Third Person

Third Person

Author: Qarina Ash Shifa(qarinashifa)

Main Cast:

-Kim Jonghyun (Jonghyun SHINee)

-Choi Eunji (OC)

Support Cast: you can find it by your self.

Length: Vignette

Genre: Life

Rating: PG-15

Summary : Tidak sema pihak ketiga itu salah. Tidak semua pihak ketiga itu merebut hak milik orang. Jadi, kumohon jangan selalu menyalahkan pihak ketiga.

A.N: hai hai haii~~ qarin balik lagi dengan ff gaje nan absurd hahaha… aku bawa genre life lagi dan itu memang bener diangkat dari kisah nyata. Gak usah disebutin siapa yah.. hahaha *gue juga gak mau tau kali-_-* okeh happy reading yaahh!!! Kritik dan saran jangan lupa karna aku masih belajar jadi author yang baik dan benar^^

-Third Person-

Perasaan yang terlarang, apa kalian pernah merasakan itu? Jika iya, hentikanlah sekarang juga. Jika tidak, kumohon jangan pernah mencoba untuk merasakannya. Kalian tahu bagaimana rasanya? Senang sesaat dan sakit permanen. Entah bagaimana aku menjelaskanya tetapi begitulah yang kurasakan.

Pernah tidak menyukai kekasih seseorang? Tidak? Aku pernah. Dan sampai saat ini aku masih menyukainya. Atau bisa ku sebut mencintainya. Ku akui perasaanku benar-benar terlarang. Dan parahnya lagi, aku pernah mengungkapkan perasaanku ini padanya saat dia masih dengan perempuan itu! Great. Kau benar benar perempuan laknat Choi Eunji!

Tapi, hey! Jangan sepenuhnya menyalahkanku! Asal kau tahu, lelaki bernama Kim Jonghyun itu selalu memberi harapan padaku. Bagaimana caranya? Dia selalu memberikan perhatian lebih padaku di kelas, membalas pesanku dengan kalimat-kalimat  manisnya dan lain sebagainya. Sungguh, aku tidak tahu apa yang ada di otak namja pendek itu. Ups.. dia benci ketika ku panggil pendek.

“Eunji-ah…” oh tidak… aku tahu siapa pemilik suara ini. Kau harus berpura-pura sibuk! Dengan cepat kuraih pulpen dan buku tugas matematikaku. Entah menulis apa, yang penting aku terlihat sedang sibuk.

“ya~ bagaimana tugas kita?” eh? Tugas? “kenapa kau melamun? Atau jangan-jangan… yak! Kau lupa mengerjakanya ya?!” ah, aku ingat. Tugas sejarah dari Jinki sonsaengnim. Untung saja kemarin aku cepat merapihkan bahan mentah hasil kerjanya. Kalau tidak, habislah semua nilaiku.

“tenang tuan Kim.. tugas kita sudah ku selesaikan dengan baik” jawabku enteng. Kini dia tersenyum dan… OMO! Dia mengelus puncak kepalaku!! Dan… IGE MWOYA?! DIA MENCUBIT PIPIKU! Panas… panas… aku yakin wajahku memerah sekarang! God! Eotokhae??! >,<

“aku suka ekspresi itu…” dia mengeluarkan lagi senyumanya yang… err… sexy? Yak! Pengakuan apa ini?!

ya! jangan lupa kau yang presentasi kedepan!” seruku. Lagi dan lagi dia menunjukan senyum itu. Raawwrrr!!! Aku bisa gila kalau terus satu kelas dengannya!

See? Bisa kalian lihat caranya berkomunikasi denganku? Atau ini masih kurang? Kalian masih menyalahkanku menyukai namja itu? Oke tidak masalah. Nanti kalian akan mengerti bagaimana sulitnya jadi seorang Choi Eunji.

———

Seperti biasa disaat bel istirahat berbunyi. Kelas yang tadinya ramai dengan kertas yang beterbangan kini sepi seketika. Semua berandal itu menuju basecamp sekolah kami. Ya, kantin. Oh apa aku sebut teman sekelasku dengan sebutan ‘berandal’? hmm… ya.. bisa disimpulkan seperti itu. Karna kelas kamilah yang dinobatkan sebagai kelas ‘terheboh’ dan ‘teramai’. Eiiittss… jangan salah sangka dulu. Meskipun ramai dan heboh, kemampuan otak kami diatas rata-rata. Aku tidak bermaksud sombong, tapi itulah kenyataan.

