaannya, menelepon dan tiba-tiba mengatakan ia sudah ada di depan kantor Jinki.

Jinki dilema saat Heera mengatakan bersedia menunggunya, masalahnya siang ini ia tidak akan kembali ke kantor. Terlebih saat gadis itu mendesak untuk meninggalkan bekal makanannya di meja Jinki saja, pria itu butuh waktu untuk memberikan jawaban yang tidak menyinggung maupun memancing kecurigaan Heera.

Eummm, baiklah. Simpan saja di mejaku, kujamin habis!” Jinki memaksakan tawanya. Iya, dijamin habis, oleh rekan-rekan kantornya. Bagaimanapun Jinki tahu Heera membuatkan hidangan itu dengan sepenuh hati. Yeoja itu pasti kecewa jika harus membawa pulang kotak makanannya.

Sambungan terputus dan kini otak Jinki teralih pada lagu yang menjadi nada dering ponselnya. Judulnya Bolero, berbahasa Jepang dan memiliki melodi yang selalu bisa membuatnya terhanyut.

Bolero adalah penghubungnya dengan Heera dalam perjumpaannya yang kedua dengan gadis itu. Bolero juga merupakan lagu favorit Ji Hyo. Kedua yeoja yang berarti dalam hidup Jinki itu pun dipertemukan oleh satu kesamaan yang sama. Cassiopeia—nama kerajaan yang menaungi penggemar DBSK.

Jinki ingat betul, malam itu ia habis menemani Ji Hyo menonton konser Dong Bang Shin Ki. Malam itu pula pertama kalinya ia bertemu Heera. Pertemuan yang ternyata berlanjut dua setengah bulan kemudian, tepat ketika Ji Hyo meninggalkan Jinki tanpa memberi tanda lebih dulu.

Tahun 2009 hari kedua puluh dalam bulan Februari, Kim Heera tengah berdiri di tepi jalan sekitar Seoul Olimpic Gymnastic Stadium satu jam setelah Asian Tour Mirotic usai. Biasanya, jarang ada fangirl yang menonton konser tanpa teman-temannya, tetapi Heera memiliki kisah berbeda. Gadis itu tidak punya teman yang sama-sama menggandrungi DBSK. Alhasil ia harus rela pergi seorang diri dan terlunta ketika mencari taksi untuk pulang.

Saat itu Ji Hyo yang meminta Jinki untuk menyetop mobil. Gadis itu turun dan menghampiri Heera, kemudian kembali dengan membawa kawan barunya itu. Kata Ji Hyo, sesama Cassiopeia sudah seharusnya saling membantu. Malam itu Jinki hanya bisa dibuat berdecak karena kedua gadis di mobilnya begitu meributkan penampilan lima pangeran pujaan mereka, terlebih keduanya sama-sama mengagumi Xiah Junsu dibandingkan dengan member lainnya.

Solidaritas antar penggemar memang tidak bisa terelakkan, apalagi di kalangan Cassiopeia—fandom yang mampu menembus buku rekor dunia karena jumlahnya yang memukau. Ji Hyo yang tidak pernah bertemu Heera sebelumnya, tanpa ragu mengajak gadis itu ke dalam mobil Jinki dan memohon pada Jinki agar bersedia mengantarkan minimal sampai ujung jalan rumah Heera.

Ah, Cassiopeia. Jinki terpikirkan seseorang, tentang kawan lama Ji Hyo bernama Eun So. Jinki ingat, beberapa kali Ji Hyo memintanya mengantarkan gadis itu untuk bertandang ke rumah Eun So, dengan tujuan bertukar merchandise ataupun softcopy koleksi foto DBSK.

Bingo!  Bukan tidak mungkin Ji Hyo memilih rumah Eun So sebagai destinasi di ujung pelariannya. Jinki segera berbelok, melajukan mobilnya ke arah Seokchon-dong. Barangkali benar adanya, Cassiopeia bisa menjadi titik temu bagi dua kawan lama.

***

Sore selalu menjadi waktu berbincang yang tepat bagi keduanya. Sepoi angin kiranya dapat membuat kepala mereka sama-sama dingin, plus jernih. Terlebih, hari hampir usai dan semua kepenatan akan aktivitas harian mulai mereda.

