Cinta Dalam Kardus

Cinta Dalam Kardus

Title                             : Cinta Dalam Kardus

Author                       : MinKey

Main Cast                 : Lee Jinki  (Jinki SHINee) and Park Minjung (OC/Readers)

Support Cast           : Xi Luhan (EXO), Kim Yura-Yuri (OCs), SHINee’s members, etc.

Genre                          : little sweat romance /?, AU (ofc), little OOC

Lengrt                         : Longggg Oneshot (6.897 words)

Rate                             : Teen

NB                              : Kata yang digaris miring menandakan kata/kosakata asing dan kosakata/kata yang bukan EYD. Mohon maaf jika masih ada typo, salah kosakata di bahasa mandarinnya, atau Bahasa Indonesia yang belum benar karna ke-newbie-annya saya._.v jika ada kesamaan alur cerita mohon maaf karna itu ketidakkesengajaan~ Happy Reading~

***

Minjung POV

“Ayolah….hanya tinggal serahkan box itu padanya.” Aku hanya tersenyum kecil dan berusaha sekeras mungkin untuk menahan dorongan keras dari teman-temanku yang heboh di belakang. Eoh…..Mereka kuat sekali mendorong. Tidak adil! 4 lawan 1….Ditambah lagi aku ini kecil…

Aniyaaaa.”tolakku dengan nada mentah-mentah dan aku langsung membalikkan badan sambil mengumbar senyum andalanku –yang katanya sih, eye smile– membuat 4 temanku itu mendesah.

“Hanya menyerahkannya! Dia juga tidak akan berpikir itu isinya apa saja. Orang-orang juga berfikir itu hanya kardus berisi keperluan untuk pentas seni hari ini.”bujuk Yuri menyenggol bahuku terus.

“Masih ada hari esok, saat pengambilan rapot bukan? Lalu masih ada hari untuk pengambilan ijazah juga. Aku masih punya banyak waktu.”

“Lalu kau masih mau menunggunya? Kalau nanti kuliah kalian tidak bertemu bagaimana?”tanya Yura –kembaran Yuri menepuk nepuk pipiku berkali-kali dan dirinya loncat-loncat terus menerus, mungkin dia….gemas?

“Kalau begitu, ya tidak jodoh. Mudah bukan?”Keempat temanku menepuk dahi mereka serempak. Ah? Aku benar bukan? Kalau tidak bertemu lagi ya artinya pertemuan sebelumnya hanya kebetulan belakang…Eomma juga bilang, anak perempuan jangan mengejar anak laki-laki nanti juga datang sendiri._. Aku benar kan? Ah sudahlah, aku tidak peduli, lebih baik menatap seseorang yang sedaritadi mereka –atau kami mungkin- bicarakan, Lee Jinki.

Dia terlihat bersinar serta berkilau saat tertepa sinar matahari yang menyengat, terlihat ‘lucu’ saat mengelap pelu di keningnya, dan terlihat imut saat dia mengumbar senyum saat berhasil mengangkat semua barang –yang seharusnya bukan dia yang mengangkutnya. Ah…Kenapa sebegitu detailnya aku menggambarkan keadaannya saat ini? Aigo aigo aigo, aku kenapa ./////.

Aku….bingung kenapa bisa sebegitu menyukainya padahal Jinki tidak setampan Kim Jonghyun, murid kebanggan guru musik. Tidak seimut Lee Taemin –dance machine sekolah- dan Kim Kibum –diva dan fashionista sekolah-. Tidak juga sekharismatik Choi Minho, si model sekolah tapi (lagi)….Kenapa ya….Aku tidak bisa menjawabnya jika ditanya teman-temanku soal “Masih ada yang lebih baik dari Lee Jinki, tapi kenapa kamu dari dulu sampai sekarang tetap menyukainya?”

Apa karna dia seorang Ketua OSIS? Kurasa tidak…Kalau dia Ketua OSIS kenapa….Apa itu terpengaruh? Tidak tidak tidak. Apa karna dia pelawak gagal? Mungkin juga….Aku sering tertawa dari jauh saat melihat dia melucu atau melucu gagal di depan Jonghyun, Kibum, Minho, dan Taemin. Ah….Kepalaku rasanya ingin meledak kalau memikirkan alasannya -3-

Bukankah cinta yang tulus itu mencintai seseorang tanpa mengenal alasan? Kata orang-orang begitu….Kalau kita mencintai seseorang karna alasan –entah dia pintar, tampan, kaya, atau yang lain-, nanti kalau alasan itu hilang dari tubuh orang yang kita cintai bagaimana? Kita bisa-bisa tidak mencintainya lagi._. Memang benar begitu? Ah, molla….Aku belum pernah merasakan apa itu cinta, sekarang sih sudah dengan Jinki…..

“Ehem….Kim Minjung-ssi? Minjung? Annyeong? Kau masih sadar kan?”Rasanya suhu tubuhku meningkat saat mendengar suara lembut khas milik Jinki mengalun di telingaku.

Nde? Ada apa Jinki-ssi?”

“Jangan memanggilku dengan ember-ember ‘-ssi’ begitu. Kita kan sekelas ahahaha.”Jinki tertawa renyah membuat matanya terlihat tenggelam dan saat melihatnya, aku hanya tersenyum kecil.

“Itu, kardus yang kau pegang sedaritadi apa untuk Pentas Seni besok? Keliatan besar sekali, apa berat dan banyak barangnya? Perlu kubantu?”

Ani, ini barang yang baru kuambil dari kelas.”jawabku merasa aneh sendiri dan mulai menghayal kalau misalnya kardus ini langsung diambil Jinki karna dikira untuk Pentas Seni lalu dia membukanya….Aish aish…bukan waktunya menghayal. Nanti kalau pipiku memerah bagaimana…

“Iya? Apa ada barangku?”Jari Jinki baru menyentuh kardus itu tapi aku langsung memeluk kardusnya erat, dalam artian melarang Jinki untuk menyentuhnya meskipun hanya sedikit saja.

“O…oke…Itu barangmu semua? Apa ada barang lain di kelas?” “Ada,sebuah kardus di dekat-”

“Kau belum membukanya bukan?”tanya Jinki memotong ucapanku membuat aku memiringkan sedikit kepalaku karna merasa ganjil.

“Belum, Kibum baru masuk dan meletakkan kardus itu saat beberapa detik aku masuk kelas. Lalu Kibum­ pergi saat aku mengambil barangku. Kibum juga pergi dengan seringai anehnya, apa yang terjadi dengan orang itu.”

“Kibum ceroboh.”desis Jinki membuatku bingung.

“Terimakasih sudah memberitaukanku.”Jinki menepuk bahuku dua kali lalu dia berlari menaiki tangga –menuju ke lantai 2, lantai kelas 3-1.

“Bagaimana?”Aku menoleh dan melihat empat temanku berjalan mendekatiku.

“Jadi kalian tadi menjauh saat ada Jinki?”

“Tentu saja, kami sibuk berbicara denganmu kamu malah melamun!”Aku tersenyum geli lalu menyatukan kedua tanganku layak kebanyakan orang berdoa.

“Mianhae….Aku tidak sadar….Salahkan mataku tidak bisa dijaga….dan salahkan dirinya kenapa dia terlihat menyilaukan terterpa sinar matahari…”

“Kau mulai lagi.”Chanhee mencubit lenganku membuat aku meringis pelan.

“Ok ok ok.”

“Kau tidak menyusul Jinki ke atas?” “Buat apa?”

“Tidak merasa kehilangan sesuatu…?”Aku meraba-raba badanku dan membelak kaget saat menyadari ada yang kurang dari diriku.

“Kalian mengambil tas yang aku selempangkan ke bahu?!”Keempat temanku hanya tersenyum manis mendengarnya membuat aku menghela nafas panjang. Mereka kebiasaan…

“Dasar iseng.”Aku berlari menuju ke tangga karna waktuku di sekolah tidak lama, aku harus mengikuti ujian di universitas impianku.

***

Aku baru mau memasukki kelas saat melihat wajah serius Jinki tertangkap di sudut mataku membuat aku terpaksa –sekaligus refleks semata bersembunyi di meja piket.

