Beautiful Stranger [Chapter Thirteen]

Beautiful Stranger

SENA

AKU kembali ke ruang tv setelah mengisi setengah mangkuk air hangat dan duduk di samping Appa yang masih terbaring lemah di atas sofa. Perlahan-lahan ia membuka matanya, bersusah payah melawan rasa sakit karena bengkak di sekitar mata. Entah kenapa tiba-tiba aku mulai menangis, tidak dapat dicegah meski sebenarnya hatiku menolak keras untuk menangis, tapi air mata meluncur deras begitu saja. Tersedu-sedu sambil mencengkeram erat handuk kecil di tangan. Aku meluapkan semua perasaanku melalui tangisan. Hubunganku dengan Jinki yang tak pernah membaik, pernikahan dengan Kris yang tak diinginkan, munculnya Eomma dan mendapati kenyataan bahwa ia tidak berubah, juga penganiayaan terhadap Appa, ini semua benar-benar sudah di luar kemampuanku. Aku sudah muak dengan hidup seperti ini. Semua masalah kian memburuk, tidak ada titik terang sama sekali.

Appa menggenggam tanganku, seperti sedang mentransfer kekuatan, tiba-tiba saja tangisku mereda.

“Senang melihatmu menangis, Sena-ya,” ujarnya lemah. “Aku selalu khawatir karena kau tidak pernah menampakkan emosimu di hadapanku.”

Air mataku kembali meleleh.

“Maaf, Appa, aku bohong. Hubunganku dengan Eomma sangat buruk.  Kami menjadi tidak akur semenjak ia menikah lagi. Ia melepas tanggung jawabnya sebagai seorang ibu ketika aku masih delapan tahun sehingga merasa menjadi sebatang kara di umur yang masih sangat muda. Untuk itulah aku tumbuh menjadi anak yang seperti ini, anti-sosial dan pemarah.”

Ia tersenyum. “Aku sudah lama tahu. Sekitar empat tahun lalu seorang anak kemari mencarimu, namanya Kevin Li, ia memperkenalkan diri sebagai teman dekatmu dan menceritakan semuanya tentang kehidupan barumu di Kanada. Itulah mengapa aku sangat senang ketika kau memutuskan untuk kembali kemari. Rumahmu adalah tempat sebaik-baiknya bagimu.

Maafkan aku, Sena-ya, semua ini salahku. Kalau saja dulu tidak terjadi kesalahpahaman, semuanya tidak akan menjadi seperti ini. Kau menjadi korban dari kelalaianku di masa lalu, maafkan aku. Tapi aku bersumpah, tidak pernah melakukan perselingkuhan dengan siapapun, semua ini salah paham. Aku tidak diberi kesempatan oleh ibumu untuk menjelaskan semuanya. Dulu ia memergokiku tengah bertemu dengan seorang wanita di sebuah hotel, yang kulakukan bukan selingkuh, tapi aku sedang meminta bantuan teman yang bekerja di sana untuk mendapatkan kamar terbaik dengan harga yang tidak terlalu mahal. Kebetulan temanku perempuan dan ibumu salah paham. Padahal aku bermaksud memberikan kejutan untuk ulang tahun pernikahan kami yang ke-9. Tapi semuanya luruh dalam kesalahpahaman. Ia menggugat cerai tanpa memberi kesempatan untukku menjelaskan semuanya. Kau mengulang hal yang sama seperti ibumu ketika meninggalkan Kevin begitu saja tanpa memberinya kesempatan untuk bicara. Kalian sangat mirip―”

“―jangan samakan aku dengannya! Kami sangat berbeda. Aku tidak akan pernah menelantarkan dan menganiaya anakku sendiri di masa depan hanya karena alasan konyol,” potongku marah.

“Aku mengerti perasaanmu, tapi bagaimanapun dia tetap ibumu.” Appa tersenyum lembut, aku mulai membersihkan darah kering di sekitar hidung dan sudut bibirnya. Kemudian ia melanjutkan, “Suami ibumu tak tahu kalau ibumu datang ke Seoul, ia pikir untuk menemuiku padahal ibumu kemari untuk menemui adik tirimu. Itulah mengapa ia kemari dan menanyakan ibumu, kubilang tak tahu dan ia tidak percaya. Dia pikir aku menyembunyikannya, untuk itulah ia menghajarku. Tak lama kemudian ibumu datang dan terkejut melihat kami. Ia tak bisa menghentikan suaminya hingga lari keluar untuk meminta bantuan. Tapi ternyata ia kembali bersamamu…”

Tapi dia tidak seperti sedang mencari bantuan, ia bahkan mengancamku akan kehilangan orang yang kusayangi. Aku benar-benar tidak mengerti. Aku yakin sekali Appa tidak berbohong hanya untuk sekedar menyelamatkan citra Eomma di mataku. Ia mengatakan yang sebenarnya. Tapi kenapa Eomma harus berakting seperti itu?