“Eun-ah, kau tidak makan?” tanya namja itu. Sudah tahu kan siapa?

ani… kau saja jjong…”

jeongmal? Tidak biasanya kau seperti ini… wae? Kau sakit?”

aniyo… sudah kalau kau mau makan, ya makan saja.”

ya! bukankah kau punya mag?” pertanyaanya membuatku skakmat. Jujur saja, aku malas makan hari ini karna… kau! Hah! Bisakah kau merasakan hal itu? Apa kau tidak peka pada perasaanku? Bukankah kau sudah tahu bagaimana perasaanku padamu? Tolonglah Kim Jonghyun, peka sedikit pada perasaanku.

“aku tidak mau tahu! Kau harus makan! Kau pesan apa saja biar aku yang bayar yang penting perutmu diisi.” Omelnya lagi. Oke ini berlebihan. Umma ku saja hanya menasihati, bukan mengomel seperti ini.

“Sudah ku katakan padamu Kim Jonghyun… aku tidak lapar…” secara tidak sengaja mataku dan matanya bertemu. Tatapan itu sangat tajam dan terkesan garang. Oke aku mengerti. “baiklah… aku pesan ramyeon satu” tak lama tatapanya melunak. Jonghyun langsung bangkit dan kembali dengan semangkuk ramyeon hangat.

“makanlah.. aku tidak mau kau kenapa-kenapa”

DEG.

Apa ini? Kenapa jantung bodoh ini terus berdetak kencang ketika manusia itu menatap lembut ke arahku? Ada yang salah denganmu, hey jantung bodoh? Tidak bisakah kau mengontrol dirimu sendiri untuk berdetak lebih normal seperti biasanya?

———

Pulang sekolah adalah hal yang paling ku tunggu setiap harinya. Well, aku memang sudah sangat lelah berfikir selama delapan jam. Atau bahkan jika kami ada kelas tambahan, Jinki songsaengnim tak akan membiarkan kami pulang cepat.

Oh tuhan… aku mengingat manusia menyebalkan itu lagi. Kenapa wajahmu selalu nampak di fikiranku wahai tuan Kim Jonghyun? Sumpah demi apapun, aku lelah dengan semua ini. Aku ingin sekali mengakhiri perasaan ini. Tapi apa? Kau yang membuatku berharap!

Rrr~

Ponselku bergetar. Ah, mungkin umma yang memberi pesan padaku agar cepat pulang. Kalian tahu, umma ku sangat amat menyayangiku. Memang semua ibu seperti itu, tapi tetap saja ummaku lah juaranya hahaha. Oke abaikan.

Rrrr~ rrr~

Kali ini ponselku bergetar berkali kali. Ada panggilan masuk rupanya.

DEG.

Omo! Aku tidak salah lihat kah? Kenapa? Kenapa Kim Jonghyun menelfonku? Apa dia ingin menceritakan lagi tentang pacarnya itu?

yoboseo…”

“yaa~~! Kenapa lama sekali?”

mianhae.. ponselku di dalam tas, aku harus membongkar isi tas ku dahulu..” dustaku. Sebenarnya aku malas mengangkat telfonmu Kim Jonghyun. “wae?”

“bisa kita bertemu? Katakan kau dimana biar aku menjemputmu”

mwo? Untuk apa? Bukannya tugas kita sudah selesai? Atau jangan bilang kau menyuuhku mengerjakan tugasmu?! Andwae! Shireoo!!”

aniyo… aku hanya ingin mengatakan sesuatu.” Tiba tiba nada bicaranya melemah. Bisa ku simpulkan kalau dia sedang… sedih? Eh? Untuk apa dia bersedih? Seorang Kim Jonghyun tak pernah terlihat sedih. Yeah, kecuali di depanku dan saat dia sedang curhat masalahnya denganku.

“oh, geuraeso… aku di halte depan sekolah”

“aku segera kesana.” Bip. Dia mematikan sambunganya. Err… jujur saja, entah kenapa aku jadi berharap kalau dia putus dengan Lee Taerin dan memintaku menjadi pengganti Taerin di hatinya.