Terlihat Jinki tengah memandang lama sebuah foto polaroid yang sedang dia pegang. Mungkin itu foto makanan? Jonghyun pernah cerita kalau Jinki pernah tertidur setelah memandang foto cake di ponselnya. Tapi masa iya dia memotret foto cake, ayam, atau makanan lain jika dia bisa membelinya?

Lalu dia memasukkan foto polaroid itu ke dalam kardus dan ia menatap tajam isi kardusnya dengan serius. Hah, aku jadi tidak tau apa yang dia liat. Mungkin sebaiknya sekarang aku masuk ke kelas.

Bruk…

“Minjung?”Aku hanya meringis tidak mempedulikan –lebih tepatnya pura-pura tidak mendengar panggilan dari Jinki.

“Apa itu sakit? Apa kotak P3K masih ada di kelas?”Aku yang sedaritadi menunduk refleks mengangkat kepalaku dan menahan nafas saat eyes contact dengan Jinki terjadi….oh  god, aku tau ini berlebihan tapi….

“Mana yang sakit? Oh puncak kepalamu?”

“Ma…Maaf, aku harus ke kelas.” Duk…Aku kejedot lagi -.-“

“Disini sempit, jangan membuat gerakkan tergesa-gesa.”Jinki keluar dari kolong meja piket agar aku bisa leluasa keluar dan tidak menyundul kaki meja dengan kepala lagi seperti tadi.

“Apa masih sakit?” “Tidak, sudah agak lebih baik.”

“Sedang apa kau disini?”tanya Jinki saat aku sudah berdiri tegak di hadapannya dan tengah menepuk-nepuk rokku yang kotor terkena debu.

“Teman-temanku iseng, meletakkan tasku ke dalam kelas.”jelasku dan selesai aku menjelaskannya, aku melangkah riang ke dalam kelas meninggalkan Jinki sendiri di belakang.

Minjung POV END

***

Jinki POV

“Min-”Mulutku mendadak bungkam saat melihat sebuah foto polaroid yang terlihat menyilaukan karna tertimpa sinar matahari di dalam kardus milik Minjung yang tertinggal di atas meja piket.

Aku penasaran foto apa itu. Tapi ini milik Minjung. Tapi aku penasaran. Tapi…

Hush….

Angin berhembus kencang lalu kembali berhembus sepoi-sepoi membuat perasaanku melayang, terasa ringan dan terasa terbawa angin…

Pergerakkan tangan kananku terhenti saat merasakan tusukkan kecil di kulitku dan menengok kebawah, melihat penutup kardus itu ternyata yang menusuk kulitku. Mungkin penutup kardus itu turun ke bawah karna terbawa angin. Tunggu….kebawa angin? Berarti kardus itu terbuka…?

Kulihat banyak barang di dalam kardus itu dari sudut mataku –karna aku masih enggan untuk melihatnya secara terang terangan. Kardus itu terbuka sendiri, bukan aku yang membukanya. Dan mungkin….angin menyuruhku untuk membuka serta membaca isinya?

Atau….aku harus cepat-cepat menutup kardus itu. Minjung bisa berpikir kalau aku yang membuka kardusnya dan dia merasa sedih atas kelancanganku. Lagipula aku tidak punya waktu untuk melihat-lihat isi kardus itu menyadari alasan Minjung ke kelas, ya hanya mengambil tasnya yang pasti gampang ditemukan.

1 menit….

2 menit….

3 menit….

Fix, aku menutup kardus itu se-ka-ra-ng.

“Minjung-ah!”Minjung langsung berlari menghampiriku dengan tas berwarna pastel yang pas sekali dengan kulitnya yang berwarna pastel juga.

“Eoh…Kardusku tertinggal ya?”Aku mengangguk dan menunjuk-nunjuk ke arah kardus yang dia peluk, itu kardus milikku.

“Kardusku ada di tanganmu. Mau bertukar?”Aku memeluk kardus milik Minjung dan menyodorkan kardus itu hingga bersentuhan dengan kardus yang ada di tangannya.

“Bertukar apanya?”

“Kardusku ada di tanganmu, dan kardusmu ada di tanganku. Jadi kita bertukar. Mengerti?”Minjung ber’o’ ria dan dia meletakkan kardusku di atas meja piket.

“Ini kardusmu, kardusku di letakkan di sebelah kardusmu saja.”

“Nanti kalau tertukar bagaimana?”

“Bukankah itu menarik? Lagipula kardusmu dan kardusku berbeda.”Aku mengangguk setuju lalu duduk meluruskan kaki di depan meja piket.

“Kau…duduklah.”Aku menepuk-nepuk lantai berubin hijau di sebelahku yang kosong dan dia duduk meluruskan kaki bersamaku.

“Mencari tasmu sepertinya lama sekali.”komentarku dan dia hanya meringis.

“Ya, mereka menyembunyikannya di dalam lokermu. Aku kewalahan harus membuka satu persatu loker kita yang banyak itu.”Aku hanya tersenyum kecil lalu angin berhembus kencang kembali.

“Kupikir, kita harus pulang lebih awal. Cuaca tidak baik dan….”

“YAK! UJIAN MASUK UNIVERSITAS IMPIANKU.”Aku menutup telingaku keras-keras saat mendengar pekikannya.

“Aku juga hari ini ujian tapi kau tidak perlu memekik begitu….”kataku tenang tapi dia keburu lari setelah mengambil kardusnya dan turun ke bawah dengan langkah tergesa-gesa.

“Yak! Hati-hati dalam melangkah!”seruku sebelum bunyi langkah kakinya tidak terdengar lagi.

“Dasar perempuan…”

Aku mengangkat kardus tersisi di atas meja piket lalu turun ke lantai bawah melalui tangga dengan langkah hati-hati. Aku harus cepat pulang ke rumah lalu pergi ke universitas untuk ikut ujian masuk. Selain itu juga aku perlu banyak waktu untuk memikirkan keputusanku.

 Jinki POV END

***

Author POV

“Nona Park, kemana kita sekarang?”Minjung menatap jam tangannya yang menunjukkan 3 jam lagi ujian akan dimulai.

“Langsung ke Yonsei Universitas saja ahju….”Seseorang di depan setir langsung menoleh ke arah Minjung dengan keningnya yang berkerut.

“Aigo! Luhan oppa! Kau sedang apa disini? Kemana ahjusshi?”Minjung tertawa terbahak sambil membuka pintu dan dia langsung beralih duduk di depan –disebelah Luhan, sepupu Minjung dari China.

“Kebetulan aku juga di Yonsei untuk beberapa waktu kurasa. Jadi kita kemana nona?”Minjung memukul lengan Luhan kesal membuat Luhan tertawa terbahak.

“Jangan panggil aku begitu! Ya kita langsung ke Yonsei!”Luhan berhenti tertawa dan mengerutkan keningnya sambil menatap serius Minhee.

“Wae? Ada yang salah denganku?”Minjung meraba-raba sekujur badannya, takut ada yang tertinggal atau hilang dari tubuhnya.

“Anio, Kau mau ke universitas dengan membawa kardus itu?”Minjung tertawa terbahak menyadari kebodohannya lalu memeluk erat kembali kardusnya itu.

“Tentu saja oppa, oppa kan iseng pasti mau membuka kardus ini.”Luhan hanya terkekeh mendengarnya sedangkan Minjung yang sedari tadi ditertawakan sudah grasak-grusuk membuka kardusnya. Mengecek apa kardusnya tertukar atau ada barang yang mungkin saja hilang.

Matanya terbelak kaget saat membuka kardus itu dan menjerit membuat Luhan mengerem dadakkan dan karna itu dahi Minjung menabrak dashboard di depannya.

“Minjung?! Gwaechana?!”Minjung langsung membuka pintu –yang untungnya belum dikunci- dengan membawa kardusnya membuat Luhan berteriak memanggil nama Minjung. Minjung tidak peduli, motor Jinki sudah di depan gerbang dan untungnya berhenti sebentar hanya untuk bertegur sapa dengan penjaga sekolah.

“YAK! LEE JINKI!”Terlambat. Orang yang dipanggil namanya sudah memakai helm dan menjalankan motornya membuat Minjung berteriak lagi.