“Aku lelah ingin tidur. Kau bisa ke kamar sendiri atau mau kubantu?”

“Tidak apa-apa, aku tidur di sini saja. Kau istirahat yang cukup,” ujar Appa sambil menarik selimut dari ujung kakinya. Aku bergegas menaiki tangga namun Appa kembali memanggil, “Sena-ya, beberapa hari yang lalu ibu anak itu kemari, dia meminta izin supaya kau mau dinikahkan dengan putranya.”

Aku mengerutkan dahi. “Mama,” lirihku.

“Boleh aku menyuarakan pendapatku? Mungkin Kevin lebih tinggi dan tampan tapi aku lebih nyaman dengan Jinki. Tapi aku menghormati pilihanmu. Err… ya… selamat tidur.”

Jantungku berdebar tidak wajar setiap nama Jinki disebut. Bayangannya kembali muncul di pikiran. Padahal beberapa saat sebelumnya aku sudah benar-benar lupa. Kejadian di perusahaan tadi kembali memenuhi pikiran. Ah sial, mungkin tidur bisa membuatku lebih baik.

***

Sabtu pagi. Aku agak sedikit santai hari ini, EXO masih melaksanakan kewajiban mereka untuk berlatih tanpa henti mempersiapkan comeback. Yang dibutuhkan hanya manajer, para coordi mendapat jatah libur hari ini setelah beberapa minggu hampir tidak tidur karena sibuk mendesain dan membuat pakaian untuk konsep baru.

Setelah kejadian beberapa hari lalu, akhirnya Appa sudah bisa bicara normal. Otot-otot di wajahnya tidak lagi bengkak juga lebam, semuanya sudah sangat membaik. Aku juga mulai bangkit, tidak lagi tenggelam dalam kesedihan.

Semalam Kim Jira menghubungiku, ia mengajakku keluar hari ini, semacam girls day out. Sudah bisa ditebak, tipe gadis seperti dia pastinya penggila belanja atau salon. Aku tidak tertarik kalau begitu. Aku lebih memilih ke taman bermain untuk menghilangkan stres.

Aku merapikan tatanan rambut. Ya, aku tahu ini sangat tidak wajar melihat bagaimana diriku menggunakan make up dan menata rambut habis-habisan saat akan bepergian dengan sesama perempuan. Tapi ini harus! Kim Jira sangat-sangat-sangat cantik, aku hanya tidak ingin dianggap asistennya selama berjalan di sampingnya. Dan yang mengejutkan adalah ada perasaan tidak ingin kalah cantik darinya, aku sendiri tidak tahu kenapa.

Terdengar suara klakson mobil di luar, aku pamit pada Appa dan keluar. Jendela kaca mobil perlahan-lahan terbuka, Jira melambai dari dalam mobil. Aku membalasnya saat membuka pagar dan segera melompat masuk ke dalam mobil. Benar dugaanku, Jira hari ini luar biasa cantik, jadi sangat dibenarkan jika aku sedikit bersolek hari ini. Rambutnya sudah tidak lagi merah melainkan cokelat gelap. Ia mengubahnya karena Minho juga melakukannya untuk persiapan comeback. Maniak sekali!

“Kita mau kemana?” tanyaku.

“Ke tempat menyenangkan!” sahutnya luar biasa girang.

Aku memutar bola mata. “Ada banyak tempat menyenangkan di kota ini. Mau kemana kita tepatnya?”

“Lihat saja nanti. Eonni pasti suka.”

Yeah. Whatever.

***

JINKI

Hyung, kau kalah main game semalam. Mana janjimu untuk traktir?” Minho masuk ke kamarku dan terjun ke kasur begitu saja.

“Ya nanti,” jawabku malas. Tapi dia mencengkeram lenganku kuat-kuat dan menarikku supaya turun dari kasur.

“Sekarang!”

Aku menatapnya tak percaya, baru kusadari kalau dia benar-benar sudah siap. Rambut barunya yang lebih pendek tertata rapi, jaket sudah dikenakan, tubuhnya juga sangat wangi.

“Mau kemana?”

“Traktirnya hari ini.

“Ap― tidak, nanti saja!” tolakku sambil kembali melompat ke atas kasur, tapi lagi-lagi Minho berhasil mengangkatku dan menjatuhkanku ke lantai. Anak ini benar-benar minta dibantai. Ia bahkan menyeretku keluar kamar.

