Love Pain

POSTER

Love Pain

Author             : Koalakids

Main Cast      : Park Soojin, Kim Jonghyun

Length            : Drabble

Genre              : Romance

Rating             : PG-13

 

Hallo!! Eemm.. oke seharusnya aku lagi nulis tugas akhir tapi malah nulis ff beginian. Ini ff drabble pertama yang aku buat. Idenya entah darimana datangnya. Yang jelas saat itu otakku lagi mumet-mumetnya sama tugas akhir. Dan lagi stress ditanya “Kapan wisudanya? Skripsinya gimana?” pertanyaan yang cukup bikin mood turun. Hehehe. And then… terciptalah sebuah cerita yang agak mengerikan seperti ini. Mungkin karena otak lagi semraut juga kali ya. Well, cukup dengan sesi curhatnya semoga kalian para reader bisa tertular otak stress aku. Kekekeke *canda :p

Oke, happy reading all!!

Apa yang harus dilakukan jika orang yang kau cintai menyakitimu berulang-ulang kali? Bahkan luka itu belum hilang ketika dia menabur luka yang baru. Mungkin meninggalkannya adalah jalan keluar yang baik. Membebaskan dirimu dari belenggunya. Tapi apa yang harus dijawab jika dia memintamu kembali untuk bersamanya? Ingin tetap tinggal tapi hati masih luka. Ingin pergi tapi masih cinta. Apa yang harus dijawab jika dia bersedia melakukan apapun demi mengembalikanmu? Padahal cinta itu tanpa syarat. Ataukah aku harus tetap tinggal sampai cinta itu perlahan-lahan mengikis perih hingga aku terbiasa dengan rasa sakit itu. Menjaga cinta itu tetap utuh walau raga ini rapuh. Tapi bagaimana jika perlahan aku mati karena cinta?

*

Siapapun tidak ada yang bisa menghentikannya termasuk aku sendiri. Bukan hal aneh jika wajahku selalu sedikit berubah dengan warna biru keunguan di sekitar wajahku atau bagian tubuhku yang lainnya. Seperti mata panda tapi tidak hitam. Panda lucu tapi aku justru mengerikan.

“Pasti lingkaran disekitar matamu itu ulah Jonghyun lagi. Kenapa tak kau tinggalkan saja kekasihmu itu Soojin-­ah. Pria seperti dia tidak pantas untuk dipertahankan.” Lagi! Sahabatku lagi-lagi berseru kalimat yang sama tanpa bosan.

“Sudah pernah.” Aku menekan-nekan mataku menggunakan handuk hangat sambil sesekali meringis sakit. Tapi didalam hatiku jauh lebih sakit. “Tapi dia memintaku kembali padanya. Dia bilang dia membutuhkanku untuk berada disisinya. Dia tidak bisa hidup dengan benar jika tidak ada aku.”

“Dia membutuhkanmu bukan karena cinta. Dia tidak bisa hidup dengan benar karena tidak ada objek yang bisa ia siksa. Cinta tidak seperti ini. Cinta membawa kebahagiaan bukan penyiksaan.”

Ya, orang bilang begitu tapi aku sudah lupa bagaimana rasanya bahagia karena cinta. Dia menyakitiku berulang-ulang meninggalkan luka bukan hanya di hati tapi juga di fisik. Terakhir dia memukulku dan mencekik leherku karena aku menolak untuk ia tiduri. Sakitnya bagaikan besi panas yang ditancapkan langsung ke kulitmu. Tapi aku tak bisa berbuat apapun selain diam. Aku bisa saja pergi tapi dia akan memintaku kembali.

Dia seperti Minwoo sepupuku berumur 5 tahun yang merusak mainannya tapi saat orang lain merampas mainan itu dia akan menangis meraung-raung meminta mainannya kembali. Bukan untuk dijaga melainkan untuk dirusak lagi. Setiap hari aku menangis hingga air mataku kering, tapi itu semua tidak ada gunanya.