“Minjung Minjung! Kau ingin mengejar orang itu bukan? Cepat naik, aku akan mengejarnya!”Minjung langsung naik dengan cara tidak anggun seperti biasanya lalu menutup pintu cukup keras diiringi dengan deruman mesin mobil yang dinyalakan.

“Pakai sealtbetmu. Begini-begini aku pembalap mobil dan motor dulu!”ujar Luhan langsung menginjak gas dengan mantap seteleh keluar dari sekolah.

***

“Sial!”Duk! Stir dipukul Luhan cukup keras membuat Minjung berjengit kaget dan buru-buru melepas sealtbetnya.

“Ya! Kau mau kemana?”Minjung menoleh ke arah Luhan sebelum dia bersiap membuka pintu.

“Menyusul orang itu. Aku ada perlu, penting sekali.”

“Lalu kau meninggalkanku sendirian di jalanan yang macet ini?”tanya Luhan jengkel membuat Minjung merenungkan niatnya dan mulai memakai sealtbet lagi. Luhan memperhatikan wajah pasrah, kecewa, dan sedih Minjung membuat dia merasa bersalah.

“Maaf tapi aku takut ditinggal pergi olehmu, aku baru sampai disini tadi pagi untuk pertama kalinya saat aku beranjak dewasa. Aku tidak tau daerah sini dan tidak tau daerah macet, aku sering tersesat dan tidak mau tersesat di kota besar begini. Jadi…apa kau tau rumahnya mungkin?”Minjung tersenyum saat melihat ekspresi bersalah Luhan.

Bukan karna bahagia membuat Luhan merasa bersalah, bukan…tapi melihat kedewasaan Luhan yang terlihat di wajah imutnya. Membayangkan Luhan dulu membuat senyuman Minjung makin lebar, begitu banyak perubahan di diri Luhan-nya itu.

“Di flat dekat sini. Kau tau kan?”

“Engh…Tentu tau, daerah sekolahmu sudah kukelilingi saat kau ke sekolah tadi.”

“Sipp….Antar aku kesana ya!”Minjung tersenyum lebar, menunjukkan deretan gigi putihnya yang membuat dia semakin cantik. Ditambah lagi dengan acungan jempol dan wink membuat Luhan yang terpesona sebentar oleh paras cantik sepupunya itu hanya bisa tertawa saja.

***

Jinki melepaskan helm yang belum lama melindungi kepalanya dan menggantungkannya di salah satu kaca spion lalu berlari cukup cepat menaiki tangga meksipun di tangannya ada kardus dengan berat yang perlu dipertanyakan.

Beberapa kali Jinki menggeleng-gelengkan kepalanya keras, membuat rambutnya yang ikal bergerak-gerak, terlihat lucu. Lalu dia menggerutu dan kembali melanjutkan langkah cepatnya menaiki tangga yang sempat terhenti karna gelengan kepala dan pikiran aneh menyusup di otaknya.

Jinki menopang kardus itu di tangan kirinya sedangkan tangan kanannya merogoh saku celana lalu ia membuka pintu flatnya dengan kunci yang ia cari di saku celana. Kemudian dia menutup pintu dengan kaki kirinya dengan keras dan melempar kardus itu bersama dirinya di atas kasurnya, menimbulkan bunyi ‘kret’ yang cukup panjang.

Jinki mengacak-acak rambutnya kasar. Dia frustasi di tengah perjalanan. Bisa-bisanya dia melamun di tengah jalan yang sejujurnya jarang –bahkan belum pernah macet-  macet membuat beberapa mobil terpaksa menghentikan lajunya dan menekan klakson mereka sampai Jinki sadar 5 menit sesudahnya.

Ini pasti karna dia tidak sengaja melirik ke arah spion motornya dan melihat Minjung berkali-kali tertawa bersama namja yang mengemudikan mobil itu. Namja itu bukan ahjusshi yang biasa menjemput Minjung dan namja itu belum pernah dia lihat sebelumnya.

Jinki kembali mengacak-acak rambutnya. Pertanyaan lain muncul di benaknya, buat apa dia memikirkan namja yang bersama Minjung? Toh, Minjung bukan siapa-siapanya. Tapi…

“Tapi lagi tapi lagi huh.”gumam Jinki langsung duduk di pinggir kasurnya dan menatap nanar kardus di sebelahnya.

“Mungkin melihat foto-foto kenang kenangan di dalam kardus itu bisa membuat otakku lebih rileks.”Jinki membuka kardus itu dan merasa mual melihat isinya.

Bukan karna foto kenang-kenangan yang menunjukkan foto konyol atau menggelikan tapi melihat banyak foto polaroid di dalam sana yang hampir semuanya berisi fotonya.

Selain itu ada foto semua anak kelas 3-1, dari foto formal dengan wali kelas sampai foto-foto setiap anak yang derp face atau membuat perut terkocok. Ada foto semua anak kelas 2-5 tahun lalu yang tidak dikenal kecuali Minjung dan 2 temannya. Ada juga foto anak kelas 1-1 yang dia ingat jelas karna ada dirinya, Minjung, 4 teman Minjung, dan semua teman dekatnya. Pertemuan keduanya dengan Minjung yang berujung-

Jinki menggaruk tengkuknya, merasa aneh dengan kata selanjutnya yang akan dia susun di benaknya. Apa masih pantas dia dibilang suka atau jatuh cinta dengan Minjung jika perasaannya 3 tahun ini dipendam di dalam kardus yang sekarang-

Mata sipit Jinki melebar. Kardus –yang 80% kemungkinan punya Minjung itu ada di tangannya berarti 80% juga kardus miliknya ada di tangan…Minjung.

Badan Jinki lemas, habis sudah riwayatnya. Memang mungkin seharusnya dia menitipkan kardusnya ke Minho yang jarang membuka mulut atau menyimpannya di loker para namja, loker yang kuncinya hanya dia yang punya karna kewenangannya masih ada untuk memegang semua duplikat kunci loker namja. Atau memang seharusnya dia tidak seburu-buru tadi mengurusi kardus berisi alat untuk Pentas Seni besok hingga dia menitipkan kardus itu ke tangan Key.

Sepertinya darah di tubuh Jinki mendidih dan naik hingga badannya terasa panas, terutama pipinya. Dia tidak bisa membayang, Minjung merasa ilfeel membuka kardusnya yang penuh dengan berbagai ekspresi wajah Minjung. Rasanya malu sampai ke ubun-ubun bahwa dirinya ketahuan seperti seorangsasaeng fans. Atau Minjung jadi jijik dengannya dan menolak acara penembakkan Jinki yang tidak tau kapan terjadi sebelum Jinki mengatakannya?

Lagi-lagi Jinki menggelengkan kepalanya, frustasi. Mungkin dia harus pergi sekarang, maksudku benar-benar pergi. Dia akan tinggal di rumah bibinya yang dekat dengan universitasnya. Dia melirik ke arah kardus Minjung lagi dan bingung mau mengapakan kardus itu.

Dia bukan tipe orang yang eksis bukan secara harfiah, maksudnya eksis suka mengumpulkan foto dirinya dalam segala bentuk ekspresi. Dia hanya eksis secara harfiah, suka ikut-ikutan berpose saat beberapa orang di dekatnya berfoto. Hanya itu saja dan dia merasa bangga memiliki keeksisan yang bisa menopang dirinya sebagai trainee SM yang suatu saat nanti debut menjadi artis.

Jinki berdiri lalu melakukan pemanasan riang agar badannya –yang habis mengangkat barang yang beratnya tidak seberapa tapi banyak- serta bolak-balik terus. Ditambah lagi otaknya yang terasa frustasi padahal dia belum mengikuti ujian universitas. Bisa gawat kalau dia frustasi sebelum ujian meskipun dia pernah mendapat ranking 2 paralel dari semua murid sekalipun.

Setelah itu, Jinki mulai bergerak mengambil semua barang yang bisa dia ambil dan bisa dia bawa dengan motornya itu. Barang yang penting saja. Terutama kardus itu.

***

“Disini?”Minjung mengangguk lalu dengan buru-buru dia membuka pintu mobil setelah bunyi ‘ceklek’ terdengar.