“Pokoknya traktir aku sekarang!” seru Minho.

Namun di ambang pintu si Bungsu telah menunggu, ia menyilangkan kedua lengannya di depan dada. “Tanpaku?” tuntutnya. Minho memutar bola matanya dan memasang ekspresi ‘ingin buang sampah’. Ia mendorong lembut bahu Taemin dan masih menyeretku, kami melewati pintu. Taemin protes, “HYUNG! Aku sudah besar, masukan aku dalam daftar pembicaraan antar laki-laki juga!”

“Tidak,” tolak Minho.

“Aku sudah 21 tahun!”

“Tidak sekarang, Lee Taemin―”

“Kenapa?!”

Aku malas berdebat dengan Taemin. Anak itu mulai melawan dan sangat suka adu argumen semenjak tumbuh dewasa. Kadang aku merindukan bocah polos berambut jamur. Tapi bukan berarti saat ini ia sudah tidak polos, kepolosannya itu bersifat abadi. Otaknya masih seperti kertas kosong―yeah, kecuali bagian kebiasaan barunya mengoleksi film dewasa semenjak umurnya legal.

Minho memberikan kode pada Kibum supaya bisa menaklukannya. Aku dan Minho keluar dorm tepat di saat Kibum sedang membujuknya, seperti seorang ibu merayu anaknya yang nangis tidak boleh ikut bermain kakak-kakaknya. Ini agak kejam sebenarnya.

“Tidakkah kau keterlaluan, Minho?” tanyaku saat kami sudah sampai di lobi apartemen. “Kasihan Taemin, lagipula aku masih mampu membayar makan kalian berdua.”

“Itu bukan poin utama, Hyung, aku butuh waktu berdua denganmu.”

Aku mengerutkan dahi dan bergidik ngeri.

“Maksudmu kencan? Kita?”

Minho tertawa. “Jangan pasang ekspresi jijik! Aku masih normal. Jira tetap alasanku untuk bertahan hidup.”

“Jangan mulai sok romantis. Itu menjijikkan!”

Aku menepis tangan Minho yang akan memeluk bahuku. Tapi beberapa detik kemudian kami tak berhenti tertawa sepanjang jalan.

SENA

Aku dan Jira keluar dari mobil setelah menempuh perjalanan kurang lebih sepuluh menit. Ia menuntunku masuk ke dalam gedung bioskop. Ia sudah memiliki tiket jadi kami langsung masuk ke dalam tanpa perlu mengantri panjang di tempat pembelian tiket. Kami duduk berdampingan dan ini sangat awkward! Pergi berdua dengan seorang perempuan yang belum terlalu dikenal, ini seperti blind date, aku merinding membayangkannya. Juga jijik.

Apa yang ada di pikiranku saat ini? Aku pergi dengan seorang wanita yang dicintai oleh pria yang kucintai. Ini mengenaskan. Lebih mengenaskan lagi jika mengingat kejadian malam lalu. Jinki benar-benar membenciku, dia bahkan tidak mengejarku saat itu. Oke, mari lupakan permasalahan itu dan nikmati hari ini.

Lampu padam, layar putih telah berubah menjadi penuh warna, film akan segera dimulai.

Jira memberiku satu popcorn dan dua minuman ketika seorang petugas masuk membawakan pesanan kami. Ia juga menaruh minuman di kursi sampingnya. Aku mengerutkan dahi, “Jira-ya, kenapa kau memesan empat minuman? Aku bukan unta, begitupula kau.”

Jira tergelak.

“Anggap saja mentraktir dua orang yang duduk di samping kita nanti.”

“Siapa?”

Ia menjawab dengan menaikkan bahu pertanda tidak tahu. Hei, aku tidak sedang pergi dengan pengidap gangguan jiwa ‘kan?

JINKI

Hyung, kita nonton dulu sebelum makan.”

Aku menatapnya dingin. “Aku hanya janji mentraktirmu makan, bukan ke bioskop, Choi Minho!”

“Tenang, aku sudah punya tiketnya. Aku mentraktirmu nonton, kau mentraktirku makan. Impas ‘kan?” Minho mengibas-ngibaskan kedua tiket di depan wajahku dan aku melihat satu kejanggalan.

“Hei, kenapa nomor seatnya tidak sebelahan?”

“Mmm… itu… a-aku terlambat pesan. Kursi yang tersisa hanya ini.”

“Kenapa masih bersikeras ingin nonton kalau sudah tahu kursinya terpisah?! Aku tak mau duduk di samping orang asing.”