Hari itu keduanya sama-sama belum pulih, berjalan pun tidak secepat dan setegap biasanya. Namun, rumah bukanlah titik yang tepat untuk berbincang. Park Ha In tidak ingin keluarganya mendengarkan apa yang akan dibicarakannya dengan Yoochun sore ini.

Restoran sederhana di ujung jalan raya bukanlah pilihan yang buruk, sembari mencicipi bubur hangat pelipur sengsara cacing-cacing di perut. Rasanya pahit, iya, lidah keduanya sama-sama sedang tidak bisa menerka rasa dengan baik, pun sedang tidak bisa berkata-kata dengan ringannya.

Konversasi sore belum dimulai, keduanya masih mengatupkan mulut. Park Ha In masih tidak tahu harus mulai dari mana, padahal siang tadi ia telah merencanakan alur pembicaraannya. Dasar otak, tidak sepenuhnya bisa memahami keinginan hati. Pelupa memang julukan yang lazim ditujukan bagi orang yang terlalu kaget menerima keadaan.

Park Yoochun, pria itu masih merapatkan tangannya di tengah badan, ia merasakan pendingin ruangan begitu jahat sore ini, sama sekali tidak mengasihani demamnya yang kembali melanda pukul 3 tadi. Ia pun masih tidak tahu seperti apa bentuk percakapan yang akan Ha In usung, meski ia sudah bisa menebak ide pokoknya.

“Permisi, ini pesanan Anda, selamat menikmati hidangan kami.” Salah seorang pelayan memecah keheningan dengan mengangsurkan dua mangkuk Jeonbokjuk—bubur khas pulau Jeju yang belakangan mulai ditawarkan oleh restoran ini.

Keduanya hanya sama-sama mengangguk dan membiarkan pelayan tadi menghilang tak lama kemudian. Yoochun berbeda dengan Ha In, ia menyuap sendok pertamanya tanpa basa-basi. Sementara Ha In mendadak sedikit kesal karena Yoochun tidak membuka pembicaraan seperti biasanya. Ia hanya bisa menunggu sambil mengaduk-ngaduk bubur miliknya.

“Makanlah, bubur ini sangat baik untuk orang yang sedang sakit dan dalam masa pemulihan.” Akhirnya Yoochun angkat bicara setelah suapan ketiganya.

“Aku tidak sakit, Oppa!” jawaban Ha In begitu meletup-letup. Jatuh sakit hari ini adalah hal yang wajib dirutukinya. Sakit membuat ia harus berada di rumah dan bertemu tante-tante lancang yang berani bertamu ke kamar Yoochun—plus membuat Ha In diganjar malu karena prediksinya yang terlalu berlebihan. Ha In benci harus mengakui bahwa dirinya sakit.

“Aku tahu, kau hanya lemas karena semalam, ‘kan?” Yoochun tersenyum tipis. Ekspresi cemberut gadis di depannya ini selalu menggelitik bibirnya untuk menyunggingkan senyum.

“Iya, diperparah lagi olehmu. Kau menyebalkan, Oppa!”

“Apa yang menyebalkan dariku? Aku hanya bermain catur, kau yang berpikir terlalu banyak, Park Ha In.”

Salahkan prasangka yang terlalu ingin meraja. Ha In tahu dirinya telah bertingkah konyol tadi pagi, tetapi ia masih meyakini satu hal. Bahwa Yoochun bukanlah pria setia yang menyerahkan hatinya untuk satu yeoja bernama Yuki. Park Yoochun juga bukan ayah yang jujur bagi kedua buah hatinya. Ha In tahu, suatu hal pasti telah menautkan Yoochun dengan wanita bernama Song Haneul itu. Paling tidak, seorang wanita—sekalipun dia atasan Yoochun—tidak akan selancar tadi meminta izin untuk memasuki kamar Yoochun. Kenapa tidak meminta Yoochun dipapah ke ruang terbuka saja?

Oppa, kenapa kau lakukan itu?”

“Apa?”

“Berpindah lintasan elektron. Jangan pura-pura tidak tahu maksudku.”