“YA YA! Jangan tinggalkan aku!”Minjung menoleh saat dia berhasil menaiki satu tangga dan sudah berada di lantai satu sedangkan flat Jinki ada di lantai dua langsung melongo melihat Luhan yang bukannya keluar dari mobil malah membuka kaca mobil lebar-lebar dan mengeluarkan setengah badannya dari sana.

Minjung baru ingat, Luhan takut ditinggal la-gi.

“Baik baik, aku duluan ke lantai dua. Flatnya di sebelah kiri yang pertama ok? Nanti menyusul atauoppa menunggu dibawah.”ujar Minjung sebelum dia kembali berlari menaiki tangga.

“Lee Jinki! Buka pintunya! Lee Jinki!”seru Minjung saat dia sudah berada di depan flat Jinki dan dia mengedor-edor pintu sambil berteriak dengan nafasnya yang naik turun itu

.“Eng….Nuguya?”Minjung menoleh ke kanan, menghentikan aksi anarkisnya saat melihat seorang ibu separuh baya menatapnya heran.

“Anu itu….pemilik flat ini yang bernama Lee Jinki dimana ya?”

“Oh dia, baru saja keluar. Dia pindah, katanya mau ke rumah bibinya yang dekat dengan universitasnya nanti.”Minjung tersenyum pahit. Kemungkinan 85% Jinki sudah membuka kardusnya jika dia sudah pergi membawa barangnya ke tempat jauh.

“Apa bibi tau universitasnya?”Bibi itu menggelengkan kepalanya membuat Minjung makin tersenyum pahit.

“Ah atau dia meninggalkan sesuatu mungkin di flatnya?”Bibi itu mengeluarkan sebuah kunci dari sakunya dan membuka pintu flat Jinki yang sudah kosong melompong.

“Ah….baiklah kalau begitu. Terimakasih atas informasinya, Bi. Dan maaf aku sudah menganggu Bibi.”Minjung membungkukkan badannya lalu berlari turun ke bawah.

“Bagaimana?”Minjung menggeleng dan mendesah pelan.

“Tidak ada, katanya barusan saja pergi. Memang tidak jodoh mungkin.”Luhan terkekeh lalu mengetok kepala Minjung pelan.

“Kau percaya akan jodoh begitu eoh? Apa kau sudah termakan oleh omongan kuno Kim ahjumma?”

“Sekuno-kunonya eomma dan halmeoni beserta perkataannya, aku harus mendengarkan mereka.”jawab Minjung mengangkat kedua bahunya.

“Apa tidak bisa menemuinya besok? Bukannya kalian ada pentas seni?”

“Mana ada muka aku untung menemuinya. Bisa bisa wajahnya ilfeel saat melihatku setelah dia melihat isi kardusku.”Mata Luhan melotot dengan mulut nganga-nya membuat Minjung mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi.

“Jadi itu kardus yang berisi tentang orang itu semua?! Yang kau bilang rahasia sejak 2 tahun lalu?!”Minjung terkejut lalu wajahnya berubah menjadi jengkel.

“Oppa baru menyadarinya?! Aigo aigo aigo…..sejak kapan aku mengejar laki-laki kalau tidak penting?!”Luhan tertawa terbahak lalu seketika terhenti dan dari ekspresi wajahnya, dia terlihat sedang berpikir.

“Benar juga. Kau kan mengikuti ucapan eomma soal jangan mengejar laki-laki, nanti juga datang sendiri ahahaha. Dan hanya kalimat kuno itu yang aku dengar dan aku percayai. Kalimat itu sendiri juga sudah dialami oleh adik sepupuku sendiri…”

“Apa maksud….”

“Cha! Ayo kita berangkat ke Yonsei! Aku belum mengurusi kepindahanku!”

“Yak!!!”

***

Dia masuk ke Yonsei.

Jinki menghentikan laju motornya setelah meminggirkan motornya ke tepi jalan, takut kejadian berhenti tiba-tiba seperti tadi terulang.

Jinki-ah, kau serius mau melepaskan beasiswa disana? Bukankah itu lebih dekat dari rumah lamamu?

Jinki menghela nafas berat, menjadi trainee SM membuatnya harus ke Seoul dan meninggalkan kampung halamannya. Saat ini malah dia mendapat beasiswa untuk menjadi mahasiswa di universitas yang terbilang dekat dari rumahnya (meskipun dimata kita masih jauh) dan jika dia menerima beasiswa disana, dia harus terpaksa bolak balik yang pastinya melelahnya tenaga dan pikirannya.

Tapi jika mau mengambil beasiswa di universitas dekat rumah Bibi juga tidak apa-apa, kau tinggal di rumah Bibi saja. Lagipula terkadang kita perlu melihat kualitas universitas itu.

Jinki-ya Jinki-ya~ Eomma sarankan kau masuk sana saja, kamu kan masih bisa mengunjungi rumah sesekali daripada kelelahan bolak balik dari rumah ke seoul setiap hari. Lagipula di universitas sana termasuk 3 universitas bagus di Seoul atau di Korea Selatan kalau tidak salah!

Jinki menghela nafas lagi lalu menarik nafas dalam dalam dan tersenyum mantap.

“Aku akan menerima beasiswa dari Universitas Yonsei!”Setelah meremas-remas stir motornya, dia kembali memutar kunci lalu menancap gas dengan mantap.

***

“Berapa lama lagi ujian akan dilaksanakan oppa?”Minjung berhenti melangkah saat menyadari Luhan tidak segera menjawab pertanyaannya seperti biasanya. Kalau bukan karna dia tidak tau jadwal ujian –yang katanya dipercepat itu dimulai, dia tidak akan menanyakannya.

“Yah! Oppa!”Luhan bergeming di tempat lalu melambaikan tangannya ke arah Minjung dan Minjung sendiri sudah menginjak-injak tanah lapangan dengan jengkelnya. Luhan kumat lagi playboy-nya, dia malah sekarang menggoda salah satu gadis mungil yang terlalu mungil karna menyadari tingginya yang mungkin se-anak kelas 6 SD jaman sekarang.

Bahkan Minjung yang sering diledek Luhan pendek karna tingginya hanya 168 cm lebih tinggi dari gadis mungil itu, mungkin tinggi si gadis mungil hanya 150-an.

“Kemari!”Luhan hanya tersenyum nakal dan melambaikan tangan lagi, Minjung terpaksa mengambil seribu langkah menyadari betapa jauhnya dia dari Luhan.

Minjung baru mau marah tapi mendadak perasaannya menjadi tenang saat angin berhembus sepoi-sepoi. Dia baru ingat ucapan Ibunya yang “Sebagai wanita kita jangan terpancing emosi dan mengeluarkannnya. Harus sabar dan…tenang.”

Bukannya jaim atau apa, tapi Minjung hanya sekedar terbawa emosi dan terbawa suasana anak jaman sekarang yang bebas marah-marah serta memukul keras orang yang bukan saudaranya (contohnya: teman-temannya). Oh ya satu lagi, sepertinya Minjung cocok menjadi guru tata krama.

“Ternyata adikku memang benar-benar gampang tersulut emosi tapi tidak bisa menyalurkannya ya. Mukamu sampai memerah begitu.”Minjung sadar dari lamunannya saat merasa pipinya ditusuk dengan jari dan melihat Luhan sudah ada di sebelahnya dengan senyuman.

Bukan senyuman tebar pesona untuk para gadis tapi senyuman yang entah kenapa bisa membuat perasaan Minjung tenang. Mungkin sebelum angin berhembus, Luhan sudah memberinya senyuman itu.

“Hhhah, aku baru saja mengira oppa sudah dewasa saat melihat oppa meminta maaf di mobil saat itu ternyata tidak sepenuhnya dewasa. Tetap Xi-Lu-han-playboy.”kata Minjung sengaja memutus-mutusnya kata-katanya yang terakhir lalu dia berjalan sejajar dengan Luhan saat Luhan sudah berjalan normal ke depan lagi.

“Kau juga terlihat lebih dewasa nyatanya masih terlihat seperti anak kecil, Xi Yi han.”ucap Luhan dengan aksen Chinanya membuat Minjung yang sudah lama tapi masih mengingat aksen itu hanya tertawa dengan perasaan campur aduk, antara senang dan sebal.