Minho mengaleng bahuku. “Kau sudah cukup tua, jangan pertua wajahmu dengan marah-marah seperti ini. Kalau hyung sedih berpisah denganku, kita bisa minta pengunjung lain untuk bertukar posisi. Ah ya, ini kan acara kencan kita, jadinya harus selalu bersama. Iya ‘kan?”

“Sial. Ini menjijikkan!” umpatku sambil mendorong Minho menjauh dariku.

Taksi berhenti di depan sebuah pusat perbelanjaan, aku dan Minho yang sudah lengkap dengan kostum penyamaran memasuki gedung dan menaiki lift. Bioskopnya ada di lantai paling atas. Sudah agak sepi ketika kami memasukinya. Semenjak debut aku memang sudah terbiasa tidak menonton bagian awal film karena status selebritiku. Harus menunggu lampu mati agar bisa masuk ke ruang teater dengan tenang. Awalnya semua baik-baik saja karena aku masih terlalu excited baru menjadi selebriti, tapi sekarang… repot! Aku jadi harus mengunduh ulang film-film yang sudah kutonton hanya demi melihat bagian awal cerita. Oh crap!

Minho menyerahkan tiket pada petugas cantik, tapi gadis seksi itu tidak membuatku tertarik. Aku masih normal, tolong garisbawahi itu, bagian tidak normalnya adalah: Kim Sena menjajah seluruh pikiran dan hatiku. Meski menjijikkan kedengarannya, tapi itu fakta yang tak dapat dibantah. Aku kalah… bendera putih berkibar mencuat dari tempat jantung. Oke ini berlebihan. Hanya orang berhati murni yang bisa melihatnya. Oke oke oke, aku diam.

.

.

.

Tidak, aku tidak bisa diam. Bayangan Sena menggelayut manja di hatiku membuatku setengah senang dan setengah ngeri. Pasalnya, ia tidak akan melakukan itu. Dia bukan tipe gadis yang senang bermanja-manjaan sepertinya. Wajah galaknya tidak pantas melakukan hal semacam itu. Aku jadi merinding sendiri membayangkannya.

“Aku di sana, kau di sini,” bisik Minho membuyarkan lamunan. Ia menekan kedua bahuku supaya aku duduk di kursi yang ia tunjuk, sedangkan ia terus melangkah melewati dua kursi dariku.

Aku manut. Aku duduk. Aku diam. Hening.

Yang terdengar hanya suara keras audio dan tarikan napas seseorang di sampingku. Sekedar informasi, aku duduk di ujung deretan seat. Jadi hanya bersebelahan dengan seseorang di sisi kanan. Tega sekali si Minho.

Kurasa yang duduk di sampingku ini perempuan, dia tak henti menutupi pahanya dengan tas karena mengenakan rok pendek. Aku hanya memutar bola mata. Beginilah para wanita, ingin mengenakan pakaian minim tapi tak berhenti membuat gerakan-gerakan risih untuk menutupinya. Kenapa tak sekalian saja pakai baju besi?! Aish, menjengkelkan. Mataku jadi tak fokus pada film.

Di kursiku sudah tersedia minum, kupikir itu milik perempuan di sampingku, tapi ternyata dia sudah punya begitupula dengan Minho di ujung sana. Ngomong-ngomong mulutku gatal ingin sekali mengobrol dengan si makhluk visual itu, tapi dua orang yang memisahkan kami ini sepertinya tidak akan mau bertukar tempat duduk karena film sudah mau habis. Jadi dari mana saja kau, Lee Jinki, film akan habis baru terpikirkan ingin bertukar tempat duduk.

SENA

Aku ingin cepat-cepat keluar dari sini. Tidak nyaman sekali dengan orang di sampingku ini. Dia tak berhenti mengarahkan matanya ke pahaku. Sialan!

Tadi aku sempat membayangkan seandainya Jinki ada di sini. Tapi aku tak berani berharap jauh, tak berani membayangkan kalau dia akan menghajar pria itu demi membelaku. Jinki membenciku, aku harus sadari itu, dan dia masih mencintai Kim Jira. Dua hal itu seharusnya cukup menamparku habis-habisan, tapi upayaku untuk tahu diri selalu tidak berhasil, ini sangat melelahkan.

Film belum usai, tapi Jira sudah berdiri dan menggamit tanganku untuk segera meninggalkan ruang teater. Aku pasrah mengikutinya. Di depannya juga ada seorang pria tinggi yang juga ikut keluar, dan aku bisa merasakan pria yang duduk di sampingku juga ikut bangkit serta berjalan di belakangku.

Sesampainya di luar, Jira masih tidak berhenti menyeretku hingga akhirnya kami memasuki sebuah café. Ia memesan meja terpencil di sudut ruangan dengan dua kayu pembatas setinggi Kris menutupi. Kenapa harus di tempat se-privat ini? Dia benar-benar membuatku takut.

