Trusty

Title                  : Trusty

Author              : Loemongga Khofifah

Main Cast        :

-Lee Yeon Ju

-Lee Jinki

Support Cast    : -Park Hyo Sung

Lenght             : Oneshoot

Genre               : Romance, Fluff, little Sad (?)

Rating              : PG-16

Summary          : This story is original my mine, and caracter not real. Enjoy reading^^

Matahari memaksa masuk dari celah jendela kamar mereka. Sinar terangnya mampu membuat seseorang yang ada didalamnya terbangun dari alam mimpi.

“Nnnggghhh…” rintihnya.

Perlahan yeoja itu membuka mata. Dia terus menggeliat diatas tempat tidur sampai kegiatannya itu berhenti ketika mendapati seorang namja tampan disbelah kirinya yang sedang berbaring dengan mata terpejam.

Diperhatikannya namja yang ada disebelahnya itu. Pelahan jari telunjuknya menelusuri wajah sang namja. Dari kening, hidung, lalu berhenti dibibir. Dia tersenyum sinis, memori otaknya kembali mengingat ‘first kiss’nya yang dulu mendarat dibibir itu. Lee Jinki, namja yang sudah menjadi suaminya sejak tiga tahun terakhir.

Tangannya berpindah ke pipi namja itu pelan.

“Morning…” ucapnya sambil mengecup pipi yang terbebas dari tangannya.

Jinki yang daritadi sudah terbangun, hanya bisa berpura-pura tidur. Dia membiarkan istrinya menyentuh dan menciumnya pagi itu. Meski didalam hatinya ada keinginan untuk membalas.

‘Awas saja nanti, akan kubalas kau Yeon Ju. Bisa-bisanya kau menciumku tanpa seizinku! Huh’ — gerutu Jinki dalam hati.

Yeon Ju bangkit dari tempat tidurnya dan langsung menuju kamar mandi. Tak lama kemudian dia kembali hanya dengan memakai sehelai handuk. Menampakkan kakinya yang jenjang.

Dia sedikit berjinjit untuk mengambil pakaiannya yang ada di lemari tinggi. Meski Yeon Ju cukup tinggi untuk ukuran yeoja, namun tetap saja dia tidak bisa meraih lemari yang tinggi itu. Biasanya Jinki yang selalu membantunya mengambil pakaian pada saat-saat seperti ini. Namun apa daya? Jinki masih -berpura-pura- tidur karena semalaman dia lembur didepan laptopnya. Bisa dihitung dia baru tidur tiga jam sampai sekarang. Karna merasa tak tega, maka Yeon Ju tak membangunkannya.

Tanpa sepengetahuan Yeon Ju, Jinki sedang mengintipnya yang sedang berusaha keras meraih beberapa baju yang ada dilemari itu. Ada keinginan dihati namja itu untuk menolong istrinya. Namun diurungkannya niatnya, karena ia tak mau usahanya sia-sia.

“Ah!” Yeon Ju menghembuskan nafas lega ketika dirinya berhasil mendapatkan pakaian yg diinginkannya.

Setelah badannya tertutup rapi dengan kaos dan hotpants yang dipakainya, Yeon Ju langsung bergegas ke dapur, menyiapkan sarapan menu ayam untuk dirinya dan suaminya.

“Ya! Lee Jinki! Mau sampai kapan kau ada disana ha?” Yeon Ju sedikit teriak dari pantry dapur.

Apartemen Jinki dan Yeon Ju bisa dibilang sederhana. Walaupun Jinki cukup mapan dalam soal pekerjaan, namun tetap saja Yeon Ju tidak mau uang Jinki habis hanya untuk membeli apartemen yg mewah untuk mereka berdua.

“Ya! Lee Jinki!! Palli ireona!! Kau mau jadi pengangguran hah?!!” melihat lawan bicaranya tak bergeming, Yeon Ju kembali membuat langit-langit apartemennya hampir roboh.

“Nnnggghh…” Jinki yang -sebenarnya berpura-pura- tidur itu hanya bisa merintih ditempat tidurnya. Dia mengucek-ucek matanya pelan

“Ya yeobo, tak bisakah kau membangunkanku dengan cara yang lebih halus?” pintanya. Jinki melihat jam yang ada dimeja samping tempat tidurnya. Dia melebarkan matanya saat melihat angka yang ada di jam itu.

