[Keyday Special] Friendship

Author : AudreyLovina
Cast    : Kim Ki Bum (Key), Lee Jinki, Kim Yeon Ji (OC)
Support Cast : Lee Taemin, Choi Minho, Kim Jonghyun, Park Eun So (OC)
Genre : Friendship, Romance
Lenght : Oneshoot

***

Hari ini statusku sudah berubah. Aku bukanlah lagi kekasihmu. Kata-kata yang mengajak kita putus itu keluar dari mulutmu. Hari ini, di taman belakang sekolah. Tempat yang sangat tepat untuk memutuskan hubungan kita. Tiga puluh menit yang lalu kau memutuskanku. Dan setelah kau berbalik pergi, aku tak beranjak dari tempatku sekarang ini. Aku menatap hampa pemandangan di depanku.

Kau sadar tidak? Jika hari ini aku merayakan tiga hal. Tepat hari ini, dulu kau menyatakan perasaanmu padaku. Aku pasti menerimanya, karena aku memiliki perasaan yang sama sepertimu. Dan hari ini juga, kau memutuskanku. Keputusan sepihak. Dan pandangan matamu itu, baru saat ini aku melihatnya begitu dingin. Tak ada keteduhan di sana. Aku berpikir, apakah tempatku sudah digantikan oleh orang lain dengan begitu cepatnya?

Lalu hari ini, adalah hari yang paling kutunggu. Karena tepat hari ini. Tanggal 23 September, adalah hari ulang tahunmu bukan? Semuanya terjadi tepat pada saat hari ulang tahunmu. Kau sudah merencanakannya atau ini hanyalah sebuah ketidak sengajaan? Aku tak tau.

Aku berjalan mencari tempat untuk mendudukan tubuhku dan kembali mencerna apa yang baru saja kulalui. Ini berlalu begitu cepat. Kenangan yang kulalui bersamamu tiba-tiba menghilang satu persatu dari ingatanku. Yang dapat kuingat hanyalah pernyataan putusmu. Apakah aku begitu tersakiti? Tapi mengapa wajahku tak menampakan kesedihan sedikitpun? Apa aku terlalu pintar menyembunyikan perasaanku sendiri? Jika itu benar, maka aku patut mendapatkan pujian bukan?

Ah, tampaknya aku salah. Pandangan mataku perlahan-lahan memburam. Satu demi satu cairan bening itu mengalir melalui pipiku.
Aku menangis. Mungkin ini pertama kalinya aku menangis dengan memasang wajah datar. Tak terisak. Hanya meneteskan satu demi satu air mata.

Aku menarik nafas dalam melalui mulut dan kuhembuskan dengan perlahan. Segera kuhapus tetesan air mata yang akan mengalir kembali dengan punggung tanganku. Tapi percuma. Air mata itu kembali mengalir. Bahkan tak ada jeda. Nafasku sesak. Kembali kutarik nafas dalam dan panjang dan membuangnya. Ia sungguh telah merubahku.

Dulu aku tak rapuh seperti ini. Dulu aku tak akan menangisi hal seperti ini. Tapi mengapa saat ini terasa sangat menyakitkan? Kuangkat tanganku menuju dadaku. Kutepuk pelan dadaku untuk mengurangi rasa sakitnya walau kutau itu tak berguna. Rasa sakit itu tetap ada. Kubekap mulutku dengan tangan kananku untuk menahan isakanku. Cukup. Kutarik nafas panjang untuk terakhir kalinya, kuhembuskan. Aku mati-matian menahan mataku agar tidak mengeluarkan cairan bening itu lagi. Cukup. Ini sesak. Cukup.

Aku berdiri, pergi meninggalkan taman belakang sekolah. Kalian tau tempat tujuanku berikutnya bukan? Aku harus memperbaiki penampilanku bukan?

***

Seseorang menepuk pelan bahuku. Aku memutar kepalaku menghadapnya. Ia tersenyum lebar hingga mata sipitnya semakin sipit. Senyum yang menenangkan.