“Nah, akhirnya…,” desahnya.

Aku masih diam memperhatikan gerak-gerik Jira yang terlihat buru-buru mengetik sesuatu di ponselnya.

Tak lama kemudian Minho datang dari balik pembatas kayu tinggi di sampingku. Ia segera menghambur Jira sedangkan aku hanya terbengong-bengong melihat siapa yang ada di belakangnya. Yep, Lee Jinki.

Happy double date~” ujar Minho dan Jira bersamaan. Seketika suasana menjadi canggung.

Hyung, selama nonton tadi seseorang yang duduk di sampingmu itu adalah Sena-noona. Begitupula sebaliknya,” kata Minho.

Mental breakdown!

Jadi pria yang menatap pahaku tiada henti itu adalah Lee Jinki?! How pervy!

Aku buru-buru bergegas pergi dari sana namun Jinki menahanku. “Mau kemana? Mereka sudah susah payah merencanakan ini semua, jangan hancurkan jerih payah mereka!”

Kutarik tanganku hingga terlepas dari cengkeramannya. Bukan terharu saat ia melarangku pergi, tapi kesal. Dia begitu peduli pada Jira yang telah merencanakan ini semua. Aku yakin hanya Jira yang melakukannya karena Minho sangat sibuk.

“Ayo, Jira, biarkan mereka memiliki waktu berdua!” Minho menarik lengan Jira lembut dan menggiringnya ke pintu keluar. Jinki dan aku hanya diam tak tahu harus berbuat apa. Aku akan menunggu hingga mereka menghilang, setelah itu pergi dari sini.

Ketika akan melangkahkan kaki, Jinki kembali menarik tanganku.

“Lepaskan!” seruku.

“Sudah kubilang jangan kecewakan mereka!”

“Mereka atau hanya Kim Jira?!” teriakku lepas kendali. Rasa cemburu yang telah lama kupendam membuncah begitu saja. Dadaku naik-turun menstabilkan napas ketika emosi meledak. Jinki sedikit terkejut dengan responku.

“Kau ini kenapa?” tanyanya tanpa ekspresi. Benar-benar tidak peka!

“Aku mau pulang!”

“Jangan,” Jinki menarik tanganku lagi, “Kita pergi berdua saja.”

Jantungku berdebar keras. Telingaku tidak salah dengar ‘kan? Kata-kata “berdua saja” sudah mewakili semua hal yang paling kuinginkan di dunia ini. Aku mau, Lee Jinki, aku takkan menolak. Tentu saja.

Well, kami terdampar di pinggir sebuah danau beku. Duduk berdua berdampingan di atas sebuah bangku taman yang dingin dengan latar belakang pohon-pohon tinggi yang rimbun dengan salju. Aku tidak peduli menggigil kedinginan dengan rok minim seperti ini, yang terpenting adalah siapa yang ada di sampingku.

Sebelumnya Jinki membelikanku sekaleng kopi panas sehingga aku bisa mendekapnya untuk mengurangi rasa dingin. Lima belas menit duduk di sini tanpa dialog. Membosankan bagi sebagian orang, menurutku tidak, menyenangkan asal bersamanya. Baiklah aku sudah sangat gila. Ini bukan Kim Sena sekali!

“Aku benci hidupku,” celetuk Jinki. “Lama-lama lelah juga menjadi selebriti. Saat rehat bulan lalu aku sempat berpikir untuk menyerah.”

Aku menatapnya tak percaya.

You hate your life while some people are dreaming of having your life?! Itu bodoh!” Aku berdiri menghadapnya. “Banya orang yang mempertaruhkan segalanya demi bisa sepertimu. Kau berbakat! Bisa menyanyi sambil menari, berakting, DJ, MC, komedian, kau bisa segalanya. Kau hebat! Jangan memperlihatkan kelemahanmu pada siapapun, kau seorang leader. Jangan menyerah hanya karena kau merindukan kehidupan ‘biasa’. Banyak pria-pria di luaran sana yang sangat berharap bisa sepertimu.”

Jinki terperangah melihatku.

“Begitu menurutmu?” Aku mengangguk. “Tapi aku sangat kecewa dengan diriku sendiri.”

“Apa yang membuatmu kecewa?”

Dia termenung. Tidak menjawab dalam sepersekian detik. Hanya menatapku lembut yang mungkin bisa saja membuatku mati meleleh.

“Ada hal yang belum bisa kukatakan sekarang. Err, Sena, apa yang kau lakukan selama aku tak ada?”