Yoochun meremas tepian bawah sweater rajut pelindung tubuhnya. Ternyata Park Ha In tidak sebodoh yang ia kira. Ha In tetaplah gadis yang telah beranjak dewasa dan mempunyai mata elang dalam hal menerka hubungan dua insan.

“Elektron menyerap ataupun melepaskan energi guna mendapatkan kestabilan. Butuh itu relatif, terkadang harus melepas atau meraih.”

“Jangan bermain ungkapan konotatif denganku, Oppa. Otakku sedang kusut.”

Yoochun tidak tertunduk, karena ia memang tidak takut membeberkan ini. Ia hanya … benci menjelaskan ini. Karena ini, mengingatkannya pada suatu kelemahan diri—sebagai suami, dan sebagai ayah dari dua anaknya.

“Ha In-ah. Selagi kau muda, belajarlah dengan benar. Tuntaskan pendidikanmu dengan baik, kau tidak akan terlunta di masa depanmu.” Pria itu meletakkan sendoknya di atas mangkuk. Memasukkan makanan tatkala membicarakan hal menyakitkan bukanlah ide baik. Tersedak dan merasakan dada sesak bisa jadi memperparah kondisi tubuh yang sedang tidak menentu ini.

“Dulu aku selalu bermain-main selama masa mudaku. Klub malam, aneka jenis liquor penghuni rak bar, permainan berbau taruhan sejenis mahjong, atau bahkan rental playstation  adalah sahabatku, tempatku berlabuh. Aku sering bolos sekolah dan lebih memilih bertandang ke salah satu markasku. Bahkan, aku pernah berkunjung ke salah satu rumah bordil. Tidak sungguhan bermain dengan wanita di sana, hanya bersenang-senang melalui bibir. Kalau kau tahu, Yuki adalah salah satu gadis yang pernah aku sambangi di tempat itu.”

“Gadis itu adalah korban ketidakberdayaan orang tuanya dalam menghadapi belitan hutang. Ia dibawa pergi oleh sang lintah darat ke pulau Jeju. Ia tidak tahan dan lantas kabur ke Seoul, terlunta di kota ini. Aku bertemu dengannya suatu malam saat aku bermaksud menghibur diri dari amukan orang tuaku. Begitu aku hendak meraba bibirnya, ia terisak dan langsung berlutut di hadapanku.”

Saliva menggunduk di bawah lidah Ha In, ia terlalu terkejut untuk menelannya. Sungguh ia sama sekali tidak pernah menyangka bahwa pria yang dicintainya ini memiliki masa lalu yang begitu kelam. Jemarinya ia tarik ke bawah meja, tentu Yoochun tidak boleh melihat getaran halusnya.

“Kau tidak mencercaku, Ha In-ah?” Yoochun memeluk tubuhnya sendiri yang kian tidak menentu rasa.

“Tidak ada yang perlu kucerca selain perselingkuhanmu, Oppa.” Ha In menjawab serba salah. Ia bukanlah Heera yang lebih terbuka mengungkapkan isi hati, juga bukan Hana yang cenderung menggebu ketika mengungkapkan ketidaknyamanannya. Yoochun muda serupa dengan Yoochun yang sekarang, semi bedebah, semi malaikat. Bermain di rumah bordir memang tercela, tetapi bukankah mulia karena pria itu bersedia menyelamatkan salah satunya? Paling tidak, tidak melanjutkan serangannya malam itu ketika Yuki memohon.

“Aku bukan siapa-siapamu juga, apalah hakku mencacimu, Oppa.”

“Kau berhak mencercaku, untuk hal apapun.”

“Lebih baik aku mengajukan pertanyaan. Jadi, kau memang menikahi Yuki bukan karena cinta? Dan justru Nyonya Haneul adalah tempatmu mendaratkan hati?”

“Bukan.”

Hening berangsur terjadi kembali. Ha In mulai membuat lagi sebuah dugaan, mengaitkan tentang filosofi elektron yang Yoochun utarakan sebelumnya, masa muda yang kelam berbuah pada kesulitan di masa mendatang, teori yang mengatakan bahwa butuh itu sebuah kerelatifan, ada yang perlu dilepas dan diraih. Oh, apa mungkin dugaan Ha In kali ini tidak lagi berlandaskan firasat?