“Waeyo, oppa?”

“Malam ini kau datang ‘kan?”

Pandangan mataku berubah sayu, aku tersenyum lemah kepadanya, “Tentu saja! Mana mungkin aku tak datang!”

Kuubah senyumku menjadi senyum yang manis. Walaupun aku tau itu senyum yang kupaksakan. Ia tersenyum manis untuk membalasku. “Mana Key? Bukankah tadi ia bersamamu?”

DEG!

Nama itu… Tidak. Tidak. Kumohon jangan keluar sekarang. Kuarahkan tanganku kemataku. Aku menggosoknya perlahan, berpura-pura jika mataku terkena debu. Ia memandangku dengan heran, “Waeyo? Gwaenchana?”

“Hmm.”

“Jinki hyung! Cepat! Kita sudah terlambat!”

Seseorang berteriak kepada kami. Ah, maaf, kepada Jinki. Orang itu berlari tergesa-gesa ke arah kami. Setelah sampai di hadapan kami, ia menekuk lutunya kecil dengan tangan bertumpu pada lututnya. Kalian tau, ia sedang mengatur nafasnya.

“Wae, Taemin-ah?”

Taemin mengambil nafasnya. Lalu mendongak. Ia terlebih dahulu tersenyum padaku, sebagai tanda menyapa. Kubalas senyumnya. Kalian tau? Aku jatuh cinta pada pandangan pertama pada wajahnya itu. Wajah yang sangat lucu dan imut. Seperti…ah, seperti boneka teddy bearku.

Taemin berganti memandang Jinki, “Hyung lupa jika hari ini kita ada latihan untuk Klub Basket?”

“Aku tau, aku sedang mencari Kibum saat ini. Kau tau ia dimana?”

“Ck, hyung. Kita semua sudah berkumpul. Hanya tinggal kau saja yang masih berkeliaran,” Taemin melirikku sekilas sambil tersenyum jahil. “Atau jangan-jangan kau sedang jalan-jalan berduaan dengan Yeon Ji noona? Wah! Harus segera kulaporkan pada Key hyung jika Yeon Ji noona berselingkuh!”

Aku dan Jinki seketika langsung mendelik ke arahnya sebal. Taemin langsung tertawa melihat ekspresi kami. “Ya, Taemin-ah! Aku tak berselingkuh!”

Ya, kalian tau mana mungkin aku berselingkuh jika aku telah putus dengan Key. Sepertinya Key tak memberitaukan tentang insiden tadi kepada mereka. Aku juga tak kuat menerima kenyataan ini. Aku masih sangat mencintainya. Sangat.

“Arasseo! Yeon Ji-ah, annyeong!”

Jinki berseru sambil berlalu. Ia melambaikan tangannya kepadaku dengan senyum khasnya. Aku balas ucapan selamat tinggalnya. Setelah mereka lambat laun hilang dari penglihatanku, aku berbalik pergi. Aku tak ingin berlama-lama di sini.

***

TING! TONG!

Seseorang menekan bel rumahku. Dengan malas aku beranjak dari sofa dan menghentikan sejenak aktivitas membaca bukuku. Kubuka pintu rumah. Seketika wajah lelahku berubah menjadi wajah berbinar.

“Kau datang! Kajja, masuk.”

Tamuku, Park Eun So, ia tersenyum ke arahku dengan senyum manisnya. Hanya satu kata untuknya. Sempurna. Tinggi semapai, kulit putih mulus dengan tubuh yang indah, mata bulat, hidung mancung, dan rambutnya yang berwarna coklat yang terurai dengan indah, tak lupa bando kecil yang setia selalu melekat di kepalanya. Belum lagi sifatnya yang sangat feminim, tak lupa ia juga baik, sopan, dan ramah tentunya. Sungguh tipe ideal semua laki-laki.

Kami duduk bersama di ruang tamuku. Jika kuperhatikan sedari tadi ia tampak gembira. Ia memandangku dengan wajah berbinar-binar, “Eonni!”