Bolehkah aku berharap seperti itu? Hey, aku sudah mencoba untuk tidak egois! Bagaimana kalau kalian yang ada di posisiku? Hal ini benar-benar memuakan! Jika memang benar Jonghyun putus dengan Taerin dan lebih memilih aku, bisa-bisa aku di cap sebagai wanita perusak hubungan orang! Benar, kan? Susah jika kau menjalani kisah cinta seorang Choi Eunji!

“hey gadis manis… tidak usah melamunkan diriku.” Ah, dia sudah sampai rupanya. Eh? Dia bilang apa tadi?

“ow… sabar nona…  tidak perlu menatapku garang seperti itu hahaha.. kau telihat lucu Eunji…” ejeknya lagi. Oh tidak… wajahku memanas lagi. Great Kim Jonghyun! Sebentar lagi wajahku akan memerah seperti tomat. Mungin sudah memerah sejak tadi.

———

“kau mau pesan apa?” tanya Jonghyun. Aneh. Biasanya dia yang merengek padaku minta di traktir. Atau jangan-jangan Jonghyun benar-benar putus dengan Taerin? Yak! Andwae!! Jauhkan pemikiran kotor itu!

“hot latte”

“hot latte dua” ucapnya pada pelayan toko.

Ini menarik. Aku menunggu dengan perasaan yang berdebar-debar apa yang ingin dia katakan. Mungkinkah ia mengakui perasaanya padaku?

“jadi, apa yang ingin kau katakan, eoh? Sepetinya darurat sekali” seketika raut wajahnya menjadi menyedihkan. Ah… iya, aku sudah bisa menebak. “kau putus dengan Taerin?” terkaku. Dan… gothca! Dia menganguk!

“kami sepakat akan hal itu.” Jonghyun menghela napasnya yang berat. Bisa kurasakan suasana menjadi sedikit dramatis. Jujur, aku senang dan juga sedih. Senang karna, ya kalian tahu lah bagaimana. Dan sedih karna berakhirnya hubungan Jonghyun dan Taerin.

Kalian jangan berfikir kalau aku sedih hanya ingin dapat simpati dari Jonghyun semata. Aku sedih dan memang sedih. Aku ikut merasa bersalah akan kandasnya hubungan mereka. Bagaimana kalau mereka putus karna aku? Habislah sudah riwayat seorang Choi Eunji!

wae?” tanyaku lagi. Kali ini Jonghyun menatapku dengan sangat lembut. Dan lagi lagi jantung ini berdetak di luar batas kenormalannya.

“itu…. Ah, tidak penting”

“katakanlah… siapa tahu aku bisa membantumu menyelesaikannya dan kembali pada Taerin. Aku tahu kau masih menyukainya. Terpancar jelas di matamu”

jinjja?”

“iya… setidaknya, mata tidak bisa berbohong”

“kalau begitu kau salah nona Choi…” tiba-tiba Jonghyun mengeluarkan smirk khasnya padaku. “aku tidak menyukainya lagi”

“lantas? Siapa yang kau suka? Choi Sooyoung? Im Yoona? Atau—“

“aku menyukaimu.”

DEG.

OH MY…GOD! Apa yang dia katakan tadi? Aku tidak salah dengar kan?

“jangan bercanda… aku serius menanggapi semua omonganmu tadi. Jadi seriuslah sedikit”

“aku sangat serius.”

———

Masih berkutat dengan perkataan Jonghyun kemarin. Sepertinya otak dan hatiku tidak berjalan bersamaan. Well, otaku mengatakan kalau ini adalah kesempatan bagus untuk memiliki Jonghyun. Aku sudah lama menyukainya. Tapi tidak dengan hatiku. Aku sangat bersalah padanya. Aku takut jika mereka berakhir karna Taerin risih padaku. Ahhh eotokhae? Aku memikirkan hal ini semalaman!

Ketika kakiku melangkah memasuki koridor, entah kenapa semua murid menatapku sinis. Banyak dari mereka tersenyum meremehkan ke arahku. Aku tidak perduli. Toh aku tidak melakukan kesalahan apapun pada mereka.

“hey, kau tahu? Ada gadis bermuka tembok di kelas ini…”

jinjja?”

