Still In My Mind

1001212_494334437310614_624556322_n

Still In My Mind

Author             : Loemongga Khofifah

Cast                 : Lee Jinki

Kim Yeonju

Choi Minho

Length             : One Shoot

Rating              : PG-15

Genre              : Romance, Angst, Friendship

***

            “Chagi, berhenti disini sebentar” ucapku pada Minho yang sudah menjadi kekasihku sejak lima tahun terakhir.

Mendengar perintahku, Minho langsung memberhentikan mobilnya dipinggir jalan, tepat di depan toko yang menjajarkan banyak bunga. Aku membuka pintu dan mengambil langkah untuk keluar.

“Tunggu!” cegah Minho seraya menahan tanganku.

“Kenapa?”

“Ini. Pilih yang paling bagus,” dia menyerahkan beberapa lembar uang padaku.

“Tidak perlu. Aku punya uang kok. Aku pakai uangku saja,” tolakku.

“Aku tau sayang, pakai ini saja ya~”

“Minho-ya, terkadang aku malu ketika setiap kali kita pergi bersama selalu saja kau yang membayar semuanya. Jadi tolong, kali ini biarkan aku yang mengeluarkan uang,” aku menyentuh pipinya dengan telapak tanganku. Sebuah cara agar dia tidak tersinggung akibat tolakanku.

“Ng…Baiklah kalau itu maumu,” ucapnya dengan nada terpaksa.

Aku tersenyum sebelum benar-benar meninggalkan mobilnya. Minho memang lelaki yang keras kepala. Sangat sulit untuk menolak perintahnya. Apalagi prinsipnya yang mengatakan setiap pria wajib membayar semua biaya ketika mereka berkencan dengan pacar. Huh, dia membuatku seperti wanita yang hanya memanfaatkan uangnya-_-

“Ahjumma, tolong beri aku sebuket mawar putih,” kataku pada bibi penjual bunga.

Dengan cepat ahjumma itupun memberikan pesananku.

“Ini agashi” dia menyerahkan bunga mawar itu.

Aku menerimanya. Baru saja aku memegang bunga itu tapi aromanya dengan cepat menghuni hidungku. Harum batinku dalam hati.

“Berapa harganya?”

“Cuma 50.000”

Aku mengeluarkan dompet yang sedari tadi bertengger di dalam tas sandangku.

“Ini” kataku sambil mengulurkan selembar uang.

“Sebentar, aku ambil kembaliannya”

“Tidak usah ahjumma. Sebagai gantinya, bolehkah aku menerima setangkai mawar merah ini?” aku menunjuk deretan mawar merah.

“Oh tentu saja,” katanya seraya mengambil setangkai dari deretan mawar merah yang aku tunjuk tadi.

Baru saja aku mengambil bunga itu, terdengar suara klakson mobil Minho.

“Apa masih lama?” teriaknya dari dalam mobil

“Sebentar,” balasku tak kalah berteriak.

“Terimakasih atas bunganya ahjumma,” aku membungkuk.

“Seharusnya aku yang berterimakasih,” ahjumma itu tersenyum “Sudah cepat pergi. Pacarmu sudah menunggu”

“Nde, Annyeong~”

Cepat-cepat aku pergi sebelum Minho menunggu lebih lama.

“Sudah?” tanyanya setelah aku masuk kedalam mobil.

Aku menaruh bungaku di dashbor mobil dan menghadap kesamping, lebih tepatnya menghadap ke Minho.

“Yak! Kenapa kau tak bisa bersabar oh?”

DEG! Layaknya De Javu, kejadian itu terputar lagi di pikiranku.

“Sabuk pengamanmu!” tegur Minho.

“Mmm,” aku tergagap dan langsung memakai seatbelt.

“Kau siap? Sebentar lagi kita bertemu dengannya,” Minho tersenyum dan meraih jemari tangan kiriku.

Aku tersenyum puas sambil mengangguk. Lagi, pikiranku melayang ke waktu 13 tahun silam. Ditemani genggaman  Minho yang masih tertempel di jemariku, aku mengingat kembali masa-masa bersama dia, sahabat sekaligus cinta pertamaku.

***

Ini hari pertama Masa Orientasi-ku di Junior High School. Tapi ntah kenapa aku malah datang terlambat. Akhirnya aku dihukum untuk bernyanyi diatas podium aula. Ah, ini sungguh memalukan!