“Ya! Kenapa kau tidak membangunkanku daritadi sih?! Aiisshh..” Jinki langsung melompat dari tempat tidur ke kamar mandi.

Yeon Ju hanya bisa menggeleng-geleng melihat tingkah suaminya.

Hanya tujuh menit Jinki berada dikamar mandi. Dia keluar dengan handuk putih yang melingkar dipinggangnya. Cepat-cepat dia meraih semua pakaian yang dibutuhkannya

“Yeon Ju, cepat bantu aku pakai dasi ini” teriak Jinki.

“Bukannya kau bilang hanya ada rekaman artis baru hari ini? Bukan ada rapat dengan direktur dari perusahan lain kan? Kenapa harus rapih-rapih sekali?”

Ya, benar! Kecintaan Jinki terhadap musik mampu membuatnya menjadi seorang produser rekaman.

“Ah! Aku lupa!” Jinki membuka kancing kemejanya dengan paksa. Dia mengganti pakaiannya dengan kaos oblonk biasa dan celana jins santai.

“Aku pergi!” teriak Jinki sambil meraih jacket tebalnya yang ada digantungan belakang pintu.

“Eh?” Yeon Ju menatap heran kepergian suaminya. Tidak biasanya Jinki pergi seperti itu. Biasanya walaupun Jinki sudah terlambat, pasti dia masih menyempankan meneguk segelas kopi yang telah disiapkan Yeon Ju, mengecup kening yeoja itu, dan pergi dengan senyum ketulusan.

Namun pagi ini sangat berbeda, dia tak meminum kopi yang telah disediakan Yeon Ju, dia tak mengecup kening istrinya, dan jangankan memberikan senyuman yang tulus, menatap istrinya saja tidak. Yeon Ju terlihat sedikit kesal, tapi dia masih bisa memakluminya.

+++++

Yeon Ju berjalan menuju halte bus yang ada didepan apartemennya. Dia ingin ke supermarket, membeli bahan-bahan ayam. Namun tiba-tiba langkahnya berhenti ketika melihat Jinki sedang berada disebuah kafe dengan seorang wanita yang tidak dikenalnya.

“Ngh? Apa itu?” pandangan Yeon Ju beralih ketangan Jinki yang terlihat menggenggam tangan wanita itu erat. Sangat erat. Ada sedikit getaran hebat di dadanya. Namun ditepisnya perasaan itu. Mencoba untuk berfikiran jernih.

Yeon Ju melanjutkan perjalanan kesupermarket yang sempat tertunda.

+++++

Sudah hampir dua jam Yeon Ju mengitari isi supermaret. Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah bungkusan nugget yang tinggal satu di rak perbelanjaan. Perlahan tangannya mencoba meraih sebungkus nugget itu, namun sayang, ada tangan lain yang meraih lebih cepat dibandingkan Yeon Ju.

“Eh?” Yeon Ju mengalihkan pandangannya ke sipemilik tangan. Si pemilik tangan tadi menatap Yeon Ju heran.

“Perkenalkan, namaku Yeon Ju, kalau kau?” Yeon Ju mencoba ramah terhadap wanita itu.

“Nde, aku Hyo Sung” yeoja bernama Hyo Sung itu tersenyum ramah kepada Yeon Ju.

“Ngg…Maaf, kalau aku boleh bertanya, bukankah kau yang bersama Jinki di Charlie Brown Caffe tadi?”

“Eh? Bagaimana kau bisa tau?” Hyo Sung menatap Yeon Ju dengan tatapan semakin penasaran.

“Iya, aku melihatnya tadi hehe. Kalau boleh tau, kau siapanya Jinki ya?” Yeon Ju mencoba bertanya dengan se-relaks mungkin meski dadanya berdegup kencang.

“Aku…Aku pacarnya Jinki, kalau kau siapanya Jinki?” Hyo Sung menjawab dengan bangga.

“MWO?!” Yeon Ju membelalakkan matanya tak percaya. Ketakutannya sedari tadi terjawab sudah.

“Ne, aku pacarnya Jinki. Kalau kau siapanya? Dan mengapa kalian bisa saling kenal?” Hyo Sung mencoba meyakinkan Yeon Ju.

Perlahan tangan Yeon Ju mencoba menutup mulutnya, agar dia tidak histeris, dan diwaktu yg bersamaan jatuhlah air mata yang sedari tadi membendung dipelipis matanya.