“iya! Ku kira dia gadis yang baik. Nyatanya kebaikanya itu hanya kedok dari kebusukan hatinya. Aku tidak menyangka ada orang sejahat dia..” yeoja itu memberi penekanan pada kata ‘dia’ dan menatap sinis ke arahku. Aku mencoba untuk bersikap biasa.

“katanya sahabat, tapi akhirnya dia pacari juga… manusia yang munafik…” lagi lagi ada penekanan di kata ‘munafik’ ketika aku lewat di depanya. Ya tuhan… apa salahku pada mereka?

“parahnya lagi sahabatnya putus dengan kekasihnya karna dia… benar benar wanita penggoda!” segera kupercepat langkahku dan mencoba untuk tidak mendengakan semua perkataan mereka.

Akhirnya, suara gaduh muncul ketika aku berjalan melewati sebuah kelas. Ini kelasku. Dan aku sangat bahagia mendengar kegaduhan mereka semua. Semoga saja mereka tidak menyebalkan.

Eh, tunggu dulu… kenapa kelas ini tiba-tiba sepi? Perasaan saat aku masih di depan kelas, mereka semua masih asyik berbincang satu sama lain. Tatapan mereka juga terlihat agak sinis saat menatapku. Apa ada yang salah denganku? Ah masa bodoh. Paling-paling mereka terkejut melihat tampangku yang acakadut begini.

Tak lama, mataku menangkap sosoknya tengah berdiri didepan kelas. Deg! Dia melihat ke arahku dan tersenyum. Sumpah demi apapun senyumanya itu adalah hal yang paling kusuka dari dirinya. Setiap kali aku melihat senyumanya, jantungku berdetak kencang dan entah kenapa aku ikut tersenyum juga. Kini dia berjalan menuju meja yang ku duduki. Errr.. sebenarnya kami teman sebangku. Oh tuhan, apa yang harus ku katakan jika dia tiba-tiba mengatakan hal itu lagi?

“pagi, Eunji-ah…” sapanya ramah. Aku tersenyum.

“pagi…”

aigoo… kau terlihat sangat buruk! Gwaenchana?” ucapnya sambil menyentuh dahi dan leher ku.

“ya~ ternyata benar Jonghyun dan pacarnya putus karna Eunji!”

“aku tidak menyangka dia perebut pacar orang… ternyata baik diluar tidak menjamin baik di dalam”

DEG!

Aku terdiam mendengar bisikan itu. Aku berfikir kembali, apa salah aku menerima sikap baik dari sahabatku sendiri? hey! Kami sudah bersahabat sejak SMP! Apa dengan menanyakan kesehatan bisa disimpulkan kami berpacaran? Sumpah aku tidak bermaksud merusak hubungan mereka!

“selamat pagi semuanya…” sapa Jinki sonsaengnim. Ah, pelajaran guru biadap ini lagi. Kepalaku yang sakit bisa bertambah sakit jika manusia abad 18 ini yang mengajar.

songsaengnim..”

“ada apa, Choi Eunji?”

“boleh aku izin ke ruang kesehatan?” pintaku. Aku memasang wajah yang paling menyedihkan yang ku punya. Semoga dia mengizinkan

“ah, kau sakit? Wajahmu terlihat berantakan” aku hanya mengangguk. Well, memang aku ingin ke ruang kesehatan bukan hanya karna ingin menghindar dari guru biadap ini, kepalaku juga sudah cenat-cenut sendiri. “baiklah…”

“aku izin menemaninya, songsaengnim..” tiba tiba Jonghyun ikut berdiri dan mengatakan hal bodoh itu. Lihatlah semua mata menuju ke arah kami. Banyak yang berbisik dan sialnya bisikan itu sejenis. Iya, semua tentang aku sebagai ‘perusak hubungan orang’. Ah benar-benar namja bodoh! Dia belum mengerti rupanya.

“tidak usah songsaengnim… aku bisa sendiri” jawabku dan langsung beranjak pergi dari sini. Aku tidak mau tatapan menyebalkan itu kembali menyerbuku lagi. Aku sudah muak terus ditatap seperti itu! Ditambah lagi omongan-omongan mereka yang menusuk.