“Yunho-ya, ini ada seorang lagi yang terlambat,” ucap salah satu sunbae yang tak aku kenal namanya pada sunbae yang sedang menghukumku sekarang.

“Bagus. Kau kemari! Karena kau terlambat, maka bernyanyilah” ucap Yunho sunbae sambil menyerahkan mickrophone pada anak tadi.

“Sebelumnya, perkenalkan dulu dirimu,”

“Ng…Annyeonghasimnikka. Naneun Lee Jinki imnida,” ucap anak laki-laki disebelahku sambil membungkuk. Kesan pertamaku adalah, dia cukup berani.

Tak berapa lama, dia melantunkan lagu yang belum pernah aku dengar sebelumnya. Lagu yang asing buatku, tapi nyaman untuk di dengar. Aku tercengang. Suara lembutnya mampu membuatku dan semua orang yang ada disini, menganga.

Tak berapa lama, dia menghentikan nyanyiannya. Semua orang bertepuk tangan, kecuali aku. Ntah kenapa aku tiba-tiba merasa gugup. Jantungku berdegup kencang. Kini alunan indah yang tadi terucap dari bibirnya selalu terngiang-ngiang di kepalaku.

Dia menyerahkan mickrophone yang tadi dipakainya kepadaku. Aku berdehem, dan menerima serahannya.

“Ng…Naneun Kim Yeonju imnida,” kini aku bertambah gugup. Terlebih Jinki terus memperhatikanku.

“Ng….apa yang harus aku nyanyikan? Menyanyi itu adalah hal yang sulit” Mendengar ucapanku, semua orang yang ada disana mengeluh. Biarkan saja, dari pada aku memalukan diriku sendiri?

“Kau tidak mau menyanyi?” tanya Yunho sunbae dengan nada sinisnya.

“Mianhae sunbaenim” aku membungkuk.

“Yak! Kalau begitu, singkirkan semua debu yang ada di perpustakaan!”

Aku tercengang. Jangan bercanda. Bahkan letak perpustakaan saja aku belum tau, sesalku dalam hati.

“Palli!” perintahnya sedikit berteriak.

Aku menelan liurku dengan susah payah. Ku langkahkan kakiku dengan berat memasuki bagian dalam sekolah yang menampilkan banyak ruang kelas.

Di lantai koridor, aku melihat dua bayangan. Aku yakin salah satu bayangan itu adalah diriku. Tapi bayangan milik siapa satu lagi? Hantu kah? Tidak, tidak mungkin ada hantu di pagi hari. Karena penasaran, dengan ragu-ragu aku menoleh kebelakang.

Ku lihat anak yang baru 20 menit tadi ku ketahui namanya. Lee Jinki, nama yang begitu lekat di dalam memori otakku. Wajahnya yang terkena sinar matahari pagi menambah kesan tampan disana. Tanpa ku sadari, aku sedang mengagumi ciptaan Tuhan yang satu ini.

“Kenapa melihatku seperti itu? Apa ada yang aneh?” seketika aku membuyarkan pikiranku.

“Tidak!” jawabku salah tingkah. “Kenapa kau mengikutiku?”

“Mereka yang menyuruhku. Mereka bilang kita ditakdirkan untuk bersama. Jadi aku harus ikut membersihkan perpustakaan bersamamu”

“Tapi kau kan sudah bernyanyi. Kenapa harus ikut membersihkan____”

“Sudah ku bilang kan, mereka menganggap kita ditakdirkan untuk bersama. Jangan banyak tanya,” katanya sambil berjalan mendahuluiku. Aku terdiam ditempat. Menatap punggungnya yang semakin menjauh. Ada apa dengan jantungku?

“Haish, kenapa kau diam saja?” dia kembali dan menarik tanganku. Menuntunku berjalan kearah perpustakaan. Ah, kenapa kau tak bisa bersabar? Bahkan untuk meredam gempa yang ada di dadaku saja, aku tidak bisa.

***

Minho sedikit meremas jemariku yang sedari tadi dia pengang dengan lembut. Membuatku tersadar dari lamunanku.

Aku menoleh kearahnya, “Kenapa?”

“Kau yang kenapa sayang? Daritadi tersenyum terus.”