Yeon Ju berlari meninggalkan Hyo Sung yang masih menatapnya heran dan meninggalkan troli belanjaannya sendiri. Dia terus berlari tanpa tujuan. Rasa sakit yang ada di dadanya, dikeluarkannya bersama dengan air mata yang terus mengalir. Dia tidak percaya kalau Jinki setega itu. Dia tidak percaya kalau Jinki berani bermain dibelakangnya. Dia tidak percaya kalau Jinki menghianatinya. Yeon Ju terus berlari sampai akhirnya ia merasa lelah dan berhenti diapartemennya sendiri.

‘Dr…dr..’ handphone Yeon Ju yang sedari tadi bersembunyi di kantong celananya bergetar. Dia menghapus air matanya dan memperjelas pandangannya. Dibacanya nama pengirim pesan itu.

From : Mr. Chicken

Datanglah ke Ice Skating Rink Grand Hyatt Hotel Seoul jam 7 malam nanti.

“Cih, masih bisakah dia bertindak sok romantis didepanku?” Yeon Ju mencibir isi pesan Jinki.

+++++

‘BRAK!’ pintu apartement dibuka paksa oleh seseorang.

“Yeon Ju, kenapa kau tak datang? Hah?” — Jinki yang masih diambang pintu setengah berteriak kepada Yeon Ju yang kini terbaring ditempat tidur.

“Ngghh..?” Yeon Ju merintih, mencoba bangkit dari tempat tidur. Matanya sengaja disipitkan agar bisa menyesuaikan pandangannya dengan cahaya yang masuk ke matanya.

“Yeon Ju, matamu………………” Jinki kaget melihat mata Yeon Ju yang kini sudah membengkak.

“Jinki, wajahmu kenapa……?” Yeon Ju juga tak kalah kaget melihat wajah Jinki yang kini sudah pucat karena kedinginan.

Yeon Ju bangkit dari tempat tidur, mencoba menghampiri Jinki yang masih berdiri kaku didepan pintu. Jinki tertegun ketika melihat istrinya yang kini cuma memakai kaos oblonk warna putih dan underware hitam itu. Memang, Yeon Ju hanya bisa tidur kalau dia cuma memakai underware.

“Jinki…..kau..kenapa wajahmu begini?” Yeon Ju meraih pipi Jinki yang kini rasanya sudah sedingin es.

“Yeon Ju, kenapa kau tidak datang? Aku menunggumu terus,” ucap Jinki lirih sambil menatap mata istrinya.

“Kau….” ingatan Yeon Ju kembali kebeberapa jam yang lalu. Kejadian yang membuat hatinya terasa begitu sakit! Yeon Ju membalikkan badannya. Mencoba meredamkan rasa sedihnya. Dia tau, kalau dia terus-terusan memandang Jinki, rasa kecewanya itu tidak akan pernah hilang.

“Yeon Ju, ku mohon jangan seperti ini” Jinki memeluk Yeon Ju dari belakang.

“Aku tau aku salah, maafkan aku…”

“…kau pasti sangat kecewa dengan kejadian yang tadi siang. Aku benar-benar minta maaf Yeon Ju. Aku tak bermaksud menduakanmu. Aku dan Hyo Sung memang sengaja merencanakan ini. Awalnya Hyo Sung menolak karena dia yakin rencanaku akan membuatmu sakit hati. Tapi aku memaksanya demi melancarkan surprise ulangtahunmu jam 7 tadi. Maafkan aku,” Jinki semakin mempererat pelukannya.

“Ulangtahunku?” Yeon Ju berbalik menatap mata Jinki. Mencoba mencari celah kebohongan disana. Namun hasilnya nihil.

“Nde, ulangtahunmu. Kenapa? Kau lupa dengan ulangtahunmu sendiri?” nada suara Jinki terdengar kaget.

Yeon Ju mencoba mengingat tanggal berapa sekarang. Yap! Benar saja! 21 oktober *author numpang eksis* . Jinki benar, Yeon Ju melupakan hari ulangtahunnya. Ada rasa ke-legaan, tenang, dan bahagia, ketika Jinki menjelaskan semuanya padanya. Mereka masih saling tukar pandang, sampai akhirnya Jinki membuka pembicaraan.