Tidak usah menyusuri tiap koridor, kini aku sudah sampai di ruang kesehatan. Jung Hyora, penanggung jawab ruang kesehatan sekolah kami, menyambutku dengan senyuman. Aku cukup mengenal Jung songsaengnim. Dia guru biologi yang mengajar di kelasku sekaligus temanku berbicara. Dia masih berstatus sebagai mahasiswa tingkat 2 di Universitas Parang dan usianya hanya berbeda 5 tahun denganku. Jadi kami cukup nyambung jika saling bertukar fikiran.

“ada apa? Tidak biasanya seorang Choi Eunji datang dengan tampang berantakan seperti ini..”

“benarkah? Apa seburuk itu wajahku, songsaengnim?” tanyaku penasaran. Kini dia menuntunku agar aku duduk di atas tempat tidur.

“sayang aku tidak membawa cermin… tapi kantung matamu terlihat sangat jelas. Wajahmu juga pucat.” Aku meraba kedua mataku dan bibirku setelahnya. Bisa kurasakan bibir ini kering dan kasar. Ah, apa seburuk itu?

“kepalaku agak pusing. Semalam aku tidak bisa tidur sampai jam 4 pagi. Jika aku tidak meminum obat tidur aku tidak akan bisa tidur sampai sekarang” lanjutku.

“apakah begitu menyenangkan sampai-sampai kau tidak bisa tidur, heum?”

mwo? Apa yang menyenangkan?”

“kau pura-pura tidak tahu, apa benar-benar tidak tahu?” aku menatapnya heran. Akhirnya dia tertawa melihat wajahku ini. Tapi, aku benar-benar tidak mengerti apa yang Jung songsaengnim katakan.

“sepertinya kau benar-benar tidak tahu..” lanjutnya. Dia menyuruhku berbaring di tempat tidur dan mengigit termometer. Dia juga mengecek detak jantung dan kedua mataku. “kemarin, saat aku merapihkan ruangan ini, aku tidak sengaja mendengar seorang siswa yang sedang bergosip di depan ruang kesehatan. Mereka bilang Jonghyun menyatakan perasaanya padamu di café dekat sekolah.”

DEG!

Oh my god! BAGAIMANA MEREKA BISA TAHU?! Mereka menguntit aku dan Jonghyun?! Ya tuhan… aku yakin berita buruk itu sudah tersiar kemana-mana! Pantas saja satu kelas menatapku sinis! Ternyata seluruh sekolah sudah mengetahuinya sejak KEMARIN! Sekali lagi, KEMARIN! Bagaimana ini?!

“tapi, katamu Jonghyun sudah memiliki kekasih, kan?” aku menunduk. Jonghyun sudah memiliki kekasih. Tapi mereka sudah putus karna aku. Ya. akulah penyebab mereka berdua putus!

———

Aku berlari secepat mungkin dari ruang kesehatan. Sungguh, aku tidak sanggup lagi menahan air mata ini. Aku tidak perduli kemanapun kaki ini melangkah. Yang penting tempat itu sepi dan tidak ada satupun orang ada disana.

“oh Taerin-ah.. bukankah dia perusak hubunganmu dengan Jonghyun?” aku terdiam. Lee Taein ada disini?

“mwo? Choi Eunji maksudmu?”

“iya… kau tahu, bahkan Jonghyun lebih mesra denganya dibandingkan denganmu…”

“aku tahu… karna itu aku mengakhiri hubungan kami. Agar dia ‘puas’ bermesraan kembali dengan si dino. Dasar wanita penggoda!”

“YA! APA MAKSUDMU?!” aku berbalik dan berteriak. Disinilah batas kesabaran seorang Choi Eunji.

“oh, apa kau marah nona penggoda?”

“jaga ucapanmu itu!”

“maaf, aku hanya mengatakan kenyataanya. Silahkan kau ambil ‘bekas’ dariku, nona penggoda.”

“YA!”

“apa maksudnya ini?” tiba tiba Jonghyun  muncul di balik toilet pria. “siapa yang kalian sebut wanita penggoda?”

“ah, sang pangeran penyelamat datang. Aku takut mengganggu kemesraanmu dengan ‘bekasku’ ini. Anyeong~” mereka tersenyum mengejek dan berjalan kearahku. Taerin menyenggol bahuku dengan kasar. “penggoda. Ck” cibirnya lagi.