“Ah, benarkah?” aku terkekeh.

“Hm..kau terlihat aneh. Sedang memikirkan apa? Aku ya?” tanya Minho dengan nada sedikit menggoda.

“Enak saja. Memangnya aku selalu memikirkanmu?” aku memanyunkan bibir bawahku, meledeknya.

“Harusnya begitu karna aku selalu memikirkanmu” ucapnya sambil tertawa.

“Ck, dasar!” aku tersenyum dan memalingkan pandangan kearah jendela. “Hujan ya? Sejak kapan?”

“Yaampun Yeonju, pikiranmu kemana aja sih?” Minho sedikit kesal padaku. Tapi aku tak terlalu menanggapinya.

Hujan mengingatkanku pada masa SMA. Masa dimana aku memahami perasaan tanpa kata-kata.

***

Aku dan Jinki memang selalu pulang sekolah dengan berjalan kaki. Tapi saat di tengah perjalanan, hujan memenjarakan kami berdua. Aku sedikit berlari untuk cepat sampai di pohon yang rindang. Jinki menyeimbangkan langkahnya dan menutup kepalaku dengan telapak tangannya.

“Yeonju, kita berteduh disana saja ya?” Dia menunjuk sebuah rumah pohon yang tak jauh dari kami. Aku mengangguk menyetujui. Jinki menarik tanganku agar berlari lebih cepat.

“Kau naik lebih dulu,” Aku pun menaiki tangga kayu yang menempel pada batang pohon, diikuti oleh Jinki dibelakangku.

Karena rumah pohon itu sangat sempit, jadi aku dan Jinki membiarkan kaki kami bergelantungan dan basah kena air hujan. Aku mendekap seluruh badanku yang menggigil kedinginan.

Ku lirik kearah Jinki yang sedang membuka jaketnya. Mau apa dia? Setelah jaketnya terlepas, dia membuka kancing kemeja seragamnya dan hanya menyisakan sebuah kaos oblong yang melekat di dadanya.

“Lain kali, jangan pakai rok sependek ini!” dia menaruh kemejanya diatas pahaku yang kelihatan akibat rok yang kependekan. Aku tersenyum menertawai diriku sendiri yang bodoh akibat berpikiran negatif pada Jinki.

Tak puas membuatku terkejut, Jinki menambahkan rasa terkejutku dengan memasangkan jaketnya di badanku.

“Lain kali, beli seragam yang lebih tebal!” tambahnya.

“Iya cerewet!” aku tertawa setelah mengatakan itu pada Jinki. Ya, dia memang cerewet, melebihi ibuku.

Tapi tawaku langsung berhenti ketika melihat dirinya yang kini kedinginan. Aku jadi merasa bersalah karena sudah menerima jaket Jinki.

Aku merapatkan jarak antara kami berdua dan memberikan setengah bagian jaket itu padanya. Berbagi jaket mungkin hal yang baik, pikirku.

“Yeonju-ya, disini sangat dingin” ungkapnya.

“Hmm…” gumamku menyetujui.

“Boleh aku memelukmu?”

Aku menatap wajahnya yang sedikit pucat sebelum akhirnya mengangguk. Dia merengkuh seluruh tubuhku. Aku juga membenamkan wajahku di dalam lekukan lehernya.

“Jinki-ya~”

“Hmm?”

“Jangan lepaskan pelukanmu. Disini, hangat” aku mendengar Jinki tersenyum dan berkata,

“Tentu saja”

“Jinki-ya,” aku mengangkat wajahku untuk menatapnya.

“Gigimu yang beradu itu membuatku tidak tenang,” aku menyentuh bibirnya yang menggigil dengan ibu jariku.

“Benarkah?” Dia tersenyum dan menarik jaket itu sampai wajah kami tertutupi.

Finally, on the revers side of blue jacket, we kissed.

***

“Sebentar lagi kita sampai” Minho membuyarkan lamunanku.

“Jeongmal?” jawabku semangat. Aku tidak sabar karena dalam hitungan menit aku akan bertemu dengan Jinki.

Tak berapa lama Minho memberhentikan mobilnya.

“Disini kan?” tanyanya memastikan.