*

Aku mencintainya tapi dia menyakitiku. Sekarang aku melihatnya merangkul seorang wanita keluar dari tempat tinggalnya. Tapi dengan sangat bodohnya kakiku masih tetap berpijak bukan berlari padanya, menamparnya atau apapun yang bisa aku lakukan demi menyalurkan rasa kesalku. Aku hanya mematung, membiarkan aku menyiksa diriku sendiri saat melihatnya berciuman panas dengan wanita itu sebelum mereka memasuki mobil. Ya, aku memang bodoh, idiot. Aku terperangkap dalam belenggunya. Hancur tak bersisa.

Malam ini aku menunggunya datang ke tempatku. Malam ini malam istimewa untukku tapi sayang tidak baginya. Bahkan dia melupakanya tanpa bersalah. Hanya dia yang tidak memberiku ucapan selamat ulang tahun. Bahkan aku harus memaksanya untuk datang malam ini. Perayaan hari ulang tahunku hanya berdua dengannya.

Dia datang tanpa bunga, coklat, puisi, atau kotak berwarna pink. Tapi aku tetap tersenyum menyambutnya, sedangkan dia langsung menciumku tanpa terlebih dahulu membalas senyumanku. Dia menekan dalam bibirku, mendorong tubuhku sampai menghimpit tembok. Aku tak kuasa menolaknya. Selain karena aku mencintainya, tenaganya juga lebih besar. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain menunggunya yang mepelaskan dirinya sendiri.

Dia menatapku. Seharusnya tatapannya itu meneduhkan tapi justru tatapan itu sangat keji. Dia memegang pipiku yang seharusnya ia lakukan dengan lembut tapi justru menekannya hingga sakit.

“Kau tidak membalas ciumanku.” Ucapnya. Seharusnya suaranya itu merdu tapi terdengar seperti musik kematian untukku.

Mianhae.”

Kedua tangannya turun hingga ke leherku dan menekankan jari-jarinya disana. Menyumbat napasku di tenggorokan.

“Untuk apa kau menyuruhku datang kesini Soojin-ah?”

Aku kekasihnya tapi aku lebih terlihat seperti tawanannya.

“Hari ini hari ulang tahunku. Aku…i..uhuk… ingin meraya…heeeghh…kannya.. ber..heegghh.. sama..mu.” ucapku susah payah. Napasku tersengal karena tertahan. Dadaku naik turun dengan cepat. Dia melepaskan tangannya di leherku. Lalu memandangku sebentar kemudian memelukku.

Mianhae jagi, aku tidak ingat. Kalau begitu saengil chukkae.”

Aku merasa hangat dalam tubuhku tapi hatiku tetap panas dan perih. Memori-memori tentangnya berputar cepat di otakku. Semua perlakuan buruknya terhadapku berjalan cepat seperti sebuah film rusak. Berkejar-kejaran didalam pikiranku. Air mataku jatuh seiring cengkaraman tanganku dibajunya. Aku membalas pelukannya. Didalam pelukannya ini aku menginginkan untuk dipertahankan. Tapi hatiku sudah beku, sudah mati rasa. Aku masih cinta tapi hati ini sudah hancur. Dia mengeram di leherku. Cengkramannya mengendur lemah. Napasnya memburu hebat. Seulas senyum tipis terukir perlahan diwajahku. Aku merasakan cairan itu mengalir dan menghangat di tanganku. Jonghyun melepaskan pelukannya dan menatapku dengan tatapan sendunya. Sorot matanya yang selalu mengintimidasi kini meredup seketika. Dia memegang tanganku dan perlahan menunduk melihat perutnya yang telah basah karena cairan berwarna merah itu. Yang terus mengalir, menembus kausnya. Dia menatapku lagi penuh tanya. Aku menyeringai, lalu mencabut benda tajam yang menancap kulitnya dengan paksa sehingga mengeluarkan ringisan dari mulutnya. Tubuhnya merosot ke lantai secara perlahan.

*

Kududukkan tubuh Jonghyun di atas kursi. Tangannya kuikat kebelakang agar dia tidak  meronta dan bisa duduk dengan manis didepan meja yang sudah kuatur sedemikian rupa. Beberapa jenis makanan terhidang diatas meja lengkap dengan dua buah lilin wangi yang menjadi penerangan ruangan ini. Alunan musik klasik pun menambah suasana romantis malam istimewaku bersama Jonghyun.