Oppa, kau memanfaatkan harta Nyonya Haneul demi menghidupi orang yang kau cintai?”

“Tepat separuhnya. Bukan memanfaatkan sepenuhnya. Nyonya Haneul memberiku pekerjaan dengan penghasilan mapan. Kalau kau tahu, aku bahkan tidak menamatkan pendidikan sekolah menengahku. Tidak ada perusahaan yang mau menerima karyawan sepertiku. Satu-satunya yang bisa kulakukan hanyalah berjualan. Nyonya Haneul memfasilitasi aku sebuah toko yang telah sukses ia kembangkan sebelumnya, aku tinggal melanjutkan.”

Ha In tidak bisa lagi membiarkan salah satu dari otak atau hatinya mendominasi. Hatinya berbisik, apa yang Yoochun lakukan sungguh sebuah kejahatan tersamar. Namun otaknya begitu menggebu meneriakkan, bahwa apa yang diperbuat pria itu merupakan suatu kelaziman. Manusia manapun butuh uang dan sumber penghidupan, apapun dilakukan, mengadopsi sebuah petuah lumrah: rejeki harus dikejar. Dan cara Yoochun mengerjarnya itu tidak terlalu lagi tabu pada abad penuh kegilaan ini.

Sinkronisasi harus terealisasi, Ha In harus berhati-hari mementahkan kata selanjutnya. Ia tidak ingin berkata pada Yoochun, ‘Oppa, tidak apa-apa, yang kau lakukan tidak juga bisa dicap salah’, juga rasanya tidak sanggup mementahkan gejolak emosi jiwa yang sedari tadi ingin berseloroh lantang, ‘Oppa, kau adalah pria paling brengsek, teganya menduakan cinta istrimu’. Mungkin masih ada kalimat standar yang bisa Ha In lontarkan, yang bisa menguliki puing masa lalu Yoochun tanpa menunjukkan keberpihakan.

Ha In termanggu sejenak sampai ia terpikirkan, “Lalu kemana orang tuamu sampai membiarkan hidupmu terlunta?”

Yoochun mengetukkan sendoknya pada tepian mangkuk keramik. Ting, ting, pelan tetapi mampu merangsang otaknya untuk tetap menegakkan kesadaran penuh. Rasanya, berbincang seperti ini di kala tubuh tak bersahabat itu tak ubahnya dengan menenggelamkan diri pada tumpukan limbah—perlahan bisa mati teracun.

Yoochun berdeham memecah hening usai dentingan sendok-mangkuk terhenti. “Aku diusir semenjak memutuskan menikahi Yuki. Orang tuaku terlanjur malu. Anaknya yang badung menikahi seorang pelacur. Pastilah tetangga mengira aku telah menghamili gadis itu lebih dulu, padahal tidak sama sekali.”

Jeda sejenak, kemudian diakhiri dengan dentingan di tepi mangkuk keramik lagi—kali ini berasal dari Ha In. Ha In baru saja mengetukkan kepala sendoknya beberapa kali. Sepertinya gadis itu mulai sepemahaman dengan Yoochun dalam satu hal, suara ini lebih baik daripada sepi yang gencar menguarkan aroma canggungnya.

Ha In akhirnya menanggapi, “Huffft … tapi aku sedikit lega, karena ternyata kau masih punya cinta untuk Yuki.”

“Tidak juga.”

“Maksudmu?”

Yoochun berhenti menanggapi. Kepalanya terasa makin pening setelah menceritakan kilas balik perjalanan hidupnya, terlebih harus menjawab pertanyaan Ha In barusan.

Cinta itu memang pernah ada untuk Yuki, dan memang masih ada hingga detik ini. Namun, istilah ‘masih’ berarti tidak sepenuhnya sempurna. Ada bagian-bagian yang telah lenyap, terlepas dari inangnya, lantas tertiup angin hingga mendarat pada landasan yang lain. Hanya saja, Yoochun tak yakin dirinya tidak terdampar pada sudut yang gelap. Yoochun pun tidak tahu apakah cahaya di depan sana adalah penuntun jalan yang akan membawa dirinya menuju tempat peristirahatan hati.