Ya tuhan… aku benar benar tidak sanggup lagi! Aku bukan wanita penggoda! Apa kalian tidak bisa mengerti aku? Mengerti perasaanku?

“Eunji-ahuljimayo..” Jonghyun menatapku kasihan. Ya, aku terlihat begitu menyedihkan sehingga dia kasihan melihatku. Wajahku sudah basah dengan air mata. Sudah bisa kutebak seburuk apa wajahku ini.

Kini dia menggenggam tanganku dan sebelahnya lagi mencoba meraih wajahku. “jangan sentuh aku!”

“Eunji-ah.. aku—“

“APA?! Kau mau bilang kalau kau menyesal? Kau mau minta maaf?!”

Dia tidak menjawab dan lebih memilih menunduk. Ya, kau hanya bisa bungkam! Coba mengertilah aku. Mengerti perasaanku, setidaknya sedikit saja. Bisakah?

“cih! Semuanya terlambat Kim Jonghyun! Mereka sudah tahu semuanya! Apa kau tahu sulitnya berada diposisiku?! Apa kau tahu bagaimana perasaanku? TIDAK! Kau tidak tahu rasanya jadi aku!”

“Eun-ahmianhae…”

Aku tidak perduli. Secepat mungkin aku berlari menjauh darinya. Aku tidak perduli siswa-siswa yang menatapku heran. Mungin mereka mengira kalau aku seorang perempuan yang sedang depresi berlarian di koridor sekolah.

———

Aku tidak tahu mengapa aku bisa menyukai dia. Entah sejak kapan rasa ini muncul, yang ku tahu hanya aku menyukainya lebih dari sekedar teman. aku tahu perasaanku ini benar benar tidak pantas, mengingat Jonghyun yang sudah memiliki kekasih. Aku tidak mau disebut ‘perusak hubungan orang’. Tidak mau.

Hanya saja, aku sulit untuk melepaskannya! Aku benar benar sakit ketika Jonghyun menceritakan kemesraanya dengan Taerin, apa saja yang mereka lakukan berdua, dan apapun itu, aku benar-benar benci! Sungguh, aku tidak ingin terus-terusan memiliki perasaan ini.. hanya saja, rasanya sangat sulit melepasnya.

Saat aku mencoba menghilangkan dia dari hatiku, dia kembali membawa perhatian lebih padaku. Membuat hatiku kembali berbunga-bunga. Dia selalu meruntuhkan egoku untuk membunuh perasaan ini. Merobohkan dinding keyakinan yang ku bangun.

Aku hanya ingin meminta pada kalian. Tidak semua pihak ketiga itu salah. Tidak semua pihak ketiga itu merebut hak milik orang. Ada juga diantara mereka yang terjebak dalam perasaan mereka sendiri. Mereka sulit untuk melepaskan karna sebuah perhatian yang susah diartikan. Seperti aku. Jadi, kumohon jangan selalu menyalahkan pihak ketiga.

FIN

Eottae? Absurkah? Kurang feel? Jujur, aku rasa endingnya ini agak maksa T^T Maianhae… aku masih belajar jadi mohon dimaafkan *bowbow* okeh kritik dan saranya ya. itu sangat membantu karna aku masih belajar jadi author^^ thanks for reading *tebarcium*

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

17 thoughts on “Third Person

  1. huwee T^T bikin sequelnya dong.. seru nih kayanya klo di buat sequel😀

    kasian eunji digituin.. untung bukan taeminku yang kaya gitu *plak*

  2. Waduh !!!!

    Ini benar benar real in life.
    Karna persahabat antar lawan jenis itu memang sulit.

    Over all, good job authorrrrrrr

  3. Nyakeeettt broooohh untung saja aku pernah mengalami itu tapi tidak berakhir seperti ituuuuuhhh (?) *curhat, ren?*
    oke, ini ga ada yang salah sebenernya. cuma dunia itu emang rumit. *apasihh*
    feel nya dapet, cuma mungkin diperhalus lagi😀
    nice fic😀 keep writingg ^^

  4. Sulit jadi orang ke tiga :3
    kasihan Eunji….😦
    Si Jjong juga kasih perhatiannya gitu bgt :3
    Tapi yg bikin aku penasaran kenapa si Eunji bilang si Jinki guru biadap? -_- kasihan Jinkinya T.T

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s