“Yeonnie..maafkan aku..Aku sengaja berbuat seperti itu kepadamu tanpa memikirkan perasaanmu sendiri. Tapi kalau aku memberitahu rencanaku, maka usahaku untuk tidak tidur semalaman akan sia-sia. Kumohon maafkan aku Yeonnie” Jinki memanggil istrinya dengan sebutan kesukaan Yeon Ju ketika mereka masih pacaran. Dia menautkan jari-jarinya disela jari-jari Yeon Ju. Tergambar jelas raut memohon diparasnya sekarang.

Yeon Ju tak bisa berkata apa-apa. Dia hanya mengangguk tanpa melepas kontak mata mereka.

Jinki tersenyum dan melepas tangannya, menaruhnya dipipi Yeon Ju. Perlahan tapi pasti dia mendekatkan wajahnya ke wajah Yeon Ju. Jinki memiringkan kepalanya, matanya perlahan terpejam dan tanpa sadar Yeon Ju pun menutup matanya, menunggu apa yang terjadi selanjutnya. *CHU~

Bibir mereka saling bertemu. Jinki menciumnya dengan penuh perasaan. Bibirnya bergerak dengan perlahan dan lembut. Rasanya begitu manis. Namun Yeon Ju diam saja, tak membalasnya. Dia mencoba merasakan hangatnya sentuhan dari bibir suaminya.

Jinki belum berhenti mencium bibir Yeon Ju. Jujur saja, Yeon Ju menyukai cara Jinki menciumnya, begitu lembut, tanpa ada rasa nafsu sedikitpun. Yeon Ju tersenyum lalu mulai membalas ciumannya. Jinki tampak tersenyum juga dan melanjutkan adegan itu.

Yeon Ju membuka matanya saat merasa Jinki menarik bibirnya. Wajahnya masih berada tepat didepan wajah Jinki. Bibir mereka hanya berjarak beberapa inci saja. Jinki tersenyum manis sekali, lalu kembali mencium Yeon Ju. Kedua tangan Yeon Ju perlahan naik ke tengkuk Jinki dan mengusapnya lembut sebelum akhirnya melingkar sempurna di leher Jinki. Yeon Ju merasa tubuhnya semakin hangat. Jinki memeluk tubuhnya semakin erat.

Perlahan Jinki mengakhiri ciuman mereka. Dia menatap Yeon Ju dalam dan masih menyisakan beberapa inci saja untuk jarak bibir mereka.

“Yeonnie,” panggilnya.

“Emm?”

“Karena kau telah merusak acara surprise partyku, dan walaupun ulangtahunmu sudah lewat 2jam yang lalu, maka kau harus menggantinya!”

“Baiklah, maafkan aku. Sekarang kau mau apa?” Yeon Ju mencoba menantang Jinki sedangkan tangannya masih melingkar dileher namja itu.

“Ayo kita buat keturunan!”

“MWO?” Yeon Ju membelalakkan kedua matanya, sedangkan Jinki tertawa puas.

-FIND-

Gimana gaje banget kan? Feelnya gadapet. Jujur waktu buat ff ini berasa dosa banget. Soalnya umurku belum sampe 15tahun muahaha. FF ini juga terinspirasi waktu aku baca ff nc pertama kali. Astagaaaa-_-tapi jujur, waktu baca ff nc aku rada aneh aja. Ada bahasa-bahasa yang aku kurang ngerti. Dan disitu aku gak mau baca ff nc lagi. Aku cuma mau baca yang bergenre romance, not nc. Kalian pasti tau apa bedanya kan. Nah, itu dia sedikit curcolanku tentang pembuatan ff ini. Maaf banget kalau kurang berkenan dihati para readers. Jangan lupa komen ya *bow^^~

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

9 thoughts on “Trusty

  1. Heheheheheeeee….
    Dimana ada FF Jinki, disitu aku akan berseksi…
    eh, maksudnya, beraksi…
    aduh, umurmu msh msh belasan, udah bisa nulis beginian?
    Itu udah bagus banget, loh…
    Gak apa2, masih tahap belajar,
    ntar perlahan tapi pasti,
    bakal ada perbaikan, oke,!
    Lagipula, eonni suka, kok, ceritanya…
    Sweetnya terasa banget….
    Tapi nih berarti udah 3th merit Jinki ma istri lom punya anak?
    Kebangetan, deh, saeng, kesian banget…
    gpp, deh, terus usaha , Jinki-ya….!!!!!
    *apppaaaaaaannnnncoooobbbaaaaaaaa…

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s