Pria itu membuang sisa karbon dioksidanya dengan kasar, memecah senyap yang kembali terulang menyelip dalam momen. Ditenggaknya segelas air putih di samping tangan, berharap dapat mengusir ganjalan di tenggorokannya hingga ia bisa melanjutkan kata yang tertahan.

“Park Ha In, berhenti mengagumiku. Aku bukan pria yang baik untuk gadis lugu sepertimu.” Serak adalah perlambang kegetiran hati Yoochun. Iya, Yoochun jelas tahu gadis di hadapannya ini sudah lama menjadi penggemar rahasianya. Yoochun sama sekali tidak merasa risih, hanya saja ia begitu seram membayangkan masa depan.

Apa ada kata yang bisa Ha In ucapkan detik ini? Nihil. Kamus kata-katanya mungkin tengah dicuri rampok berambut pirang yang tidak tahu kalimat yang tepat untuk sekadar menanyakan alamat persinggahan dalam bahasa Korea. Hanya debaran jantung yang mampu berontak di dalam raga Ha In.

Percakapannya dengan Yoochun kali ini lompat-lompat, tetapi jalinan keseluruhannya sungguh memiliki makna menohok.  Migrainnya kembali terasa, sebelah kepalanya yang tidak sakit bahkan kini melunjak—ia seakan menghilang tanpa pamit. Pastilah sisi kanan yang baru saja lenyap itu, pasalnya Ha In tidak lagi punya daya untuk mengkreasikan jalinan kata. Semuanya hanya bisa diwakilkan oleh hantaran suhu panas yang kini dirasakan oleh matanya.

“Ha In-ah, kau perlu tahu. Aku bukan menolakmu dengan kasar, bukan pula tidak mengizinkanmu untuk sekadar mendaratkan hatimu pada sosokku. Ha In-ah, aku takut sebaliknya. Aku takut, diriku terdampar pada landasan yang rapuh, seorang gadis yang tak tahu menahu banyak tentang kebebalan pria. Aku takut tubuhku retak nantinya, tetapi aku lebih takut lagi landasan itu yang akan terhancurkan dan terpenjara dalam kepingan-kepingan perih.”

“O-oppa…,” pilu menyalip dalam suara Ha In. Kali ini, ia paham betul maksud tersembunyi dari perumpamaan yang Yoochun sampaikan.

Baru saja ia tahu, bahwa cintanya mungkin tidak bertepuk sebelah tangan. Namun, naas mengiringi kebahagiaan sesaatnya itu, kemudian mendominasi hati karena di saat yang sama Ha In tahu bahwa cintanya adalah sebuah kemustahilan.

Sampai kapanpun, cinta hanyalah sebuah nama yang tidak akan pernah berbentuk. Hanya wacana pemicu sakit tak terkira.

***

Sesungguhnya ‘Zero’ dalam persepsi Key tidaklah sama dengan yang Ken maksudkan. Zero bagi Key, merepresentasikan sebuah kekosongan yang terus mengajaknya bergulat hingga detik ini. Kalau bisa dideskripsikan, ini serupa dengan sekumpulan manusia malang yang sering merasa sepi di tengah hiruk- pikuk. Tak wajar namun terus terjadi berulang kali.

Dan naasnya, semua jenis keheningan tak terdefinisi itu benar-benar tengah memuncak di dalam diri Key saat ini. Meski mata berlensa abunya tampak menantang gerombolan yang baru saja datang itu, faktanya Key masih berjuang menantang nyali ciutnya sendiri.

Kalau saja makhluk sejenis Naruto itu sungguhan ada, Key ingin menjadi sepertinya. Key berharap di dalam dirinya memang ada sosok siluman, terserah berekor sembilan seperti kepunyaan Naruto, ataupun hanya berekor tunggal seperti kucing peliharaan di rumahnya. Yang jelas ia perlu menjelma menjadi apapun, asalkan bukan lagi terjebak dalam tubuh Key yang pengecut.

Sayangnya, Key hanyalah Key seperti lazimnya. Manusia yang nyaris selalu gentar setiap kali dirinya harus membayangkan kematian. Iya, Key tidak yakin jika esok dirinya masih bisa menghirup udara Bumi. Mati satu-satunya kemungkinan yang peluang kejadiannya mendekati angka satu, nyaris mutlak.