“Kerja. Memangnya apa lagi.”

Jinki berdiri dan berjalan menyusuri pinggiran danau.

“Apa yang kau pikirkan selama aku menghilang?”

“Kerjaan.”

“Yang lain?”

Kau! Kau! Kau! Itu jawaban pasti dari seluruh pertanyaanmu. Aku ingin berlari ke punggungmu dan memeluknya. Tapi gengsi yang tinggi meredam keinginan itu. Aku takut kau menolak.

“Tidak ada.” Akhirnya aku menjawabnya seperti ini.

Tiba-tiba dia berbalik dan menatapku dengan tatapan menusuknya. Aku takut, namun detik berikutnya aku bisa merasakan ada tangan yang menggenggam erat tanganku. Ia memasukkan tangan kami ke dalam saku coat-nya. Hangat.

Jantungku berdebar kencang. Pipiku juga sepertinya sudah sangat memerah. Jinki terus menuntunku berjalan mengelilingi taman. Kami saling terdiam, komunikasi dilakukan hanya melewati sentuhan tangan kami yang saling menaut.

“Sudah lama aku mengharapkan hal ini terjadi. Sangat berterima kasih sekali dengan kejahilan Minho dan Jira.”

BLAH! Jantungku benar-benar meledak sekarang. Tolong katakan dengan rinci kalau kita memiliki perasaan yang sama!

“Maksudmu?”

“Aku senang bisa memiliki waktu berdua denganmu seperti ini.”

GODBLESS KIM SENA! Rasanya ingin sekali menyalakan bom di dadaku agar euforianya lebih terasa. Astaga, aku mencintaimu, Jinki.

“Aku juga,” kataku, membuat Jinki menoleh dan mengembangkan senyumnya.

Namun tiba-tiba ponselku berdering. Aku berdecak kesal.

“Angkat saja,” ujar Jinki.

Aku berjalan menjauh darinya dan menjawab panggilan telepon. Dari Kris. Mengganggu saja.

“Sekarang?” tanyaku. “Tidak bisa, aku sedang ada acara. Kris, tolong… Nanti malam saja kita bicarakan lewat telepon. Tidak bisa? Kenapa? Iya, baiklah, aku ke sana sekarang.”

Jinki sudah berdiri di belakangku. Ia tersenyum lembut.

“Kenapa?” tanyanya.

“A-aku harus pergi sekarang. Maaf.”

“Tidak apa-apa, pergilah. Mau kuantar?”

“Tidak usah. Biar aku pergi sendiri. Terima kasih untuk hari ini, Jinki-ya, tempat ini sangat indah. Aku suka.”

“Ya. Hati-hati.”

JINKI

Aku jalan menghampirinya dan kembali menggamit tangannya. Memuja kelembutan dan keindahan tangan cantik itu sambil tak henti memandangi pemiliknya. Kecantikannya sangat patut dikagumi. Ini pertama kalinya dia menggunakan make up dan mengenakan pakaian seperti ini. Beruntungnya aku dihadapkan dengan makhluk indah ini. Jika ini adalah mimpi, aku tidak mau bangun. Jika ini adalah surga, aku tak ingin kembali, biarkan aku mati seperti ini.

“Jinki, aku harus pulang,” pamitnya. Hanya empat kata namun mampu membuatku kecewa seperti mau mati.

“Kenapa? Ada masalah?”

“Tidak tahu, makanya aku harus pulang.”

“Ya sudah aku antar…”

“Tidak usah!” tolaknya buru-buru, aku jadi semakin bingung dan sedikit curiga. “Aku pulang sendiri saja.”

Aku mengangguk. “Berpisah di sini?”

“Ya.”

Aku menarik tangannya hingga tubuhnya jatuh di pelukanku. Aku mendekapnya erat dan membisikkan, “Jangan bertengkar lagi. Mulai sekarang kita seperti ini…,” yang dibalas anggukan darinya. Ia tersenyum manis sekali. Seketika wajah bengisnya menghilang digantikan dengan aura malaikat. Aku pastilah sudah gila.

“Aku pergi.”

“Hati-hati.”

Sena melepaskan diri dari dekapanku. Aku membiarkannya pergi hingga jarak kami terpaut sangat jauh. Dari sini bisa kulihat ia tak henti berbicara dengan teleponnya. Tanpa kusadari kakiku melangkah, mengikutinya dari belakang. Ia menaiki bus, aku mengikutinya dengan taksi. Setelah melewati beberapa halte, Sena berhenti di halte keempat. Aku masih setia membuntutinya.

Ia masuk ke sebuah kawasan apartemen dan terus berjalan ke samping gedung, berdiri bersandar ke dinding. Tangannya menekan-nekan layar ponsel dan melakukan panggilan telepon.