 Tidak pernah ada yang memanggilnya dengan nama aslinya, Xi Yi han itu alasan kenapa dia merasa senang. Alasan sedihnya, namanya menjadi Park Minjung dan memakai marga ibunya karna dia berpindah kewarganegaraan akibat ayahnya yang bercerai serta dia memaksa pindah serta mengganti namanya selain karna nama itu mengingatkannya pada ayahnya tapi karna…. Kau tau lah maksudku…

“XiYi-ku, kita kemana sekarang hm?”goda Luhan merangkul bahu Yi han membuat Yi han –maksudku Minjung mengetuk dahi oppanya itu.

“Aku adikmu sendiri, jangan digoda. Lagipula berhenti memanggilku dengan nama lama, aku sudah sedikit melupakan nama itu Xi Lu.”jawab Minjung malas dan melepas rangkulan Luhan lalu meninggalkan Luhan duluan dengan langkah panjangnya.

***

Jinki menggerutu saat melihat tangan namja di sebelah Minjung merangkul bahu Minjung dan ekspresi Minjung hanya seperti sudah bisa dibegitukan meskipun ada ekspresi malas bukan malu-malu kucing seperti yeoja kebanyakkan saat dirangkul oleh orang yang tampan seperti namja yang bersama Minjung.

Padahal dia masuk ke Yonsei ini karna Minjung, sebagai alasan kedua dia masuk Yonsei. Tentu saja alasan pertama dia masuk Yonsei karna ibunya. Tapi disini dia malah melihat Minjung dirangkulnamja lain membuat Jinki yang mati-matian acuh tak acuh jadi merasa panas.

Jinki menatap kecewa ke arah kardus yang dia bawa, seperti sia-sia kalau dia membawa kardus berat ini sebagai alasan dia yang berniat menembak Minjung saat ini juga.

“Yah, kejar dia sana.”Jinki menoleh dan melongo saat melihat Minho berjalan di samping Jinki –kentara membuat Jinki terlihat pendek hingga Jinki merasa sedikit aneh….

“Kesempatan tidak ada yang kedua kalinya.”Jonghyun ikut nimbrung di sebelah Jinki sambil berwink ria ke arah para gadis yang ada di sekitarnya.

“Sekali-kali oldman harus merasakan rasanya memiliki kekasih yah….begini-begini semua salahku.”tambah Key di sebelah Jonghyun dengan tampang sumringah membuat Jinki hanya meringis.

“Hyung! Minjung noona itu cantik!! Fighting!!”Taemin muncul di sebelah Minho lalu mengacungkan kedua jempolnya membuat ringisan Jinki makin lebar.

“Jangan hanya meringis. Sana pergi.”Jinki hampir saja jatuh tengkurep dan mencium ‘red carpet’ kalau saja dia tidak berpegangan dengan bahu seseorang. Tunggu, bahu siapa itu?

“Namamu Lee Jinki kan? Jinki gege?”Jinki mengangkat kepalanya dan melihat namja yang bersama Minjung tadi tersenyum ke arahnya membuat Jinki canggung.

Bukan karna senyumanya –please, demi saus tartar Lee Jinki masih normal dan buktinya dia masih menyukai Minjung-, tapi karna menyadari aksen kental china di nada bicaranya meskipun bahasa koreanya fasih serta dan menyadari namja ini yang terpaksa Jinki akui itu lebih tampan darinya yang ketampanannya melebihi Wonbin dan itu cukup membuat Jinki khawatir kalau Minjung menyukainya meskipun Minjung tipe perempuan yang cukup jauh dari kata mainstream tapi itu bisa saja bukan kalau tuhan sudah berkehendak?

Gege trainee SM kan? Aku juga, perkenalkan namaku Xi Luhan dan aku lebih muda setahun lebih dari gege hm? Tapi aku sunbae gege disini hehe mian. Ah…bisa kita bicara sebentar?”

“B…Boleh.”jawab Jinki gagap karna pembawaan Luhan yang tenang dan membuat dia menjadi sedikit ciut karna banyak nilai tambahan di diri Luhan yang tidak dimilikinya.

Jinki menengok ke belakang setelah mengontrol perasaan dan melihat gerombolan teman-temannya sudah hilang, hanya tersisa para yeoja yang anarkis melewati ‘red carpet’.

“Itu kardus….” “Kardus Minjung, yeochin-mu. Jangan salah paham dulu, aku-“

Luhan hanya tertawa membuat Jinki bingung sekaligus takut, tawanya benar-benar menyeramkan. Mengingatkannya pada rusa di manga ‘One Piece’.

“Ah…untungnya Minjung sudah jalan duluan. Jadi begini, aku sepupu jauhnya dari China. Dia juga kebetulan membawa kardusmu gege, kalian berdua ingin bertukar bukan? Aku punya cara bagus untuk memanggilnya, pasti dia memperhatikanmu.”Luhan berjinjit sedikit –sedikit loh sedikitttt- agar bisa membisikkan rencananya yang membuat dada Jinki berdesis mendengarnya dan sekali lagi bukan karna Luhan yang tampan itu.

***

“Luhan oppa?”Minjung menghentikan langkahnya lalu menengok ke belakang.

“Hah, orang itu benar-benar tidak mengikuti langkahku? Apa aku yang terlalu leabr melangkah? Padahal kan dia lebih tinggi dariku dan bisa mendahuluiku dengan langkahnya yang lebih panjang.”Minjung menggaruk tengkuknya karna merasa sebagai adik sepupu yang tidak baik lalu dia terpaksa berbalik untuk menyusul Luhan padahal beberapa langkah lagi dia akan memasukri ruang ujiannya.

Minjung berjalan santai bukan berlari, tidak seperti drama korea kebanyakkan yang tokohnya berlari kalau mencari seseorang. Buat apa dia berlari, membuang tenaga. Lagipula Luhan pasti tidak mengejarnya dan lebih memilih mengurusi fansnya baru mencarinya kalau dia merasa kehilangan, itu kalau ME-RA-SA.

Cahaya matahari menyusup ke sela-sela kardus yang tidak tertutup rapat membuat Minjung yang sedang menatap kardus hanya berusaha untuk menahan tawanya melihat banyak fotonya disana. Semua ekspresi ada disana, bahkan wajah derp membuat telinga Minjung panas seketika dan membayangkan Jinki tertawa terbahak-bahak saat mengetahui jepretannya yang menghasilkan wajah derp. Jahat sekali kalau Jinki sampai roll like buffalo saat melihat foto derpnya.

“Xi Yi Han!” “Jangan panggil aku-“

Minjung berhenti berteriak membalas perkataan seseorang yang menyebut nama lamanya. Bukan karna suasana yang terbilang ramai tapi karna seseorang yang ternyata masih diluar universitas tengah melambai-lambaikan tangannya, membuat pipi Minjung memerah karna menahan malu akibat banyak mahasiswi serta mahasiswa yang memandang ke arah Jinki lalu Minjung berkali-kali.

Harusnya dia tidak membalas panggilan itu. Harusnya dia mendengarkan sesakma suara yang memanggilnya. Harusnya dia mendengar dengan baik dan bisa membedakan aksen korea dan aksen china. Harusnya….

“Hey, sepertinya kardus kita tertukar Xi Yi han.”Minjung terbelak saat melihat Jinki sudah berdiri di depannya dengan tangannya yang memegang kardusnya.

“Xi Yi han siapa? Seingatku dia sudah telah lama mati.”desis Minjung membuat Jinki terkejut. Luhan hanya berkata padanya bahwa Minjung sebenarnya suka dengan panggilan Xi Yi han karna dia lahir dengan nama itu. Tapi sekarang nada bicara Minjung mulai tidak enak, apa Luhan mengerjainya?

“Begitu begitu, Xi Yi han nama lahirmu. Aku juga tidak menyukai dipanggil Lee Jinki, nama asliku sendiri. Tapi itu nama pemberian orang tuaku bagaimana pun jadinya.”komentar Jinki dan Jinki terkejut dengan ucapannya yang mengalir itu. Dia memang tidak suka dipanggil Jinki, tapi karna Minjung membuat dia merasa tidak keberatan dipanggil Jinki…

“Kau tidak tau alasannya, Onew. Cepat bertukar kardus.”Jinki makin terkejut. Minjung yang biasa lemah lembut seperti gambaran yeoja zaman dulu yang sesungguhnya diincar para namja zaman setengah kuno setengah modern/? karna jarangnya yeoja yang begitu mendengar pelajaran tata krama sekarang malah menjadi Minjung yang dingin. Ditambah lagi Minjung memanggilnya dengan nama ‘Onew’, nama yang kata Minjung aneh karna Jinki tidak mirip dengan dubu /?