Key sadar, dirinya masih jauh dari kata ‘mampu’ dalam urusan kecepatan. Hampir mustahil dirinya akan menang bersaing dengan Kira. Dan Key lebih menyadari satu hal lagi, bahwa dirinya kelewat bodoh karena berani menerima tantangan ini. Dipikirnya dulu, balap motor sama dengan balapan sepeda yang biasa dilakoninya bersama tetangga rumah sewaktu ia masih menjadi siswa sekolah dasar. Key hanya berpikir tentang ajang pembuktian diri, tanpa pernah berpikir bahwa dirinya justru akan dipermalukan telak. Key menyesali mulut lancangnya yang sok berani, tetapi ia pun enggan ingkar janji.

Paling tidak, ia telah melakukan dua usaha. Mencoba larut dalam arena balap—seperti yang dilakukannya kemarin malam—meskipun gagal telak. Dan, satu hal ini.

Malam ini Key tunduk pada titah Nara. Pria itu mengenakan syal hitam di kepalanya, diikatnya erat hingga rambutnya yang mulai gondrong itu tertahan di balik helaian kain pemberian Nara tersebut. Kaos hitam panjang plus jaket jeans abu yang sudah tampak buluk termakan detergen pun membalut tubuh Key. Satu-satunya yang Key harapkan hanya satu, rencana Nara berjalan mulus sesuai rencana.

Key biasanya tak ingin berlaku curang, tapi kali ini tidak. Key tidak ingin dirinya mati hina. Key masih ingin percaya, bahwa prinsip orang statistika itu memang benar adanya: selalu ada galat dalam berbagai peristiwa. Key berharap, galat itu menyembul keluar, di antara cemoohan yang menghakiminya bahwa ia akan kalah kelak malam itu.

Wow, apa ini pertandingan besar? Kenapa kau membawa banyak sekali pengikutmu?” Itu Max, pria jangkung kawan Key yang berinisiatif menjalin percakapan dengan pihak lawan.

“Pertandingan level apapun selalu penting bagi kami. Terlebih, ini akan menjadi pertandingan teraneh sepanjang masa. Aku ingin tahu seperti apa gerak kura-kura bernama Key itu.”

“Kenapa kau yakin sekali bahwa Key layak dijuluki kura-kura?” Max tak ingin kalah, sayangnya Ken buru-buru menyuruhnya mundur—digantikan oleh sang leader tersebut.

“Kura-kura memang lamban, tapi pernahkah kau dibacakan fabel tentang adu balap kura-kura dan kancil sewaktu kau kecil?” Ken angkat bicara, nadanya yang penuh ketenangan justru menyulut emosi Mir—ketua dari komplotan lawan.

Cih, apa mungkin orang-orang seperti kita pernah merasakan manisnya fabel sebelum tidur? Kurasa kau pun tidak pernah. Tetapi tidak usah khawatir, aku tahu kisah itu. Kurasa hal-hal semacam itu tak ada di dunia nyata, kecuali Key memang menggunakan siasat cerdik ala kura-kura.”

Glek.

Kasihan Key. Gentar semakin menjarah hatinya, menggoreskan cemas yang menjadikan debaran jantungnya semakin kencang tak menentu. Konversasi pendahuluan barusan semakin memojokkannya, memperbesar potensi ia akan meninggalkan dunia ini dengan image buruk.

Pria itu memutuskan mengenakan helm-nya. Gelap, tak ada yang bisa melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi pada diri Key di balik balutan pelindung kepala itu. Tak ada yang tahu bahwa Key tengah memejamkan matanya khidmad, barangkali Tuhan mau mendengarkan satu doanya—meski Key tidak yakin Tuhan akan berbaik hati pada manusia seperti dirinya.

Tuhan, aku hanya ingin hidup lebih lama. Selamatkan aku, meski melalui cara termustahil sekalipun.