Dari arah belakang seseorang muncul. Jantungku mencelos. Itu Kris…

Selama beberapa menit mereka terlibat pembicaraan serius. Kris terlihat begitu marah, ia diam dan memunggungi Sena.

Sena-ku itu―entah kenapa aku jadi ingin memanggilnya seperti ini―berjalan mendekatinya. Yang membuatku sangat terkejut adalah ia memeluk Kris. Di mana si Raksasa itu berbalik dan mencium bibir Sena. SH*T!!! Sial! Sial! Sial! Tanpa sadar aku mengepalkan tangan dan memukulkannya ke pohon terdekat. Sangat keras hingga beberapa ranting berjatuhan. Amarahku memuncak.

Apa yang kau lakukan, Kim Sena? Kenapa kau menyambut pelukanku kalau begini akhirnya? Tidak seharusnya kau mengatakan “aku juga” saat aku mengungkapkan isi hati. Tidak seharusnya kau tersenyum manis padaku. Tidak seharusnya kau mengangguk ketika kubilang mulai saat ini kita akan terus bersama kalau kau masih mencintai Kris.

Pada akhirnya Lee Jinki memang seperti ini. Dipatahkan begitu saja oleh seorang gadis…

 

…to be continued…

 

# Hello~~~ Terima kasih buat yang masih setia nunggu dan kasih komentar. Maaf nggak bisa bales satu-satu. Tapi percayalah saya tahu kalian ada dan baca semua komentar tanpa terlewat😉

©2011 SF3SI, Diya.

sf3si-signature-diya

Officially written by Diya, claimed with her signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

80 thoughts on “Beautiful Stranger [Chapter Thirteen]

  1. apppaaaaiiinnniiiiii Diya…..!!!!
    Mau buat aku nangis?
    Baca ini sambil dengerin Selene….
    tambah miris…
    Kenapa Sena begitu?
    Aku berharap banget kalo mereka bisa lbh terbuka di Part ini,
    tapi ternyata nggak.
    Kalo dipikir, nggak apa2…..
    Gregetnya bisa kesimpen ampe akhir part….
    Tapi aku bener2 bingung sama Sena

    Rasanya pengen juga mijitin papanya Sena…
    Kita sama OM, pro Jinki….
    *kibar bendera Jinki…
    Lebih nyaman dengan Jinki…
    Walaupun kita gak bisa menyangkal
    bahwa Kris dan mamanya sangat berjasa
    dalam kehidupan Sena terutama
    di masa2 sulitnya…
    Tapi hati gak bisa dibohongi
    dan dimanipulasi… *eeaaa… bahsa lebay
    Sena udah cinta Jinki,
    dan dia cuma terpaksa menerima rencana pernikahan ini
    Dia mengira Jinki msh sangat mencintai Jira dan
    sebaliknya sangat membencinya (Sena)
    Jadi dia pikir, pasrah aja ma keadaan….

    *kayak aku, pasrah ma leppi yang mati,
    ampe numpang ma temen ampe ma warnet…
    *harigini…

    Oke, ringkas kata, aku suka penulisan part ini
    lumayan cepet sih, alurnya
    gak ada basa-basi lagi, tapi gak terasa diburu….
    Jadi tetep sangat enjoy bacanya.
    dan ya, itu, tadi, gregetnya dapet….
    *pengen gigit Jinki… Heh..???
    *jebrett!!!

    Part selanjutnya, terus ditunggu… buruan ya…

  2. ramee!!!! ff ini dari chapter 1 ampe chapter 13 gaada yg garame smoga ampe ending rame smua yee.. tambah ramee diusahakan yoo~
    kasian Jinki, patah hati muluu.. 1 hal, saya ga stuju kalo Jinki sama Jiyul si setan itu, saya hanya setuju Jinki dengan Senaa dan Sena dengan Jinki bukan dengan WuFan..😉
    next partnya jangan lama-lama ya,, banyak yang nunggu nih hehehhhee..
    ditunggu ^^

  3. GYAAAA!! Ya Tuhan aku gemes banget!! Krissssss itu mereka udah bikin mesem-mesem juga, kenapa pake muncul segala (۳ ˚Д˚)۳ pake cium segala!! Aaaaaaaaaaaa kenapa makin kesini makin kerasa pendek, mungkin aku yang keasikan bacaaaaaa aaaaaa *gabisa berenti tereak*

  4. Maaf baru bisa komen di part ini, hehe… dirapel ceritanya.
    Dari awal dah greget sama itu ibu-ibu, ngeselin banget. Angkuh baget sih! T.T
    Greget juga sama Onew dan Kris. Sena-sena, betapa beruntungnya dirimu. Onew selalu diterbangkan ke langit ketujuh sama Sena dan tidak menunggu lama di lepas aja hingga jatuh ngebentur genteng rumahku. Apa lagi ini? Kapan bakalan bener-bener adem hubungan mereka?