“Hmm…” aku memperhatikan daerah disekitarku. “Iya. Ohya, kau jangan ikut ya. Aku ingin berdua saja dengannya”

“Arasseo, pergilah” aku tersenyum sambil mengambil sebuket bunga mawar putih dari dashbor mobil Minho dan bersiap keluar.

“Tunggu!” cegah Minho. Aku menoleh,

“Kenapa?”

“Jangan lupa katakan padanya kalau kita akan segera menikah”

“Iya sayang, sudah hampir sepuluh kali kau mengatakannya” melihat Minho tersenyum, aku pun segera pergi dari sana.

Bau tanah yang lembab karna hujan sudah berhenti menyambut kedatanganku. Aku mendekat dan meletakkan sebuket mawar tadi di depan batu nisan bertuliskan nama, Lee Jinki. Aku berjongkok dan mengusap batu nisan itu. Senyum getir juga tergambar diwajahku.

Aku memejamkan mata dan menakup kedua telapak tanganku di depan dada sambil mulai berbicara dalam hati.

“Tak terasa sudah enam tahun kau meninggalkanku. Sebenarnya aku masih ingin marah kepadamu yang merahasiakan penyakit itu padaku. Tapi berhubung kau sahabatku, jadi tidak mungkin kan aku marah padamu selama bertahun-tahun? Aku juga bodoh karna tidak menyadarinya. Aku bukan teman baik kan? Yak, Lee Jinki, kelak kau harus meminta maaf padaku!”

“Ng…sebentar lagi aku dan Minho akan menikah. Sebenarnya aku sedikit merasa bersalah padanya, karna aku masih belum bisa melupakanmu. Layaknya de javu, semua hal yang ku lakukan dengannya yang kupikirkan adalah hal-hal yang kulakukan denganmu. Aku masih merasa kau bersamaku. Mungkin karna kau masih berkeliaran di hati dan fikiranku. Disana, kau terus tumbuh~”

“Tapi sekarang, aku ingin melepasmu. Setidaknya, aku tidak lagi menyangkut-pautkan hal yang ku lakukan bersama Minho dengan hal yang ku lakukan bersamamu, dulu”

“Jinki-ya, mohon bantu aku untuk menjauh darimu, menghilangkanmu dari pikiranku, dan____Hei, aku serius. Jangan gelitikin aku Jinki!” aku berhenti dan mulai tertawa akibat sentuhan aneh dileherku.

Aku membuka mata dan melihat setangkai mawar merah dibahuku. Aku mendongakkan kepala dan melihat Minho yang sudah berdiri disampingku.

“Ini, tadi ketinggalan di mobil. Yeonju-ya, bisakah kita pulang lebih cepat? Aku merasa sebentar lagi hujan akan turun” ucapan Minho membuatku melihat kearah langit. Benar saja. Awan hitam telah tampak disana.

“Sebentar” kataku padanya. Cepat-cepat aku memejamkan mata dan menakup kedua tanganku didepan dada –lagi- Dalam hati aku berkata,

“Jinki-ya, sebenarnya aku tau dia hanya cemburu melihatku bersamamu dan menjadikan alasan hujan agar aku cepat-cepat mengakhiri pembicaraan kita dan pergi dari sini. Semoga aku dan kau bisa bertemu di masa yang abadi” ucapku mengakhiri percakapan.

“Ayo kita pulang,” kataku seraya berdiri dan mengapit lengan Minho.

“Ini, mawarnya taruh dulu”

“Itu aku beli untukmu” aku menyentil pelispis Minho dan pergi menjauh.

“Sungguh? Jadi sekarang mawar ini milikku?” tanyanya seraya berjalan menghampiriku.

“Iya,”

“Kalau begitu, would you marry me?” tanya Minho untuk yang kedua kalinya sambil menyerahkan mawar pemberianku tadi.

Dan dengan bodohnya, untuk kedua kalinya juga aku mengangguk seraya mengambil pemberiannya.

Kami sama-sama tersenyum. Perlahan Minho mendekatkan wajahnya. Aku pun menutup kedua mataku dan merasakan sesuatu yang lembab menyentuh bibirku.

Aku membuka mata ketika adegan itu telah usai. DEG! Kenapa yang kulihat adalah Minho? Sudah lima tahun aku berpacaran dengannya dan setiap aku membuka mata setelah aku berciuman dengannya, yang pertama kali ku lihat itu Jinki! Tapi ini? Ini pertama kalinya aku melihat Minho setelah kissing.