“Hmm.”

“Eonni masih ingat pemuda yang dulu kuceritakan? Pemuda yang dulu kutemui di taman?”

“Hmm.”

“Eonni tau ‘kan aku menyukainya?”

“Hmm.”

“Eonni! Tunjukkan sedikit rasa penasaran eonni!” Ia mengerucutkan bibirnya sebal. Lucu. Aku memang paling suka menjahilinya. Kucubit pipinya gemas, “Arasseo, arraseo. Ada apa dengannya? Apa ia masih bercerita tentang pacar lamanya?”

“Sepertinya doaku terkabul!”

“Hmm? Wae?”

“Ia putus dengan pacarnya!”

“Jeongmal?”

Eun So mengangguk sebagai jawabannya. Aku memeluknya senang. Walaupun aku sedang sedih saat ini, tapi aku turut bahagia untuknya. “Chukae! Kau masih punya kesempatan, Eun So-ah!” Ia mengangguk dalam pelukanku.

“Bukan kesempatan lagi eonni.”

Aku mengerutkan keningku tanda tak mengerti, walupun kutau ia tak bisa melihatnya. Ia melanjutkan, “Saat itu aku langsung menembaknya, dan ia menerimanya.”

“Mwo?!”

Segera kupelas tautan pelukan kami. Mataku membulat tak percaya. Anak ini, ia berani sekali. Dan lagi pemuda itu! Sungguh kekanak-kanakan! Langsung menerimanya? Ck! Pasangan yang lucu.

“Yah, itu terlalu cepat. Tapi chukae!”

Ia tersenyum senang. Yah, aku tau pemuda yang diceritakannya seperti apa. Pantas saja Eun So menyukainya. Ia bercerita jika pemuda itu sempurna. Dan selera kita sama. Jadi mungkin saja pemuda itu seperti Key. Aku tak pernah melihatnya secara langsung.

“Ah, ia juga mengatakan mengapa ia putus dengan pacarnya,” Eun So melanjutkan bicaranya. “Apa?”

“Katanya ia tak mencintai kekasihnya itu. Tak pernah sekalipun.”

DEG!

Tunggu. Firasat buruk apa ini? Kenapa aku merasa seperti Key yang dicintai Eun So. Tidak. Tidak mungkin. Key tak seperti itu, dan lagi Key pasti mempunyai alasan lain di balik putusnya hubunganku dengannya. Orang itu pasti bukan Key.

“Lalu, ia juga mengundangku ke acaranya bersama teman-temannya,” jelasnya. “Aku akan dijemputnya sekitar jam enam.”

“Oh, benarkah? Aku juga ada acara sekitar jam lima, mungkin”

“Eonni!” Ia berteriak sangat kencang hingga aku tersentak dari tempatku duduk. Anak ini, suaranya sangat keras. Dan lagi ia berteriak di dekat telingaku. Untung saja telingaku baik-baik saja. “Wae?”

Ia berdecak sebal. Apakah ada yang salah denganku? Tak ada ‘kan? “Ya! Katakan dengan jelas maksudmu!”

Ia tak menjawab. Eun So malah mengendikan bahunya ke arah meja kecil tempatku meletakan foto keluargaku. Ah, aku jadi merindukan kedua orang tuaku. Ya, Kim Yeon Ji! Sekarang bukan waktunya berpikir seperti itu. Aku harus tau apa maksud Eun So berteriak-teriak seperti tadi. Selain foto di sana juga ada jam kecil. Jam? Jangan-jangan…

“Omo! Jam lima kurang lima belas menit! Aku harus bersiap-siap,” ujarku setengah berlari. Saat ini aku sedang berlari menuju kamarku yang berada di lantai dua. Bagaimana bisa aku tidak memperhatikan waktu seperti ini? Biasanya aku selalu tepat waktu. Apa gara-gara buku yang kubaca tadi? Sialan!