“Aku memang tidak tau alasannya tapi pasti masalah keluarga. Hey hey, kutebak Luhan itu sepupumu dari

 -mu bukan? Apa itu karna Bà-mu jadi kau membenci nama aslimu? Hey…..Margamu dan marga Luhan sama, apa berarti kamu tidak menyukai Luhan juga…?”ceramah Jinki. Baru kali ini Jinki banyak berbicara membuat Jinki merasa aneh sendiri.

“Jangan mengalihkan pembicaraan. Ujian masuk yang diadakan beberapa menit lagi.”ujar Minjung saat merasa Jinki mulai berbicara dengan sedikit kosakata dan sok berlogat negara kelahiran oppanya, Luhan –maaf maaf saja, dia sudah tidak mau mengakui dia pernah lahir dan tinggal disana yang berarti satu negara dengan appanya. Apa masih pantas dia manggil orang itu dengan sebutan appa atau ?

“Baik-baik, aku tidak peduli aku tetap memanggilmu dengan sebutan Xi Yihan, Yihan, atau Xi Yi dan tetap memanggil aku Jinki! Kalau tidak aku akan membuat nama panggilan baru untukmu, mungkin meimei?”Minjung hanya memutar kedua bola matanya lelah dan merasa mual mendengar dia harus bersiap mungkin untuk dipanggil mei-mei mengingat dari dulu kecil sampai sekarang dia menolak mentah-mentah dipanggil mei-mei meskipun nama itu terdengar lucu dan manis sekalipun..

“Ini kardusmu, maaf aku terlanjur membukanya. Isinya bagus –sangat bagus malah dan ini kalimat pujian bukan ledekkan. Apa kau sudah membuka kardusku?”Jinki pandai sekali mengubah suasana, karna ucapannya itu mampu membuat wajah dingin Minjung berubah menjadi merah muda.

“Sudah, isinya buruk. Jepretanmu buruk, wajah derpku ada disana. Itu aib. Aku merasa seperti mendengar tawa khasmu berdengung di telingaku karna melihat wajah derpku sendiri.”kata Minjung tetap berusaha acuh tak acuh meskipun jantungnya memacu detakkannya lebih cepat.

Meskipun begitu mereka tetap bertukar kardus hingga kardus itu kembali ke pemilik aslinya. Jinki tetap mengumbar senyum meskipun rencana hasil karya Luhan gagal total serta rencananya juga gagal total sedangkan Minjung hanya tersenyum malas.

“Err…Bolehkah aku mengambil satu foto di dalam kardusmu? Buat kenang-kenangan lah….Kita beda jurusan, kau masuk jurusan….sejenis psikolog bukan? Aku masuk jurusan seni bersama luhan. Meskipun aku agak senang karna bisa satu jurusan dengan sepupumu, tapi aku masih normal buktinya aku masih menyukai yeoja sepertimu.”Minjung tersenyum ogah-ogahan sampai dia menyadari sesuatu yang ganjil saat kalimat Jinki berhasil dicerna otaknya.

Minjung menahan tangan Jinki yang ingin membuka kardus miliknya membuat Jinki mengangkat kepalanya dan eyes contact dengan Minjung terjadi membuat Jinki mati-matian tidak tenggelam ke dalam tatapan sendu Minjung meskipun wajahnya terlihat dingin serta datar.

“Ah….aku ingin mengambil foto kita semua saat masih kelas 1-1. Tidak apa-apa kan? Kau masih punya copy-annya kan?”Minjung tetap bergeming.

“A…Apa maksudmu?” “Maksud apanya?”

“Kalimatmu barusan saat meminta izin untuk mengambil foto yang ada di dalam kardusku. Kalimat terakhir…”

“Oh itu…”Jinki hanya mengangguk anggukan kepalanya santai, merasa bangga karna rencananya yang simple nyaris gagal ini berhasil juga. Sedangkan si empu yang bertanya sudah berdiri kaku dengan keringat dingin yang banyak di wajahnya.

“Aku hanya jujur, maksudku ya….aku tau ini tidak romantis maksudku tidak seromantis perilaku Luhan meskipun Luhan bilang kalau kau ini sebenarnya tipe wanita mainstream, tetap malu-malu kucing untuk mengatakkan suka hal romantis tidak seperti yeochin-nya, Zhang-“

MWOYeochin luhan?? Dia sudah mempunyai yeochin tanpa sepengetahuanku?! Zhang? Marganya Zhang? Zhang Yiyun ya?!”

Gege tidak bisa diajak kompromi ah!”seru Luhan tiba-tiba muncul merelai Jinki dan Minjung. Minjung dengan berapi-api memandang Luhan.

“Berhenti memanggilku gege! Ini Seoul bukan Beijing!”seru Jinki membuat Minjung dan Luhan langsung memiringkan kepala mereka bersamaan dan menatap Jinki yang tadi berteriak gaje dan melenceng dari pembicaraan mereka itu.

“Yak! Luhan oppa..”Minjung memanggil Luhan saat menyadari tujuannya kenapa berteriak begitu di jalan ‘red carpet’ yang di kelilingi dan dilewati oleh banyak orang karna letaknya yang di tengah.

“Apa sayang?”Minjung merinding bukan main mendengar kata ‘sayang’ terlontar dari bibir Luhan dengan nada yang err…..sexy. Sesuka-sukanya dia dengan hal berbau romantis, dia tidak suka dengan hal yang Luhan lakukan sekarang.

“Kau menjijikan. Eoh…oppa mempunyai yeochin tidak bilang-bilang padaku? Apa oppa lupa dengan janji kita saat aku masih kelas 7 dan oppa kelas 9? Zhang Yiyun ya yeochin-mu? Sudah kutebak, kalian kan-”

“Kau juga suka dengan namja sejenis Jinki tidak bilang padaku. Lagipula itu janji yang sudah lama, um sekitar 6 tahun yang lalu…”potong Luhan menyadari cerocos Minjung bisa tidak akan berhenti. Jinki yang mendengarkan pertengkaran antar saudara itu hanya mengangguk angguk saja, menyadari dia anak tunggal dan tidak pernah mendengar atau melihat secara langsung pertengkaran saudara.

Anggukan kepalanya langsung terhenti saat menyadari Luhan mengucapkan kalimat yang ingin ia dengar dari bibir Minjung.

Oppa!…..”Jinki mengerutkan keningnya serta memiringkan kepalanya saat mendengar cerocosan Minjung yang terdengar seperti bahasa mandarin dengan aksen yang kental sekali.

Luhan tertawa riang membuat Minjung berusaha sekeras mungkin untuk berekspresi tenang dan tidak gondok.

“Kupikir adikku ini tidak mau berbicara dengan bahasa mandarin lagi serta dengan aksen yang kental! Xi Yi han kembali!”

‘Aku juga berbicara dengan bahasa mandarin agar Jinki tidak mengerti.’

“Memang apa yang dia bilang?”tanya Jinki polos membuat Minjung hampir mau facepalm.

“Aku tidak ikutan. Ehm…silahkan kalian berdua berbicara.”Luhan mendadak menghilang. Oh…dia tentunya tidak memakai telepati atau teleportasi.

“Err…Jadi bagaimana?”tanya Jinki bingung.

“Bagaimana apanya?”

“Jawabanmu….?”tanya Jinki pelan membuat Minjung mau meledak.

“K…Kau buka saja isi kardusku, jawabannya disana.”jawab Minjung kaku menyodorkan kardusnya tapi Jinki malah menarik tangannya dan berjalan ke luar universitas Yonsei lalu berhenti di salah satu kursi panjang di taman depan Universitas Yonsei tapi tetap masih ramai oleh para mahasiswa mahasiswa.

“Kita tadi berdiri di tengah jalan masuk, akan jadi pusat perhatian kalau disana terus.”jelas Jinki membuat Minjung yang menunjukkan raut bingung hanya mengangguk.

