[Keyday Special] Unlocked

Title: Unlocked

Author: vanflaminkey91 (@sadakocan)

Main cast: Kim Kibum (Key), Ava Jung (OC)

Support cast:

Length: drabble

Genre: friendship

Rating: G

Summary: “Bukankah perbedaan adalah hal yang indah?”

Admin Note: Vania, maaf banget. Bener-bener gak liat ada ff OP lagi di inbox. Soalnya kamu kirim hari minggu dan jam 10, jadi aku udah gak ngecek inbox. Sekali lagi mohon maaf yang sebesar-besarnya ._.v

Unlocked

unlocked

Menerima adanya perubahan bukanlah hal yang mudah. Aku sangat mengakuinya.

Duduk di antara suara bincangan tiap individu di dalam kedai kopi ini membuatku agak gelisah. Bukan karena aku membenci keramaian—‘keramaian’ justru menjadi nama tengahku—tapi karena orang yang sudah berjanji akan menemuiku di sini, pada jam ini.

Jadi aku melampiaskan segala gelisah kepada gelas kertas dengan isi kopi hangat yang tinggal setengah. Riak permukaannya begitu tenang, berbanding terbalik dengan apa yang kurasakan.

Aku mengangkat tangan kananku dan mengecek jam, entah sudah yang keberapa kalinya.

Apakah dia jadi datang? Atau tidak?

Bagaimana keadaannya sekarang, setelah hampir sepuluh tahun tidak pernah berjumpa?

Bagaimana arah hidupnya?

Bagaimana—

“Kim Kibum, kan?”

Aku terperanjat saat seseorang menyerukan namaku dengan nada yang kelewat gembira, cemas, dan ragu. Lebih terperanjat lagi ketika mendongak dan mendapati sosok seorang wanita berbalutkan kemeja sifon merah yang dipadukan dengan rok selutut warna biru tua sudah berdiri di hadapanku.

Ketika aku memberinya senyuman yang sama ragunya dengan yang ia pamerkan, ia langsung duduk di kursi kosong persis di depan mataku.

“Kau Jung Shin—ah, Ava Jung?”

Ia terlihat kaget, kemudian langsung tersenyum manis. Deretan giginya seolah ikut menyambutku. “Ya, Kibum. Apa kabar?”

“B-baik. Tentu saja baik,” balasku agak kikuk. Dia terlihat sangat berbeda. Rambutnya yang dulu cepak, sekarang panjangnya sudah jauh melebihi bahu. Teksturnya begitu lembut. Warnanya kecoklatan. Selain itu, dagunya lebih lancip. Perbedaan yang paling jelas adalah bentuk tubuhnya. “Bagaimana denganmu, Shin—Ava?”

Ava terkekeh kecil sambil menaruh gelas kertasnya di atas meja. “Yah, begini saja, Bum.”

“Uh—“

“Aku benar-benar tidak percaya ketika menerima email darimu. Lima tahun. Apakah kau sudah bisa menerima keadaanku?”

Tentu saja aku terkejut.Tiba-tiba saja aku teringat dengan email yang aku kirimkan kepadanya dua hari lalu—yang dibalasnya ketika ia masih di Kanada.

“Ya, maafkan aku, Ava. Waktu itu aku hanya kaget dan tidak bisa menerima. Kau tahu? Sejak kecil kita sudah bersama. Bermain dan berbagi. Tidak kupungkiri ketika melihatmu kembali dengan keadaan seperti itu, aku… aku takut.” Kim Kibum adalah orang yang jujur. Ya. Aku tidak mau berbohong. Memang aku sangat takut dengan perubahannya. Bahkan sampai sekarang aku masih takut.

Ava lantas tertawa agak perih. “Aku tidak ingin dilahirkan dengan keadaan seperti ini, Kibum.” Ia menumpukan dagunya di atas tangan. Menatapku tanpa berkedip. “Aku masih ingat hari di mana kau benar-benar marah dan mengusirku dari hadapanmu. Bagaimana aku berusaha menghubungimu setelahnya, berusaha meminta maaf dan berjanji tidak akan membuatmu merasa tidak nyaman.”

Mendengarnya membuatku agak merasa bersalah. Mendadak saja aku merasa kejam.

“Kehilangan sahabat terbaikku benar-benar menyiksaku, Kibum. Belum lagi orang lain mencercaku. Aku serasa tidak punya tiang untuk berdiri saat itu, Bum.”

“Bagaimana dengan hidupmu sekarang? Kau kerja jadi apa?” Aku yang gerah dengan pembicaraannya, segera mengalihkan topik. Ia tersenyum, seolah paham dengan maksudku. Ava menegakkan duduknya—membuatku kagum sekaligus aneh. Cara duduknya berubah. Cara bicara dan minumnya. Segalanya.

“Aku jadi foto model di Kanada dan mendirikan restoran.” Aku bergumam takjub mendengar kemajuannya. “Aku bahkan memiliki pasangan hidup, Bum.”

“Kau menikah?” seruku terkejut.

“Tidak. Baru berpacaran.”

“Apa dia tahu—“

“Ya.” Aku menatapnya lama. Tanpa berkedip. Berusaha mengutarakan rasa bingungku melalui kata, tapi tidak ada satupun yang keluar. “Dia sudah tahu. Tapi menurutnya, dia tak memedulikan masa laluku,” lanjutnya seolah mengerti keherananku.