Aku duduk di hadapannya sambil memotong beef steak. “Hari ini hari ulang tahunku jagi. Aku ingin kau menyanyikan lagu untukku. Aku tahu suaramu sangat indah.”

Dia mengeram menahan sesuatu didalam tubuhnya. Wajahya pucat dan penuh keringat. Cairan merah kental itu masih mengalir dengan lancar dan sempurna. Sesempurna malam yang indah ini.

“Aku ingin kau bernyanyi sayang bukan mengeram.” Aku tahu ini bukan diriku lagi. Setan telah merasusiku dan menguasai akal sehatku. Ujung bibirku tertarik membentuk senyuman manis. Aku menyuapkan potongan beef steak kedalam mulutku. Bumbunya melumer didalam mulutku tapi kurasa lidahku sudah mati rasa. Kepala Jonghyun terkulai lemas. Aku mendekat, menengadahkan wajahnya agar menatapku. Tidak ada makian dari mulutnya, yang ada hanya helaan napas yang semakin pendek. Tidak ada tatapan membunuh dari sorot matanya, yang ada hanya tatapan memohon. Aku mencium bibirnya. Basah dan dingin.

“Lihat. Aku sudah membalas ciumanmu. Bahkan selalu membalas. Aku tidak akan pernah berani menolak semua permintaanmu termasuk menyerahkan kehormatanku dengan cuma-cuma padamu. Aku mencintaimu hingga raga ini hancur. Hingga hati ini melebur. Setiap helaan napasku hanya kupersembahkan untukmu. Setiap detik yang kupunya hanya kulewatkan bersamamu. Dan seluruh cinta yang aku miliki kuberikan padamu tanpa sisa, tanpa balas. Tapi sedetikpun aku tidak pernah bahagia. Bahkan aku lupa bagaimana rasanya tersenyum karena orang yang aku cintai. Kau dengan sempurna menghancurkan hidupku, Kim Jonghyun.”

Suaraku serak dan pelan. Dia menatapku dan bibirnya bergerak aneh. Dengan susah payah dia mengeluarkan suara hingga yang kudengar hanya bisikan kecil dan gerakan bibirnya yang mengatakan “Mianhae

“Bukan. Bukan kata itu yang ingin aku dengar darimu. Sudah terlambat untuk kau ucapkan.”

Keringat terus mengucur dipelipisnya seiring dengan helaan napas yang semakin memendek. Bibirnya yang sering memakiku perlahan terkatup. Matanya yang tidak pernah memberikan keteduhan untukku semakin lama semakin menutup. Tangannya yang selalu ia gunakan untuk menyakitiku perlahan tak bergerak. Dadanya yang tak pernah memberiku kehangatan mengempis kehilangan napas.

Kim Jonghyun. Ini hari yang paling istimewa bagiku. Malam yang tak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. Kau berikan napas terakhirmu untukku sebagai hadiah paling indah. Dan sebagai balasan semua yang telah kau beri padaku selama ini, aku buat kau merasa sakit lalu mati perlahan didepan wajahku.

“Selamat tinggal sayangku, menarilah bersama peri-peri yang cantik dialam keabadian.”

FIN

©2011 SF3SI, Freelance Author.

Officially written by ME, claimed with MY signature. Registered and protected.

This FF/Post legally claim to be owned by SF3SI, licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License. Permissions beyond the scope of this license may be available at SHINee World Fiction

Please keep support our blog, and please read the page on top to know more about this blog. JJANG!

17 thoughts on “Love Pain

  1. kereenn ><
    aku speechless pas tau klo jjong ditusuk.. wew ._.
    bahkan soojin bisa berlaku kasar gitu ya.. ga nyangka

  2. Kasihan yeoja sering disakitin mulu. Dan anehnya kenapa yeoja masih aja cinta sama Jjong? o.O dan lagi apa yg akhirnya Jjong dapatkan emang udah sepantasnya😀😀😀

    Ceritanya bagus!!❤❤❤ Menegangkan :*

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s