Untaian doa yang mungkin terlambat Key panjatkan. Bibir Key bergetar membayangkan lintasan yang belum tentu bersih dari kendaraan. Pria itu ingin menghempaskan air mata yang mulai bertengger di sudut matanya, namun kepalan tangannya segera berusaha meraih beban yang dipendam sang mata. Kepalan itu kian menguat, merampas habis semua ketakukan dan mengonversinya menjadi letupan keberanian—yang sayangnya menghilang tiga detik kemudian. Key terus mencobanya berulang, berharap energi berikutnya jauh lebih kekal dan tidak mudah luntur. Sayangnya, gagal.

Pria itu bertambah kalah oleh imajinasinya sendiri. Lututnya sudah melemah, bergerak samar melampiaskan gelisah, dan entah berapa kali frekuensi getarannya jika dihitung dengan rumus-rumus ala Fisika—itupun jika memang wujud getaran tersebut tak kasat mata.

Key terlalu tenggelam dalam pikirannya sendiri. Dan pria itu menjadi tersentak ketika tiba-tiba saja Ken berseru, “Ya! Jangan terlalu meninggi, Bung. Key memang pemula, tapi ia bukanlah kura-kura licik penghias buku anak-anak itu. Aku yakin, Key tidak seperti yang kau tuduhkan. Justru, aku yang curiga. Selama ini, tidak ada yang pernah tahu seperti apa sosok Kira. Mana tahu dia sebenarnya bukan Kira, melainkan digantikan oleh pemain jagoan yang kau-rekrut-entah-di mana.”

Wah, jangan semena-mena menuduhku. Aku tidak akan bertindak curang seperti itu,” sanggah Kira sebelum Mir sempat menimpali Ken. Yeoja itu paling tidak suka dengan ucapan Ken yang sedari dulu hobi mendiskriminasikan seorang wanita—terkecuali kawannya sendiri, Nara.

“Kau bisa memberiku bukti? Kami bahkan tidak yakin jika yang berbicara di depan kami adalah Kira yang biasanya. Dan kalaupun kau sungguhan Kira, bisa saja di tengah jalan ada seseorang yang menggantikanmu.” Ken terkekeh separuh menyindir.

Hei, sialan sekali tuduhanmu!” Emosi Mir terpancing. Langkahnya serentak maju bersamaan dengan tangannya yang mencengkram kerah jaket Ken.

Gerak kaki yang lain menyusul, sebagian siaga untuk mengarahkan tinju pada Ken maupun Mir, sebagian lagi berusaha meredam panas yang membara di tengah arena. Wanita semi jalang pemandu sorak di tepian pun merapat ke tengah, turut mengambil bagian dalam kericuhan, sekedar menunjukkan keeksistensian mereka di hadapan pria-pria keren yang tengah berseteru.

Key tetap mematung di tempatnya. Apa jadinya jika Ken tahu bahwa rekannya memang menjelma menjadi kura-kura cerdik nan licik? Key tahu nasibnya sedang bergelayutan di mulut jurang dengan hanya berpengangan pada sepucuk ranting terbelah delapan. Key juga jelas tahu, dirinya telah lebih dulu mendorong Ken ke dalam jurang, sebelum ia sendiri yang terjun bebas dalam ujung menganga nan menyeramkan itu. Keringat dinginnya semakin deras berjatuhan, pundaknya terasa semakin berat untuk bisa ditegakkan.

“Kurang ajar, kau! Berani mencekik kerahku, huh? Kau tidak ingat dulu kau pernah kalah adu tinju denganku di atas ring? Kau ingin bibirmu kusobek lagi? Atau lain kali aku akan menyasar matamu saja, sekalian kau buta!” Dasar Mir, pria reaktif yang sikapnya tidak berbeda dengan kobaran api ketika terguyur bensin.

Ken tidak menanggapi dengan kata, pria itu justru menaikkan satu ujung bibirnya. Baginya, Mir hanyalah seorang bocah arogan yang terlalu berbangga diri menyombongkan satu kemenangan di antara seribu kekalahan. Ken menghempaskan tangan Mir dan beranjak mendekati Kira. “Aku tidak percaya, tidak ada bukti, berarti tidak meyakinkan.”

“Key, kemari!” titah Ken kemudian, yang diikuti dengan langkah lambat dari orang yang baru saja disebutnya itu. “Key, buka helm-mu!”