    Kris-ge, sama aku saja. Jangan gangu mereka.
    Walau makin lama ceritanya jadi menuju area sinetron dengan kesadisan ibu sena itu aku tetap gag sabar nunggu kelanjutannya. haha… jujur, feel FF ini beda sama WW. #yaiyalah beda kisah😛

    Mian panjang bener. hehe

  5. Astagaaaaaaaa kris lu ngerusak momen benerrr;;;;;;;;;; duh sena jangan gengsi napa yaampuuun gregetan thor beneran deh;;;; itu emaknya sena juga gengsinya mit amit tinggi bener;;; jinki tembak senaaaaaa

  6. Ini knp jadi begini? Mana moment Jinki-Senanya?
    Baru senang” sdh di kasih moment Kris-Sena kiss lg??!!
    Please onnie, kpn mrk bisa bahagia??? Dari gengsi bisakah jd bahagia??

  7. L to the A to the N to the J to the U to the T!!!!!

    saking udah ga bisa ngomong ap-apa lagi Diya Eon… terlalu mrnyanyat hati Jinki mah…. tabahkan hatimu bang!!!!

    Yosh!! trims DIya eonn atas FF nyaaa….

  8. Kok komenku (tgl 29 Sept) jadi ANONYMOUS gitu, yah,…?
    Diya, Ni aku, Miina Kim eonni…
    aissh…. gini nih, kalo ke warnet jaman begini, komennya jadi aneh…
    Jangan lama2 yah chapter selanjutnya…
    oke….!!!! *hugbear Jinki

  9. Scene trakhir ky’a sena blg k kris dy g mw nikah mk’a kris mrh. Trz sena meluk kris cm sbg pelukan perpisahan n kris kisseu sena sbg last kiss jg. V jinki liat’a bda. Gtu kah? #analisis aneh

    Ckp lma ngikutin crta ne v cm smpt komen d brp chapter,hehee
    Diya eon mian😦

  10. Diya….. Buruan update ceritanya…..
    Udah penasaran akut….
    Aku dan readers laen banyak yang nunggu, lho….
    Apalagi mumpung libur lebaran beberapa hari,
    jadinya banyak waktu buat baca… heheheee…
    Soh, atuh… cepetan… ya…
    gumawo jeongmal….

  11. kenapa kenapa kenapaaaaa, kenapa author suka mengombang ambing kan perasaan sayaaaaaa TT,TT please satukan jinki sena pleaseeeeeeeeeeeeeeeee~ u,u
    ah gue bete sama kris main sosor sosor aeee
    next chapter please dont be so long eonn

  12. Diya… Buruan kelanjutannya… palli….
    penasaran banget atuh….
    apa mau nunggu pas sebulan, ya, mau ngepost lagi…?
    TT__TT cepetan, ya…
    Pasti yang laen juga nungguin cerita ini banget…
    *kedip2 bareng Jinki…🙂

  13. Mau baca lanjutannya udah lupa Ɣªήğ part sebelumnya
    Makanya baca lagi
    ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ •”̮• ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ
    Ŧǻρί tetep Ъќ bosenin ffnya

  14. QAQ udah baikan tuh JinSen(?) eh jinkiny emosi lagi atulah kris jan ganggu >< kawin aja dah jinki sama sena hahaha
    Kakak, aku suka sama kata-katanya, sumpah kak, enak dibaca. Nice fic, good idea, ;;A;; n

  15. nooooooooooooooooooooooooooo!!!!!!
    andwaeee!!! oh kris jangan menghancurkan perasaan onew! awal ff ini galaunya ngga ketulungan dan onew seperti alay. no! no! no!!! Na-New!

  16. OOOOOHHHHHH SNAAAAAAAAPPP!!!!!!
    Astaga gak di WeWalk gak di di sini si Jinki emang galauers paling abadi -_-
    Efek galauers–> alay. Kesian Jinki.
    Udah ah, Kris mah sama aku aja. Jinki sama Sena. Done, end, happy ending. Kyahahaha xD
    Lanjutt~~!

  17. onew ku sayaaaaaang. entah kenapa di part ini dia bener-bener menyedihkan. kalo gua jadi onew. gua bakal sedih sejadi jadinya. rasanya pasti mau mati. /?

    aaah onew sini gua peluk sayang :*

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s