Beautiful Stranger [Chapter Thirteen]

Beautiful Stranger

SENA

AKU kembali ke ruang tv setelah mengisi setengah mangkuk air hangat dan duduk di samping Appa yang masih terbaring lemah di atas sofa. Perlahan-lahan ia membuka matanya, bersusah payah melawan rasa sakit karena bengkak di sekitar mata. Entah kenapa tiba-tiba aku mulai menangis, tidak dapat dicegah meski sebenarnya hatiku menolak keras untuk menangis, tapi air mata meluncur deras begitu saja. Tersedu-sedu sambil mencengkeram erat handuk kecil di tangan. Aku meluapkan semua perasaanku melalui tangisan. Hubunganku dengan Jinki yang tak pernah membaik, pernikahan dengan Kris yang tak diinginkan, munculnya Eomma dan mendapati kenyataan bahwa ia tidak berubah, juga penganiayaan terhadap Appa, ini semua benar-benar sudah di luar kemampuanku. Aku sudah muak dengan hidup seperti ini. Semua masalah kian memburuk, tidak ada titik terang sama sekali.
Continue reading Beautiful Stranger [Chapter Thirteen]