Keberuntungan semakin menjauhi Key sepertinya, wajahnya mungkin berhasil terabadikan sempurna dalam memori lawan. Pria itu merasa tidak ada lagi harapan malam ini. Ia pun terpaksa membuka helm-nya. Untunglah ini malam, wajah pucatnya mungkin masih bisa disembunyikan oleh kegelapan. Kawanan di depannya tidak sampai menertawakannya, hanya melesatkan cibiran terbungkus senyum.

“Lihat, dia sungguhan Key. Sekarang, buka helm-mu, Kira-sshi!”

Kira tak bereaksi sampai Ken menaikkan kaca penutup helm-nya dengan kasar. Gadis itu terperanjat karena Ken begitu lancang bersikap. Ia buru-buru menepis tangan Ken sesaat setelah kacanya terbuka dan terpaksa mengizinkan cahaya bulan mengekspos matanya.

Key terkesiap dengan detik-detik tak terprediksi itu. “Cukup, Ken. Aku bisa mengingat matanya.” Key menginterupsi Ken yang masih berusaha mendesak Kira untuk melepaskan helm gadis itu. “Ken, mata adalah bagian yang tidak akan pernah bisa berbohong, Kira tidak akan bisa berbohong padaku.”

Kira memajukan kakinya dua-tiga langkah hingga berhadapan persis dengan Key. “Terima kasih, Key. Kau memang tidak akan melupakanku, begitu pun aku. Kita harus bermain jujur, setidaknya untuk pertandingan kali ini, deal? Aku juga yakin, kau tidak ingin kalah oleh yeoja.”

Intimidasi terparah yang Key rasakan sejak malam beranjak menggantikan senja. Pelakunya adalah Kira—lewat deretan kalimatnya yang begitu sukses menembus ulu hati.

Key melepas syal penutup kepalanya, membuangnya asal ke aspal jalanan. Helaian kain itu terseret angin, dibiarkan menghilang entah kemana seiring dengan pikiran licik Key yang kian memudar. Persetan Nara akan mengamuk padanya karena dibiarkan menunggu di salah satu persimpangan lintasan sana, Key ingin malam menjadi waktunya—tidak dicampuri dengan niat baik Nara. Tak terelakkan lagi, Key tersulut oleh balasan Kira barusan.

Kalah dari seorang yeoja? Peluangnya memang besar terjadi malam ini, tapi ia baru saja bersumpah. Dirinya boleh kalah, tetapi ia tidak akan pernah mengalah.

Mati malam ini mungkin lebih baik daripada dicaci karena telah menyerupai kura-kura cerdik yang memanfaatkan kawannya untuk unggul dari kancil. Terlebih jika harus menerima hinaan itu dari Kira, Key berjanji ia tidak akan pernah sudi.

To Be Continue

5 thoughts on “Namja – Part 14

  1. Akhirnyaaa keluar juga lanjutannya🙂
    Soal cerita aku bingung mau kritik apa,sejauh ini masih bisa dinikmati tanpa harus mengerutkan dahi.
    Cuma beberapa kata yang penulisannya kurang tepat seperti menyolokkan (harusnya mencolokkan), sensiifitas (harusnya sensitivitas), rumah bordir (harusnya rumah bordil), khikmad (harusnya khidmat)
    Hwaiting untuk part berikutnya, Bib😉

    1. Hahaha, iya nih mi, susah payah akhirnya bisa jadi part 14 utuh jg.
      ceritanya ga aneh mi? aku takut ada yg ga sinkron mengingat jeda antar partnya lama bgd
      Sip sip, udah aku ganti mi, thanks bgd yaaaaaa
      Part 15 segera aku bikin abis sidang
      Gomawo untuk kunjungannya ya, Miii😀

  2. wahhh… akhirnya keluar juga part 14nya.. wahhh…..kayakna dah tambah panas nih.. perumpamaan yg dipakai yoochun ribet amat ya?? tapi paham kok, hehehe… wahhh… kira2 gimana ya nasib key?? menang ga ya?? jadi penasaran ma perjalanan key selanjutnya…
    lanjut ya thor… and sukses ya wat sidangnya..!!!
    fighting!!!😉

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s