Aku mengedarkan pandanganku keseluruh penjuru. Mataku berhenti ketika melihat Jinki berdiri tepat disamping makamnya sambil memegang sebuket mawar putih yang tadi aku bawa. Dia tersenyum padaku dan menyelipkan kata ‘thankyou’ dibibirnya. Aku balas tersenyum.

Tetesan air hujan menyadarkanku. Minho meraih pinggang dan merapatkan tubuhku ke badannya. Dilindungi jaket kulit Minho yang berada diatas kepalaku dan kepalanya, kami berlari menuju mobil dan melanjutkan perjalanan pulang.

-END-

Gimana? Ini fanfiction ke sekian yang ku kirim kesini hehe. Jangan lupa di comment ya, lebih dan kurang, aku mohon maaf. Kritik dan saran kalian sangat aku butuhkan. Thnkyou udah menyisakan waktu kalian untuk baca ff gaje aku hihi *bow ^^

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

22 thoughts on “Still In My Mind

  1. Aku bacanya serasa di tengah hujan beneran. Adem banget~ enak deh, ninggalin perasaan ringan😀

    Paling suka kissing scene Jinki-Yeonju di rumah pohon. Itu sho shweet sekali. Jinki di sini entah kenapa terkesan cool abis ya. Minho-nya juga gentle banget mau nungguin Yeonju. Haha, aduh aku kenapa jadi melankolis gini sih? Haha

    Nice story, bikin lagi ya ^^

  2. awalnya agak bingung
    tp kalo udah baca kesini2nya jadi mulai paham
    aku udah ngira kalau jinki itu meninggal waktu yeonju beli mawar putih n jinki hanya diceritakan lewat kenangannya
    btw nice ff
    ditunggu ff yang lainnya

  3. udah kepikir Jinki-nya meninggal..

    enaknya si Yeounju, dekat dengan 2 lelaki berkarakter spt Jinki dan Minho..

    jalan ceritanya bagus, saya suka..

    ditunggu kisah2 lainnya ya Khofifah..🙂

  4. Heemmm kasiian minho nya.
    Setelah 5thn bru d akui keberadaannya. Sabar ya miming masiih ada aku kok.
    #plak
    #gubraakkksss

    nice ff. Romaantiiss. dpet bgt feelnya.

    Nb:
    Suka deech adegan hujannyaaaa…..

  5. sebenernya udah nyangka Jinki meninggal dari awal. kayaknya agak mustahil buat seorang cowok ngebolehin ketemu mantan dalam perasaan yang masih peka terhadapan cinta lama #sok romance banget saya.
    yah, tapi tetep aja. pas tebakkan saya bener. sakit gtu rasanya. daebak, deh, thor.
    sebenarnya kritik dan saran mau banget. tapi lagi nggak ngefeel buat ngetik lebihpanjang lagi. sarannya sih, kamu harus lebih jeli buat baca kalimat dialog atau ff dengan eyd yang udah bagus. kamu kurang dalam penulisan. masih banyak banget typo-nya.

  6. romantis bgt suka deh . tapi aku merinding kalo serius baca yang meninggal meninggal gitu *ngapa jadi curhat?* pokoknya nice! keep writing thor! Fighthing!

  7. awalnya kebingungan bacanya, di poster seakan-akan main castnya itu Jinki tapi yang pacaran sama Yeounju-nya kok si minho, pas dibaca….oalah…..tapi emang udah kepikiran Jinkinya itu udah meninggal sih cuma gak nyangka aja /?
    Jujur ff ini keren, idenya emang kesannya mainstream tapi tata bahasanya bikin keren😀 ditunggu karya selanjutnya Khofifah-ssi! ^^

  8. Kiss dibalik jaket, unik dan so sweet, ditemani hujan + pohon(?)…
    Pas baca genre udah ketauan nih salah satu dari mereka ada yang udahan(?), hufh dan ternyata itu Aa Jinki.eh
    keberadaan Minho baru di akui setelah 5 tahun, waduhhh kasian Aa kodok…
    Tapi gpp daripada gak diakui sama sekali…
    Aku suka ceritanya, penggambaran suasana nya juga kerasa menurut aku…
    Dae to the bak… Hihihi

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s