Aku berdecak kagum.

Dan satu jam berikutnya menjadi waktu yang terindah bersama sahabat lamaku ini. Orang yang baru ini berdamai denganku. Aku mendengar ceritanya beradaptasi, berusaha bertahan di tengah cacian, dan bagaimana ia bisa bangkit dengan dukungan dari banyak orang yang mau menerimanya.

Seketika aku merasa malu dengan diriku sendiri, yang pernah begitu jahat dengan mengacuhkannya. Menganggapnya nista. Lima tahun tidak bertemu telah membuatku merenungkan maksudnya.

Dia tidak ingin dilahirkan dengan rasa bingung seperti ini.

Kenapa aku harus mengucilkannya dan takut padanya?

“Bum, tenang saja. Aku tidak akan naksir kepadamu.” Ava berkelakar ketika aku mengantarkannya ke hotel tempat ia menginap. Jalan kaki. Tentu saja. Aku belum mampu membeli kendaraan dengan gaji sebagai seorang karyawan biasa.

Aku lantas terkekeh kikuk mendengar kelakarnya. Entah ia hanya bercanda atau bermaksud menyindirku juga, aku tidak tahu. Dia orang baik. Aku yakin ia hanya bercanda.

“Terimakasih, Bum. Terimakasih kau mau menerimaku.” Wanita cantik ini tersenyum. “Sukses selalu untukmu, Bum. Aku benar-benar senang kau mau memaafkanku.”

“Tidak,” balasku cepat. “Aku yang harusnya kau maafkan. Aku sudah mengucilkanmu dan menganggapmu rendah, Ava.”

Tapi Ava tidak membalas. Ia hanya tersenyum dan membalikkan tubuhnya, meninggalkanku ke arah hotel.

Aku menatap punggungnya takjub. Ia benar-benar berubah.

“Jung Shin Ho!”

Ia menoleh dengan cepat. Ekspresi kaget jelas terbaca di ukiran wajahnya. Aku tersenyum simpul, mungkin ia sudah lama tidak pernah memakai nama aslinya lagi.

“Sukses selalu untukmu, Shin Ho! Kau tetap sahabat terbaikku!”

Untuk beberapa saat ia diam, tapi kemudian menghampiriku setengah berlari.

“Terimakasih, Bummie. Kau mau menerima aku yang transgender ini. Aku benar-benar bersyukur telah mendapatkan kembali sahabatku.”

Lantas aku tersenyum simpul, mengulurkan tanganku ke arah bahunya. Menepuk-nepuknya dengan harapan ia dapat mengerti bahwa aku sekarang mendukungnya penuh. Aku tidak akan menjadi orang yang terkunci di dalam pikiran sempit mulai dari sekarang. Semua perbedaan harus dapat kuterima dengan baik.

“Tidak masalah, Ava. Bukankah perbedaan adalah hal yang indah?”

Lengkungan senyumnya menjawab ya.

*

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

8 thoughts on “[Keyday Special] Unlocked

  1. wawawawaaaaaw!!! #sumpah bikin merinding.
    Pertama, rambut cepak #mikir. cewek tomboy
    kedua, perbedaan # mulai mikir lagi
    jijik dan dijauhi #nah loh!
    eh, belakangannya. jeduaaar! blaaam!
    saya main tebak-tebakkan dan akhirnya. bener, langsung merinding.
    daebakkk!!!

  2. Woow..
    ide ceritanya boleh juga Van.
    sempet mikir ke arah transgender, begitu si Ava bilang dia dikucilkan, tapi agak ragu.

    Saya paham kalau perbedaan adalah hal yang indah, tp kalau saya diposisikn sbg Kibum, saya belum tau harus bersikap bagaimana..

    Saya salut dengan karakter Kibum di cerita ini..🙂

  3. Sudah curiga kalau ada yg aneh dan abnormal (?) dengan ava waktu Key memperhatikan dagu. Awalnya kepikiran hanya oplas biasa dan… Hemmm…. #geleng2. Aku suka banget. Fresh

  4. wahh… ngeri deh..!!! biasanya kan key yg jadi objek ccewek, tapi disini dia disukai temen cowoknya sebagai namja?? kerennn… hehehe… #PLAKK
    bener, perbedaan itulah yg membuat dunia ini lebih indah,, dan lebih indah lagi jika kita bisa menerima dan menghargai perbedaan itu sebagai pelengkap perjalanan hidup kita.
    good ff.. i like it..
    keep writting thor!!🙂

  5. Aduh, ini bagus. Kenapa aku baru tau ada ff ini sekarang yaa? *bow*
    Tema yang diangkat cukup berani menurutku, penggambarannya juga bagus, plot-nya simpel tapi ngena banget. Keren…
    Tapi, semisal aku ada di posisi Kibum sih aku bingung juga harus kaya gimana karena mungkin aku bakal mempertimbangkan hal ini dari segi agama. Dan kalo aku mendukung temanku berubah jadi begini, berarti aku mendukung dia untuk menjadi salah. Tapi bingung juga sih.heheh.
    Di luar semua komentarku di atas, ini ff yang bagus b^^d

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s