Jinki dan Minjung duduk di kursi panjang sebelah-sebelahan membuat Minjung merasa seperti deja vu.

“Kita bertukar kardus lagi saja.”saran Jinki lalu mereka bertukar kardus lagi.

***

Jinki POV

Aku menimang-nimang kardus milik Minjung. Dia sudah menyuruhku untuk membuka dan menemukan jawaban yang aku cari –yah meskipun aku sesungguhnya sudah tau jawabannya tapi aku ingin memastikannya dari Minjung langsung.

“Yah…dimana letak jawaban yang aku minta?”keluhku bingung karna kardus itu penuh dengan foto, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda jawaban.

Minjung dengan sigap mengangkat sesuatu dari dalam kardus dengan hati-hati hingga foto-foto itu terangkat bersama dengan sesuatu yang diangkat Minjung yang ternyata kotak kecil untuk menampung foto. Setelah kotak kecil itu terbuka, aku bisa melihat banyak kertas serta buku catatan yang tersusun dengan rapih.

“Aku lupa dimana jawaban dariku. Pastinya di sisi kiri kardus yang banyak tumpukkan keras, ambil paling bawah. Kalau tidak ada disana, berarti di tumpukkan kertas lain.”jelas Minjung lalu ia kembali berkutat dengan kardusku.

“Eng, bolehkah aku mengambil foto ini?”Minjung mengambil foto dimana Minjung berulang tahun di tahun pertama SMA, aku yang langsung lompat dari atas meja ke depan Minjung saat telur, air, serta tepung sudah mengenai tubuh Minjung. Itu yang memotret Key dan untungnya aku masih memiliki copiannya. Banyak di laci mejaku hehe.

“Silahkan. Ah, jawabanmu itu ada disini ya?”Aku menarik selembar kertas itu hati-hati agar tumpukkan kertas lainnya tidak berantakkan dan menunjukkannya saat Minjung menatap ke arahku. Pipinya memerah. Berarti ini jawabannya.

Hari ini aku mengikuti ujian masuk di SMA ……….. dan bertemu banyak wajah anak seumurku yang serius dan terlihat tegang sepertiku. Saingannya banyak dan aku bukan termasuk anak genius sekali jadi aku tegang begini sampai aku melihat seorang namja hanya lebih tinggi 10 cm dariku malah tersenyum senyum berseri-seri saat memasuki gerbang membuat aku hampir tertawa lepas melihat senyumannya yang lucu itu.

Matanya hilang saat tersenyum, dan dia tetap tersenyum meksipun sudah banyak anak lain memandangnya aneh selain karna tidak sengaja bertemu pandang dengan namja itu karna melihat aku terus memandang namja itu dengan wajah menahan tawa.Mungkin kalimat ‘smile like an idiot people’ itu ada benarnya juga.

 Saat memasuki ruangan ujian –yang ternyata seruangan denganku dia berhenti tersenyum dan wajahnya terlihat serius membuat aku hampir tertawa dan menginjak-injak kaki meja pelan untuk menarik perhatiannya yang duduk di depanku (maksudku agar dia menengok ke arahku dan menghentikkan wajah seriusnya) tapi malah menarik perhatian guru pengawas dan mengacamku untuk ujian diluar. Padahal aku hanya berisik yang tidak blak-blakkan tapi diancam akan ujian diluar huh.

Berkali-kali aku mendengar suara kekehannya dan aku berusaha untuk melihat apa yang dia tertawakan pada kertas ujian (karna dia tertawa saat matanya bertemu dengan kertas ujian) dan gilanya, dia menertawakan soal yang susah -sungguh aku takut dia itu orang kurang waras tapi apa SMA yang terbilang bagus di daerahku ini bisa meloloskan orang kurang waras padahal sudah diseleksi 2 kali?

Ujian masuk sudah selesai dan namja gila itu berduduki posisi 2 dari ratusan atau ribuan siswa –aku sudah lupa saking banyaknya. Bukan posisi yang sempurna memang tapi itu termasuk sempurna dimataku menyadari aku hanya ada di posisi 3.

Ujian penempatan kelas dan namja itu malah menduduki posisi 1 –bukannya turun seperti anak lain dan aku bersyukur serta merasa sangat aneh karna aku berada di posisi 2, yang berarti saat pengenalan diri di kelas 1-1-ini kemungkinan ya- aku bisa berdampingan dengannya.

Dan yap! Aku sekelas dengannya –tidak sesuai dengan harapanku yang berharap semua kelasnya diacak dan kami berdua selalu berdampingan bahwa pengurus kelas dia menjadi wakil dan aku menjadi ketua. Oh aku belum bilang bukan kalau namanya Lee Jinki? Ya, namanya Lee Jinki tapi dia lebih suka dipanggil Onew (kelembutan). Aku tetap memanggilnya Jinki hingga dia menyerah untuk tidak komentar dengan panggilanku.

Kau tau kan aku –maksudku kami itu terbilang anak baru (hoobae) dan tidak memiliki hoobae lain? Dan apa kau tau maksudku? Yah, maksudku pembullyan oleh kakak kelas dan aku –yang termasuk orang suka melawan kalau dilukai (karna umma selalu bilang dan menyuruhku begitu) langsung jadi korban kakak kelas itu tapi bodohnya, Jinki yang diampuni karna senyuman polosnya malah membantuku untuk lepas dari jeratan kakak kelas. Bodohnya dia, sudah dibebaskan tapi mencari masalah-_- Tapi sejak itu aku yakin menyukainya, tidak seragu-ragu saat pertama kali bertemu dengannya sebelum ujian masuk.

Jinki menahan tawanya setelah membaca tulisan polos Minjung saat kelas 10 membuat Minjung merasa panas dan refleks merebut kertas itu tapi yang ada malah kardus dipangkuannya jatuh membuat beberapa barang di dalamnya jatuh.

“Omo!”jerit Minjung tertahan lalu ia langsung memasukkan barang-barang yang keluar secara perlahan-lahan agar tersusun rapih bersama Jinki yang tiba-tiba ikut membantu.

“Ini.”Jinki menyodorkan 2 kertas setelah memasukkan dan menata barang-barang dari kardusnya yang keluar. Kertas itu yang paling atas tulisan milik Minjung, yang kedua….kurang familiar di mata Minjung. Minjung mengambil kertas yang kurang familiar di matanya dan membacanya.

Yeoja itu membuatku malu dengan wajah menahan tawanya saat melihat senyumanku. Aku memangnya harus melakukan apa untuk menghilangkan ketegangan selain tersenyum? Aku yang bodoh ini hanya bisa tersenyum dan mengabaikan pandangan banyak orang.

Yeoja itu menahan tawanya lagi saat aku sedang mencoba konsentrasinya mengerjakan soal, sepertinya dia suka sekali tertawa. Untungnya pengawas menegurnya jadi dia bukam untuk sesaat dan bergerak-gerak saat aku berusaha untuk santai dengan tertawa saat menghadapi soal sulit.

Dia seperti terobsesi menginginkan hal sempurna, posisi 1 atau 2 tapi di ujian pertama dia di posisi 3 membuat tampangnya semakin terobsesi. Nyatanya aku yang di posisi 1 dan dia di posisi 2 membuat kita sekelas dan berdampingkan terus bahkan dia menjadi ketua kelas sedangkan aku menjadi wakil.

Karna kami yang terus berdampingan, aku hampir terseret masalah pembullyan oleh kakak kelas. Tampang yeoja ini bukan tampang anak bermasalah atau mencari masalah tapi sikapnya yang selalu melawan jika di serang membuat kakak kelas mengincarnya. Wajahku yang kata mereka terlalu tablo –hey! Aku ini tampan!- dan senyuman polos bak malaikat milikku membuat aku selamat tapi tidak dengan yeoja itu.

Dasar yeoja menyusahkan, aku terpaksa menginap di rumah sakit selama 2 hari karna harus melindunginya. Aku tidak menyesal sih menolongnya, dia sebagai yeoja –meskipun terkadang membuat orang gemas dengan tingkah tata kramanya seperti para yeoja zaman dulu- mendapatkan hal untuk dilindungi aku sebagai namja. Dan aku sendiri juga mengikuti naluriku untuk menolongnya, yeoja itu selain mempunyai kepribadian yang menarik dan jarang dimiliki oleh gadis kota Seoul serta aura yang perlu dilindungi, dia juga berhasil mengalihkan duniaku /? *nyanyi lagu afgan*

Dia, Kim Minjung yang fantastic!