***

“Noona baru kali ini terlambat. Apakah ada yang mengganggu pikiran noona?”

Taemin yang duduk di belakangku bertanya tentang alasan aku terlambat. Yah, kutau mereka telah menungguku terlalu lama.

“Noona tau bukan bagaimana sifat Jinki hyung? Tadi ia menekan klakson secara terus menerus hingga noona keluar. Beruntungnya para tetangga di sekitar rumah noona tak marah dan saat itu noona keluar sedikit cepat.”

Aku melirik Jinki yang sedang fokus menyetir menuju tempat yang dijanjikan. Ah, orang ini menyebalkan. Kupingku bisa panas tadi mendengar bunyi klaksonnya yang terdengar tak sabar. Ia juga tak minta maaf. Ah, bagaimana dulu aku pernah menyukainya ya? Dulu ia terlihat sangat keren di mataku. Sekarang? Tak perlu ditanya lagi.

“Maaf.”

Aku tersenyum tipis. Tapi aku cukup senang. Jinki meminta maaf padaku. Walaupun dengan nada yang sedikit tak iklhas. Ia seperti seorang cenayang. Ia seperti tau apa yang kupikirkan dan yang kurasakan. Atau bagaimana moodku sehari-hari. Walaupun yang terakhir ini ia tak bisa menebak. Malam ini aku akan bertemu dengannya lagi. Apakah ia akan menjelaskan tentang hubungan kami yang telah hancur ini? Tak tau…

***

Jinki berjalan ke kanan, lalu balik lagi ke kiri, dan begitu seterusnya. Sedangkan kami-aku, Minho, Jonghyun, dan Taemin-duduk menunggu sambil sesekali memainkan smartphone kami atau bercakap-cakap ria. Ketika aku melihat Jinki yang berjalan seperti itu, kerap kali membuatku berpikir apakah kakinya tidak lelah? Ia telah berjalan seperti itu sekitar tiga puluh menit.

“Oppa, duduklah. Aku yakin sebentar lagi ia akan datang,” ujarku sambil menepuk-nepukan tanganku di tempat kosong sebelahku. Ia memandangku sesaat lalu mendesah. Tapi ia akhirnya ingin menaati perintahku.

“Anak itu,” geramnya. “Apa gerangan yang terjadi? Apakah ia tak merindukanmu?”

Wajahku berubah sendu seketika. Tentu tidak oppa. Ia tak mungkin rindu padaku pada saat seperti ini. Secara tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Tubuhku kaku seketika ketika melihat siapa yang datang. Ini mimpi bukan? Ini tak mungkin nyata. Tidak!

Wajah Jinki berubah riang seketika. Ia langsung berdiri. Tapi saat ia hendak berjalan mendekat ke arah pintu. Wajahnya kaku seketika. Matanya membulat seperti tak percaya pada pandangan di depannya. Aku juga tidak percaya oppa!

Semua yang ada di ruangan itu-Jinki, Jonghyun, Minho, Taemin-menatap aku dan dia secara bergantian seolah meminta penjelasan. Orang yang berdiri di belakangnya juga menatap tak percaya.

“Eonni! Kau juga datang ke acara ini?” Orang di belakangnya menyapaku. Key berjalan acuh ke arah Minho dan Taemin.

“Eun So-ya…” ujarku lemah. Tak mungkin bukan jika pacar baru Key itu Eun So? Tidak mungkin.

“K-kau, kenapa ada di sini?” Jariku mengacung menunjuk pada dirinya. Ia menatapku heran.

“Aku? Tentu saja karena diundang olehnya.” Jari Eun So naik terangkat dan bergerak perlahan menuju seseorang. “Ia kekasih baruku itu.”

DEG!

Tubuhku menegang seketika. Rahangku mengeras. Lidahku tiba-tiba menjadi kelu, tak mampu berkata apa-apa. Nafasku seperti tercekat di tenggorokan. Mataku semakin lama semakin memanas.

Tidak!