“Hey, kalau kau menggerutu sudah menolongku kenapa kau tetap-”Minjung membungkam mulutnya saat merasakan heartattack ketika melihat senyuman tulus milik Lee Jinki yang mengingatkannya pada senyuman Luhan.

Kringggg….

“Ujian dimulai, kita harus pergi.”ujar Minjung terkesan terburu-buru, ia langsung mengambil ahli kardusnya dari pangkuan Jinki.

“Tunggu.”Satu kata dari Jinki berhasil membuat Minjung menghentikkan pergerakkannya.

Jinki menarik lengan Minjung cukup keras membuat badan Minjung yang rasanya lemas langsung berbalik dengan mudah hingga berhadapan dengan Jinki.

Jinki berdiri lalu menepuk bahu Minjung dua kali dan tersenyum lembut membuat Minjung berusaha sekeras mungkin untuk menahan semburat merah di pipinya.

“Yah yah yah, would you be mine?”

“Ji…Jinki-ssi, sudah masuk. Jangan mengulur waktu.”Jinki meremas bahu Minjung pelan untuk menahan langkah Minjung.

“Jawaban dulu baru aku melepaskanmu.”

“N….” “N? No? Hey ucapkan dengan jelas.”

Nan joahaeyoI do, Lee Jinki!!”jerit Minjung langsung berlari menubruk bahu Jinki hingga Jinki yang tidak siap dengan tubrukkan itu malah jatuh terduduk di kursi panjang. Jinki yang melihatnya sempatbengong karna shock lalu dia tertawa keras hingga dia menghentikan tawanya saat merasa mulutnya penuh.

“Hey! Karna gege, aku sebagai sunbae kebetulan lewat kelas gege langsung dipanggil pengawas untuk memanggil gege. Cepat masuk kelas.”Jinki memuntahkan bola kertas yang sengaja dimasukkan oleh Luhan hingga Luhan tertawa.

“Selamat gege diterima sebagai kakak iparku! Cara gege kurang seru tapi aku salut melihatnya. Akhirnya cerita Cinta dalam kardus kalian berakhir dengan indah juga. Cerita kalian membuat siapapun terutama aku gemas tau.”Luhan menepuk nepuk punggung Jinki sekitar 3 kali lalu mereka berdua beranjak memasuki universitas Yonsei. Dan tentu saja, kardusnya masih Jinki peluk dengan senang hati.

-END-

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

14 thoughts on “Cinta Dalam Kardus

  1. Gilak aja kali yaa, mau ujian masuk sempat2nya tembak-tembakan *?*
    ihihii..ini sweet minta diemut coba?! keren laah😀

    Oiyaa, habis tanda kutip penutup, jangan lupa kasih spasi yaa..kayak gini nih :
    “Gege tidak bisa diajak kompromi ah!”seru Luhan…
    >> “Gege tidak bisa diajak kompromi ah!” seru Luhan…
    lebih rapi kan?😀

    Trus, untuk tipe kayak gini, titik-nya diganti jadi koma yaa :
    “Sekuno-kunonya eomma dan halmeoni beserta perkataannya, aku harus mendengarkan mereka.”jawab Minjung mengangkat kedua bahunya.
    >> … mendengarkan mereka,” jawab Minjung mengangkat kedua…

    Nah, kalau untuk ini, gimana kalau adegan yang orangnya sama dengan org yang berdialog itu masuk ke paragraf yg sama? Biar gak bingung. Misal kayak gini :
    >> Before :
    “Bagaimana?”Minjung menggeleng dan mendesah pelan.
    “Tidak ada, katanya barusan saja pergi. Memang tidak jodoh mungkin.”Luhan terkekeh lalu mengetok kepala Minjung pelan.
    “Kau percaya akan jodoh begitu eoh? Apa kau sudah termakan oleh omongan kuno Kim ahjumma?”

    >> After :
    “Bagaimana?”
    Minjung menggeleng dan mendesah pelan, “Tidak ada, katanya barusan saja pergi. Memang tidak jodoh mungkin.”
    Luhan terkekeh lalu mengetok kepala Minjung pelan, “Kau percaya akan jodoh begitu eoh? Apa kau sudah termakan oleh omongan kuno Kim ahjumma?”

    Gimana? Hehee..itu saran aku aja sih. Mungkin next story bisa lebih dirapikan lagi. Overall cerita ini menarik, ringan, dan sweet punya. Tingkatkan terus yaaa😀
    Keep writing Minkey!!! ^o^9

    1. aduh…makasih banget ya sarannya. Kemarin, Aku juga baru nyadar ada yang salah setelah baca novel tapi ff ini ternyata udah dipost hari ini🙂 aduh maaf, yang soal saran ‘titik-nya diganti jadi koma’ kok aku gak ngerti ya? Udah sering ngeliat tipe kalimat titik diganti jadi koma tapi tetep gak ngerti hehehehe.Dhila-ssi…boleh minta dijelasin lagi gak? hehehehe😀
      Ya ampun, sekali lagi makasih banget buat sarannya. Jarang ada yang mau ngetik saran panjang-panjang buat author yang abal-abal kaya aku gini😀 Sekali lagi makasih ya! ^^

      1. hehe..iyaaa, masamaa😀
        tadi emg lagi pengen ngomen panjang2 aja. hahaa..xD

        Jadi, kan ada dialog yg berupa kalimat berita (yg diakhiri titik). Nah, kalau letaknya itu masih di tengah kalimat, misalnya masih disambung oleh ‘kata’, ‘jawab’, ‘jelas’, ‘gerutu’, dkk, itu diakhiri pake koma sebelum kutip. Misalnya :
        >> “Kita bertukar kardus lagi saja.”saran Jinki lalu mereka bertukar kardus lagi.
        Jadi
        >> “Kita bertukar kardus lagi saja,” saran Jinki lalu mereka bertukar kardus lagi.

        Nah, kalo letaknya dialognya di akhir kalimat, titiknya tetap, misal kayak gini :
        >> “Ah….baiklah kalau begitu. Terimakasih atas informasinya, Bi. Dan maaf aku sudah menganggu Bibi.” Minjung membungkukkan badannya lalu berlari turun ke bawah.
        Kalimat yang diawali Minjung itu kan udah kalimat kedua, jadi dialog sebelumnya ditutup pake titik. Beda dengan contoh yg pertama, karena masih dalam satu kalimat.

        Hehe, makin bingung ya? Maap aku gak begitu pinter ngejelasin. Selengkapnya coba Minkey liat aja ya contohnya di novel2. Itu membantu banget biar penulisannya makin bagus. hehee..

        Aah, masamaaa.. Aku juga masih jauuuh lebih amatir bikin cerita ._. Sama2 berjuang yaah kitaa😀

  2. Ini…..ini….ini… Aaaaaaa aku pengen jadi minjung :”’ aaaaaaaaa /gila/frustasi/ *kemudian dilarikan ke hati jinki*

    Daebak thor :’) aku sampe degdegan terhura sampe salto/?

    Ku tunggu karya selanjutnyaaaa

    1. makasih!!!! ^^ aduh…maksudnya ‘bikin lg yg beginian, Author-ssi’ itu apa ya? bikin lagi kaya gimana :p? hehehehe
      tolong jangan panggil author-ssi, author, mimin, admin, chingu, eonnie, atau noona. kalau mau panggil MinKey langsung^^

  3. abis baca ff ini terus langsung keingetan lagu lucky xD
    aaaah minjung-jinki ini beruntung bangeet. meskipun sempet gemes sama mereka kenapa susah banget nyatain perasaannya bhaha tapi ya endingnya bikin mesem2 xD

    1. iya kah? ngomong ngomong, keinget lagu lucky yang mana ya? .__.v
      mesem-mesem ya….jujur ya, pas nulis endingnya itu juga mesem mesem plus gegulingan wkwkwkwk ‘-‘)bb

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s