Aku segera bangkit. Kakiku bergerak cepat menuju pintu. Pintu itu sekarang menjadi penyelamatku. Tanganku terhenti ketika aku hendak memegang kenop pintu. Aku memutar badanku ke arah samping kananku. Mataku meandang matanya yang tajam namun penuh kasih sayang itu. Wajahnya yang tampan tak pernah kehilangan pesonanya walau ia sudah menyakiti hatiku beberapa kali. Ia terlalu sempurna.

“Sebelum aku lupa, aku akan mengatakan ini,” Aku menghela nafas sesaat. “Selamat Ulang Tahun, Kibum-ssi…”

Selesai sudah. Tanganku memegang kenop pintu. Aku segera membukanya dan keluar secepat yang aku bisa. Aku tak perlu menutupnya lagi. Aku segera berlari sekuat yang aku bisa. Aku tak bisa menahannya lagi. Wajahku sudah penuh dengan bulir-bulir kristal yang menunjukan kelemahan. Aku tak suka mengeluarkannya. Tapi apa daya semua sudah terjadi. Tak ada yang bisa mengembalikan waktu.

***

Maybe it’s our destiny
Nobody can change it
I just want one thing
Don’t hate me
Just be my friend

***

Setelah Yeon Ji keluar dari ruangan. Jinki mencengkram kerah baju Key. Wajahnya merah menahan amarah.

“Kau!” Katanya geram. “Apa yang kau lakukan padanya?!”

Cengkraman di kerah Key semakin mengerat. Tapi wajahnya hanya tenang. Seakan yang ia lakukan benar adanya. Matanya menatap sendu mata Jinki yang penuh amarah.

“Hyung, aku tau yang kulakukan ini benar…”

Jinku semakin geram dibuatnya. Nada bicaranya semakin naik, “Benar apanya?! Kau bodoh! Ia sangat mencintaimu!”

Key menghela nafas sesaat. “Aku tau. Tapi saat itu aku juga menyadari jika ia terlalu sempurna. Aku takut…aku takut jika suatu saat aku tak bisa menjaganya. Aku tak mau menyesal di masa depan, hyung. Aku yakin, aku yakin jika akan ada yang cocok untuknya. Takdirku bukan untuk bersamanya.”

Rahang Jinki mengeras. Ia tak tau harus berkata apa lagi pada sosok di depannya ini. Apakah sosok di depannya ini tak bisa menyadari jika mereka berdua adalah jodoh?

“Hyung.” Taemin menepuk pelan pundak Jinki. Dengan matanya yang memancarkan ketenangan, ia menenangkan Jinki. Jinki mengalah. Ia mengendurkan cengkramannya. Ia berdiri. Sebelum pergi, ia menatap Key sekilas. Tatapannya melunak. “Kau bodoh! Semua tau bahwa ia adalah jodohmu!”

Setelah mengatakan itu Jinki berjalan ke arah pintu. Membukanya dengan perlahan. Dan keluar dari ruangan.

Key menatap ke arah pintu yang menjadi jalan keluar bagi dua orang yang sangat disayanginya. “Tidak, hyung. Aku bukan takdirnya…”

***

I don’t want to lost our friendship because our love
I know and believe that friendship is more important than love
So, don’t live me alone

***

Sejak kejadian tersebut Jinki dan Key, maupun Yeon Ji tak pernah saling bertemu dan menyapa. Jika bertatapan muka yang mereka lakukan hanyalah memalingkan muka dan berusaha tak melihat. Yeon Ji tak lagi masuk ke dalam lingkaran persahabatan mereka. Jinki memiliki masalah tersendiri dengan Key. Ia merasa sangat marah melihat Yeon Ji terpuruk seperti itu.

Tapi sepertinya hari ini berbeda. Sosok Jinki dan Key terlihat sedang duduk bersama di salah satu bangku di taman belakang sekolah. Tak ada yang memulai percakapan satu sama lain. Hanya ada kebisuan yang mencekam.

“Maaf. Untuk kejadian yang lalu. Aku tau aku telah menyakitinya. Aku tau aku telah membuatnya merasakan sakit yang amat sangat. Tapi aku menyadari jika aku bukanlah takdirnya. Jadi sampai kapanpun aku tak akan mengubah pilihanku ini maupun menyesal atasnya.” Key menatap Jinki dengan matanya yang tajam. Wajahnya tenang dan yakin atas kata-katanya tadi.

Jinki hanya bisa menghela nafas pasrah. “Aku juga minta maaf saat itu aku terlalu kasar padamu. Aku hanya ingin kau sadar jika ialah takdirmu. Tapi karena kau sangat yakin dengan pilihanmu. Maka, tak ada yang bisa kuubah.”

Key tersenyum. “Jadi tak ada permusuhan diantara kita lagi bukan?”

Jinki memberikan senyumnya yang paling indah. Ia mengangguk sebagai jawabannya.

“Jangan lupa, aku juga minta maaf.”

Sebuah suara mengejutkan Jinki dan Key. Keduanya sontak menolah ke arah belakang mereka.

“Yeon Ji-ya!”

Yeon Ji tersenyum manis lalu berjalan ke arah mereka. “Aku juga meminta maaf. Setelah kupikirkan baik-baik mungkin yang dikatakan Key oppa itu benar. A-aku merasa bahwa mungkin…a-aku bukan takdirnya.”

Jinki segera berdiri. Ia segera memluk Yeon Ji yang hampir mengeluarkan air mata.

“Kau bodoh! Kau tak perlu berkata seperti itu! Aku tau kau sangat mencintainya.”

“Tidak! Tidak..”

Jinki tersentak. Ia melonggarkan pelukannya pada tubuh Yeon Ji.

Yeon Ji mengusap air matanya dan memandang keduanya dengan tatapan sendu. “Aku menyadari bahwa persahabatan lebih dari apapun. Aku tak ingin kehilangan kalian. Dan aku sangat senang saat kalian tadi berdamai. Aku mohon berdamailah hingga akhir hidup kalian. Aku tak ingin kalian seperti ini lagi karena diriku yang egois ini. Dan Key oppa, mungkin kau benar jika aku bukanlah takdirmu. Perdamaian dan kasih sayang diantara sahabat lebih penting dari apapun.”

***

FIN

Author Note :
Halo para reader sekalian. Maaf kalo Fanfic ini bikin reader ga suka. Sebenarnya saya sudah membuat Fanfic ini dari Agustus akhir. Ternyata temanya ditentukan. Jadi bagian akhirnya agak ga nyambung gitu. Soalnya ga punya ide tentang perdamaian. Maaf kalo reader sekalian ga puas. Atau mungkin Fanfic ini meleset jauh dari temanya. Pokoknya komen aja. Saya butuh kritik tentang penempatan tanda baca. Karena saya tidak terlalu bisa menulis dengan tanda yang tepat. Sekali lagi, terima kasih telah membacanya ^^

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

7 thoughts on “[Keyday Special] Friendship

  1. eh, si Jjong gk ada.

    udah nebak siy, cow yg diceritain Eunso itu Key.

    waktu Jinki-Key berantem, si Eunso-nya kemana?

    beruntungnya Yeonji punya sahabat spt Jinki. Jodohin aja mereka..😉

  2. napa yeon ji g ma jinki ja? kayakna cocok tuh mereka…. hehehe…
    wahh.. key bener2 deh.. tapi ya udahlah.. emang persahabatan tuh lebih penting daripada keegoisan..
    SHINee jjang!! key oppa, saengil chukkae……😉

    1. Terima kasih ke reader yang sudah komen
      Saya hargai komennya…
      Bener bener bangkitin semangatku lagi, walau aku tau ini FF paling jelek

      Saya lagi pingin tambah dekat dengan reader sekalian
      mungkin kllian semua jauh lebih tua dari saya

      Follow my twitter: @AudreyLovina_

      Thank’s…

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s